Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jenis Alat Ukur atau Instrumen Pengumpulan Data dalam Penelitian

Jenis Alat Ukur atau Instrumen Pengumpulan Data dalam Penelitian - Berbicara tentang jenis-jenis metode dan instrument pengumpulan data sebenarnya tidak ubahnya dengan berbicara masalah evaluasi. Mengevaluasi tidak lain adalah memperoleh data tentang status sesuatu dibandingkan dengan standar atau ukuran yang telah ditentukan, karena mengevaluasi adalah juga mengadakan pengukuran. Mendasarkan daripada pengertian ini, maka apabila kita menyebut jenis metode dan alat atau instrument pengumpulan data, maka sama saja dengan menyebut alat evaluasi, atau setidak-tidaknya hampir seluruhnya sama.

Secara garis besar maka alat evaluasi yang digunakan dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu:
  • Tes 
  • Non-tes

Dalam pembicaraan berikut ini, langsung akan disebutkan satu per satu setiap jenis metode, sekaligus diterangkan mengenai instrument untuk setiap membicarakan metode yang bersangkutan oleh karena luasnya masalah non-tes, maka akan dibicarakan sesudah tes selesai dengan langsung menyebutkan metodenya.

Jenis Alat Ukur atau Instrumen Pengumpulan Data dalam Penelitian_
image source: www.activistpost.com

1. Tes

Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, inteligensi, kemamuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok.

Dalam membicarakan ts ini akan disampaikan sekaligus alat ukur lain sifatnya terstandar (standardized). Ditinjau dari sasaran atau objek yang akan dievaluasi, maka dibedakan adanya beberapa macam tes dan alat ukur lain.
  1. Tes kepribadian atau personality test, yaitu tes yang digunakna untuk mengungkap kepribadian seseorang. Yang diukur bisa self-concept, kreativitas, disiplin, kemampuan khusus dan sebagainya.
  2. Tes bakat atau aptitude test, yaitu tes yang digunakan untuk mengukur atau mengetahui bakat seseorang.
  3. Tes inteligensi atau intelligence test, yaitu tes yang digunakan untuk mengadakan estimasi atau perkiraan terhadap tingkat intelektual seseorang dengan cara memberikan berbagi tugas kepada orang yang akan diukur inteligensinya.
  4. Tes sikap atau attitude test, yang sering juga disebut dengna istilah skala sikap, yaitu alat yang digunakan untuk mengadakan pengukuran terhadap berbagai sikap seseorang.
  5. Teknik proyeksi. Isitlah proyective technique mulai dipopulerkan oleh L.K. Frank tahun 1939 di dalam bukunya: “projective methods for the study of personality” sebagai contoh projective technique adalah metode tetesan tinta yang diciptakan oleh Rorschach dan disebut Rorschach Inkbolt technique.
  6. Tes minat 
  7. Tes prestasi

2. Angket atau Kuesioner

Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui. Kuesioner dipakai untuk menyebut metode maupun instrument. Jadi dalam menggunakan metode angket atau kuesioner instrument yang dipakai adalah angket atau kuesioner. Kuesioner dapat dibeda-bedakan ata bebrapa jenis, tergantung pada sudut pandang
  • Dipandang dari cara menjawab, maka ada: kuesioner terbuka dan kuesioner tertutup.
  • Dipandang dari jawaban yang diberikan ada: kuesioner langsung dan kuesioner tidak langsung.
  • Dipandang dari bentuknya, maka ada: kuesioner pilihan ganda, kueisoner isian, check list, rating-scale.

Keuntungan Kuesioner :
  1. Tidak memerlukan hadirnya peneliti
  2. Dapat dibagikan secara serentak kepada banyak responden
  3. Dapat dijawab oleh responden menurut kecepatannya masing-masing, dan menurut waktu senggang responden.
  4. Dapat dibuat anaonim sehingga responden bebas jujur dan tidak malu-malu menjawab.
  5. Dapat dibuat terstanar sehingga bagi semua responden dapat diberi pertanyaan yang benar-benar sama.

Kelemahan Kuesioner :
  1. Responden sering tidak teliti dalam menjawab sehingga ada pertanyaan yang terlewati tidak dijawab, padahal sukar diulangi diberikan kembali kepadanya.
  2. Seringkali sukar dicari validitasnya.
  3. Walupun dibuat anonym, kadang-kadang responden dengan sengaja memberikan jawaban yang tidak betul atau tidak jujur
  4. Seringkali tidak kembali, terutama jika dikirim lewat pos. menurut penelitian, angket yang dikirim lewat pos angka pengembaliannya sangat rendah hanya sekitar 20%.
  5. Waktu pengembaliannya tidak bersama-sama, bahkan kadang-kadang ada yang terlalu lama sehingga terlambat.

