Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pengertian Tes Eysneck, Kegunaan, dan Metode Tes Eysenck

Pengertian Tes Eysneck, Kegunaan, dan Metode Tes Eysenck - Teori kepribadian dari Eysenck mempunyai komponen biologis dan psikometri yang kuat. Akan tetapi, Eysenck berargumen bahwa kecanggihan psikometri saja tidak cukup untuk mengukur struktur kepribadian manusia dan dimensi kepribadian yang didapatkan dari metode analisis faktor yang bersifat steril dan tidak bermakna, kecuali jika sudah terbukti mempunyai suatu ekstensi biologis. Dengan asumsi tersebut, Eysenck membuat daftar empat kriteria dalam mengidentifikasikan suatu faktor, yaitu:
  1. Bukti psikometrik untuk eksistensi faktor harus ditentukan. Kesimpulan dari kriteria ini adalah bahwa faktor harus reliabel dan dapat direplikasi. Peneliti lainnya, dari laboratorium terpisah, juga harus dapat menemukan faktor tersebut, dan secara konsisten mengidentifikasikan ekstraversi, neurotisme, dan psikotik yang ditemukan oleh Eysenck.
  2. Faktor harus mempunyai keterwarisan (herbility) dan harus sesuai dengan model genetis yang sudah dikenal sebelumnya. Kriteria ini mengeliminasi karakteristik yang dipelajari, seperti kemampuan untuk mengimitasi suara-suara dari orang-orang terkenal atau keyakinan agama ataupun politik.
  3. Faktor harus masuk akal saat dipandang dari segi teoretis. Eysenck menggunakan metode deduktif dalam melakukan investigasi, dimulai dengan satu teori, kemudian mengumpulkan data yang konsisten secara logis dengan teori tersebut.
Untuk eksistensi suatu faktor adalah bahwa faktor harus mempunyai relevansi sosial, yaitu harus ditunjukkan bahwa faktor yang didapatkan secara matematika harus mempunyai hubungan (tidak harus hubungan kasual) dengan variabel sosial yang relevan, seperti kecanduan obat-obatan, kerentanan akan cedera yang tidak disengaja, performa cemerlang dalam olahraga, perilaku psikotik, kriminalitas, dan lain-lain.

Pengertian Tes Eysenck, Kegunaan, dan Metode Tes Eysenck_
image source: www.internship-global.com
baca juga: Pengertian, Kegunaan, dan Metode Tes MBTI Menurut Para Ahli

Hierarki Organisasi Perilaku

Eysenck mengenali suatu hierarki empat level dalam pengorganisasian perilaku, yaitu:
  1. Level terendah adalah kognisi atau tindakan spesifik, perilaku atau pikiran individual yang mungkin ataupun tidak merupakan karakteristik dari seseorang. Seorang murid yang menyelesaikan tugas membaca merupakan salah satu contoh dari respons spesifik.
  2. Level kedua adalah tindakan atau kognisi yang umum, yaitu respon yang terjadi secara berulang dalam kondisi yang serupa. Sebagai contoh, apabila seorang murid sering bertahan dengan suatu tugas sampai suatu tugas itu selesai, maka perilaku ini dapat menjadi respons yang umum. Kebalikan dari respons spesifik, respons yang umum harus cukup reliable atau konsisten.
  3. Level ketiga, beberapa respon umum yang saling berhubungan akan membentuk suatu sifat. Eysenck mendefinisikan sifat sebagai “disposisi kepribadian yang penting dan semi permanen”. Sebagai contoh, murid akan mempunyai sifat tekun apabila mereka biasanya menyelesaikan tugas kelas dan terus bekerja pada tugas-tugas lain sampai benar benar selesai.
  4. Level keempat, yaitu tipe atau superfaktor. Suatu tipe terdiri dari beberapa sifat yang saling berkaitan. Sebagai contoh, ketekunan dapat berkaitan dengan inferioritas, penyesuaian emosional yang buruk, sifat pemalu secara sosial, dan beberapa sifat lainnya, yang kesemuanya dapat membentuk tipe introversi. 

