Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Langkah Perencanaan Observasi dan Tahapan Pelaksanaan Observasi

Langkah Perencanaan Observasi dan Tahapan Pelaksanaan Observasi - Rummel telah merumuskan petunjuk-petunjuk penting bagi mereka yang menggunakan metode observasi untuk mengumpulkan fakta-fakta seperti berikut:
  1. Peroleh dahulu pengetahuan apa yang akan diobservasi. Penyelidik dapat mengobservasi dan mengingat-ingat lebih banyak sifat-sifat khusus dari sesuatu jika dia telah mempunyai pengetahuan lebih dahulu tentang apa yang akan diobservasi dan jenis fenomena-fenomena apa yang perlu dicatat. Sebab itu ketahui dan tentukan lebih dahulu apa-apa yang perlu diobservasi.
  2. Selidiki tujuan-tujuan yang umum maupun khusus dari masalah-masalah reseach untuk menentukan apa yang harus diobservasi. Perumusan masalah dan aspek-aspek khusus dari penyelidikan akan menentukan apa yang harus diobservasi. Selidiki secara mendalam dan gunakan penyelidikan-peyelidikan yang terdahulu yang mempunyai hubungan dengan problematik reseach yang akan dilakukan untuk memperoleh petunjuk-petunjuk tentang apa yang diobservasi dan dicatat,
  3. Buatlah suatu cara untuk mencatat hasil-hasil observasi. Adalah penting sekali untuk menetapkan lebih dahulu simbol-simbol statistik atau rumusan-rumusan deskriptif yang akan digunakan untuk mencatat hasil-hasil observasi. Cara ini akan menghemat waktu dan menyeragamkan tata kerja observasi yang dilakukan terhadap banyak peristiwa. Banyak orang merasa perlu mencatat-catat hasil observasi, tetapi tidak berhasil untuk melakukan itu karena ketiadaan cara pencatatn yang efisien. 
  4. Untuk melaksanakan itu umumnya digunakan check list. Check list akan menghemat pencatatan sampai minimal dan jika dibuat secara cermat akan memungkinkan penyelidik mencatat secara teliti unsur-unsur khusus dari gejala yang akan diselidiki.
  5. Adakan dan batasai dengan tegas macam-macam tingkat kategori yang akan digunakan. Kecuali mencatat jumlah frekuensi dari suatu jenis tingkah laku, kerapkali perlu sekali penyelidik mengetahui besar kecilnya jenis tingkah laku yang muncul.
  6. Adakan observasi secermat-cermatnya
  7. Catatlah tiap-tiap gejala secara terpisah
  8. Ketahuilah beik-baik alat-alat pencatatan dan data caranya mencatat sebelum melakukan observasi

Langkah Perencanaan Observasi dan Tahapan Pelaksanaan Observasi_
image source: www.cliparthut.com

Secara singkat berikut langkah-langkah yang harus dilakukan dalam observasi :
  1. Mengetahui/memperoleh pengetahuan yang akan diobservasi.
  2. Menentukan tujuan umum dan tujuan khusus.
  3. Membuat tata cara observasi (metode apa, alatnya apa).
  4. Membatasi dengan tegas hal-hal yang akan diobservasi.
  5. Melakukan observasi dengan secermat-cermatnya.
  6. Membuat hasil catatan-catatan/observasi.
  7. Memahami pencatatan dan penggunaan alat 

Proses Observasi

ALAT OBSERVASI

Ada bebarapa alat observasi yang digunakan dalam situasi-situasi yang berbeda-beda, antara lain :

1. Anekdotal
Observer mencatat hal-hal yang penting. Pencatatan dilakukan sesegera mungkin pada tingkah laku yang istimewa. Observer harus mencatat secara teliti apa dan bagaimana kejadian, bukan bagaimana menurut pendapatnya. Akan tetapi, kerugian dari bentuk seperti ini adalah memakan waktu yang agak lama.

2. Catatan Berkala
Dalam catatan berkala penyelidik yang mencacat macam-macam kejadian khusus sebagimana pada observasi anecdotal, melainkan hanya pada waktu-waktu tertentu. Apa yang dia lakukan adalah mengadakan observasi cara-cara orang bertindak dalam jangka waktu tertentu, kemudian menuliskan kesan-kesan umumnya. Setelah dia menghentikan penyelidikannya dan mengadakan penyelidikan lagi pada saat ini dengan cara yang sama seperti sebelumnya.

