Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Memahami Kesalahan Pengukuran (Measurement Error) Sampling

Memahami Kesalahan Pengukuran (Measurement Error) Sampling - Pada umumnya kuesioner dirancang dengan tujuan untuk mengumpulkan informasi yang berguna. Data yang diperoleh harus valid dan respon yang benar harus terukur.

Permasalahn yang sering timbul adalah pokok-pokok yang seharusnya ditanyakan seringkali tidak tercakup secara lengkap, dengan demikian pengukuran yang diperoleh seringkali hanya berupa suatupendekatan dari karakteristik yang ingin diketahui.

Kesalahan pengukuran merujuk pada ketidakakuratan dalam mencatat respon yang diberikan responden karena kelemahan instrumen dalam memilih pokok-pokok pertanyaan, ketidakmampuan sipenanya atau pertanyaan yang dibuat cenderung mengarahkan jawaban responden.

Memahami Kesalahan Pengukuran (Measurement Error) Sampling_
image source: ceoworld.biz
baca juga: Pengertian Sampling dan Contoh Kesalahan Pengambilan Sampel

Teknik Sampling

Secara garis besar, metode penarikan sampel dapat dipilah menjadi 2 :

1. Probabilitas :
  • Acak Sederhana b. Sistematik
  • Berstrata (Stratified) 

2. Non Probabilitas :
  • Convenience atau incidental sampling (dengan menyeleksi hanya anggota yang sudah siap diambil). 
  • Quota 
  • Judgement atau purposive sampling (dengan menyeleksi anggota-anggota yang diputuskan atau dianggap sebagai yang mendekati tujuan penelitian)
  • Snowball

Penjelasan lebih detail masing-masing teknik sampling ada di bawah ini.

Teknik Sampling

PROBABILITY

Dalam Probability sampling, pemilihan sampel tidak dilakukan secara subyektif, artinya sampel yang terpilih tidak didasarkan semata-mata pada keinginan si peneliti, sehingga setiap anggota populasi memiliki kesempatan yang sama untuk terpilih sebagai sampel. Dengan demikian diharapkan sampel yang terpilih dapat digunakan untuk menduga karakteristik populasi secara objektif.

Selain itu untuk dapat menggunakan probability sampling, kita membutuhkan kerangka sampel (sampling frame) yaitu suatu daftar dari unit-unit sampling dalam rangka untuk mendapatkan responden dengan peluang yang telah diketahui sebelumnya.

Yang perlu diperhatikan juga adalah bahwa dalam probability sampling memerlukan 2 kondisi :
  1. Setiap anggota dalam populasi harus punya kesempatan yang sama untuk dipilih.
  2. Seleksi dari setiap anggota populasi harus tidak mempengaruhi seleksi terhadap anggota lainnya.

Seperti terlihat dalam bagan bahwa dalam probability sampling, ada beberapa teknik yang dapat digunakan yaitu :

1. Simple Random Sampling

Hendaknya teknik sampling ini digunakan pada populasi yang homogen dalam arti bahwa sampel itu terdiri dari anggota-anggota yang kesemuanya memiliki atribut yang sama dengan populasi yangmenarik bagi anda untuk mengukurnya. Dalam mengidentifikasikan populasi yang hendak di-survey, homogeneitas dapat ditentukan dnegan pertanyaan : “Apakah karakteristik umum yang menarik ?”

Contoh :
  • Mahasiswa periklanan angkatan ’99 FIKOM UMB > dari segi angkatan /tingkatan homogen
  • Populasi dari para eksekutif pria > homogen dari segi jenis kelamin dan pendapatan

Kelemahan :
  • Jika populasi yang secara geografis tersebar.
  • Kerangka sampel dari seluruh individu dalam populasi harus dibuat. Seringkali tidak tersedia data yang cukup mendukung untuk menyusun kerangka sampel secara lengkap.

2. Stratified Random Sampling

Kata lainnya adalah Metode pengambilan sampel acak terstratifikasi, adalah metode pemilihan sampel dengan cara membagi populasi ke dalam kelompok-kelompok yang homogen yang disebut strata,dan kemudian sampel diambil secara acak dari tiap strata tersebut.

Apabila anggota-anggota populasi tidak homogen, tetapi bisa dikelompokkan dalam kelompok-kelompok yang realtif homogen, maka proses pengambilan sampel dengan metode acak sederhana akanmenimbulkan bias, karehna keheterogenan yang ada pada anggota populasi akan berpengaruh terhadap informasi yang diperoleh dari variabel yang diobservasi.

