Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sejarah Perkembangan Sosiologi di Dunia Menurut Para Ahli

Sejarah Perkembangan Sosiologi di Dunia Menurut Para Ahli - Jika kita melihat sejarah masyarakat Eropa di abad pertengahan, maka pada abad itulah terjadi berbagai perubahan besar dalam sistem dan struktur masyarakat sebagai akibat dari revolusi industri. Akan tetapi, sebenarnya perubahan-perubahan sosial skala besar itu tidak hanya terjadi di abad pertengahan, tetapi juga terjadi jauh sebelumnya. Misalnya ketika di abad ke-4 SM ketika Alexander menaklukkan Negara-negara Yunani, yang akhirnya mengubah system Negara kota menjadi Negara kekaisaran. Tokoh-tokoh pemikir yang dapat kita catat pada masa ini misalnya Plato, Aristoteles, Herodotus, Tucydides, Polybios, dan Cicelo. Tokoh-tokoh di abad Helenistik inilah yang kemudian mengedepankan “Alam pikiran Yunani”. Untuk lebih jelasnya, di bawah ini akan diuraikan secara singkat mengenai tahap-tahap perkembangan teori sosiologi.

Ilmu tentang masyarakat disebut sebagai sosiologi baru dikenal pada masa Auguste Comte sehingga patokan tentang sosiologi adalah pada Auguste Comte. Namun demikian, sesungguhnya pembahasan tentang masyarakat sudah banyak dikaji oleh para cendekiawan sebelum Comte. Sehingga pembagian tahap-tahap perkembangan sosiologi dibagi menjadi tiga tahap sebagai berikut :

A. Masa sebelum Auguste Comte

Sebelum Auguste Comte member nama sosiologi pada ilmu kemasyarakatan ada banyak tokoh yang sudah memperbincangkannya. Tokoh-tokoh pemikir (filsuf) tersebut diantaranya adalah sebagai berikut

1) Socrates
Socrates lahir tahun 470 SM dan meninggal tahun 399 SM. Ia anak dari seorang pamatung yang kemudian keahlian itu juga diwarisinya. Ajaran Socrates yang penting yaitu mengenai ditekankannya logika sebagai dasar bagi semua ilmu pengetahuan termasuk filsafat.

Bagi Socrates, kecerdasan merupakan dasar dari semua tabiat yang baik. Dengan kecerdasan dan pengetahuan menjadikan orang bijaksana. Kebijakan adalah sesuatu yang dapat dicapai dengan kecerdasan manusia. Socrates menganjurkan agar kita “membangun masyarakat” tersebut berlandaskan atau disasarkan ilmu pengetahuan ilmiah.

2) Plato
Plato adalah murid Socrates, yang lahir tahun 429 SM dan meninggal tahun 347 SM. Ia berasal dari keluarga bangsawan. Setelah Socrates meninggal, plato mengembara ke berbagai negeri seperti Mesir, Asia Minor, Sisilia, dan Italia.pada tahun 387 SM ia kembali ke Athena dan mendirikan sekolah yang diberi nama academia. Karena banyak menarik pemuda-pemuda Yunani, Academia itu dapat disebut sebagai Universitas pertama di Eropa. Karya Plato yang terkenal berjudul The republic (Negara) dan The Law (Hukum). Dalam tulisannya The Republic, Plato menyuguhkan kepada kita karya yang pertama dan terbesar yang bersifat sosiologis.

Ajaran Plato tentang masyarakat menerangkan bahwa pada dasarnya masyarakat itu merupakan bentuk perluasan dari individu. Dengan kat lain, individu itu parallel dengan masyarakat (Pemikiran demikian dikenal sebagai pemikiran dari mazhab atau aliran “organis” atau “biologis”. Plato bertindak sebagai pelopornya). Karena individu menurut Plato memiliki sifat. Tiga sifat atau elemen itu adalah nafsu atau perasaan-perasaan, semangat atau kehendak, dan kecerdasan atau akal.

Berdasarkan katiga elemen tersebut, Plato membedakan adanya lapisan atau kelas sosial masyarakat sebagai berikut:
  • Bagi yang mengabdikan hidupnya untuk memenuhi nafsu dan perasaannya seperti halnya memelihara tubuh manusia, maka dengan demikian juga akan memelihara nafsu dan perasaan masyarakat. Mereka itulah “kelas pekerja tangan” seperti buruh dan budak.
  • Karena semangat atau kehendak berfungsi melindungi tubuh manusia, yang berarti harus pula melindungi masyarakat, maka yang bisa melaksanakan hal itu adalah militer.karena mereka mengembangkan akal dan kecerdasan untuk membimbing tubuh manusia, maka mereka juga bertugas mengembangkan akal guna memerintah dan memimpin masyarakat. Mereka ini masuk dalam kelas penguasa.

