Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Perencanaan Alat Ukur Prestasi Dalam Psikologi Menurut Ahli

Perencanaan Alat Ukur Prestasi Dalam Psikologi Menurut Ahli - Artikel ini melatih untuk membuat alat ukur psikologi yang memenuhi persyaratan sebagai alat ukur yang baik dan benar. Melalui artikel ini diharapkan mampu membuat alat ukur psikologi menggunakan metode dan tahapan yang benar.

Perencanaan Alat Ukur Prestasi Dalam Psikologi Menurut Ahli_
image source: jsmith.wiki.educ.msu.edu
baca juga: Spesifikasi Tes dan Konstruksi Alat Ukur Tes Psikologi

Isi

a. Tahapan

Secara umum tahapan perencanaan alat ukur prestasi dapat dilihat dalam bagan berikut:


b. Evaluasi konstruk

Hal pertama yang harus dilakukan pada saat akan melakukan penyusunan instrumen psikologi adalah menentukan konstruk psikologi yang akan diteliti. Konstruk yang dapat dibuat alat ukur psikologi berupa tes prestasi atau tes performa maksimal adalah konstruk yang tidak bersifat bawaan. Contoh konstruk yang bersifat bawaan adalah pola asuh.

Jika konstruk memiliki potensi untuk dilatih dan dikembangkan maka konstruk dapat dibuat alat ukur tes prestasi.

i. apakah konstruk memiliki aspek potensi

Alat ukur performa maksimal umumnya mencoba memahami besarnya potesi yang dimiliki oleh individu dalam dirinya sehingga hanya konstruk yang memiliki aspek potensi yang dapat dibuat instrmen pengukurannnya.

Misal: kecerdasan/ intelegensi

ii. apakah potensi dapat diungkap

Pertanyaan berikutnya adalah apakah potensi dapat diungkap menggunakan alat ukur psikologi yang akan disusun. Dalam hal ini, penyusunan alat ukur psikologi akan mengedepankan penggunaan kertas. Jika demikian, mungkinkah instrumen yang akan dibuat mampu mengungkap potensi kemampuan komunikasi publik (misal)

iii. bentuk respon yang dapat mengungkap konstruk

Pada penggunaan alat ukur yang menggunakan isian kertas, maka perlu dikaji apakah respon dalam bentuk mengisi skala/ angkat dapat mengungkap konstruk yang dimaksud.

Jika salah konstruk yang dimaksud adalah bakat menari, misalnya, mungkinkah hal in dapat diungkat menggunakan instrumen yang mengedepankan penggunaan kertas.

c. Karakter responden

Hal berikutnya yang perlu mendapat perhatian pada saat penyusunan instrumen pengukuran psikologi adalah karakter individu yang akan dijadikan responden pengukuran aspek psikologisnya. Beberapa yang perlu mendapat perhatian adalah: usia, pemdidikan, kemampuan membaca, pengetahuan, budaya, abnormalitas, dan kebiasaan.

i. Usia

Responden pada usia tertentu akan memiliki cara merespon yang akan disesuaikan dengan kondisi usiannya. Lansia, misalnya, membutuhkan waktu yang lebih lama dalam mengingat sehingga respon yang diberikan tidak otomatis menjustifikasi kelemahan diri mereka.

ii. Pendidikan

Indidivu yang memiliki pendidikan tinggi (kuliah) dengan individu yang sebatas pendidikan dasar dan menengah akan memiliki pola reaksi yang berbeda terhadap situasi. Kalaupun mereka memiliki potensi yang sama maka sebaiknya instrumen yang disusun dapat disesuaikan dengan kondisi pendidikan sehingga tidak menjadi bias dalam pengukuran.

iii. kemampuan membaca

Ketrampilan membaca merupakan salah satu aspek yang penting dikaji sebelum dikembangkan instrumen alat ukurnya. Jika responden tidak terampil membaca, mungkinkah untuk dibacakan ataukah dapat digunakan pertanyaan yang hanya menggunakan gambar.

iv. Pengetahuan

Pada pengukuran intelegensi, misalnya, pengetahuan perlu menjadi penting yang disesuaikan karena jika pengetahuan menjadi instrumen pengukuran intelegensi maka bias hasil pengukuran hanya karena seseorang lebih sering membaca menjadi lebih tinggi. Hal sama dapat terjadi pada pengukuran aspek psikologis lain yang berhubungan dengan pengetahuan.

