Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Komunikasi, Wawancara, dan Observasi dalam Intervensi Sosial

Komunikasi, Wawancara, dan Observasi dalam Intervensi Sosial - Psikoterapi merupakan metode intervensi yang bertujuan memecahkan kasus yang berhubungan dengan gangguan emosional. Psikoterapi ini dapat diberikan secara individu atau kelompok. Dalam setting sosial, psikoterapi juga dapat digunakan sebagai metode terapi dalam menyelesaikan sebuah permasalahan, pemilihan metode intervensi tentunya disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai.

Dalam modul ini akan membahas mengenai ketrampilan yang harus dimiliki dalam memberikan terapi. Ketrampilan yang harus dimiliki oleh terapis atau tim pekerja sosial dalam memberikan intervensi dalam mengangani masalah sosial, diantaranya adalah ketrampilan dalam komunikasi, ketrampilan dalam wawancara dan ketrampilan dalam observasi.

)Komunikasi, Wawancara, dan Observasi dalam Intervensi Sosial_
image source: jacopovalli.com
baca juga: Pengertian dan Bentuk Terapi Psikologi dalam Intervensi

Komunikasi

Kemampuan komunikasi ini sangat penting sekali dalam proses intervensi dari awal sampai akhir. Komunikasi difungsikan sebagai sarana dan juga proses dalam memberikan informasi dan pengetahuan.

Bentuk-bentuk komunikasi itu sendiri adalah:

1. Komunikasi intrapersonal
Komunikasi intrapersonal adalah komunikasi yang terjadi pada diri inividu itu sendiri, komunikasi ini berupa pengolahan informasi melalui panca indra dan sistem syaraf pada individu.

Contoh komunikasi intrapersonal adalah: evaluasi diri, berpikir, merenung, menuliskan atau menggambar apa yang sedang dirasakan

2. Komunikasi interpersonal
Komunikasi interpersonal adalah komunikasi antar individu atau atau komunikasi yang dilakukan antara seseorang dengan orang lain.

Bentuk komunikasi ini terdiri dari:

  • Lisan : pidato,diskusi,tanya jawab lisan
  • Tulisan: memo, email
  • Non verbal : gerakan tubuh


3. Komunikasi dalam kelompok
Komunikasi dalam kelompok adalah kegiatan komunikasi yang berlangsung dalam satu kelompok atau lebih dari dua orang

Misalnya: diskusi kelompok, rapat,

4. Komunikasi antar kelompok
Komunikasi antar kelompok adalah kegiatan komunikasi yang berlangsung antara kelompok satu dengan kelompok lain

Contoh: diskusi antara tim terapis dengan kelompok masyarakat

5. Komunikasi organisasi
Komunikasi organisasi adalah komunikasi yang berlangsung dalam organisasi. Komunikasi ini erat kaitannya dengan jaringan komunikasi.

Wawancara

Wawancara adalah sebuah komunikasi yang lebih terarah karena ada tujuan yang ingin dicapai pada akhir pertemuan komunikasi. Keterampilan wawancara penting dalam memberikan intervensi. Sebelum memberikan intervensi, peneliti, terapis atau tim pekerja sosial perlu mencari informasi permasalahan yang akan diselesaikan. Pencarian informasi ini dapat menggunakan metode wawancara.

Dalam wawancara seorang pewawancara perlu memperhatikan bentuk komunikasi verbal dan non verbal saat wawancara berlangsung. Selain itu, pewawancara juga harus memiliki keterampilan dalam membuka dan mengahiri wawancara.

Jenis-jenis wawancara yaitu:

1. Wawancara tidak terstruktur
Wawancara ini relatif fleksibel, karena pewawancara tidak menentukan merancang pertanyaan sebelum wawancara dimulai. Wawancara ini mengalir saja mengikuti jawaban-jawaban dari klien.

2. Wawancara semi terstruktur
Pewawancara tidak menentukan atau membuat pertanyaan-pertanyaan yang terstruktur, tetapi hanya membuat poin-poin yang akan dijadikan panduan wawancara.

