Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Anak Berkebutuhan Khusus (Pelajar-Pelajar yang Luar Biasa)

Anak Berkebutuhan Khusus (Pelajar-Pelajar yang Luar Biasa) - Artikel ini akan membahas tentang retardasi mental, ketidakmampuan Belajar, Attention deficit/hiperactivity disorder (ADHD), gangguan perilaku dan emosi, gangguan komunikasi, gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, penempatan dan pelayanan, dan teaching strategis guru kelas untuk menangani anak penderita ketidakmampuan. Melalui artikel ini dihaarapkan mampu memahami dan menjelaskan pelajar-pelajar yang luar biasa.

Anak-anak yang berkebutuhan khusus tidak dipandang sebagai anak yang cacat, melainkan dianggap sebagai pelajar-pelajar yang luar biasa (learners with exceptionalities), karakteristiknya serta program di dalam pembelajarannya.

Anak Berkebutuhan Khusus (Pelajar-Pelajar yang Luar Biasa)_
image source: ldatschool.ca
baca juga: Perkembangan Individu dan Pengaruhnya dalam Proses Belajar

PELAJAR-PELAJAR LUAR BIASA (LEARNERS WITH EXCEPTIONALITIES)


Exceptional dapat digunakan untuk menggambarkan beberapa individu yang memiliki fisik, mental, atau perilaku yang menyimpang secara substansial dari aturan, baik tinggi atau rendah. Seseorang dengan karakteristik exceptional tidak selalu seorang yang handicap (penyandang cacat). Kita akan mengelompokkan ketidakmampuan sebagai berikut:

1. Retardasi Mental (Mental Retardation)


The American Association on Mental Retardation (AAMR) memberikan definisi sebagai berikut:

Mental retardation is a disability characterized by significant limitation both in intellectual functioning and in adaptive behavior as expressed in conceptual, social, and practical adaptive skills. This ability originates before the age of 18. A complete and accurate under standing of mental retardation involves realizing that mental retardation refers to particular state of functioning that begins in childhood, has many dimensions, and is affected positively by individualized supports (AAMR Ad Hoc Commite on Terminology and Calassification, 2002).

Definisi dari AAMR menurut Turnbull et al (dalam Eggen & Kauchack, 2004) menekankan dua karakteristik: batasan di dalam fungsi intelektual dan batasan di dalam keterampilan penyesuaian diri, seperti komunikasi, perhatian diri, dan keterampilan sosial. Kedua fungsi ini dapat diperbaiki ketika pelajar dengan retardasi mental mendapatkan dukungan yang didisain sesuai dengan kebutuhan mereka.

Siswa dengan retardasai mental dimungkinkan memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut:
  • Kurang memahami lingkungan
  • Kesulitan dengan ide yang abstrak
  • Lemah di dalam keterampilan membaca dan bahasa
  • Kurang baik di dalam perkembangan belajar dan strategi memorinya
  • Sulit mentransfer ide ke dalam situasi baru
  • Keterampilan motoriknya kurang berkembang
  • Keterampilan interpersonalnya tidak matang (Beirne-Smith, Ittenbach, & Putton, dalam Eggen & Kauchack, 2004).

Beberapa karakteristik ini mempengaruhi belajar secara langsung; efek bagi yang lainnya, seperti keterampilan interpersonal tidak matang, adalah kurang langsung tetapi juga sangat penting.

Keadaan retardasi ini bukan disebabkan kecelakaan atau penyakit atau cedera. Melainkan faktor genetik dan kerusakan otak.

Tingkatan Retardasi Mental

Pendidik menggambarkan retardasi mental memiliki empat tingkatan yang berkaitan dengan dukungan yang dibutuhkan (Turnbull et al, dalaam Eggen & Kauchack):
  • Intermittent: Dukungan saat dibutuhkan
  • Limited : Dukungan secara konsisten dibutuhkan dari waktu ke waktu
  • Extensive : Dukungan dibutuhkan secara reguler (ex, setiap hari)
  • Pervasive : Dukungan diberikan dengan intensitas yang tinggi, secara potensial menjadi dukungan seumur hidup.