Dimensi Kepribadian

Eysenck berargumen bahwa setiap faktor memenuhi empat kriteria yang ia berikan untuk mengidentifikasikan dimensi kepribadian. Pertama, bukti psikometrik yang kuat harus ada dalam setiap faktor, terutama faktor E dan N. Faktor P mencul belakangan dalam studi yang dilakukan Eysenck, namun tidak terlalu diperhatikan dengan serius oleh peneliti lain sampai pada pertengahan tahun 1990-an. Kedua, Eysenck berargumen bahwa dasar biologis yang kuat terdapat dalam masing-masing superfaktor tersebut. Ketiga, tiga dimensi kepribadian Eysenck masuk akal secara teoretis. Carl Jung dan yang lainnya telah melihat efek yang berpengaruh dari perilaku ekstraversi dan introversi (faktor E), dan Sigmund freud menekankan pentingnya kecemasan (faktor N) dalam pembentukan perilaku. Selain itu, psikotik (faktor P) selaras dengan para pakar teori seperti Abraham Maslow, yang menggegas bahwa kesehatan psikologis mencakup dari aktualisasi diri 9skor P rendah) sampai skozofrenia dan psikosis (skor P tinggi). Keempat, Eysenck berulang kali memperlihatkan bahwa ketiga faktor berkaitan dengan isu sosial, seperti penggunaan obat obatan terlarang, perilaku seksual, kriminalitas, mencegah kanker dan penyakit jantung, serta kreativitas.

Ekstraversi

Konsep yang dimiliki Eysenck mengenai ekstraversi dan introversi lebih dekat dengan penggunaan popular dari kedua istilah ini. Orang-orang ekstrover mempunyai karakteristik utama, yaitu kemampuan bersosialisasi dan sifat impulsif, senang bercanda, penuh gairah, cepat dalam berpikir, optimis, serta sifat-sifat lain yang mengindikasikan orang-orang yang menghargai hubungan mereka dengan orang lain.

Orang-orang introvert mempunyai karakteristik sifat-sifat yang berkebalikan dari mereka yang ekstrover. Mereka dapat dideskripsikan sebagai pendiam, pasif, tidak terlalu bersosialisasi, hati-hati, tertutup, penuh perhatian, pesimistis, damai, tenang, dan terkontrol. Akan tetapi, menurut Eysenck, perbedaan paling mendasar antara ekstraversi dan introversi bukan terletak pada perilaku, melainkan pada sifat dasar biologis dan genetiknya.

Eysenck yakin bahwa penyebab utama perbedaan antara orang ekstrover dan introvert adalah tingkat rangsangan kortikal-suatu kondisi fisiologis yang sebagian besar diwariskan secara genetic daripada dipelajari.oleh karena orang ekstrover mempunyai tingkat rangsangan kortikal yang lebih rendah daripada yang introvert, mereka mempunyai ambang sensoris yang lebih tinggi sehingga akan bereaksi lebih sedikit pada stimulus sensoris. Sebaliknya, orang-orang introvert mempunyai karakteristik berupa tingkat rangsangan kortikal yang lebih tinggi, sehingga mempunyai ambang sensoris yang lebih rendah dan mengalami reaksi yang lebih banyak pada stimulus sensoris.

Neurotisme

Seperti ekstraversi-introversi, neurotisisme-kestabilan mempunyai komponen hereditas yang kuat. Eysenck menyatakan bahwa beberapa penelitian yang menemukan bukti dasar genetik dari trait neurotik, seperti gangguan kecemasan, histeria, dan obsesif- kompulsif. Juga ada keseragaman antara orang kembar-identik lebih dari kembar- fraternal dalam hal jumlah tingkah laku antisosial dan asosial seperti kejahatan orang dewasa, tingkah laku menyimpang pada anak-anak, homoseksualitas, dan alkoholisme.

Orang-orang yang mempunyai skor tinggi dalam neurotisme mempunyai kecenderungan untuk bereaksi berlebihan secara emosional, dan mempunyai kesulitan untuk kembali ke kondisi normal setelah tersimulasi secara emosional. Mereka sering mengeluhkan gejala-gejala fisik, seperti sakit kepala dan sakit punggung, serta mempunyai masalah psikologis yang kabur, seperti kekhawatiran dan kecemasan.Akan tetapi, neurotisme tidak selalu mengindikasikan suatu neurosis dalam artian tradisional dari istilah tersebut. Orang dapat saja mempunyai skor tinggi dlam neurotisme, tetapi terbebas dari gejala psikologis yang bersifat menghambat.

