Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Evaluasi Praktek Intervensi Observasi Dalam Psikologi

Evaluasi Praktek Intervensi Observasi Dalam Psikologi - Bila mendengar istilah psikologi seringkali individu mengasosiasikannya dengan usaha menyembuhkan orang sakit jiwa, bekerja di klinik jiwa, menangani kasus abnormalitas dan sebagainya. Menurut Wiramihardja dalam Prawitasari (2012), menurut American Psychological Association, tugas psikologi terutama psikologi klinis adalah pemberian saran dan rekomendasi agar individu mampu melakukan penyesuaian diri secara patut, sehingga terkesan bahwa yang dihadapi para psikolog klinis adalah orang-orang yang tidak dapat menyesuaikan diri.

Menurut Prawitasari (2012) penyesuaian diri itu sendiri berarti persoalan klinis manusia mungkin lebih bekaitan dengan perilaku, dan bukan masalah saki-sehat. Program yang dapat digunakan untuk menangani kasus yang berkaitan dengan masalah perilaku itu sendiri bisa dicontohkan seperti program pencegahan HIV/AIDS, program pencegahan gangguan perilaku pada anak, program pencegahan bullying dan sebagainya.

Seperti yang sudah disampaikan pada pertemuan sebelumnya, sebelum menyusun program intervensi, tim pekerja sosial perlu melakukan asesmen untuk mengungkap masalah yang terjadi di lapangan. Salah satu metode asesmen yang dapat digunakan adalah metode wawancara. Untuk lebih jelas, dibawah ini akan dijelaskan bagaimana cara mempraktekan wawancara dalam mengungkap sebuah permasalahan di lapangan.

Setelah intervensi diberikan, yang tidak kalah penting untuk dilakukan adalah evaluasi program intervensi. Evaluasi ini ditujukan untuk mengetahui hal apa saja yang menjadi catatan penting selama proses intervensi yang dapat berpengaruh terhadap analisis hasil. evaluasi ini dilakukan untuk mengetahui kesesuaian antara rencana program dengan pelaksanaan intervensi, sehingga dapat dilakukan perbaikan untuk pelaksanaan intervensi pada tahap berikutnya atau menjadi sebuah catatan penting untuk dilaporkan.

Evaluasi Praktek Intervensi Observasi Dalam Psikologi_
image source: lowrieedtech.com
Baca juga: Contoh Praktek Intervensi Sosial Dalam Kehidupan Sehari-Hari

Evaluasi Praktek Wawancara

Wawancara sebagai alat pengumpulan data kualitatif
  • Interview sebagai alat untuk membangun ilmu pengetahuan à melalui interview kita mengungkap sebuah “dunia baru”, dari kacamata responden kita (bukan dari kacamata kita).
  • Interview menjadikan kita sebagai TRAVELER dan MINER à memperoleh gambaran/informasi/ pengetahuan yang beragam/diverse (traveler) dan berkedalaman/mendalam/indepth (miner).

Kualifikasi Pewawancara

  1. KNOWLEDGABLE : menguasai isyu/topik yang digali.
  2. STRUCTURING : mampu menggali secara terstruktur & terarah.
  3. CLEAR : mampu bertanya secara jelas, mudah dipahami, tidak berbelit-belit.
  4. GENTLE : bersedia mendengarkan dan mempu memberi rasa aman & nyaman kepada orang yang diwawancarai.
  5. SENSITIVE : empatik; mampu ‘membaca’ apa yang tersirat dan tersurat dari orang yang diwawancarai.
  6. OPEN : berpikiran terbuka; welcome terhadap pandangan-pandangan subjek.
  7. STEERING : tahu informasi apa yang harus dicari /digali; mampu mengendalikan jalannya wawancara.
  8. CRITICAL : cukup kritis terhadap jawaban orang yang diwawancarai sehingga mampu mengembangkan follow up questions.
  9. REMEMBERING : mampu mengingat dengan baik apa yang telah dibicarakan sehingga pembicaraan selalu nyambung.
  10. INTERPRETING : mampu mencerap dan menginterpretasi jawaban-jawaban subjek sehingga dapat mengembangkan follow up questions.

Guide Wawancara

Pedoman Wawancara (Guide Interview) fungsinya adalah untuk:
  • Memberikan bimbingan pada interviewer tentang pokok-pokok yang harus ditanyakan.
  • Membantu pewawancara agar terfokus pembicaraannya pada arah yang relevan dengan pokok penelitian.

Membuat pedoman wawancara terstruktur:
  • Tentukan tujuan wawancara
  • Buat batasan dari tujuan secara operasional
  • Jabarkan operasionalisasi tujuan dalam rincian

Membuat pedoman wawacara tak tersturktur:
  • Tentukan tujuan wawancara
  • Jabarkan tujuan dalam garis besar informasi yang ingin diperoleh
  • Tuliskan tema-tema atau pokok-pokok bahasan yang harus digali melalui wawancara. 

