Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pengertian, Tujuan, dan Metode Wawancara Setting Klinis

Pengertian, Tujuan, dan Metode Wawancara Setting Klinis - Wawancara setting Klinis dilakukan dengan tujuan untuk membangun hubungan yang produktif mempromosikan upaya kolaboratif untuk mendiagnosis dan mengobati masalah kesehatan.

Pengertian, Tujuan, dan Metode Wawancara Setting Klinis-
image source: www.youthfortomorrow.org
baca juga: Macam-Macam Wawancara dan Penjelasannya Menurut Para Ahli

A. Prinsip Dasar Wawancara Setting Klinis

1. Hubungan Kolaboratif
Saat ini, persepsi tentang perawatan kesehatan mengalami perubahan. Saat ini, pendidik atau penyedia jasa kesehatan melihat upaya pengobatan sebagai upaya kolaboratif dua pihak. Dengan kata lain, pasien adalah mitra yang berifat aktif, bukan pengamat pasif. Membangun kemitraan berarti memastikan bahwa suatu keputusan menghormati keinginan, kebutuhan, danpreferensi dari pasien, dan bahwa pasien memiliki pendidikan dan dukungan yang mereka butuhkan untuk membuat keputusan secara efektif dan berpartisipasi dalam perawatan mereka sendiri.

Tujuan dari interaksi setting klinis adalah untuk mengembangkan hubungan timbal balik yang interaktif; pertukaran informasi, identifikasi masalah, dan pengembangan solusi. Kesimpulannya adalah bahwa penyedia perawatan kesehatan memiliki kemampuan untuk menjadi fleksibel dan mudah beradaptasi yang sangat penting dalam pertemuan medis.

2. Berbagi Kontrol
Pembagian Kontrol adalah langkah pertama dalam membentuk hubungan yang kolaboratif. Dulu, dan sekarang masih dilakukan oleh sebagian besar penyedia jasa kesehatan, kekuasaan dan otoritas telah berat sebelah dalam wawawancara perawatan kesehatan. Hal ini bisa jadi karena penyedia sangat terlatih melihat situasi sebagai suatu rutinitas, berbicara dalam istilah ilmiah, dan akronim yang hanya dimengerti beberapa pasien, dan tidak melibatkan diri secara emosional, serta berdiri/ berlinfung dibawah seragam/ jas.

Tampaknya, proses diatas dilakukan dengan mencontoh apa yang dilakukan oleh operator, sehingga penyedia jasa kesehatan cenderung menentukan dan mengontrol pengaturan kelas, waktu, dan struktur wawancara. Pertanyaan dilakukan dengan tertutup serta terbatasnya reaksi. Jika ada tantangan dari pasien, maka penyedia jasa kesehatan cenderung mengabaikan hal ini. Oleh karena itu, persepsi pasien tentang sebuah proses komunikasi interaksi dengan penyedia jasa kesehatan adalah berlangsung sati pihak, dimana penyedia jasa-lah yang memegang otoritas.

Keadaan ini juga didukung oleh perilaku pasien saat wawancara kesehatan berlangsung. Pasien lebih memilih untuk mengikuti apa yang disampaikan penyedia jasa, karena merasa kurang ilmu dan pengetahuan kesehatan. Pada pasien yang lebih muda, perilaku diam merupakan tanda bahwa dirinya tidak menyukai dominasi, sehingga kemudian akan mengabaikan obat, resep, kegiatan yang dianjurkan.

Oleh karena itu, hubungan penyedia jasa kesehatan dan pasien haruslah dilakukan dengan berbagi kontrol, sebagai mitra yang berjuang untuk mencapai tujuan bersama. Sebagai penyedia, mengembangkan iklim relasional yang positif dengan menunjukkan minat pada gaya hidup pasien, keprihatinan non medis, dan secara keseluruhan kesejahteraan.

3. Empati
Empati adalah elemen penting dari hubungan dokter pasien, karena dapat mendorong peningkatan empati kepuasan pasien, serta mengurangi waktu dan biaya.

