Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pengertian Wawancara Kelompok Terfokus Beserta Contoh

Pengertian Wawancara Kelompok Terfokus Beserta ContohWawancara Kelompok Terfokus (WKT) adalah salah satu teknik dalam mengumpulkan data kualitatif dimana sekelompok orang berdiskusi dengan pengarahan dari seorang moderator atau fasilitator mengenai suatu topik. Diskusi demikian dirancang untuk menggali persepsi tentang suatu hal dalam suasana yang permisif dan tidak mengancam.

Pengertian Wawancara Kelompok Terfokus Beserta Contoh_
image source: youthmc.org
baca juga:

WKT banyak digunakan dalam penelitian kualitatif karena beberapa memiliki keuntungan, antara lain :
  1. Interaksi kelompok. Adanya interaksi di dalam kelompok memungkinkan munculnya respons yang lebih kaya dan juga memungkinkan timbulnya pemikiran-pemikiran baru yang berharga.
  2. Observasi. Peneliti akan dapat langsung mengamati diskusi serta mendapatkan insight mengenai perilaku, sikap, bahasa, dan perasaan responden. 
  3. Biaya dan waktu. WKT dapat diselesaikan lebih cepat dan biasanya lebih mudah dibanding wawancara mendalam (depth interview).

Karakteristik Wawancara Kelompok Terfokus

Jumlah peserta. Peserta terdiri dari 6-12 orang. Kelompok tersebut harus cukup kecil sehingga memungkinkan setiap individu untuk mendapat kesempatan mengeluarkan pendapatnya tetapi juga cukup memperoleh pandangan anggota kelompok yang bervariasi. Apabila kelompok lebih dari 12 orang, timbul kecenderungan peserta diskusi ingin mengeluarkan pendapatnya tetapi tidak mendapat kesempatan. Sebaliknya kelompok yang dihadiri oleh 4-6 orang memberi kesempatan yang lebih banyak bagi peserta untuk berdiskusi tetapi ide-ide yang diperoleh lebih terbatas.

Peserta tidak saling mengenal. WKT pada umumnya dilakukan terhadap responden yang homogen, yaitu yang memiliki variabel yang relevan yang sama (tergantung tujuan penelitian). Beberapa variabel yang sering kali digunakan adalah status sosial, tingkat kehidupan, status pengguna, tingkat pengalaman/keahlian, umur, status perkawinan, perbedaan budaya dan jenis kelamin. Misalnya petugas Puskesmas ingin mengetahui mengapa ibu-ibu balita tidak menggunakan Posyandu. Maka ciri–ciri yang sama yang kita pilih sebagai peserta WKT adalah ibu–ibu balita, tidak pernah mengunjungi Posyandu. Kemudian kalau kita ingin lebih spesifik lagi karena kita akan melakukan program penyuluhan yang berbeda menurut pekerjaan ibu–ibu maka ciri–ciri yang sama lainnya yang kita cari adalah jenis pekerjaannya. Jadi misalnya dikelompokkan peserta WKT dengan ciri–ciri ibu balita, tidak menggunakan Posyandu, bekerja sebagai petani, dan seterusnya.

Peserta WKT terdiri dari orang – orang yang tidak saling menganal. Pada beberapa masyarakat, misalnya masyarakat pedesaan, hal tersebut sulit dilaksanakan karena pada umumnya saling mengenal. Meskipun demikian kita sebaiknya tidak memasukkan orang yang selalu melakukan interaksi sehari–hari secara teratur dalam kelompok yang sama. Demikian juga sebaiknya antara moderator dengan peserta WKT tidak saling mengenal. Alasan utama syarat ini adalah untuk kepentingan analisis hasilnya yaitu untuk menghilangkan pendapat yang dipengaruhi adanya interaksi antar mereka sebelumnya.

Wawancara Kelompok Terfokus adalah kegiatan pengumpulan data. Wawancara Kelompok Terfokus bertujuan mengumpulkan data mengenai persepsi peserta terhadap sesuatu, misalnya pelayanan, dan tidak mencari kesepakatan ataupun keputusan mengenai tindakan yang harus diambil. Sedangkan teknik Delphi method, brain storming dan nominal group biasanya bertujuan untuk memecahkan masalah, atau mengidentifikasikan kesepakatan yang disetujui semua pihak.

Wawancara Kelompok Terfokus mengumpulkan data kualitatif dengan unit analisis kelompok. Wawancara Kelompok Terfokus mengumpulkan data kualitatif yang memberikan data yang mendalam mengenai persepsi, pandangan peserta. Oleh karena itu dalam WKT digunakan pertanyaan yang terbuka yang memungkinkan peserta untuk memberikan jawaban disertai dengan penjelasan–penjelasan. Moderator disini berfungsi sebagai pengarah, pendengar, pengamat dan menganalisis data dengan menggunakan proses induktif.

