Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Teori Psikologi Gestalt Tentang Belajar Menurut Para Ahli + Contoh

Teori Psikologi Gestalt Tentang Belajar Menurut Para Ahli + ContohPada waktu di Amerika Serikat J.B. Watson mengemukakan karyanya yang berjudul Psychology as the Behaviorist Views It (1913) yang menjadi tanda dimulainya aliran behaviorisme di Negara itu, maka di Jerman Max Wertheimer mengajukan pula kertas karyanya yang merupakan tanda dimulainya aliran Psikologi Gestalt (1912). Kedua lairan ini (behaviorisme dan Gestalt) sering disebut sebagai aliran kontemporer yang mengkritik aliran ortodoks dari Wundt, tetapi ada perbedaan antara kedua aliran yang sama-sama disebut kontemporer itu.

Psikologi Gestalt lebih menekankan kritiknya pada penguraian kesadaran ke dalam elemen-elemen yang dilakukan oleh strukturalismenya Wundt, tetapi Psikologi Gestalt masih mengakui adanya unsur kesadaran itu sendiri dalam bentuk yang utuh (totalitas, tidak terbagi-bagi dalam elemen-elemen). Behaviorisme di lain pihak, tidak sependapat dengan diikutsertakannya kesadaran sebagai data dalam psikologi. Behaviorisme lebih menekankan tingkah laku dalam bentuknya yang nyata (pada Watson berbentuk refleks-refleks) sebagai data dalam psikologi. Dari perbedaan ini nyatalah bahwa kritik behaviorisme sudah lebih jauh daripada kritik oleh Psikologi Gestalt.

Teori Psikologi Gestalt Tentang Belajar Menurut Para Ahli + Contoh_
image source : www.ipoxstudios.com
baca juga: Pengertian Teori Konvergensi dalam Psikologi Menurut Ahli

Hal ini disebabkan karena kritik behaviorisme sebenarnya sudah merupakan kritik “generasi kedua”. Sebelum behaviorisme, sudah terlebih dahulu ada aliran fungsionalisme di Amerika Seriktat yang juga mengkritik psikologi ortodoknya Wundt dan sebagai tokoh-tokoh behaviorisme adalha murid-murid dari tokoh-tokoh fungsionalisme serta behaviorisme itu sendiri pun mempunyai kritik-kritiknya sendiri terhadap fungsionalisme. Karena itu pada waktu Psikologi Gestalt diperkenalkan di Amerika Serikat, sarjana-sarjana Amerika menganggap bahwa kritik-kritik psikologi Gestalt terhadap psikologi ortodoks sudah ketinggalan zaman, sekalipun aliran Gestalt ini munculnya pada waktu yang kira-kira bersamaan dengan lahirnya behaviorisme (hanya satu tahun lebih dahulu).

Istilah Gestalt sendiri merupakan istilah bahasa Jerman yang sukar dicari terjemahannya dalam bahasa-bahasa lain. Arti Gestalt bisa bermacam-macam sekali, yaitu form, shape (dalam bahasa Inggris ) atau bentuk, hal, peristiwa, hakikat esensi, totalitas. Terjemahannya ke dalam bahasa INggris pun bermacam-macam antara lain shape psychology, convigurationism, whole psychology, dan sebagainya. Karena adanya kesimpangsiuran dalam penerjemahan, akhirnya para sarjana di seluruh dunia sepakat untuk menggunakan istilah “Gestalt” tanpa menerjemahkannya ke dalam bahasa lain.

Untuk dapat mengerti arti yang sebenarnya dari Psikologi Gestalt kita perlu mempelajari ciri-ciri khas dari aliran itu, yaitu Psikologi Gestalt mempelajari suatu gejala sebagai suatu keseluruhan atau totalitas dan bahwa data-data dalam psikologi Gestalt disebut sebagai fenomena (gejala). Prinisp mempelajari gejala sebagai totalitas dikemukakan pertama kalinyaoleh Christian von Ehrenfels, tokoh yang merangsang timbulnya aliran ini, pada tahun 1890 dalam eksperimennya mengenai music. Dikemukakannya pada waktu itu bahwa kalau kita mendengar sebuah lagu itu, bukan notnya satu per satu. Komposisi ini merupakan keseluruah yang lebih penting artinya daripada not-not yang merupakan elemen.-elemen. Suatu komposisi lagu mempunyai sifat tertentu yang disebut emergent, yang tidak dimiliki oleh not-not dlaam lagu itu pun berubah, namun selam akomposisinya masih tetap, maka emergent-nya masih sama, maka kita tetap mendengar lagu yang sama. Jadi sekali lagi, yang penting adalah sifat dari totalitas yang disebut emergent, bukan sifat dari elemen-elemen. Sekalipun demikian, Ehrenfels mengakui bahwa tidak semua emergent berbeda dari elemen. Sering kali pula terdapat fenomena di mana sifat-sifat yang ada pada elemen-elemen terdapat pula dalam emergent. Dalam hal yang terakhir, kalau elemen berubah, maka emergent pun akan berubah dan kita kaan mengalmi atau menangkap suatu fenomena yang lain.