3. Check List
Check list adalah suatu daftar yang berisi nama-nama subyek dan faktor-faktor yang hendak diselidiki. Check list dimaksudkan untuk mensistematikan catatan observasi. Dengan check list ini lebih dapat dijamin bahwa penyelidik mencatat tiap-tiap kejadian yang telah ditetapkan hendak diselidiki.

Ada bermacam-macam aspek perbuatan yang biasanya dicantumkan dalam check list, dan observer tinggal memberi tanda check secara cepat tentang ada tidaknya aspek perbuatan yang tercantum dalam list.

4. Rating Scale
Rating scale adalah pencatatan gejala menurut tingkat-tingkatnya. Rating scale ini sangat populer karena pencatatanya sangat mudah, dan relatif menunjukkan keseragaman antara pencatat dan sangat mudah untuk dianalisis secara statistik.

Rating scale umumnya terdiri dari suatu daftar yang berisi ciri-ciri tingkah laku yang harus dicatat secara bertingkat observasi diminta mencatat pada tingkat yang bagaimana suatu gejala atau ciri tingkah laku timbul.

Rating scale mempunyai kesamaan dengan ckeck list. Observer tinggal member tanda-tanda tertentu dan mengecek pada tingkat-tingkat tingkah laku tertantu. Dengan cara ini deskripsi yang panjang lebar tidak diperlukan, dan waktu sangat dihemat oleh karenanya.

Namun, demikian ada beberapa sumber kesesatan yang perlu mendapat perhatian dari observer, yaitu:

1. Hallo Effects
Kesesatan ‘halo’ terjadi jika observer dalam pencatatan terpikat oleh kesan-kesan umum yang baik pada observe, sedang observer tidak menyelidiki kesan-kesan umum itu. Jadi, misalnya seorang observer mungkin terpikat oleh tingkah laku yang sopan dari orang yang diamati, dan memberikan penilaian yang tinggi pada observe tanpa memperhatikan pada aspek yang sebenarnya hendak diamati. Dan sebaliknya seorang observer dapat memberi nilai yang lebih rendah daripada semestinya tentang suatu hal yang oleh karena observe berpakaian yang kurang rapi, sedang observer sendiri adalah orang yang biasa berpakaian rapi.

2. Generosity Effects
Kesesatan dapat terjadi karena keinginan untuk berbuat baik. Dalam keadaan-keadaan yang meragukan seorang observer mempunyai kecenderungan seorang observer mempunyai kecenderungan untuk menilai yang menguntungkan (atau merugikan) observee.

3. Carry Over Effects
Carry over effects terjadi jika pencatat tidak dapat memisahkan satu gejala dari yang lain dan jika gejala yang satu kelihatan timbul dalam keadaan yang baik, gejala yang lainnya juga dicatat dalam keadaan baik, sungguhpun kenyataannya tidak begitu. Pencatatan gejala yang satu dan dibawa-bawa dalam pencatatan gejalan lainnya ini pasti tidak akan menghasilkan fakta-fakta yang sesuai dengan keadaannya. Sehingga hal ini perlu diperhatikan oleh seorang peneliti yang hendak meneliti suatu gejala.

4. Mechanical Devices
Perkembangan alat-alat optika yang maju memungkinkan seorang observer menggunakan alat pencatat mesin seperti kamera video untuk menyelidiki tingkah laku orang. Biaya untuk ini sangat mahal tetapi pada kesempatan-kesempatan tertentu diperlukan juga.

Keuntungan dari observasi yang menggunakan alat ini adalah:
  1. Dapat diputar kembali setiap dibutuhkan.
  2. Dapat diputar lambat-lambat untuk memungkinkan analisa yang diteliti tentang tingkah laku manusia, yang belum tentu dapat dilakukan dalam kegiatan normal.
  3. Untuk seorang perancang reseach memberikan bahan-bahan yang berharga untuk mengembangkan problema-problema penelitian.
  4. Sebagai alat untuk melatih observer untuk memperbaiki kecermatan dan ketelitian observasinya.

