Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

"Traits", Makna Dan Nilai Dalam Kepemimpinan

"Traits", Makna Dan Nilai Dalam Kepemimpinan - Kali ini, Blog Psikologi akan membahas materi tentang hakikat ‘traits, ‘personality traits’, makna, hukum dan nilai kepemimpinan, serta karakter sukses bagi pemimpin.
Baca juga:

A. HAKIKAT TRAITS

‘Traits’ adalah beragam atribut individu, termasuk aspek-aspek kepribadian, perangai, kebutuhan, motivasi, dan nilai. Kebutuhan atau motifadalah hasrat pada tipe stimulus tertentu atau pengalaman.

Ilmuwan Psikolog biasanya membedakan dua macam kebutuhan:
  1. Kebutuhan fisiologis (lapar, halus, dll)
  2. Motif sosial (pencapaian/prestasi, harga diri, afiliasi, kekuasaan, dan kebebasan)
"Traits", Makna Dan Nilai Dalam Kepemimpinan_
image source: culcandradep.wordpress.com
‘Trait’ spesifik sebagai prediktor manajerial (berhasil vsgagal) (Yulk, 2010):

1. Stabilitas Emosi
Manajer yang gagal kurang mampu menangani tekanan.Mereka lebih rentan terhadap kemurungan, ledakan amarah, dan perilaku yang tidak konsisten, yang merugikan hubungan inter-personalnya dengan bawahan, rekan sejawat, dan atasan.Sebaliknya, manajer yang berhasil bersifat tenang, percaya diri, dan dapat diprediksi selama krisis.

2. Sifat Defensif
Para manajer yang gagal akan lebih besar kemungkinannya bersikap defensif terhadap suatu kegagalan. Mereka bereaksi dengan mencoba untuk menutupi kesalahan atau menyalahkan orang lain. Para manajer yang berhasil mau mengakui kesalahannya, menerima tanggung jawab dan kemudian mengambil tindakan untuk memecahkan masalah tersebut. Disamping itu, setelah menangani masalah tersebut, mereka tidak terus memikirkannya, tetapi segera mengarahkan perhatian kepada hal lain. Dalam suatu studi terbaru, kurangnya kemampuan untuk belajar dan beradaptasi dengan perubahan adalah prediktor yang amat penting dari kegagalan, dan hal ini meliputi sifat defensif terhadap kegagalan.

3. Integritas
Para manajer yang berhasil, memiliki integritas yang kuat.Mereka lebih berfokus kepada tugas dan kebutuhan dari bawahan dari pada berkompetisi dengan saingan atau untuk mengesankan atasan. Sebaliknya, banyak manajer yang gagal terlalu ambisius untuk meningkatkan karir mereka dengan cara yang merugikan orang lain. Manajer semacam ini lebih mudah mengkhianati kepercayaan atau melanggar janji.

4. Keahlian interpersonal
Manajer yang gagal biasanya lemah dalam keahlian interpersonal. Alasan yang paling umum adalah ketidak-pekaan, yang terefleksi dengan cara yang kasar atau perilaku mengintimidasi orang lain. Kondisi ini dapat ditolerir ketika ia berada dalam posisi manajerial yang lebih rendah, khususnya level manajer yang membutuhkan keahlian teknis. Manajer yang gagal mungkin dapat terlihat baik dan peduli kepada orang lain ketika membutuhkan sesuatu, namun pribadi semacam itu biasanya sangat mementingkan diri, tidak peka, dan manipulatif. Sebaliknya, manajer yang berhasil, lebih peka, bijaksana, dan bertimbang rasa. Mereka dapat memahami dan cocok dengan semua tipe orang, dan mengembangkan jaringan hubungan dan kerjasama yang luas.

5. Keahlian teknis dan kognitif
Bagi banyak manajer level bawah yang gagal, bila keahlian teknis yang dimilikinya lebih tinggi dari para bawahannya, tampaknya dapat menjadi solusi pemecahan masalah. Bagi manajemen level yang lebih tinggi, kelebihan di atas bisa menjadi kelemahan bila hal tersebut membuat para manajer menjadi terlalu percaya diri dan merasa superior.Ada sejumlah manajer yang sulit beralih dari hal-hal teknis ke perspektif strategis.Manajer yang sukses biasanya memiliki pengalaman di berbagai situasi dimana mereka membutuhkan perspektif dan keahlian yang lebih luas dalam menangani berbagai permasalahan yang beragam.