Fenomena adalah data yang paling dasar bagi Psikologi Gestalt. Apa yang dialami seseorang adalah pengalaman fenomenal. Dalam hal ini Psikologi Gestalt sependapat dengan pandangan filsafat fenomenologi yang mengatakan bahwa pengalaman haruslha dilihat secara netral, tidak dipengaruhi oleh apa pun. Di dalam fenomena kita harus selalu melihat adanya dua unsur, yaitu objek dan arti. Objek dari fenomena mempunyai sifat-sifat yang dapat dideskripsikan, tetapi segera objek itu terungkap oleh indera kita, maka kita akan menerimanya sebagai informasi dan pada saat ini kita sudah memberi arti pada objek itu.

Franz Brentano (1838-1917): Franz Brentano adalah perintis dan guru dari tokoh-tokoh Psikologi Gestalt. Ia lahir di Marienberg, dekat Boppard on Rhine pada tanggal 16 Januari 1838 dan meninggal di Zurich pada 17 Maret 1917. Ia pernah menjadi professor di Univesitas Wurzbur (1866-1873) dan Universita Wina (1874-1880).

Pikiran-pikiran Brentano banyak kesamaan dengan pikiran-pikiran Aristoteles, sehingga ia sering disebut sebagai neo-Aristotelian. Ia tidak sependapat dengan strukturalisme yang hendak menganalisa kesadaran dengan memecah-mecahnya ke dalam elemen-elemen. Gejala kejiwaan harus dipandang sebagai suatu fenomena yang mesti sebagaimana adanya, sebagai totalitas. Ia adalah pelopor aliran psikologi fenomenologi, yaitu aliran psikologi yang berusaha mempelajarijiwa sebagai fenomena dengan metode yang deskriptif.

Selanjutnya Brentano berpendapat bahwa dasar dari segala tingkah laku kejiwaan (psychic acts) adalah persepsi dalam (inner perception), yaitu persepsi yang terbatas pda persepsi oleh indera-indera belaka. Ia membedakan antara aksi psikis (psychic acts) dan isi nonpsikis (non -psychic contents) dalam fenomena kejiwaan. Sebuah kursi misalnya, adalah suatu non psychic contents. Tetapi begitu kursi itu bersentuhan dengna indera dan masuk ke dalam (inner perception), maka akan terjadi aksi psikis.

Ajaran-ajaran Brentano selanjutnya mempengaruhi tokoh Christian von Ehrenfels.

Christian von Ehrenfels (1859-1932): tokoh yang karyanya sudah disinggung di atas, bukanlah termasuk dalam kelompok aliran psikologi Gestalt sendiri, namun ialah yang meletakkan dasar-dasar dari aliran Psikologi Gestalt yang akan timbul kemudian. Ia dilahrikan di Rodaun (Austria) pada 20 Juni 1859 dan meninggal di Lichtenau (Austria) pada 8 September 1932. Ia mula-mula adalah seorang pendeta, tetapi kemudian menjadi professor filsafat di Praha.

Max Wertheimer (1880-1943): Tokoh tertua dari tiga serangkai tokoh-tokoh Psikologi Gestalt ini (bersama-sama dengan Wolfgang Kohler dan Kurt Koffka) dillahirkan di Praha pada tanggal 15 April 1880 dan meninggal 12 Oktober 1943 di New York. Sepertikedua rekannya yang lain, Wertheimer pada suatu saat harus meninggalkan Jerman dan berimigrasi ke Amerika serikat karena alasan-alasan politis. Wertheimer pernah menjadi murid dari Oswald Kulpe di Wurzburg dan mendapatkan gelar Ph.D. di universitas itu tahun 1904. Setelah itu ia bekerja di beberapa tempat antara lain di Praha, Berlin, Wina. Antara 1910-1916 ia bekerja di Universitas Frankrut di mana ia bertemu dengan rekan-rekannya yang kelak mendirikan Psikologi Gestalt: Wolfgang Kohler dan Kurt Koffka. Tiga serangkai itu kemudian bekerja sama melakukan penelitian-penelitian dan eksperimen-eksperimen di Universitas Berlin antara 1916-1920. Pada 1923 Wertheimer kembali ke Universitas Frankfurt dan akhirnya sejak 1933 setelah ia hijrah ke Amerika Serikat, Werheimer bekerja di New School of Social Research di New York sampai meninggalnya.