Wawancara Kelompok Terfokus menggunakan Wawancara Kelompok yang Terfokus. Topik diskusi ditentukan terlebih dahulu dan diatur secara berurutan. Pertanyaan diatur sedemikian rupa sehingga dimengerti oleh peserta diskusi. Moderator atau fasilitator menggunakan pertanyaan yang terbuka.

Validitas Wawancara Kelompok Terfokus

Peneliti akan sering menghadapi pertanyaan apakah hasil WKT valid, seberapa jauh derajat kepercayaannya? Yang terpenting adalah mengembalikan fungsi WKT dalam suatu penelitiaan: “hasil WKT adalah valid bila WKT digunakan dengan hati – hati untuk suatu masalah yang sesuai memakai WKT.” Bila peneliti tidak mengikuti persyaratan yang telah ditetapkan dalam memakai WKT, maka validitas perlu dipermasalahkan. Juga bila masalah penelitian tidak cocok menggunakan WKT, maka WKT merupakan cara yang tidak valid. Sehingga masalah validitas bergantung tidak saja pada prosedur/cara tetapi juga pada konteks permasalahannya. Ingat!!!: validitas adalah ukuran ketepatan suatu prosedur/cara/instrumen untuk mengukur hal – hal yang ingin diukur.

Penggunaan Wawancara Kelompok Terfokus
  • Merancang studi kuantitatif (before)
  • Mengkonfirmasi temuan dan mendapatkan informasi yang dalam dan luas (during)
  • Memberikan insight tentang arti dan interpretasi suatu data (after)
  • Memberikan data eksplorasi (only)

Lama Wawancara Kelompok Terfokus

WKT harus dilakukan dalam waktu yang tepat, sehingga rasa bosan/jenuh para peserta yang dapat mengganggu hasil WKT dapat dihindari. Sebagai patokan, lamanya antara satu hingga dua jam. Kadang – kadang bila WKT dipakai untuk mendapatkan respon yang sangat khusus seperti reaksi terhadap suatu iklan cukup dikerjakan dalam 45 menit saja.

Biasanya WKT yang pertama kali lebih lama jika dibandingkan dengan WKT selanjutnya, karena pada WKT yang pertama semua informasinya baru. Jumlah WKT yang harus dilakukan untuk suatu studi bergantung kepada kebutuhan, sumber dan informasi baru yang harus dicari. Sebaiknya selenggarakan dua kali untuk group yang setara, bila tidak didapatkan informasi baru yang menarik tidak perlu mengadakan WKT yang ke tiga. Sebaliknya bila ternyata dari kelompok kedua didapatkan informasi–informasi baru, kemungkinan perlu dilakukan WKT yang ke tiga, demikian seterusnya.

Memilih Tempat Wawancara  Kelompok Terfokus

Pada prinsipnya WKT sebaiknya dilaksanakan di suatu tempat dimana peserta dapat secara bebas dan tidak merasa takut untuk mengeluarkan pendapatnya. Misalnya Puskesmas tidak tepat untuk mendiskusikan tentang pendapat masyarakat terhadap pelayanan kesehatan.

Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan:
  • Tempat harus menimbulkan rasa privasi bagi partisipan.
  • Tempat harus memadai sehingga semua yang berbicara dapat didengar dengan baik.
  • Tempat harus nyaman.
  • Tempat tidak menimbulkan rasa tidak aman.
  • Tempat harus mudah dijangkau oleh semua responden.
  • Bila mungkin, tempat diskusi dapat diamati oleh peneliti tanpa menimbulkan rasa tidak nyaman bagi partisipan.

Mengatur Posisi Peserta Diskusi

Biasanya WKT dilakukan di meja konferensi suatu ruangan. Beberapa pedoman berikut perlu diperhatikan :
  • Hindari pengaturan kursi yang tidak seragam.
  • Kursi harus diatur dalam posisi yang memungkinkan semua partisipan dapat saling melihat/kontak mata.
  • Jarak masing-masing kursi harus sama, jangan memberikan jarak antara responden dengan moderator.

Persiapan Wawancara Kelompok Terfokus

Ada tiga hal yang perlu dipersiapkan, yaitu undangan, fasilitator, dan pencatat.

