Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Memahami Teori Kepribadian Khas Kolektif dan Individual

Memahami Teori Kepribadian Khas Kolektif dan Individual - Kepribadian masyarakat dan individu merupakan suatu kenyataan yang harus dihormati. Bagaimana untuk memahaminya akan dibahas pada artikel ini.

Teori Kepribadian Khas Kolektif

Kepribadian khas kolektif pertama kali digunakan oleh Robert E.Park (1921( dan dikembangkan lebih lanjut oleh Herber Blumer (1939), Ralph Turner and Lewis Killian (1957), and Neil Smelser (1962) yang mengacu pada proses dan kejadian sosial yang tidak terefleksikan pada struktur sosial yang telah ada (hokum, konvensi dan institusi), namun muncul secara “spontan”. Lebih lanjut, pemakaian istilah ini dikembangkan dalam penelitian mengenai sel, binatang sosial seperti burung dan ikan, serangga termasuk semut. Kepribadian khas kolektif bisa berbagai macam bentuknya namun pada umumnya mengganggu tatanan sosial yang telah ada (Miller 2000, Locher 2002).

Memahami Teori Kepribadian Khas Kolektif dan Individual_
image source: www.economist.com
baca juga: Teori Konsep Antropologi Psikologi dan Pembawaan Manusia

Beberapa teori yang berkembang terkait dengan teori kepribadian khas kolektif yakni:

1. Teori Kebudayaan Ruth Benedict

Teori Pola Kebudayaan (Patern of Culture) dapat disebut juga Teori Konfigurasi Kebudayaan,Teori Mozaik Kebudayaan. Teori menyatakan bahwa di dalam setiap kebudayaan ada aneka ragam tipe tempramen, yang telah ditentukan oleh faktor keturunan dan faktor ketubuhan, yang timbul berulang-ulang secara universal. Namun setiap kebudayaan hanya membolehkan sejumlah terbatas dari tipe tempramen tersebut berkembang. Dan tipe-tipe tempramen tersebut hanya yang cocok dengan konfigurasi dominan. Mayoritas dari orang-orang dalam segala masyarakat akan berbuat sesuai terhadap tipe dominan dari masyarakatnya. Tipe-tipe temperamen tersebut haruslah cocok dengan konfigurasi dominan. Mayoritas individu dalam segala masyarakat akan berbuat sesuai dengan tipe dominan dalam masyarakatnya, karena temperamen mereka cukup elastis untuk dibentuk oleh masyarakat. Hal ini disebut dengan tipe kepribadian normal. Pada kenyataanya ada sebagian penduduk, umumnya yang minoritas, tidak dapat masuk kedalam tipe dominan ini, disebabkan karena tipe temperamen tersebut terlalu menyimpang (deviate) dari tipe dominan (ruling type) ataupun karena mereka tidak cukup berbakat untuk dapat menyesuaikan diri dengan tipe dominan. Golongan minoritas ini adalah para penyimpang (deviant ) dan abnormal

Benedict mengadakan penelitian terhadap suku Zuni di New Mexico, orang Kwakiutke di pantai barat laut Amerika Utara dan orang Dobu di Papua New Guinea. Orang Zuni yang bermata pencaharian pertanian, memiliki konfigurasi kebudayaan yang bertipekan Appolonian (Dewa Apollo), karena ditandai sifat-sifat introversi, rapi, dapat menahan diri, mencari keharmonisan.

Pendapat Benedict mendapat kritik dari Abram Kardiner, seorang psikiater penganut aliran psikoanalisa NeoFreudian, yang berminat untuk menautkan antro pologi dan psikoanalisa. Menurutnya, struktur kepribadian dasar adalah ‘intisari dari kepribadian, yang dimiliki oleh kebanyakan anggota masyarakat, sebagai akibat dari pengalaman mereka pada masa kanak-kanak. Struktur kepribadian dasar merupakan alat penyesuaian diri individu, yang umumnya bagi semua individu didalam suatu masyarakat. Struktur kepribadian meliputi (1) teknik berpikir ( technique of thinkings), misalnya ilmiah atau animistis; (2) sikap terhadap benda hidup atau mati (attitude toward objects), misalnya menerima atau menolak tergantung pada pengalaman masa kecil. Anak yang semasa kecil diperlakukan tidak menyenangkanoleh ibunya, setelah dewasa akan bersikap menolak kehadiran perempuan. (3) Sistem keamanan dan kesejahteraan ( security system), dinilai dari kecemasan (anxiety) dan kecewaan karena ketidakberdayaan ( frustration) semasa kanak-kanak; dan pembentukan super ego. 

