Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pengertian Intuisi dan Efektifitas Dalam Filsafat Manusia

Pengertian Intuisi dan Efektifitas Dalam Filsafat Manusia - Suatu hari saya bertanya kepada teman apakah warna dan jenis musik yang mereka senangi hingga dapat dinikmati oleh mereka. Masing-masing teman memberikan jawaban yang berlain-lainan, ada yang senang dangdut, rock, klasik, pop, jazz, hardcore, keroncong dll, bahkan di dalam beberapa yang senang dangdut misalnya juga senang yang lainnya. Dan teman saya kesulitan untuk menjelaskan kenapa mereka menyukai salah satu jenis warna musik daripada yang lainnya, atau kenapa mereka lebih suka satu jenis warna musik ketimbang yang lainnya. Bagi mereka kesenangan mereka terhadap warna dan jenis musik tergantung dari suasana hatinya saat mendengarkan musik tersebut.

Diluar soal musik, saya juga memiliki teman yang sulit bagi saya untuk memahami jalan pikirnya. Suatu ketika, teman saya itu pernah curhat kepada saya bahwa dia tidak menyukai seseorang katakanlah si’A’. Lalu saya bertanya apa alasannya tidak menyukai si ‘A’. Teman yang saya tanya ini sama sekali tidak memberikan jawaban yang bisa saya terima. Teman saya itu cukup hanya berkata bahwa dia tidak suka aja tanpa alasan.

Pengertian Intuisi dan Efektifitas Dalam Filsafat Manusia_
image source: www.viamaxconsulting.com

Pada kesempatan lain, lagi-lagi saya mendapati adanya sesuatu yang sulit untuk saya mengerti hingga dapat dijelaskan. Seorang teman saya tidak jadi pergi ke Jogjakarta untuk menghadiri suatu acara hanya dengan alasan firasat-nya yang tidak enak. Benar saja keesokan harinya pada pagi hari terjadi kecelakaan pesawat di Jogjakarta yang menewaskan beberapa orang. Dan kekhawatiran atas kecelakaan itu serta merta membenarkan dan memperkuat ‘firasat’ yang dimilikinya itu. Mengenai ‘firasat’ ini sulit untuk dimengerti dan dijelaskan, itu sebabnya kebanyakan pembicaraan tentang ‘firasat-firasat’ itu biasanya dikemukakan setelah sesuatu terjadi.

Ketiga fenomena diatas, bukanlah sesuatu yang berada di-luar dunia dan diluar manusia, melainkan melekat dan menjadi milik manusia di dunianya. Fenomena diatas adalah fenomena tentang manusia, yang menunjukkan adanya dimensi manusia dalam kesadarannya selain intelektualitasnya. Dimensi manusia dalam fenomena diatas berkaitan juga dengan kesadaran intelektualitasnya, namun tidak sepenuhnya karena menunjukkan adanya sesuatu diluar kesadaran yang sulit untuk diterima akal pikiran (rasio). Dimensi manusia pada fenomena diatas menyangkut ‘rasa’ dan perasaan pada manusia yang sangat subjektif sifatnya yang hanya dimiliki oleh masing-masing subjek manusia. Ketiga fenomena diatas berawal dari rasa manusia yang mewujudkan dalam pikiran, sikap dan tindakan.

Sering sekali intelektualitas manusia kesulitan untuk menangkap isi dari penjelasan tentang hal-hal yang berkaitan tentang rasa. Hal itu terjadi tidak hanya karena ‘rasa’ merupakan sesuatu yang sangat subjektif sifatnya yang hanya dimiliki oleh subjek yang me’rasa’kan, melainkan juga karena rasa bukan sesuatu yang dapat bertambah dan dapat penuh sebagaimana intelektualitas manusia sehingga dapat terperi dan dikontrol dalam pikiran. ‘Rasa’ pada manusia tidak bertambah juga mencapai kepenuhan, melainkan berubah-ubah dalam setiap kondisi dan situasi. Jika ‘intelektualitas’ di dorong dan diisi oleh aktifitas untuk ‘mengerti’, maka ‘rasa’ di dorong dan diisi oleh aktifitas ‘mau’ yang menunjukkan adanya kehendak pada manusia. Intelektualitas manusia letaknya di dalam akal pikiran sedang ‘rasa’ tempatnya ada dihati. ‘Rasa’ pada manusia tidak berjalan linear, melainkan penuh dengan patahan dan lompatan.

Rasa pada manusia juga ‘ada’ bukan tiba-tiba, melainkan sudah melekat pada manusia dalam pengalaman hidupnya tanpa disadarinya. Dan rasa pada manusia ini juga merupakan sumber ‘tahu’ pada manusia dalam referensi-referensi untuk menjalankan kemungkinan hidupnya di dunia. Sumber pengetahuan yang muncul dari rasa ini sering dikatakan sebagai intuisi pada manusia, sedang segala sikap dan tindakan yang muncul dari intuisi ini disebut sebagai efektifitas manusia.

