Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Filsafat Teknologi dan Pemanfatan Media Komunikasi

Filsafat Teknologi dan Pemanfatan Media Komunikasi  - Artikel ini membahas tentang dinamika perkembangan teknologi media massa yang ada di Indonesia maupun dunia. Melalui artikel ini diharapkan mampu memahami dinamika perkembangan teknologi media massa yang ada di Indonesia maupun dunia.

Filsafat Teknologi dan Pemanfatan Media Komunikasi


Apabila komunikan dapat dilihat, komunikasi berlangsung secara tatap muka, apakah itu komunikasi antarpribadi atau komunikasi kelompok kecil, sedangkan jika komunikan jauh tempatnya atau banyak jurnlahnya atau jauh tempatnya dan banyak jumlahnya, komunikasi berlangsung bermedia, dengan media nirmassa atau media massa. Yang dimaksud media di sini adalah media sekunder atau media yang bersifat fisik atau terwujud.

Seperti telah disinggung, dalám proses komunikasi terdapat dua jenis media untuk menyampaikan pikiran sebagai isi pesan; media pertama (primary medium) adalah lambang. baik verbal maupun nirverbal, sedangkan media sekunder (secondary medium) adalab media yang berwujud yang sebagaimana disebutkan tadi, manakala komunikan jauh tempatnya dan/atau banyak jumlahnya. Sebagai contoh, jika komunikan jauh tempatnya, maka dipergunakanlah media seperti surat, telepon, telegram, dan lain-lain. kalau banyak jumlahnya dipakailah media dalam bentuk pengeras suara, papan pengumuman, dan sebagainya. Apabila komunikan jauh tempatnya dan juga banyak jumlahnya, maka digunakanlah media surat kabar, majalah, radio, televisi, dan lain sebagainya.

Filsafat Teknologi dan Pemanfatan Media Komunikasi_
image source: criticalmediareview.wordpress.com
baca juga: Pengertian Komunikasi Sebagai Interaksi Simbolik Menurut Ahli

Seirama dengan kemajuan teknologi dan perkembangan masyarakat media komunikasi semakin lama semakin modern dan semakin canggih. Dalam sejarah ilmu pengetahuan terjadi empat kali revolusi sebagai :

Revolusi Pertama


Revolusi ini membuka era bagi penelitian mendalam, mengenai gaya grafitasi dan penelitian tentang dinamika gerakan benda-benda. Era ini dirintis oleh Isac Newton yang dilanjutkan oleh Bernoulis, Euler, Lagrange dan Laplace.

Revolusi Kedua

Era ini lebih memusatkan pada sftat-sifat kelistrikan dan kemagnitan benda sebagai keseluruhan, dan juga rnengenai sifat-sifat radiasi, Revolusi kedua ini dipelopori oleh Faraday dan Maxwell.

RevoIusi Ketiga

Era ini dimulai pada awal abad ini dengan diketemukannya sifat kuanturn cahaya oleh Max Planc. Era ini membawa revolusi secara menyeluruh dalam pemikiran manusia tentang zat, juga tentang jagad raya. Kecenderungan era ini dibawakan oleh Einstein yang merumuskan teori relativitas, Rutherford mengenai atom, Bohr tentang kuantum, dan lain-lain.

Revolusi Keempat

Revolusi fisika keempat ini dimulai lahun 1938 dengan ditemukannya suatu tipe materi baru yang oleh Anderson disebut partikel. Dahulu atom diperkirakan merupakan benda terkecil yang tidak mungkin dipecah belah lagi. Dewasa ini anggapan tersebut dinyatakan tidak benar setelah panemuan Anderson . Menjelang akhir dekade lima puluhan tidak kurang dan 30 partikel baru ditemukan, yang pada dasarnya mengejutkan, karena membuat manusia bertanya apa yang mungkin dan apa yang tidak mungkin.