3. Wawancara terstruktur
Pewawancara sudah menentukan bentuk pertanyaan yang pasti

Observasi

Observasi dalam intervensi sama kedudukannya dengan komunikasi dan wawancara yaitu menggali informasi mengenai permasalahan yang akan diselesaikan dan sarana untuk pengumpulan data. Dalam proses intervensi itu sendiri, observasi ditujukan untuk mengamati proses kegiatan intervensi dari awal sampai akhir.

Dari diskusi pertemuan sebelumnya, banyak yang menanyakan tentang pembuatan blue print. Blue print adalah kisi-kisi dari intervensi yang akan diberikan. Agar intervensi tepat sasaran atau sesuai dengan tujuan yang ingin diberikan, peneliti, terapis atau tim pekerja sosial harus membuat perencanaan yang baik dalam memberikan intervensi. Untuk memahami blue print dalam intervensi, bisa dipahami dengan melihat contoh penelitian yang akan dijelaskan berikut ini.

Untuk lebih jelas dalam memahami contoh kasus pemberikan intervensi, dibawah ini akan di tampilkan contoh intervensi dalam setting pendidikan. Penelitian ini dilakukan oleh Yulia Fitriani, S.Psi.M.A. ketika menyelesaikan pendidikan di Fakultas Psikologi UGM Yogyakarta. Intervensi yang diberikan adalah intervensi relaksasi autogenik untuk meningkatkan regulasi emosi pada siswa SMP. Relaksasi autogenik ini menggunakan pendekatan psikoterapi Rational Emotif Behavior Therapy yang dicetuskan oleh Alber Ellis, atau sering disebut terapi rasional emotif.

Latar Belakang

SMP termasuk dalam usia remaja yang rentan dengan gangguan emosi karena pada masa ini kondisi emosi siswa masih labil dan dipandang sebagai masa transisi dari masa anak-anak menuju masa dewasa; ditandai dengan perubahan fisik yang begitu cepat disertai perubahan psikologis dan sosial. Fase perubahan yang terjadi pada remaja seringkali memicu terjadinya konflik antara remaja dengan dirinya sendiri maupun konflik dengan lingkungan sekitarnya. Apabila konflik-konflik tersebut tidak dapat teratasi dengan baik maka dalam perkembangannya dapat membawa dampak negatif seperti psikopatologi (Amett, 1994).

Kail dan Nelson (1993) mengemukakan bahwa masalah yang dihadapi remaja adalah masalah kontrol emosi, masalah dalam beragama, masalah kesehatan, masalah ekonomi, masalah pendidikan, serta masalah dalam mengisi waktu luang. Kail dan Nelson (1993) juga berpendapat bahwa dalam mengatasi permasalahan setiap remaja berbeda-beda; ada yang mampu memecahkan masalahnya sendiri, namun ada pula remaja yang mengalami kesulitan.

Emosi merupakan faktor psikologis yang mempengaruhi perilaku individu. Menurut Tyson, Linnenbrink, Hill, (2009) emosi dapat muncul ketika siswa berada dalam lingkungan akademisi seperti saat ujian, melakukan tugas yang melebihi batas kemampuan siswa, kegiatan belajar yang membosankan karena guru kurang memiliki keterampilan dalam mengajar, mendapat komentar dari guru, atau umpan balik yang membuat siswa tidak merasa nyaman. Emosi-emosi ini mempengaruhi perilaku dan kemampuan kognitif yang akhirnya mempengaruhi kemampuan siswa dalam memahami dan memproses tugas sekolah. Faktor keluarga juga dapat mempengaruhi emosi siswa.

