Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sejarah Filsafat Barat: Masa Yunani dan Abad Pertengahan

Sejarah Filsafat Barat: Masa Yunani dan Abad Pertengahan - Perkembangan Filsafat Barat ditandai oleh 3 periode, yaitu Filsafat Barat di masa Yunani; masa Abad Pertengahan; dan masa Modern. Khusus untuk perkembangan Filsafat Barat di masa Modern akan dibahas di modul ketujuh, bersama dengan pembahasan Filsafat di masa kini.

Filsafat Yunani

Filsafat Yunani mulai berkembang pada abad ke-6 SM sebagai masa demitologi, yang ditandai dengan mulai ditinggalkannya mitologi dan orang-orang mulai menginginkan jawaban dari misteri alam yag rasional (dapat diterima akal). Fenomena tersebut mengakibatkan timbulnya The Great Miracle, dimana mitos digantikan oleh logos (akal), yang mendorong lahirnya Filsafat Yunani. Faktor-faktor yang mempengaruhi lahirnya Filsafat Yunani antara lain:
  • Mitos atau dongeng, yang menjadi budaya dari masyarakat Yunani, dianggap sebagai cara untuk memperoleh pengetahuan. Mitos-mitos tersebut diseleksi dan disusun secara sistematis dan rasional menjadi syair-syair, seperti syair Homerus, Orpheus, dan lain-lain.
  • Karya sastra yang dihasilkan Homerus dianggap memiliki nilai-nilai edukatif, dan menjadi pedoman hidup penting orang-orang Yunani
  • Dengan dipengaruhi oleh pengetahuan yang berasal dari Babylonia, berkembang ilmu pengetahuan, yang tidak lagi hanya dipelajari aspek praktisnya, namun juga aspek teoretisnya.

Sejarah Filsafat Barat: Masa Yunani dan Abad Pertengahan_
image source: www.jsums.edu
baca juga: Karakteristik dan Metode Filsafat Barat dan Filsafat Timur

Periode Filsafat Yunani dibagi menjadi periode Yunani Kuno dan periode Yunani Klasik.

1. Filsafat Yunani Kuno

Periode Filsafat Yunani Kuno ditandai dengan munculnya ahli-ahli pikir alam, yang perhatian pemikirannya difokuskan terhadap fenomena yang terjadi di sekitarnya, sehingga periode ini disebut sebagai periode filsafat alam. Berkembang dari Miletos di pesisir Asia Kecil, mereka memilih untuk menjelaskan gejala alam menggunakan akal pikiran daripada mitos, dan berusaha untuk menghasilkan asas-asas yang bersifat mutlak dari alam semesta (arche) dibalik fenomena alam yang selalu berubah. Beberapa tokoh Filsafat Yunani Kuno antara lain:
  • Thales (625-545 SM)
  • Anaximandros (640-546 SM)
  • Pythagoras (572-497 SM)
  • Xenophanes (570-? SM)
  • Heraclitos (535 – 475 SM)
  • Parmenides (540 – 475 SM)
  • Zeno (490 – 430 SM)
  • Empedocles (490 – 435 SM)
  • Anaxagoras (499 – 420 SM)
  • Democritos (460 – 370 SM)

2. Filsafat Yunani Klasik

Pada periode Filsafat Yunani Klasik, filsafat mengalamin perkembangan pesat, dimana minat orang-orang terhadap filsafat semakin besar. Dalam periode ini muncul beberapa aliran filsafat yang dipelopori tokoh-tokoh filsafat, di antaranya:

1. Kaum Sofis
Terminologi sofis berasal dari kata sophistes, yang berarti sarjana atau cendekiawan. Kemunculan kaum sofis didorong oleh Kota Athena yang berkembang pesat dalam bidang politik dan ekonomi ramai dikunjungi oleh ahli pikir dan kaum intelektual, sehingga ilmu pengetahuan dan budaya berkembang pesat. Tokoh-tokoh dari kaum sofis yang terkenal di antaranya: Gorgias (480 – 380 SM), Hippias, Prodikos, dan Kritas. Beberapa pemikiran Gorgias antara lain:
  • Mencari asal-usul dari semua fenomena alam
  • Manusia sebagai makhluk yang memiliki kehendak berpikir menyebabkan manusia memiliki pengetahuan yang menentukan sikap hidupnya
  • Tidak ada norma yang bersifat universal, yang ada hanyalah norma yang bersifat subyektif
  • Kebenaran sejati tidak dapat diketahui