Empat revolusi ilmu pengetahuan, khususnya revolusi fisika itu, sangat berpengaruh terhadap kehidupan manusia, sehingga menyebabkan perubahan yang menakjubkan. Pengaruh tersebut sifatnya berbeda beda, tetapi yang jelas mempengaruhi empat bidang yaitu bidang intelektual, meninggalkan kebiasaan atau kepercayaan tradisional dan mengambil kebiasaan baru. bidang industri dan kemampuan di rnedan perang, organisasi sosial dan kehidupan politik serta tata lingkungan

Ambivalensi teknologi media komunikasi

Sebelum kita membahas tentang teknologi komunikasi, sebaiknya kita berbicara dahulu rnengenai teknologi itu sendiri. secara harafiah berasal dan bahasa Yunani “technologia” yang berarti perlakuan sistematis (systematic treatment) dan berasal dari istilah “techno” yang berarti teknik, seni, atau keterampilan, dan “logos” yang berarti “ilmu”. Jadi makna dan teknologi itu adalah ilmu tentang seni atau keterampilan.Jadi, pada dasarnya sangat berlebihan, jika kita membicarakan ilmu dan teknologi, karena perkataan teknologi itu sendiri telah mengandung ilmu di dalamnya.

Sains ini bersifat bebas nllai. objektif. dan netral. Teknologi sebaliknya sekali pun pada dasamya netral, dalam situasi tertentu dapat tidak netral lagi, karena mengandung potensi mnerusak dan potensi kekuasaan. Di sinilah letak perbedaan besar antara sains dan teknologi.

Sains dan teknologi saling membutuhkan, karena sains tanpa teknologi bagaikan pohon tak berbuah, sedangkan teknologi tanpa sains bagaikan pohon tidak berakar (science whithout techology has no fruit. technology whithout science has no root). Sejauh teknologi itu ditujukan untuk kesejahteraan umat manusia tidak menimbulkan masalah. Tidak terhitung jumlah produk teknologi yang menyebabkan manusia memperoleh kemudahan, kecepatan, dan kenyamanan.

Bandingkan kehidupan abad sekarang dan abad sebelumnya. Untuk pergi ke suatu tempat berapa lama waktu yang dibutuhkan dahulu? Yang dahulu dibutuhkan waktu berbulan-bulan, kini dengan pesawat lerbang hariya diperlukan hitungan hari, bahkan jam. Tetapi kenyataan menunjukkan bahwa teknologi tidak selalu untuk hal-hal yang positif, kadang-kadang, bahkan kadang dimaanfaatkan untuk hal-hal yang negatif.

Tadi dikatakan bahwa teknologi mengandung potensi merusak dan potensi kekuasaan. Oleh karena teknologi dikuasai penguasa maka potensi merusak bisa ditunjukkan segera dan tanpa ampun. Contoh penghancuran sebuah negara oleh born atom seperti yang dijatuhkan di Hirosima dan Nagasaki, Perusakan oleh teknologi adakalanya tidak secara fisik, tidak jarang untuk memenangkan kekuasaan politik atau kebudayaan atau ekonomi. Suasana itu terjadi, jika yang dikuasai adalah teknologi komunikasi.

Everett Rogers dalam buku nya “Communication Technology” terdiri dari ernpat era sebagai berikut:

Era komunikasi tulisan (the writing era of communication)
Era ini dimulai tahun 4000 sebelum Masehi pada waktu bangsa Sumeria menggunakan tablet dan tanah liat, bangsa Cina rnenemukan tulisan untuk percetakan buku dan bangsa Korea menemukan alat dan logam yang menggantikan huruf-hurut dan tanah.

Era percetakan (the printing era of communication)
Era ini dimulai dengan ditemukannya alat percetakan oleh Gutenberg pada tahun 1456 ketika untuk pertania kali mencetak Kitab irijil. Kernudian pada tahun 1833 dimulainya sirkulasi media massa “The New York Syn” sebagai “penny press newspaper”. Pada tahun 1839 dimulai fotografi dengan metode praktis dalam surat kabar.

Era telekomunikasi (telecommunication era)
Dalam era mi antara lain tercatat Samuel Morse yang pada tahun 1844 untuk pertama kali rnengirim pesan secara telegrafis; pada tahun 1876 Alexander Graham Bell untuk pertama kali mengirimkan pesan secara telefonis; pada tahun 1895 Guglielmo Marconi mengirimkan pesan melalui radio. Setahun sebelumnya film bioskop untuk pertama kali dipertunjukkan kepada umum, pada tahun 1920 dimulainya. radio siaran, sedangkan televisi didemonstrasikan mulai tahun 1933.

