Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Definisi Masyarakat dan Kebudayaan Menurut Ahli Antropologi

Definisi Masyarakat dan Kebudayaan Menurut Ahli Antropologi - Makhluk hidup secara naluriah hidup berkoloni atau berkelompok, tidak hanya manusia namun juga binatang dan tumbuh-tumbuhan. Sebut saja contohnya semut, lebah, belalang dari jenis serangga yang hidup secara kolektif dengan pembagian kerja yang jelas antar individunya. Seperti semut, memiliki 16 sub-kolektif yang masing-masing memiliki tugas berbeda. Ada yang bertugas dibagian reproduksi dengan secara berkala bertelur, ada yang berfungsi sebagai pencari makan, ada yang bertugas sebagai pembersih sarang ada juga yang bertugas sebagai bala tentara untuk mempertahankan sarangnya.

Definisi Masyarakat dan Kebudayaan Menurut Ahli Antropologi_
image source: culture.com
baca juga: Pengertian, Tujuan, dan Ruang Lingkup Antropologi

Belajar dari kolektifitas semut dan hewan-hewan lainnya dapat diformulasikan ciri khas kehidupan kolektif, yakni :
  • Ada pembagaian kerja yang jelas dan tetap;
  • Ada ketergantungan antar individu yang hidup dalam sebuah kelompok;
  • Muncul kerjasama antar individu di dalam kelompok;
  • Ada komunikas terjalin antar individu; dan
  • Ada diskriminasi oleh anggota kelompok dengan individu dari luarnya

Sama halnya dengan manusia, mereka berkelompok dengan 5 ciri khas seperti yang diuraikan di atas. Bedanya, binatang melakukannya berdasarkan naluriah, manusia melakukannya berdasarkan pilihan (akal). Oleh karena itu –sebagai mana dibahas minggu lalu– pola perilaku manusia baik secara individu maupun bagian dari kelompok selalu berubah, tidak mudah untuk dipolakan. Pola dan perilaku kehidupan kolektif serangga tidak pernah berubah sejak ratusan tahun yang lalu, namun pada manusia selalu mengalami perubahan (dinamisasi).

Jadi, dari pemaparan ini dapat ditarik kesimpulan bahwa masyarakat yakni kumpulan individu yang bersatu dalam sebuah kelompok dengan pembagian kerja yang jelas dan tetap, ada kerjasama dan ketergantungan, ada komunikasi dan diskriminasi di dalamnya. Kelompok ini membentuk sebuah pola perilaku, dimana pada manusia pola perilaku ini selalu berubah sesuai perkembangan zaman. Karena pola perilaku pada manusia adalah hasil dari pembelajaran, tingkah laku yang efektif dalam menanggulangi masalah hidup yang akan berevolusi menjadi adat-istiadat.

Unsur-unsur Masyarakat

Masyarakat dalam Bahasa Inggris dikenal dengan istilah society yang berasal dari bahasa latin socius yang berarti “kawan”. Sedangkan istilah masyarakat berasal dari akar kata Bahasa Arab syaraka yang berarti “ikut serta, berpatisipasi”. Masyarakat merupakan sekumpulan manusia yang bergaul/saling berinteraksi, namun tidak semua kumpulan manusia berarti masyarakat. Ada sebuah ikatan yang membuat manusia menjadi satu-kesatuan untuk disebut sebagai masyarakat, yakni pola tingkah laku. Sebuah pola tingkah laku yang bersifat ajeg/tetap dan berkesinambungan/terus menerus.

Sekumpulan penghuni asrama yang hidup bersama, saling bergantung dan bekerjasama tidak serta merta menjadikan mereka sebagai masyarakat, karena masyarakat terbentuk dengan adanya sebuah identitas bersama. Jadi, merujuk pada J.L Gillin dan J.P Gillin, unsure terbentuknya sebuah masyarakat yaitu :
  • Grouping , kesatuan hidup;
  • Customs, adat istiadat;
  • Identitas bersama

Contoh dari masyarakat seperti yang dijelaskan oleh Gillin ini adalah negara (Masayarakat Indonesia, Masyarakat Amerika, Masyarakat Belanda dll). Contoh lainnya adalah perkumpulan, karena memiliki unsure seperti yang dijelaskan di atas.

Namun Ibnu Khaldun dalam bukunya “Mukaddimah” menyatakan bahwa masyarakat dan negara adalah berbeda.Lebih lanjut ia menjelaskan, terkait tabiat dan fitrah kejadiannya manusia memerlukan masyarakat dalam artian manusia memerlukan kerjasama antar sesamanya untuk dapat hidup, baik untuk memperoleh makanan maupun mempertahankan diri. Sedangkan negara dihubungkan dengan pemegang kekuasaan. Namun walau negara dan masyarakat masyarakat merupakan entitas yang berbeda namun mereka merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan. Namun masyarakat yang tidak dapat dipisahkan dari negara ini adalah masyarakat yang sudah menetap dan membentuk peradaban.

