Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pengertian dan Hakikat Pengetahuan Eksistensi Manusia

Pengertian dan Hakikat Pengetahuan Eksistensi Manusia - Manusia tidak terlepas dari pengembangan pengetahuan yang denganya jiwa manusia terbebas dari kekangan, pengetahuan merupakan salah satu dimensi dari eksistensialitas manusia yang membuatnya unik dan membedakannya dengan yang lainnya di dunia ini.

Pengertian dan Hakikat Pengetahuan Eksistensi Manusia_
image source: campustechnology.com
baca juga: Rancangan Percobaan Desain Eksperimen Tipe Faktorial

PENGETAHUAN

Jiwa manusia terkekang atau terpenjara dalam tubuh/badan, ia berupaya terbebas dari kekangan dengan kematian dan pengetahuan. Begitu pentingnya pengetahuan dalam jiwa manusia.
artikel ini sepenuhnya disadur dari modul Filsafat Manusia karya Ahmad Sabir
Kegiatan manusia itu bermacam-macam, dari hal yang paling sederhana dan praktis sampai ke hal yang mendalam dan manusiawi. Kegiatan yang dianggap paling sentral diantaranya adalah ‘mengerti’ dan ‘mau’. ‘mengerti’ dalam ‘aku’ (manusia) merupakan bentuk dari pengetahuan intelektif sebagai manusia, sedang ‘mau’ merupakan kehendak/penghendakan manusia. Pengertian dan penghendakan merupakan pusat dari segala aktifitas-ku yang meresapi dan mewarnai setiap kegiatan ‘aku’, dan memberikan kepada ‘aku’ (manusia) arti dan isi yang sungguh manusiawi.

Pada beberapa modul terdahulu terutama tentang pembahasan mengenai badan dan jiwa manusia, dimana ‘aku’ sebagai titik tolaknya. Secara eksplisit maupun implisit telah disebutkan bahwa manusia sebagai ‘Aku’ tidak sama dengan selain ‘aku’ juga terhadap ‘aku-aku’ yang lain dalam eksistensi manusia. kita telah pernah membicarakan mengenai taraf-taraf dalam struktur jiwa yang menunjukkan perbedaan antara ‘aku’ manusia dan yang-lain. Untuk mempertajam pemahaman tentang pengetahuan intelektif sebagai bagian yang lahir dari jiwa ada baiknya kita review kembali taraf-taraf tersebut.

Di dalam struktur jiwa termuat empat taraf yang secara hierarkis berada pada intelektualitas manusia sebagai puncaknya. Ada keserupaan antara taraf-taraf tersebut. Keserupaan begitu berlaku, misalnya, bagi kesatuan kegiatan aktual dengan objek dan potensinya; bagi otonomi dan korelasi, imanensi dan transendensi, objektivitas dan subjektivitas, singularitas dan universalitas. Jika diteliti taraf demi taraf, unsur-unsur struktural tersebut dapat dibedakan dari yang terendah sampai tertinggi. Ke-empat taraf tersebut antara lain;

1.Taraf Anorganis / Fisiko-Kimis
Objek kegiatan itu adalah arti-harga manusiawi, namun menurut taraf rendah ini, contoh : di dalam terang, di dalam bunyi, kasar, panas,dll. Potensi pada taraf ini adalah kemampuan untuk memberi dan menerima secara fisiko-kimis (alamiah). Taraf Fisiko-kimis ini ikut berfungsi di dalam pengertian dan penghendakan manusia, baik sebagai ‘penerimaan’ maupun sebagai ‘penyebaban’. Misalnya besi di dalam darah, fosfor di dalam otak, gamping di dalam tulang, obat aspro dan obat bius, dan hormon hasil kelenjar.

2.Taraf Biotik / Vegetatif
Objek adalah arti dan harga subjek-partner yang organis dan sejauh bersifat vital-hidup. Misalnya, hewan memburu hanya ‘melihat’ yang bergerak saja. Pada taraf ini hanya terletak pada taraf ‘enak’ atau ‘sehat’. Potensi terletak pada bidang vital pula. Subjek dan partner mampu melaksanakan proses biotik yang memegang peranan didalam evaluasi.Taraf kedua ini berfungsi di dalam pengertian dan penghendakan manusia, baik sebagai ‘penerimaan’ maupun sebagai ‘penyebaban’ :darah dan jantung, keringat dan otot, sel-sel di dalam otak.

3.Taraf Psikis / Sensitif
Objek adalah seluruh manusia, partner konkret, sejauh menentukan seluruh hidup yang praktis menurut guna dan rugi pragmatis. Potensi adalah kemampuan bertisipasi dan berkomunikasi dengan partner pada taraf psikis ini, merupakan reaksi yang spontan. Taraf ketiga ini berfungsi di dalam perngartian dan penghargaan manusia, baik sebagai ‘penerimaan’ maupun sebagai penyebaban. Pada taraf inilah terletak perasaan identitas spontan dengan yang lain, simpati ataupun antipati. Contoh : merasa diri sebagai ikan di air, sebagai kijang lepas dari ikatan.