Komunikasi interaktif (Interactive Communication)
Komputer yang dinamakan “main frame computer”, “ENIAC” ditemukan di Universitas Pennsylvania pada tahun 1946, sedang transistor dan video pita masing-masing ditemukan pada tahun 1947 dan 1956. Pada tahun 1971 ditemukan mikroprosesor pada tahun 1976 sistem teleks dan tahun 1979 sistern videoteks yang kesemuanya merupakan produk teknologi elektronik menyempurnakan radio dan televisi yang telah ditemukan dekade-dekade sebelumnya.

Dengan teknologi di bidang komunikasi massa seperti satelit komunikasi dan antena parabola, maka globalisasi informasi dan komunikasi seperti sekarang semakin kuat dampaknya. Siapa yang menguasai teknologi yang canggih itu, maka dia akan menanamkan pengaruhnya di negara-negara lain.

Dalam hal itulah letak ambivalensinya media massa; apakah bermanfaat ataukah merugikan masyarakat suatu negara atau masyarakat dunia bergantung pada manusia itu sendiri; sebaliknya ketahanan nasional suatu bangsa untuk tidak dapat dipengaruhi oleh bangsa lain melalui media massa seperti dikatakan tadi juga bergantung pada manusianya.

Pemikiran Jacques Ellul mengenai teknologi media komunikasi

Filsuf Prancis, Jacques Ellul, adalah salah seorang di antara filsuf-. filsuf di dunia yang memikirkan masalah teknologi. Ellul dilahirkan di Bordeaux, Prancis, pada tahun 1912. Sebagai doktor dalam ilmu-ilmu social ia mengajar mula-mula di Universitas Strasburg dan pada tahun 1938 di Universitas Bordeaux. Ellul banyak terlibat dalam kegiatan politik. Selama Perang Dunia II ia memimpin gerakan pertahanan Prancis melawan rezim Vichy yang pro Nazi Jerman. Setelah Bordeaux dibebaskan, ia mendapat kedudukan politik yang terpandang.

Modul Makalah - Mengenai komunikasi dalam kaitannya dengan propaganda ia mengatakan bahwa sistem propaganda terdiri dan dua gabungan teknik. Yang pertama menyangkut sejumlah teknik niekanistis yang rumit (radio, pers, TV, film) dan yang memungkinkan komunikasi berlangsung dengan banyak orang bersama-sama Teknik kedua meliputi sejumlah teknik psikologis yang mampu menggali pengetahuan yang mendalam tentang psikhe manusia.

Ia menanggapi berbagai pendapat para pakar Amerika mengenai keperkasaan media massa, oleh Schramm dikupas ketika menjelaskan “teori peluru” oleh Berlo. waktu menerangkan “teori jarum hipodermik”, dan oleh Do Fleur – Ball - Rokeach tatkala mengkaji “teori stimulus response”. Ellul menegaskan bahwa tern peluru atau “the bullet theory” belum akan mati. Dia mengatakan bahwa propaganda jauh lebih efektif ketimbang analisis yang ditunjukkan oleh orang-orang Amerika. Ia secara khusus menolak evidensi dan eksperimen-eksperimen yang menyatakan bahwa propaganda adalah bagian dan keseluruhan lingkungan dan tidak bisa dipublikasi dalam tatanan laboratorium.

Ellul menegaskan bahwa propaganda sedemikian pervasifnya dalarn kehidupàn Amerika, sehingga kebanyakan khalayak tidak menyadarinya, tetapi tetap mengontrol nilai - nilainya. Nilai sentral tentunya “gaya hidup Amerika” (American way of life). Pemikiran ini tidak sama sekali berbeda dengan gagasan beberapa pakar komunikasi Amerika. Seperti diketahui, Paul Lazarsfeld dan Robert Merton telah membahas kecenderungan komunikasi massa memperteguh statusquo ekonomi dan sosial, dan teoritikus komunikasi Joseph Klapper menyatakan bahwa pada umumnya efek komunikasi massa adalah peneguhan sikap. Demikian pendapat Werner J. Sevenin dan James Tankard, Jr. dalam bukunya “Communication Theories : Origins, Methods, and Uses in the Mass Media” tentang Jacques Ellul pada bab “Analysis of Propaganda”.