Neurotisme dapat dikombinasikan dengan titik-titik yang berbeda-beda dalam skala ekstravers, tidak ada satu sindrom yang dapat mendefinisikan perilaku neurotis.Teknik analisis factor Eysenck mengasumsikan indepedensi factor-faktor, yaitu bahwa skala neurotisme mempunyai sudut siku-siku dengan skala ekstraversi (mengindikasikan kolerasi nol). Oleh karena itu, beberapa orang dapat mempunyai skor yang tinggi dalam skala N, tetapi menunjukkan gejala-gejala yang berbeda, bergantung pada derajat ekstraversi atau introversi mereka.

Psikotik

Teori awal Eysenck mengenal kepribadian didasari oleh dua dimensi kepribadian- ekstraversi dan neurotisme. Setelah beberapa tahun merujuk psikotik (P) secara tidak langsung sebagai faktor independen kepribadian, Eysenck akhirnya menaikkannya ke posisi yang setara dengan E dan N. Seperti ekstraversi dan neurotisme, P adalah faktor yang bersifat bipolar, dengan psikotik dalam satu kutub dan superego dalam kutub yang lainnya. Orang dengan skor P tinggi biasanya egosentris, dingin, tidak mudah menyesuaikan diri, impulsif, kejam, agresif, curiga, psikopatik, dan antisosial. Orang dengan skor psikopatik yang rendah (yang mengarah pada fungsi superego) cenderung bersifat altruis, mudah bersosialisasi, empati, peduli, kooperatif, mudah menyesuaikan diri, dan konvensional.

Eysenck memiliki hipotesis bahwa orang-orang yang memiliki skor psikotik yang tinggi mempunyai “predisposisi untuk menyerah pada stres dan mempunyai penyakit psikotok” yang tinggi. Model diatesis-stres ini mengidendikasikan bahwa orang-orang yang mempunyai skor P yang tinggi, secara genetis lebih rentan terhadap stres dari pada yang mempunyai skor P yang rendah. Pada periode stres yang rendah, orang dengan skor P tinggi masih dapat berfungsi dengan normal, tetapi saat tingkat psikotik yang tinggi berinteraksi dengan kadar stres yang juga tinggi, orang tersebut menjadi lebih rentan terhadap gangguan psikotik. Sebaliknya, orang dengan skor P rendah tidak terlalu rentan pada psikosis yang berhubungan dengan stres, dan mungkin tidak akan mengalami kehancuran secara psikotik pada periode stres yang ekstrem. Menurut Eysenck, semakin tinggi skor psikotik, semakin rendah kadar stres yang dibutuhkan untuk menimbulkan reaksi psikotik.

Dengan demikian, pandangan Eysenck terhadap kepribadian memperbolehkan setiap orang untuk diukur dalam tiga faktor yang independen, dan skor yang dihasilkan akan dipetakan pada ruang dengan tiga koordinat. Sebagai contoh, orang F pada gambar dibawah memiliki skor yang cukup tinggi pada superego, tinggi pada ekstraversi, dan berada mendekati titik tengah pada skala neurotisme/stabilitas. Dalam bentuk yang serupa, skor dari masing-masing orang dapat di dalam ruang tiga dimensi.

Mengukur Kepribadian

Eysenck mngembangkan empat inventori kepribadian yang mengukur superfaktor yang digagasnya, yaitu:
  1. Maudsley Personality Inventory (MPI), inventori ini hanya mengkaji E dan N, serta menghasilkan beberapa kolerasi dari kedua faktor tersebut.
  2. Eysenck Personality Inventory (EPI). Alat tes EPI ini memiliki skala kebohongan, untuk mendeteksi kepura-puraan, tetapi yang penting tes tersebut mengukur ekstraversi dan neurotisme secara independen, dengan kolerasi yang hampir 0 antara E dan N.
  3. Eysenck Personality Questionnaire (EPQ), yang memasukkan skala psikotik (P). Alat tes EPQ yang mempunyai versi dewasa maupun anak-anak, adalah revisi dari EPI yang sampai sekarang masih juga diterbitkan.
  4. Eysenck Personality Questionnaire-Revised, revisi dari EPQ. Muncul dari kritik terhadap adanya skala P dalam EPQ.


Posting Komentar untuk "Pengertian Tes Eysneck, Kegunaan, dan Metode Tes Eysenck"

Klik gambar berikut untuk mengunduh artikel ini:

Berlangganan via Email