Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pengertian dan Peran Pekerja Sosial dalam Intervensi Sosial

Pengertian dan Peran Pekerja Sosial dalam Intervensi Sosial - Intervensi dalam psikologi klinis kaya akan teori, konsep, metode dan teknik. Intervensi klinis lebih dikenal atau dapat di terapkan pada individu, keluarga maupun kelompok. Padahal intervensi klinis dapat diterapkan atau dapat berkiprak pada lingkup yang lebih luas, misalnya untuk organisasi, masyarakat, pengambilan kebijakan, dan di dunia global. Intervensi ini juga dapat diterapkan dalam berbagai sistem, seperti sistem pendidikan, kesehatan, sistem kerja, sistem pengambilan kebijakan dan sebagainya.

Kita lebih sering mengenal atau kekhasan bentuk intervensi psikologi adalah layanan secara individual, pasangan, keluarga atau kelompok, dimana klien datang pada biro psikologi dan membayar sesuai tarif tertentu. Padahal pada kenyatannya, kondisi masyarakat kita masih banyak yang miskin, tidak mampu jika harus membayar jasa psikolog saat mereka mengalami depresi, kecemasan atau gangguan psikologis lainnya. Bahkan masih banyak masyarakat kita yang kurang tahu atau bahkan tidak tahu harus pergi atau mencari solusi kemana ketika mereka mengalami masalah psikologis.

Masih banyak masyarakat yang kurang tahu peran dari ilmuan psikologi maupun psikolog. Hanya masyarakat yang berpendidikan tinggi atau memiliki kemampuan ekonomi yang cukup yang bersedia menggunakan jasa psikolog. Bukankah sudah saatnya psikologi terutama klinis berkiprah untuk mengakomodasi kebutuhan masyarakat yang lebih luas?

Untuk terapan yang lebih luas, pemberian intervensi sosial tidak akan mampu bekerja sendiri. Perlu adanya kerja sama dengan profesi lain dan dari disiplin lain. Psikolog yang menangani masalah kasus pribadi bisa saja bekerja secara sendiri, akan tetapi psikolog yang menangani masalah makro tidak dapat bekerja sendiri. Contohnya, dalam kesehatan, psikolog tidak dapat bekerja sendiri, meskipun yang ditangani masih lingkup individu. Psikolog disini akan berada dalam tim multidisiplin seperti dokter, perawat, ahli gizi, farmakolog, menejemen rumah sakit dan sebagainya. Dalam lingkup sosial multidisiplin akan lebih luas lagi dari berbagai disiplin ilmu dan profesi. Orang yang bekerja menyelesaikan masalah sosial sering disebut sebagai pekerja sosial.

Pengertian dan Peran Pekerja Sosial dalam Intervensi Sosial_
image source: www.ask.com
baca juga: Pengertian dan Fungsi Intervensi Sosial dalam Psikologi

Pekerja Sosial

Di Indonesia pekerja sosial masih orang mengenal pekerja sosial sebagai bidang keahlian bagi masyarakat Indonesia, sedangkan pemahaman tentang maksud dari pekerja sosial masih belum diketahui secara tepat dan detail. Ada anggapan bahwa pekerja sosial yang profesional bisa dilaksanakan oleh siapa saja tanpa perlu memasuki pendidikan secara khusus. Padahal seorang pekerja sosial dapat dikatakan profesional apabila telah mengikuti jenjang pendidikan formal tersebut.

Menurut International Federation of Social Worker (IFSW) pekerja sosial adalah : the social work profession promotes problem solving in human relationships, social change, empowerment and liberation of people, and the enhancement of society. Utilizing theorities of human behavior and social system, social work intervenes at the point where people interact with their environtment. Principles of human right and social justice are fundamental to social work. (Tan and Envall dalam Abdurroup)

Menurut Suharti dalam Abdurroup, profesi pekerja sosial mendorong pemecahan masalah dalam kaitannya dengan relasi kemanusiaan, perubahan sosial, pemberdayaan, dan pembebasan manusia serta perbaikan masyarakat. Menggunakan teori-teori perilaku manusia dan sistem-sistem sosial, pekerja sosial melakukan intervensi pada titik (atau situasi) dimana orang berinteraksi dengan lingkungannya. Prinsip-prinsip hak asasi manusia dan keadilan sosial sangat penting bagi pekerjaan sosial.

Praktek pekerja sosial dapat membantu terwujudnya suatu usaha kesejahteraan sosial. Praktek pekerjaan sosial tersebut dilandasi oleh tiga komponen penting yang menjadi bagian dari landasan praktek pekerja sosial, yaitu :
  1. Pengetahuan
  2. Keterampilan
  3. Sikap

Pengetahuan dan keterampilan merupakan penerapan ilmu sosial dalam praktek pekerjaan sosial, sedangkan komponen sikap merupakan landasan sikap provesional dalam pekerjaan sosial.

Dalam pembangunan berbangsan dan bernegara yang adil dan makmur, unsur sosial dalam pembangunan perlu diperhatikan secara khusus. Apabila kebutuhan sosial masyarakan mendapat perhatian yang khusus, akan berpengaruh terhadap perubahan pada kesejahteraan masyarakat dan hasil pembangunan dapat dinikmati masyarakat. Layanan masyarakat harus ditinggkatkan untuk mencapai kesejahteraan sosial.

Peningkatan kualitas, tidak terlepas dari peningkatan sumber daya manusia, serta penggunaan metode dan teknik yang tepat terkait dengan penanganan masalah sosial. Disinilah peran Blog Psikologi dan ilmu lainnya yang mendasari intervensi sosial yang tepat dalam pembangunan kesejahteraan sosial.