Pendapat Ellul mengenai terobosan teknik kepada segala iklim social dan ekonomi dikomentari juga oleh Jean Meynaud menurutnya operasi teknik dapat didefinisikan sebagai ”setiap karya di mana suatu metoda tertentu dimanfaatkan untuk suatu hasil (any work in which a certain method is used to obtain a result). Apabila suatu keuntungan dan suatu metode kerja secara khusus, direalisasikan, hasilnya adalah “fenomena teknik” yang merupakan penyelidikan ekspansi teknik yang cepat dan universal: di situ tidak terdapat lagi aktivitas manusia yang melepaskan keharusan yang bersifat teknik.

Jadi, lepas dari teknik-teknik mekanis (mechanical techniques), di situ terdapat teknik-teknik ekonomi (economic technique) yang terwujud mulai dan program industrial sampai kepada perencanaan nasional; teknik organisasi (organization technique) yang meliputi, baik perusahaan pnibadi maupun pelayanan administrasi umun teknik kemanusiaan (human technique) yang mencakup obat-obatan, pendidikan dan periklanan; teknik karya intelektual (the technique of intellectual work); indeks kartu dan perpustakaan

Dalam kaitan ilmu, teknologi dan agama, Ellul mengatakan bahwa ilmu dan teknologi menghapus segala yang dianggap suci oleh manusia tanpa menyodorkan alternatif lain. Sebaliknya manusia telah menganggap teknologi sebagai sesuatu yang suci. Para penganut ajaran komunis telah menolak agama dan menggantikannya dengan ajaran komunis.

Dari paparan di atas, baik mengenai ambivalensi teknologi media komunikasi maupun pemikiran Jacques Ellul tentang teknologi, tampak bahwa media komunikasi terutama media massa ditentukan oleh manusia yang menguasai dan menanganinya, apakah bermanfaat atau merusak *the man behind the gun”. Dalam hal inilah pentingnya pemahaman etika komunikasi sebagaimana dijelaskan pada sub bab terdahulu buku mi. Dalam hubungan ini pemerintah dari suatu negara di mana media massa itu beroperasi tidak segan mengambil tindakan, manakala media massa bersangkutan merusak masyarakat, misalnya merusak moral, menimbulkan keonaran dan sebagianya.

MAZHAB FRANKFURT VERSUS MAZHAB CHICAGO

Pada tahun 1960-an di saat teknologi komunlkasi massa menunjukkan perkembangannya yang pesat timbul pertentangan pendapat mengenai peranan dan tentang efek komunikasi massa di antara para pakar yang tergabung dalam apa yang disebut Mazhab atau Aliran Frankfurt di Jerman di satu pihak dan Mazhab atau Aliran Chicago di Amerika Serikat di lain pihak.

Mazhab Frankfurt

Mazhab Frankfurt dengan tokoh-tokohnya antara lain Adorno, M. Horkheimer, W. Benjamin. P. Lazarsfeld, dan M. Marcuse dan Institut Frankfurt untuk Penelitian Sosial (Frankfurt Institut fur Sozialtorschung) menampilkan suatu teori yang dinamakan Teori Komunikasi Kritik; peneIitiannya dinamakan penelitian kritik (critical research).

Yang dijadikan objek studi adalah peranan media massa dalam kehidupan modern dengan filosofi kritik dalam bentuk lain terhadap teori kritik Karl Marx. Tetapi yang ditentangnya bukan saja determinisme ekonorni yang Marxistis, tetapi juga positivisme empirik dan penelitian komunikasi massa Amenika Serikat.

