Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Teori Psikoanalisis Menurut Sigmund Freud dan Carl Gustav Jung

Teori Psikoanalisis Menurut Sigmund Freud dan Carl Gustav JungDalam teori psikoanalisa dinyatakan bahwa hampir sebagian besar perilaku dipengaruhi oleh kekuatan dari unconscious dan energi fisik yang kita miliki juga banyak digunakan untuk menemukan ekspresi yang sesuai dalam unconscious.

3 Aliran utama psikologi:
  1. Gelombang pertama : Psikoanalisa 
  2. Gelombang kedua : Behaviorisme 
  3. Gelombang ketiga : Eksistensial-Humanistik
Teori Psikoanalisis Menurut Sigmund Freud dan Carl Gustav Jung_
image source : press.princeton.edu
baca juga: Teori Humanistik dalam Psikologi Menurut Para Ahli + Contoh

SIGMUND FREUD

Sumbangan Utama teori Psikoanalisa
  • Tingkah laku diketahui sering ditentukan oleh faktor-faktor tak sadar 
  • Perkembangan pada masa dini kanak-kanak memiliki pengaruh yang kuat terhadap kepribadian di masa dewasa 
  • Teori psikoanalitik menyediakan kerangka kerja yang berharga untuk memahami cara-cara yang digunakan oleh individu dalam mengatasi kecemasan dengan mengandaikan adanya mekanisme-mekanisme yang bekerja untuk menghindari luapan kecemasan 
  • Keterangan teori psikoanlitik telah memberikan cara-cara mencari keterangan dari ketaksadaran melalui analisa atas mimpi-mimpi, resistensi-resistensi, dan transferensi-transferensi 

Konsep Utama teori Psikoanalisa 

1. Struktur kepribadian

  • Id: demanding child. Berdasarkan prinsip kesenangan
  • Ego : traffic cop. Berdasarkan realita
  • Superego:judge. Berdasarkan hukum

2. Pandangan tentang sifat manusia
  • Pesimistik: ditentukan oleh lima tahun pertama kehidupannya 
  • Deterministik :motivasi-motivasi tak sadar, kebutuhan-kebutuhan dan dorongan-dorongan biologis dan naluriah (libido). Death instincts: dorongan berperilaku agresif---berasal dari dorongan yang tidak disadari ingin menyakiti diri sendiri ataupun orang lain
  • Mekanistik: dipandang sebagai sistem energi, id, ego, superego
  • Reduksionistik (hasrat pada kesenangan dan menghindari kesakitan) 

3. Kesadaran dan ketidaksadaran
Ketidaksadaran menyimpan pengalaman-pengalaman, ingatan-ingatan, dan bahan-bahan yang direpresi, keinginan dan motivasi yang tidak tercapai. Freud percaya bahawa sebagian besar fungsi psikologis terletak di luar kawasan kesadaran. Proses ketidaksadaran sangat mempengaruhi TL, yang menjadi akar dari gejala dan TL neurotik 

4. Kecemasan
  • Kecemasasan neurotik: ketakutan tidak terkendalinya naluri-naluri yang menyebabkan seseorang melakukan tindakan yang bisa mendatangkan hukuman bagi dirinya (konflik id,ego, superego)
  • Kecemasan realistis: taraf kecemasannya sesuai dengan derajat ancaman yang datangnya dari luar 
  • Kecemasan moral: ketakutan terhadap hati nurani sendiri 

5. Mekanisme-mekanisme pertahanan ego
Prinsip mekanisme pertahanan ego: menyangkal realitas dan beroperasi dari alam bawah sadar. Tujuan dilakukannya pertahanan ego: membantu individu untuk bisa mengatasi rasa cemas. Mekanisme pertahanan ego tidak mengapa digunakan sesekali asal tidak jadi gaya hidup. Jenis-jenis mekanisme-mekanisme pertahanan ego:
  • Denial/ penyangkalan 
  • Proyeksi 
  • Fiksasi, terpaku pada satu tahap perkembangan 
  • Regresi 
  • Rasionalisasi 
  • Sublimasi 
  • Displacement
  • Represi VS Supresi 
  • Formasi reaksi 
  • Introyeksi 
  • Kompensasi

6. Perkembangan kepribadian
Pembentukan kepribadian seseorang ditentukan oleh 5 tahun pertama kehidupannya. 5 tahapan psikososial dan psikoseksual