2. Teori Gaya Hidup Petani Desa Robert Redfield

Untuk menerangkan teorinya ini, Redfield (1982) membedakan masyrakat menjadi tiga kategori yaitu masyarakat folk (folk society), masyarakat petani desa (peasant society), dan masyarakat perkotaan (urban society)

Masyarakat folk merupakan masyarakat yg telah ada sebelum timbul kota. Masyarakat folk dikenal juga sebagai tribal society atau masyarakat primitive. Sedangkan masyarakat petani desa yakni bentuk masyarakat folk dahulu yg mendapat sentuhan (kontak) dengan masyarakat perkotaan setelah terpengaruh kebudayaan modern. Masyarakat petani desa bersifat setengah masyarakat (a half society) setengah kebudayaan (a half culture). Masyarakat petani desa tidak ada sebelum terbentuk kota. Hubungan antara masyarakat petani desa dengan masyarakat perkotaan saling menguntungkan.

Gaya hidup khas masyarakat petani desa
  1. Sikap yang praktis dan mencari yg berfaedah. Contoh: bekerja untuk dewa
  2. Menonjolkan perasaan daripada rasio
  3. Mengutamakan kesejahteraan dan kepastian hidup
  4. Mempunyai keturunan yg banyak
  5. Menginginkan kekayaan
  6. Menghubungkan keadilan sosial dengan pekerjaan

Sedangkan yang dimaksud dengan masyarakat perkotaan yakni masyarakat yg ada di perkotaan dengan system sosial yang jauh lebih baik dari pada masyarakat folk.

Teori Struktur Kepribadian Dasar Kardiner, Linton dan Dubois

Struktur kepribadian dasar adalah “intisari dari kepribadian, yang dimiliki oleh kebanyakan anggota masyarakat, sebagai akibat pengalaman mereka pada masa anak – anak yang sama”. Struktur kepribadian dasar ini sebenarnya adalah alat penyesuaian diri individu umum bagi semua individu di dalam suatu masyarakat, seperti:
  1. Teknik berfikir (apakah ilmiah atau animistis) 
  2. Sikap terhadap benda hidup atau mati 
  3. Sistem keamanan dan kesejahteraan, yang dapat dinilai dari kecerdasan dan kekecewaan karena ketidakberdayaan sewaktu masih kanak-kanak. 

Struktur kepribadian dasar sangat ditentukan oleh pranata (institusi) yang merupakan bentuk fikiran dan ketata kelakuan yang sudah tetap dari sekelompok individu (masyarakat) yang dapat dikomunikasikan dan yang telah diterima sebagai miliki bersama. Pranata dapat dibagi menjadi dua, yaitu pranata pertama (primary institution ) dan pranata kedua (secondary institution).

Yang termasuk pranata pertama adalah oraganisasi kekerabatan, sitem pembentukan perasaan ekslusifisme, sistem tata tertib dasar, cara pemberian anak-anak / bayi, penyapihan, adat merawat anak. Latihan buang air besar, larang – larangan seksual, cara pemuasan kebutuhan primer dan sebagainya. Yang termasuk pranata kedua adalah sistem larangan, kepercayaan, upacara, cara yang dipergunakan untuk menghadapi mereka da sebagainya.

Menurut Kardiner dkk, pranata pertama memberi pengaruh yang besar terdahap strukutur kepribadian dasar. Biasanya individu dalam suatu kelompok memiliki pengaruh pranata pertama yangs sama sehingga struktur kepribadiannya cenderung sama. Demikianlah pula pranata kedua dalam suatu kelompok masyarakat cenderung sama, sehingga membentuk struktur kepribadian yang sama. 