Mempersiapkan undangan
  1. Jelaskan kepada calon peserta mengenai lembaga yang mengadakan studi dan tujuannya.
  2. Jelaskan rencana WKT dan meminta calon peserta untuk berpartisipasi dalam WKT. Sebutkan juga mereka yang sudah bersedia ikut serta dalam WKT untuk mendorong calon peserta lain ikut berpartisipasi.
  3. Beritahukan tanggal, waktu, tempat dan lamanya pertemuan.
  4. Jika seseorang tidak mau atau tidak dapat datang, maka tekankan pentingnya kontribusi orang tersebut dan jika tetap menolak maka ucapkan terima kasih.
  5. Jika orang tersebut mau datang maka beritahukan kembali tentang hari, jam, tempat dan pentingnya berpartisipasi dalam FGD.

Mempersiapkan Fasilitator / Moderator

Beberapa persiapan yang perlu dilakukan adalah :
1. Fasilitator menggunakan petunjuk diskusi agar supaya diskusi Terfokus. Petunjuk diskusi ini berupa pertanyaan yang open ended atau terbuka.

2. Peranan fasilitator adalah sebagai berikut :
  • Menjelaskan tentang topik diskusi
  • Seorang fasilitator tidak perlu seorang yang ahli yang berkaitan dengan topik diskusi untuk dapat menguasai pertanyaannya. Disamping itu mampu melakukan pendekatan kepada peserta WKT sehingga mereka terdorong untuk mengeluarkan pendapat-pendapatnya. Fasilitator yang mempunyai rasa humor akan lebih berhasil dalam WKT tersebut.
  • Mengarahkan kelompok, bukan diarahkan oleh kelompok.
  • Fasilitator bertugas mengajukan pertanyaan dan harus netral terhadap jawaban peserta. Tekankan bahwa tidak ada jawaban yang benar atau salah. Tidak boleh memberikan persetujuan atau tidak setuju terhadap jawaban yang akan mempengaruhi pendapat peserta.
  • Amati peserta dan tanggap terhadap reaksi mereka.
  • Mendorong semua peserta untuk berpartisipasi dan jangan biarkan sejumlah individu memonopoli diskusi.
  • Ciptakan hubungan baik dengan peserta sehingga dapat menggali jawaban dan komentar yang lebih dalam.
  • Fleksibel dan terbuka terhadap saran-saran, perubahan-perubahan dan lain-lain.
  • Amati komunikasi non verbal antar peserta dan tanggap terhadap hal tersebut.
  • Hati-hati terhadap nada suara dalam mengajukan pertanyaan, karena peserta akan merasa tidak senang apabila nada fasilitator memperlihatkan ketidaksabaran dan tidak bersahabat.

Mempersiapkan Pencatat

Pencatat berlaku sebagai pengamat selama WKT berlangsung dan bertugas mencatat hasil diskusi. Yang perlu dicatat adalah sebagai berikut :
  1. Tanggal pertemuan WKT dan waktu mulai dan selesai.
  2. Nama masyarakat dan catat secara singkat mengenai masyarakat tersebut serta informasi lainnya yang mungkin dapat mempengaruhi aktivitas peserta. Misalnya jarak dari desa ke kota dan sebagainya.
  3. Tempat pertemuan WKT, catat ringkas mengenai tempat dan sejauh mana tempat tersebut mempengaruhi peserta. Misalnya apakah tempatnya cukup luas, menyenangkan peserta dan lain-lain.
  4. Jumlah peserta dan beberapa uraiannya yang meliputi : jenis kelamin, umur, pendidikan dan lain-lain.
  5. Deskripsi umum mengenai dinamika kelompok misalnya derajat partisipasi peserta, apakah ada peserta yang dominan, peserta yang merasa bosan, peserta yang selalu diam dan lain-lain.
  6. Pencatat harus menuliskan kata-kata yang diucapkan dalam bahasa lokal oleh peserta.
  7. Pencatat memperingatkan kepada fasilitator kalau ada pertanyaan yang terlupakan atau juga mengusulkan pertanyaan yang baru.
  8. Pencatat dapat meminta peserta untuk mengulangi lagi komentarnya kalau fasilitator tidak mendengarkan komentar peserta tersebut karena sedang mendengarkan komentar peserta lain.

Pelaksanaan Wawancara Kelompok Terfokus

Pelaksanaan WKT dibagi menjadi 3 tahap yaitu :
  • Tahap persiapan dan pembukaan
  • Tahap isi
  • Tahap penutup

1. Tahap Persiapan dan Pembukaan
Fasilitator dan pencatat harus datang tepat pada waktunya sebelum peserta diskusi datang. Mereka sebaiknya bercakap-cakap secara informal dengan peserta. Ambillah kesempatan ini untuk mengenal nama peserta dan hal-hal yang menjadi perhatian mereka.