Program bagi Pelajar dengan Retardasi Mental

Program untuk pelajar yang memiliki retardasi mental intermitten (mild) fokusnya pada penciptaan sistem dukungan untuk menambah pengajaran. Pelajar seringkali ditempatkan di kelas reguler. Di mana guru menyesuaikan dengan kebutuhan khususnya, dan berusaha membantu anak baik secara sosial dan akademik secara tepat. Penelitian mengindikasikan bahwa pelajar ini seringkali gagal untuk menerima strategi dasar belajar ---ex, mempertahankan perhatian, menyusun mengorganisasikan materi yang baru dan belajar untuk test—yang secara konseptual merupakan perkembangan alami (Choate; Heward dalam Egegn & Kauchack, 2004).

2. Ketidakmampuan Belajar (Learning Disabilities)

Ketidakmampuan atau gangguan belajar (learning disabilities), kesulitan di dalam memperoleh dan menggunakan kemampuan membaca, menulis, berfikir, mendengar atau kemampuan matematika (National Joint Comitte on Learning Disabilities, dalam Eggen & Kauchack, 2004). Masalah di dalam konsentrasi, dan keterampilan sosial (Kauffman dalam Santrock, 2007).

Berdasarkan definisinya, pelajar yang menderita gangguan belajar: (1) punya kecerdasan normal atau di atas normal; (2) kesulitan dalam setidaknya satu mata pelajaran atau biasanya beberapa mata pelajaran; dan (3) tidak memiliki problem atau gangguan lain, seperti retardasi mental, yang menyebabkan kesulitan itu.

Menurut Boos & Vaughan (dalam Santrock, 2007) ketidakmampuan belajar sulit didiagnosis. Anak yang memiliki masalah ketidakmampuan belajar berbeda-beda. Ketidakmampuan belajar mungkin berhubungan dengan kondisi medis seperti fetal alcohol syndrom (American Psychiatric Association dalam Santrock, 2007). Kemudian permasalahan sikap emosi dan perilaku sering bercampur dalam ketidakmampuan belajar.

Pelajar yang demikian sering pula mengalami ketidakstabilan emosi, perilaku yang impulsif atau perilaku yang tidak baik lainnya. Anak laki-laki lebih banyak daripada anak perempuan yang mengalami ketidakmampuan belajar (Glover dkk, 1999; Eggen & Kauchack, 2004; Santrock, 2007). Pada tahun 1984, sebanyak 4.4% dari semua murid laki-laki SD dan sekolah lanjutan didiagnosa mengalami ketidakmampuan belajar, dibandingkan dengan anak perempuan yang hanya sebesar 1,8 % (Pusat Statistik untuk Pendidikan, 1985 dalam Glover dkk, 1999). Data ini diperjelas oleh Eggen & Kauchack (2004) bahwa rata-rata 51 % dari ketidakmampuan belajar dan sebanyak 4,5 % adalah anak usia sekolah dasar. (U.S. Departemen Pendidikan, 2002 dalam Eggen & Kauchack, 2007).

Karakteristik Pelajar-pelajar dengan Gangguan Belajar


Beberapa karakteristik masalah umum belajar atau ketidakmatangan. Tidak seperti keterlambatan perkembangan, bagaimanapun masalah diasosiasikan dengan gangguan belajar seringkali meningkat dari waktu ke waktu. Prestasi menurun, manajemen masalah meningkat, dan harga diri menurun. Prestasi dan harga diri yang menurun membuat lebih buruk yang lainnya dan hasil di dalam masalah belajar.