Wertheimer dianggap sebagai pendiri Psikologi Gestalt pada tahun 1912, bersamaan dengan keluarnya kerta kerjanya yang berjudul “Experimental Studies of the Perception of Movement”. Dalam kertas kerjanya ini ia mengemukakan hasil eksperimennya dengan menggunakan alat yang disebut stroboskop, yaitu alat berbentuk kotak yang diberi alat untuk melihat ke dalam kotak itu. Di dalam kotak terdapat gambar dua buah garis, yang satu melintang dan yang lain tegak. Kedua gambar itu tidak terlihat sekaligus, melainkan berganti-ganti. Mula-mula tampak garis yang melintang, kemudian Nampak garis tegak, kemudian melintang lagi dan demikian seterusnya. Kesan yang akan terjadi adalah akan Nampak bahwa garis itu bergerak dari tegak ke melintang dan sebaliknya terus menerus. Gerak yang disebut gerak stroboskopik ini merupakan gerakan yang asemu, karena sesungguhnya garis-garis itu sendiri tidak bergerak melainkan muncul berganti-ganti. Gejala ini disebut juga sebagai phophenomenon dan dalam kehidupan sehari-hari sering kita jumpai misalnya kalau kita menonton bioskop atau melihat lampu-lampu reklame yang bergerak-gerak.

Menurut Wertheimer, gerak stroboskopik ini tidak dapat diterangkan dengna teori strukturalisme dan elementisme, tetapi hanya dapat diterangkan dengan teori Gestalt, yaitu bahwa seseorang melihat lingkungannya secara menyeluruh. Garis-garis tidak dilihat secara sendiri-sendiri, tetapi dalam hubungan satu dengna yang lainnya. Persepsi yang demikian ini disebut persepsi holistic. Persepsi holistic dalam gerak stroboskopik di atas dimungkinkan karena penglihatan kita tidak hilang demikian sajabersama dengan menghilangnya rangsang, melainkan meninggalkan jejak dari garis yang pertama masih ertinggal di otak, sehingga memungkinkan orang ayng bersangkutan menghubungkan garis yang kedua dengan garis yang pertama dan sebaliknya. Dengan demikian terjadilah kesan gerakan dari garis-garis itu.

Dalam bukunya Investigation of Gestalt Theory (1923), Wertheimer mengemukakan hukum-hukum gestalt untuk pertamakalinya, yaitu sebagai berikut:
  • Hukum kedekatan (law of proximity): hal-hal yang saling berdekatan dalam awaktu atau tempat cenderung dianggap sebagai sautu totalitas. Misalnya garis-garis di samping ini terlihat sebagai tiga kelompok garis-garis masing-masing terdiri dari dua garis, ditambah dengan satu garis yang berdiri sendiri di sebelah kanan sekali.
  • Hukum ketertutupan (law of closure). Hal-hal yang cenderung menutup akan membentuk kesan totalitas tersendiri. Lingkaran di bawah ini akan cenderung dipersepsikan sebagai lingkaran penuh, sekalipun ada bagiannya yang tidak bersambung. Juga garis-garis yang sesungguhnya sama dengan garis-garis di atas akan cenderung dilihat sebagai tiga segi empat dan garis yang berdiri sendiri di kiri, tidak lagi dipersepsikan sebagai tiga pasang garis setelah ada garis-garis melintang yang hampir saling menyambung di antara garis-garis tegak yang berdekatan. Garis-garis melintang itu sudah memberikan Gestalt yang berbeda kepada garis-garis yang tegak, sehingga persepsi kita pun jadi berbeda.
  • Hukum kesamaan (law of equivalence): hal-hal yang mirip satu sama lain, cencerung kita persepsikan sebagai suatu kelompok atau suatu totalitas. Deretan bentuk-bentuk di bawah ini akan cenderung kita lihat sebagai deretan-deratan mendatar dengan bentuk O dan X berganti-ganti dan bukannya akan dilihat sebagai deretan-deretan tegak.