2. Socrates
Menurut Socrates, pengetahuan dapat diperoleh dengan melakukan pengamatan terhadap hal-hal yang konkret dan beragam corak, namun masih termasuk dalam jenis yang sama. Unsur-unsur yang berbeda kemudian dihilangkan, sehingga tinggal unsur yang sama dan bersifat umum sebagai pengetahuan yang sejati. Dengan demikian, Socrates mengemukakan konsep: “Barangsiapa yang memiliki pengertian sejati, akan memiliki kebajikan (arĂȘte) atau keutamaan moral, sehingga dapat menjadi manusia yang sempurna”

3. Plato (427 – 347 SM)
Plato merupakan murid setia Socrates. Titik tolak pemikiran filsafatnya adalah menentukan mana yang paling benar, pengetahuan yang didapatkan dari pengalaman atau pengetahuan indra yang berubah-ubah (Heracleitos) atau pengetahuan yang didapatkan dari akal yang tetap (Parmenides). Di bidang politik, Plato memperkenalkan konsep penting, yang menyebutkan di dalam negara ideal terdapat tiga golongan sebagai berikut:
  • Pemerintah sebagai golongan tertinggi (para penjaga, para filsuf)
  • Prajurit sebagai golongan pembantu, yang menjaga keamanan negara dan ketaatan warganya
  • Polis atau golongan rakyat biasa yang bertugas memikul ekonomi negara (petani, pedagang, tukang)

4. Aristoteles (348 – 322 SM)
Aristoteles merupakam filsuf yang mengembangkan konsep logika (yang disebutnya sebagai analitika) dan etika. Di bidang ilmu pengetahuan, Aristoteles membangi ilmu pengetahuan menjadi:
  • Ilmu pengetahuan praktis (etika dan politik)
  • Ilmu pengetahuan produktif (teknik dan kesenian)
  • Ilmu pengetahuan teoretik (fisika, matematika, dan metafisika)

5. Filsafat Helenisme
Filsafat Helenisme dimulai pada pemerintahan Alexander Agung (359 – 23 SM), dimana filsafat teoretis bergeser menjadi filsafat praktis. Konsep dasar dari filsafat Helenisme yaitu: “seseorang yang bijaksana adalah orang yang mengatur hidupnya menurut budinya.” Beberapa aliran yang didasarkan Filsafat Helenisme antara lain: Epikurisme, Stoaisme, Skeptisisme, dan Neoplatonisme.

Filsafat Barat Abad Pertengahan

Filsafat Barat di Abad Pertengahan dianggap sebagai abad kegelapan dari Filsafat, karena semua pengetahuan diatur oleh gereja, sehingga tidak ada lagi kebebasan berpikir. Pihak gereja juga di melarang dilakukannyan penyelidikan-penyelidikan yang berdasarkan rasio terhadap agama, dan hanya memperbolehkan pihak gereja untuk melakukan kajian terhadap agama.

Ciri-ciri pemikiran filsafat barat abad pertengahan antara lain:
  • Cara berpikir atau berfilsafatnya ditentukan dan dipimpin oleh negara
  • Berdasarkan ajaran Aristoteles
  • Hasil pemikirannya banyak dihasilkan oleh Agustinus
  • Perkembangan ilmu pengetahuan terhambat, karena dibatasi oleh gereja

Periode Filsafat Abad Pertengahan dibagi menjadi dua masa, yaitu masa Patristik dan masa Skolastik.