4. Kepribadian orang-orang modern dari Alex Inkeles

Ciri khas orang modern ada dua macam, yaitu ciri luar yang menyangkut lingkungan alam, dan ciri dalam mengenai sikap, nilai, dan perasaan. Peruahan ciri luar yang dialami manusia modern banyak dilihat dalam kemajuan manusia, seperti tamak pada pola komunikasi, kepemilikan harta, urbanisasi, pendidikan, komunikasi, industrialisasi, dan sebagainya. Perubahan ciri dalam menurut Inkeles adalah :

  1. Mempunyai kesediaan untuk menerima pengalaman baru dan keterbukaan bagi pembaharuan dan perubahan
  2. Berpandangan luas, tidak terpukau pada masalah disekitar hidupnya saja, melainkan juga masalah negara atau dunia
  3. Tidak mementingkan masa lampau, melainkan masa kini dan masa depan, menghargai waktu.
  4. Suka bekerja dengan perencanaan dan organisasi yang ketat.
  5. Yakin akan kemampuan manusia untuk menguasai alam tidak lagi menyerahkan hidupnya kepada kemauan alam.
  6. Yakin bahwa hidupnya dapat diperhitungkan dan bukan ditetapkan oelh nasib.
  7. Bersedia menghargai martabat orang lain, terutama wanita dan anak – anak.
  8. Percaya pada ilmu pengetahuan dan tekhnologi.
  9. Menganut prinsip bahwa ganjaran seharusnya diberikan sesuai dengan tindakan/prestasi dan bukan karena kedudukan atau berdasarkan kelahiran seseorang.


Teori Kepribadian Individual

1. Teori Kepribadian Individual Menurut Gordon Allpot

Teori Kepribadian Individual pertama kali dicetuskan oleh Gordon Allpot. Allpot mendefinisikan kepribadian sebagai organisasi dinamis dari sistem psikofisik (psikologis dan fisik seseorang) yang menentukan perilaku dan pikiran seseorang.

Menurut Gordon W. Allport, kepribadian adalah sesuatu yang unik dan dimiliki masing-masing pribadi. Ia mengatakan bahwa manusia itu dipengaruhi oleh kesadarannya yang meliputi 3 komponen berikut :

1. Dynamic Organization
Komponen ini menyatakan bahwa kepribadian itu mengalami perkembangan dan perubahan

2. Psychophysical System
Komponen ini menyatakan bahwa kepribadian bukan hanya suatu hal yang tersirat namun kepribadian adalah hal yang nyata dan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan.

3. Determine
Komponen ini menyatakan bahwa kepribadian bukan hanya suatu konsep namun ia dapat mengerjakan sesuatu dan mempengaruhi tingkah laku seseorang.

Sturuktur Kepribadian

1. Sifat (Trait)
Di dalam kepribadian terdapat sifat dasar yakni : Nyata, Berkembang, Fleksibel, Empirik dan Kemandirian yang relatif. Dari 5 sifat dasar ini, terdapat sifat umum dan sifat khusus yang berkembang pada tiap-tiap sifat dasar.

2. Traits-Habit-Attitude
Dalam struktur ini, dinyatakan bahwa kepribadian dapat dibentuk karena sifat dasar, kebiasaan, sikap dalam menghadapi sesuatu, dan kategori nomotetik.

3. Trait dan Konsistensi Pribadi
Stuktur ini mengarah pada praktikum stimulus-respon. Dia membagi atas 3 trait didalamnya. yaitu (gregarious=suka berteman); (shyness=pemalu) dan (self esteem=harga diri).

4. Propium
Propium adalah struktur yang membahas tentang perkembangan baik itu dalam emosi, kecakapan individu, kemampuan persepsi dan tujuan hidup seseorang. Perkembangannya sama dengan perkembangan yang telah dijabarkan oleh Sigmund Freud, ia membaginya dalam 5 tahap yaitu Oral, Anal, Phalic, Laten dan Genital.

5. Motivasi
Kekuatan dari stuktur motivasi dalam kepribadian menurut Gordon Allport berbeda dengan yang lain, dimana ia mengatakan bahwa yang paling menunjang dalam motivasi ialah kemampuan kognitif dan perencanaan hidup. Dari dua hal itu, ia mampu membentuk motivasi dalam dirinya karena ia telah memiliki kemampuan kognitif dan perencanaan.

6. Otonomi Fungsional
Otonomi fungsional adalah struktur yang membahas tentang keanekaragaman pribadi. Kenapa ada yang suka membaca? Kenapa ada yang suka Melukis? itulah yang disebut dengan keanekaragaman pribadi yang dibagi dalam dua tingkat otonomi yaitu: Kebiasaan dan Minat. Kebiasaan adalah struktur yang terbentuk dari keterikatan lingkungan kita. Misalnya jika kita tinggal di lingkungan yang banyak pemain bola, maka kita akan ikut juga untuk bermain bola, sedangkan Minat adalah stuktur yang terbentuk dari kesadaran akan target yang kita inginkan.