Contoh membuat guide interview:

Tujuan: “Mengeksplorasi strategi coping remaja korban gempa bumi”.

Definisi konseptual:
  • Remaja : adalah individu dalam kategori usia 12 – 19 tahun.
  • Coping: Lazarus (1979) mendefinisikan coping sebagai “uapaya kognitif maupun perilaku yang ditujukan untuk mengendalikan (to control), menguasai (to master), mereduksi dan mentoleransi tuntutan-tuntutan stressors”. 
Definisi operasional coping:
Menurut Lazarus (1979) coping dapat difahami melalui 2 bentuk: Problem focused coping (mereduksi/mengontrol stress melalui cara-cara problem solving atau berusaha mencari jalan keluar atas masalah yang menimulkan stress) dan Emotional ficused coping (mereduksi/mengontrol stress melalui cara-cara pengelolaan emosi agar tetap seimbang).

Guide wawancara (tema) yang dapat dikembangkan:

1. Profil diri dan keluarga responden:
  • Usia, pendidikan, hobi, dsb.
  • Jumlah anggota keluarga, anak ke berapa, kerja orang tua, dsb.

2. Situasi diri dan keluarga sebelum gempa
  • Aktivitas harian, relasi & komunikasi dalam keluarga.
  • Kawan-kawan sekolah, pelajaran & ekskul sekolah, dsb.

3. Situasi diri dan keluarga pasca gempa
  • Kehilangan apa saja
  • Saudara meninggal atau sakit
  • Aktivitas harian dan sekolah, dsb.

4. Gambaran pikiran dan perasaan pasca gempa
  • Pendapat / pemikiran tentang bencana
  • Perasaan terhadap kehilangan harta dan keluarga, dsb.

5. Deskripsi pemikiran dan tindakan untuk mengatasi masalah yang muncul karena gempa.
  • Perencanaan diri ke depan (sekolah/pendidikan)
  • Upaya mengatasi kehilangan, memenuhi kebutuhan yang muncul
  • Upaya untuk bangkit kembali, dsb.

6. Capaian yang telah didapat dalam mengatasi masalah pasca gempa.
  • Perbaiakan apa saja yang telah didapat
  • Apa yang telah dan yang belum terselesaikan
  • Bagaimana capaian itu menurutnya?, dsb.

Melakukan Wawancara

a. Membangun rapport dulu sebelum masuk ke pertanyaan inti

b Mengembangkan iklim komunikatif :

1. Physical setting:
  • Pengaturan ruang dan tempat duduk
  • Suasana pertemuan
  • Penerangan
  • Performance (penampilan) pewawancara

2. Verbal setting:
  • Pemilihan kata dan kalimat yang sesuai dengan latar belakang responden
  • Intonasi dan gaya bahasa yang memungkinkan responden merasa nyaman
  • Open ended question
  • Follow up questions yang relevan

3. Non Verbal setting:
  • Body language
  • Eye contact
  • Ekspresi wajah

c. Mengobservasi reponden dan responsnya

d.  merekam (dengan seizin responden).

Rapport Building : membangun hubungan baik melalui cara-cara yang membuat interviewee merasa nyaman dan aman (perkenalkan diri, terangkan tujuan wawancara, menjaga kerahasiaan, dsb.)

Good Rapport : menjaga rapport tetap baik, dapat ditunjukkan dengan cara:
  • Menjaga penciptaan suasana nyaman à penuh perhatian, apresiatif terhadap kata-kata reponden, dan tidak men-judgment.
  • Tidak menunjukkan sikap tergesa-gesa, kurang percaya, kurang menghargai jawaban.
  • Mengendalikan jalannya wawancara tanpa menunjukkan sikap superior à rendah hati, terbuka, dan peggunaan bahasa yang bersahabat dalam mengendalikan jalannya wawancara. 

Evaluasi Praktek Observasi

Contoh lembar observasi pada diskusi kelompok

Evaluasi Praktek Intervensi Observasi Dalam Psikologi 2_
Evaluasi Praktek Intervensi Observasi Dalam Psikologi 3_
Evaluasi Praktek Intervensi Observasi Dalam Psikologi 4_

Keterangan :

Penilaian : 1= Jelek sekali, 2 = Buruk, 3 = sedang, 4 = Baik, 5 = Baik Sekali

Evaluasi Praktek Intervensi Observasi Dalam Psikologi 5_


Posting Komentar untuk "Evaluasi Praktek Intervensi Observasi Dalam Psikologi"

Klik gambar berikut untuk mengunduh artikel ini:

Berlangganan via Email