Engels, English, Evers, Geenen, Gross, Ha, Larsen, Middendorp, Velmuls, (2012) menjelaskan pada masa siswa usia remaja, emosi sering mengakibatkan emosional yang tinggi. Remaja memiliki kesadaran yang lebih tinggi dibandingkan dengan masa anak-anak, akan tetapi secara umum fungsi kontrol pada remaja belum maksimal. Emosi di bagi menjadi dua, emosi positif dan emosi negatif. Emosi negatif seperti marah, sedih, kecewa, gugup dan hawatir. Sedangkan emosi positif seperti senang, bahagia, dan cinta. Setiap individu memiliki cara yang berbeda-beda dalam merespon emosi. Setiap individu diharapkan mampu mengelola emosi yang muncul, atau bisa disebut dengan kemampuan regulasi emosi. Kemampuan regulasi emosi bisa dicontohkan seperti ini, dalam kondisi marah individu bisa saja memukul orang lain, tetapi tidak harus melakukannya, ketika bahagia individu bisa saja tertawa terbahak-bahak, tetapi tidak harus melakukannya, ketika sedih individu bisa saja menangis, tetapi tidak harus melakukannya secara berlebihan, hal ini tergantung bagaimana individu mengelola emosinya (Gross, 2002).

Remaja yang tidak mampu mengelola emosinya dengan baik rentan terhadap gejala depresi, stres, cemas dan gangguan psikis lainnya terutama pada wanita (Larsen, Raffaelli, Richards, Ham, dan Jewel, 1990). Remaja yang mampu mengelola emosinya akan membantu mereka mengatasi stres dalam kehidupannya dan sebagai bekal awal bagi remaja dalam menghadapi kehidupannya mendatang dengan bekal kesehatan mental (Silvers, McRae, Gabrieli, Gross, Remy, Ochsner, 2012). Individu yang mampu mengelola emosinya dengan baik memiliki gejala depresi yang rendah serta memiliki penilaian kembali dalam kognitif yang lebih tinggi (Rusk, Tamir, Rotybaum, 2011).

Regulasi emosi adalah kemampuan seseorang dalam mengendalikan emosinya. Hasil penelitian yang di lakukan oleh Morris, Silk, dan Steinberg (2003) menyatakan bahwa regulasi emosi merupakan pusat dari korelasi antara perilaku dan emosi di kalangan remaja. Remaja yang memiliki regulasi emosi rendah dapat mengalami beragam bentuk psikopatologi remaja, baik dari gangguan internal maupun eksternal. Gangguan internal misalnya, depresi, stres, sedih, cemas. Gangguan eksternal ditandai dengan perilaku disregulasi dan kemarahan. Intensitas sedih yang berlebihan pada remaja erat kaitannya dengan gejala depresi, sedangkan marah yang berlebihan dikaitkan dengan masalah perilaku (Larsen, Raffaelli, Richards, Ham, dan Jewel, 1990).

Meningkatkan keterampilan regulasi emosi pada siswa SMP adalah waktu yang tepat untuk mengeksplorasi proses yang berhubungan dengan regulasi emosi. Morris, Silk, dan Steinberg (2003) menjelaskan ada tiga alasan pentingnya eksplorasi regulasi emosi pada masa remaja. Alasan yang pertama adalah pada masa remaja merupakan masa transisi yang disertai dengan perubahan fisik, psikologis, dan transformasi sosial yang menimbulkan pengalaman emosional yang baru. Penelitian menunjukan bahwa masa remaja memiliki pengalaman emosi yang lebih sering dan intens dari individu yang lebih muda atau lebih tua. Alasan yang kedua banyak hormon, saraf, dan sistem kognitif dianggap mendasari regulasi emosi selama periode remaja. Ketiga, prevalensi berbagai bentuk psikopatologi, termasuk gangguan afektif dan perilaku meningkat secara drastis selama periode remaja. Peningkatan regulasi emosi selama masa remaja dapat membantu individu memahami perbedaan individu dalam kesehatan psikologis dan mengurangi resiko gangguan psikopatologis (Morris, Silk & Steinberg, 2003).