General Pattern
Attention deficits
Disorganization and tendency toward distraction
Lack of follow-through and completion of assignments
Uneven performance (ex, capable in one area, extremly weak in others)
Lack of coordination and balance

Academic Performance
Reading Lacks reading fluency
Reverses word (Ex, saw for was)
Frequently loses place
Writing Makes jerky and poorly formed letters
Has difficulty staying on line
Is slow in completing from chalkboard
Math Has difficulty remembering math facts
Mixes columns (ex, tens and ones) in computing
Has trouble with story problems

Identifikasi dan Bekerja dengan Pelajar yang Memiliki Gangguan Belajar

Penggunaan Kelas sebagai Dasar Informasi di dalam Pengidentifikasian. Guru memainkan peranan penting di dalam mengidentifikasi dan bekerja dengan pelajar yang memiliki gangguan belajar (Mamlin & Harris, dalam Eggen & Kauchack, 2004). Informasi diambil guru melalui tes dan guru langsung mengobservasi yang dikombinasi dengan standar skor tes sebagai sumber informasi. Seringkali, model ketidaksesuaian (discrepancy models) digunakan di dalam mendiagnosa masalah. Model nampak berbeda antara
  1. Tes kemampuan di dalam intelegensi dan prestasi
  2. Skor tes intelegensi dan prestasi sekolah
  3. Beberapa tes intelegensi atau tes prestasi

Model ini mendapat kritik bahwa ketidaksesuaian model (discrepancy models) suatu gangguan hanya setelah masalah muncul, kadang-kadang setelah beberapa tahun adanya kegagalan dan frustasi. Seharusnya dibutuhkan pengukuran awal yang mencegah terjadinya kegagalan sebelum gangguan belajar terjadi.

Penyesuaian Pengajaran. Pelajar dengan gangguan belajar membutuhkan modifikasi pengajaran dan guru yang mendukung. Karena gangguan belajar memiliki perbedaan sebab, strategi disesuaikan terhadap masing-masing kebutuhan pelajar. Satu penelitian dari mahasiswa dengan gangguan belajar mengilustrasikan latihan dari modifikasi dapat meningkatkan kesuksesan (Ruzic dalam Eggen & Kauchack, 2004). Pelajar-pelajar ini diatur sesuai dengan waktu, menggunakan pelajar sebagai sumber, dan melihat feedback pengajaran dari modifikasi strategi belajar. Untuk mengimbangi kelemahan membaca, mereka membaca di dalam lingkungan yang bebas, dengan suara keras, dan sebelumnya dibelikan buku. Di dalam menulis, mereka menggunakan kamus, seringkali diganti dengan kata-kata yang lebih mudah jika mereka memiliki masalah di dalam pengucapan, dan bertanya kepada orang lain untuk mengoreksi. Mereka merekam dosen untuk mengimbangi rendahnya mencatat dan meminta waktu ekstra di dalam tes. Pelajar dengan gangguan belajar dapat survive, dan dapat maju dengan pesat, jika mereka menggunakan strategi yang efektif.

Blog Psikologi | Lebih lanjut Santrock (2007) menjelaskan bahwa komponen pengajaran yang paling efektif adalah kelompok interaktif kecil, teknologi, memperluas metode pengajaran guru (seperti memberikan pekerjaaan rumah), memberikan soal-soal khusus, dan memberi petunjuk.

3. Attention Deficit / Hiperactivity Disorder (ADHD)

Attention Deficit / Hiperactivity Disorder ADHD adalah masalah belajar yang dikarakteristikkan dengan kesulitan di dalam mempertahankan perhatian karena keterbatasan kemampuan untuk konsentrasi. Perilaku hiperaktif dan impulsive seringkali dikaitkan dengan ADHD. Tingginya tingkat aktivitas dan ketidakseimbangan fokus perhatian adalah karakteristik kelambatan perkembangan, terutama bagi anak laki-laki, bagaimanapun guru harus berhati-hati di dalam menggambarkan kesimpulan sebagai dasar karakteristik.