Fasilitator harus mempersiapkan tempat duduk peserta sedemikian rupa sehingga para peserta terdorong untuk mau berbicara. Sebaiknya peserta duduk dalam satu lingkaran bersama-sama dengan fasilitator. Pencatat biasanya duduk di luar lingkaran tersebut. Fasilitator harus mengusahakan tidak ada interupsi dari luar pada waktu WKT berjalan. Semua perlengkapan WKT harus disiapkan misalnya: kaset, baterai dan petunjuk diskusi.
  • Pada waktu membuka diskusi, fasilitator perlu memperhatikan hal-hal sbb :
  • Jelaskan tujuan diadakan WKT serta perkenalkan nama fasilitator serta pencatat dan peranannya masing-masing.
  • Minta peserta memperkenalkan diri dan fasilitator harus cepat mengingat nama peserta dan menggunakannya pada waktu berbicara dengan peserta.
  • Jelaskan bahwa pertemuan tersebut tidak bertujuan untuk memberikan ceramah tetapi untuk mengumpulkan pendapat dari peserta. Tekankan bahwa fasilitator ingin belajar dari para peserta.
  • Tekankan bahwa pendapat dari semua peserta sangat penting sehingga diharapkan semua peserta bebas mengeluarkan pendapat.
  • Jelaskan bahwa pada waktu fasilitator mengajukan pertanyaan jangan berebutan menjawabnya pada waktu yang sama.
  • Mulailah pertemuan dengan mengajukan pertanyaan yang sifatnya umum yang tidak berkaitan dengan topik diskusi.
  • Mendorong beda pendapat. Responden harus diberi tahu bahwa didalam kelompok tidak ada jawaban salah atau benar sehingga dibenarkan untuk memiliki perasaan /pendapat yang berlainan dengan anggota lain. Mereka didorong untuk bebas mengemukakan pendapatnya secara terus terang dan jujur.
  • Moderator harus bersikap netral. Moderator harus meyakinkan responden bahwa dia tidak berkaitan dengan kepentingan isi dan hasil diskusi sehingga apapun yang dikatakan responden tidak akan membuat dia merasa enak/tidak enak.
  • Aturan kelompok diberikan. Responden diminta berbicara bergantian dan berinteraksi dengan yang lain tapi tidak saling memotong pembicaraan.

2. Tahap Isi
Pada bagian ini kelompok mulai menyentuh topik-topik yang khusus. Biasanya ada perubahan topik dari topik kongkrit menuju isu yang abstrak; dari diskusi fakta menuju diskusi mengenai sikap, perasaan dan kepercayaan yang dalam beberapa hal mungkin sensitif. Moderator perlu memancing beberapa konsep atau isu khusus kepada kelompok untuk mendapatkan respon yang khusus.

Tujuan tahap ini adalah mendapatkan pemahaman mengenai suatu topik, menggali dinamika sikap yang berkaitan dengan perilaku dan mengamati bahasa dan emosi responden terhadap suatu topik. Moderator harus memiliki ketrampilan berikut :

a. Memakai teknik probing untuk menjelaskan dan memahami respon yang diberikan oleh kelompok.

Contoh:
  • Diam; membiarkan responden mencerna yang dikatakan.
  • Memakai teknik refleksi; mengatakan kembali yang telah diungkap responden.
  • Mengulang kata-kata responden dalam bentuk pertanyaan; “Bagus?”
  • Menanyai responden untuk memperjelas posisinya.
  • “Saya agak bingung, tadi saya bilang x, sekarang y.”
  • Memakai kata kunci probing seperti
Responden: Bagus. 
Moderator: Apa yang dimaksud bagus?

Responden: Saya suka ukurannya. 
Moderator: Apa yang anda maksud ukurannya?

Responden: Jalan kok. 
Moderator: Bagaimana anda bisa mengatakan jalan?

Responden: Akan sangat nyaman. 
Moderator: Bagaimana agar nyaman? 
  • Menggunakan teknik orang ketiga. “Anda nampak sangat keras mengenai hal ini.
  • Menurut anda bagaimana perasaan orang lain mengenai hal ini?”
  • “Tolong dijelaskan lebih lanjut.”
  • “Bagaimana tentang hal itu.”
  • “Apa yang anda maksud demikian?”
  • “Apa yang membuat anda berperasaan demikian?”
  • “Dapatkah anda memberikan suatu contoh?”
  • “Saya ingin mendengar pendapat anda tentang hal itu.”
  • “Saya ragu-ragu apakah saya memahami cara anda memakai kata___.”
  • “Apa alasan anda memiliki perasaan demikian?”
  • “Bagaimana pesan tersebut menurut anda?”
  • “Bagaimana maksudnya secara pribadi?”
  • “Apa yang anda pikirkan saat menyaksikannya?”
  • “Apa yang timbul dalam pikiran anda? Hal apa yang berkesan?”
  • “Anda telah mulai mengatakan tentang….”
  • “Anda menyebutkan sesuatu tentang….”
  • “Apakah anda mendapat gambaran baru mengenai… dari…?”
  • “Kata apa yang tepat untuk menggambarkan…?”
  • “Mengapa?” atau “Mengapa tidak?”