4.Taraf Formal-Manusiawi-Kesadaran
Objek adalah partner sebagai manusia, sebagai subtansi dan subjek pula. Objek-formalnya bukan bidang sempit, subjek dapat bergerak bebas, jadi objek itu memberi keterbukaan besar. Potensi taraf ini adalah daya pengartian dan penghargaan sebagai kegiatan intelektual manusia.

Kegiatan intelektual manusia adalah hakikat dimensi manusia yang didalamnya termuat adanya pemahaman dan pengetahuan. Pemahaman merupakan awal dari pengetahuan manusia, sedang pengetahuan merupakan taraf tertinggi dari ke-empat taraf dalam struktur jiwa yang sekaligus meresapi seluruh kegiatan pada ‘aku’ (manusia). Pengetahuan intelektif adalah pengetahuan yang hanya dicapai oleh manusia dan tidak dapat dicapai oleh makhluk lain di dunia ini melalui ‘pemahaman’ yang telah tersedia bagi dirinya. Pengetahuan ini dicapai oleh rasio atau intelegen, yang merupakan kemampuan intelektual manusia. Untuk bisa memahami pengetahuan, kita perlu mencoba merinci hal-hal yang terlibat di dalam kegiatan intelek.

Pemahaman sebagai awal Pengetahuan Manusia

Pemahaman manusia adalah pusat dari eksistensialitasnya sebagai manusia yang sudah terlempar di dunia. Pemahaman manusia itu sudahi Ada-melampaui-dirinya sebagai sesuatu yang tersedia dan melekat padanya sebagai ciri yang khas dan unik. Pemahaman manusia membuat manusia menjadi satu-satunya yang terletak di dunia yang memiliki kemungkinan-untuk-berAda yang dalam hal ini bereksistensi (possibility-for-Being). Dasein (manusia) sebagai entitas di dunia tidak seperti entitas-entitas lain yang tereduksi pada Ada disuatu saat, melainkan memiliki kapasitas yang terus-menerus menjadi. Heidegger menyebut manusia sebagai dasein di dunia sebagai entitas dalam “kebeluman terus-menerus sampai masa depan yang datang menghampirinya“ (Heidegger, 1962:167).

Manusia itu aktif tidak seperti benda-benda pasif, ia memiliki cita-cita, keinginan dan harapan juga masa depan yang terencana maupun tidak. Namun kapasitas manusia yang terus menjadi dalam kebeluman terus-menerus tidak tak terbatas. Manusia tetap dipengaruhi oleh latar belakang kultural dimana ia terlempar. Heidegger menekankan bahwa pemahaman pada manusia bukan suatu aktivitas kognitif;

“Dengan pernyataan “pemahaman” kita telah memilikinya dalam pikiran suatu eksistensial fundamental, yang tidak bisa diartikan sebagai bagian dari kognisi yang telah sering kita kenal dari penjelasan dan penyusunan, juga bukan kognisi secara keseluruhan dalam pengertian menangkap sesuatu secara tematis”(Heidegger, 1962:385)

Pemahaman manusia sebagai dasein bukan pemahaman sadar tentang dunia ontik melainkan pemahaman primordial dalam faktisitas (kejatuhan)nya pada dunia eksistensial. Pemahaman oleh Heidegger lebih ditekankan pada pemahaman praktis (Dreyfuss, 1992:184). Keterlemparan manusia di dunia sebagai sebuah faktisitas membuat setiap ‘pemahaman’ memiliki suatu struktur presuposisi yang disebut fore-structure. Fore-structure terdiri atas fore-having, fore-sight dan fore-conception (Gahral, 2001:67). Memahami suatu entitas khusus misalnya buku dalam dunia eksistensial anak sekolah membuat manusia memiliki struktur presuposisi sendiri. Hal itu dapat di lukiskan sebagai berikut; (1) fore-having (vor-habe), memahami buku berarti telah memiliki sejak awal pemahaman tentang zuhandenes (peralatan siap pakai atau ready-to-hand) sebagai satu keseluruhan. Manusia sebagai Dasein telah memiliki sejak awal bahwa buku bersama dengan pena, penggaris, tipex merupakan benda-benda siap pakai untuk belajar atau mengerjakan tulisan. (2) fore-sight (vor-sicht), memahami buku berarti memiliki penglihatan sejak awal wujud sebuah tulisan. Manusia memahami buku sebagai alat untuk mewujudkan tulisan. (3) fore-conception (vor-griff), memahami buku berarti menangkap maksud sejak awal bahwa menggunakan buku untuk belajar dan mengerjakan tulisan adalah demi keberadaan manusia sebagai anak sekolah.