‘Trait’ spesifik yang berhubungan dengan efektivitas kepemimpinan menurut Yulk (2010), yaitu :

1. Tingkat energi dan toleransi stres pada level tinggi

2. Kepercayaan diri

Istilah kepercayaan diri secara umum dihubungkan dengan harga diri dan keberuntungan.Banyak studi mengenai trait pemimpin menemukan adanya kolerasi positif antara efektivitas dan kemajuan diri senidi (Bass dalam Yukl). Penelitian lain menemukan bahwa rasa percaya diri penting bagi kepemimpininan karismatik.

Beberapa sampel perilaku dari pemimpin yang memiliki rasa percaya diri:
  • Lebih membuat upaya memengaruhi
  • Lebih berinisiatif untuk mencoba tugas yang sulit, dan menetapkan sasaran yang menantang bagi dirinya.
  • Memiliki harapan yang tinggi bagi dirinya juga bagi bawahannya.
  • Lebih gigih dalam mengejar sasaran yang sulit, lebih berani menghadapi tantangan dan masalah yang sulit.
  • Lebih berani dalam meningkatkan komitmen dari bawahan, rekan, dan atasan dalam mendukung sebuah upaya.

Kelemahan dari rasa percaya diri yang berlebihan:
  • Menjadi terlalu optimis sehingga kurang dapat mempperhitungkan risiko dan menyebabkan pengambilan keputusan yang terlalu cepat, dan cenderung mengabaikan kekurangan/cacat.
  • Cenderung menjadi arogan, otokratis, dan tidak toleran terhadap pandangan yang berbeda, khusunya bila manajer tersebut secara emosional masih belum matang. 

3. Orientasi internal locus of control

Orang yang memiliki internal locus of control yang kuat, yakin bahwa peristiwa dalam kehidupan mereka lebih banyak ditentukan oleh tindakan sendiri, daripada oleh suatu kebetulan atau kekuatan yang tidak dapat dikendalikan.Sebaliknya orang dengan external locus of control yang kuat, yakin bahwa kebanyakan peristiwa ditentukan oleh suatu kebetulan atau nasib, dan individu tidak memiliki kendali pribadi untuk memperbaiki hidup.

Individu yang memiliki internal locus of control yang kuat:
  • Menerima lebih banyak tanggung jawab atas tindakan mereka dan atas kinerja unit. 
  • Memiliki lebih memiliki perspektif yang berorientasi ke masa depan.
  • Lebih mungkin untuk membuat perencanaan yang pasti.
  • Lebih berinisiatif untuk menemukan dan memecahkan masalah.
  • Lebih percaya pada kemampuan diri untuk mempengaruhi orang lain, dan lebih banyak kemungkinan untuk bersikap persuasif daripada taktik mempengaruhi yang memaksa dan manipulatif. 
  • Lebih fleksibel, adaptif dan inovatif dalam menanggapi masalah dan strategi management. 
  • Pada waktu menghadapi kegagalan atau kemunduran, lebih bersikap positif, menganggapnya sebagai pelajaran berharga, dibanding merasa bahwa hal tersebut semata-mata merupakan nasib buruk.

4. Kematangan Emosi (stabilitas emosi)

Stabilitas emosi khususnya penting dalam menyelesaikan konflik interpersonal dan ketika mewakili sebuah organisasi.Sebuah penelitian padacenter for Creative Leadership menemukan bahwa para pemimpin cenderung gagal jika mereka kekurangan stabilitas emosi dan penguasaan diri. Para pemimpin yang gagal, kurang dapat menangani tekanan dan lebih memiliki kecenderungan meledak dalam kemarahan dan memiliki perilaku yang tidak konsisten yang akan mempengaruhi hubungan mereka dengan bawahan, rekan sejawat dan atasan. Sebagai kontras, penelitian itu mendapati bahwa para pemimpin yang sukses umumnya bersifat tenang, percaya diri, dan dapat diprediksi selama krisis.

