Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Dampak Gaya Kepemimpinan Coaching Terhadap Perilaku Korupsi

Dampak Gaya Kepemimpinan Coaching Terhadap Perilaku Korupsi - Pergerakan zaman saat ini semakin cepat. Kemajuan teknologi dan kemudahan akses internet menjadi salah satu factor mudahnya berbagi informasi antar Negara. Era globalisasi bisa dikatakan telah dimulai. Perdagangan pasar bebas juga telah dicanangkan oleh tiap Negara dalam bentuk berbagai kesepakatan seperti AFTA, APEC dan WTO. Nama baik sangat dibutuhkan oleh masing-masing Negara agar dapat tercipta rasa percaya bagi Negara lain. Salah satu sifat yang dapat merusak citra bangsa adalah perilaku korupsi.

Pengertian korupsi menurut Undang-undang adalah Menurut Undang-Undang No.31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, yang termasuk dalam tindak pidana korupsi adalah:

“Setiap orang yang dikategorikan melawan hukum, melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri, menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan maupun kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.”

Dampak Gaya Kepemimpinan Coaching Terhadap Perilaku Korupsi_
image source: www.lifescienceleader.com

Pada laporan ICW tahun 2012, ada 48 pejabat pemda yang melakukan korupsi. Satu tahun berikutnya, ada 60 pejabat pemda jadi terdakwa kasus korupsi. Adapun peringkat kedua jumlah koruptor terbanyak selama semester pertama tahun 2014 ada di perusahaan swasta, yaitu 51 terdakwa. Pegawai BUMN yang terlibat kasus korupsi ada 33 orang dan 12 terdakwa korupsi bekerja sebagai pegawai DPR/DPRD.

Menurut “Syed Hussein Alatas” topologi korupsi ada 7, yaitu :
  1. Korupsi transaktif yaitu korupsi yang menunjukan adanya kesepakatan tibal balik antara pihak yang memberi dan menerima demi keuntungan bersama dimana kedua pihak sama-sama aktif menjalankan tindak korupsi.
  2. Korupsi ekstortif yaitu korupsi yang menyertakan bentuk-bentuk koersi tertentu dimana pihak pemberi dipaksa untuk menyuap agar tidak membahayakan diri, kepentingan, orang-orangnya atau hal-hal lain yang dihargainya.
  3. Korupsi investif yaitu korupsi yang melibatkan suatu penawaran barang atau jasa tanpa adanya pertalian langsung dengan keuntungan tertentu yang diperoleh pemberi, selain keuntungan yang di harapkan akan di peroleh di masa datang.
  4. Korupsi nepotistik yaitu korupsi berupa pemberian perlakukan khusus pada teman atau yang mempunyai kedekatan hubungan dalam rangka menduduki jabatan publik. Dengan kata lain mengutamakan kedekatan hubungan dan bertentangan dengan norma dan aturan yang berlaku.
  5. Korupsi autigenik yaitu korupsi yang dilakukan individu karena mempunyai kesempatan untuk memperoleh keuntungan dari pengetahuan dan pemahamannya atas sesuatu yang hanya diketahui sendiri.
  6. Korupsi suportif yaitu korupsi yang menicu penciptaan suasana yang kondusif untuk melindungi atau mempertahankan keberadaan tindak korupsi.
  7. Korupsi defensif yaitu tindak korupsi yang terpaksa di lakukan dalam rangka mempertahankan diri dari pemerasan.

Korupsi dapat menjadi hambatan serius terhadap pembangunan. Di dunia politik, korupsi mempersulit demokrasi dan tata pemerintahan yang baik (good governance) dengan cara menghancurkan proses formal. Korupsi di pemilihan umum dan di badan legislatif mengurangi akuntabilitas dan perwakilan di pembentukan kebijaksanaan; korupsi di sistem pengadilan menghentikan ketertiban hukum; dan korupsi di pemerintahan publik menghasilkan ketidak-seimbangan dalam pelayanan masyarakat. Secara umum, korupsi mengkikis kemampuan institusi dari pemerintah, karena pengabaian prosedur, penyedotan sumber daya, dan pejabat diangkat atau dinaikan jabatan bukan karena prestasi. Pada saat yang bersamaan, korupsi mempersulit legitimasi pemerintahan dan nilai demokrasi seperti kepercayaan dan toleransi.

Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Mereka membutuhkan manusia lain untuk dapat hidup. Dalam hidup berkelompok manusia dipimpin oleh seorang pemimpin. Pemimpin inilah yang membawa kelompok menuju suatu tujuan. Seorang pemimpin menurut Kartini Kartono (1994:33) pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan khususnya kecakapan dan kelebihan disatu bidang, sehingga dia mampu mempengaruhi orang-orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu, demi pencapaian satu atau beberapa tujuan. Lalu menurut John Gage Alle “Leader is a guide; a conductor; a commander” (pemimpin itu ialah pemandu, penunjuk, penuntun; komandan).

Dalam diri seorang pemimpin diharapkan memiliki jiwa kepemimpinan. Hal ini menjadi modal penting pemimpin tersebut memimpin kelompoknya mencapai suatu tujuan. Jika pemimpin tidak memiliki jiwa kepemimpinan maka kelompoknya tidak akan berjalan dengan baik. Kepemimpinan menurut Young (dalam Kartono, 2003) yaitu bentuk dominasi yang didasari atas kemampuan pribadi yang sanggup mendorong atau mengajak orang lain untuk berbuat sesuatu yang berdasarkan penerimaan oleh kelompoknya, dan memiliki keahlian khusus yang tepat bagi situasi yang khusus. Dari pengertian ini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa seorang pemimpin akan menjadi contoh bagi kaum yang dipimpin. Apabila pemimpin tersebut memiliki sifat jelek, maka akan menjadi contoh orang yang dipimpin.

Gaya kepemimpinan seseorang menurut Dr. Kartini Kartono yaitu :

a. Pacesetting Leader
Pemimpin dengan gaya pacesetting biasanya menerapkan standar yang tinggi kepada seluruh anak buahnya dan cenderung “memaksa” anak buah untuk mengikuti standar yang dimiliki. Secara umum, pemimpin menggunakan gaya tersebut di saat ia membutuhkan hasil yang baik dan cepat untuk membuktikan kepada pemakai jasanya bahwa ia dan organisasinya mampu memberikan yang terbaik. Gaya kepemimpinan ini sangat cocok apabila seorang pemimpin memiliki anak buah yang memiliki skill dan motivasi tinggi. Apabila disederhanakan dengan 1 kalimat, maka dapat digambarkan dengan kalimat berikut. “Lakukan sesuai yang saya minta, sekarang juga.”

b. Authoritative Leader
Untuk tipe yang kedua, kata-kata “Ayo ikut dengan saya” dapat menggambarkan gaya kepemimpinannya. Seorang pemimpin Authoritative akan mengemukakan secara lengkap visi dan misinya serta menyerahkan implementasinya kepada anak buahnya, di mana nantinya pemimpin tinggal mengevaluasi kinerja tim. Pemimpin seperti ini mempunyai pengaruh positif berupa timbulnya semangat bekerja dan terasahnya kreativitas. Kepemimpinan tipe ini sangat cocok bagi sebuah kelompok yang hidup di era perubahan, di mana visi yang baru dibutuhkan untuk maju.

c. Affiliative Leader
Gaya affiliative ini sangat berguna di saat anggota tim telah banyak dikecewakan oleh situasi dan mengalami banyak hal yang tidak menyenangkan di dalam organisasi. Pemimpin cenderung turun dan mendengarkan aspirasi dari anggota serta menggunakan empati dalam berkomunikasi dengan anggotanya. Gaya affiliative cenderung menyenangkan bagi anak buah, namun dapat memiliki efek bumerang, yaitu sulit menekan anak buah untuk memunculkan produktivitas yang tinggi.