Berdasarkan hasil wawancara dengan Liya Triyani dan Novia Fetri Aliza pada tanggal 14 Mei 2013 sebagai konselor psikologi di Sekolah, menyatakan bahwa permasalahan siswa SMP yang ditangani konselor adalah permasalah regulasi emosi siswa yang masih rendah. Siswa tidak dapat menyembunyikan kemarahannya ketika marah dengan teman atau dengan guru. Bentuk marah siswa di ekspresikan dengan membentak, menyendiri, cemberut, berkata kasar, dan menangis. Ada beberapa siswa yang belum bisa memecahkan masalah yang sedang di hadapinya, misalnya ketika ada teman yang berkata kotor padanya direspon dengan emosi marah seperti menangis, membalas dengan perkataan yang kotor, uring-uringan, bad mood, dan ekspresi emosi marah lainnya. Liza juga mengungkapkan adanya perilaku bulliying yang terjadi pada siswanya. Siswa yang mengalami permasalahan di keluarganya muncul reaksi seperti menangis, melamun dan menyendiri. Selain emosi negatif, emosi positif yang sedang di hadapi siswa seperti bahagia, di ekspresikan dengan berlebihan seperti, tertawa terbahak-bahak, tanpa melihat situasi dan lingkungan.

Berdasarkan wawancara dengan Hakiki Qurrota Ayunin pada tanggal 21 Maret 2013 sebagai guru BK, menyatakan bahwa siswa yang menjadi klien guru BK kebanyakan bermasalah dengan regulasi emosi mereka yang masih rendah. Setelah di lakukan konseling ternyata sebagian besar siswa sedang menghadapi permasalahan di keluarganya seperti kurang mendapatkan perhatian dari orang tuanya, melihat orang tuanya yang sedang bertengkar, bercerai, atau kesulitan ekonomi yang sedang menimpa keluarganya. Tidak mampu mengelola emosinya dalam menghadapi permasalahan keluarga yang sedang terjadi menyebabkan siswa stres. Hal ini berdampak pada kondisi siswa seperti, mudah marah, mudah tersinggung, tertekan kondisi psikisnya, suka menyendiri, tidak konsentrasi di sekolah, bahkan pergi dari rumah, tidak masuk sekolah atau datang ke sekolah tetapi dengan kondisi emosi yang tidak stabil.

Pernyataan yang lain juga diungkapkan oleh Siti Khoiriyatun sebagai guru, wawancara dilakukan pada tanggal 25 Februari 2017 yang menyatakan bahwa regulasi emosi siswa rendah. Regulasi emosi siswa yang rendah ditunjukkan dengan bertengkar dengan teman, seperti menampar temannya sendiri, saling adu mulut, dan berkata kotor. Hal ini terjadi pada siswa kelas 7 sampai 9, akan tetapi permasalahan yang sering muncul dialami oleh siswa kelas 8.

Rendahnya regulasi emosi juga dialami oleh sebagian siswa di SMP, wawancara dilakukan dengan Sriwi Rahayu sebagai guru di sekolah tersebut yang menyatakan ada beberapa siswa yang melakukan tindakan kurang pantas seperti berciuman di musholah sekolah atau ditempat-tempat yang tidak mudah terlihat oleh guru dan teman lainnya. Selain itu sebagian siswa juga ada yang saling bertengkar, saling mengejek, dan berkata hal yang tidak pantas. Ada siswa yang sedang mengalami tekanan batin melakukan tindakan yang mengancam dirinya sendiri yaitu menyayat-nyayat tangannya dengan gunting kuku sampai terluka tetapi siswa tidak merasa sakit. Perilaku yang muncul akibat tidak mampu mengendalikan emosi menyebabkan rendahnya konsentrasi belajar yang berdampak pada prestasi belajar yang rendah pada siswa.

Dari penjelasan di atas, diperlukan sebuah program untuk meningkatkan regulasi emosi pada siswa, sehingga siswa mampu mengendalikan emosinya dalam situasi apapun yang sedang dihadapi. Siswa yang memiliki tingkat regulasi emosi yang tinggi, mampu mengetahui dampak dari emosi yang dialami, sehingga dapat memecahkan permasalahan yang sedang dihadapi terutama yang berkaitan dengan emosinya. Siswa diharapkan lebih berkonsentrasi, tenang, nyaman dan bersemangat dalam belajar baik di sekolah maupun di rumah.