Ciri kematangan emosi dalam kepemimpinan:
  • Lebih dapat menyesuaikan diri dengan baik dan tidak menderita kekacauan psikologis yang berat
  • Lebih memiliki kesadaran yang tepat mengenai kekuatan dan kelemahan mereka, mengetahui kadarself-efficacy.
  • Lebih berorientasi ke arah perbaikan diri, bukannya menolak adanya kelemahan dan memiliki fantasi yang berlebihan akan keberhasilan.
  • Tidak berlaku egosientris, lebih berempati, lebih dapat mengendalikan diri (tidak impulsif, lebih stabil untuk melawan godaan yang hedonistis), tidak mudah meledak dalam amarah, tidak terlalu bersikap defensif (lebih dapat menerima kritik, lebih bersedia belajar dari pengalaman).
  • Lebih banyak memiliki hubungan kerja sama dengan para bawahan, rekan sejawat, dan atasan.

5. Integritas Pribadi

Karakteristik:
  • Konsisten dengan nilai yang dianutnya khususnya jika telah disampaikan kepada para pengikutnya.
  • Bersifat jujur, etis, dan dapat dipercaya.
  • Menepati janji
  • Memenuhi tanggung jawab terhadap pekerjaan dan pelayanannya, setia kepada bawahan. Karena kepercayaan dari bawahan akan hilang jika mereka mengetahui bahwa pemimpin tersebut telah mengeksploitasi atau memanipulasi mereka untuk mengejar kepentingan diri sendiri.
  • Dapat memegang hal-hal konfidensial. Dapat dipercaya untuk tidak menyebarkan informasi yang penting dan sensitif yang konfidensial.
  • Bertanggung jawab atas tindakan dan keputusannya.

6. Motivasi kekuasaan sosial.

Penelitian memperlihatkan bahwa para pemimpin memang memiliki hasrat yang kuat untuk memimpin. Motivasi kepemimpinan mencakup hasrat untuk memengaruhi dan memimpin orang lain, dan hal tersebut biasanya disertai dengan kebutuhan untuk kekuasaan (need of power). Orang-orang dengan motivasi kepemimpinan yang tinggi, sering memikirkan caranya untuk mempengaruhi orang lain, memenangkan argumentasi, atau untuk mendapatkan wewenang yang lebih besar.Mereka lebih memilih berada di atas, daripada menjadi bawahan.Kemauan untuk mendapatkan suatu tanggung jawab, biasanya sejalan dengan motivasi kepemimpinan.

Menurut psikolog Harvard, David McClelland, terdapat dua macam tipe dominansi: motif kekuasaan pribadi, dan motif kekuasaan sosial.
  • Motif kekuasaan pribadi. Meskipun kebutuhan akan kekuasaan adalah suatu hal yang umum, namun efektivitas seorang pemimpin bergantung akan hal tsb. Seorang pemimpin dengan motif kekuasaan pribadi mencari kekuasaan sebagai tujuan akhir. Individu semacam ini memiliki sedikit pengendalian diri, sering kali impulsif, dan berfokus pada pengumpulan simbol akan prestise pribadi. Upaya untuk mendapatkan kekuasaan semata-mata agar dapat mendominasi orang lain, yang sering kali didasarkan akan keraguan diri yang besar. Motif semacam ini biasanya membentuk pengikut yang dependen dan submisif.
  • Motif Kekuasaan Sosial. Sebagai kontras, seorang pemimpin dengan motif kekuasaan sosial menggunakan kekuasaan untutk mencapai suatu tujuan yang diinginkan, suatu visi. Hal ini dihubungkan dengan kemampuan untuk membangun jaringan dan koalisi, meraih suatu kerjasama dengan orang lain, menyelesaikan konflik dengan cara yang konstruktif, dan memberikan teladan untuk mempengaruhi orang lain. Individu dengan motif kekuasaan sosial lebih matang secara emosi dari pada mereka dengan motif kekuasaan pribadi. Mereka menjalankan kekuasaan yang mendatangkan manfaat bagi seluruh organisasi dan tidak menggunakannya untuk memanipulasi. Pemimpin semacam ini juga tidak bersifat defensif, lebih memiliki kemauan untuk mencari masukan dari para ahli, dan memiliki pandangan yang luas. Mereka menggunakan kekuasaan untuk membangun organisasi mereka, dan membuatnya berhasil. Mereka peduli akan kebutuhan pengikut, dan membentuk pengikut yang independen.

7. Orientasi pada pencapaian yang tinggi (keberhasilan)

Need of achievement, merupakan motivasi yang penting diantara para pemimpin yang efektif, dan bahkan lebih penting lagi di antara entrepreneur yang sukses. Keberhasilan yang tinggi menghasilkan kepuasan dalam menyelesaikan suatu tugas yang menantang, meraih standards of excellence, dan mengembangkan cara yang lebih baik dalam melakukan banyak hal.