Mendorong pasien untuk mengekspresikan ide-ide, harapan, ketakutan, dan perasaan tentang masalah medis dan nilai keahlian pasien merupakan suatu kesetaraan peran. Dalam proses wawancara klinis ini, pasien datang untuk memberikan informasi secara rinci engan jujur dan seakurat mungkin, mengungkapkan keprihatinan, menanggapi secara efektif untuk pertanyaan penyedia, dengan menyatakan pendapat, saran, dan preferensi.

4. Mengurangi jarak emosional
Mengurangi jarak relasional dalam proses komunikasi wawancara setting klinis adalah gerakan yang saat ini berkembang di amerika, dan bisa jadi berkembang di Indonesia. Dalam hal ini, keduanya berbagi persepsi, kebutuhan, nilai, kepercayaan, sikap, dan pengalaman. Keduanya menjaga martabat, privasi, harga diri, dan kenyamanan, sehingga penyedia jasa kesehatan dan pasien dapat membangun hubungan dengan bekerja untuk memahami dan mengidentifikasi satu sama lain.

Cara yang dilakukan untuk mengurangi jarak emosional adalah mendorong dialog dua arah tentang perasaan. Kedua pihak saling memahami satu sama lain. Dengan kata lain, pengertian bersama mengurangi jarak pemahaman relasional.

5. Menghargai Keberagaman/ Keunikan
Keberagaman diantara pasien dan penyedia jasa kesehatan adalah sebuah realitas. Pasien yang berbeda budaya/ kebiasaan mengalami dan bereaksi secara berbeda untuk wawancara perawatan kesehatan.

Haruslah diperhatikan perbedaan dibawah ini:

a. Jenis kelamin
Perempuan lebih peduli dibanding dengan laki-laki

b. Umur
Pasien yang lebih tua enggan menentang otoritas dokter. Pasien yang lebih muda tidak terlalu terpesona dengan otoritasn dan kepercayaan.

c. Budaya
Pasien dengankelas budaya rendah, lebih cenderung menaati dokter. Pasien dengan kelas tinggi, cenderung kritis. Berikut ini juga adalah beberapa perbedaan dalam pelayanan

  • Dokter perancis mengurangi statistik dan mengandalkan logika
  • Dokter Jerman cenderung romantis otoriter
  • Dokter inggris cenderung paternalistis
  • Dokter Amerika cenderung menajdi agresif.


d. Stereototif
Stereotif pasien yang baik adalah kooperatif, tenag, patuh, bersyukur, tidak agresif, perhatian, dan tidak memihak.pasien yang baik cenderung mendapatkan perlakuan yanglebih baik. Pasien yang lebih rendah cenderung mendapatkan diagnosis dan prognosis yang lebih rendah. Pasien kegemukan dianggap sebagai pasien yang kurang menyenangkan.

6. Menciptakan dan mempertahankan kepercayaan

B. Pembukaan Wawancara

Pembukaan wawancara kesehatan/ klinis memberikan damapak yang signifikan terhadap wawancara. Satu pihak tidak boleh melihatnya dari satu sisi sebagai rutinitas.

1. Mengkondisikan iklim yang nyaman
Pilihlah lokasi yang nyaman, tenang, tidak mengancam, dan lokasi dari bebas gangguan yang membuat interaksi tetap terjaga.

2. Bersikap sensitif dan pribadi
Gunakan pendekatan pembukaan idnividual, sesuaikan dengan gaya komunikatif pasien. Buat wawancara dengan gaya yang menyenangkan, memperkenalkan diri, dan bersifat akrab.

Membangun hubungan dapat dilakukan dengan meninjau berkas pasien terlebih dahulu.

3. Mengadaptasi Pembukaan
Isi pembukaan setelah salam dan senda gurau tergantung pada siapa yang memulai wawancara dan seberapa banyak informasi yang dipertukarkan sebelum wawancara. Misalnya, apa yang dapat saya lakukan untuk anda.

Tipe kedua adalah bertanya apa yangmenajdi keluhannya. Berfokus pada gejala2 spesifik.

C. Mendapatkan Informasi

Berikut ini adalah hal-hal yang harus diperhatikan, untuk mendapatkan informasi.