Dalam buku itu Wetheimer mengatakan bahwa sebagai akibat dari hukum-hukum Gestalt di atas, maka terjadilah kecenderungan persepsi spontan, yaitu begitu mempersepsikan suatu gejala, maka akan diberi arti langsung tanpa meneliti terlebih dahulu.

Kurt Koffka (1886- 1941): Lahir di Berlin tanggal 18 Maret 1886, meninggal di Northampton, Massachusetts, Amerika Serikat tanggal 22 November 1941. Memperoleh gelar Doktor pada tahun 1908 di bawah bimbingan C. Stumpf di Berlin dengan tesisi studi empiris tentang irama. Menjadi asisten J. von Fries di Freiburg antara tahun 1906-1908, 1909-1910 menjadi asisten Oswald Kulpe dan K. Marbe di Wurzburg. Sebagai asisten riset dari F. Schurmann di Frankrut pada tahun 1910, ia bertemu dengan Wertheimer dna Kohler, dan bersama kedua orang itu Koffka mendirikan aliran Psikologi Gestalt di Berlin. Pada tahun 1918 menjadi guru besar luar biasa di Giessen sampai tahun 1924. Ia meninggalkan Jerman pada tahun 1924 dan mengajar di universitas-universitas di Amerika Serikat, berturut-turut di Cornell (1924-1925), Clar (1925), Wisconsin (1926-1927) dan Smith College (1927- sampai meninggalnya).

Sumbangan Koffka kepada psikologi adalah penyajian yang sistematis dan pengalaman dari prinsip-prinsip Gestalt dalam rangkaian gejala psikologi, dari mulai persepsi, belajar, mengingat, sampai kepada psikologi belajar dan psikologi sosiall

Sebagai penulis yang produktif, Koffka mengemukakan pikiran-pikirannya tentang Psikologi Gestalt dalam berbagai publikasinya. Pada tahun 1923 ia mulai menerbitkan jilid pertama dari buku Contribution to Gestalt Psychology yang seluruhnya terdiri dari 25 jilid. Pada tahun 1915 dalam bukunya Fundamentals of the Psychology of Perception: A Debate with V. Berusi, Koffka menjawab kritik-kritik yang ditujukan kepada Psikologi Gestalt. Dalam bukunya Principles of Psychological Development: An introduction to Child Psychology (1921) untuk pertama kalinya Koffka mengamalkan prinsip-prinsip Gestalt pada psikologi ANak. Ia percaya bahwa proses perkembangan pada hakikatnya adalah hasil interaksi antara kondisi-kondisi internal dan eksternal dan terdiri dari diferensiasi yang terus menerus dari pengalaman-pengalaman yang sebelumnya kabur. Bukunya Principles of Gestalt Psychology (1935) adalah usaha yang paling komperhensif dari Koffka dalam mempersatukan dan menyajikan pelbagai hasil riset Psikologi Gestalt, termasuk karya-karya Kurt Lewin.

Teori Koffka tentang belajar didasarkan pada anggapan bahwa belajar, sebagaimana tingkah laku lainnya pula, dapat diterangkan dengan prinsip-prinsip organisasi dari Psikologi Gestalt. Beberapa teori Koffka tentang belajar:
  • Salah satu faktor yang penting dalam belajar adalah jejak ingatan (memory trace), yaitu pengalaman-pengalaman yang membekas pada tempat-tempat tertentu di otak. Jejak-jejak ingatan ini diorganisasikan secara sistematis mengikuti prinsip-prinsip Gestalt dan akan dimunculkan kembali kalau kita mempersepsikan sesuatu yang serupa dengan jejak-jejak ingatan tadi.
  • Perubahan-perubahan yang terjadi pada ingatan bersamaan dengan jalannya waktu tidak melekmahkan jejak-jejak ingatan itu (dengan perkataan lain tidak menyebabkan terjadinya lupa), melainkan menyebabkan perubahan jejak, karena jejak ingatan itu cenderung diperhalus dan disempurnakan untuk mendapat Gestalt yang lebih baik dalam ingatan. Detail-detail sedikit demi sedikit hilang, sedang kontras-kontras diperkecil. Dengan demikian, sebuah cerita yang panjang dan berbelit-belit, setelah beberapa saat akan diingat di bagian-bagian tertentu saja dan bagian-bagian yang kurang baik dan kuran gsempurna akan diubah sehingga lebih mendekati Gestalt yang lebih sempurna. Dengan demikian, cerita yang asli bisa berubah setelah beberapa saat. 
  • Latihan-latihan akan memperkuat jejak ingatan.