Landasan Intuisi dan Efektifitas Manusia

Manusia itu dalam suasana hatinya yang mendasar menjumpai kecemasan yang berujung pada kejatuhannya (faktisitas) di dunia. Manusia sadar akan keterlemparannya di dunia. Ia begitu saja hadir di dunia dan begitu saja ditakdirkan untuk meninggalkan dunia baik cepat maupun lambat. Kecemasan manusia dalam dasar suasana hatinya ini, selalu saja mengikuti kehidupannya dan selalu menuntut untuk diatasi. Dalam upaya mengatasi inilah manusia selalu sudah jatuh dalam dunianya, secara faktis (jatuh) mengurusi dunianya, larut dalam banalitas kesehariannya dengan segala struktur sosialitasnya di dunia.

Jalan keluar dari kejatuhan (faktisitas) manusia dalam dunianya itu tak lain dari interpretasi diri, bahwa interpretasi merupakan kerja manusia yang telah jatuh di-dalam-dunia. Dan interpretasi merupakan sesuatu yang sudah lekat pada manusia itu sendiri sebagai dimensi yang khas milik manusia. Interpretasi mendahului setiap interaksi kesadaran dunia pada manusia yang muncul lewat pemahaman manusia tentang diri dan dunianya. Dengan interpretasi diri ini, pemahaman manusia menjadi berkembang, terisi dan berbicara. Interpretasi diri seperti juga pemahaman adalah sesuatu yang kita punyai “selalu tersedia” dan sudah melekat pada diri manusia yang ‘jatuh’ di dunia. Pemahaman dan interpretasi diri berbeda bukan dalam jenis tetapi dalam tingkat kelengkapan. Interpretasi membuat kemungkinan-kemungkinan yang diproyeksikan pemahaman menjadi menentukan dan spesifik. Jika ‘pemahaman’ merupakan dasar dari intelektualitas manusia yang berpikir secara rasional, maka ‘interpretasi diri’ adalah dasar dari berkembangnya rasa melalui intuisi manusia yang beirisi efektifitas manusia di dalam dunianya.

Pengertian Intuisi

Intuisi merupakan pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui proses penalaran tertentu. Intuisi bersifat personal dan tidak dapat diramalkan. Sebagai dasar untuk menyusun pengetahuan secara teratur maka intuisi ini tidak dapat diandalkan. Pengetahuan intuitif dapat dipergunakan sebagai hipotesis bagi analisis selanjutnya dalam menentukan kebenaran (Bakker dan Zubair, 1990). Pengalaman intuitif sering hanya dianggap sebagai sebuah halusinasi atau bahkan sebuah ilusi belaka. Sementara itu oleh kaum beragama intuisi dipandang sebagai sumber pengetahuan yang sangat mulia (Kartanegara, 2005). Dari riwayat hidup dan matinya Sokrates, pengetahuan intuitif disebutnya sebagai “theoria” di mana cara untuk sampai pada pengetahuan itu adalah refleksi terhadap diri sendiri (Huijbers, 1982). Pengetahuan intuitif pada hakikatnya merupakan pengetahuan yang diperoleh lewat pengalaman langsung seseorang dan menghadirkan pengalaman serta pengetahuan yang lengkap bagi orang tersebut. Pengetahuan jenis ini bersifat subyektif, sebab hanya dialami oleh orang tersebut (Russell, 2010).

Pengetahuan intuitif bersumber pada naluri/hati seseorang (Kartanegara, 2005). Orang timur lebih menyukai intuisi daripada akal budi karena pusat kepribadian seseorang bukanlah inteleknya tetapi pada hatinya yang mempersatukan akal budi dan intuisi, intelegensi dan perasaan (Watloly, 2001).

Pengetahuan yang bersumber dari intuisi merupakan pengalaman batin yang bersifat langsung. Artinya, tanpa melalui sentuhan indera maupun olahan akal pikiran. Ketika dengan serta-merta seseorang memutuskan untuk berbuat atau tidak berbuat dengan tanpa alasan yang jelas, maka ia berada di dalam pengetahuan yang intuitif. Dengan demikian, pengetahuan intuitif ini kebenarannya tidak dapat diuji baik menurut ukuran pengalaman indriawi maupun akal pikiran. Karena itu tidak bisa berlaku umum, hanya berlaku secara personal belaka (Suhartono, 2008). Pengetahuan intuitif muncul secara tiba-tiba dalam kesadaran manusia melalui proses yang tidak disadari oleh manusia itu sendiri. Pengetahuan ini muncul sebagai hasil penghayatan, ekspresi dan individualitas seseorang, sehingga validitas pengetahuan ini sangat bersifat pribadi. Pengetahuan intuitif disusun dan diterima dengan kekuatan visi imaginatif dalam pengalaman pribadi seseorang.

Sifat, Bentuk, Fungsi dan Isi Intuisi

Pengetahuan intuitif merupakan pengetahuan yang bersifat particular. Jika kita berusaha menilai sebuah lukisan misalnya, dengan pengetahuan intuitif kita akan menilainya dengan berusaha memahami dengan baik lukisan tersebut sebagaimana adanya. (Sutrisno, 2005). Kebenaran intuitif sulit dikembangkan karena validitasnya yang sangat pribadi, memiliki watak yang tidak komunikatif, khusus untuk diri sendiri, subjektif, tidak terlukiskan, sehingga sulit untuk mengetahui apakah seseorang memilikinya atau tidak. Kebenaran tersebut tidak akan dapat diuji dengan observasi, perhitungan atau eksperimen karena kebenaran intuitif tidak berhipotesis (Kneller, 1971).