3. Interview

Interview yang sering juga disebut dengan wawancara atau kuesioner lisan, adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh interviewer untuk memperoleh informasi dari interviewee. Interview digunakan oleh peneliti untuk menilai keadaan seorang, misalnya untuk mencari data tentang variable latar belakang murid, orang tua, pendidikan, perhatian, sikap terhadap sesuatu.

Secara fisik interview dapat dibedakan atas interview terstruktur dan interview tidak terstruktur. Pada umumnya interview terstruktru di luar negeri telah dibuat terstandar. Seperti halnya kuesioner, interview terstruktur terdiri dari serentetan pertanyaan dimana pewawancara tinggal memberikan tanda check pada pilihan jawaban yang telah disiapkan. Interview terstandar ini kadang-kadang disembunyikan oleh pewawancara, akan tetapi tidak jarang pula yang diperlihatkan kepada responden, bahkan respondenlah yang dipersilahkan memberikan tanda. Dalam keadaan yang terakhir, maka interview ini tidak ubahnya sebagai kuesioner saja. Ditinjau dari pelaksanaannya, maka dibedakan atas:
  1. Interview bebas, di mana pewawancara bebas menanyakan apa saja, tetapi juga mengingat akan data apa yang akan dikumpulkan. Dalam pelaksanaannya pewawancara tidak membawa pedoman apa yang akanditanyakan. Kebaikan metode ini dalah bahwa responden tidak menyadari sepenuhnya bahwa ia sedang diinterview. Dengan demikian suasananya akan lebih santai karena hanya omong-omong biasa.
  2. Interview terpimpin, yaitu interview yang dilakukan oleh pewawancara dengan membawa sederetan pertanyaan lengkap dan terperinci seperti yang dimaksud dalam interview terstruktur.
  3. Interview bebas terpimpin, yaitu kombinasi antara interview bebas dan interview terpimpin. Dalam melaksanakan interview, pewawancara membawa pedoman yang hanya merupakn garis besar tentang hal-hal yang akan ditanya

4. Observasi

Seringkali orang mengartikan observasi sebagai suatu aktivitas yang sempit, yakni memperhatikan sesuatu dengan menggunakan yang sempit, yakni memperhatikan sesuatu dengan mata. Di dalam pengertian psikologik, observasi atau yang disebut pula dengan pengamatan, meliputi kegiatan pemuatan perhatian terhadap sesuatu objek dengna menggunakan seluruh alat indra. Jadi observasi dapat dilakukan melalui penglihatan, penciuman, pendengaran, peraba dan pengecap. Apa yang dikatakan ini sebenarnya adalah pengamatan langsung. Di dalam artian penelitian, observasi dapat dilakukan dengan tes, rekaman gambar, rekaman suara.

Observasi dapat dilakukan dengan dua cara, yang kemudian digunakan untuk menyebut jenis observasi yaitu:
  • Observasi non-sistematis, yang dilakukan oleh pengamat dengan tidak menggunakan instrument pengamatan.
  • Observasi sistematis, yang dilakukan oleh pengamat dengan menggunakan pedoman sebagai instrument pengamatan.

Pedoman observasi berisi sebuah daftar jenis kegiatan yang mungkin timbul dan akan diamati. Dalam proses observasi, observasi timbul dan akan diamati. Dalam proses observasi, observer tinggal memberikan tanda atau tally pada kolom tempat peristiwa muncul. Itulah sebabnya maka cara bekerja seperti ini disebut system tanda(sign system).

Sign system digunakan sebagai instrument pengamatan situasi pengajaran sebagai sebuah potret sesuai pengajaran sebagai sebuah potret selintas (snapshot). Misalnya merekam semua kejadian yang muncul di cek.

Category system adalah system pengamatan yang membatasi pada sejumlah variable, misalnya pengamat ingin mengetahui keaktifan atau partisipasi murid dalam proses belajar- mengajar. Dalam hal ini pengamat hanya memperhatikan kejadian-kejadian yang masuk ke dalam kategori keaktifan atau partisipasi murid misalnya: murid bertanya, murid berdebat dengan guru dll.

5. Skala Bertingkat

Rating skala bertingkat adalah suatu ukuran subjektif yang dibuat berskala. Walaupun skala bertingkat ini menghasilkan data yang kasar, tetapi cukup memberikan informasi tertentu program atau orang. Instrument ini dapat dengan mudah memberikan gambaran penampilan, terutama penampilan di dalam orang menjalankan tugas, yang menunjukkan frekuensi munculnya sifat-sifat.

