Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Dasar-Dasar dan Karakteristik Pengukuran Psikologis

Dasar-Dasar dan Karakteristik Pengukuran Psikologis - Atribut-atribut psikologis tidak mempunyai eksistensi secara real. Atribut-atribut itu eksistensinya direka-reka secara teoritis, karena itu disebut rekaan teoritis. Sebagai sesuatu yang tidak mempunyai eksistensi riil, atribut psikologis tidak dapat dikaji secara langsung, melainkan hanya dapat diketahui secara tidak langsung melalui gejalanya. 

Dasar-Dasar dan Karakteristik Pengukuran Psikologis_
image source: www.therecruiterslounge.com
baca juga: Penulisan, Skoring, dan Penilaian Alat Ukur Psikologi

A. Kuantifikasi Atribut Psikologis

Atribut psikologis seperti motivasi, minat, intelegensi, bakat,

1. Keuntungan dan keterbatasan Pendekatan Kuantitatif


a. Keuntungan Pendekatan Kuantitatif
  • Ilmuwan secara tidak langsung dpaksakan mengikuti tata kerja yang tertib, konsisten dan terbuka,
  • Ilmuwan dapat membuat prediksi, jadi melaksanakan fungsi ilmu pengetahuan yang lain mengenai bidang garapannya

b. Keterbatasan Pendekatan Kuantitatif
Keterbatasan utamanya adalah kalau hasil kuantifikasi itu tidak mencerminkan keadaan yang sebenarnya, maka hasil analilsis dan kesimpulan-kesimpulannya akan tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.

2. Model Teoritis

Pengembangan model teoritisnya data yang digunakan terbatas pada, data pengukuran hasil belajar, menggunakan alat non-pryektif, diselenggarakan secara kelompok dan menggunakan pendekata acuan norma.

a. Data pengukuran hasil belajar
Hasil belajar termasuk dakam kelompok atribut kognitif, yang “respons” hasil golong pengukurannya tergolong pendapat yaitu respons yang dapat dinyatakan benar-salah

b. Alat ukur non-projektif
Pengukuran hasil belajar tidak menuntut terjadinya mekanisme projeksi.

B. Teori Tes Klasik

Teori tes klasik adalah satu teori yang sudah lama digunakan, dan masih sampai saat ini digunakan oleh penggunanya,

Asumsi-asumsi teori tes klasik:

Asumsi 1.: X t = X Ɵ – X e

Skor perolehan , terdiri dari skor murni, dan skor kesalahan pengukuran . Jadi skor yang diperoleh dari sesuatu pengukuran pada umumnya tidak menunjukkan keadaan yang sebenarnya. Melesetnya skor perolehan dari keadaan yang sebenarnya merupakan kesalahan pengukuran. Misalnya A dalam suatu tes intelegensi mempunyai skor IQ= 110. Dalam testing pertama skor perolehannya IQ= 112m jadi skor perolehan ini meleset ke atas dua poin. Jadi, skor murni itu tetap, sedang skor perolehan dan skor kesalahan berubah-ubah dari testing yang satu ke testing yang lain.

Sebenarnya, yang diperlukan adalah skor murni, yaitu skor yang mencerminkan secara tepat besaran atribut yang diukur. Namun, pada umumnya tidak ada jalan untuk mengetahui skor murni secara langsung, skor murni hanya akan dapat diketahui secara tidak langsung melalui galat baku pengukuran (standard error measurement).

Asumsi 2.: ɛ (X t ) = X e

Nilai harapan skor perolehan sama dengan skor murni. Asumsi dua ini merupakan definisi skor murni. Skor murni itu adalah nilai rata-rata skor perolehan teoritis sekiranya dilakukan pengukuran ulang itu adalah hasil pengukuran yang satu harus bebas dari hasil pengukuran yang lain. Misalnya, si A dilakukan pengetesan berkali-kali, rata-rata skor perolehan si A adalah 110. Karena testing berulang-ulang tersebut itu tidak mungkin dilakukan dan bahwa tidak adanya kontaminasi ari satu testing ke testing lainnya itu tidak mungkin terjadi, maka skor murni adalah suatu bangunan teoritis.

Asumsi 3: ᵨ ₓ ₓₑ= 0


Skor murni dan skor kesalahan yang dicapai oleh suatu populasi subjek pada suatu tes tidak berkorelasi satu sama lain. Jadi tidak ada hubungan sistematik antara skor murni dan skor kesalahan. Subjek yang tinggi skor murninya tidak mesti mempunyai skor kesalahan yang lebih tinggi dibanding subjek yang rendah skor murninya.