Pandangan ilmiah Teori Komunikasi Kritik bersifat normatif yang menentang kebebasan nilai dan penyempitan realitas sosial pada penelitian yang positivisme empirik. Ditegaskannya bahwa realitas sosial harus didekati dengan emansipasi manusia, diteliti dengan teori sosial yang luas, tidak secara terpilah-pilah di antara ilmu, politik, dan filsafat

Teori komunikasi Knitik muncul ketika terjadi aksi-aksi mahasiswa di Eropa Barat pada tahun 1960-an khususnya di Jerman pada tahun 1967 yang menuntut demokratisasi universitas. Aksi-aksi itu kemudian dilancarkan juga kepada media massa. karena para mahasiswa merasa kecewa akan pemberitaan yang disiarkan media massa terutama surat kabar dan majalah yang dianggapnya tidak memperdulikan ketertiban hukum, tidak rnengindahkan hakikat hasrat politik para mahasiswa.

Teori Komunikasi Kritik itu semakin semarak, setelah muncul Jurgen Haberrnas murid Horkheimer dan Adorno, terutama sejak tahun 1970-an pada waktu mana banyak buku mengenai pemikirannya diterjemahkan ke dalam bahasa lnggris dan bahasa lain. Habermas yang pada tahun 1965 menjadi profesor di Universitas Frankfurt tampak semakin memusatkan perhatiannya kepada perumusan teori komunikasi. Teori kritis dengan demikian menjadi teori praktek komunikatif.

Habermas dikenal sebagai filsuf masa kini yang kritis terhadap pemikiran-pemikiran Marxis, tidak hanya Marxise ortodoks, tetapi juga neo-Marxisrne pada umumnya. Dalam hubungan ini sebagai pengganti paradigma kerja, Habermas mengacu kepada paradigma komunikasi.

Implikasi dan paradigma baru ini adalah memahami praxis emansipatoris sebagai dialog-dialog komunikatif dan tindakan - tindakan komunikatif yang menghasilkan pencerahan. Hal ini bertolak belakang dengan teori-teori Marxis klasik yang menempuh jalan revolusioner untuk menjungkirbalikkan struktur masyarakat demi terciptanya masyarakat sosialis yang dicita-citakan. Habermas menempuh jalan konsensus dengan sasaran terciptanya “demokrasi radikal”, yaitu hubungan - hubungan sosial yang terjadi dalam lingkup komunikasi bebas kekuasaan. Dalam konteks komunikasi ini perjuangan kelas dalam pandangan kiasik, revolusi politik, diganti dengan perbincangan rasional di mana argumenargumen berperan sebagai unsur ernansipatoris.

Mazhab Chicago

Mazhab Chicago atau Aliran Chicago merupakan pandangan para pakar penelitian Amenika Serikat yang antara lain terdiri dan Robert Ezra Park. Paul F Lazarsfeld, Harold D. Lassweil, Bernard Berelson, Robert K.

Mazhab Chicago dengan positivisme enipirik menitikberatkan penelitiannya pada pemecahan masalah kriminal, prostitusi, dan masalah - masalah lainnya yang timbul akibat industrialisasi dan urbanisasi yang berlangsung sangat cepat di Amerika

Pada masa puncaknya kejayaan Mazhab Chicago, penelitian komunikasi banyak dilakukan dengan metode kuantitatif. antara lain sebagai akibat dan pendanaan yanj disediakan oleh sponsor. Sebagai konsekuensinya, penelitian yang semula merupakan kegiatan kreatit perorangan menjadi pekerjaan secara borongan. Dalam rangka memenuhi pesanan para penyedia dana, baik dan pemerintah, yayasan atau perusahaan, penelitian banyak dilakukan terhadap persuasi, propaganda, dan efek langsung dan media masa pada khalayak.



Penelitian komunikasi dengan penekanan pada efek langsung itu, merupakan pengaruh model linear dan Shannon dan Weaver (mathematical model of communication theory). Pendekatan penelitian adalah dengan memusatkan perhatian kepada individu sebagai sistem analisis, bukan sebagai bagian dan sistem sosial.

Aliran tersebut menyadäri bahwa media komunikasi memiliki keperkasaan dalam mempengaruhi masyarakal. Oleh karena itu media massa perlu melakukan penyempurnaan secara sinambung agar acaranya. pengolahannya, penyajiannya, dan penyebarannya, menjadi lebih efektif dan efisien. Untuk itulah diperlukannya pemahaman mengenai efek komunikasi.