v. budaya dan tempat tinggal

Keragaman budaya dan lokasi tempat tinggal dapat memberi kemampuan responden yang beragam dalam merespon aitem yang ada sehingga instrumen yang dibuat harus cukup sensitif terhadap aspek ini sehingga bias pengukuran karena aspek budaya dapat diminimalisir sehingga instrumen pengukuran akan semakin valid dan reliabel.

vi. Abnormalitas

Dalam instrumeun pengukuran psikologi yang baik, instrumen harus bisa melihat bagaimana abnormalitas pada individu tidak mencegah individu dapat mengungkapkan potensinya dengan optimal dan sebaik mungkin. Potensi tersebut sangat mungkin tetap ada walaupun individu memiliki abnormalitas atau ketidaksesuaian diri dengan kondisi umum individu lainnya.

Beberapa abnormalitas yang dapat menjadi pertimbangan antara lain:

- Buta warna
Pada abnormalitas buta warna, individu masih dapat berkembang dan beraktivitas secara normal sehingga perlu diwaspadai sejak awal. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan meniadakan variasi warna yang terlalu banyak pada aitem sehingga individu yang mengalami buta warna tetap dapat merespon dengan baik aitem yang ada.

Terutama pada aitem yang memancing respon melalui gambar, maka penggunaan warna harus diminimalisir karena individu dapat mengalami kesalahan peresponan.

- Diskalkulia
Merupakan gangguan berhitung pada individu. Kelainan ini umumnya terjadi karena masalah fisiologis. Namun secara umum individu yang mengalami diskalkulia tidak memiliki masalah yang cukup berat dalam kehidupan sehari-harinya. Dengan demikian penyusunan instrumen perlu memperhatikan hal ini.

Misalnya dengan tidak memberikan aitem dalam bentuk angka karena individu yang mengalami diskalkulia akan sangat sulit merespon aitem tersebut sehingga potensi yang dimilikinya tidak dapat terukur dengan baik.

- Disleksia
Sebagaimana diskalkulia, disleksia juga kelainan yang dialami individu karena adanya masalah fisiologis pada otak. Disleksia adalah gangguan kesulitan membaca. Oleh karenanya, intrumen pengukuran psikologi apabila akan diberikan pada individu yang kemungkinan sebagian diantaranya mengalami disleksia maka harus memperhatikan bentuk dan jenis aitem.

Aitem yang dikembangkan dalam instrumen ini harus meminimalisir penggunaan huruf dan kata karena individu yang mengalami disleksia akan sulit merespon aitem tersebut. Aitem yang banyak menggunakan gambar dan angka mungkin lebih baik pada individu ini.

vii. Kebiasaan

Selain masalah-masalah di atas yang harus diperhatikan dalam penyusunan instrumen pengukuran psikologi masalah lain adalah masalah kebiasaan. Beberapa kebiasaan mungkin mempengaruhi penyusunan alat ukur psikologi. Misalnya kebiasaan membaca dari kanan atau dari kiri, dsb.

d. panjang alat ukur

Panjang alat ukur umumnya terkait dengan konsep jumlah aitem yang akan diberikan dalam sebuah instrumen pengukuran psikologi. Salah satu aspek yang perlu dipertimbangkan adalah tujuan dari penyusunan instrumen. Instrumen yang dibuat untuk keperluan riset maka sebaiknya diminimalisir kecuali riset tersebut memang memiliki tujuan untuk melihat efek dari panjang alat ukur.

Sebaliknya, instrumen yang dibuat untuk keperluan seleksi, misalnya, dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan jenis seleksi. Apakah kebutuhannya mengharuskan seleksi dalam waktu singkat, waktu lama, apakah untuk melihat ketahanan, dsb. walaupun secara umum alat ukur psikologi yang dibuat harus seefektif dan efisien mungkin.

Berikut beberapa pertimbangkan terkait dengan panjang alat ukur:

i. waktu dapat mencukupi

Pada banyak instrumen umumnya menyediakan waktu yang lebih banyak atau disesuikan dengan kebutuhan responden sehingga dapat merespon semua aitem yang diberikan.