7. Fase Oral
  • Terjadi sekitar usia 0 bulan-2 tahun 
  • Berpusat kepada pemuasan id di daerah oral
  • Tugas perkembangan fase oral adalah memperoleh rasa percaya, yaitu percaya kepada orang lain , dunia, dan diri sendiri 
  • Apabila anak tidak mendapatkannya maka akan terjadi gangguan pada tahap perkembangan berikutnya yaitu permasalahan dalam berhubungan dengan orang lain- gangguan interpersonal
  • Contoh: mengunyah permen karet (agresif), merokok, makan yang berlebihan (pasif)

8. Fase Anal
  • Usia 1 sampai dengan 3 tahun 
  • Toilet training, pengalaman pertama dalam disiplin 
  • Tugas perkembangan memperoleh kemandirian, kekuatan dan otonomi 
  • Sikap orang tua sangat dalam fase ini sangat berpengaruh kepada pembentukan keperibadian
  • Contoh: sangat rapi dan teratur(terlalu bagus) ceroboh, sembrono (gagal)

9. Fase Falik
  • Usia 3-6 tahun 
  • Aktivitas seksual dimulai dan menjadi intens. E.g. masturbasi 
  • Periode perkembangan nurani 
  • Jika orangtua menanamkan nilai moral yang berlebihan dapat menyebabkan pengendalian superego yang berlebihan 
  • Anak-anak perlu menerima perasaan-perasaan seksualnya sebagai hal yang alamiah dan belajar memandang tubuhnya secara sehat 
  • Gagal dalam fase ini dapat menyebabkan perasaan-perasaan yang membingungkan sehubungan dengan identitas peranan seksualnya
  • Contoh: Oedipus complex,electra complex 

10. Fase Laten
  • Usia 6-12 tahun 
  • Energi seksual menurun/ tidak begitu dominan digantikan dengan ketertarikan pada keinginan untuk bersosialisasi 
  • Ditandai dengan tumbuhnya minat untuk mengeksplorasi hobi dan kegiatan baru 
  • Berhasil pada fase ini akan berdampak pada perasaan mampu dan inisiatif 
  • Gagal dalam fase ini berdampak pada rendahnya rasa percaya diri 

11. žFase Genital
  • Dimulai usia 12-60 sampai seterusnya 
  • Tiap fase dibangun berdasarkan fase sebelumnya 
  • Fase ini seseorang harus bisa indpendent dari orang tuanya 
  • Fase ini seseorang harus bisa menghadapi dan menyelesaikan konflik psikoseksual dari masa lalunya 
  • Fase ini berpusat pada genital, yang sifatnya konsensual dan dewasa, bukan yang kekanak-kanakan. Jadi ada pergeseran dari cara mengekspresikannya tidak lagi berbentuk insting tetapi lebih bersifat simbolis dan intelektual.contoh: hubungan cinta, keluarga 
  • Contoh: impoten, ketidakpuasan dengan hubugan yang ada 

CARL GUSTAV JUNG

Sejarah penuh dengan cerita pangeran atau pemegang tahta yang beradu pendapat dengan raja atau penguasa lainnya. Contoh: cerita putrid salju, dimana anda mencoba menebak bahwa putrid salju adalah orang yang baik dan selalu saja ada yang berusaha mencelakakannya. Mengapa tema-tema seperti contoh di atas sangat mudah diingat? Mengapa scenario-skenario seperti itu sangat mudah dibayangkan? Carl Jung percaya bahwa kita semua dirancang untuk dapat melihat dan menerima kebenaran-kebenaran tertentu bukan hanya karena apa yang telah dialami secara kolektif oleh nenek moyang dan pendahulu kita. Kepercayaan ini memberikan landasan yang penting bagi teori kepribadian yang dikemukakan oleh Jung.
Latar Belakang Pendekatan Jung

1. Masa Kecil Jung

Carl Gustav Jung lahir pada Juli 1875 di Kesswill, Swiss. Ia tumbuh dalam keluarga yang religious, ayahnya pendeta Paul Jung, adalah seorang pendeta Negara, dan ibunya Emilie, adalah anak dari seorang pendeta. Teori kepribadian yang dikemukakan oleh Jung bersifat unik, dan akarnya dapat ditelusuri hingga ke pemikiran dan pengalaman masa kecilnya. Secara khusus, terdapat dua tema pokok yang mencolok mengenai keyakinan masa kecil Jung, tema-tema ini nantinya menjadi dasar teori kepribadian yang diajukannya.