Sikap, nilai dan kebutuhan yang saling berhubungan:
  • Kebutuhan akan keberhasilan (need of achievement)
  • Keinginan untuk unggul
  • Dorongan untuk berhasil
  • Kesediaan untuk memikul tanggung jawab
  • Perhatian terhadap sasaran tugas.
  • Lebih terlibat dalam perilaku tugas seperti menetapkan sasaran dan tenggat waktu yang menantang namun realistis, mengembangkan rencana tindakan khusus, menentukan cara-cara untuk mengatasi rintangan, mengelola pekerjaan secara efisien, dan menekankan kinerja saat berbicara dengan orang lain (Boyatzis dalam Yukl).

Namun motivasi akan keberhasilan ini hanya akan meningkatkan efektivitas kepemimpinan bila ditempatkan lebih rendah daripada kebutuhan akan kekuasaan sosial (sociialized power), sehingga usaha pemimpin tersebut difokuskan kepada membangun suatu tim yang berhasil.

8. Kebutuhan yangrelatif rendah akan afiliasi

Kebutuhan akan afiliasi yang seimbang dibutuhkan dalam kepemimpinan yang efektif:

Kebutuhan yang tinggi akan afiliasi akan menghasilkan pemimpin yang:
  • Menghindari konflik, lebih suka mengabaikan dari pada menghadapi perbedaan yang benar-benar ada.
  • Menghindari membuat keputusan yang perlu namun tidak umum.
  • Memberi penghargaan dengan cara yang dirancang untuk memperoleh persetujuan, daripada memberi penghargaan bagi kinerja yang efektif
  • Memperlihakan sikap favoritisme orang-orang tertentu dalam penugasan dan mengizinkan pengecualian terhadap peraturan.

Sebagai akibat dari pola tersebut, para bawahan merasa ‘lemah, tidak bertanggung jawab, dan tanpa perasaan mengenai apa yang akan terjadi, atau posisi mereka dalam kaitannya dengan pimpinan mereka, atau bahkan apa yang sebenarnya harus mereka lakukan’.(McClelland & Burnham, dalam Yukl, 2010).

Sebaliknya sorang pemimpin dengan kebutuhan yang terlalu rendah akan afiliasi, cenderung mejadi seorang penyendiri, tidak suka bersosialisasi, tidak memiliki motivasi untuk berhubungan dengan banyak kegiatan sosial dan antarpribadi dengan para bawahan, rekan sejawat maupun atasan. Sehingga mereka cenderung gagal dalam mengembangkan keterampilan interpersonal yang efektif dan dapat berdampak pada kurangnya kepercayaan diri dalam memengaruhi orang lain.