2. Teori Kepribadian Individual Menurut Gardner Murphy

Murphy memberi definisi struktur sebagai cara bagaimana bagian-bagian membentuk keseluruhan dan disusun menjadi suatu kesatuan. Struktur dan organisasi ini sebenarnya meruapakan satu jalinan, namun untuk memudahkan pembicaraan, orang dapat memilahnya satu demi satu.

a. Struktur Kepribadian
Menurut Murphy komponen-komponen pokok kepribadian adalah :

  • Disposisi-disposisi fisiologis,
  • Kanalisasi,
  • Response-response bersyarat, dan
  • Kebiasaan-kebiasaan kognitif dan perseptual.


Disposisi-disposisi fisiologis berasal dari keturunan, kanalisasi terbentuk pada awal masa kehidupan, response-response bersyarat terbentuk karena latihan, sedangkan kebiasaan-kebiasaan kognitif dan perseptual merupakan hasil bersama daripada kanalisasi dan pensyaratan. Komponen-komponen tersebut walaupun tidak berubah, namun sedikit banyak mempunyai sifat konsta, sehingga kontinuitas dan identitas kepribadian terpelihara.

Disposisi-disposisi fisiologis
Disposisi-disposisi kepribadian itu merupakan sifat-sifat organis, dan ini ada tiga macam, yaitu :

  1. Disposisi umum jaringan, seperti misalnya tempo metabolisme.
  2. Disposisi jaringan-jaringan khusus seperti misalnya tonus otot.
  3. Disposisi yang timbul dari organisasi bermacam-macam jaringan, seperti misalnya lapar.


Dengan kata lain sifat-sifat organis itu terdiri atas tegangan-tegangan jaringan tubuh.

Kanalisasi
Sifat-sifat organis dapat diarahkan oleh keharusan-keharusan sosial menjadi bentuk-bentuk tingkah laku tertentu. Misalnya hal makan. Masyarakat tertentu memberi arah mengenai macam-macam makanan apa yang dapat/boleh dimakan, bagaimana makanan itu disiapkan, dan bagaimana cara memakannya. Murphy menyebut proses ini, yaitu pemberian arah oleh masyarakat sehingga terbentuk bentuk-bentuk tingkah laku tertentu: kanalisasi.

Response-response bersyarat
Sifat-sifat organis itu juga dapat diolah menjadi sifat-sifat simbolis dengan proses persyaratan. Orang mungkin dapat bereaksi terhadap tegangan jaringan tubuh yang asli. Misalnya mula-mula keadaan lapar mendorong orang untuk mencari makan, namun nantinya berpikir tentang hal lapar itu telah dapat mendorong orang untuk mencari makan.

Murphy menyatakan, bahwa “the ultimate elements in personality structure are the needs or tensions”. Suatu tegangan adalah suatu konsentrasi eneergi pada jaringan atau kelompok jaringan-jaringan tertentu. Tegangan-tegangan ini mempunyai hubungan fungsional satu sama lain, sehingga tegangan dapat meluas dari satu daerah ke daerah lainnya.

Kebiasaan-kebiasaan kognitif dan perceptual
Komponen ini berasal suatu tegangan yang merupakan suatu konsentrasi energi pada jaringan teretentu. Tegangan ini mempunyai hubungan yang fungsional satu sama lain, sehingga tegangan dapat meluas dari satu daerah ke daerah yang lain. Selain itu, kesemuanya juga terbantu oleh adanya hasil kanalisasi dan pensyaratan tegangan jaringan-jaringan tubuh. Dari sinilah terbentuk peranan, diri, konsepi, dan karakter komponen seorang individu terbentuk.

2. Organisasi Kepribadian

Menurut pendapat Murphy ada tiga taraf dalam organisasi kepribadian, yaitu taraf global, taraf diferensiasi dan taraf integrasi. Pada umumnya ketiga taraf itu berlangsung berturut-turut. Di dalam organisasi bentuk global, tidak ada diferensiasi antara bagian-bagian, segala sesuatu homogen. Energi terbagi merata ke seluruh sistem, dan sistem itu berfungsi sebagai suatu kesatuan yang beresponse terhadap perangsang dari luar. Tingkah laku global demikian itu biasa disebut aktivitas masa.