Fasilitator dan Observer

Fasilitator yang digunakan dalam penelitian ini adalah mahasiswa Magister Profesi Psikologi bidang klinis yang sudah mengikuti ujian HIMPSI. Kualifikasi fasilitator adalah menguasai materi tentang pentingnya emosi dan regulasi emosi, menguasai pengetahuan dan teknik-teknik relaksasi autogenik serta berpengalaman sebagai fasilitator relaksasi autogenik.

Observer dalam penelitian ini adalah mahasiswa Magister Sains Psikologi yang sudah mengikuti pembekalan penelitian. Observer dalam penelitian ini bertugas untuk melakukan pengamatan terhadap proses berlangsungnya pelatihan relaksasi autogenik. Pengamatan yang dilakukan observer meliputi kejadian-kejadian yang penting selama pelatihan berlangsung, perilaku peserta saat pelatihan, perilaku fasilitator dalam memandu pelatihan dan kondisi lingkungan pelatihan.

Alat Ukur Regulasi Emosi

Skala regulasi emosi disusun untuk mengungkap regulasi emosi subjek.

Proses Intervensi Relaksasi Autogenik

Blue Print Modul Relaksasi Autogenik

Komunikasi, Wawancara, dan Observasi dalam Intervensi Sosial 2_

Sebelum pelatihan di mulai peneliti berdiskusi dengan guru BK kelas VIII untuk menentukan jadwal pelatihan, tempat, perlengkapan dan membuat surat ijin kepada orang tua. Sesuai saran dari guru BK kelas VIII, surat ijin kepada orang tua dibuat oleh pihak sekolah agar orang tua lebih percaya dan pihak sekolah ikut bertanggung jawas atas pelaksanaan pelatihan.

Pertemuan pertama

Pelatihan pertama dilakukan pada tanggal 24 April 2017 pada pukul 13.00 WIB setelah jam pelajaran berahir. Pertemuan pertama dilaksanakan diruang kelas yang memiliki fasilitas LCD dan sound sistem. Pertemuan pertama diawali dengan pembukaan, fasilitator mengucapkan salam dan doa bersama. Selanjutnya perkenalan antara tim dan peserta. Tim membagikan spidol dan kertas asturo yang sudah dipotong berukuran 5x10 cm yang salah satu sisinya telah ditempel double tipe. Peserta diminta menuliskan nama panggilan dibagian tengah kertas, dipojok kiri atas rahasia kecil mereka, dan dipojok kanan bawah cita-cita mereka setelah 10 tahun kedepan. Kertas tersebut diminta ditempel dada bagian kanan agar mudah dibaca oleh orang lain. Kegiatan ini bertujuan untuk memudahkan saling mengenal antara peserta pelatihan, fasilitator, observer dan peneliti.

Peserta beserta tim berdiri membuat lingkaran, kemudian berkenalan melalui game. Game ini dilakukan dengan cara bertepuk tangan sekali secara bersama-sama kemudian salah satu peserta menyebutkan nama dan sifatnya, misalnya “ aisyah penyayang”, yang kemudian ditirukan oleh semua peserta. Perkenalan ini dilakukan secara berurutan berdasar teman yang ada disebelahnya sampai semua peserta memperkenalkan diri. Dari kegiatan ini ada beberapa peserta yang sulit menentukan sifatnya sendiri, ada juga yang menunjukkan sifat negatifnya. Setelah kegiatan ini peserta dan tim lebih saling mengenal dan terlihat lebih antusias mengikuti pelatihan.