Tema yang pertama adalah keyakinan bahwa pada kenyataannya ia memiliki dua kepribadian yang berbeda: (1) ia adalah anak seperti yang orang lain anggap dan (2) ia adalah seorang pria terpelajar dan bijaksana dari abad lalu. Jung adalah anak yang interovert dan lebhi suka menarik diri, yang sering menghabiskan waktunya dengan bermain sendiri dan merenung. Ia sering duduk di sebuah batu besar di kebunnya dan memfokuskan pada dua ide: ia adalah seorang anak laki-laki yang sedang duduk di atas sebuah batu dan ia adalah sebuah batu yang diduduki oleh seorang anak laki-laki. Kemampuannya untuk memiliki sudut pandang sebagai sebuah batu memberikannya gagasan bahwa ia mungkin saja merupakan makhluk yang memiliki satu bentuk. Pemikiran ini tampaknya diperkuat oleh ayah temanya yang menghukumnya karena kelakuannya yang buruk. Pada saat Jung dimarahi, ia kesal karena ayah temannya itu memperlakukkan dirinya seperti itu. Jung merasa dirinya adalah orang penting dan terhormat yang seharusnya dihargai dan dikagumi. Pada saat yang sama, ia juga menyadari bahwa dirinya adalah anak yang nakal dan sedang ditegur oleh orang yang lebih dewasa. Dari situlah Jung menyadari sepenuhnya tentang kepribadiannya.

Tema kedua, yang juga berhubungna, dari masa kecil Jung adalah visi dan mimpi yang sering ia alami, yang bukan sekedar kebetulan belaka, namun justru merupakan komunikasi yang berharga dari alam mistis. Gagasan ini kemudian akan membentuk dasar konsepnya mengenai ketidaksadaran kolektif. Ketika ia berusia sekitar 10 tahun, Jung membua sendiri sebuah manekin kecil dari kayu yang didandaninya dengan pakaian buatannya sendiri, menyembunyikannya di loteng bersama dengan sebuah batu yang telah dicat. Memikirkan tentang manekin dan batu bercat yang disembunyikan itu menyenangkan hati Jung dan entah bagaimana kadang mampu menenangkan Jung saat ia tertekan. Ia juga menuliskan pesan bersandi pada secarik kertas yang diselipkan di dalam manekinnya.

2. Awal Mula Teori Jung

Ketika mengerjakan penelitian untuk bukunya, Jung membaca “batu jiwa” (terletak di dekat Arlesheim) dan beberapa arca dewa kuno yang monumental. Saat membaca tulisan itu, Jung dengan mudah membentuk gambaran mental mengenai batu dan arca/patung tersebut karena benca-benda itu sangat mirip dengan batu bercat dan manekin yang ia miliki saat ia kecil. Ia tidak pernah melihat gambar objek tersebut sebelumnya ataupun membaca mengenai benda-benda itu (ia juga memeriksa perspustakaan ayahnya untuk memastikan hal ini), namun ia membuat benda-benda itu untuk dirinya sendiri semasa kecil. Peristiwa itu membuat Jung berpikir bahwa ada elemen psikis tertentu yang diteruskan dari generasi ke generasi melalu alam tidak sadar.

Jung mempelajari kedokteran di University of Basel dan di sinilah ia mulai tertarik degan dunia psikiatrik. Ia lulus pada tahun 1900, tahun yang sama dengan dipublikasikannya buku Freud yang berjudul Interpretation of Dreams. Jung membaca buku ini dan ia memulai korespondensinya dengan Freud pada tahun 1906. Keduanya saling mengagumi, dan pada April 1907, jelas terlihat bahwa Freud telah memilih Jung sebagai penerus tradisi psikoanalisisnya.