Pada kondisi tersebut perlu dilakukan pembagian anggota-anggota populasi ke dalam kelompok-kelompok yang relatif homogen tersebut. Agar satndar deviasi yang diperoelh tetap kecil, maka satuan sampel yang relatif homogen dalam karakteristik yang diteliti dijadikan satu kelompok yang dinamakan strata. Dengan demikian variasi yang ada antar strata menggambarkan variasi dalam tiap strata. Selanjutnya dari tiap strata ini diambil sampel secara acak..

Jadi dapat disimpulkan bahwa metode ini adalah metode untuk mengambil sampel secara sistematis dengan interval/jarak tertentu dari suatu kerangka sampel yang telah diurutkan.

Langkah-langkahnya :
  1. Tetapkan strata
  2. Tetapkan tiap satuan sampling dari populasi ke dalam strata yang sesuai.
  3. Setelah satuan sampling dibagi menjadi beberapa strata, dilakukan pemilihan sampel secara acak sederhana untuk tiap strata dengan cara yang telah dijelaskan pada point di atas.
  4. Harus yakin bahwa sampling yang terpilih dari strata adalah independen. Dengan demikian skema sampling yang berbeda harus digunakan dalam tiap strata, sehingga observasi yang terpilih dalam tiap strata tidak tergantung pada sampel lainnya yang terpilih.

3. Systematic Random Sampling

Adalah metode untuk mengambil sampel secara sistematis dengan interval (jarak) tertentu dari suatu kerangka sampel yang telah diurutkan.

Dengan demikian tersedianya suatu populasi sasaran yang tersusun merupakan prasyarat penting bagi dimungkinkannya pelaksanaan pengmabilan sampel dengan metode acak sistematis.

Contoh : dari 100 orang karyawan ingin diambil secara acak sistematis 10 orang karyawan sebagai sampel. Penyelesaiannya dapat dilakukan sebagai berikut:
  1. Tentukan banyaknya kelompok.
    K = 100/10 = 10, berarti ada 10 kelompok (tidak boleh lebih daari 10 kelompok).
  2. Memberikan no.urut secara acak pada 100 orang karyawan tersebut dari 1,2,3, sampai 100.
  3. Selanjutnya membagi keseluruhan anggota populasi menjadi 10 kelompok. Maka akan diperoleh kelompok pertama (kelompok A, mis) berisi karyawan dengan no. urut 1 s/d 10, kelompok B dnegan no.urut 11 s/d 20 dst.
  4. Mengambil satu unit sampel secara acak pada kel. A, mis terambil karaywan no.3. Setelah itu dilakukan pengambilan sampel pada kelompok yang berikutnya untuk satuan sampel yang beradasegaris (memilki jarak yang sama) dengan sampel no.3 tersebut. Anggota populasi yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah anggota populasi yang mempunyai no. sbb :

Memahami Kesalahan Pengukuran (Measurement Error) Sampling 2_

Jadi pengambilan sampel yang dilakukan benar-benar secara acak hanyalah pada pengambilan sampel pertama dari kelompok pertama. Sesudah sampel pertama tersebut terambil, maka sampel kedua, ketiga, dst, diambil secara sistematis dari kelompok kedua, ketiga, dst.

Perbandingan systematic random sampling dengan simple random sampling :
  • Sistematic lebih mudah dilakukan dan dapat mengurangi subyektivitas dari si pengamat.
  • Sistematic seringkali memberikan informasi yang lebih banyak per unit biaya yang dikeluarkan daripada simple random. Pertimbangan ini didasarkan karena dengan pengambilan sampel secara sistematis, maka sampel yang terambil seringkali tersebar secara merata dalam keseluruhan populasi sehingga banyak memberikan informasi.
  • Proses pemilihan sampel dapat lebih cepat dilakukan dan juga menghemat biaya.

Non-Probability Sampling

1. Sampling Kemudahan (Convenience Sampling)

Cara pengambilan sampel ini dilakukan berdasarkan ketersediaan elemen dan kemudahan untuk mendapatkan sampel tersebut. Cara penarikan sampel ini sangat mudah dan murah. Hanya saja penarikan sampel seperti ini, tidak dapat diandalkan. Cara pengambilan sampel ini biasanya dilakukan dalam tahap awal penelitian eksploratif yang ditujukan untuk mencari petunjuk awal tentang suatu kondisi yang menarik perhatian. Memang, hasil yang diperoleh dari penarikan sampel dengan cara ini seringkali dapat menyediakan bukti yang melimpah.

Contoh: 
  • Memilih 50 pembeli untuk tahu persepsi konsumen terhadap pelayanan toko
  • Memilih mahasiswa pada setiap kelas untuk mengetahui reaksi mahasiswa terhadap kebijakan dekan Fikom

Kelemahan: pengambilan sampel semacam ini mempunyai kelemahan karena metode ini dapat dilakukan dengan mengambil siapa dan apa saja yang ditemui oleh peneliti. Ini berarti tidak ada seleksi lebih lanjut. Dengan demikian, hasil pengambilan sampel ini tidak dapat digunakan untuk mengambil keputusan karena sarat dengan bias. Selain itu, pengambilan sampel ini tidak tepat digunakan bila populasinya dapat didefinisikan. Teknik sampling ini tidak cocok dan tidak dianjurkan untuk penelitian yang deskriptif dan kausal.