Dalam teori fore-struktur inilah kemudian Heidegger dapat menyajikan teori makna. Mengetahui makna dari sesuatu adalah mengetahui pengertian yang akan diproyeksikan oleh hal itu, wawasan yang dalam pengertiannya akan dibuat, lingkungan yang dimiliki oleh hal itu. Wawasan sedemikian dibentuk oleh fore-struktur. Makna bukanlah sesuatu yang seperti dalam penelitian logika Husserl yang menganggapnya sebagai suatu struktur obyektif yang kekal, akan tetapi makna adalah menyangkut eksistensialitas manusia sebagai dasein. Makna disediakan oleh manusia ketika manusia memproyeksikan suatu wawasan yang menjadi terisi oleh entitas. Makna hanya ditemukan sejauh eksistensi manusia. Diluar manusia tidak ada absurditas, hanya ada non-makna, karena hanya manusia yang dapat mengalami kebermaknaan atau ketidakbermaknaan. (Caputo, 1987: 49).

Sebagai suatu proses ontologis, pemahaman dipandang Heidegger sebagai senantiasa sudah berada dalam suatu jaringan hubungan yang sudah terartikan (karena pemahaman dari aslinya sudah berprastruktur vorhabe, vorsicht, vorgriff), keseluruhan-yang-sudah-saling-menunjuk (Bewandtnisganzheit) karena arti sudah terdapat bersama keterbukaan azali manusia sebagai dasein yang sudah Ada-dalam-dunia (in-der-welt-sein) (Puspoprodjo, 1987:81). Maka pemahaman manusia sebagai dasein yang sebenarnya adalah pra-paham.

Aktivitas pemahaman juga ditujukan pada perwujudan sesuatu, belajar dan mengerjakan tugas. Hal ini demi keberadaan manusia sebagai anak sekolah yang tidak bisa dipahami sebagai sebuah rencana. Heidegger menyebutnya proyeksi;

“Proyeksi bukanlah sesuatu yang telah direncanakan sebelumnya dengan menempatkan dirinya sendiri dari hasil pemikirannya, berlawanan dengan itu. Manusia (Dasein), sebagaimana dasein sudah diproyeksikan oleh dirinya sendiri; selama keberadaannya, ia diperoyeksikan oleh dirinya sendiri.”(Heidegger, 1962:185).

Proyeksi merupakan sifat dari pemahaman karena eksistensi manusia bersifat proyektif, dan proyeknya kontekstual karena Ada-nya dicirikan oleh keterlemparan dan ketelahjadian.(Caputo, 1987:56). Memahami berarti memproyeksikan kerangka kerja wawasan tertentu, sehingga totalitas manusia di dalamnya menjadi terpahami. Entitas hanya dapat muncul sejauh wawasan tentang totalitas manusia telah dipersiapkan sebelumnya. Orang dapat mempelajari sesuatu yang baru hanya pada kondisi bahwa orang tersebut telah mengarahkankannya secara tepat. Orang dapat mengerti hanya bila Ia telah pra-memahami (paham sebelumnya). Tidak ada fakta murni yang Belum di interpretasikan dari suatu persoalan, akan tetapi hanya yang-lain yang telah dipersiapkan terus dalam kerangka tertentu dan di proyeksikan dalam totalitas manusia yang sesuai.

Pemahaman sebagai pemahaman dalam satu dunia eksistensial juga berarti pemahaman ruang gerak;

“Dengan primordialitas yang sama, pemahaman memproyeksikan eksistensi manusia (Ada-dasein) masuk diantara sesuatu hal yang dikerjakan demi keberadaan manusia (dasein) dan sesuatu yang signifikan menempatkan manusia sebagai dasein bermukim didunia dan ikut dalam arus dunia. Proyeksi adalah totalitas eksistensial (Ada-eksistensial) yang dibentuk oleh kemampuan mengatasi keterlemparan manusia sebagai dasein yang didapatnya dari ruang gerak (room-for-maneuver)” (Heidegger, 1962:185).

Jika pemahaman berarti juga pemahaman ruang gerak. Maka gerakan dalam pemahaman ini menyangkut suatu arah, atau arus yang fundamental. Suatu tendensi untuk jatuh diantara benda-benda dan di luar benda-benda. Dalam mengambil jalan keluar yang mudah, manusia sebagai dasein selalu “jatuh”, yang memiliki makna ontologis yang ketat yaitu degenerasi. Manusia cenderung bergerak lebih jauh lagi dari eksistensialitasnya sendiri.

Bagi Heidegger pemahaman ruang gerak berarti pemahaman yang bergerak mengikuti totalitas manusia dalam pergerakan yang terus menerus. Menurut Heidegger “pemahaman mengikuti Ada: berpikir mengikuti Ada (understanding follows Being: intelligere sequitur esse).”(Heidegger, 1962:271). Tidak ada bidang “epistemologis murni“ bagi Heidegger, tetapi hanya ada ontologi pengetahuan atau pemahaman. Heidegger disini bermaksud memperoleh suatu ketetapan pada yang terus berubah, dengan menunjukkan pola sirkuler padanya yang menunjuk “logika“ pergerakan, bukan dalam pengertian Hegelian sebagai menuju ke suatu arah dari sebuah dialektika, melainkan dalam pengertian logos sebagai sesuatu yang dibiarkan terlihat. Logika ini menelusuri pergerakan ke muka dan ke belakang dalam pemahaman manusia sebagai dasein. Dengan ini Heidegger menyatakan bahwa tidak penting menyelidiki pergerakannya, akan tetapi yang lebih tepat adalah menelusuri pergerakannya (Caputo, 1987:61-62).