a. Masa Patristik
Terminologi Patrisik berasal dari kata pater atau pimpinan gereja. Di masa ini pimpinan gereja dipilih dari golongan tingkat atas atau ahli pikir. Tokoh-tokoh filsafat di masa ini antara lain:
  • Justinus Martir
  • Irenaeus
  • Klemens
  • Origenes
  • Gregorius
  • Nissa
  • Tertullianus
  • Diosios Arepagos
  • Au-relius Augustinus

b. Masa Skolastik
Terminologi Skolastik berasal dari kata school yang berarti sekolah. Skolastik mengacu pada aliran filsafat yang berkaitan dengan sekolah. Beberapa corak khas dari masa skolastik antara lain sebagai berikut:
  • Filsafat skolastik adalah filsafat yang didasarkan oleh agama, sebagai bagian dari kebudayaan abad pertengahan yang religious
  • Filsafat skolastik disebut juga sebagai filsafat yang mengabdi pada teologi yang rasional untuk memecahkan persoalan-persoalan mengenai berpikir, sifat ada, kejasmanian, kerohanian, baik buruk, dan lain-lain.
  • Filsafat skolastik termasuk ke dalam bentuk sintesis yang lebih tinggi dari kepercayaan dan akal
  • Filsafat skolastik merupakan filsafat Nasrani, karena dipengaruhi oleh ajaran gereja

Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan filsafat skolastik antara lain:
  • Faktor religious
  • Faktor ilmu pengetahuan

Masa filsafat skolastik dibagi menjadi tiga periode, yaitu:
  • Skolastik Awal, Ditandai dengan pengembangan ilmu pengetahuan di sekolah-sekolah. Tokoh-tokohnya antara lain: Aquinas (735 – 805), Johannes Scotes Eriugena (815 – 870), Peter Lombard (1100 – 1160), John Salisburry (1115 – 1180), Peter Abaelardus (1079 – 1180).
  • Skolastik Puncak, Masa skolastik puncak ditandai dengan berdirinya Universitas Almamater di Paris. Tokoh-tokohnya antara lain: Albertus de Grote, Thomas Aquinas, Binaventura, J.D. Scotus, William Ockham.
  • Skolastik Akhir, Terjadi kejenuhan terhadap pemikiran filsafat, sehingga terjadi kemandekan dalam perkembangan filsafat. Tokoh-tokohnya antara lain: William Ockham, Nicholas Cusasus

c. Masa Peralihan
Filsafat Barat mulai mengalami perubahan di abad ke-14 sampai abad ke-16, yang disebut sebagai masa peralihan, cikal bakal dimulainya Filsafat Modern. Filsafat Barat di Masa Peralihan dibedakan menjadi 3 tahapan, yaitu:
  • Renaissance, merupakan suatu fenomena filsafat yang dimulai dari Italia dan menyebar ke seluruh Eropa. Pemikiran Renaissane menempatkan manusia sebagai ‘pusat’ dari pandangan kehiuspan. Tokoh-tokoh Filsafat Renaissance antara lain: Leonardo da Vonci, Michaelangelo, Machiavelli, dan Giordano Bruno
  • Humanisme, merupaka gerakan yang tujuannya untuk melepaskan filsafat dari ikatan gereja, dan berusaha menemukan kembali sastra Yunani dan Romawi. Tokoh-tokohnya antara lain: Boccacio, Petrarcus, Lorenzo Vallia, Erasmus, dan Thomas More
  • Reformasi, ditandai dengan perbaikan gereja Katolik, dan kemudian menjadi dasar berkembangnya Protestanisme. Tokoh-tokohnya; Jean Calvin dan Marthin Luther King

Daftar Pustaka
  • Achmadi, A. (2012). Filsafat Umum. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
  • Bachtiar, A. (2012). Filsafat Ilmu. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
  • Mundiri, H. (2008). Logika. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
  • Suhar, H. (2010). Filsafat Umum: Konsepsi, sejarah, dan aliran. Jakarta: Gaung Persada Press

Posting Komentar untuk "Sejarah Filsafat Barat: Masa Yunani dan Abad Pertengahan"

Klik gambar berikut untuk mengunduh artikel ini:

Berlangganan via Email