2. Sampling Pertimbangan (Judgment sampling)

Sampling pertimbangan adalah cara penarikan sampel berdasarkan kriteria-kriteria yang telah dirumuskan terlebih dahulu oleh peneliti. Pertimbangan peneliti akan dipengaruhi oleh faktor subjektivitas dan pengalaman. Cara ini lebih cocok dipakai dalam tahap awal penelitian eksploratif. Dalam hal ini, sampel yang diambil dari anggota populasi dipilih sekehendak hati oleh peneliti menurut pertimbangan dan intuisinya. Berkaitan dengan cara penarikan sampel semacam ini, dikenal juga expert sampling dan purposive sampling. Sampling atas dasar keahlian adalah cara pemilihan sampel yang representatif didasarkan atas pendapat ahli. Dalam purposive sampling, pemilihan sampel bertitik tolak pada penilaian pribadi peneliti yang menyatakan bahwa sampel yang dipilih benar-benar representatif.

Kelebihan: beberapa situasi dalam penelitian dapat mengarahkan peneliti untuk menggunakan sampling pertimbangan. Situasi-situasi itu adalah:
  • Pada kondisi di mana sampling probabilitas tidak dapat digunakan sama sekali
  • Bila ukuran sampel sangat kecil (<20)
  • Bila peneliti mempunyai pengetahuan yang memadai terhadap topik yang dihadapi sehig dapat dijamin bahwa sampel yang diambilnya benar-benar representatif.

Kelemahan: tuntutan kejelian dari peneliti dalam mendefinisikan populasi dan membuat pertimbangannya sangat tinggi. Pertimbangan harus masuk akal dan relevan dengan maksud penelitian.

Contoh: akan diteliti “sikap dan perilaku konsumen terhadap rokok Star Mild”. Penelitian ini akan menggunakan metode sampling pertimbangan. Adapun pertimbangannya adalah sebagai berikut:
  • Perokok di Jakarta Utara yang pernah mencoba rokok yang bersangkutan. Batasan diambil karena, pertama, letak geografis para responden mudah. Kedua, dengan yang dipilih hanya para perokok akan mengurangi bias dari hasil penelitian karena antara yang perokok dan bukan perokok, biasanya menunjukkan sikap dan perilaku yang berbeda. Ketiga, pembatasan pada responden yang pernah mencoba rokok star mild, sudah jelas karena bagaimana mereka akan bersikap dan berperilaku tertentu terhadap rokok tertentu.
  • Faktor usia 15 tahun ke atas karena usia 15 tahun diharapkan dapat memutuskan mengisi angket secara benar.
  • Batas penyebaran angket selama 2 minggu.

3. Quota Sampling

Teknik sampling ini menggunakan data demografi. Pada dasarnya Quota Sampling sama dengan Sampling Pertimbangan. Ada dua tahap dalam pengambilan sampel ini. Pertama adalah tahapan peneliti merumuskan kategori kontro atau quota dari populasi yang ditelitinya. Kedua adalah penentuan bagaimana sampel akan diambil. Perbedaan antara quota sampling dengan sampling pertimbangan terletak pada adanya batasan pada quota sampling bahwa sampel yang diambil harus sejumlah tertentu yang dijatah dari setiap subgroup yang telah ditentukan dari suatu populasi.

Kelebihan: penarikan sampel ini murah dan peneliti leluasa menentukan elemen-elemen untuk setiap quotanya.

Kelemahan: ditinjau dari bias yang mungkin terjadi, terlihat bahwa dengan teknik sampling ini akan diperoleh data yang sangat beragam. Kondisi ini akan mempersulit perumusan hasil penelitian. Kelemahan lainnya adalah tidak adanya cara yang baku bagi pewawancara dan teknik wawancaranya.

Sekian artikel tentang Memahami Kesalahan Pengukuran (Measurement Error) Sampling.

Daftar Pustaka
  1. Griffin, Em. 1991. A First Look at Communication Theory. New York: McGraw-Hill
  2. Sendjaja, Sasa Djuarsa, 1993. Teori Komunikasi, Jakarta: Univ. Terbuka
  3. Mulyana, Deddy. 2001. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar
  4. Littlejohn, Stephen, 1996, Theories of Human Communication. Wadsworth Publishing Company Inc Belmont

Posting Komentar untuk "Memahami Kesalahan Pengukuran (Measurement Error) Sampling"