b. Sensitivitas moderator terhadap tingkat penerimaan responden sangatlah penting. moderator yang baik akan tahu kapan harus berpindah dari topik yang umum ke topik yang khusus.

c. Mengkilas balik informasi yang diberikan responden pada awal diskusi pada permulaan diskusi inti. Seringkali responden memberikan komentar kritik pada permulaan diskusi. Moderator cukup membiarkan responden menyelesaikan komentarnya, dan pada saat yang tepat mintalah responden tersebut untuk memberikan komentar lanjutannya. Teknik ini selain menunjukkan perhatian moderator terhadap yang dikatakan responden juga merupakan transisi ke dalam topik yang baru sehingga diskusi nampak merupakan aliran yang berkelanjutan dan tidak terputus-putus.

d. Terus-menerus menghubungkan komentar-komentar yang diberikan oleh responden sehingga memiliki arti yang kohesif bagi kelompok.

e. Keluwesan dalam mendiskusikan isu-isu relevan yang mungkin tidak terdapat dalam pedoman diskusi. Oleh karena itu moderator harus memahami topik yang didiskusikan dan tujuan studi tersebut agar dapat menyaring mana informasi yang diperlukan dan mana yang tidak diperlukan.

f. Mengatasi masalah-masalah khusus yang sering kali timbul dalam Wawancara Kelompok seperti konflik antar responden atau hilangnya antusias dalam kelompok.

g. Memakai taktik dan pendekatan yang bervariasi.Misalnya, moderator yang efektif akan :
  • Merangsang responden agar berbicara antar mereka, tidak harus melalui moderator
  • Mengetahui kapan melakukan probing dan kapan diam
  • Menggunakan probing mendalam tanpa mengarahkan
  • Mampu memahami yang dikatakan responden
  • Memperhatikan yang dikatakan responden agar anggota kelompok juga melakukan hal yang sama
  • Sensitif terhadap tanda-tanda non verbal sehingga memahami perasaan responden yang sebenarnya
  • Tidak berasumsi bahwa yang dikatakan responden adalah yang benar-benar dilakukan responden
  • Mendukung adanya ketidaksetujuan antar responden
  • Mendorong anggota kelompok yang tidak aktif agar berbicara
  • Menegur anggota yang dominan atau mengganggu
  • Bersikap ramah namun tegas
  • Bersikap permisif namun tidak keluar dari topic
  • Mengharapkan kejadian yang tidak diinginkan dan tahu cara mengatasinya
  • Siap berimprovisasi bila diskusi macet
  • Memakai teknik proyeksi atau trik lainnya untuk mendapatkan insight responden yang lebih dalam

Teknik Dalam Wawancara Kelompok Terfokus

Meskipun pemakaian WKT nampak beragam, pada prinsipnya ada beberapa teknik umum penggunaan WKT mengenai ; 1. cara pendekatannya, dan 2. fungsi kelompok.

Pendekatan WKT
Ada dua aspek penting dalam pendekatan WKT. Pertama teknik bertanya bisa direktif atau tidak direktif, kedua alur WKT bisa terstruktur atau tidak terstruktur.

a. Teknik Bertanya
Pendekatan direktif menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang sangat mengarahkam dan secara khusus membatasi respon yang timbul. Teknik bertanya demikian hanya digunakan bila tujuan WKT telah ditetapkan sangat spesifik.

Pendekatan yang tidak direktif menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang terbuka dan tidak bias. Teknik bertanya ini memungkinkan timbulnya ungkapan-ungkapan jujur responden, mengurangi pengaruh moderator dan membantu menghilangkan kesulitan dalam menyimpulkan hasil WKT. Pendekatan ini merupakan pendekatan terbaik bila melakukan WKT.

b. Alur WKT
Dalam WKT terstruktur moderator mengikuti pedoman diskusi yang telah disiapkan. Pedoman tersebut berisi isu-isu yang akan ditanyakan juga area-area yang perlu probing (penggalian informasi). Dengan menggunakan pedoman WKT dapat dipastikan bahwa tujuan riset yang relevan telah dicakup. Selain itu bentuk terstruktur lebih mudah dibandingkan dengan WKT paralel lainnya. WKT tidak terstruktur dikerjakan dengan memakai pedoman diskusi kasar. Peserta WKT yang kemudian menetapkan isi dan alur diskusi. Pendekatan ini dipakai dengan alasan mengurangi pertimbangan moderator terhadap isu-isu penting. Bentuk ini jarang dikerjakan karena kehilangan beberapa informasi penting sering terjadi, sehingga alur ini tepat digunakan pada riset awal suatu program yang masih awam atau pada riset tanpa hipotesis.