1. Kenali Hambatan untuk mendapatkan Informasi

2. Trik Cara mendapatkan informasi yang banyak

  • Mengajukan dan menjawab pertanyaan
  • Mengungkapkan Cerita
  • Mendengarkan, Melihat, dan Berbicara


3. Mengatasi Hambatan Bahasa

  • Bersabarlah dalam menyelidiki pasien.
  • Hindari kata seru yang menjengkelkan.
  • Hindari menebak-nebak sesuatu masalah
  • Gunakan pertanyaan mengarah. Cintohnya, Anda tidak bisa menekuk lutut bukan? Anda sebelumnya sudah pernah kesini bukan?

D. Memberikan Informasi

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam memberikan informasi adalah:

1. Penyebab kerugian dan distorsi Informasi
  • Sikap Penyedia
  • Masalah dengan pasien
  • Metode yang tidak efektif

2. Memberikan informasi dengan lebih efektif
  • Seorang pasien yang ingin tahu adalah pasien yang ingin mendapat informasi
  • Bantu mereka mengenali toeri mereka sendiri
  • Dukung pasien untuk bertanya dengan metode rangankain pertanyaan mengundang
  • Mintalah pasien untuk mengulang informasi
  • Kurangi penjelasan kata-kata ilmiah yang tidak dipahami
  • Libatkan sejumlah sumber dalam proses.
  • Sertakan anggota keluarga dalam membantu mempertahankan dan menginterpretasikan informasi
  • Atur informasi secara sistematis untuk membantu mengingat.
  • Sajikan instruksi penting, sehingga mereka tidak tersesat dalam reaksi untuk diagnosis.
  • Gunakan berbagai media, leaflett, itnernett, dll.

E. Meyakinkan, Menyarankan, dan Merekomendasikan

Sebagian besar doker berorientasi pada tugas, dan tentu saja mengharapkan pasien mengikuti rekomendasi yang diberikan dokter, karena dokter memiliki otoritas, keahlian, dan pelatihan. Namun, sayang kepatuhan pasien rendah. Oleh karena itu, penyedia jasa kesehatan harus memberikan informasi. Penyedia jasa kesehatan juga harus bertindak sebagai penasihat untukmembantu pasien dalammemahami dan menangani masalah danbujukan untuk meyakinkan pasien agar mengikuti rekomendasi secara akurat dan tepat.

- Hambatan penyuluhan yang efektif
Berikut ini merupakan hambatan dalam melakukan upaya penyuluhan yang efektif :
  • Menggunakan humor untuk menghindari masalah
  • Menyangkal keseriusan masalah
  • Mengejar masalah yang tidak urgent
  • Mengabaikan perhatian medis dengan menolak sumber informasi pasien seperti internet atau majalah populer
  • Memberikan dorongan minimal
  • Mengabaikan komentar pasien atau pertanyaan, mungkin dengan berpura-pura tidak mendengar
  • Menjadi asyik dalam pekerjaan fisik
  • Mengubah subjek
  • Berpura-pura memiliki kekurangan informasi
  • Melarikan diri dari ruangan

- Penyuluhan yang efektif dan Meyakinkan
Ada sebuah hubungan positif yang sangat signifikan antara persepsi dokter, perawat, kompetensi dukungan dan kepedulian, dengan kepuasan pasien.

1. Memilih pendekatan yang sesuai
Pilihlah pendekatan yang kolaboratif dan paling cocok dengan pasien saat ini. Berikut ini adalah pendekatan dalam wawancara setting klinis

Suatu pendekatan aktif di anjurkan ketika pasien bersifat pasif dan tidak mampu berpartisipasi.

Pendekatan non direktif, dalan hal ini penyedia jasa sebagai penasihat, dianjurkan ketika pasien telah memenuhi persyaratan karena sakit akut dan dengan demikian, tidak ada kapasitas penuh.

Sebuah partisipasi bersama (kombinasi direktif dan non direktif) direkomendasikan saat pengumpulan data, pemecahan masalah, dan mengelola penyakit seorang pasien yang dapat berpartisipasi sepenuhnya.

Terlepas dari apapun pendekatan yang digunakan, maka berusahalah untuk selalu melakuakan kolaborasi selama wawancara dengan menunjukkan rasa hormat terhadap agenda pasien dan mendorong kepekaan bersama. Kepatuhan terhadap pengobatan dan instruksi adalah paling mungkin ketika komunikasi yang optimal terjadi. Berusaha untuk menemukan alasan logis dan menggunakan bantahan bijaksana.