Karekteristik ADHD meliputi:
  • Hyperactivity
  • Kurang perhatian (inattention), kemampuan terganggu, kesulitan di dalam konsentrasi, dan gagal menyelesaikan tugas-tugas
  • Impulsiveness (ex, bertindak sebelum berfikir, sering berteriak-teriak di luar kelas, dan sulit menunggu giliran)
  • Lalai dan banyak sekali membutuhkan pengawasan

Karakteristik di atas menunjukkan bahwa pelajar dengan ADHD memiliki kesulitan di dalam mengontrol fungsi mental yang dapat memonitor dan mengatur perilaku.

ADHD biasanya nampak pada awal (usia 2 atau 3 tahun), dan sedikitnya 50% sampai 70% dari kasus, terus berlangsung hingga remaja (Purdie, Hattie, & Carroll, dalam Eggen & Kauchack, 2004). Estimasi dari The American Psychiatric Association (2000) 3 sampai 4 lebih banyak laki-laki daripada pada laki-laki daripada perempuan (Eggen & Kauchack, 2004).

Tanda-tanda ADHD dapat muncul sejak usia prasekolah. Orangtua dan guru prasekolah dan taman kanak-kanak mungkin mengetahui bahwa ada anak yang sangat aktif dan konsentrasinya kurang. Mereka mengatakan “Anak tidak bisa diam”, “tidak bisa duduk sedetik saja”, atau kelihatannya tak pernah mendengar orang lain berbicara”. Banyak anak-anak dengan ADHD sulit diatur, kurang toleransi terhadap frustasi, dan punya masalah dalam berhubungan dengan teman sebaya. Karakteristik umum lainnya adalah ketidakdewasaan dan dekil.

Meskipun tanda-tanda ADHD seringkali muncul pada usia prasekolah, namun baru ketahuan saat usia SD (Guyer, dalam Santrock, 2007). Meningkatnya tuntutan akademik dan sosial dalam sekolah formal, dan standar yang lebih ketat untuk kontrol perilaku, seringkali akan mengungkapkan adanya masalah ADHD dalam diri anak (Whalen dalam Snatrock, 2007). Guru sekolah biasanya melaporkan bahwa anak sulit bekerja secara independen, mengerjakan tugas, dan mengelola tugas. Mereka sering tampak selalu ribut dan tidak fokus. Masalah ini lebih mungkin terlihat ketika mereka diberi tugas yang berulang-ulang, atau tugas yang dianggap menjemukan (seperti mengisi daftar atau mengerjakan PR).

Diagnosis dan tratmen ADHD biasanya dilakukan di dalam konsultasi dengan ahli medis dan psikolog.

4. Gangguan Perilaku dan Emosi

Gangguan perilaku dan emosional terdiri dari masalah serius dan terus menerus yang berkaitan dengan hubungan, agresi, depresi, ketakutan yang berkaitan dengan persoalan pribadi dan sekolah, dan juga berhubungan dengan karakteristik sosioemosional yang tidak tepat. Anak laki-laki tiga kali lebih besar kemungkinannya mengalami gangguan ini dibandingkan anak perempuan (U.S. Departement of Education, dalam Santrock, 2007).

Perilaku Agresif, di luar kontrol. Lebih banyak terjadi pada anak laki-laki ketimbang anak perempuan, dan kebanyakan dari keluarga kelas menegah ke bawah (Achenbach dalam Santrock, 2007). Anak yang mengalami gangguan emosional serius lebih mungkin diklasifikasikan sebagai punya masalah dalam berhubungan pada masa sekolah menengah. Akan tetapi mayoritas anak semacam ini mulai menunjukkan tanda-tanda masalah emosionalnya pada saat SD (Wagner, dalam Santrock, 2007).

Para pakar gangguan emosional dan perilaku mengatakan bahwa jika anak-anak ini dikembalikan ke sekolah, baik itu guru kelas reguler maupun guru pendidik khusus atau konsultan harus meluangkan banyak waktu untuk membantu mereka beradaptasi dan belajar secara efektif. Semakin parah masalahnya, semakin kecil kemungkinannya untuk dapat kembali ke sekolah (Wagner dalam Santrock, 2007).