Contoh: EPPS.

ii. waktu disediakan lebih sedikit

Pada instrumen ini waktu yang disediakan memang lebih sedikit karena faktor penggunaan waktu menjadi salah satu aspek penilaian.

Contoh: IST atau sebagian besar tes Intelegensi menggunakan model ini .

iii. kekuatan mencukupi/ normal

Jika pada bagian sebelumnya adalah masalah waktu, pada bagian ini hal yang ditekankan adalah masalah kekuatan psikis dalam merespon. Kekuatan psikis dapat mempertimbangkan aspek usia sehingga respon dapat disesuaikan.

Contoh: tes kompetensi moral

iv. daya tahan harus dipaksakan

Pada tes tertentu daya tahan harus dipaksakan dalam kondisi yang diciptakan sehingga responden akan memaksimalkan daya tahannya.

Contoh: Tes Pauli

e. Penilaian

Bagaimana responden akan dinilai merupakan hal lain yang perlu diperhatikan. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait dengan penilaian respon dari responden.

i. diperbolehkan salah atau tidak ada jawaban salah

Beberapa instrumen pengukuran psikologi menilai respon sesuai dengan karakter pribadi sehingga jawaban apapun akan dianggap benar selama sesuai dengan karakter pribadi orang itu. Namun pada kondisi tertentu, dapat dibuat aitem yang berfungsi untuk melihat konsistensi atau kejujuran responden terhadap aitem yang dibuat.

Semua jawaban dianggap benar bukan berarti tidak dapat mengungkap potensi yang dimiliki. Pada beberapa tes, misalnya tes kompetensi moral (MJT atau DIT) juga menunjukkan pada kemampuan potensial walaupun semua jawaban benar walaupun skor dari tiap jawaban berbeda.

ii. tidak diperbolehkan salah

Ini merupakan klasifikasi yang paling umum dalam instrumen pengukuran psikologi yang bersifat kognitif. Jawaban diklasifikasikan benar dan salah sehingga yang diberikan nilai hanya pada jawaban yang benar.

iii. Waktu

Berdasarkan kebutuhan instrumen maka dapat dilakukan penyesuaian waktu pengisian instumen sehingga penggunaan waktu dalam aspek ini dapat diberikan nilai berdasarkan kecepatan atau berdasarkan pemanfaatan waktu yang ada.

f. Aspek yang dinilai

Hasil akhir dari instrumen pengukuran psikologi adalah penilaian terhadap respon. Respon yang dinilai dapat diambil dari aspek berikut ini:

i. perilaku

Aitem dapat meminta responden untuk melakukan tindakan tertentu yang kemudian menjadi faktor yang dinilai. Perilaku tertentu akan dinilai tinggi sedangkan perilaku lain akan dinilai sebaliknya.

ii. Jawaban

Jawaban yang dinilai dapat berupa jawaban lisan atau jawaban dalam bentuk tulisan. Setiap jawaban mengandung aspek yang dapat dinilai berdasarkan konsep yang sudah direncanakan dari awal pembuatan instrumen.

iii. Tulisan

Tulisan yang dinilai dapat berupa garis atau gambar yang dihasilkan dari instrumen pengukuran psikologi.

Beberapa instrumen yang melakukan hal ini misalnya: Wartegg

iv. panjang cerita

Penilaian juga bisa dilakukan berdasarkan panjang cerita dengan asumsi bahwa cerita yang lebih panjang dapat menunjukkan penilaian yang berbeda.

v. kelengkapan cerita

Penilaian dalam aspek kelengkapan cerita bisa berupa cerita yang terpenggal atau cerita yang terlihat dalam gambar visual.

vi. bentuk interaksi

Bentuk penilaian lain yang dimungkinkan adalah bentuk interaksi apabila penilaian yang dimaksud terkait dengan aspek yang membutuhkan interaksi yang hanya bisa dipahami melalui observasi.

Sekian artikel tentang Perencanaan Alat Ukur Prestasi Dalam Psikologi Menurut Ahli.

Posting Komentar untuk "Perencanaan Alat Ukur Prestasi Dalam Psikologi Menurut Ahli"

Klik gambar berikut untuk mengunduh artikel ini:

Berlangganan via Email