Walaupun semuanya berjalan lancar pada awalnya, Jung percaya bahwa tujuan dan motivasi individu sama pentingnya dengna dorongan seksual dalam menentukan jalan hidup seseorang. Ia meyakini adanya arketipe universal (symbol-simbol emosional), yang berulang kali ia temukan dalam wawancara dengan pasien-pasiennya. Jika Freud menyakini bahwa kepribadian biasanya sudah terbentuk pada pertengahan masa kanak-kanak, Jung lebih suka melihat kepribadian dalam konteks tujuan dan orientasi masa depannya. Pada akhirnya, celah antara dua pilar pemikiran psikologis ini berkembang hingga perpisahan menjadi satu-satunya jawaban. Mereka berpisah pada tahun 1913, setelah Jung menarik diri dengan menyendiri di rumahnya, menyepi dan melakukan introspeksi yang berlangsung selama beberapa tahun. Selama masa tersebut, Jung menganalisa dirinya sendiri, ingin mengetahui komponen individu dan pskisnya. Ketika periode tersebut berakhir, ia semakin teguh memegang pendiriannya bahwa prinsip utama dai teorinya itu benar-benar valid. Untuk membedakan teorinya dengan apa yang telah diungkapkan oleh teori psikoanalisis Freud, ia menyebut teorinya psikologi analisis.

Psikologi Analisis Jung

Menurut teori Jung, pikiran atau psikis terbagi menjadi tiga bagian: (1) ego sadar (2) ketidaksadaran personal, dan (3) ketidaksadaran kolektif

Ego sadar. Ego yang dikemukakan oleh Jung ini sangat mirip dengan ego yang diajukan oleh Freud dalam hal cakupan dan artinya, yaitu aspek dari kepribadian yang disadari ditambah dengan perasaan akan diri (Jung percaya bahwa identitias personal ini, atau ego, berkembang ketika individu berusia sekitar empat tahun).

Ketidaksadaran personal. Komponen pikiran kedua yang dikemukakan oleh Jung, ketidaksadaran personal (personal unconscious), berisikan pemikiran-pemikiran dan perasaan-perasaan yang bukan merupakan bagian dari kesadaran saat ini, akan tetapi sesungguhnya masih tetap dapat diakses. Ketidaksadaran personal ini berisi pemikiran-pemikiran dan dorongan-dorongan yang tidak penting pada masa kini, seperti halnya pemikiran dan dorongan yang ditekan secara aktif karena sifatnya yang mengancam ego. Sebagai contoh: ketika anda berada di salah satu kuliah psikologi, anda tidak akan berpikir mengenai kencan anda semalam. Informasi tersebut tidak ditekan ke bawah sadar, hanya saja saat itu sedang tidak diperlukan atau tidak relevan dengan kondisi yang ada. Rekan yang duduk di samping anda mungkin memiliki rasa benci dan dendam yang mendalam kepada saudara kandungnya karena persaingan di masa lalu, namun dibesarkan di keluarga yang sangat menjunjung tinggi rasa cinta pada keluarga. Orang tersebut mungkin menekan dendam yang dirasakannya karena ia ingin keluarganya melihat dirinya sebagai orang yang “baik”. Kedua pemikiran dan dorongan tersebut oleh Jung dianggap sebagai bagian dari ketidaksadaran personal.

Jung juga memandang ketidaksadaran personal mencakup materi masa lalu (retrospektif) dan masa depan (prospektif). Pemikiran ini berkembang dari observasi Jung terhadap para pasiennya yang mengalami mimpi yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa dan persoalan-persoalan masa depan. Hal ini bukan berarti bahwa mereka “melihat” masa depan, namun lebih bahwa mereka merasakan hal-hal yang mungkin akan terjadi. Pada akhirnya, Jung percaya bahwa ketidaksadaraan personal ada untuk mengimbangi ide-ide dan sikap-sikap sadar, yaitu jika pandangan sadar seseorang hanya melihat satu sisi, ketidaksadaran personal mungkin akan melihat sudut pandang yang sebaliknya melalui mimpi atau cara lain, sebagai usaha untuk mengembalikan keseimbangan yang dimaksud.