WKT paling baik dikerjakan secara tidak direktif dan terstruktur. Dalam prakteknya WKT yang paling efektif sebenarnya bersifat semi terstruktur, moderator cukup terampil mencakup semua isu dalam pedoman diskusi dan terampil menjaga alur percakapan yang luwes.

Fungsi Kelompok

Jenis WKT yang dikerjakan ditentukan oleh tujuannya apa yang ingin dicari. Secara umum dibagi dalam dua kategori:

a. Kelompok ekplorator
Tujuan WKT adalah menggali ide atau merangsang tingkat respon yang kaya tentang suatu topik. Peran aktif moderator sangat menentukan dalam mendorong responden berbicara. Bentuk WKT demikian biasanya dipakai untuk merancang suatu penelitiaan kuantitatif.

b. Klinik
Tujuan WKT adalah menggali motivasi psikologis dan sosiologis terhadap suatu sikap dan perilaku. Teknik proyektif yang biasanya dipakai. Bentuk ini terbatas dipakai dalam pemasaran, namun sangat bermanfaat untuk memahami hasil penelitian sebelumnya.

c. Fenomenologis
Tujuan WKT ini adalah mendapatkan respon yang spesifik mengenai suatu produk, konsep tertentu, bentuk kominikasi dan bentuk rangsang lainnya.

Beberapa teknik dasar dapat dilakukan pada waktu melaksanakan WKT yaitu ,

a. Klarifikasi
Sesudah peserta menjawab pertanyaan, fasilitator dapat mengulangi jawaban peserta dalam bentuk pertanyaan untuk meminta penjelasan yang lebih lanjut. Misalnya apakah Saudara dapat menjelaskan lebih lanjut tentang hal tersebut.

b. Reorientasi
Agar supaya diskusi hidup dan menarik, teknik reorientasi harus efektif. Fasilitator dapat menggunakan jawaban seorang peserta untuk ditanyakan kepada peserta lain. Misalnya: Ibu Sri, ibu mengatakan bahwa ibu menyusui bayi ibu sampai 6 bulan. Bagaimana ibu Tati? (yang selalu diam), sampai berapa bulan ibu menyusui bayi ibu?

c. Ahli/orang lain yang berpengaruh
Usahakan agar orang yang ahli misalnya bidan, dokter atau lurah tidak hadir dalam pertemuan WKT ibu-ibu pengunjung Posyandu. Tetapi apabila tidak dapat dihindari maka memohon mereka untuk diam dan mendengarkan diskusi dan apabila ada ide atau saran-saran bisa dikemukakan pada fasilitator sesudah diskusi.

d. Peserta yang dominan
Apabila ada peserta yang dominan, maka fasilitator harus lebih banyak memperhatikan peserta lain agar supaya mereka lebih berpartisipasi. Dapat juga dilakukan dengan tidak memperhatikan orang yang dominan tersebut sehinga tidak mendorongnya untuk memberikan jawaban. Kalau tidak berhasil maka secara sopan, fasilitator dapat menyatakan kepadanya untuk memberikan kesempatan kepada peserta lain untuk berbicara.

e. Peserta yang diam
Agar supaya peserta yang diam mau berpartisipasi maka sebaiknya memberikan perhatian yang banyak kepadanya dengan selalu menyebutkan namanya dan mengajukan pertanyaan.

f. Penggunaan gambar atau foto
Dalam melakukan WKT, fasilitator dapat menggunakan foto atau gambar. Misalnya memperlihatkan foto anak yang kurang gizi dan menanyakan
" Bagaimana keadaan anak tersebut ? Apa yang harus ibu lakukan ?"


Beberapa Masalah Memimpin Wawancara Kelompok Terfokus

Ada beberapa masalah yang sering timbul berkaitan dengan responden WKT.

a. Responden dominan
Orang ini berusaha memulai diskusi, mempertahankan posisinya, dan mencoba mempengaruhi orang lain.