Karena pengetahuan intuitif itu bersifat aktif maka bisa kita pahami sebagai suatu bentuk ekspresi. Dengan kata lain, intuisi adalah ekspresi sejauh ekspresi tersebut bersifat menggubah berbagai kesan yang kita terima, melalui potensi imajinasi aktif (fantasia) ke dalam wujud berbagai kesatuan imaji maupun keberadaan keseluruhan secara esensial yang bersifat individual (Supangkat, 2006). Pengetahuan intuitif bersifat langsung (intuisionisme), sebab tidak dikomunikasikan melalui media simbol dan lebih subyektif dibanding pengetahuan rasionalis dan empiris yang lebih obyektif (Russell, 2010). Menurut Bakker dan Zubair (1990), pengetahuan intuitif bisa dimanifestasikan menjadi empat fungsi, yaitu : a. Kemampuan fantasi bebas. Merupakan kegiatan mental untuk menciptakan gambaran-gambaran tanpa adanya objek real yang sesuai dengannya. b. Kemampuan imajinasi estetis. Unsur-unsur yang terbentuk oleh permainan fantasi yang disengaja membentuk kombinasi yang harmonis, dan mengungkap situasi batin penciptanya dalam bentuk baru, dan mampu menggerakkan pengalaman yang sama pada orang lain. c. Kemampuan fantasi dalam fungsi praktis. Fungsi ini dapat menjelaskan dan menyempurnakan penalaran. d. Kemampuan imajinasi dalam penemuan ilmiah. Imajinasi ikut membentuk bangunan intelektual ilmu pengetahuan dan filsafat.

Sementara, intuisi manusia dengan sifat dan bentuknya ini sebagaimana juga intelektualitas pada manusia bukan sesuatu yang kosong melainkan memiliki isi yang menunjuk pada sikap dan tindakan. Jika intelektualitas berisikan sikap dan tindakan kognitif dari raionalitas akal pikiran manusia, maka intuisi berisi sikap dan tindakan ‘afektif’ yang erat kaitannya dengan rasa perasaan dan emosi. Jika validitas kognitif manusia diukur dalam kategori benar salah (true-fals, right-wrong), maka pada tindakan afektif manusia diukur oleh suka atau tidak suka (like or dislike). Dalam kehidupan manusia sehari-hari, efektifitas manusia ditandai dengan adanya cinta dan benci yang menyangkut pada tindakan perasaan.

Pengertian Efektifitas

Efektifitas merupakan isi dari intuisi manusia yang berupa sikap dan tindakan. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, Afektif adalah tindakan manusia yang berkenaan dengan rasa takut atau cinta, mempengaruhi keadaan, perasaan dan emosi, mempunyai gaya atau makna yang menunjukkan perasaan.

Seseorang individu dalam merespon sesuatu biasanya diarahkan oleh penalaran dan pertimbangan tetapi pada saat tertentu dorongan emosional banyak campur tangan dan mempengaruhi pemikiran-pemikiran dan tingkah lakunya. Perbuatan atau perilaku yang disertai perasaan tertentu disebut warna afektif yang kadang-kadang kuat, lemah atau tidak jelas. Pengaruh dari warna afektif tersebut akan berakibat perasaan menjadi lebih mendalam. Perasaan ini di sebut emosi (Sarlito, 1982:59).

Emosi dan perasaan adalah dua hal yang berbeda, namun tidak tegas. Keduanya merupakan suatu gejala emosional yang secara kuantitatif berkelanjutan. Namun tidak jelas batasnya. Menurut Crow dan Cra (1958), pengertian emosi adalah pengalaman afektif yang disertai penyesuaian dari dalam diri individu tentang keadaan mental dan fisik dan berwujud tingkah laku yang tampak. Emosi adalah warna afektif yang juga ditandai oleh perubahan-perubahan fisik. Oleh sebab itu, efektifitas manusia sebagai sikap dan tindakan yang dilatari oleh intuisi erat kaitannya dengan perkembangan emosi dalam perasaan manusia.

Efektifitas dan Kognisi

Diakui bahwa manusia bukan saja memiliki kemampuan kognitif-intelektual, tetapi juga afektif-intuisional. Jelasnya, di samping kognisi, efektifitas juga membuat manusia berada secara aktif dalam dunianya serta berpartisipasi dengan orang lain dan dengan peristiwa-peristiwa dunianya. Melalui peranan efektifitaslah, manusia tergerakkan hatinya, keinginannya, dan perasaannya atau ketertarikannya untuk mengamati, mempelajari, dan mengembangkan pengada-pengada aktual di sekitarnya menjadi bagian dari proses keberadaannya. Efektifitas tidak sama dengan pengetahuan, namun menjadi penggerak atau penyebab dan sekaligus akibat dari proses pengetahuan manusia dalam arti penerapannya dalam bentuk perbuatan atau tindakan. Inti persoalannya di sini adalah dalam arti manakah efektifitas memberikan suatu pengetahuan yang memadai? Apakah tindakan-tindakan efektifitas mempunyai nilai kognitif? Pernyataan Immanuel Kant justru secara tegas menolak kemungkinan ini sebagaimana jelas di dalam pandangannya mengenai kritik atas rasio murni. Baginya, kegiatan-kegiatan efektifitas berada di luar kategori rasio murni, karena tidak memiliki landasan nilai-nilai kognitif. dengan demikian efektifitas merupakan bagian dari rasio praktis yang non-intelektual. Penolakan ini muncul karena adanya kesulitan untuk memberikan status kognitif bagi hal-hal afektif yang sifatnya individual.