Strategi management yang secara umum dilakukan untuk menguatkan tingkah laku positif dan mengeliminasi tingkah laku yang negatif (Alberto & Troutman, dalam Eggen & Kauchack, 2004) meliputi:
  1. Positive reinforcement: memperkuat tingkah laku positif (ex, memuji pelajar yang berkelakuan sopan)
  2. Replacement: mengajarkan perilaku yang tepat yang mengganti perilaku yang tidak tepat (ex, mengajarkan pelajar ungkapan perasaan yang tepat daripada harus berkelahi)
  3. Ignoring: tidak menerapkan perilaku yang mengganggu dan tidak memperkuatnya
  4. Time-out: mengisolasi seorang anak untuk waktu yang singkat
  5. Overcorrection: dibutuhkan pemulihan atas efek perilaku yang merusak dengan segera (ex, mengharuskan anak kembali ke makanannya sendiri daripada dia mengambil makanan dari teman lainnya).

Depresi, Kecemasan, dan Ketakutan. Depresi, kecemasan, dan ketakutan yang menjadi semakin hebat dan menetap akan menyebabkan kemampuan belajar menurun. Anak ini bisanya memendam masalah emosional dan mood negatif ini lebih serius dan bertahan lama. Depresi adalah jenis gangguan mood dimana pengidapnya merasa dirinya tidak berharga sama sekali, percaya bahwa keadaan tidak akan pernah membaik, dan tampak lesu dan tidak bersemangat dalam jangka waktu lama. Hal ini dapat mempengaruhi makan dan tidur mereka.

Depresi lebih mungkin muncul pada usia remaja ketimbang anak-anak dan lebih banyak terjadi dalam diri anak perempuan daripada anak laki-laki (Culberston, dalam Santrock, 2007). Para pakar depresi mengatakan bahwa perbedaan gender ini mungkin disebabkan oleh sejumlah faktor. Perempuan cenderung memperhatikan perasaannya yang tertekan dan membesar-besarkannya, sedangkan lelaki cenderung mengalihkan perhatian dari mood negatif; pada masa remaja, citra diri perempuan cenderung lebih negatif ketimbang lelaki; dan bias sosial terhadap prestasi wanita mungkin juga ikut berpengaruh (Nolen-Hoeksema dalam Santrock, 2007). Terapi kognitif dan terapi obat biasanya efektif dalam membantu orang agar tidak terlalu tertekan.

Kecemasan adalah perasaan yang tidak menentu sekaligus tidak menyenangkan. Anak pada umumnya pernah mengalami kecemasan saat menghadapi tantangan hidup, tetapi pada beberapa anak kecemasan itu berlebihan dan bertahan lama sehingga mengganggu prestasi sekolahnya. Beberapa anak juga memiliki ketakutan yang berkaitan dengan dirinya sendiri atau sekolah sehingga mengganggu belajarnya. Jika hal ini terjadi bawa anak ke guru BP. Beberapa terapi behavioral bisa efektif untuk mengurangi kecamasan dan ketakutan yang berlebihan (Davidson & Neala dalam Santrock, 2007).

5. Gangguan Komunikasi (Communication Disorders)

Gangguan komunikasi adalah exceptionalities yang terganggu kemampuan pelajar di dalam menerima dan memahami informasi dari orang lain dan mengekspresikan ide mereka sendiri atau pertanyan-pertanyaan. Gangguan ini terdiri atas dua bentuk: Speech disorders (kadang-kadang disebut expressive disorder) meliputi masalah bentuk dan rangkaian suara. Berbicara gagap dan salah mengucapkan kata, seperti mengatakan, “I taw it” untuk “I saw it”. Languange disorder (juga disebut receptive disorders) meliputi masalah dengan pemahaman bahasa atau menggunakan bahasa untuk mengekspresikan ide-ide. Gangguan bahasa seringkali dikaitkan dengan masalah lain, seperti kerusakan pendengaran, gangguan belajar, atau retardasri mental.

