Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Memahami Proses Sosial dan Interaksi Sosial Antropologi

Memahami Proses Sosial dan Interaksi Sosial Antropologi - Masyarakat terbentuk karena adanya proses dan interaksi didalamnya. Makalah ini akan membahas mengenai proses dan interaksi tersebut dan pengaruhnya terhadap perkembangan budaya dan masyarakat.

Proses Sosial

Secara sederhana proses sosial dapat dipahami sebagai pengaruh timbal balik antara berbagai segi kehidupan orang perorang atau kelompok secara bersama. Proses sosial perlu dipelajari dan dipahami dalam menelaah masyarakat agar bisa memperoleh pengertian dari pegerakan yang ada di dalam masyarakat (dinamikanya). Munculnya perhatian terhadap proses sosial ini di awali dari masyarakat yang memiliki dua sisi/segi. Segi pertama yakni statis (tetap), yang cenderung sama dan tidak berubah seperti struktur masyarakat dan segi kedua yakni dinamis (bergerak) yang bisa diamati dari fungsi masyarakat. Dengan demikian proses sosial dapat didefinisikan sebagai cara-cara berhubungan yang dapat dilihat apabila para individu dan kelompok saling bertemu dan menentukan sistem serta bentuk hubungan tersebut atau apa yang akan terjadi apabila ada perubahan-perubahan yang menyebabkan goyahnya cara-cara hidup yang telah ada. Atau dengan kata lain, proses sosial diartikan sebagai pengaruh timbal balik antara perbagai segi kehidupan bersama (Soekanto, 2012).

Memahami Proses Sosial dan Interaksi Sosial Antropologi_
image source: www.fsw.vu.nl
baca juga: Memahami Kebudayaan dan Masyarakat Dalam Antropologi

Interaksi Sosial

Aktivitas yang sangat penting dalam proses sosial adalah interaksi sosial sebagai syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas sosial. Interaksi sosial ini bisa terjadi baik melalui sign (tanda) ataupun symbol(simbol), dimana sebagai pembeda dengan makhluk lain, manusia memiliki bahasa dalam interaksinya.

Arnold W. Green menjelaskan interaksi sosial sebagai aktifitas yang saling mempengaruhi antar individu/kelompok dalam upayanya untuk memecahkan permasalahan dan merangkainya untuk mewujudkan tujuan-tujuan. Sebagai contoh Indonesia terdiri atas masyarakat yang kompleks dari segi budaya, golongan dan agama. Dengan adanya interaksi sosial, keharmonisan di dalam masyarakat dapat diciptakan. Interaksi ini ada yang tersturktur adapula yang tidak tersturktur. Interaksi terstruktur yakni pola hubungan yang telah memiliki aturan-aturan khusus, seperti di pengadilan, interaksi antara hakim dan pengacara sudah ada aturan-aturannya. Sedangkan interaksi yang tidak terstruktur yakni interaksi yang terjadi di lapangan/kehidupan sehari-hari yang tidak ada aturan bakunya. Interaksi sosail dapat terjadi antar orang perorangan, orang-perorangan dengan kelompok manusia maupun kelompok manusia dengan kelompok manusia lainnya.

Proses interaksi sosial ini terjadi didasari oleh berbagai faktor, diantaranya:


Faktor Peran
Imitasi Mendorong seseorang untuk mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku
Sugesti Mendorong seseorang untuk mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku yang berasal dari dirinya yang kemudian diterima pihak lain
Identifikasi Memungkinkan terbentuknya kerjasama dengan pihak lain
Simpati Memungkinkan terbentuknya kerjasama dengan pihak lain, didasari keinginan untuk memahami pihak lain

Adapun syarat-syarat terjadinya interaksi sosial yakni:
  • Adanya kontak sosial;
  • Adanya komunikasi (Soekanto, 1974).

Dalam aplikasinya, interaksi sosial akan dipengaruhi oleh:

  • Intimasi, intimasi atau secara psikologi dimaknai sebagai “close encounters” merupakan dasar utama dalam sebuah hubungan/kelompok sebagai keluarga ataupun kelompok sosial. Lawan dari intimasi yaksi “impersonal” atau “distant contact”.
  • Waktu, mempengaruhi tingkat keintiman seseorang atau kelompok masyarakat. Pada dasarnya waktu akan meningkatkan level intimasi dan kekakuan dalam sebuah hubungan.


Bentuk-bentuk Interaksi Sosial

Bentuk-bentuk interaksi sosial dapat berupa kerjasama (cooperation), akomodasi, asimilasi, persaingan (competition) dan pertikaian (conflict).