Kaum positivis dan saintis umumnya memandang bahwa hal-hal afektif tidak memiliki objektivitas untuk diletakkan sebagai tindakan kognitif intelektual. Alasan penolakannya adalah karena kendala indrawi yang tidak dapat memberikan penegasan epistemologis yang berkesesuaian terhadapnya. Walaupun demikian, hendaknya orang tidak terlalu cepat untuk mengambil kesimpulan hanya karena hal-hal efektifitas bersifat nonkognitif.

Theo Huijbers (1992: 60-61) mengkonstatasi pandangan para mistikus, misalnya Bergson dan Rudolf Otto, yang menjelaskan bahwa kemampuan-kemampuan efektifitas seperti rasa cinta (intuisi), berpartisipasi aktif dalam proses inteligensi manusia untuk mencapai pengetahuan yang lebih memadai. Rudolf Otto menunjukkan bahwa pengalaman (intuisi) telah memunculkan "mysterium" sebagai realitas yang menakjubkan dalam alam pengetahuan manusia. Rasa cinta (intuisi) merupakan prapengetahuan yang menandai daya pengetahuan dan sekaligus membangkitkan daya inteligensi manusia sehingga inteligensi dapat berfungsi lebih memadai. Intuisi merupakan dasar yang kuat untuk membuktikan adanya kebenaran dan realitas yang lebih memadai.

Prinsipnya orang hendaknya tidak terlalu cepat membuat dikotomi mengenai kognitif dan efektifitas. karena terdapat kemungkinan bahwa pengetahuan tertentu mungkin hanya tercapai melalui perasaan. Pengetahuan eksistensial mempunyai sifat sebagai kepastian bebas dan memberi alasan untuk percaya bahwa kebebasan manusia tidak pernah absen dari penegasan intelektual mengenai adanya efektifitas dalam alam pengetahuannya. Cinta (disebut efektifitas positif) atau benci (disebut efektifitas negatif) dapat menjadi dasar penentuan bagi suatu tindakan kognitif. Hal ini tentunya dilakukan melalui suatu dasar penempatan diri yang jelas.

Sering orang begitu kacau memberikan definisi pengetahuan dengan istilah-istilah yang sama, baik untuk pengetahuan yang sifatnya kognitif maupun untuk cara-cara efektifitas, misalnya, mengatakan bahwa mengenal adalah penerimaan, komunikasi. partisipasi, kepatuhan. atau cinta, seolah-olah merupakan cara mengenal yang istimewa, sampai orang bisa menyatakan bahwa cinta adalah satu-satunya cara autentik dari pengetahuan itu. Memang benar bahwa mencintai bukanlah mengerti dan mengerti bukanlah mencintai, namun demikian bukan berarti bahwa tidak ada hubungan antara keduanya. Orang lupa bahwa cinta bukan saja membuktikan diri dalam perbuatan, tetapi justru cinta telah mendahului perbuatan (intelektual) yang terdapat di dalam subjek. Cinta bila terabaikan dalam tindakan kognisional mengandaikan pengetahuan sebagai hal yang tetap kosong dan tanpa bobot.

Kondisi-kondisi Efektifitas Manusia

Efektifitas bukan hanya tindakan ke arah kebutuhan selera, kecenderungan. atau apa yang jasmaniah saja. tetapi juga spiritual dan intelektual atau intelligible. Efektifitas adalah satu dari unsur-unsur pokok dasariah dari cara berada manusia di dunia. dan satu dari dimensi-dimensi esensial roh manusia. Perbuatan afektif harus dimengerti sebagai segala gerakan atau kegiatan batin yang karenanya subjek ditarik atau ditolak. Perbuatan tersebut sedikit mirip dengan perbuatan mengenal karena merupakan suatu tindakan imanen yang cocok dengan perbuatan intensional yang membuat subjek terbuka dan mengarahkan atau menghubungkan diri kepada yang lain daripada dirinya. Perbuatan afektif mengarahkan manusia untuk dunianya dan membuat manusia berada secara lebih langsung dan lebih intensif bersama dengan hal-hal lain, jadi sejauh lebih bersifat eksistensial. Melalui ini tindakan efektifitas memberikan dasar atau prinsip nilai bagi suatu proses kognitif. Pengalaman-pengalaman efektifitas justru menjadi syarat yang sangat menentukan bagi proses inteligensi manusia.