Di dalam bentuk organisasi yang berdiferensiasi, ada daerah-daerah yang berbeda dan pilah. Energi tidak terbagi merata ke seluruh sistem, melainkan terpusat pada bagian-bagian tertentu daripada sistem itu. Response yang dilakukan adalah spesifik, pengamatan, ingatan dan sikap. Corak pokok daripada organisasi yang berdiferensiasi adalah heterogenitas, kepilahan, ketidakterikatan antar bagian-bagian. Di dalam bentuk organisasi yang berintegrasi, terdapatlah penyatuan bagian-bagian deskrit itu ke dalam suatu sistem yang saling bersangkut paut, saling berhubungan, saling tergantung.

DINAMIKA KEPRIBADIAN

Murphy menganggap bahwa kepribadian itu bersifat dinamis, dan dinamika ini dimungkinkan oleh adanya dan berfungsinya energi dalam kepribadian itu. Suatu motif adalah taraf tegangan pada sesuatu jaringan, yang tidak mempunyai awal dan akhir tertentu, tetapi meningkat dan menurun seiring dengan perubahan-perubahan energi. Tegangan menunjukkan konsentrasi energi organis pada jaringan tertentu. Apabila konsentrasi menurun maka taraf tegangan menurun, dan apabila konsentrasi meningkat tegangan meningkat.

Pada umumnya penurunan/pengurangan tegangan berarti kepuasan dan peningkatan/penambahan tegangan berarti ketidakpuasan atau ketidaksenangan. Namun ada juga kejadian di mana peningkatan tegangan justru membawa kepuasan, misalnya rangsangan seksual, atau pengalaman waktu mengikuti perlombaan balap mobil adalah contoh-contoh mengenai hal ini. Murphy mengakui bahwa hal ini masih merupakan problem yang belum terselesaikan.

Dalam hal dinamika kepribadian ini Murphy berpendirian holistis. Dia menentang pendapat bahwa aktivitas-aktivitas yang kompleks adalah hasil daripada pemberian arah baru bentuk-bentuk energi primitif. Menurut Murphy aktivitas-aktivitas yang kompleks dihasilkan oleh suatu struktur motif-motif yang kompleks, bukan sekedar energi-energi sederhana yang mendapat bentuk penyaluran yang baru. Pendapat ini serasi dengan keyakinan pokoknya bahwa tiap perkembangan berlangsung maju dari taraf sederhana tak terdiferensiasi dan bersifat global menuju ke taraf diferensiasi dan berakhir pada integrasi.

Di dalam perkembangan individu, maka dinamika ini menjadi bertambah stabil dan tegar, sehingga individu itu akan mampu melawan tekanan-tekanan lingkungan atau mengharuskan tekanan-tekanan tersebut berpengaruh terhadapnya dalam cara yang sedikit banyak telah diatur lebih dahulu. Dengan kata lain makin bertambah umur individu, maka ia akan mampu melakukan seleksi terhadap pengaruh lingkungannya, maka yang akan diterimanya dan mana yang harus ditolaknya. Namun, stabilitas dinamika kepribadian tersebut bukanlah hal yang tak dapat terganggu.

PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN

Murphy merumuskan hipotesis-hipotesis yang cukup tepat namun cukup merangkum mengenai “bagaimana kepribadian itu berkembang”. Menurut Murphy ada tiga fase perkembangan, yaitu keseluruhan tanpa diferensiasi, fase diferensiasi, dan fase integratif.

  1. Pada fase pertama, yaitu fase keseluruhan tanpa diferensiasi, individu berbuat terlebih-lebih sebagai keseluruhan terhadap keseluruhan situasi. Hal demikian ini dapat disaksikan pada bayi.
  2. Pada fase kedua, fase diferensiasi, fungsi-fungsi khusus mengalami diferensiasi dan muncul dari keseluruhan.
  3. Pada fase ketiga, yaitu fase integrasi, fungsi-fungsi yang sudah mengalami diferensiasi itu diintegrasikan dalam suatu unitas yang berkoordinasi dan terorganisasi.


Hal-hal yang Memungkinkan Perkembangan Organisme dan Lingkungan

Masalah pengaruh dasar dan ajar, atau bakat dan lingkungan, atau dikatakan nature dan nurture di dalam perkembangan telah sejak lama menjadi bahan pembahasan dan pembantahan para ahli. Seperti diketahui, mengenai hal ini pada garis besarnya terdapat tiga aliran yaitu nativisme yang berlawanan dengan empirisme dengan bentuk sistesisnya konvergensi. Di dalam kenyataanya kebanyakan ahli dewasa ini menerima prinsip konvergensi dengan tekanan pada faktor bakat atau pada faktor lingkungan. Mengenai hal ini Murphy mempunyai pandangan yang tidak melawankan bakat dan lingkungan. Dia menentang pendapat yang melawan bakat dan lingkungan.