Pada masa-masa selanjutnya, yakni akhir tahun 1960 dan tahun 1970-an minat para peneliti aliran empirisme beralih ke penelitian efek komunikasi tak Iangsung Aliran ini memperluas cakrawala pandangan tentang efek komunikasi di luar penataan agenda (agenda setting).

Perkembangan penelitian dengan pendekatan yang baru itu menunjukkari banyaknya penelitian yang dilakukan untuk memahami efek negatif dan media massa, misalnya efek yang timbul akibat menonton slaran televisi dalam bentuk perilaku kekerasan dan perilaku seksual di kalangan remaja.

Penelitian yang dikembangkan oleh Mazhab Chicago dijuluki peneIitian administratif (administrative research), yakni penelitian berdasarkan jasa, yang oleh karena disponsori maka masalah yang diteliti tidak ditentukan oleh si peneliti sendiri, rnelainkan oleh sponsor yang memesan; dapat dikatakan, penelti hanya sekadar pelaksana.

Jika kita bandingkan aliran empirik ini dengan Mazhab Frankfurt yang beraliran kritik, tampak bahwa apabila aliran empirik menekankan pada efek komunikasi pada khalayak dengan melakukan analisis (content analysis) dalam rangka menarik kesimpulan tentang etek komunikasi, maka aliran. kritik menitik beratkan pada pengawasan sistem komunikasi.

Jadi, kalau aliran kritik melakukan analisis isi, tujuannya adalah untuk mengambil kesimpulan tentang lembaga media massa yang ményebarkan pesan komunikasi, bukan unluk mengetahui efek koniunikasi pada khalayak .

Salah satu contoh yang terkenal tentang hal ituu adalah penelitian yang yang berjudul ‘Read Donald Duck”, yang rnenganalisis isi komik Donald Duck karya Walt Disney yang dirnuat oleb surat kabar Amerika Latin. Hasil penelitian itu menunjukkan bahwa isi komik tersebut berintikan tema-tema imperialisme Amerika Senikat yang ditujukan kepada negara-negara berkembang.

Kritik Mazhab Frankfurt terhadap Mazhab Chicago dan Komunikasi Massa Amerika

Kritik Mazhab Frankfurt terhadap Mazhab Chicago, antara lain menyatakan bahwa penelitian komunikasi massa yang positivistik empirik oleh Mazhab Chicago yang tidak menggunakan teori sosial secara umum tidak dapat mengkaji fenomena-tenomena komunikasi massa. Dalam hal penelitian mengenai keefektifan pesan iklan, misalnya, disebabkan pihak sponsor ingin mengetahui apakah dana yang dikeluarkannya bermanfaat atau tidak, maka di situ tidak dipertanyakan manfaat sosial dan iklan tersebut.

Bertolak dan teori sosial yang memandang emansipasi dan individu sebagai pusat perhatian, maka Mazhab Frankfurt berpandangan pesimis akan peranan media massa dalam kehidupan Barat yang modern. Menurut para pakar Mazhab Frankfurt, dalam kehidupan Barat yang modern, kehidupan telah menjadi kebudayaan massa (massculture) dan individu lebih - merupakan konsumen dan kebudayaan massa itu, ketimbang menjadi penikmat kebudayaan.

Sehubungan itu yang berperan pada permulaan abad 20 adalah film, disusul radio, kemudian televisi, termasuk video. Dalam perkembangan akibat dan kemajuan teknologi yang semakin canggih, ketiga jenis media massa itu saling bersaing untuk memikat perhatian dan minat khalayak.

Film berkembang dengan menghasilkan berbagai kemajuan yang mengandung nilai-nilai estetika film berwarna, Radio berkembang dengan menghasilkan kemajuan dan Amplitude Modulation (AM) menjadi Frequency Modulation (FM), high fidelity, dan sebagainya. Televisi berkembang dan televisi hitam putih menjadi televisi berwarna, lengkap dengan antena parabola yang didukung pula oleh satelit komunikasi.