Semua cara mengenal sebagai suatu proses kognitif-efektifitas, menunjukkan bahwa pengetahuan imajinatif secara khusus bisa menghasut, menguatkan. mengembangkan. dan tidak henti-hentinya menstimulasi kecenderungan dan keinginan-keinginan manusia. Imajinasi dapat membayangkan hal-hal dengan langsung, menggayakannya. dan menjiwainya dengan mewarnainya. Imajinasi juga dapat memperlihatkan bentuk-bentuk kualitas dari hal-hal itu sambil memperbesar atau mengistimewakannya.

Jadi, untuk mencapai efektifitas, subjek harus berada dalam kondisi dimana subjek akan melahirkan kegiatan afektif. Adapun kondisi-kondisi tersebut ialah:

Pertama, antara subjek dan objek harus ada ikatan kesamaan atau kesatuan itu sendiri, karena ketika tidak ada kesamaan maka tidak akan ada efektifitas. Sebagai contoh ketika kita berhubungan dengan sebuah objek maka dalam diri objek terdapat sesuatu yang membuat kita tertarik atau menjauhinya, sesuatu yang ada pada diri objek pasti juga ada dalam diri subjek yang akhirnya akan menimbulkan kegiatan afektif baik menerima atau menolak.

Kedua, nilai (baik dan buruk), dalam kondisi ini, ketika objek dipandang memiliki sebuah nilai maka subjek akan melahirkan kegiatan afektif, karena efektifitas itu sendiri adalah berdasar pada kecintaan akan sesuatu maka subjek pada akhirnya akan melahirkan kegiatan afektif untuk menolak atau menerima.

Ketiga, sifat dasariah dan kecenderungan kognitif, pada kondisi ini subjek akan dalam melakukan sebuah afektif harus ditunjang dengan sebuah sifat dasariah yang akan mendorong dia untuk lebih cenderung, selera, berkeinginan akan sesuatu yang pada akhirnya akan menimbulkan kegiatan afektif yang ternyata memang sesuai dengan sifat dasariah tersebut.

Keempat, mengenal adalah kausa dari efektifitas. Dalam proses mengenal subjek akan mengalami kondisi dimana dia harus berusaha mendefinisikan objek yang akan dikenalinya dan ketika definisi tentang objek tersebut telah tercapai maka pada akhirnya akan lahir sebuah keputusan afektif apakah dia harus menyerang, mencintai, mempertahankan diri atau yang lainnya.

Kelima, imajinasi. Untuk menimbulkan kegiatan afektif maka imajinasi dapat menjadi sebuah pendorong, semangat, mempengaruhi bahkan membohongi. Pengetahuan pertama (baik dari pengalaman atau informasi dari pengenalan) akan melahirkan sebuah deskripsi awal tentang objek, maka dalam kondisi ini subjek akan dipengaruhi untuk bertindak seperti apa yang ia dapat pada pengalaman-pengalaman dan imajinasi yang dia dapatkan terdahulu.

Dari penjelasan-penjelasan diatas jelaslah bahwa perbuatan afektif tidak cukup subjek mengenal objek, menggunakannya dan menarik perhatiannya akan tetapi secara fundamental ia disiapkan oleh keadaan dan kondisi itu sendiri yang menyebabkannya.

Cinta menurut psikolog (Juneman, S.Psi)

Ajaran bahwa sikap mementingkan diri sendiri adalah dosa berat dan bahwa mencintai diri sendiri meniadakan cinta kepada orang lain tidak hanya terdapat dalam filsafat dan teologi, tetapi menjadi salah satu dari berbagai gagasan sehari-hari yang disebarkan di rumah, sekolah, bioskop, buku-buku; tentu juga di semua media yang mempengaruhi masyarakat. ”Jangan mementingkan diri sendiri” adalah semboyan yang ditanamkan kepada jutaan anak, dari generasi ke generasi. Arti dari semboyan itu agak samar-samar. Kebanyakan orang rupanya akan mengatakan bahwa itu berarti jangan ingat diri, jangan bersikap acuh tak acuh, tidak menaruh perhatian kepada orang lain. Sebetulnya hal itu mempunyai arti lebih luas dari itu. Tidak mementingkan diri sendiri juga mengandung arti: jangan berbuat apa yang Anda ingin buat, hentikan keinginan pribadi untuk kepentingan orang yang berwenang. ”Jangan bersikap egoistis” dalam analisis terakhir mempunyai arti yang mendua sama seperti yang terdapat dalam Kalvinisme. Terlepas dari pengertiannya yang nyata, itu berarti ”jangan mencintai dirimu sendiri”, ”jangan menjadi dirimu sendiri”, tetapi pasrahkan dirimu kepada yang lebih penting dari dirimu, kepada suatu kekuasaan luar atau internalisasinya yakni ”kewajiban”. ”Jangan mementingkan diri sendiri” menjadi salah satu alat ideologis yang paling kuat untuk menindas spontanitas dan perkembangan bebas suatu kepribadian. Karena pengaruh semboyan ini, kita diminta untuk berkorban dan patuh secara mutlak: hanya tindakan-tindakan yang tidak bermanfaat untuk individu tetapi untuk seseorang atau sesuatu di luar diri sendiri, boleh dianggap sebagai tindakan yang tidak egoistis.