Ketidaksadaran Kolektif. Komponen ketiga dari psikis, oleh Jung disebut sebagai ketidaksadaran kolektif (collective unconscious). Mungkin yang paling controversial adalah fakta bahwa ketidaksadaran kolektif ini melibatkan tingkat yang lebih dalam dari ketidaksadaran dan dibentuk oleh symbol emosional yang sangat kuat yang disebut sebagai arketipe (archetype). Gambaran ini sudah dikenal oleh banyak orang dan telah terbentuk sejak awal mula kehidupan. Arketipe-arketipe ini berasal dari reaksi-reaksi emosional nenek moyang kita terhadap peristiwa-peristiwa yang terus menerus berulang, seperti terbit dan tenggelamnya matahari, perubahan musim, dan hubungan interpersonal yang terus menerus muncul seperti hubungan ibu dan anak. Adanya arkatipe atau pola-pola emosi tertentu mempengaruhi kita untuk berperilaku danlam cara yang terprediksi terhadap stimulus yang umum. Jung mendeskripsikan banyak arketipe yang berbeda-beda, seperti arketipe pahlawan, orang tua yang bijak, yang seccara jelas muncul dalam film-film seperti Star Wars. 

Berikut jenis arkatipe yang dikemukakan oleh Jung.

1. Animus dan Anima. Animus (elemen pria dari seorang wanita) dan Anima (Elemen wanita dari seorang pria). Arketipe animus secara tidak langsung menyatakan bahwa setiap wantia memiliki sisi maskulin dan membenarkan pengetahuan bawaan mengenai arti dari seorang pria; arkaetipe anima menyatakan secara tidak langsung sisi feminine dari seorang pria dan pengetahuan mengenai arti seorang wanita yang dimiliki oleh setiap pria.

2. Persona dan Bayangan/Shadow. Dua arketipe yang saling berlawanan ini menunjukkan perbedaan antara penampilan luar dan diri kita yang sebenarnya. Arketipe persona (bahasa latin untuk “topeng”) memperlihatkan sisi yang kita tampilkan pada orang lain, yang dapat diterima oleh lingkungan sosial. Walaupun tiap persona, jika dilihat dari luar, bersifat idiosinkratik, arketipe itu sendiri merupakan gambaran ideal bagaimana seseroang dilihat oleh orang lain, yang dimodifikasi oleh usaha unik masing-masing individu untuk mencapai tujuannya. Sebaliknya, arketipe bayangan (shadow archetype) merupakan sisi gelap dan sisi yang tidak diterima dari kepribadian seseorang-motif dan kehendak yang memalukan, yang lebih baik tidak kita aki pada orang lain. Impuls negtif ini mendorong dilakukannya perilaku dan pemikiran yang tidak diterima oleh lingkungan sosial, seperti halnya keinginan-keinginan yang tidak diterima dari id yang dapat memancing perilaku yang memalukan.

3. Arketipe ibu (mother archetype) biasanya mewujudkan generativitas dan fertilitas. Arketipe ini mungkin dibangkitkan oleh figure ibu yang sebenarnya (misalnya ibu atau nenek seseorang) ataupun perlambangan figure ibu (misalnya: gereja). Sebagai tambahan, arketipe ibu ini dapat bersifat baik atau jahat, atau bahankan keduanya, seperti halnya seorang ibu yang sebenarnya.

4. Arketipe pahlawan (hero archetype) menjabarkan dorongan yang baik dan kuat yang berpegang melawan musuh untuk menyelamatkan orang lain dari bahaya dan kejahatan. Kebalikan dari arketipe ini adalah artikel iblis (demon archtype), yang termanifestasi dalam bentuk kekejaman dan kejahatan.

Kompleks

Bagi Jung, kompleks (complex) merupakan sekelompok perasaan, pemikiran, dan ide yang emosional, yang berkaitan dengan tema tertentu (seperti: krisi identitas yang dialami seseorang). Kekuatan dari kompleks-kompleks ini ditentukan oleh libido,atau “nilai” dari kompleks tersebut. Ingat bahwa definisi Jung mengenai libido berbeda dari definisi yang Freud ajukan, karena Jung mendefinisikan libido sebagai energi psikis umum yang tidak selalu harus berhubungan dengan hal-hal seksual.