Pemahaman ruang gerak adalah pemahaman tentang sederetan kemungkinan-kemungkinan yang tersedia dalam satu dunia eksistensial. Keberadaan seseorang dalam dunia eksistensial anak sekolah membuatnya memiliki batas kemungkinan-kemungkinan. Ia dimungkinkan untuk menggunakan buku untuk membuat tulisan didalamnya atau menggunakan pena untuk menulis, akan tetapi Ia tidak dimungkinkan untuk menggunakan buku untuk wadah meminum air atau menggunakan pena untuk menyendok makanan. Seorang anak sekolah telah dihadapkan pada sederetan kemungkinan-kemungkinan yang telah tersedia dalam dunia eksistensial anak sekolah dan telah memahaminya secara sadar maupun tak sadar. Pemahaman ruang gerak dalam dunia eksistensial inilah yang kemudian menghantarkan manusia menyadari dan mengembangkan ‘pengetahuan’ sebagai bentuk dari kegiatan intelektifnya di dunia, sebagai salah satu dimensi dan ciri khas yang sudah dimilikinya.

Pengetahuan Intelektual

Pengetahuan intelektual sudah menjadi pusat pembicaraan di dalam filsafat sejak jaman kuno. Salah satu dari dialog-dialog Plato yang sangat cemerlang, semisal Theaetetus atau Phaidon, Menon, merupakan suatu usaha untuk sampai pada defenisi pengetahuan yang memuaskan.

Kemudian, pemahaman mengenai hakikat pengetahuan menempati kedudukan penting di dalam sistem-sistem besar filsafat. Jika filsafat dimengerti sebagai suatu penyelidikan ontologis/metafisis, yakni sebagai usaha untuk melukiskan hakikat utama kenyataan atau menyebutkan apa yang bisa disebut benar-benar ada, upaya ini mensyaratkan suatu penyelidikan pendahuluan mengenai skop dan validitas pengetahuan (objek formal/sudut pandang). Hanya sesuatu yang dapat dikatakan ada bisa diketahui keberadaannya. Sebaliknya, jika filsafat dimengerti sebagai suatu penyelidikan kritis, maka haruslah ditentukan jangkauan dari kegiatan-kegiatan yang menghasilkan pengetahuan.

Di dalam filsafat modern, teori mengenai pengetahuan telah menjadi bidang utama penyelidikan filosofis (satu dari cabang sistematika filsafat adalah epistemologi). Descartes dan Locke, Hume dan Kant pertama-tama adalah epistemolog. Hal ini diteruskan oleh Mill, Russel dan filsuf-filsuf analitis pada abad ini.

Defenisi pengetahuan yang diterima secara luas mengatakan bahwa pengetahuan adalah keyakinan mengenai suatu objek yang telah dibuktikan kebenarannya. Kiranya juga jelas bahwa kita hanya dapat mempunyai pengetahuan mengenai sesuatu yang benar. Maka, keyakinan yang hanya secara kebetulan benar tidak dapat dterima sebagai pengetahuan. Pengetahuan harus diverifikasi/dibuktikan.

Kebenaran yang disyaratkan di sini tidak perlu diartikan sebagai kebenaran mutlak dengan kepastian absolut. Kepastian absolut mengenai kebenaran dari suatu pernyataantidak bisa dimiliki oleh budi manusia. Kemungkinan terbaik yang bisa dicapai ialah bahwa ada alasan-alasan kuat untuk menerima bahwa sesuatu itu benar. Mengapa?

Pengetahuan merupakan kegiatan intelektual yang melibatkan baik objek maupun intelegensi manusia. Disatu pihak, objek pengetahuan adalah segala sesuatu yang ada. Baik secara kualitatif maupun kuantitatif, objek tersebut begitu kompleks. Di lain pihak, budi manusia bersifat terbatas, namun selalu berkembang. Maka seandainya budi manusia mempunyai kemampuan untuk menangkap objek yang tak terbatas dalam jumlah maupun kedalaman masing-masing, kemampuan budi tidak bisa merangkum semuanya itu sekaligus. Pengetahuan selalu memusatkan perhatiannya pada perspektif tertentu dari kenyataan dan tidak bisa menangkap kenyataan secara lengkap.