Harus ditekankan lagi bahwa dalam arti tertentu gambaran ini bersifat sebelah. Sebab selain dari ajaran bahwa orang tidak boleh mementingkan diri sendiri, ajaran sebaliknya juga dipropagandakan pada masyarakat modern, yakni: ingatlah keuntunganmu sendiri, dengan bertindak demikian, engkau juga akan memperoleh keuntungan yang paling besar bagi orang lain. Gagasan bahwa egoisme merupakan dasar dari kesejahteraan umum, sebenarnya merupakan prinsip di atas mana masyarakat yang bersaing dibangun. Mengherankan bahwa dua prinsip yang kelihatannya begitu bertentangan, dapat diajarkan berdampingan di dalam satu kebudayaan; itulah kenyataan yang tak dapat diragukan. Salah satu dari pertentangan ini adalah timbulnya kebingungan dalam diri individu. Karena terombang-ambing antara dua ajaran tadi, ia sangat dihambat dalam proses mengintegrasikan kepribadiannya. Kebingungan ini merupakan salah satu sumber yang paling mencolok dari kebingungan dan ketidakberdayaan manusia modern.

Ajaran bahwa cinta kepada diri sendiri adalah identik dengan ”mementingkan diri sendiri”, dan merupakan suatu alternatif bagi cinta kepada orang lain, telah meresapi filsafat, teologi, dan pikiran populer. Ajaran yang sama telah dirasionalisasi dengan bahasa ilmiah dalam teori tentang narsisme dari Freud. Konsep Freud mengandaikan adanya jumlah tetap dari energi libido. Pada bayi, seluruh libido diarahkan kepada pribadi bayi sendiri. Itulah yang disebut Freud sebagai tahap ”narsisme primer”. Dalam perkembangan individu tersebut, libido berpindah dari pribadi individu itu kepada objek-objek lain di luarnya. Jika seseorang dihalang-halangi dalam mengembangkan ”relasi-relasi objeknya”, maka libido akan ditarik kembali dari objek-objek dan diarahkan kembali kepada diri sendiri. Hal itu disebut ”narsisme sekunder”. Maka Freud berpendapat bahwa semakin banyak cinta yang saya arahkan kepada dunia luar, semakin kurang cinta yang tertinggal bagi diri saya sendiri, dan sebaliknya. Maka Freud menguraikan gejala cinta sebagai suatu pemiskinan cinta diri seseorang, karena seluruh libido dialihkan kepada suatu objek di luar dirinya.

Pertanyaan-pertanyaan yang berikut dapat timbul: Apakah observasi psikologis membenarkan pernyataan bahwa terdapat suatu pertentangan yang mendasar dan suatu keadaan yang tumpang tindih antara cinta kepada diri sendiri dan cinta kepada orang lain? Apakah cinta kepada diri sendiri identik dengan sikap ingat diri atau apakah keduanya berlawanan? Selanjutnya, apakah sikap ingat diri manusia modern sungguh-sungguh merupakan keprihatinan bagi dirinya sendiri sebagai individu, dengan segala daya intelektual, emosional dan sensualnya? Apakah ”ia” tidak menjadi suatu embel-embel saja dari peran sosio-ekonomi? Adakah egoismenya identik dengan cinta diri sendiri atau apakah egoisme itu justru disebabkan oleh kurangnya cinta diri?

Sebelumnya, kita harus menekankan kekeliruan logis yang terdapat dalam gagasan bahwa cinta kepada orang lain dan cinta kepada diri sendiri saling meniadakan. Kalau mencintai sesamaku sebagai manusia merupakan suatu kebajikan, maka pasti mencintai diriku sendiri juga harus merupakan suatu kebajikan (dan bukan merupakan sesuatu yang buruk) karena saya juga manusia. Tidak ada konsep tentang manusia di mana saya sendiri tidak termasuk. Suatu ajaran yang menyatakan peniadaan semacam itu, terbukti dengan sendirinya sebagai sesuatu yang kontradiktoris secara intrinsik. Gagasan yang terungkap dalam Injil, yakni ”Cintailah sesamamu sama seperti engkau mencintai dirimu sendiri”, secara tidak langsung mengatakan bahwa respek terhadap integritas dan keunikan dirimu sendiri dan cinta serta pengertian terhadap dirimu sendiri tidak dapat dipisahkan dari respek dan cinta serta pengertian terhadap pribadi yang lain. Cinta kepada diriku sendiri berkaitan erat dengan cinta terhadap setiap pribadi lain.

Sekarang kita sampai kepada alasan-alasan psikologis yang menjadi dasar kesimpulan-kesimpulan argumentasi kita. Biasanya, alasan-alasan ini adalah sebagai berikut: Bukan hanya orang lain, melainkan kita sendiri adalah ”objek” dari perasaan dan sikap kita; sikap terhadap orang lain dan terhadap diri sendiri, sama sekali tidak bertentangan tetapi pada dasarnya mempunyai hubungan yang erat. Sehubungan dengan persoalan yang sedang kita diskusikan, hal ini berarti, antara cinta kepada orang lain dan cinta kepada diri sendiri tak ada pilihan. Sebaliknya, cinta terhadap diri akan ditemukan pada siapa saja yang mampu mencintai orang lain. Cinta pada prinsipnya tidak dapat dibagi sejauh hal itu menyangkut hubungan antara ”objek-objek” dan pribadi itu sendiri. Cinta yang ikhlas merupakan ungkapan dari produktivitas dan meliputi: perhatian, respek (rasa hormat), tanggungjawab dan pengetahuan. Itu bukan suatu ”affect” (perasaan) dalam arti bahwa perasaanku dipengaruhi oleh seseorang, melainkan suatu perjuangan aktif demi suatu perkembangan dan kebahagiaan pribadi yang dicintai, yang berakar dalam dayaku sendiri untuk mencintai.