Setelah perkenalan tim menempel kertas planel di papan tulis, kemudian fasilitator menanyakan satu persatu kepada peserta mengenai apa yang menjadi kehawatiran dan harapan mengikuti pelatihan. Harapan peserta adalah bisa menjadi lebih baik, bisa menjadi sukses, lebih semangat belajar, mampu berkonsentrasi dengan baik. Kehawatiran dari mereka adalah di cuci otak, bosan, malas, dan tidak bisa mengikuti pelatihan sampai selesai. Setelah semua peserta mengungkapkan harapan dan kehawatirannya, fasilitator membahas harapan apa yang realistis untuk dicapai setelah mengikuti pelatihan dan membuat kesepakatan agar kehawatiran peserta tidak terjadi. Fasilitator mengajak peserta merumuskan kontrak belajar untuk mencapai harapan peserta tersebut, seperti disiplin datang, menjaga kerahasiaan, mau menerima kritikan dan menggunakan bahasa yang santun selama pelatihan. Kemudain fasilitator menjelaskan kegiatan dan jadwal pelatihan.

Pelatihan dilanjutkan dengan eksplorasi diri, peserta diminta menceritakan pengalaman mengekspresikan emosi mereka, misalnya ketika marah, sedih, kecewa, takut dan ketika bahagia. Sebagian besar peserta menyatakan tidak bisa menyembunyikan emosinya ketika marah atau sedih. Ada beberapa peserta yang menyatakan kalau marah biasanya ngomel-ngomel atau membentak-bentak. Ketika sedih dilampiaskan dengan menangis, malas beraktivitas seperti malas makan dan malas belajar. Ketika bahagia biasanya mereka meloncat girang atau tertawa terbahak-bahak. Masalah yang dapat memancing emosi siswa adalah diejek teman, berbeda pendapat, tidak diperhatikan oleh teman dekat atau “pacar”, tugas sekolah yang terlalu banyak, menyaksikan kondisi di keluarga yang tidak menyenangkan, seperti kedua orang tua yang bertengkar. Sebagian besar peserta belum memahami perbedaan antara emosi positif dan negatif, mereka berpendapat bahwa emosi itu sama dengan marah.

Setelah eksplorasi diri dilanjutkan dengan memberikan pemahaman tentang pentingnya emosi dan regulasi emosi. Fasilitator menyampaikan materi sesuai modul. Fasilitator menyampaikan materi dengan metode ceramah dan tanya jawab. Pada saat penyampaian materi tidak semua peserta mengikuti dengan antusias, ada yang ngobrol sendiri, ada yang gelisah karena ingin segera pulang tetapi ada juga yang fokus memperhatikan. Setelah semua materi disampaikan fasilitator merefleksi kegiatan pada pertemuan pertama. Setelah itu fasilitator menutup pelatihan pertemuan pertama dan mengingatkan kembali jadwa pertemuan berikutnya.

Pertemuan kedua

Pertemuan kedua dilakukan pada tanggal 25 April 2017 dimulai pukul 10.10 dan bertempat di auditorium yang berada di unit I. Kondisi ruang auditorium lebih nyaman daripada ruang kelas, alasannya adalah peserta tidak terganggu oleh aktifitas siswa lain, ruang ber AC, fasilitas LCD dan sound sistem lengkap, kursi nyaman untuk relaksasi, dan lebih mudah untuk di setting leter U. Fasilitator membuka pelatihan dengan salam dan doa bersama. Meskipun pelatihan sudah dimulai tetapi peserta belum siap dan belum konsentrasi untuk mengikuti pelatihan. Peserta masih asyik ngobrol sendiri, ada yang makan jajan, ada yang bercanda sendiri. Kemudian fasilitator memberikan waktu 10 menit kepada peserta untuk menyiapkan diri mengikuti pelatihan. Setelah peserta lebih tenang, fasilitator memulai pelatihan dengan permainan berupa senam otak. Peserta diminta berdiri dan fasilitator menunjukkan contoh gerakan senam otak yang kemudian ditirukan oleh peserta. Kemudian fasilitator menunjukkan vidio senam otak yang mencontohkan gerakan senam otak dan diiringi musik yang membuat peserta lebih tertarik. Peserta cukup antusias melakukan permainan ini dan mengikuti instruksi dengan baik. Setelah permainan selesai, peserta masih terlihat ramai membahas game yang baru saja dimainkan. Fasilitator tidak langsung menyampaikan materi selanjutnya tetapi mengkondisikan peserta terlebih dahulu agar lebih tenang, dengan menanyakan apa yang dirasakan mereka saat ini.