Rating-scale harus diinterpretasikan secara hati-hati karena di samping menghasilkan gambaran yang kasar juga jawaban responden tidak begitu saja mudah dipercaya. Sehubungan dengan ini Bergam dan Siegel mendaftar hal-hal yang mempengaruhi ketidak jujuran responden yaitu: (a) persahabatan (b) kecepatan menerka (c) cepat memutuskan (d) jawaban kesan pertama (e) penampilan instrument (f) prasangka (g) halo effects (h) kesalahan pengambilan rata-rat (i) kemurahan hati.

A. Penentuan Metode dan Instrumen

Telah dipahami beberapa metode dan instrument pengumpulan data. Masing-masing metode dan instrument mempunyai kebaikan dan keburukan. Dalam melaksanakan satu penelitian biasanya digunakan lebih dari satu metode atau instrument, agar kelemahan yang satu dapat ditutup dengan kebaikan yang lain. Kadang-kadang sesuatu metode merupakan keharusan untuk dipakai dalam penelitian. Tetapi kadang-kadang merupakan salah satu alternative saja, sehingga pilihan metode yang dapat digunakan dapat dipilih-pilih.

Tidak sedikit peneliti yang mengacaukan pengertiian “metode” dengan “instrument”. Sebetulnya kedua hal tersebut berkaitan, dan peneliti juga harus dapat memahami kaitannya.
  • Metode penelitian adalah cara yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data penelitiannya. Seperti sudah dijelaskan, variasi metode dimaksud adalah: angket, wawancara, pengamatan atau observasi, tes, dokumentasi.
  • Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap dan sistematis sehingga lebih mudah diolah. Variasi jenis instrument penelitian adalah: angket, ceklis atau daftar centang, pedoman wawancara, pedoman pengamatan. Ceklis sendiri memiliki wujud yang bermacam-macam.

Dengan demikian maka dapat dikatakan: peneliti di dalam menerapkan metode penelitian menggunakan instrument atau alat, agar data yang diperoleh lebih baik. Secara garis besar, pemilihan metode dan instrument pengumpulan data dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain:
  1. Tujuan penelitian. Yang ekaligus menentukan jenis dan macam variable. Dalam bab sebelumnya anda sudah dilatih untuk membuat kategorisasi variable sekaligus menentukan metode apa yang tepat untuk mengumpulkan datanya.
  2. Sampel penelitian. Apabila sampelnya bear, tentu saja peneliti tidak mampu menggunakan wawancara atau observasi, angket akan menjadi lebih tepat. Disamping itu juga keadaan responden, apabila peneliti mengambil beberapa orang petani sebagai subjek penelitiannya. Maka wawancara akan lebih tepat digunakan disbanding dengan kuesioner
  3. Lokasi. Apabila lokasi penelitian meliputi daerah yang luas, akan lebih efektif jika menggunakan metode kuesioner
  4. Pelaksana. Apabila pelaksanaannya cukup banyak sedangkan responden tidak begitu banyak, maka sangat mungkin menggunakan metode wawancara atau observasi. Akan tetapi jika keadaannya sebaliknya, metode kuesioner tentu lebih tepat.
  5. Biaya dan waktu. Walaupun hasil akan lebih baik jika peneliti mengadakan observasi, akan tetapi karena biaya dan waktunya terbatas maka peneliti harus puas hanya mangadakan kuesioner
  6. Data. Jika kita akan mengorek pendapat yang lebih dalam, maka wawancara kiranya lebih tepat.

B. Pengadaan Instrumen

Prosedur yang ditempuh dalam pengadaan instrument yang baik adalah:
  1. Perencanaan, meliputi perumusan tujuan, menentukan variable kategorisasi variable. Untuk tes, langkah ini meliputi perumusan tujuan dan pembuatan table spesifikasi.
  2. Penulisan butir soal, atau item kuesioner, penyusunan skala, penyusunan pedoman wawancara.
  3. Penyuntingan, yaitu melengkapi instrument dengan pedoman pengerjaan, surat pengantar, kunci jawaban dan lain-lain yang perlu.
  4. Uji coba, baik dalam skala kecil maupun besar.
  5. Penganalisaan hasil, analisa item, melihat pola jawaban peninjauan, saran-saran dan sebagainya.
  6. Mengadakan revisi terhadap item-item yang dirasa kurang baik, dengan mendasarkan diri pada data ayng diperoleh sewaktu uji coba.

Ada dua macam tujuan uji coba dengan persyaratan jumlah subjek yang berbeda :
  • Uji coba untuk tujan manajerial dan substansial, dan 
  • Uji coba untuk tujuan keandalan instrument.