2. Memberikan iklim yang sesuai
Seorang pasien didorong untuk untuk melakukan perubahan dalam waktu tertentu. Namun demikian, harus selalu diingat bahwa perubahan tidak berubah secara sekaligus. Mengungkapkan humor dapat menciptakan iklim yang sesuai.

3. Mendorong Interaksi
Berikut ini adalah beberapa cara agar pasien mau bercerita
  1. Cara agar pasien berbagi pengalaman dan perasaan adalah dengan menceritakan pengalaman penyedia jasa.
  2. Menggunakan komunikasi non verbal seperti anggukan, kontak mata, dan anggukan untuk menunjukkan kepedulian terhadap pasien.
  3. Dengarkan dengan empati, sehingga bisa melihat situasi
  4. Gunakan berbagai tanggapan dan reaksi non direktif
  5. Memberi nasihat hanya bila pasein kurang informasi, salah informasi.
  6. Hindari menyalahkan atau menghakimi yang dapat menciptakan hubungan permusahan. Ketakutan dapat menyebabkan penolakan pasien atau menghindari kegiatan, obat-obatan, dan pemeriksaan.
  7. Menawarkan pujian untuk hal yangsudah dilakukan pasien.

4. Mempertimbangkan Solusi
Penyedia jasa kesehatan dan pasien harus bersama-sama membangun sebuah rencana tindakan yang mengakui kendala sosial, psikologis, dan keuangan. Strategi yang dapat diterapkan adalah memungkinkan pasien untuk membuat cerita mereka sendiri tentang kesehatan mereka, mendorong pasien untuk mengasumsikan pertanggungjawaban atas keputusan mereka, mengidentifikasi tujuan jangka pendek, dan berkolaborasi.

Dengan kata lain, ini adalah sebuah langkah persuasi kepada pasien untuk membuat perubahan dari diri sendiri.

Cara yang dapat dilakukan adalah dengan menunjukkan betapa mudahnya mengikuti instruksi dari dokter, serta memberikan harapan dari perubahan yang dilakukan.

F. Menutup wawancara

Saat menutup wawancara setting klinis, kedua belah pihak perlu memahami secaralengkap dan jelas yang telah mereka bahas, informasi yang telah mereka tukar, rekomendasi yang dibuat, dan kesepakatan yang dicapai. Penerimaan pertanyaan menyelidik sangat penting sebagai perangkat penutupan awal: “apakah ada hal lainyang ingin dibahas hari ini?”, “apakah ada masalah lain yang belum ditangani?”.

Fase ringkasan wawancara tidak hanya harus masuk akal bagi pasien, tetapi jug aharus masuk akal dalam hal perawatan medis dokter yang idtawarkan. Buatlah kesimpulan yang menyeluruh, tapi tidak berlebihan dengan terlalu banyak informasi. Ajukan pertanyaan untuk memastikan pasien memahami yang telah terjadi, yang telah disepakati, dan yang akan terjadi selanjutnya, terutama tanggung jawab dan tugas pasien. Mintalah pasien untuk memberitahu Anda dengan kata-kata mereka untuk mengungkapkan kebingungan, kesalahpahaman, niat, dan pertukaran informasi.

Tutup interaksi dengan catatan positif dan produktif yang mengkomunikasikan pemahaman, empati, kepercayaan, dan penuh perhatian. Cara menutup wawancara masing-masing pihak akan meningkatkan atau mengurangi hubungan, dan mempengaruhi sifat interaksi berikutnya dan apakah akan ada interaksi selanjutnya atau tidak.

Sebuah penelitian baru mengungkapkan “kepuasan pasien pasca kunjungan dengan komunikasi doketer sangat penting karena hal tersebut terkait secara positif dengan ukuran objektif dari kecakapan pasien, ketaatan pasien terhadap rekomendasi medis, dan perawatan lanjutan.


Sekian artikel tentang Pengertian, Tujuan, dan Metode Wawancara Setting Klinis.

Posting Komentar untuk "Pengertian, Tujuan, dan Metode Wawancara Setting Klinis"

Klik gambar berikut untuk mengunduh artikel ini:

Berlangganan via Email