Tabel di bawah ini menunjukkan tiga macam gangguan kecepatan (Speech disorder). Jika mereka kronik, seorang terapis biasanya dibutuhkan, tetapi guru yang sensitif dapat membantu pelajar mengatasi masalah emosional dan sosial yang seringkali diasosiasilan dengan mereka.

Disorder Description Example
Articulation disorders Kesulitan di dalam menghasilkan kata-kata tertentu, meliputi mengganti, mengubah, dan menghilangkan. “wabbit” untuk rabbit
“thit” untuk sit
“only” untuk lonely
Fluency disorder Pengulangan dari suara pertama dari suatu kata (bicara gagap) dan masalah lain di dalam menghasilkan bicara “halus” “Y, Y, Y, Yes”
Voice disorders Masalah dengan pangkal tenggorokan atau suara melalui hidung atau tenggorokan Suara yang tinggi atau berdengung

Karena mempengaruhi belajar, gangguan bahasa (languange disorder) seringkali lebih serius. Gejala dari languange disorder meliputi:
  1. Jarang berbicara, meskipun selama bermain
  2. Menggunakan sedikit kata-kata atau sangat sedikit kalimatnya
  3. Sangat mengandalkan pada gerak tubuh di dalam berkomunikasi

Sebab gangguan bahasa (languange disorders) meliputi hilangnya pendengaran, kerusakan otak, gangguan belajar, retardasi mental, beberapa masalah emosional, dan ketidakseimbangan pengalaman perkembangan di dalam tahun-tahun awal anak.

Jika guru mencurigai gangguan kecepatan atau bahasa, mereka harus menerim perbedaan di dalam perhatian. Pelajar dengan gangguan komunikasi membutuhkan bantuan di dalam kecepatan dan bahasa secara khusus.

Membantu Pelajar dengan Gangguan Komunikasi

Tugas utama bagi guru bekerja dengan pelajar yang mengalami gangguan komunikasi meliputi identifikasi, menerima, dan melaksanakan pengajaran selama di kelas. Sebagaimaana exceptionalities, guru memegang peranan penting di dalam mengidentifikasi karena mereka di dalam posisi terbaik untuk menilai kemampuan komunikasi pelajar di dalam kelas. Modeling dan memberikan dukungan adalah krusial karena sindiran dan penolakan sosial dapat menyebabkan masalah emosional yang menetap. Ini tidak mudah bagi pelajar yang erbicara secara berbeda atau siapa yang tidak dapat berkomunikasi secara lancar. Berinteraksi dengan pelajar ini, seorang guru harus sabar di dalam menghadapi masalah. Juga, kooperative untuk mempraktekkan keterampilan bahasa di dalam lingkungan informal dan lingkungan yang sedikit mengancam.

6. Gangguan Penglihatan (Visual Disabilities)

Gangguan penglihatan suatu kelemahan di dalam penglihatan yang mengganggu belajar. Gangguan serius penglihatan hampir terjadi sejak lahir, dan kebanyakan anak diketahui memiliki masalah ketika akan masuk sekolah dasar. Beberapa masalah penglihatan nampak selama tahun-tahun sekolah sebagai hasil dari dorongan pertumbuhan, bagaimanapun, guru harus tetap waspada terhadap kemungkinan kerusakan pelajar yang tidak dapat diprediksi. Beberapa gejala masalah penglihatan sebagai berikut:

  • Posisi kepala janggal ketika membaca, atau cara meletakkan buku terlalu dekat atau terlalu jauh
  • Mengedipkan mata dan seringkali menggosokkan mata
  • Menghilang ketika informasi ada di papan tulis
  • Secara terus menerus bertanya mengenai prosedur kelas, terutama ketika informasi di papan tulis
  • Komplain mengenai sakit kepala, pusing, mual
  • Mata merah, mengeras atau bengkak
  • Kehilangan tempat di garis atau halaman dan pusing dengan hurup
  • Menggunakan ruang yang sederhana di dalam menulis atau kesulitan di dalam menetap di garis.