Strategi :
Hindari kontak mata atau jangan berhadapan langsung dengan orang tersebut. Mintalah anggota lain untuk berbicara. Bila perlu, beritahu secara sopan bahwa pendapatnya cukup menarik tetapi anda ingin mendengar pendapat responden yang lain juga. Atau cara lain, anda meminta responden yang demikian tersebut untuk meninggalkan kelompok dengan mengatakan "karena anda tahu terlalu banyak tentang ____, kami minta anda mengisi kuesioner yang lebih rinci". Berilah responden tersebut kuesioner wawancara mendalam.

b. Responden pemalu
Orang ini selalu ragu-ragu untuk berbicara, dan pada umumnya malu atau tegang terhadap situasi kelompok atau takut pendapatnya tidak didengarkan

Strategi :
Gunakan kontak mata untuk menarik responden pemalu ke dalam diskusi. Amati saat orang ini siap untuk berbicara. Bila perlu, berikan pertanyaan mudah dan mintalah orang ini untuk memberikan respon. Lakukan ini secara bergantian dengan responden lain, jangan Terfokus pada responden pemalu saja.

c. Responden ahli
Ini adalah jenis responden yang khusus yang sebenarnya juga mendominasi kelompok. Bahkan meskipun orang tersebut tidak menginginkan untuk memimpin kelompok, tetapi anggota lain tetap meminta pendapat dia sehingga Wawancara Kelompok menjadi tumpul.

Strategi :
Hindari kontak mata atau jangan berhadapan langsung dengannya. Bila
responden orang yang benar - benar ahli, ingatkanlah bahwa semua komentar adalah penting dan anggota lain boleh meminta komentarnya bila semua komentar anggota telah didengar. Bila responden orang yang agak ahli, mintalah anggota lain untuk memberikan komentar terhadap pendapatnya.

d. Responden verbose
Orang ini adalah si tukang bicara bahkan kadang - kadang tanpa arah dan akhir - mungkin sejenis gangguan bicara kompulsif atau terlalu tegang.

Strategi :
Anda harus bersikap direktif, gunakan probing untuk meminta rincian dan realisasi pembicaraan. Arahkan responden kembali pada topik atau potonglah pembicaraannya. Berikan penjelasan bahwa topik yang harus dibicarakan masih banyak dalam waktu yang terbatas, hati-hatilah jangan sampai memojokkan responden.

e. Responden tidak relevan
Orang demikian memberikan komentar yang tidak relevan dengan topik dan dapat mengganggu diskusi. Dia mungkin tidak sadar melakukannya, tegang atau pendengar yang buruk.

Strategi :
Cobalah mengulang pertanyaan atau parafrase

f. Responden tidak lengkap.
Orang ini memberikan respon sepotong-sepotong atau tidak sama sekali seperti "Saya tidak tahu". Biasanya mereka tergolong responden yang frustasi bisa karena kurangnya kepercayaan diri atau kecemasan yang sangat.

Strategi :
Biasakan untuk bertanya pada awal diskusi agar hal demikian tidak terjadi. Mintalah jawaban rinci atau gunakan teknik probing yang lainnya.

f. Responden bingung
Orang ini tampak bingung atau merasa terbebani selama diskusi.

Strategi :
Pahamilah situasinya ("Anda nampak bingung …"), cobalah mengulang pertanyaan atau memberikan contoh.

g. Responden yang terlalu positif
Orang yang demikian terlalu positif dalam memberikan respon, mungkin dia ingin menyenangkan anda.

Strategi :
Ingatkan responden bahwa anda ingin mendengar sisi negatif dan positif. Cobalah dengan pura-pura mendengar ("Saya dengar beberapa orang mengatakan sebaliknya, L3 …") atau dengan perumpamaan orang ketiga ("Bagaimana dengan orang lain yang anda kenal ? Menurut anda bagaimana perasaan mereka ?").

h. Responden negative
Orang ini selalu negatif responnya.

Strategi :
Hati - hati, hindari sikap bertahan. Cobalah untuk menularkan perasaan ini pada anggota yang lain ("Anda nampak marah tentang hal ini, tidak apa-apa karena saya ingin mengetahui perasaan anda sebenarnya …"). Atau seperti diatas dengan pura-pura mendengar atau perumpamaan orang ketiga .

i. Responden agresif
Orang ini menyerang moderator secara pribadi.

Strategi :
Sekali lagi, hati-hati jangan terbawa untuk mempertahankan diri. Pahami situasinya dan berikan fokus pada responden untuk menjelaskan alasan menyerang moderator.

j. Responden pengganggu
Orang ini selalu mengganggu diskusi - dia mungkin mengatakan ide orang lain salah atau pertanyaan moderator benar-benar tolol.