Asumsi 4 : ᵨ Xₑι X ₑ2 = 0

Skor kesalahan pada dua tes (yang dimaksud untuk mengukur hal yang sama) tidak saling berkorelasi. Jika seseorang mempunyai skor kesalahan positif pada tes 1, maka skor kesalahannya pada tes 2 tidak tentu positif. Asumsi ini akan tidak terpenuhi sekiranya skor perolehan dipengaruhi kondisi testing, misalanya kelelahan, suasana hati dan faktor lingkungan lainnya.

Asumsi 5 : ᵨ Xₑι X ˳2 = 0


Jika ada dua tes yang dimaksudkan untuk mengukur atribut yang sama, maka skor – skor kesalahan pada tes 1 tidak berkorelasi dengan skor murni pada tes 2.

Asumsi 6
: jika dua perangkat tes (yang dimaksudkan untuk mengukur atribut yang sama) mempunyai skor perolehan Xᵼ dan Xᵼ yang memenuhi asumsi 1 sampai 5 dan jika untuk setiap populasi subjek , maka kedua tes itu diesbut tes pararel. Jadi dua perangkat tes akan merupakan tes pararel kalau skor suatu populasi yang menempuh kedua tes itu skor murninya sama dan varians skor-skor kesalahannya sa,a

Asumsi 7: Jika dua perangkat tes mempunyai skor perolehan X t1 dan X t2 yang memenuhi sasumsi i1 sampai 5 dan apabila untuk setiap populasi subjek X1 = X2 + C12, dimana C12 adalah suatu konstanta, maka kedua perangkat tes itu disebut tes yang setara.

Walaupun teori ini mempunyai keterbatasan, namun kanyataanya teori ini masih digunakan banyak pengembangan tes. Berbagai tes yang dikeluarkan lembaga-lembaga testing yang terkenal seperti, ACER, Psycholical Corporation. Demikian juga di Indonesia, seperti TPA, UMPTN , dan lainnya

C. Teori Tes Modern

Kelemahan utama teori tes klasik adalah bahwa alat ukura yang disusun berdasar teori tes klasik itu terikat kepada sampel. Butir sk=oal yang dirat=kit menjadi suatu perangkat alat ukur atau tes hanyalah sampel dari populasi butir soal yang sangat besar jumlahnya

Teori tes moden mendasarkan diri pada sifat-sifat yang laten yang mendasari kinerja atrespons subjek terhadap butir soal tertentu. Karena itu teori ini disebut model sifat laten. Atau IRT (Item Responses Theory) . Teori ini berdasarkan dua postulat:
  • Kinerja seorang subjek pada suatu soal dapat diprediksikan dari satu perangkat faktor yang disebut sifat-sifat laten atau kemampuan
  • Hubungan antara kinerja subjek pada suatu soal dan perangkat sifat-sifat yang mendasari kinerja itu dapat dideskripsikan dengan fungsi meningkat secara monotonik yang disebut fungsi karakteristik butir soal ( Item Characteristic Fungction Curve) atau ICC. Fungsi ini menyatakan bahwa apabila taraf sifat meningkat, maka probabilitas suatu respon yang benar suatu butir soal juga naik.

Jika suatu model IRT sesuai dengan data yang dipersoalkan, beberapa sosok yang diinginkan tercaai. Estimasi kemampuan subjek tidak terikat pada tes. Estimasi kemampuan yang dicapau dari bebrapa perangkat butir soal akan sama (kecuali karena kekeliruan .

Sekian artikel tentang Dasar-Dasar dan Karakteristik Pengukuran Psikologis.

Daftar Pustaka
  1. Haladyna, Thomas ( 1994). Developong and Validating Multiple-Choice Test Items. Lawrence Erlbaum Asssociates,, Publishers, New Jersey.
  2. Kuesaeri dan Suprananto ( 2012). Pengukuran dan Penilaian Pendidikan. Graha Ilmu
  3. Mueller, Daniel. ( 1986). Measuring Social Attitudes. Teacher College, Columbia University.New York.
  4. Suryabrata, Sumadi . (1998). Pengembangan Alat Ukur Psikologi. PT. Andi Yogyakarta.
  5. Saifuddin Azwar . ( 1996). Tes Prestasi. Pustaka Belajar
  6. Saifuddin Azwar (1996). Pengantar Tes Intelegensi. Pustaka Belajar

Posting Komentar untuk "Dasar-Dasar dan Karakteristik Pengukuran Psikologis"

Klik gambar berikut untuk mengunduh artikel ini:

Berlangganan via Email