Setelah peserta cukup terkondisikan, fasilitator melanjutkan materi dengan memberikan pemahaman tentang adanya keterkaitan antara kondisi tubuh dan pikiran atau perasaan, tujuan, manfaat dan bagaimana cara melakukan latihan relaksasi autogenik. setelah materi selesai disampaikan, fasilitator melakukan tanya jawab kepada peserta terkait dengan materi yang sudah disampaikan. Setelah materi pemahaman selesai disampaikan, fasilitator memulai praktek relaksasi autogenik, sebelum praktek dimulai fasilitator memilta peserta mengambil posisi duduk senyaman mungkin, melepas jam tangan dan cincin, duduk tidak saling berdempetan dengan temannya. Setelah terkondisikan, fasilitator memulai instruksi relaksasi autogenik. Pada saat relaksasi, lampu listrik yang menyala dikurangi dan korden jendela ditutup agar tidak silau dan mengganggu subjek. Pada awalnya peserta belum terlihat konsentrasi, tubuhnya masih gerak-gerak, memainkan kakinya, membuka matanya dan melihat sekelilingnya, akan tetapi lama kelamaan peserta mengikuti instruksi relaksasi autogenik dengan baik.

Setelah latihan relaksasi berahir, fasilitator melakukan refleksi kepada peserta dengan menanyakan apa yang mereka rasakan setelah relaksasi. Ada peserta yang menjawab lebih nyaman, lebih tenang ada pula yang menjawab biasa-biasa saja, pusing dan tidak ada bedanya dengan kondisi sebelumnya. Setelah refleksi, tim membagikan lembar tugas rumah dan instruksi relaksasi autogenik. Fasilitator menjelaskan tugas rumah, peserta melakukan relaksasi autogenik di rumah ketika menghadapi peristiwa tertentu yang membuat gejolak emosi. Peserta diminta menuliskan kondisi sebelum relaksasi dan setelah melakukan relaksasi. Pertemuan kedua ditutup dan fasilitator mengingatkan kembali jadwal pertemuan berikutnya.

Pertemuan ketiga

Pertemuan dilakukan pada tanggal 29 April 2017, pukul 10.10 bertempat di auditorium. Peserta sudah lebih siap untuk mengikuti pelatihan dibanding pertemuan berikutnya, akan tetapi ada tiga orang siswa yang masih jajan di kantin sehingga pelatihan tidak langsung bisa dimulai. Di pertemuan ini ada satu peserta yang tidak bisa hadir karena ada saudaranya yang meninggal dunia. Setelah semua peserta hadir di ruangan, fasilitator membuka pelatihan dengan salam dan doa. Fasilitator mereview kemabali pertemuan sebelumnya secara singkat. Untuk mengkondisikan peserta agar lebih antusias dan bersemangat fasilitator memberikan game mirror kepada peserta. Peserta diminta berdiri dan berpasangan. Satu orang menjadi cermin dan satu orang menjadi yang bercermin. Game ini diiringi dengan musik yang membuat suasana menjadi lebih menyenangkan untuk melakukan game. Setelah game selesai, peserta terlihat senang dan bersemangat.

Fasilitator menanyakan apa yang dirasakan peserta saat ini, sebagian peserta merasa senang tetapi ada yang mengatakan biasa-biasa saja. Kemudian fasilitator membahas tugas rumah pada pertemuan sebelumnya. Semua peserta tidak ada yang mengerjakan tugas rumah, ada yang beralasan tidak ada kejadian yang membuat emosi bergejolak, instruksi relaksasi terlalu panjang dan merasa tidak nyaman kalau melakukan relaksasi sendirian. Fasilitator menyampaikan bahwa melakukan relaksasi tidak harus persis sesuai dengan instruksi yang diberikan, tetapi bisa dilakukan secara ringan, seperti pejamkan mata, atur nafas, lakukan sugesti pada diri sendiri bahwa anggota tubuhnya hangat, pikirannya tenang, jantung berdetak teratur, dan relaksasi ini bisa dilakukan sambil duduk atau berbaring.