Tampak bahwa dalam memproduksi kebudayaan masa itu, media massa dalam operasionalisasinya tidak lagi membuat individu yang menentukan apakah estetika itu, tetapi media massa yang menentukan bagi individu apa yang harus lermasuk kebudayaan. Situasi seperti itu diperkuat oleh terkonsentrasikannya media cetak, surat kabar dan majalah, yang semula bergiat sendiri-sendiri. Dalam hubungan ini pengaruh ekonomi tampak besar sekali.

Dengan penolakannya terhadap penelitian komunikasi yang positivistik empirik itu, Teori Komunikasi Kritik tidak hanya mernusatkan perhatiannya semata-mata kepada media rnassa sebagal ajang penelitian. Jadi Teorl Komunikasi Kritik adalah teori media massa kritik, dengan konteks sosial sebagai titik tolaknya guna mempelajari tungsi media massa. Dalam hal inilah jasa Teori komunikasi Kritik untuk Ilmu Komunikasi, yakni memperhitungkan faktor-faktor penting dalam masyarakat seperti politik, ekonorni, dan lain-lain, yang berbeda dengan formula Harold Lasswell, misalnya, yakni’•Who Says What In Which Channel To Whom and With What Effect, yang banyak rnempengaruhi penelitian komunikasi massa

Seperti telah diungkapkan di muka Jurgen Haberrnas dianggap sebagai filsuf cendekiawan penting dalam mengkonsepsikan Teori Komunikasi Kritik berkat analisisnya secara teoritis dan metodologis tentäng keterbukaan dalam fungsi media massa sebagai problema sentral. Keterbukaan tersebut menyangkut hubungan pihak penguasa dengan pihak warga negara yang menunjukkari sernakin berkembangnya dan berakarnya bentuk-bentuk komunikasi umum secara informal dan struktur sosial.

Dampak Teori Komunikasi Kritik terhadap perkembangan Ilmu Komunikasi ialah timbulnya kesadaran bahwa komunikasi massa dan media massa harus dipelajari dalam konteks sosial agar dapat diperoleh latar belakang historis-ekonomis-politik bagi fenomena komunikasi massa.

Dengan kesadaran itu banyak penelitian dilakukan secara integral dan secara interdisipliner mengenai fungsi media massa. Akhir-akhir ini banyak dilakukan penelitian mengenai pengaruh faktor ekonomi dan politik terhadap proses komunikasi massa, balk secara makro sosial ekonorni maupun dalam lingkup kecil seperti komunikasi kota dan desa. Tampak di situ perpaduan antara aspek teoritis dan Teori Komunikasi Kritik dengan penelitian yang positivistik empirik.

Lanigan urun rembug dalam hal ini, ia mengatakan bahwa Teori Komunikasi Kritik berfungsi sebagai filsafat militan (militant philosophy) dalam pertahanan komunikasi (defense of communication) sebagal aktivitas nnanusia yang merupakan orang selaku subjek datam masyarakat. Sebagai tambahan ia mengatakan bahwa Teori Knitik sebagai “pragmatika universal” (universal pragmatics) dilandasi fenomenologis komunikasi.

Sekian artikel Modul Makalah tentang Filsafat Teknologi dan Pemanfatan Media Komunikasi

Daftar Pustaka

  • Bertens, K, Etika, Gramedia, Jakarta, 2001
  • Effendy, Onong Uchyana, Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1993
  • Katsoff, Louis O, Pengantar Filsafat, Tiara Wacana, Yogyakarta, 1996
  • Mangunhardjana, Isme-Isme Dalam Etika dari A-Z, Kanisius, Yogyakarta, 1997
  • Suseno, Franz Magnis, Etika Dasar Masalah-Masalah Pokok Filsafat Moral, Kanisius, Yogyakarta, 1989
  • Soehoet, AM.Hoeta, Teori Komunikasi I, IISIP, Jakarta, 2002
  • Suriasumantri, Jujun S, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar populer, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 2001
  • Sutarno, Alfonsus. Etiket Kiat Serasi Berelasi. Yogyakarta: Kanisius. 2008
  • Titus, Harold H,Smith, Nolan (alih bahasa) Rasjidi, Persoalan – Persoalan Filsafat, Bulan Bintang, Jakarta, 1984

Posting Komentar untuk "Filsafat Teknologi dan Pemanfatan Media Komunikasi"