Woflgang Kohler (1887-1967): Lahir di Reval, Estonia, pada tanggal 21 Januari 1887 dan meninggal di Lebanon, New Hampshire, Amerika Serikat, pada tanggal 11 Juni 1967. Kohler memperoleh gelar Ph.D. pada tahun 1908 di bawah bimbingan C. Stumpf di Berlin. Ia kemudian pergi ke Frankfrut dan sebagai asisten dari F.Schurmann ia berjumpa denga Werheimer dan Koffka. Mereka bertiga kemudian mengadakn eksperimen-eksperimen yang bersejarah itu yang akhirnya membawa mereka kepada berdirinya aliran Psikologi Gestalt, atau disebut juga Aliran Berlin.

Dari tahun 1913- 1920 Kohler bekerja sebagai Direktur Stasiun “Anthropoid” dari akademi ilmu Prusia di Teneriffe, di mana ia melakukan penyelidikannya yang terkenal tentang intelegensi kera. Pada 1921 ia menggantikan jabatan Stumpf sebagai direktur laboratorium psikologi Berlin dan diangkat menjadi professor psikologi dna filsafat pada tahun 1922. Pada tahun 1935 ia meninggalkan Jerman menghindari kekuasaan Nazi dan berimigrasi ke Amerika Serikat. Ia menjadi professor di Swarthmore College sampai ia mengundurkan diri pada tahun 1955. Ia pernah menjadi ketua dari American Psychological Association (APA) pada tahun 1956 dan menerima penghargaan dari perkumulan itu berkat karya-karya ilmiahnya.

Kohler memang tidak seproduktif Koffka dalam karya-karya tulisnya, tetapi nampaknya memang sudah ada pembagian tugas antara tiga serangkaian tokoh gestalt ini: Wertheimer adalah tokoh yang mengemukakan ide-ide, Kohler yang mengadakan eksperimen-eksperimen ide-ide, Koffka yang menulis teori-teori Wertheimer maupun hasil eksperimen –eksperimen Kohler.

Karya Kohler yang palng terkenal adalah penyelidikannya mengenai tingkah laku kecerdasan (intelligent behavior) pada hewan, utamanya pada simpanse. Bertitik tolak dari teori Thorndike yang beranggapan bahwa tingkah laku hewan pada dasarnya adalah tingkah laku coba-salah (trial and error), Kohler membuat eksperimen-eksperimen dengna kera dan membuktikan bahwa pada kera pun terdapat pemahaman (insight).

F. Krueger: Pada tahun 1924 Krueger memperkenalan pada dunia psikologi istilah ganzheit di Leipzig. Ganzheit berasal dari kata Jerman das Ganze yang berarti keseluruhan. Sampai sekarang istilah Gestalt masih dianggap sama dengan Ganzheit, sehingga dalam buku-buku istilah itu sering dicampuradukkan saja. ALiran Ganzheir sering tidak dianggap sebagai aliran tersendiri tokohnya, F. Krueger, sering kali tidak dicatat dalam buku-buku sejarah psikologi.

Sekalipun demikian, Krueger sendiri menyatakan bahwa Ganzheir tidak sama dengan Gestalt. Ganzheit terpisah dari Gestalt dan merupakan perkembangna dari Psikologi Gestalt. Krueger berpendapat bahwa Psikologi Gestalt terlalu menitikberatkan pada masalah persepsi objek. Padahal yang lebih penting menurut Krueger adalah penghayatan secara menyeluruh terhadap ruang dan waktu, bukan hanya persepsi saja atau totalitas objek-objek saja. Konsekuensi dari pendapat ini adalah bahwa tingkah laku harus diamati secara holistic atau molar, yaitu suatu tingkah laku harus dipandang dalam hubungannya dengan tingkah laku lain, baik yang terjadi sebelumnya, sesudahnya atau pada saat yang bersamaan.