Lebih jauh Plato juga menunjukkan bahwa kehidupan yang baik tergantung pada dapat tidaknya pikiran dan kehendak manusia itu berkembang. Sedangkan pikiran dan kehendak manusia hanya dapat berkembang jika dalam masyarakat itu terdapat “keadilan”. Akan tetapi, bagaimana keadilan dapat tercapai? Menurut Plato, keadilan itu dapat dicapai melalui tata tertib sosial. Jadi, kehidupan yang baik adalah tujuan dari keadilan dan keadilan adalah tujuan dari organisasi sosial (yang bisa menciptakan tertib sosial).

3) Aristoteles
Aristoteles lahir tahun 384 SN di Macedonia dan meninggal tahun 322 SM. Ibunya merupakan ahli kesehatan Raja Amyntas II (kakek Alexander Agung). Aristoteles adalah murid Plato. Pada akhirnya, Aristoteles menjadi guru Alexander Agung, raja Macedonia itu. Berkat bantuan Alexander Agung itu pula, Aristoteles mendirikan perpustakaan dan museum yang pertama kali di yunani. Karyanya yang terkenal adalah the Politics dan The Nicomachean Ethics. Dalam menganalisis keadaan masyarakat, Aristoteles menggunakan “metode induktif”, yaitu menarik kesimpulan umum dari fakta-fakta yang bersifat khusus.

Ajaran Aristoteles tentang masyarakat terdapat dalam bukunya The Politics. Dikatakannya bahwa kelompok manusia yang dasar dan esensial adalah :
  • Pengelompokan (asosiasi) antara pria dan wanita untuk memperoleh keturunan
  • Asosiasi antara penguasa dengan yang dikuasai.

Kedua bentuk asosiasi ini bersifat alamiah, tidak disengaja. Keduanya akan terlihat dalam hubungan antara suami istri, orang tua-anak, serta antara tuan dan budak atau pembantu di dalam keluarga.

Kenapa manusia secara ilmiah membentuk kelompok (asosiasi)? Menurut Aristoteles hal tersebut disebabkan karena manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Karena makhluk sosial, maka manusia sekaligus adalah makhluk yang bermasyarakat. Berdasarkan pengertian ini, Aristoteles menyatakan bahwa manusia berasosiasi membentuk keluarga, kemudian keluarga berasosiasi membentuk dusun atau kampong, dan dusun berasosiasi membentuk Negara. Negara tumbuh secara alamiah seperti halnya keluarga dan dusun.

Masyarakat Negara yang baik menurutnya dikelola oleh pemerintah yang ada pembagian fungsi legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Dengan demikian, dimaksudkan agar terdapat pengawasan satu dengan yang lain. Orang atau kelompok macam apa yang dinilai Aristoteles pantas memegang pemerintahan Negara? Aristoteles memberi tiga macam bentuk pemerintahan dilihat dari segi jumlah pemegang kekuasaan itu.
  • Pemerintahan oleh seseorang. Jika seseorang penguasa itu baik, maka ia disebut monarki, dan jika ia memerintah dengan buruk, maka disebut tirani.
  • Pemerintahan oleh sejumlah kecil orang disebut aristokrasi jika baik, dan jika buruk akan disebut oligarki.
  • Pemerintahan oleh orang banyak, untuk yang baik disebut demokrasi. yang buruk disebut mobokrasi/okhlokrasi 

Masih ada banyak tokoh lain yang mengemukakan tentang ilmu kemasyarakatan sebelum Comte yang tidak dapat diuraikan disini satu per satu di antaranya adalah Ibnu Khaldun, seorang ahli filsafat Islam, Thomas More dan N. Machiavelli yang turut mewarnai ilmu kemasyarakatan pada zaman Renaissance, Hobbes, John Locke, dan J.J. Rousseau yang ajarannya bersifat rasionalistis, dan lain-lain.

Sejarah Perkembangan Sosiologi di Dunia Menurut Para Ahli_
image source: www.uwstout.edu
baca juga: Tokoh Pendiri Ilmu Sosiologi Paling Berpengaruh di Dunia

B. Masa Auguste Comte

Pemikiran sosiologi atau pemikiran mengenai manusia dan masyarakat sudah dirintis oleh generasi Socrates, Plato, dan Aristoteles di sekitar abad ke-4 SM. Pada saat itu Yunani mengalami perubahan-perubahan sosial yang menyangkut struktur maupun system kehiduupan yang ada.

Pergolakan sosial yang kemudian muncul di abad pertengahan, lama setelah Eropa tenggelam dalam abad kegelapan. Kalau di Yunani ditandai dengan munculnya filsuf-filsuf seperti Socrates, Plato dan Aristoteles, maka pergolakan di Eropa ditandai dengan munculnya cerdik-cendekia seperti J.J. Rousseau, Montesqulieu, dan John Locke termasuk kemudian Auguste Comte.