Jelaslah bahwa objek dari pengetahuan menjadi tidak terbatas, karena budi manusia ingin menjangkau segala sesuatu baik dalam hal macam-macam jenis objeknya yang mungkin ada maupun segala aspek dari masing-masing objek. Aspek-aspek ini bisa dimengerti sebagai aspek internal dan eksternal. Secara internal, budi manusia ingin mengetahui objek dengan membuat analisis mengenai unsur-unsur pembentuk objek tersebut dan sekaligus menangkap bagaimana unsur-unsur itu saling terkait satu sama lain, sehingga membentuk satu kesatuan objek yang utuh. Sebaliknya, secara eksternal, budi ingin memperlakukan objek sebagai satu kesatuan di dalam interaksinya dengan lingkungannya. Untuk bisa mengetahui objek dengan lengkap, budi juga harus bisa menangkap dengan jelas bagaimana objek tersebut dan lingkungannya saling mempengaruhi dan membentuk. Selanjutnya, pengetahuan internal dan eksternal tersebut bersifat saling mengandaikan dan tidak dapat dipisahkan satu dari yang lainnya.

Kalau kita ingat bahwa budi merupakan fakultas manusia yang paling efektif di dalam membuat abstraksi, maka menjadi jelas bahwa budi di dalam menghadapi setiap objek selalu bertolak dari perspektif tertentu. Bersama dengan itu budi menyingkirkan aspek-aspek yang lain dengan alasan tidak relevan untuk minat budi yang memusatkan diri pada perspektifnya sendiri. Karena suatu objek bisa dipandang dari pelbagai perspektif secara tak terbatas, maka budi juga bisa selalu bergerak dari satu perspektif ke perspektif lainnya secara tak terbatas. Tambahan lagi di dalam perspektif tertentu, pengetahuan selalu bisa berkembang, maka budi rasanya tidak akan kehabisan bahan untuk mengejarnya. Dengan kata lain, budi yang terbatas itu mau mengejar sesuatu yang tak terkejar.

Inilah alasan-alasan mengapa budi manusia tidak pernah sampai kepada suatu pengetahuan yang bersifat absolut. Akibatnya, budi sendiri selalu berkembang di dalam usahanya untuk memberikan pertanggungjawaban yang semakin lengkap terhadap pengetahuan akan setiap objek. Maka bisa dimengerti kalau perkembangan ilmu tidak semakin menyempit dan menyatu, tetapi justeru semakin bercabang-cabang dan mendalam. Terdapat spesialisasi ilmu yang semakin lembut dan hubungan antarbidang ilmu semakin renggang, karena terlibat di dalam pengetahuan dan bahasa yang semakin teknis yang tidak bisa diterjemahkan dengan bahasa umum ataupun diterjemahkan ke dalam bahasa bidang ilmu yang lain. Maka pendapat yang mengatakan bahwa suatu pengetahuan merupakan keadaan budi yang telah mencapai kejenuhannya dengan kepastian akan objeknya secara faktual tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Budi bersifat progresif, yakni selalu bergerak maju di dalam proses penetrasinya ke dalam objek, yang tidak pernah lengkap dan selesai. Bahkan ilmu-ilmu positif yang semakin berkembang secara intensif dan ekstensif pun tidak bisa begitu saja dijajarkan dan ditambahkan. Teori yang satu dengan teori yang lain tidak bisa ditumpuk untuk saling melengkapi. Selalu terdapat aspek yang lepas dari genggaman pengetahuan.

Sifat Progresif Pengetahuan

Pengetahuan ‘aku’ (manusia) yang merupakan hasil dari kegiatan intelegensi (kesadaran) bersifat progresif. Progresif yang menunjuk pada pengertian maju disini dimengerti dalam beberapa pengertian pokok.

Pertama, intelegen atau rasio merupakan kemampuan tertinggi manusia yang mengandaikan dukungan dari kemampuan-kemampuan yang lebih rendah. Tanpa kegiatan normal dari taraf-taraf lebih rendah yang merupakan bagian integral manusia, pengetahuan intelektif yang utuh tidak mungkin. Dengan kata lain, intelegensi hanya bisa berfungsi dengan partisipasi dari kemampuan taraf-taraf yang lebih rendah. Maka kesehatan fisik dan biologis misalnya yang terutama berhubungan dengan indra, serta kesehatan emosional psikis diandaikan bagi kegiatan intelektual. Kegiatan intelektual merupakan pemuncakan dari kegiatan-kegiatan yang lebih rendah. Artinya, kegiatan-kegiatan lebih rendah menyatu untuk diangkat dan ditingkatakan oleh kegiatan intelektual, sehiangga pengetahuan intelektual dikatakan progresif.