B. PERSONALITY TRAITSDAN KOMPETENSI RELEVAN LAINNYA

1. The Big Five Personality Traits
BIG FIVE PERSONALITY TRAITS SPECIFIC TRAITS
Surgency Extroversion (outgoing)
Energy/Activity level
Need for power (assertive)
Conscientiousness Dependability
Personal integrity
Need for achievement
Agreeableness Cheerful and optimistic
Nurturance (sympathetic, helpful)
Need for affiliation
Adjustment Emotional stability
Self-esteem
Self-control
Openness to experience Curious and inquisitive
Open-minded
Learning oriented
2. Kompetensi Relevan Lainnya
KECERDASAN EMOSIONAL Emosi merupakan perasaan yang kuat yang menuntut perhatian dan besar pengahruhnya terhadap proses dan perilaku kognitif. Beberapa contoh emosi meliputi kemarahan, ketakutan, kesedihan, kegembiraan, rasa jijik, malu terkejut, dan cinta. Bahkan setelah intensitas emosi itu menghilang, hal ini masih dapat bertahan sebagai mood yang positif atau negatif, yang tetap dapat mempengaruhi perilaku kepemimpinan.
Kecerdasan emosional membantu seseoang dalam hal:
• Batas di mana seseorang menyesuaikan diri dengan perasaannya dan dengan perasaan orang lain.
• Kemampuan untuk mengintegrasikan emosi dan alasan sedemikian rupa, sehingga emosi digunakan untuk memudahkan proses kognitif, dan emosi dikelola secara kognitif.
 • Terdapat hubungan juga antara kecerdasan emosional, khususnya yang dikonseptualisasikan sebagai keterampilan, dengan ciri kepribadian seperti kematangan emosional, pengendalian diri, keyakinan diri, dan orientasi pada keberhasilan. Komponen yang terlibat:
• Kesadaran diri (memahami mood dan emosi diri)
• Kemampuan untuk mengeksprsikan perasaan secara akurat kepada orang lain dengan bahasa dan komunikasi non-verbal.
• Empati (kemampuan untuk mengenali mood dan emosi orang lain, dan memahami bagaimana hal itu bereaksi terhadap emosi dan perilaku diri sendiri_
• Pengendalian diri (kemampuan untuk menyalurkan emosi ke dalam perilaku yang tepat dalam sebuah situasi, dan tidak bersikap impulsif)
Fungsi kecerdasan emosional dalam efektivitas kepemimpinan: 
• Membantu memecahkan masalah yang rumit
• Membuat keputusan yang lebih baik
• Merencanakan bagaimana nenggunakan waktu secara efektif
• Membantu proses adapatasi perilaku dengan sebuah situasi
• Mengelola krisis
KECERDASAN SOSIAL Kemampuan untuk menentukan kebutuhan akan kepemimpinan dalam sebuah situasi dan memilih sebuah respon yang tepat.
Komponen utama:
• Sifat perseptif sosial
• Fleksibilitas perilaku
Sifat perseptif sosial adalah kemampuan untuk memahami kebutuhan fungsional, masalah, dan kesempatan yang relevan bagi sebuah kelompok atau organisasi, dan karakteristik anggota, hubungan sosial, dan proses kolektif yang akan memperkuat atau membatasi upaya untuk mempengaruhi kelompok atau organisasi. Hal ini melibatkan keterampilan konseptual dan pengetahuan khusus untuk kepemimpinan sttrategis, mengidentifikasi ancaman, dan kesempatan yang timbul oleh peristiwa lingkungan, dan merumuskan sebuah respon yang tepat. Fleksibilitas perilaku adalah kemampuan dan kesediaan seseorang untuk menyesuaikan perilaku dalam suatu situasi yang membutuhkan. Seorang pemimpin dengan fleksibilitas perilaku yang tinggi mengetahui bagaimana menggunakan beragam perilaku yang berbeda dan mampu untuk mengevaluasi perilakunya dan memodifikasi sesuai kebutuhan. Fleksibilitas perilaku ini di fasilitasi oleh pengawasan diri, yang membuatkan tanggap atas perilakunya sendiri dan bagaimana hal tersebut mempengaruhi orang lain.
SYSTEM THINKING “System Thinking” dan keahlian kognitif merupakan hal yang dibutuhkan untuk memahami kompleksitas ketergantungan di antara proses oganisasional dan implikasi dari usaha dapam membuat perubahan. Adalah hal yang penting untuk memahami bahwa problem yang kompleks sering kali memiliki beragam penyebab, yang mungkin akibat tindakan yang telah diambil sebelumnya dalam menyelesaikan suatu masalah lain. Suatu perubahan dalam satu bagian sistem biasanya pada akhirnya mempengaruhi bagian lain. Ketika membuat suatu perubahan atau menelaah penyebab dari suatu masalah, merupakan suatu hal yang penting untuk memahami bahwa bagian lain dari organisasi saling berhubungan dan mempengaruhi. Kompetensi pribadi seorang pemimpin dalam system thinking membuatnya mampu dalam berpikir, menganalisis, dan mengambil keputusan yang tepat.
KEMAMPUAN UNTUK BELAJAR Salah satu kompetensi yang terpenting untuk kepemimpinan yang sukses dalam situasi yang sedang berubah adalah kemampuan untuk belajar dari pengalaman dan beradaptasi dalam perubahan tersebut. Dalam suasana yang sedang bermasalah, dimana sebuah organisasi harus beradapasi, berinovasi, dan memperbarui diri, seorang pemimpin harus cukup fleksibel untuk belajar dari kesalahan, mengubah asumsi dan kepercayaan mereka, dan memperbaiki model mental mereka. Kompetensi ini berbeda dari keahlian konseptual lainnya (seperti kemampuan bertukar pikiran secara verbal, dan berpikir kreatif) dan dari keahlian sosial. Hal ini mencakup “belajar bagaimana untuk belajar,” yang merupakan kemampuan menganalisis secara introspektif proses kognitif pribadi (seperti bagaimana merumuskan dan memecahkan masalah) dan untuk menemukan cara memperbaikinya. Hal tersebut juga mencakup kesadaran pribadi, yang merupakan pemahaman akan kekuatan dan keterbatasan diri (termasuk keahlian dan emosi diri).
A. MAKNA DAN HUKUM KEPEMIMPINAN

1. Makna Kepemimpinan

Pada hakikatnya makna kepemimpinan dapat dipahami sebagai berikut.