Strategi :
Usahakan untuk menenangkan diskusi secepatnya. Mintalah anggota yang lain untuk menanggapi pernyataan responden pengganggu. Atau berikan sudut pandang yang lain : "Itu menarik, tetapi saya mendengar beberapa orang merasa bahwa …", ini memberikan kesempatan anggota lain untuk berbicara dan meneruskan diskusi.

k. Responden penanya
Orang ini selalu menanyakan pada moderator tentang perasaan / pendapatnya.

Strategi :
Katakan bahwa anda bukan ahli atau berpengalaman tentang subjek pembicaraan. Bila tidak cukup, pahami situasi ("Seperti yang lainnya, tentu saja saya mempunyai pendapat tentang hal ini, tetapi tujuan kita hari ini adalah untuk mengetahui yang anda rasakan …").

Penutupan Diskusi

Untuk menyimpulkan pertemuan WKT, fasilitator sebaiknya memperhatikan hal - hal sebagai berikut :

a. Jelaskan bahwa pertemuan sudah selesai, tanyakan pada masing-masing peserta apakah masih ada lagi komentar. Komentar yang sesuai dapat lagi digali lebih mendalam.

b. Ucapkan terimakasih kepada para peserta untuk partisipasinya dan nyatakan bahwa komentar mereka sangat berguna untuk penyusunan program atau untuk menyusun materi pendidikan dan lain-lain.

Pengamat Diskusi

Bila dalam Wawancara Kelompok peneliti tidak bertindak sebagai moderator, maka sebaiknya peneliti melakukan pengamatan selama Wawancara Kelompok. Berikut adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan.
  1. Pengamat tidak boleh berharap bahwa tiap diskusi akan bermanfaat bagi studi.
  2. Pengamat tidak boleh berharap adanya konsensus di dalam kelompok atau diantara kelompok. Studi kualitatif dirancang untuk mendapatkan respon yang berbeda yang lebih dalam.
  3. Pengamat harus mendengarkan dengan seksama yang dikatakan responden - hindari mendengarkan secara selektif sesuai dengan kepentingan studi. Dalam mendengarkan, perhatikan tiap arti kata dan pilihan kata yang dipakai.
  4. Pengamat harus mendengarkan dan mengamati. Tanda-tanda nonverbal kadang-kadang lebih berarti dibanding respon verbal.
  5. Selama diskusi pengamat harus membuat catatan tentang kesan penting seusai diskusi.
  6. Pengamat boleh mengajukan pertanyaan setelah diskusi berakhir.

Keuntungan dan Kerugian Wawancara Kelompok Terfokus

Keuntungan Wawancara Kelompok Terfokus
Bila digunakan secara benar, WKT memberikan beberapa keuntungan dibandingkan dengan metode lain yaitu :

a. Sinergisme
Suatu kelompok mampu menghasilkan informasi, ide dan pandangan yang lebih luas.

b. Snowballing
Komentar yang didapatkan secara acak dari responden dapat memacu mulainya suatu reaksi rantai respons yang menghasilkan ide baru.

c. Stimulation
Pengalaman dalam kelompok sendiri merupakan sesuatu yang menyenangkan dan mendorong partisipasi.

d. Security
Individu responden merasa aman di dalam kelompok dan lebih merasa bebas mengutarakan perasaan/pikiran.

e. Spontanitas
Individu tidak diharapkan menjawab setiap pertanyaan, karena itu diharapkan bahwa jawaban lebih memiliki arti, karena melalui suatu proses kelompok.

Selain itu keuntungan yang lain adalah memiliki validitas muka tinggi, hasil didapat seketika itu juga dan biaya yang dikeluarkan relatif rendah.

Kerugian / Kesulitan Wawancara Kelompok Terfokus
Disamping ada keuntungan, teknik Wawancara Kelompok Terfokus juga mempunyai kelemahan diantaranya adalah :
  1. Peneliti sulit mengendalikan data yang dikumpulkan, karena bersifat sangat dinamis dan interaktif.
  2. Teknik Wawancara Kelompok Terfokus mudah dilaksanakan tetapi sulit melakukan interpretasi data.
  3. Memerlukan moderator yang memiliki keterampilan tinggi.
  4. Sulit mengumpulkan responden dalam waktu dan tempat tertentu.
  5. Kesulitan mencari tempat yang memudahkan responden untuk mengeluarkan pendapatnya.


Posting Komentar untuk "Pengertian Wawancara Kelompok Terfokus Beserta Contoh"

Klik gambar berikut untuk mengunduh artikel ini:

Berlangganan via Email