Belajar sebagai Bentuk Perkembangan

Menurut Murphy proses belajar terjadi karena adanya interaksi antara organisme yang dasarnya bersifat individual dengan lingkungan khusus tertentu. Ada dua macam proses, yaitu :
Kanalisasi

Kanalisasi adalah proses yang memberi jalan tersalurnya motif atau konsentrasi energi dalam tingkah laku. Seperti ahli-ahli lain, Murphy berpendapat bahwa di dalam individu terdapat pada daerah tertentu yang berfungsi sebagai semacam reservoir energi.

Kekuatan sesuatu kalanisasi itu dapat diperhitungkan, dan ini tergantung kepada empat faktor yaitu :

  1. kekuatan kebutuhan, yaitu konsentrasi dalam jaringan,
  2. intensitas kepuasan, yaitu besarnya perubahan tegangan,
  3. taraf atau fase perkembangan tertentu,
  4. frekuensi kepuasaan.


Murphy menganggap masa kanak-kanak sebagai masa yang sangat menentukan dalam perkembangan seseorang. Kanalisasi-kanalisasi yang terjadi pada masa kanak-kanak tetap berpengaruh untuk masa-masa selanjutnya.
Persyaratan

Kanalisasi dan persyaratan kedua-duanya adalah hal yang menjelaskan segala pola tingkah laku yang dipelajari. Apabila seseorang telah belajar mengerjakan sesuatu yang langsung memberi kepuasaan, maka itu adalah kanalisasi. Jika seseorang telah mengerjakan sesuatu yang dipandang dari segi kepuasan langsung bersifat netral atau negatif, akan tetapi yang ternyata merupakan jalan untuk didapatkannya kepuasaan, maka itu adalah persyaratan. Dari uraian ini nyata bahwa dalam masalah belajar sebagai bentuk perkembangan Murphy berpendirian hedonistis. Pandangan yang demikian itu terdapat pada pendapat Thorndike, Freud, dan pengikut-pengikut aliran individualisme.

Sosialisasi Sebagai Bentuk Perkembangan

Murphy menganggap bahwa perkembangan itu adalah proses diferensiasi. Dia mengakui pula pentingnyafaktor sosial-kultural di dalam perkembangan kepribadian. Dia menganggap faktor sosio-kultural ini memperngaruhi kepribadian dalam empat macam, yaitu : Masyarakat mempunyai suatu rangkaian tanda-tanda (kode) yang menjadi tujuan pensyaratan anak-anak yang hidup di dalamnya. Misalnya pada masyarakat Indonesia menerima dan memberikan sesuatu kepada orang lain dengan tangan kiri dipandang tidak sopan. Maka melalui berbagai pembiasaan masyarakat memasukkan hal ini kepada anak-anak. Hal ini merupakan proses pensyaratan.

Masyarakat dengan melalui berbagai lembaga (terutama keluarga) membawa anak-anak untuk meng-aktualisasikan energi mereka. Menunjukkan mana bentuk kanalisasi yang diperbolehkan dan mana yang tidak.Masyarakat dengan hadiah dan hukuman dapat mengubah dorongan-dorongan impulsif menjadi dorongan yang lebih dapat diterima oleh masyarakat. Tetapi dorongan-dorongan yang ditekan tidak hilang, pada suatu kali mungkin muncul lagi. Masyarakat dapat mempengaruhi proses-proses perseptual dan kognitif anggota-anggotanya sedemikian rupa, sehingga mereka akan belajar dan berpikir sesuai dengan norma-norma masyarakat itu. Dengan demikian mereka cenderung untuk mendapatkan kesamaan dalam sikap dan perasaan (sampai batas tertentu).

Daftar Pustaka

  1. Sumadi Suryabrata, Psikologi Kepribadian, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta


Sekian artikel tentang Memahami Teori Kepribadian Khas Kolektif dan Individual.

Posting Komentar untuk "Memahami Teori Kepribadian Khas Kolektif dan Individual"

Klik gambar berikut untuk mengunduh artikel ini:

Berlangganan via Email