  • Kepemimpinan sebagai fokus proses kelompok (leadership as a focus of group processes)
  • Kepemimpinan sebagai kepribadian dan dampak dari kepribadian (leadership as personality and its effects)
  • Kepemimpinan sebagai tindakan atau perilaku (leadership as a act or behavior)
  • Kepemimpinan sebagai alat untuk mencapai keberhasilan (leadership as an instrument of good achievement)
  • Kpemimpinan sebagai dampak yang timbul dari stuasi (leadership as a emerging effect of interaction)
  • Kepemimpinan sebagai sebuah seni untuk menciptakan kepatuhan (leadership as the art of inducing compliance)
  • Kepemimpinan sebagai latihan mempengaruhi (leadership as a exercise of influence)
  • Kepemimpinan sebagai sebuag bentuk persuasi (leadership as a form persuation)
  • Kepemimpinan sebagai sebuah hubungan kekuasaan (leadership as a power relationship).

2. Hukum Kepemimpinan

Dalam banyak literasi dapat ditarik ‘benang merah bahwa ada 10 hukum kepemimpinan (the ten laws of leadership), yakni:
  • Pemimpin mempunyai visi
  • Pemimpin mempunyai kebijaksanaan
  • Pemimpin memiliki disiplin
  • Pemimpin memiliki keberanian
  • Pemimpin harus rendah hati
  • Pemimpin adalah seorang pengambil keputusan
  • Pemimpin mengembangkan persahabatan
  • Pemimpin berlatih memahami situasi dan diplomasi
  • Pemimpin mengembangkan kemampuan eksekutif
  • Pemimpin memberikan kekuatan inspirasi

B. NILAI DAN KARAKTER SUKSES PEMIMPIN

1. Nilai
Nilai adalah sikap pribadi mengenai apa yang benar dan salah, etis dan tidak etis, moral dan imoral. Contoh, keadilan, kejujuran, kemerdekaan, persamaan, perikemanusiaan, loyalitas, patriotisme, kemajuan, self-fulfillment, pragmatisme, kebaikan, keunggulan, kesopanan, dan kerjasama.

Dalam bukunya ‘motivational leadership’, Snair (2008) mengungkapkan nilai-nilai yang harus ditanamkan dan ditumbuhkan oleh pemimpin:

a. Membangun citra dan menyusun rutinitas:
  1. Mempelajari ilmu kepemimpinan motivasional
  2. Mengenali pemimpin motivasional
  3. Mengembangkan pola pikir
  4. Berkembang di dalam organisasi
b. Mendapatkan kekuasaan amanat:
  1. Memahami pendapat para pakar
  2. Memahami perilaku berorganisasi
  3. Menggunakan kendali dan akuntabilitas
  4. Memanfaatkan imbalan dan disiplin
c. Menawarkan visi dan membina komunikasi
  1. Mengembangkan visi yang memandu
  2. Menjadi pembakar semangat bagi tim
  3. Menjalin hubungan sinergis
d. Menggunakan inspirasi, bukan intimidasi
  1. Memberikan dorongan sepenuh hati
  2. Menumbuhkan kepercayaan dan kredibilitas
  3. Menggunakan kharisma dan mengilhami orang lain
  4. Menjadi mahaguru bagi para pengikut
e. Mengatur perubahan dan keberagaman
  1. Menjadi pembakar semangat untuk berubah
  2. Memilih sebuah pandangan transformasional
2. Pengembangan Budaya dan Nilai Kepemimpinan
Berbagai bentuk ajaran kepemimpinan (nasional) menjadi warisan budaya yang perlu dikembangbiakan. Salah satu ajaran kepemimpinan yang perlu diwarisi adalah ajaran Ki Hajar Dewantara (Ing ngarso sungtulodo, Ing madyo mangun karso, Tut wuri handayani).