Cinta adalah suatu ungkapan dari daya seseorang untuk mencintai, dan untuk mencintai seseorang merupakan perwujudan dan pemusatan daya ini terhadap seorang pribadi. Tidak benar bahwa terdapat hanya satu pribadi tunggal saja di dunia yang saya dapat cintai, sebagaimana dalam gagasan tentang cinta romantis, dan tidak benar juga bahwa untuk menemukan pribadi seperti itu merupakan kesempatan yang luar biasa dalam hidupku. Juga tidak benar jika ada anggapan bahwa cinta bagi seseorang mengakibatkan suatu penarikan kembali cintanya kepada orang lain. Cinta yang hanya dialami pada satu pribadi saja justru membuktikan bahwa itu bukan cinta tetapi suatu ikatan perasaan simbiotik. Suatu afirmasi mendasar yang terkandung dalam cinta tertuju kepada pribadi yang dicintai sebagai perwujudan dari sifat-sifat yang khas manusiawi. Cinta terhadap satu pribadi tertentu saja berarti cinta terhadap manusia itu sendiri. Ada semacam ”pembagian tugas” di mana bila seseorang mencintai keluarganya sendiri tetapi tidak merasa simpati terhadap ”orang asing”, itu merupakan suatu tanda bahwa ia pada dasarnya tidak sanggup mencintai. Cinta terhadap manusia bukan suatu abstraksi yang timbul sesudah cinta kepada seorang pribadi tertentu, tetapi justru merupakan alasannya, walaupun secara genetis cinta itu diperoleh dengan mencintai pribadi-pribadi tertentu. Bertolak dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa diriku sendiri, pada prinsipnya, harus juga merupakan suatu objek cintaku sama seperti pribadi lain. Afirmasi terhadap hidup, kebahagiaan, perkembangan, kebebasannya sendiri, berakar pada kemampuannya untuk mencintai, yaitu: perhatian, rasa hormat, tanggungjawab, dan pengetahuan. Jika seorang pribadi dapat mencintai secara produktif, ia mencintai dirinya sendiri juga; jika ia hanya dapat mencintai orang lain, ia samasekali tidak dapat mencintai.

Andaikata cinta kepada diri sendiri dan kepada orang lain pada prinsipnya saling berhubungan, bagaimana kita menerangkan egoisme, yang dengan jelas meniadakan setiap perhatian yang ikhlas terhadap orang lain? Orang yang egois hanya tertarik pada dirinya sendiri, ingin memperoleh segala sesuatu demi dirinya sendiri dan merasa tidak senang memberi, tetapi hanya senang menerima. Dunia luar dilihat hanya dari segi keuntungan yang dapat ia peroleh darinya; ia tidak mempunyai minat terhadap kebutuhan orang lain dan tidak menghormati martabat dan integritas orang lain. Ia tidak melihat apapun kecuali dirinya sendiri; ia menilai tiap orang dan setiap hal dari segi kegunaannya bagi dirinya; ia pada dasarnya tidak sanggup mencintai. Bukankah hal ini membuktikan bahwa perhatian kepada orang lain dan kepada diri sendiri merupakan pilihan yang tak terelakkan? Ini hanya terjadi apabila egoisme dan cinta diri sendiri adalah identik. Namun anggapan itu merupakan suatu pikiran yang amat keliru yang mengarahkan kita kepada sekian banyak kesimpulan yang keliru menyangkut masalah yang kita bahas. Egoisme dan cinta diri sendiri samasekali tidak identik, keduanya sungguh-sungguh saling bertentangan. Orang yang egoistis bukannya terlalu mencintai diri, melainkan justru sangat kurang mencintai diri; sesungguhnya ia membenci dirinya sendiri. Kurangnya cinta dan perhatian terhadap diri, yang hanya merupakan suatu perwujudan dari kurangnya produktivitasnya, menyebabkan bahwa ia merasa diri kosong dan kecewa. Ia pasti tidak merasa bahagia dan gelisah dalam usaha merampas dari kehidupan suatu kepuasan yang pencapaiannya ia halangi sendiri. Ia kelihatannya memperhatikan dirinya sendiri secara berlebihan, namun sebenarnya ia hanya tidak berhasil menyembunyikan dan mengimbangi kegagalannya untuk sungguh-sungguh memelihara dirinya sendiri. Freud mempertahankan bahwa orang yang ingat diri bersifat narsistis, karena ia telah menarik kembali cintanya dari orang lain dan mengalihkannya kepada dirinya sendiri. Benar bahwa orang yang ingat diri tidak mampu mencintai orang lain, namun mereka juga tidak sanggup mencintai dirinya sendiri.