Bekerja dengan Pelajar yang Memiliki Gangguan Penglihatan

Saran untuk bekerja dengan pelajar dengan gangguan penglihatan meliputi mereka duduk dekat dengan papan tulis dan di atas, mengungkapkan dengan kata-kata ketika menulis di papan tulis, dan memberikan duplikat handouts secara jelas. Mencetak buku-buku dan membesarkan tujuan yang dapat digunakan untuk menyesuaikan materi pengajaran. Tutoring teman sebaya yang dapat memberikan bantuan di dalam menerangkan dan menjelaskan tugas dan prosedur-prosedur. Rendahnya harga diri dan keadaan tidak berdaya di dalam belajar adalah dua kemunkinan efek yang terjadi dari gangguan penglihatan.

7. Gangguan Pendengaran

Gangguan pendengaran dapat menyulitkan belajar anak. Anak yang tuli secara lahir atau menderita tuli saat masih anak-anak biasanya lemah dalam kemampuan berbicara dan bahasanya.

Gangguan pendengaran hasil dari rubella (cacar air German) selama dalam kehamilan, keturunan, komplikasi selama kelahiran atau kehamilan, meningitis (radang selaput), dan penyakit anak-anak lainnya. Kebanyakan 40% kasus kehilangan pendengaran, sebabnya tidak diketahui; hal ini menyebabkan pencegahan dan pertolongan lebih sulit.

Bekerja dengan Pelajar yang Memiliki Gangguan Pendengaran

Kurangnya kecakapan di dalam bicara dan di dalam bahasa adalah masalah belajar akibat dari gangguan pendengaran. Masalah ini mempengaruhi belajar yang mengandalkan membaca, menulis, dan menulis---sumber utama dari informasi di dalam kelas. Guru harus mengingat bahwa kekurangan bahasa memiliki sedikit hubungan dengan intelligence; pelajar dapat sukses jika diberikan bantuan yang tepat.

Banyak anak yang memiliki masalah pendengaran mendapatkan pengajaran tambahan di luar kelas reguler. Pendekatan pendidikan untuk membantu anak yang punya masalah pendengaran terdiri dari dua kategori: pendekatan oral dan pendekatan manual. Pendekatan oral antara lain mengguankan metode membaca gerak bibir, speech reading (menggunakan alat visual untuk mengajar membaca), dan sejenisnya. Pendekatan manual adalah dengan bahasa isyarat dan mengeja jari (finger spelling). Bahasa isyarat adalah sistem gerakan tangan yang melambangkan kata. Pengejaan jari adalah “mengeja” setiap kata dengan menandai setiap huruf dari satu kata. Pendekatan oral dan manual dipakai bersama untuk mengajar murid yang mengalami gangguan pendengaran (Hallan & Kauffman dalam Santrock, 2007).

Adapun adaptasi pengajaran untuk membantu pelajar dengan gangguan pendengaran meliputi:

  • Menambah presentasi yang berhubungan dengan pendengaran dengan informasi visual dan memberikan pengalaman
  • Berbicara secara jelas dan melihat diri kamu sendiri sehingga pelajar dapat melihat wajah kamu.
  • Meminimalisir gangguan kebisingan
  • Seringkali mengecek pemahaman


Hal lain yang juga membantu adalah tutoring teman sebaya dan bekerja di dalam kelompok kerjasama dengan pelajar yang memiliki gangguan pendengaran. Mengajarkan pelajar yang tidak mengalami gangguan dasar akan bahasa isyarat dan mengeja jari menyediakan dimensi tambahan di dalam pendidikan.