Selain itu, adanya system komunikasi dan diplomasi dalam kepemimpinan yang menganut: “digdaya tanpa aji aji, nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake” (sakti atau kuat tanpa senjata, melawan musuh tanpa pasukan, mengalahkannya tanpa mempermalukan. Sikap adil sebagai nilai kepemimpinan juga perlu dikembangkan.Sikap adil terhadap mereka yang berjasa “mikul nduwur mendem njero” (tetap menghargai mereka yang senior dengan kearifan), atau sikap pragmatis, “bener kang pener” (kebenaran yang disampaikan tepat sesuai dengan ruang dan waktu.Ajaran kepemimpinan dalam budaya Jawa tersebut tentunya masih relevan untuk dikembangkan dalam tata kehidupan berorganisasi.

3. Karakter
Hasildari wawancara lebih dari 359 pemimpin oleh mahasiswa SBMdan sekolah lain di ITB (Bangun & Anggoro, 2012), kunci sukses dari pemimpin yang terpilih dapat dilihat dari karakter pada table berikut.

"Traits", Makna Dan Nilai Dalam Kepemimpinan 2_
Tabel 5. Kunci Sukses Pemimpin A-B-G

C. MAKNA DAN HUKUM KEPEMIMPINAN

1. Makna Kepemimpinan

Pada hakikatnya makna kepemimpinan dapat dipahami sebagai berikut.
  • Kepemimpinan sebagai fokus proses kelompok (leadership as a focus of group processes)
  • Kepemimpinan sebagai kepribadian dan dampak dari kepribadian (leadership as personality and its effects)
  • Kepemimpinan sebagai tindakan atau perilaku (leadership as a act or behavior)
  • Kepemimpinan sebagai alat untuk mencapai keberhasilan (leadership as an instrument of good achievement)
  • Kepemimpinan sebagai dampak yang timbul dari stuasi (leadership as a emerging effect of interaction)
  • Kepemimpinan sebagai sebuah seni untuk menciptakan kepatuhan (leadership as the art of inducing compliance)
  • Kepemimpinan sebagai latihan mempengaruhi (leadership as a exercise of influence)
  • Kepemimpinan sebagai sebuag bentuk persuasi (leadership as a form persuation)
  • Kepemimpinan sebagai sebuah hubungan kekuasaan (leadership as a power relationship).
2. Hukum Kepemimpinan

Dalam banyak literasi dapat ditarik ‘benang merah bahwa ada 10 hukum kepemimpinan (the ten laws of leadership), yakni:
  • Pemimpin mempunyai visi
  • Pemimpin mempunyai kebijaksanaan
  • Pemimpin memiliki disiplin
  • Pemimpin memiliki keberanian
  • Pemimpin harus rendah hati
  • Pemimpin adalah seorang pengambil keputusan
  • Pemimpin mengembangkan persahabatan
  • Pemimpin berlatih memahami situasi dan diplomasi
  • Pemimpin mengembangkan kemampuan eksekutif
  • Pemimpin memberikan kekuatan inspirasi

D. NILAI DAN KARAKTER SUKSES PEMIMPIN

1. Nilai
Nilai adalah sikap pribadi mengenai apa yang benar dan salah, etis dan tidak etis, moral dan imoral. Contoh, keadilan, kejujuran, kemerdekaan, persamaan, perikemanusiaan, loyalitas, patriotisme, kemajuan, self-fulfillment, pragmatisme, kebaikan, keunggulan, kesopanan, dan kerjasama.

Dalam bukunya ‘motivational leadership’, Snair (2008) mengungkapkan nilai-nilai yang harus ditanamkan dan ditumbuhkan oleh pemimpin:

a. Membangun citra dan menyusun rutinitas:
  1. Mempelajari ilmu kepemimpinan motivasional
  2. Mengenali pemimpin motivasional
  3. Mengembangkan pola pikir
  4. Berkembang di dalam organisasi

b. Mendapatkan kekuasaan amanat:

  1. Memahami pendapat para pakar
  2. Memahami perilaku berorganisasi
  3. Menggunakan kendali dan akuntabilitas
  4. Memanfaatkan imbalan dan disiplin
c. Menawarkan visi dan membina komunikasi
  1. Mengembangkan viisi yang memandu
  2. Menjadi pembakar semangat bagi tim
  3. Menjalin hubungan sinergis
d. Menggunakan inspirasi, bukan intimidasi
  1. Memberikan dorongan sepenuh hati
  2. Menumbuhkan kepercayaan dan kredibilitas
  3. Menggunakan kharisma dan mengilhami orang lain
  4. Menjadi mahaguru bagi para pengikut
e. Mengatur perubahan dan keberagaman
  1. Menjadi pembakar semangat untuk berubah
  2. Memilih sebuah pandangan transformasional