Jung membuktikan pertanyaannya mengenai adanya kompleks ini dengan tes asosiasi kata yang ia ciptakan. Ia memberikan pada kliennya daftar kata, mengaturnya dalam susunan yang ia yakini merupakan skema urutan yang paling optimal, dan kliennya diminta merespons setiap kata dengan cara menyatakan kata yang pertama kali terpikirkan oleh mereka. Jung dan rekan-rekannya akan menghitung banyaknya waktu yang diperlukan oleh kliennya untuk merespon (jeda yang terjadi mengindikasikan adanya abnormalitas atau konflik tertentu), kecepatan nafas, respons kulit terhadap listrik, dan ingatan melalui tes ulang. Dari sini ia mengidentifikasi kata-kata tertentu yang menghasilkan rangsangan emosi, dan dengan penggalian lebih lanjut, kata-kata tersebut kadang dapat digunakan untuk mengetahui sifat dasar dari kompleks yang dimaksud. Yang menarik, metode yang hampir sama sekarang telah digunakan di psikologi kognitif. Jung percaya bahwa keprtibadian dibentuk dari dorongan-dorongan yang saling bertentangan yang terus menerus berada dalam keadaan tarik-menarik satu dengan yang lain, dan oleh karena itu membentuk keseimbangan tertentu (pada orang yang sehat). Akan tetapi akhirnya, Jung menyimpulkan bahwa tes asosiasi kata tidak dapat membedakan dengan tepat antara perasaan yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa actual, dan Jung pun pada akhirnya meninggalkan metode ini.

Fungsi dan Sikap

Jung mengemukakan empat fungsi pikiran: (1) Menginderai (sensing): apakah ada sesuatu disana? (2) Berpikir (thinking): Apa yang ada di sana? (3) Merasa (feeling): apa arti benda tersebut? (4) Berintuisi (Intuiting): dari mana asalnya dan kemana perginya? . Berpikir dan merasa dianggap sebagai fungsi rasional oleh Jung karena meliputi penilaian dan pertimbangan. Sebaliknya, menginderai dan berintuisi dianggap tidak rasional karena tidak melibatkan penalaran sadar dalam prosesnya. Walaupun semua fungsi ini ada di tiap individu, salah satu fungsi tersebut pasti mendominasi.

Sebagai tambahan dari keempat fungsi tersebut, Jung mendeskripsikan dua sikap utama: ekstroversi dan introversi. Istilah –istilah ini umum digunakan belakangan ini namun dimengerti sebagai dua kutub yang saling berlawanan pada dimensi yang sama, alih-alih sebagai dua konstruk yang berlawanan dan terpisah seperti yang Jung pikirkan. Seperti fungsi, ekstroversi dan introversi ada di tiap individu, namun salah satunya akan lebih dominan daripada yang lain. Orang ekstrovert mengarahkan libidonya pada hal-hal di luar dirinya, sedangkan orang introvert lebih berfokus ke dalam diri. Kombinasi dari dua sikap ini dengan keempat fungsi tadi menghasilkan delapan kemungkinan tipe kepribadian. Ambil contoh seorang yang memilik fungsi dominan meras (feeling) dan sikap dominan ekstroversi, maka kecenderungan “merasa (feeling)” orang ini akan lebih mengarah ke luar. Artinya, secara umum, orang tersebut akan mudah memiliki teman, cenderung untuk mencolok, dan mudah dipengaruhi oleh emosi orang lain. Akan tetapi jika sikap utamanya adalah introversi, kecenderung “merasa (feeling)” orang itu akan disalurkan melalui introspeksi dan tersibkkan dengan pengalaman dalam diri, yang mungkin akan orang lain aggap sebagai bentuk ketidakacuhan atau sikap “dingin”-dan dinilai sebagai orang yang kurang memiliki perasaan. Jadi, anda dapat melihat bahwa fungsi dominan tertentu akan memberikan cirri tersendiri yang sangat berbeda jika dipasangkan dengan salah satu dari dua sikap yang ada, dan menghasilkan delapan kategori atau tipe kepribadian yang sangat berbeda. Tipologi-tipologi ini mendasari salah satu bentuk inventori kepribadian- Myers- Briggs Type Indicator (MBTI).

Yang paling penting, Jung adalah orang yang menantang Freud dan menciptakan konsep dasar yang baru mengenai motivasi dan ego, dan memberikan kesempatan bagi berkembangya pendekatan-pendekatan lain. Perlu diperhatikan juga bahwa kemauan Jung untuk memberikan perhatian apda aspek-aspek yang bersifat spiritual dan msitis dari kepribadian memiliki peran penting apda berkembangnya pendekatan eksistensialisme-humanisme.


Posting Komentar untuk "Teori Psikoanalisis Menurut Sigmund Freud dan Carl Gustav Jung"

Klik gambar berikut untuk mengunduh artikel ini:

Berlangganan via Email