Masalah sosial yang tidak dapat diselesaikan oleh individu, keluarga dan kelompok masyarakat, membutuhkan bantuan dari pihak lain. Diperlukan usaha untuk rehabilitasi agar masalah sosial yang muncul dapat dicegah sedini mungkin.

Menurut Abdurroup, tugas pokok pekerja sosial adalah:
  1. Pembangunan sosial yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sebagai keseluruhan
  2. Pemecahan masalah sosial yang telah ada
  3. Pencegahan terhadap masalah sosial sebelum timbul

Salah satu hambatan dalam tercapainya kesejahteraan umum dalam masyarakat adalah ketidakmampuan warga masyarakat dalam menjalankan fungsinya dan atau pengaturan sumber daya masyarakat yang kurang sesuai dengan kebutuhan anggota masyarakat. Masalah tersebut menyebabkan keterlantaran, kemiskinan, kenakalan anak, perpecahan keluarga dan penyakit. Adakalanya sistem sosial tempat masalah-masalah ini timbul memiliki kemampuan dan sumber daya yang cukup untuk mengatasi sendiri. Namun jika kemampuan dan suber daya tersebut tidak memadai maka diperlukan intervensi dari luar sistem misalnya oleh seorang pekerja sosial (Abdurroup).

Sebelum memberikan intervensi yang tepat, pekerja sosial perlu mengadakan asesmen untuk memahami permasalahan atau situasi yang terjadi pada masyarakat. Situasi-situasi tersebut dipahami dari gabungan antara faktor fisik, psikologis, sosial, dan spiritual. Dengan kata lain, kebutuhan manusia dan sumber-sumber untuk memenuhi kebutuhan tersebut dipandang sebagai kesatuan yang saling terkait. Akses terhadap sumber kelangsungan hidup seperti, pendidikan, kesehatan, dan pekerjaan adalah faktor yang sangat penting dalam asesmen. Oleh karena itu, intervensi sosial untuk perubahan biasanya difokuskan pada individu, keluarga, komunitas dan lingkungan.

Menurut Supit, Albert, Robert dan Greene, 2008 menjelaskan keterampilan dalam intervensi sosial dibafokuskan menjadi dua bagian :

1. Lingkup mikro.
Lingkup mikro terdiri dari individu, keluarga dan kelompok kecil. Pada lingkup ini intervensi ditujukan untuk menangani situasi dengan memberikan pemahaman bahwa mereka merupakan bagian dari pelaku perubahan sosial yang diharapkan.

2. Lingkup makro
Lingkup makro merupakan lingkup komunitas luas. Pada lingkup ini intervensi ditujukan untuk membantu mengembangkan sumber daya dan merencanakan sebuah layanan untuk pemenuhan kebutuhan dan keutuhan masyarakat.

Menurut Sutarso Pekerja sosial memiliki tujuan yang akan dicapai, diantaranya:
  1. Meningkatkan kemampuan orang untuk menghadapi tugas-tugas kehidupannya dan kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya.
  2. Mengkaitkan orang dengan sistem-sistem yang dapat menyediakan sumber pelayanan dan kesempatan yang dibutuhkan
  3. Meningkatkan kemampuan pelaksanaan sistem tersebut secara efektif dan berprikemanusiaan
  4. Memberikan sumbangan bagi perubahan, perbaikan, dan perkembangan kebijakan serta perundang-undangan

Tanggung jawab seorang pekerja sosial adalah menerapkan pengetahuan dalam pemecahan masalah. Didalam prakteknya pekerja sosial didasarkan atas pengetahuan dan keterampilan yang diorientasikan melalui tindakan, pengetahuan ini meliputi :
  1. Human behavior and social environnment
  2. Social welfare system
  3. Methods of social work
  4. Research.

Brill dan Leonora Serafica de Guzman menyatakan bahwa pekerja sosial hendaknya memiliki keterampilan berupa:

1. Diferential Diagnosis.
Setiap individu dalam masyarakat memiliki perbedaan-perbedaan tertentu diantaranya, tingkat pendidikan, tingkat pemahaman, karakter dan masalah yang dihadapi. Seorang pekerja sosial harus bisa memahami perbedaan-perbedaan tersebut dan memberikan perlakuan atau memberikan penanganan sesuai dengan karakteristik masing-masing individu.

2. Timing
Pada dasarnya, permasalahan baik pada individu maupun sosial akan terjadi secara terus menerus. Dalam memberikan intervensi, pekerja sosial harus memiliki keterampilan time scedule yang bagus karena dibatasi oleh waktu. Hal ini dapat membantu penyelesaian masalah secara cepat dan tepat.

3. Partialization.
Masalah yang terjadi pada lingkup sosial, pada dasarnya komplek dan komprehensif. Pekerja sosial harus mempunyai keterampilan untuk memilah-milah masalah yang terjadi. Kemudian membantu merumuskan darimana pemecahan masalah dimulai.

4. Focus.
Masalah sosial mempunyai banyak dimensi dan masing-masing dimensi saling berinteraksi. Untuk itu pekerja sosial harus mampu memfokuskan salah satu dimensi sebagai point of entry

5. Establishing partnership
Keterampilan ini berhubungan dengan kemampuan kerjasama antara pekerja sosial denga klien dalam memahami tugas masing-masing dalam pemecahan masalah.

6. Structur
Pekerja sosial harus memiliki keterampilan dalam mengatur proses intervensi termasuk yang berkaitan dengan jadwal, tempat dan hal apa saja yang diperlukan.


Sekian artikel tentang Pengertian dan Peran Pekerja Sosial dalam Intervensi Sosial.

Posting Komentar untuk "Pengertian dan Peran Pekerja Sosial dalam Intervensi Sosial"

Klik gambar berikut untuk mengunduh artikel ini:

Berlangganan via Email