Kedua, meskipun benar bahwa intelegensi ‘aku’ (manusia) tidak pernah kosong, pengetahuan tertentu mengandaikan dasar pengertian yang telah dimiliki lebih dahulu. Misalnya, untuk bisa belajar geometri harus tahu dulu mengenai bilangan dan matematika. Maka bisa dikatakan bahwa ‘pra-pengertian’ tertentu mendasari pengetahuan lebih lanjut. Juga pemahaman yang mendalam mengenai sesuatu tidak bisa dicapai dengan seketika. (itu sebabnya banyak mahasiswa sulit memahami filsafat manusia, mungkin karena pengetahuan filsafat umumnya (dasar) kurang mengerti..hehe). oleh sebab itu, dari pihak rasio, pengetahuan mendalam mengenai hakikat memerlukan adanya tahap-tahap persiapan yang mendahuluinya. Diperlukan adanya dinamisme rasio dengan dukungan kesetiaan kehendak, keyakinan akan tercapainya kemajuan. Keberanian untuk coba-coba, dan kesabaran dalam menekuni setiap langkah. Sedangkan dari pihak objek, penampilan dirinya tergantung dari gerak maju intelegensi. Kita tahu bahwa pengetahuan adalah abstraksi, dan abstraksi tergantung dari minat dan perhatian yang dikhususkan oleh budi, sedangkan aspek lain dianggap tidak relevan. Maka kemajuan dinamisme intelensi juga berarti kemajuan penampilan diri objek. Misalnya dari pengetahuan tentang filsafat manusia bisa saja mengembang pada pemahaman tentang filsafat tindakan dan prilaku dll. Maka, disini pengetahuan bisa dikatakan progresif dalam arti bahwa pengetahuan itu semakin lengkap dan mendalam dibanding dengan pengetahuan sebelumnya.

Ketiga, kesadan mengenai ‘aku’ menunjukkan bahwa ‘aku’ tidak pernah lepas dari dunia yang melingkupinya, begitu juga budi yang ada di dalam ‘aku’ tersbut. Dengan kata lain, poerkembangan budi seseorang juga tergantung dari perkembangan hasil budi orang-orang lain. Sosialitas manusia dalam segala sifatnya tidak pernah bisa diabaikan, bahkan seandainya tindakan seseorang itu bersifat sangat pribadi. Pengetahuan seseorang itu selalu terarah dan tergantung dari hasil yang dicapai oleh masyarakatnya. Maka tingkat kemajuan intelegensi ‘aku’ pribadi juga didasarkan pada apa yang telah dimiliki oleh masyarakat yang melingkupinya.

Kalau kita sejenak melihat, deskripsi diatas menuntut realitas bahwa kerja sama antar bidang pengetahuan dewasa ini menjadi semakin penting, dan perkembangan pengetahuan di bidang yang satu juga tergantung pada pengetahuan bidang yang lain. Kita juga melihat bahwa cara berpikir, cara merasa, cara bertindak dan cara beraksi, sekurang-kurangnya pada awal perkembangan seseorang dibentuk oleh kebudayaan masyarakat sekitarnya. Untuk itu kiranya perlu juga ditegaskan bahwa pengetahuan bersifat progresif dalam interaksi dengan masayarakat sosialnya (sosialitas manusia).

Bentuk-bentuk kegiatan Intelektif dalam Pengetahuan

Pada deskripsi diatas sudah disebutkan bahwa kegiatan intelegensi tidak dapat dipisahkan dari kegiatan dari taraf-taraf yang lebih rendah. Maka batas kemampuan paling sederhana dari intelegensi sering kali juga terdapat secara analog dalam taraf-taraf yang lebih rendah. Oleh sebab itu, disinipun kita akan berbicara mengenai bentuk-bentuk kegiatan intelektif mulai dari yang paling sederhana.

Pertama, tingkat kegiatan intelektif yang paling sederhana adalah persepsi. Di dalam persepsi kemampuan intelektif manusia digerakkan secara tidak sadar dan pra-reflektif. ‘pengetahuan’ yang dihasilkan ialah pengetahuan perspektif yang bersifat spontan, pra-sadar dan pra-pribadi. Pengetahuan ini tidak terumuskan secara gamblang karena biasanya hanya ada sebagai latar belakang. Tetapi cukup alasan untuk mengandaikan adanya pengetahuan jenis ini. Misalnya, bahwa kita berada didunia di sekitar makhluk-makhluk lain sudah merupakan sesuatu hal yang ‘diketahui’ meskipun tidak disadari secara penuh.

Kedua, yaitu jenis pengetahuan yang terjadi bila suatu gagasan muncul dengan tiba-tiba di dalam pikiran kita. Mungkin gagasan yang muncul itu kita ikuti, namun tidak menjadi bahan kesadaran yang memadai. Seolah-olah budi sama sekali pasif menerima apa saja yang melintas. Hal ini terjadi misalnya saat ‘aku’ (manusia) sedang ‘melamun’ entah disela-sela kesibukan, entah disaat-saat kosong. Pada saat kesempatan seperti itu tiba-tiba sesuatu ‘nyelonong’ masuk di dalam pikiran meskipun tidak dikehendaki ataupun disadari sepenuhnya. Lalu, jika terjadi sesuatau yang mengejutkan baru disadari bahwa hal itu hanya lamunan.

Ketiga, pada tingkat yang lebih tinggi lagi terdapat yang disebut apprehensi di mana sudah terdapat kesadaran, meskipun pasif menerima apa yang terjadi pada diri. Peristiwa yang terjadi pada manusia lebih disadari sebagai sesuatu yang menimpanya daripada sebagai sesuatu yang ingin dipahaminya. Manusia sekedar merekam peristiwa itu daripada menangkap artinya, tidak berusaha untuk menyelidiki mengenai apa, mengapa dqan dengan tujuan apa sesuatu itu terjadi. Cukup jika sudah menyadari dan menerima apa adanya. Misalnya, saat mengetik ini saya merasa gerah karena kepanasan. Saya tidak mempersoalkan mengenai mengapa terjadi ataupun berusaha menyelidiki sebab-sebabnya dll. Paling banter saya buka baju sambil sesekali mengipasi badan saya.