Uji coba untuk tujuan manajerial dan substansial
Uji coba untuk tujuan pertama ini lebih menitikberatkan pada segi teknis. Peneliti menyebutkan tujuan ujicoba adalah:

1. Untuk mengetahui tingkat keterpahaman instrument, apakah responden tidak menemui kesulitan dalam menangkap maksud peneliti.

2. Untuk mengetahui teknik paling efektif. Sebagai contoh misalnya peneliti menggunakan metode angket, peneliti mencoba beberapa cara:
  • Membagi angket kepada responden satu per satu sambil diterangkan tujuannya dan ditunggui sampai selesai
  • Membagi angket kepada kelompok responden, dijelaskan tujuan dan garis besar isinya kemudian mereka mengisi bersama-sama tanpa ditunggui.
  • Menyerahkan angket kepada pimpinan responden agar diteruskan kepada responden.
  • Menyerahkan angket kepada responden tanpa disertai penjelasan dan diambil lain waktu.

3. Untuk memperkirakan waktu yang dibutuhkan oleh responden dalam mengisi angket.

4. Untuk mengetahui apakah butir-butir yang tertera di dalam angket sudah memadai dan cocok dengan keadaan di lapangan. Mungkin sekali ada butir yang sudah dimuat di dalam angket ternyata tidak ada di lapangan, atau sebaliknya, ada usul-usul untuk tambahan butir baru karena di lapangan ada aspek tersebut tetapi belum termuat di dalam angket.

C. Keampuhan Instrumen

Instrument yang baik harus memenuhi dua pesyaratan penting yaitu valid dan reliable.

1. Validitas
Vailditas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan sesuatu instrument. Suatu instrument yang valid atau sahih mempunyai validitas tinggi. Sebaliknya instrument yang kurang valid berarti memiliki validitas rendah. Ada dua macam validitas sesuai dengan cara pengujiannya, yaitu validitas eksternal dan validitas internal.
  1. Validitas eksternal instrument yang dicapai apabila data yang dihasilkan dari instrument tersebut sesuai dengna data atau informasi lain yang mengenai variable penelitian yang dimaksud
  2. Validitas internal dicapai apabila terdapt kesesuaian antara bagian-bagian instrument dengan instrument secara keseluruhan. Dengna kata lain sebuah instrument dikatakan memiliki validitas internal apabila setiap bagian instrument mendukung “misi” instrument secara keseluruhan, yaitu mengungkap data dari variable yang dimaksud. Sehubungan dengan ini maka dikenal adanya validitas butir dan validitas faktor.

  • Sebuah instrument memiliki validitas yang tinggi apabila butir-butir yang membentuk instrument tersebut tidak menyimpang dari fungsi instrument.
  • Sebuahi nstrumen dikatakan memiliki validitas yang tinggi apabila faktor-faktor yang merupakan bagian dari instrument tersebut tidak menyimpang dari fungsi instrument

Analisa faktor
Analisa faktor dilakukan orang dengan didahului oleh suatu asumsi bahwa instrument dapat dikatakan valid jika setiap faktor yang membentuk instrument tersebut sudah valid. Analisis faktor dapt dilakukan apabila antara faktor yang satu dengan faktor yang lain terdapat kesamaan, kesinambungan atau tumpang tindih.

Analisa butir
Prosedur untuk melakukan analisis butir, sebenarnya sama dengna prosedur melakukan analisis faktor.

2. Reliabilitas
Reliabilitas menunjukkan pada satu pengertian bahwa sesuatu instrument cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrument tersebut sudah baik.instrumen yang baik tidak akan bersifat tendensius mengarahkan responden untuk memilih jawaban-jawaban tertentu. Instrument yang sudah dapt dipercaya, yang reliable akan menghasilkan data yang dapat dipercaya juga. Apabila datanya memang benar sesuai dengan kenyataan maka berapa kali pun diambil, tetap akan sama. Reliabilitas menunjukkan pada tingkat keterandalan sesuatu. Reliabilitas artinya, dapat dipercaya, jadi dapat diandalkan.
  • Reliabilitas eksternal : ada dua cara untuk menguji reliabilitas eksternal suatu instrument yaitu teknik pararel dan teknik ulang.
  • Reliabilitas internal : diperoleh dengan cara menganalisis data dari satu kali hasil pengetesan.


Posting Komentar untuk "Jenis Alat Ukur atau Instrumen Pengumpulan Data dalam Penelitian"

Klik gambar berikut untuk mengunduh artikel ini:

Berlangganan via Email