Setelah membahas tugas rumah, peserta dan ruang terkondisikan kemudian fasilitator memulai instruksi relaksasi. Setelah selesai relaksasi, fasilitator melakukan refleksi dan mengingatkan kembali tugas rumah. Pelatihan ditutup dan peserta diingatkan untuk jadwal pelatihan berikutnya.

Pertemuan keempat

Jadwal pertemuan keempat yang sudah direncanakan sejak awal adalah tanggal 30 April 2017, akan tetapi pada tanggal tersebut terpaksa dibatalkan karena semua guru dan siswa ta’ziah. Dengan demikian, pertemuan keempat dilaksanakan pada tanggal 2 Mei 2017 yang sebelumnya direncanakan sebagai jadwal pertemuan kelima.

Pada pertemuan ini pelatihan dilakukan pada jam 10.10 WIB di ruang auditorium yang terletak di unit I. Fasilitator membuka pelatihan dengan salam dan doa, kemudian fasilitator menanyakan kabar dan apa yang mereka rasakan saat ini. Selain itu fasilitator juga mengingatkan kegiatan pelatihan pada pertemuan sebelumnya. Peserta satu persatu bercerita tentang apa yang mereka rasakan saat ini, sebagian besar peserta bercerita tentang kecemasan dan kesedihan yang dirasakan karena musibah yang menimpa temannya beberapa hari yang lalu. Kemudian fasilitator menanyakan apakah mereka mengerjakan tugas rumah, yaitu mempraktekkan relaksasi autogenik ketika ada peristiwa yang menyebabkan gejolak emosi. Sebagian peserta melakukan relaksasi autogenik ringan, seperti berbaring sambil memejamkan mata, kemudian mengatur nafas, mengarahkan pikiran menjadi tenang. Mereka merasa nyaman dan lebih tenang setelah melakukan relaksasi tersebut.

Setelah membahas tugas rumah, fasilitator menayangkan sebuah vedio berdurasi lima menit, yang berupa film kartun yang isi pesannya adalah setiap individu diberi kekuatan untuk menghadapi setiap masalah seberat apapun. Kegiatan ini bertujuan untuk memusatkan perhatian peserta dan meningkatkan antusias peserta untuk mengikuti pelatihan. Setelah peserta lebih tenang fasilitator memulai instruksi relaksasi autogenik.

Setelah relaksasi selesai fasilitator menanyakan apa yang peserta rasakan setelah relaksasi. Sebagian peserta menyatakan lebih nyaman dan tenang, tetapi ada peserta yang tidak bisa konsentrasi selama relaksasi. Peserta tersebut tampak gelisah dan tidak tenang selama relaksasi berlangsung. Fasilitator mengajak peserta untuk berbagi pengalaman selama mengikuti pelatihan relaksasi autogenik. Ada sebagian peserta yang menyatakan dirinya lebih nyaman, lebih tenang, lebih memahami apa itu emosi dan bagaimana cara mengelolanya setelah mengikuti pelatihan. Tetapi ada peserta yang juga menyatakan bahwa dia tidak merasakan perbedaan apa-apa, merasa biasa-biasa saja, dan ada yang menyampaikan masih merasa takut.

Pelaksanaan Posttest
Posttest dilakukan setelah intervensi selesai dilaksanakan, dengan memberikan skala regulasi emosi.

Pelaksanaan Follow Up
Pelaksanaan follow up dilakukan setelah 10 hari dari pelaksanaan posttest yaitu pada tanggal 12 Mei 2017.


Sekian artikel tentang Komunikasi, Wawancara, dan Observasi dalam Intervensi Sosial.

Posting Komentar untuk "Komunikasi, Wawancara, dan Observasi dalam Intervensi Sosial"

Klik gambar berikut untuk mengunduh artikel ini:

Berlangganan via Email