2. Pengembangan Budaya dan Nilai Kepemimpinan
Berbagai bentuk ajaran kepemimpinan (nasional) menjadi warisan budaya yang perlu dikembangbiakan. Salah satu ajaran kepemimpinan yang perlu diwarisi adalah ajaran Ki Hajar Dewantara (Ing ngarso sungtulodo, Ing madyo mangun karso, Tut wuri handayani).

Selain itu, adanya system komunikasi dan diplomasi dalam kepemimpinan yang menganut: “digdaya tanpa aji aji, nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake” (sakti atau kuat tanpa senjata, melawan musuh tanpa pasukan, mengalahkannya tanpa mempermalukan. Sikap adil sebagai nilai kepemimpinan juga perlu dikembangkan.Sikap adil terhadap mereka yang berjasa “mikul nduwur mendem njero” (tetap menghargai mereka yang senior dengan kearifan), atau sikap pragmatis, “bener kang pener” (kebenaran yang disampaikan tepat sesuai dengan ruang dan waktu.Ajaran kepemimpinan dalam budaya Jawa tersebut tentunya masih relevan untuk dikembangkan dalam tata kehidupan berorganisasi.

3. Karakter
Hasildari wawancara lebih dari 359 pemimpin oleh mahasiswa SBMdan sekolah lain di ITB (Bangun & Anggoro, 2012), kunci sukses dari pemimpin yang terpilih dapat dilihat dari karakter pada table berikut.

Tabel 5. Konci Sukses Pemimpin A-B-G
"Traits", Makna Dan Nilai Dalam Kepemimpinan 4_

Sumber: Hasil Wawancara.Report ininterviewing Role Model Leadership(2008-2010)

Tabel di atas menunjukkan bahwa kunci sukses keberhasilan seorang pemimpin di perguruan tinggi (academic), bisnis (owner dan executive), serta di pemerintahan (termasuk politik sangat beragam akan tetapi memiliki benang merah seperti yang diraikan dalam gambar berikut.

"Traits", Makna Dan Nilai Dalam Kepemimpinan 5_
Gambar 9 : Overlap karakter Sukses pemimpin A-B-G

Karakter overlap ABG tersebut adalah: Integritas – rendah hati – optimis, dan memiliki sasaran hidup yang jelas. Di sisi lain karakter yang terdapat pada pemimpin A dan B sebagai pemimpin akademik dan bisnis adalah karakter : pekerja keras serta kemauan untuk mengambil keputusan dan menanggung risiko. Ini memberikan harapan bahwa mungkin akan lebih mudah bagi pemimpin akademik untuk menjadi pemimpin bisnis, mengingat untuk menjadi pemimpin bisnissangat diperlukan karakter kemauan untuk mengambil risiko (Bangun dan Anggoro, 2010).

Selanjutnya Bangun dan Anggoro (2010) menjelaskan bahwa karakter sukses yangterdapat pada pemimpin B dan G sebagai pemimpin bisnis dan pemimpin pemerintahan adalah memimpin dengan contoh (lead by examples) serta beranggapan bahwa pekerjaan adalah ibadah dan amanah yang harus dikerjakan sebaik mungkin; berbeda halnya dengan pemimpin A dan G, sebagai pemimpin akademik dan pemimpin pemerintahan adalah “love jobs”yangmengisyaratkanbahwa pemimpin akademik dapat meraih keberhasilan bila mereka memang mencintai pekerjaannya. Sementara karakter spesifik yang hanya terdapat pada pemimpin bisnis adalah: customer focus, kreatif dan inovatif, keseimbangan hidup dan karir, mencari peluang, dan adaptif terhadap perubahan; sedangkan karakter spesifik yang tampak pada kepemimpinan akademik adalah  ; dan karakter spesifik pada pemimpin pemerintahan adalah nasionalis dan bekerja dengan ikhlas.


Sekian artikel tentang "Traits", Makna Dan Nilai Dalam Kepemimpinan.

Posting Komentar untuk ""Traits", Makna Dan Nilai Dalam Kepemimpinan"

Klik gambar berikut untuk mengunduh artikel ini:

Berlangganan via Email