Auguste Comte melihat bahwasannya perubahan-perubahan yang terjadi pada masyarakat saat itu tidak saja bersifat positif, namun juga memberikan adanya dampak negative. Salah satu contohnya adalah terjadinya konflik antarkelas sosial dalam masyarakat dikarenakan hilangnya norma atau pegangan bagi masyarakat untuk bertindak (yang dalam bahasa sosiologi disebut dengan Anomie). Menurut analisis Comte, konflik tersebut terjadi karena masyarakat tidak mengetahui cara mengatasi perubahan akibat revolusi yang berlangsung dan hukum-hukum apa yang bisa dipakai untuk mengatur tatanan sosial masyarakat yang baru.

Atas dasar fenomena tersebut, Comte menyaarankan agar penelitian mengenai masyarakat lebih ditingkatkan dan menjadi ilmu yang berdisi sendiri. Comte mengimaninasikan adanya suatu hukum yang dapat mengatur gejala-gejala sosial . Namun ia belum berhasil mengembangkan hukum-hukum sosial tersebut menjadi sebuah ilmu. Walaupun demikian Comte telah berhasil member istilah untuk ilmu yang hendak lahir tersebut dengan nama sosiologi. Sosiologi berkembang menjadi sebuah ilmu yang berdiri sendiri setelah Emile Durkheim mengembangkan suatu metodologi sosiologi yang ia kemukakan melalui bukunya yang berjudul The Rules of Sociological Method.

Meskipun demikian, Auguste Comte tetap disebut sebagai bapak Sosiologi untuk menghormati jasanya terhadap lahirnya sosiologi. Walaupun Comte yang memunculkan istilah sosiologi, namun istilah tersebut dipopulerkan oleh Herbert Spencer dalam bukunya yang berjudul Priciples of Sociology. Didalam buku tersebut, spencer mengembangkan system penelitian mengenai masyarakat dimana ia menerapkan teori evolusi organic pada masyarakat secara luas.

Menurut Comte, suatu organ akan lebih sempurna apabila organ tersebut bertambah kompleks dengan adanya proses pembedaan (diferensiasi) disetiap bagiannya. Senada dengan hal tersebut, Spencer memandang masyarakat sebagai suatu system yang terdiri dari bagian-bagian yang saling bergantung seperti halnya pada organism hidup. Pada dasarnya, evolusi dan perkembangan sosial akan mempunyai makna apabila ada peningkatan diferensiasi dan intergrasi, peningkatan pembagian kerja, serta suatu transisi dari homogeny ke heterogen dari kondisi yang sederhana ke kondisi yang kompleks.

Sejak Auguste Comte,metode positif (yaitu menggunakan pendekatan ilmu alam) dipakai sebagai panutan para ahli sosiologi kemudian. Dalam pengertian tradisional, metode positif yang digunakan oleh Comte selalu disebut sebagai “pendekatan ilmu alam”. Bahkan menurut Comte , sosiologi memang merupakan ilmu “fisika sosial ”. Latar belakang Comte menggunakan pendekatan ilmu alam dan menyebut sosiologi sebagai fisika sosial adalah dalam rangka menciptakan sosiologi sebagai ilmu yang mandiri dan lepas dari camput baur filsafat (sosial ) dan psikologi (sosial ) pada zamannya.

C. Masa Setelah Auguste Comte

Perkembangan sosiologi dari abad XIX ke abad XX sangat pesat. Pada kurun waktu ini, perkembangan ditandai oleh munculnya berbagai aliran berfikir (school of thought) yang sangat bervariasi. Aliran –aliran itu di antaranya sebagai berikut.
  1. Ekologisme, tokohnya Amos H. Hawley, O. Dudley Duncan, dan Leo G. Schnore
  2. Denografisme, tokohnya N.B. Ryder
  3. Psikologisme, dan materialisme, tokohnya George C. Hamans
  4. Teknologisme, tokohnya William Gielding Ogburn
  5. Strukturalisme fungsional, tokohnya Robert K. Merton, Talcott Parsons
  6. Strukturalisme pertukaran. Tokohnya Peter M Blau.
  7. Srtrukturalisme konfliks, tokohnya Ralf Dahrendorf, Piere L. Vb den Berghe, Lewis Coser.
  8. Interaksionisme simbolik, tokohnya George Hebert Mead
  9. Antomisme sosisl, tokohnya John Finley Scott

Selain yang tersebut diatas, masih banyak lagi tokoh-tokoh yang tidak tersebutkan, dan mereka juga memiliki cirri khas atau warna (kalau tidak boleh disebut aliran) yang spesifik dalam mendekati dan menganalisis manusia dan masyarakat.

Posting Komentar untuk "Sejarah Perkembangan Sosiologi di Dunia Menurut Para Ahli"

Klik gambar berikut untuk mengunduh artikel ini:

Berlangganan via Email