OBSERVER
Spradley (1980) menyebutkan bahwa peran observer dalam metode observasi adalah:

1. Observer tidak berperan sama sekali
Dalam Observasi observer tidak berperan, kehadiran dalam area penelitian hanya untuk melakukan observasi tetapi tidak diketahui oleh subyek yang diamati.
Observasi jenis ini bisa dilakukan, misalnya dengan menggunakan kaca “one way mirror“ seperti pengamatan pada sekelompok anak-anak dengan perilaku di dalam kelas dalam suatu ruangan atau kelas, atau menggunakan teropong jarak jauh untuk mengamati perilaku seorang atau sekelompok orang. Pengamatan semacam itu juga bisa dilakukan dengan cara menggunakan rekaman video sehingga peneliti benar-benar tidak melakukan peran sama sekali.

2. Observer berperan pasif
Dalam jenis ini observer mendatangi peristiwa, akan tetapi kehadirannya di lapangan menunjukkan peran yang peling pasif. Kehadirannya sebagai orang asing diketahui oleh orang yang diamati, dan bagaimanapun hal ini membawa pengaruh. Agar kehadiran peneliti tidak mempengaruhi sifat alamiah subjek, sebaiknya peneliti tidak membuat catatan selama penelitian, kecuali mungkin dengan menggunakan perekaman secara tersembunyi. Tetapi setelah selesai melakukan pengamatan, peneliti harus segera membuat catatannya secepatnya sebelum tertumpuk oleh informasi lainnya.

3. Observer berperan aktif
Dalam observasi ini peneliti dapat memainkan berbagai peran yang dimungkinkan dalam suatu situasi sesuai dengan kondisi subjek yang diamati. Cara ini dilakukan semata untuk dapat mengakses data yang diperlukan bagi penelitian. Keberadaan peneliti sebenarnya diketahui oleh subjek yang diteliti, tetapi peneliti telah dianggap sebagai bagian dari mereka dan kehadirannya tidak mengganggu atau mempengaruhi sifat naturalistik. Apa yang dilakukan tidak ubahnya sebagaimana yang dilakukan subjek yang diteliti.

4. Observer berperan penuh
Pada observasi ini peneliti bisa jadi sebagai anggota resmi dari kelompok yang diamati atau sebagai orang dalam atau orang luar tetapi telah dianggap sebagai orang dalam. Peran peneliti dalam observasi terlibat penuh, bukan sekedar partisipasi aktif dalam kegiatan subjek yang diteliti, tetapi juga bisa lebih menjadi pengarah acara sebuah peristiwa terarah dengan skenario peneliti agar kedalaman dan keutuhan datanya tercapai.

Dalam melakukan observasi ada beberapa hal yang mempengaruhi kecermatan dalam observasi, yaitu:
  1. Prasangka-prasangka dan keinginan-keinginan dari observer.
  2. Keterbatasan panca indra, kemampuan pengamatan, dan ingatan manusia.
  3. Keterbatasan wilayah pandang.
  4. Ketangkasan menggunakan alat-alat pencatatan.
  5. Ketelitian pencatatan hasil-hasil observasi
  6. Ketepatan alat dalam observasi. Pengertian observer tentang gejala yang diobservasi.
  7. Kemampuan menangkap hubungan sebab akibat tergantung pada keadaan mental, indra pada suatu waktu.

Oleh karena itu untuk dapat menjadi seorang observer yang baik harus memiliki syarat-syarat sebagai berikut :
  1. Mengerti latar belakang tentang materi yang akan diobservasi
    Untuk mengobservasi tentang perkembangan anak maka seorang observer harus mengusai teori tentang perkembangan yang harus dilalui oleh setiap anak.
  2. Mampu memahami kode-kode / tanda-tanda tingkah laku untuk membedakan tingkah laku yang satu dengan yang lain.
  3. Seorang observer hendaknya mempunyai kemampuan untuk membedakan tanda-tanda tingkah laku agar dapat membedakan tingkah laku yang satu dengan yang lainnya. Juga perlu mengetahui perbedaan mengekspresikan emosi ke dalam perilaku bagi masing-masing kelompok masyarakat.
  4. Membagi perhatian
    Seorang observer harus mampu membagi perhatiannya antara mengamati tindakan yang dilakukan oleh observee dan mencatat perilaku tersebut.
  5. Dapat melihat hal-hal yang detail
    Seorang observer harus mampu mengamati perilaku observee sampai pada perilaku yang sekecil-kecilnya, karena bisa saja perilaku yang dianggap tidak penting justru merupakan perilaku yang sangat penting.
  6. Dapat mereaksi dengan cepat dan menerangkan contoh-contoh tingkah laku secara verbal/non verbal. Seorang observer harus bisa memahami dengan cepat perilaku yang ditunjukkan oleh observee dan bagaimana respon yang harus diberikan.
  7. Menjaga hubungan antara observer dan observe Kemampuan menjalin hubungan baik dengan observe merupakan faktor yang sangat penting dalam observasi.