Kurt Lewin (1890-1947): MUla-mulai ia tertarik pada paham Gestalt, tetapi kemudian ia mengkritik teori Gestalt karena dianggapnya tidak adekuat. Lewin kurang setuju dengna cara pendekatan yang Aristotelian, yang mementingkan struktur dan is gejala-gejala kejiwaan. Ia lebih cenderung kepada cara pendekatan yang Galilean, yaitu yang mementingkan fungsi kejiwaan. Dalam hubungan ini, Lewin mempelajari motivasi sejak 1914 dna mengadakan penelitian-penelitian tentang intuisi, harapan, substitusi dari tugas dan kejenuhan. Penelitian-penelitiannya membawa Lewin kepada suatu kesimpulkan bahwa persepsi dan tingkah laku seseorang tidak hanya ditentukan oleh bentuk keseluruhan atau sifat totalitas dari rangsang atau emergent, tetapi ditentukan oleh kekuatan-kekuatan (forces) yang ada dalam lapangna psikologis (psychological field) seseorang. Lapangna psikologis ini terdiri dari rangsang-rangsang di luar maupun sistem morivasi dan dorongan-dorongan di dalam diri orang yang bersangkutan. Tiap-tiap unsur dalam lapangna psikologis itu, baik berupa objek maupun dorongna dalam diri, mempunyai vector, yaitu semacam nilai, positit atau negative. Saling pengaruh-mempengaruhi antara vector-vektor inilah yang menghasilkan kekuatan-kekuatan tersebut. Tingkah laku seseorang adalah selalu mempunyai tujuan tertentu dna tujuan itu adalah mencari keseimbangan antara forces tersebut. Misalnya, seseorang yang sudah terlalu lama berdiri di panas matahari akan mengalami terlalu banyak panas sehingga terjadilah vector yang negative dalam unsur panas dan timbul forces yang mendorong orang yang bersangkutan untuk mencari tempat dingin. Sebagai akibatnya terjadilah tingkah laku (disebut oleh Lewin dengan nama locomotion), yaitu orang tersebut pergi berteduh ke tempat sejuk.

Teori Lewin diatas disebut sebagai teori lapangan (field theory) atau disebut juga sebagai topologi (geometri nonmetric dari kekuatan-kekuatan dalam lapangan psikologis). Arah dari tingkah lakuk ditetapkan melalui hodologi, yaitu ilmu tentang arah tingkah laku.

Lewin dilahirkan di Mogilno (Posen) pda tanggal 9 September 1980, dan meninggal pada tanggal 12 Februari 1947 di Newtonville, Massachussets, Amerika Serikat. Jelaslah bahwa Lewin termasuk orang yang harus melarikan diri dari Jerman ke Amerika karena ancaman Nazi. Sebelum berimigrasi ke Aemerika, ia pernah mengajar di Univesitas Berlin antara tahun 1921-1933. Setelah ia berada di Amerika Serikat ia bekerja di Iowa State University dan Massachussets Institute of Technology.

Salah satu teorinya yang bersifat praktis yang penting dikemukakan adlaha teori tentang konflik. Sebagai akibat adanya vector-vektor yang saling bertentangan dan tarik menarik, maka seseorang dalam suatu lapangna psikologis tertentu dapat mengalami konflik yang kalau tidak segera diselesaikan dapat mengakibatkan frustasi dan ketidakseimbangna kejiwaan. Berdasarkan kepada vector-vektor yang saling bertentangan itu, Lewin membagi konflik dlama tiga jenis:
  • Konflik mendekat-mendekat (approach-approach conflict). Konfli ini terjadi kalu seseorang menghadapi dua objek yang sama-sama bernilai positif. Orang itu akan mengalami konflik, karena kalau ia mendekati salah satu objek, maka ia harus melepaskan yang lain yang akan menyebabkannya frustasi karena tidak memperoleh objek kedua tersebut.
  • Konflik menjauh-menjauh (avoidance-avoidance conflict). Konflik ini terjadi kalau seseorang berhadapan dengna dua objek yang sama-sama mempunyai nilai negative tetapi ia tidak bisa menghindari kedua objek itu sekaligus. Kalau ia menghindari objek pertama ia harus mendekati objek kedua yang juga tidak disukainya dan demikian pula sebaliknya.
  • Konflik mendekat-menjauh (approach-avoidance conflict). Dalam konflik ini terdapat hanya satu objek yang mempunyai nilai positif dan negative sekaligus.

Posting Komentar untuk "Teori Psikologi Gestalt Tentang Belajar Menurut Para Ahli + Contoh"

Klik gambar berikut untuk mengunduh artikel ini:

Berlangganan via Email