Indikator Gangguan Pendengaran

  • Lebih senang memiringkan kepala ke arah pembicara atau menutup tangan disamping telinga
  • Salah faham atau tidak mengikuti aturan, dan membangun isyarat nonverbal (ex, mengerutkan dahi atau terlihat bingung) ketika diberikan pesan.
  • Menjadi bingung atau nampak kehilangan arah suatu waktu
  • Bertanya kepada orang untuk mengulang apa yang sudah mereka katakan
  • Lemahnya artikulasi kata, khususnya konsonan
  • Menyalakan recording, radio, atau televisi dengan suara yang keras
  • Menunjukkan keengganan untuk mempraktekkan aktivitas lisan
  • Sering sakit telinga atau komplain mengenai telinganya merasa tidak nyaman atau berdengung.


Penempatan dan Pelayanan

Anak penderita keyidakmampuan dapat ditempatkan di berbagai setting, dan serangkaian pelayanan dapat dipakai untuk meningkatkan pendidikan mereka.

Penempatan. Penempatan anak dengan ketidakmampuan di susun dari tempat yang kurang restriktif sampai ke yang paling restriktif (Deno dalam Santrock, 2007):

  • Kelas reguler dengan dukungan pengajaran tambahan di kelas reguler
  • Sebagian waktu dihabiskan di ruang sumber daya
  • Penempatan full-time dalam kelas pendidikan khusus
  • Sekolah khusus
  • Instruksi rumah
  • Instruksi di rumah sakit atau instansi lain


Pelayanan. Pelayanan untuk anak dapat disediakan oleh guru kelas reguler, guru sumber daya, guru pendidikan khusus, konsultan kolaboratif, profesional lain, atau tim interaktif.

Selain itu ada hal lain yang perlu diperhatikan di dalam kesuksesan berlangsungnya pemberian pelayanan dan pendidikan, yaitu peran orang tua dan teknologi.

Dua tipe teknologi yang dapat digunakan untuk meningkatkan pendidikan anak penderita ketidakmampuan adalah teknologi pengajaran (instruksional) dan teknologi asistensi (bantuan) (Blackhurst, dalam Santrock 2007).

Teaching Strategies Guru Kelas Reguler untuk Menangani Anak Penderita Ketidakmampuan:

  1. Jalankan rencana pendidikan individual untuk setiap anak
  2. Dorong sekolah untuk memberikan tambahan dukungan dan training cara mengajar anak yang menderita gangguan
  3. Gunakan dukungan yang tersedia dan cari lain
  4. Pelajari dan pahami tipe-tipe anak dengan ketidakmampuan di kelas
  5. Berhati-hatilah dalam memberi label anak yang mengalami ketidakmampuan
  6. Ingat bahwa anak penderita ketidakmampuan mendapat banyak manfaat dari strategi pengajaran yang sama dengan yang diberikan pada anak tanpa ketidakmampuan. Strategi tersebut antara lain: (1) Penuh perhatian, menerima, dan sabar. (2) Memiliki eskpektasi positif terhadap pembelajaran. (3) Membantu anak mengembangkan keahlian komunikasi, sosial, dan juga keahlian akademiknya. (4) Rencanakan dan susun kelas secara efektif. (5) Bersemangat dan bantu anak agar termotivasi belajar. (6) Pantau pembelajaran anak dan beri umpan balik yang efektif.
  7. Bantu anak yang tidak menderita ketidakmampuan untuk memahami dan menerima anak yang menderita ketidakmampuan
  8. Selalu cari informasi terbaru tentang teknologi yang tersedia untuk mendidik anak yang menderita ketidakmampuan.


Daftar Pustaka

  1. Eggen, P & Kauchak, D.P. 2004. Educational Psychology; Windows on Classrooms. 6-th ed. USA: Pearson Merril Prentice Hall
  2. Golver, A. J. Roger, H. Bruning. 1999. Educational Psychology. Boston Toronto: Little Brown Company.
  3. Santrock. 2007. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.


Sekian artikel tentang Anak Berkebutuhan Khusus (Pelajar-Pelajar yang Luar Biasa).

Posting Komentar untuk "Anak Berkebutuhan Khusus (Pelajar-Pelajar yang Luar Biasa)"

Klik gambar berikut untuk mengunduh artikel ini:

Berlangganan via Email