Menurut Ibnu Khaldun, negara memiliki umur, yakni 120 tahun yang terdiri atas 3 generasi. Generasi Pertama hidup dalam keadaan primitive, keras dan jauh dari kehidupan modern; generasi kedua berhasil meraih kekuasaan dan mendirikan negara dan mulai menuju ke peradaban modern; selanjutnya generasi ketiga negara mengalami kehancuran karena generasinya tenggelam dalam kemewahan, penakut dan kehilangan makna kehormatan, keperwiraan dan keberanian.

KEBUDAYAAN

Definisi Kebudayaan Menurut Antropologi

Dalam hal memberi konsep budaya, antropologi memiliki cara yang berbeda dengan kebanyakan ilmu sosial lainnya. Antropologi mendefinisikan kebudayaan sebagai keseluruhan system gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Dalam hal ini, bisa dikatakan bahwa hampir semua tindakan manusia adalah kebudayaan, karena hanya sedikit aktivitas manusia di dunia ini dibiasakan tanpa belajar.

Stuart Hall dalam bukunya “Media and Cultural Regulation” menambahkan bahwa memang benar adanya bahwa aktivitas sosial (social action) akan membentuk sebuah kebudayaan, namun tidak semuanya membentuk kebudayaan. Ada perbedaan pada kebudayaan secara substantive dan epistemologi. Secara substantive aktivitas sosial yang ada ditengah-tengah masyarakat akan melahirkan sebuah kebudayaan, entah itu turun-temurun maupun kebudayaan baru namun secara epistemology, kita merujuk pada sebuah konsep-konsep kebudayaan dalam ilmu pengetahuan tentang bagaimana budaya dipahami dan dijelaskan secara teoritis dan modern.

Kebudayaan dan Peradaban

Selain kebudayaan istilah yang juga sering kita dengan terkait budaya adalah peradaban atau balam Bahasa Inggrisnya disebut civilization. Peradaban biasanya digunakan untuk merujuk pada produk kebudayaan yang halus, maju, indah seperti : kesenian, ilmu pengetahuan, sopan santun, kepandaian menulis, organisasi kenegaraan dll. Contoh penggunaan kata peradaban : Peradaban India Kuno, Peradaban Mesir Kuno, Peradaban Islam, Perdaban Modern Abad 21, semuanya mengacu pada kehebatan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada sebuah kebudayaan.

Peradaban (dan Kebudayaan) dapat hilang dan timbul karena perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Jika sebelumnya transisi budaya terjadi secara lama dan perlahan (evolusi budaya), semakin maju dan berkembangnya ilmu pengetahuan menjadikan perubahannya semakin cepat atau dikenal dengan istilah revolusi budaya.

Tiga Wujud Kebudayaan

1. Ide
Kebudayaan merupakan wujud kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai, norma dan peraturan. Sifatnya abstrak, tidak dapat diraba dan lokasinya ada didalam pikiran warga, bisa juga dalam wujud tulisan. Gagasan hidup dalam diri masyarakat dan tidak dapat dipisahkan membentuk sebuah system (cultural system) yang dalam bahasa Indonesia didefinisikan sebagai adat-istiadat.

2. Aktivitas
Kebudayaan sebagai aktivitas dan tindakan dalam masyarakat atau social system . Aktivitas sosial ini bersifat konkret, terjadi disekeliling kita, bisa diobervasi dan didokumentasikan.

3. Artefak
Kebudaayan berwujud fisik sebagai benda-benda hasil karya manusia, bisa dilihat, diraba, disokumentasikan.

Ketiga wujud budaya tersebut dalam masyarakat tidak dapat dipisahkan. Kebudayaan ideal (ide) dan adat-isttiadat membentuk masyarakat yang pada akhirnya menghasilkan kebudayaan fisik

Ketiga wujud kebudayaan tersebut, memiliki unsur-unsur kebudayaan. Tujuh unsur pokok kebudayaan menurut C. Kluckhonh:
  1. Bahasa
  2. Sistem Pengetahuan
  3. Organisasi Sosial
  4. Sistem Peralatan hidup
  5. Sistem Mata Pencaharian hidup
  6. Sistem religi
  7. Kesenian