Keempat, yaitu insight yang merupakan penangkapan intelektual secara mendadak mengenai objek. Pada tingkat ini, budi tidak hanya menyadari secara pasif apa yang terjadi, melainkan berusaha untuk menangkap esensi atau hakikat atau inti dari peristiwa atau hal tertentu. Di dalam insight ini diandaikan adanya kegiatan abstraksi oleh budi di mana ciri-ciri pokok dicoba untuk ditangkap sambil menyingkirkan yang tidak penting. Di dalam insight ini benda sendiri menyingkapkan hakikat terdalamnya secara agak mendadak sebagai tanggapan terhadap usaha budi yang tekun mencari sebab-sebab dan sifat-sifat terdalamnya. Misalnya insight terjadi sebagai ilham bagi orang seniman, atau insight filsafat terjadi pada psikiater.

Kelima, kegiatan bernalar budi yang bersifat diskursif. Kegiatan budi ini lebih mendalam daripada sekedar insight yang ditangkap secara intuitif. Kalau pada insight tekanan terletak pada objek yang secara mendadak menampakkan dirinya sebagai tanggapan terhadap budi yang berusaha menangkapnya, maka didalam kegiatan berpikir atau bernalar ini tekanan terletak pada budi sendiri. Akibatnya budi benar-benar mengetahui dengan bertanggung jawab, sebab insight diverifikasikan, diterangkan dengan logis dan ilmiah.

Terakhir keenam, adalah keputusan sebagai keyakinan akan kebenaran atau kesalahan dari penyelidikan tertentu. Putusan ini lebih bersifat reflektif, sebab afirmasi yang diberikan sungguh-sungguh di dasarkan pada landasan yang bisa dipertanggungjawabkan. Sekaligus putusan ini lebih bersifat objektif, sebab apa yang ditangkap benar-benar merupakan inti dari objek yang dilandaskan pada nalar atau pikiran daripada sekedar pengetahuan intuitif. Putusan ini juga lebih bersifat pasti, karena ‘aku’ (manusia) tahu bahwa ia tahu, bukan hanya kurang lebih.

Prinsip-prinsip pertama dan Arti pentingnya dalam Pengetahuan Manusia

Di dalam pernyataan ‘sesuatu ada/bereksistensi’ termuat sejumlah prinsip dasar yang tidak dapat disangkal kebenarannya yang bersifat pasti. Kepastian tidak bersayarat dari prinsip-prinsip ini didasarkan pada nilai tak bersyarat dari pernyataan itu sendiri. Secara tradisional Gallagher menyatakan adanya tiga prinsip utama, yakni;
Prinsip identitas

Prinsip ini mengatakan ‘apa yang ada, ada; apa yang tidak ada, tidak ada’. Kedengarannya pernyataan ini merupakan suatu tautologi kosong. Akan tetapi penyataan ini begitu mendasar (A adalah A; non-A bukan A), sehingga meskipun kedengarannya merupakan kebenaran yang tidak dapat disangkal lagi, namun merupakan hal atau kebenaran yang mendasari seluruh pemikiran. Jika kita tidak dapat mengakui kebenaran pernyataan ini, kita tidak akan amampu mengakui atau menyatakan kebenaran yang lain. Apa yang dikatakan oleh prinsip ini adalah bahwa ada suatu perbedaan radikal antar ada dan tidak-ada. Kalau ada orang menyangkal kebenaran pernyataan ini, jelaslah bahwa dia sudah tidak berhak untuk berpikir sama sekali.

Prinsip ini dengan mudah bisa diterjemahkan menjadi prinsip kontradiksi: ‘tidak ada sesuatupun yang sekaligus berada dan tidak-berada’. Sekali lagi, pengakuan terhadap kebenaran ini mendasari kebenaran-kebenaran yang lain. Kita tidak dapat menegasakan dan sekaligus menyangkal, karena menegaskan tidak identik dengan menyangkalnya. Maka penegasan dan penyangkalan suatu pernyataan tidak bisa terjadi bersama-sama. Disini ditegaskan mengenai ketidakmungkinan bahwa apa yang dinyatakan berada sekaligu dinyatakan tidak berada.