HAL-HAL YANG DIOBSERVASI

Banyak hal-hal, peristiwa-peristiwa, masalah-masalah, dan gejala-gejala yang dapat diobservasi. Dalam melakukan observasi ada beberapa point yang biasanya perlu diperhatikan, yaitu:
  1. Penampilan fisik : yang meliputi kondisi fisik observe, misalnya tinggi badan, berat badan, warna kulit, dan lain-lain.
  2. Gerakan tubuh / penggunaan anggota tubuh. Misalnya: bagaimana postur tubuh observe, bagian tubuh mana yang sering digunakan dan bagian mana yang kurang banyak gerakan (misalnya observe selalu menggerak-gerakkan tengan ketika berbicara, dsb).
  3. Ekspresi wajah : Bagaimana ekspresi wajah observe ketika sedang berbicara.
  4. Pembicaraan : yaitu bagaimana isi pembicaraan yang dilakukan.
  5. Rekasi emosi : yaitu bagaimana reaksi emosi observe. Dalam penelitian seorang observer perlu memperhatikan bagaimana reaksi emosi observe terhadap suatu masalah yang ingin diteliti.
  6. Aktivitas yang dilakukan : Misalnya jenisnya, lamanya, dengan siapa, dimana dan sebagainya.
  7. Dan beberapa hal yang perlu diobservasi. Hal ini sesuai dengan tujuan dari penelitian yang akan dilakukan

Langkah-Langkah Menyusun Lembar Observasi Penelitian

Lembar observasi penelitian tentang aktivitas belajar siswa ini dibuat dengan langkah-langkah sebagai berikut:
  • Menentukan tujuan pembuatan lembar observasi, yaitu untuk merekam data berapa banyak siswa di suatu kelas aktif belajar, dan bagaimana kualitas aktivitas belajar siswa-siswa tersebut.
  • Mengumpulkan referensi tentang karakteristik atau ciri-ciri siswa yang sedang aktif belajar (jika anda telah menulis proposal penelitian, maka tentunya dengan mudah dapat dicuplik dari kajian teori atau kajian pustaka proposal penelitian anda).
  • Menyusun poin-poin kunci tentang karakteristik atau ciri-ciri siswa yang sedang aktif belajar. Misalnya, setelah diekstraksi, kajian pustaka atau kajian teori tentang aktivitas belajar siswa didapatkanlah karakteristik atau ciri-ciri siswa yang aktif belajar. 
  • Menentukan desain atau layout lembar observasi penelitian yang diinginkan, seperti daftar ceklis, skala rating (skala penilaian), daftar pertanyaan terbuka, laporan observasi (observation report). 
  • Merumuskan elemen-elemen lembar observasi penelitian, dalam hal ini judul, identitas, tujuan, petunjuk penggunaan (petunjuk pengisian), butir-butir pernyataan atau pertanyaan terkait karakteristik atau ciri-ciri siswa yang aktif belajar (ini merupakan bagian utama dari lembar observasi dan harus mengacu pada tujuan pembuatan lembar observasi yang identik dengan tujuan penelitian yang sedang dilakukan).
  • Menulis draft lembar observasi penelitian.
  • Meminta bantuan rekan seprofesi atau ahli misalnya widyaiswara atau dosen untuk mengecek validitas instrumen (lembar observasi). 
  • Merevisi lembar observasi bila diperlukan.


Posting Komentar untuk "Langkah Perencanaan Observasi dan Tahapan Pelaksanaan Observasi"

Klik gambar berikut untuk mengunduh artikel ini:

Berlangganan via Email