Kebudayaan dan Kerangka Teori Tindakan

Kebudayaan pada awalnya hanya merupakan salah satu aspek evolusi manusia yang terus berkembang hingga menciptakan berbagai macam ragam peradaban di dunia. Kebudayaan berwujud gagasan dan tingkah laku manusia keluar dari otak dan tubuh manusia, yang tetap saja berakar pada sistem organik manusia dan tidak lepas dari kepribadian individu melalui proses belajar yang panjang. Sebagaimana di paparkan oleh Talcott Parsons, seorang ahli sosiologi, ada empat komponen utama pembentuk kebudayaan :
  1. Sistem Budaya
  2. Sistem Sosial
  3. Sistem Kepribadian
  4. Sistem Organisma

Sistem Budaya dan Sistem Sosial sudah dijelaskan dalam unur-unsur budaya, selanjutnya mengenai system kepribadian dan system organism akan dibahas pada bagian ini. Sistem kepribadian berkaitan dengan jiwa dan watak individu yang berinteraksi sebagai warga masyarakat. Kepribadian individu unik dan berbeda, namun tetap saja dipengaruhi oleh norma dan nilai-nilai yang berlaku dalam sebuah sistem budaya yang sudah terinternalisasi karena pengaruh interkasi sosial yang terjadi sejak lama. Sedangkan sistema organic melengkapi seluruh kerangka dengan mengikutsertakan kedalamnya proses biologis dan bio-kimia kepada manusia selaku makhluk hidup yang turut mempengaruhi perilaku manusia bersangkutan.

Aspek Substantif dan Epistemologi Budaya di Abad 20

1. Aspek Substantif

Memasuki abad 20 terjadi revolusi budaya pada substansi, empiris dan materi budaya. Budaya yang secara subtantif kita pahami sebagai pola tingkah laku masyarakat telah mengalami perkembangan dalam segala aspek. Revolusi budaya secara dramatis terjadi seiring dengan berkembangnya teknologi media dan informasi yang melahirkan pasar global. Abad 19 yang diwarnai dengan industri ‘hardware’ (seperti batuu bara, besi dan baja) berubah menjadi industry ‘software’ (seperti teknologi komunikasi digital). Secara estetik, produk budaya pada abad ini mungkin tidak sebanding dengan karya budaya zaman Mesir Kuno, Cina Kunno, Peradaban Islam ataupun Renaissance namun produk budaya pada zaman millennium ini memiliki dampak besar dalam skala global. Budaya global yang juga h0061dirkan perubahan sosial yang cepat. Salah satu efek dari revolusi budaya ini yakni munculnya kecendrungan pada cultural homogenization. Contoh nyata yang dapat dilihat adalah keseragaman teknologi yang digunakan oleh berbagai negara di dunia, kesamaan film yang di tonton, kesamaan trend fashion, kesamaan makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh masayarakat dunia. Penyeragaman yang memunculkan world culture, bahasa lain dari westernization. Kritik utama yang mucul dari world culture ini adalah hilangnya identitas kebangsaan yang ada pada berbagai negara, karena bagaimanapun identitas terbentuk melalui proses budaya.

2. Aspek Epistemologi

Aspek epistemology yakni revolusi budaya dalam kerangka ilmu pengetahuan dan teori atau dikenal dengan “culture turn”. Culture Turn dimuali dengan adanya perubahan bahasa, perubahan dalam arti luas yakni bahasa sebagai alat representasi dalam membangun dan mengsirkulasikan makna. Yakni pemahaman masyarakat akan sebuah makna dengan korlasinya terhadap realita yang dihadapi sehari-hari, contoh “batu” akan tetap ada dimuka bumi ini walau manusia tidak menamakannya “batu” lagi, sama halnya dengan konsekuensi proses sosial dan ekonomi sebagai way of life (identitas manusia). Contohnya bagaimana “the good life” didefinisikan pada zaman dahulu mungkin ukurannya adalah harta yang banyak, istri yang banyak, anak yang banyak. Namun saat ini sudah dipahami berbeda, ukurannya tidak hanya harta yang banyak namun juga pendidikan yang bagus, sedangkan banyak sedikitnya istri dan anak bukan menjadi indikator lagi. Lebih lanjut mengenai culture turn akan dibahas pada dinamika budaya dan masyarakat (modul 4)

Daftar Pustaka
  1. Hall, Stuart. 2010. “The Centrality of Culture; ‘Introduction and The Work of Representation in Representations: Cultural Representations and Signifying Practices,
  2. Kaldun, Ibnu. 2011. “Mukaddimah”, Pustaka Al-Kautsar
  3. Koentjaraningrat, 1990. “Pengantar Ilmu Antropologi””, PT Rineka Cipta

Posting Komentar untuk "Definisi Masyarakat dan Kebudayaan Menurut Ahli Antropologi"

Klik gambar berikut untuk mengunduh artikel ini:

Berlangganan via Email