Prinsip alasan memadai

Prinsip ini mengatakan ‘apa pun yang berada mempunyai suatu alasan yang memadai bagi keberadaannya’. Prinsip ini juga tidak dapat diragukan, kalau disadari pentingnya. Prinsip ini bukan sekedar menyatakan suatu keyakinan yang samar-samar tanpa dasar kuat, seperti ‘segala sesuatu berada untuk maksud tertentu’, atau ‘Allah menciptakan segalanya untuk tujuan tertentu’, yang mungkin hanya bisa diterima dengan iman, tetapi secara epistemologis harus dikatakan naif. Walaupun demikian, prinsip ini menyatakan sesuatu yang lebih mendasar. ‘Alasan’ di dalam prinsip ini tidak ada hubungannya dengan ‘tujuan’ dan ‘maksud’. Pengertian mengenai ‘alasan’ ini tidak perlu menunjuk kepada penyelenggaraan ilahi atau kemurahan alam/kodrat. ‘Alasan’ disini dimaksudkan sebagai ‘dasar’ atau ‘pertanggungjawaban’. Apa yang dinyatakan oleh prinsip ini ialah bahwa pikiran harus menangkap suatu dasar yang memadai bagi kenyataan bahwa sesuatu itu berada (metafisik;dasar terdalam kenyataan).

Apabila ada perbedaan antara berada dan tidak berada, maka kapan saja kita menemukan sesuatu yang ada, harus ada yang mendasarinya secara memadai bagi kenyataan bahwa hal itu berada. Seperti kita tidak mudah menyebut keberadaan ‘mangga’ sebagaimana kita hanya tunjukkan ‘buah mangga’ atau ‘pohon mangga’ (apa yang dikatakan mangga sebagai cara berada mangga /metafisik). Hal ini karena prinsip alasan memadai memuat tuntutan pikiran agar tata keberadaan itu bisa dimengerti, maka hal ini bisa diterapkan kepada segala sesuatu yang dikatakan ada dalam kenyataan, dan tidak hanya ‘mangga’ tetapi juga peristiwa.
Prinsip penyebaban efisien

Prinsip ini menyatakan ‘ Apapun yang mulai berada, menuntut suatu sebab efisien’. Jika pada prinsip kedua diatas langsung membawa kita pada prinsip kausalitas yang dapat dipahami sebagai penjelasan lebih lanjut dari prinsip alasan memadai di dalam khasanah keberadaan kontingen, maka pada prinsip ketiga ini menyatakan bahwa keberadaan kontingen menuntut adanya alasan memadai yang bersifat ekstrinsik bagi keberadaannya. Karena keberadaan kontingen bukanlah alasan memadai bagi adanya sendiri, maka harus ada sesuatu yang lain dari dirinya sendiri yang menjadi alasan keberadaannya. Maka boleh dikatakan bahwa ‘sebab efisien’ di dalam prinsip ini adalah suatu alasan memadai yang bersifat ekstrinsik bagi munculnya sesuatu sehingga bisa berada. Secara metafisis prinsip kausalitas ini harus sampai kepada pengertian bahwa tata ‘ke-menjadi-an’ dan keberadaan harus bisa dimengerti. Maka eksistensi kontingen selalu merupakan eksistensi relatif, yang artinya menunjuk kepada sesuatu yang lain.

Kiranya cukup jelas bahwa prinsip-prinsip pertama mempunyai dasar yang kuat di dalam peranannya bagi suatu pengetahuan manusia. Pertama, mereka disebut prinsip karena dimaksudkan sebagai sumber darimana segala sesuatu yang lain berasal atau mendapatkan dasrnya. Yang mengalir dari prinsip-prinsip ini adalah pikiran sendiri. Maka prinsip merupakan sumber dari kemungkinan bagi munculnya setiap pikiran.

Kedua, hal diatas bisa disebut prinsip pertama atau prinsip terakhir. Penamaan tersebut tergantung dari maksudnya. Sejauh prinsip itu dipahami sebagai awal pikiran, sumber darimana pikiran berasal maka prinsip diatas boleh disebut prinsip pertama. Akan tetapi, sejauh mereka merupakan yang paling utama, dalam arti bahwa semua pernyataan dapat dikembalikan kepada mereka agar bisa dipahami, maka mereka disebut juga sebagai prinsip terakhir. Tidaklah dimaksudkan bahwa mereka disebut prinsip pertama dalam pengertian kronologis. Yang pokok adalah bahwa inteligibilitas prinsip-prinsip ini selalu hadir di dalam setiap pertimbangan, termasuk juga pertimbangan yang secara kronologis pertama.

Ketiga, mereka disebut ‘self eviden’ (jelas dengan dirinya sendiri/jelas dengan sendirinya) yaitu bahwa mereka prinsip2 itu tidak dapat dan tidak perlu dibenarkan oleh evidensi atau bukti yang lain. Dengan prinsip-prinsip ini pikiran mencapai suatu dasar utama, dan tidak masuk akal untuk mencari evidensi yang membenarkan mereka entah dengan persepsi inderawi, induksi ataupun yang lain.

Daftar Pustaka

  • Baker, Anton, 2000, Antropologi Metafisik, Yogyakarta: Kanisius
  • Gallagher, T Kenneth, 1984, The Philosophy of Knowledge, New York: Fordham University Press.

Posting Komentar untuk "Pengertian dan Hakikat Pengetahuan Eksistensi Manusia"

Klik gambar berikut untuk mengunduh artikel ini:

Berlangganan via Email