a. Kerja sama

Kerja sama merupakan bentuk interaksi sosial yang pokok dan merupakan proses yang utama. Secara sederhana kerja sama diartikan ketika sekelompok orang bergabung/bekerja bersama-sama untuk mencapai sebuah tujuan tertentu. Kerjasama akan menghasilkan integrasi didalam kelompok/masyarakat. Kerja sama merupakan bentuk interaksi yang tidak begitu menarik perhatian para sosilog. Kerja sama ini ada bentuknya spontan (Spontaneous cooperation), langsung (directed coeepration), kontrak (contractual cooperation) dan kerjasama tradisional (traditional cooperation), yang terbagi dalam lima bentuk kerjasama:
  1. Kerukunan yang mencakup gotong-royong dan tolong menolong;
  2. Bargaining : pelaksanaan perjanjian mengenai pertukaran barang-berang dan jasa-jasa antar dua organisasi atau lebih;
  3. Kooptasi : proses penerimaan unsure-unsur baru dalam kepemimpinan atau pelaksanaan politik dalam suatu organisasi sebagai salah satu cara untuk menghindari terjadinya kegoncangan dalam stabilitas organisasi yang bersnagkutan;
  4. Koalisi : kombinasi antara dua organisasi atau lebih yang mempunyai tujuan-tujuan yang sama. Koalisi dapat menghasilkan keadaan yang tidak stabil untuk sementara waktu karena dua organisasi atau lebih tersebut kemungkinan mempunyai struktur yang tidak sama antara satu dengan lainnya. Akan tetapi, karena maksud utama adalah untuk mencapai satu atau beberapa tujuan bersama, maka sifatnya adalah kooperatif.
  5. Joint Venture : kerjasama dalam dalam pengusahaan proye-proyek tertentu, misalnya pengeboran minyak, pertambangan batu bara, perfilman, perhotelan dll.

b. Akomodasi

Akmodasi merupakan aspek interaksi sosial yang diikuti konflik. Akomodasi merupakan terminology yang digunakan sosilog untuk menjelaskan sebuah proses adaptasi antara individu/kelompok yang bertentangan. Dalam akomodasi kerja sama dan konflik hadir disaat yang bersamaan. Beberapa sosilog seperti Summer menamakan akomodasi sebagai kerjasama antagonis. Semakin bersahabat sebuah lingkungan, semakin besar kemungkinan untuk bekerjasama, dan sebaliknya. Sebagai contoh, kehidupan Negro di masa perang sipil Amerika. Pada masa itu ada dua kelas budak yakni yang bekerja di lahan-lahan dan yang bekerja di rumah. Para budak yang bekerja di rumah-rumah memiliki status sosial yang lebih tinggi disbanding budak-budak yang bekerja di luar rumah/lahan-lahan. Budak-budak di rumah tangga memiliki status yang lebih tinggi karena terkait dengan fakta kedekatan mereka dengan majikan dan kemungkinan kecil dari mereka untuk pergi meninggalkan majikannya. Sehingga terbentuklah proses akomodasi seperti kebebasan, sub-ordinasi, kompromi, toleransi, konversi dsb.

Hasil dari akomodasi dalam masyarakat yakni:
  1. Integrasi masyarakat;
  2. Menekan oposisi;
  3. Koordinasi berbagai kepribadian yang berbeda;
  4. Perubahan lembaga-lembaga kemasyarakatan agar sesuai dengan keadaan baru;
  5. Perubahan-perubahan dalam kedudukan;
  6. Membuka jalan kea rah asimilas.

c. Asimilasi

Asimilasi merupakan bagian penting dari interaksi sosial, dimana individu atau kelompok mulai mengeliminiasi perbedaan dan lebih mengedepankan persamaan-persamaan, yang terideintifikasi melalui minat/kepentingan dan pandangan/harapan. Asimilasi merupakan sebuah proses dimana proses penyatuan individu dan kelompok dilakukan dengan berbagi pengalaman dan sejarah yang berkaitan dalam kehidupan budaya masing-masing individu/kelompok. Tidak selamanya asimilasi menciptakan kesetaraan (equality) antar individu/kelompok di dalam masyarakat.

Faktor-faktor yang mempermudah terjadinya proses asimilasi:
  1. Toleransi;
  2. Kesempatan yang seimbang di bidang ekonomi;
  3. Sikap menghargai orang asing dan kebudayaannya;
  4. Sikap terbuka dari golongan yang berkuasa di masyarakat;
  5. Persamaan dalam unsure-unsur kebudayaan;
  6. Perkawinan campuran
  7. Adanya musuh bersama dari luar.

d. Persaingan (Competition)

Persaingan merupakan proses sosial dimana individu dan auat kelompok manusia bersaing mencari keuntungan melalui bidnag-bidang kehiduapn yang pada suatu masa tertentu menjadi pusat perhatian umum. Kompetisi terjadi ketika muncul ketidakseimbangan bagi suplai kebutuhan utama manusia. W.H Hamilton menyampaikan bahwa bentuk dasar kompetisi adalah ketika kebutuhan populasi/kelompok masyarakat tidak terpuaskan dan dunia tidak memiliki persedian yang cukup untuk semua makhluk hidup.

Tipe-tipe persaingan:
  1. Persaingan Ekonomi;
  2. Persaingan Kebudayaan
  3. Persaingan Kedudukan dan Peran
  4. Persaingan Ras
  5. Konflik

Terjadi ketika ada perbenturan kepentingan, baik objek kompetisinya maupun antar sesama kompetitor.

Daftar Pustaka
  1. Hall, Stuart. 2010. “The Centrality of Culture; ‘Introduction and The Work of Representation in Representations: Cultural Representations and Signifying Practices,
  2. Koentjaraningrat, 1990. “Pengantar Ilmu Antropologi””, PT Rineka Cipta

Posting Komentar untuk "Memahami Proses Sosial dan Interaksi Sosial Antropologi"

Klik gambar berikut untuk mengunduh artikel ini:

Berlangganan via Email