Egoisme lebih mudah kita pahami kalau dibandingkan dengan perhatian yang rakus kepada orang lain sebagaimana kita temukan, misalnya pada seorang ibu yang terlalu prihatin dan suka menguasai anaknya (Erich Fromm). Secara sadar ia yakin bahwa ia sangat mencintai anaknya, namun secara tidak sadar ia sebenarnya merasakan suatu permusuhan yang direpresi terhadap objek keprihatinannya. Ia merasa prihatin yang berlebihan, bukan karena ia sangat mencintai anaknya, melainkan karena ia harus mengimbangi kekurangmampuannya untuk mencintai anaknya.

Teori tentang sifat dasar egoisme ini berasal dari pengalaman pasien neurotis yang ”tidak mementingkan diri sendiri”. Sifat tak mementingkan diri ini merupakan suatu simtom neurotis yang diobservasi pada banyak orang yang biasanya diganggu bukan oleh simtom ini melainkan oleh simtom-simtom lain yang berhubungan dengan simtom tadi, seperti: depresi, kelelahan, kegagalan dalam relasi cinta, dan sebagainya. Sikap mementingkan diri sendiri bukan hanya tidak dirasakan sebagai ”suatu simtom”, melainkan sering dianggap sebagai ciri watak yang bagus, sebagai satu-satunya yang dibanggakan orang itu. ”Orang yang tidak mementingkan diri sendiri” tidak ”menyukai sesuatu pun bagi dirinya sendiri”; ”hidup hanya untuk orang lain”, merasa bangga bahwa ia menganggap dirinya sendiri tidak penting. Ia bingung melihat bahwa walaupun ia tidak mementingkan dirinya, ia tidak dapat bahagia, dan bahwa hubungannya dengan mereka yang paling dekat dengannya tidak memuaskannya. Ia ingin melepaskan segala kesulitan yang dianggapnya sebagai simtom, kecuali sikap tidak mementingkan diri itu sendiri. Karya terapi psikoanalitis menunjukkan bahwa sikap yang tidak mementingkan diri sendiri itu bukan sesuatu yang lain atau di luar simtom-simtom lainnya, tetapi merupakan salah satu dari simtom-simtom itu, malah sesungguhnya sering merupakan simtom yang paling penting. Karya terapi psikoanalitis memperlihatkan bahwa ia lumpuh dalam kemampuan untuk mencintai atau untuk menikmati sesuatu; bahwa ia diliputi rasa permusuhan melawan kehidupan, dan bahwa ia di balik kedok sikap yang tidak mementingkan diri sendiri itu, tersembunyilah suatu sikap egosentrisme yang halus namun kuat. Orang ini dapat disembuhkan hanya kalau sikap yang tidak mementingkan diri sendiri juga ditafsirkan sebagai salah satu dari simtom-simtom sedemikian rupa sehingga kurangnya produktivitas pada dirinya, yang merupakan sumber baik dari sikapnya yang tidak mementingkan diri sendiri maupun dari gangguan-gangguan lain, dapat diperbaiki.

Sifat dasar dari sikap tidak mementingkan diri ini menjadi nyata terutama sekali dalam pengaruh dan akibatnya terhadap orang lain, dan sangat sering, untuk adat istiadat kita, dalam pengaruh atas anak-anak dari seorang ibu ”yang tidak mementingkan diri”. Ia yakin bahwa lewat sikapnya yang tidak mementingkan diri, anak-anak akan mengalami apa artinya dicintai dan pada gilirannya mempelajari arti mencintai. Namun hasil dari sikapnya yang tidak mementingkan diri itu samasekali tidak sepadan dengan harapannya. Anak-anak tidak menunjukkan kebahagiaan pribadi-pribadi yang yakin bahwa mereka dicintai; mereka cemas, kaku, takut terhadap celaan ibu dan cemas untuk bertindak sesuai dengan harapannya. Biasanya mereka dipengaruhi oleh rasa permusuhan yang tersembunyi dari ibunya terhadap kehidupan, yang mereka rasakan lebih daripada menyadarinya, dan akhirnya mereka sendiri diliputi oleh kebencian tersebut. Akhirnya pengaruh sikap ibu ”yang tidak mementingkan diri sendiri” tidak terlalu berbeda dari seorang ibu yang bersikap egoistis; sesungguhnya pengaruh itu sering lebih jelek karena sikap tidak mementingkan diri dari ibu menghalangi anak-anak untuk mengkritiknya. Mereka hidup dengan beban kewajiban untuk tidak mengecewakan ibu, mereka diajar, di bawah topeng kebajikan, agar benci terhadap kehidupan. Jika kita mempunyai kesempatan untuk mempelajari pengaruh dari seorang ibu yang memiliki cinta pada diri sendiri yang sejati, kita dapat melihat bahwa tidak ada sesuatu pun yang lebih berhasil untuk memberikan seorang anak suatu pengalaman tentang apa arti cinta, keriangan dan kebahagiaan, daripada dicintai oleh seorang ibu yang mencintai dirinya sendiri.


Posting Komentar untuk "Pengertian Intuisi dan Efektifitas Dalam Filsafat Manusia"

Klik gambar berikut untuk mengunduh artikel ini:

Berlangganan via Email