d. Coaching Leader
Sesuai dengan namanya, pemimpin dengan gaya seperti ini lebih banyak fokus pada pengembangan skill dari anggotanya. Ia mencocokkan peluang untuk mengembangkan anak buahnya dengan kewajiban yang harus diberikan oleh organisasinya. Misalnya, pada saat sebuah organisasi membutuhkan inovasi, ia akan memberikan kesempatan kepada beberapa anggota timnya untuk bereksperimen dan menjadi “pelatih” yang selalu memotivasi mereka dalam mendorong keberhasilan inovasi yang akan berguna bagi organisasi. Gaya seperti ini sangat baik dalam mengembangkan kemampuan anggota, namun tidak semua organisasi memiliki kemewahan dari segi waktu untuk memberikan waktu bagi anggotanya untuk “trial-error” atau coba-coba.

e. Coercive Leader
Menggambarkan seorang pemimpin dengan gaya coercive adalah “Lakukan apa yang diperintahkan”, tanpa memberikan ruang bagi anak buah untuk berimprovisasi. Mungkin beberapa pandangan mengatakan bahwa gaya kepemimpinan ini tidak ideal karena cenderung kasar dan tidak memberikan kebebasan kepada anak buah, namun gaya ini paling efektif di saat sebuah organisasi di ambang kebangkrutan atau di dalam situasi panik. Misalnya, situasi dimana anda dan tim sedang terjebak di dalam sebuah gedung yang terbakar, sebagai pemimpin tim, anda tidak mungkin membiarkan anak buah anda mengutarakan keinginannya masing-masing dan kemudian baru mengajaknya untuk mengikuti anda, melainkan, dengan gaya paksaan anda pun menentukan apa yang dilakukan dan rute yang harus dilewati untuk menyelamatkan diri.

f. Democratic Leader
Seperti namanya, seorang pemimpin bergaya demokratis cenderung menanyakan aspirasi dari masing-masing anggotanya. Apabila ada usulan yang sesuai dengan arahan organisasi, maka si pemimpin akan mengakomodir dan menyetujui usulan tersebut. Hal ini sangat berguna apabila dalam organisasi dibutuhkan ide-ide baru untuk meningkatkan kinerja.

Semua gaya kepemimpinan tersebut tidak lepas dari kekurangan dan kelebihan masing-masing, tinggal bagaimana seorang pemimpin menerapkan dalam kelompoknya. Mengingat pentingnya pengaruh gaya kepemimpinan dalam proses pembentukan karakter di suatu kelompok/organisasi, maka penulis tertarik untuk membuat karya ilmiah dengan judul “ Dampak Gaya Kepemimpinan Coaching Terhadap Perilaku Korupsi (Studi kasus PT Robicomp)”

Rumusan masalah

Untuk menghindari pembahasan yang meluas dank arena keterbatasan waktu, dana, tenaga, maka tidak semua masalah akan diteliti. Adapun pembatasan masalahnya, adalah :
  • Gaya kepemimpinan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah peran atau perilaku pemimpin dalam bertindak pada karyawannya dengan menggunakan gaya kepemimpinan coaching.
  • Perilaku korupsi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah perilaku korupsi transaktif.

Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan dalam karya tulis ini, yaitu:
  1. Bagaimana gaya kepemimpinan manajer di PT Robicomp?
  2. Bagaimana pengaruh gaya kepemimpinan manajer PT Robicomp terhadap perilaku korupsi anak buahnya?
  3. Gaya kepemimpinan yang cocok untuk digunakan di PT Robicomp

Tujuan Penelitian

Tujuan penulisan karya ilmiah ini adalah untuk mengetahui dampak gaya kepemimpinan coaching terhadap timbulnya perilaku korupsi.

Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini diharapkan dapat membantu penulis dan pembaca karya ilmiah ini dapat mengerti gaya kepemimpinan yang harus digunakan untuk menekan perilaku korupsi.


Posting Komentar untuk "Dampak Gaya Kepemimpinan Coaching Terhadap Perilaku Korupsi"

Klik gambar berikut untuk mengunduh artikel ini:

Berlangganan via Email