Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Membentuk Perilaku: Chaining, Training Keterampilan Perilaku

Membentuk Perilaku: Chaining, Training Keterampilan Perilaku - Dalam artikel ini akan didiskusikan tentang membentuk perilaku yang baru (chaining dan training keterampilan perilaku). Melalui artikel ini diharapkan mampu memahami dan menjelaskan tentang membentuk perilaku yang baru (chaining dan training keterampilan perilaku).

Membentuk perilaku yang baru

Chaining

Perilaku yang kompleks yang terdiri dari berbagai macam komponen perilaku yang terjadi secara bersamaan dalam urutan tertentu disebut behavioral chain (Rangkaian dari Perilaku).

Contoh:
Ketika kamu ingin memakan permen karet maka kamu akan melakukan serangkaian kegiatan, yaitu:
1.    Mengambil permen karet di dalam kantong
2.    Mengeluarkan permen karet dari kantong
3.    Mengambil 1 buah permen karet dari kantongannya.
4.    Membuka bungkus permen karet
5.    Memakan permen karet.

image source: www.betterparenting.com
baca juga: Membentuk Perilaku Baru: Shaping, Prompting, dan Stimulus

A.    Analisa Rangkaian Stimulus- Respons (Stimulus- Response Chains)
Setiap perilaku terdiri dari beberapa komponen S-R yang terjadi bersamaan berdasarkan urutannya. Sehingga behavioral chain (Rangkaian dari Perilaku) sering disebut sebagai Rangkaian Stimulus- Respons (Stimulus- Response Chains).
Contoh:
1.    SD1 (satu kantong permen karet di dalam kanton)--- R1 (Mengambil permen karet di dalam kantong).
2.       SD2 (tangan kamu di kantong)---- R2 (Mengeluarkan permen karet dari kantong)
3.       SD3 (sekantong permen di tangan kamu)--- R3 (Mengambil 1 buah permen karet dari kantongannya).
4.       SD4 (1 buah permen karet di tangan kamu)--- R4 (Membuka bungkus permen karet)
5.       SD5 (membuka bungkus permen karet)--- R5 (Memakan permen karet).

5 langkah rangkaian S-R bisa diilustrasikan seperti di bawah ini:


B.   Analisa Tugas (Task Analysis)
Proses menganalisa behavioral chain (Rangkaian dari Perilaku) dan memecah-mecahnya ke dalam komponen S-R disebut Task Analysis. Kalau tujuan untuk memodifikasi/ mengajarkan perilaku yang komplek yang melibatkan dua atau lebih komponen respon (rangkaian perilaku) dari seseorang, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengidentifikasikan komponen perilaku yang dibutuhkan untuk melakukan suatu pekerjaan dan tuliskan dalam bentuk urutan. Kedua, identifikasikan SD yang bisa diasosiasikan dengan tugas tersebut. Karena mengajarkan perilaku tertentu terkait dengan training diskriminasi  terhadap komponen S-R dari behavioral chain (Rangkaian dari Perilaku).  Kamu harus memiliki detail analisa tugas (task analysis) yang akan memberikan pemahaman akurat terhadap komponen S-R.

                Cara melakukan Analisa Tugas (Task Analysis):
1.    Mengobservasi orang yang kompeten dalam melakukan tugas tersebut
2.    Bertanya kepada orang yang ahli dalam melakukannya
3.    Mempraktekkan sendiri perilaku tersebut kemudian mencatat/merekam tiap komponen respon yang kamu lakukan.

Setelah kamu mengembangkan Analisa Tugas (Task Analysis), mungkin dibutuhkan revisi kedepannya. Hal ini dikarenakan pada aplikasinya dilapangan, jika klien mampu menguasai tugas/ perilaku tersebut dalam dua atau lebih komponen maka langkah yang sudah disusun dalam Analisa Tugas (Task Analysis) akan berkurang, jika klien kurang mampu menguasai tugas tersebut maka langkah dalam Analisa Tugas (Task Analysis) akan bertambah banyak. Untuk lebih memahaminya lihat 2 contoh di bawah ini:

5 langkah dalam Analisa Tugas (Task Analysis)
1.    SD1 (semangkuk makanan dengan sendok terletak di atas meja)--- R1 (mengambil sendok).
2.    SD2 (sendok di tangan)--- R2 (meletakkan sendok ke dalam mangkuk)
3.    SD3 (meletakkan sendok ke dalam mangkuk) --- R3 (menyendok makanan ke dalam sendok)
4.    SD4 (makanan dalam sendok)--- R4 (mengangkat sendok yang berisi makanan dari dalam mangkuk)
5.    SD5 (memegang sendok yang berisi makanan)--- R5 (memasukkan makanan ke dalam mulut)---- Reinforcer (memakan makanan)
3 Langkah dalam Analisa Tugas (Task Analysis)
1.    SD1 (semangkuk makanan dengan sendok terletak di atas meja)--- R1 (mengangkat sendok kemudian meletakkan di dalam mangkuk).
2.    SD2 (sendok di dalam mangkuk)--- R2 (menyendok makanan ke dalam sendok)
3.    SD3 (makanan di sendok)--- R3 (mengangkat sendok yang berisi makanan dan meletakkannya di mulut)--- Reinforcer (memakan makanan ).

Seperti yang bisa kamu lihat, perbedaan antara 5 langkah dan 3 langkah adalah lebih detailnya langkah yang ada di lima langkah pertama karena respon dipecah ke dalam langkah-langkah yang lebih kecil. Setiap langkah ditandai dengan stimulu (SD) dan respon, namun ukuran dan responnya berbeda.  Bagi sebagian klien 5 langkah lebih cocok, bagi sebagian yang lain 3 langkah yang cocok. Tidak ada yang benar ataupun salah semuanya tergantung dari kebutuhan di lapangan.
      Setelah melakukan Analisa Tugas (Task Analysis)maka langkah berikutnya adalah memilih strategi untuk mengajarkannya yang disebut sebagai prosedur rangkaian (chaining procedures). Prosedur rangkaian (chaining procedures) melibatkan aplikasi sistematis dari prosedur prompting dan fading komponen behavioral chain (Rangkaian dari Perilaku). Ada 7 prosedur dalam behavioral chain (Rangkaian dari Perilaku), yaitu:

1.    Forward chaining
Prosedur ini mengajarkan merangkaikan komponen perilaku secara bertahap (satu demi satu) dengan menggunakan prompting dan fading. Forward chaining ini dimulai dari langkah awal yang dirancang dalam Analisa Tugas (Task Analysis).

Langkah I:
SD1 + Prompt              R1       Reinforcer

Untuk melakukan forward chaining, kamu menghadirkan SD1, kemudian prompt klien dengan perilaku yang seharusnya dilakukan (misalnya dengan menggunakan physical prompt mengangkat sendok kemudian meletakkan di dalam mangkuk). Setelah klien mampu melakukannya maka  berangsur-angsur pemberian promptdikurangi dan dihentikan (fading) dan diberikan reinforcer.

Langkah II:
SD1                              R1
SD2 + prompt      R2                   Reinforcement        

Karena respon pertama menjadi stimulus  kedua (SD2) artinya klien sudah mampu untuk mengangkat sendok dan meletakkannya ke dalam mangkuk. Untuk langkah berikutnya berikan prompt  kepada klien untuk menyendok makanan dan meletakkannya ke dalam sendok(R2). Setelah klien mampu melakukannya maka  berangsur-angsur pemberian prompt dikurangi dan dihentikan (fading) dan diberikan reinforcer.

Langkah III:
SD1                              R1
SD2                             R2                   
SD3 (makanan di sendok) + prompt       R3               Reinforcer

Karena respon kedua menjadi stimulus  ketiga (SD3) artinya klien sudah mampu mengangkat sendok dan meletakkan makanan ke dalam sendok. Untuk langkah berikutnya berikan prompt kepada untuk mengangkat sendok yang berisi makanan dan meletakkannya di mulut (R3). Setelah klien mampu melakukannya maka  berangsur-angsur pemberian prompt dikurangi dan dihentikan (fading)dan diberikan reinforcer.

2.    Backward chaining
Prosedur training perilaku yang intensif biasa digunakan oleh individu dengan kemampuan intelektual yang terbatas. Dengan backward chaining, kamu menggunakan promptingdan chaininguntuk mengajarkan perilaku terakhir yang harus bisa dilakukan oleh orang tersebut. Backward chaining adalah kebalikan dari forward chaining.Dengan menggunakan contoh 3 langkah   Analisa Tugas (Task Analysis) untuk perilaku makan sendiri, maka prosedurnya dibalik, sebagai berikut:
Langkah I:
SD3 + prompt                 R3 Reinforcer

Dilakukan physical prompt untuk mengangkat sendok yang berisi makanan dan meletakkannya di mulut. Setelah klien mampu melakukannya maka  berangsur-angsur pemberian promptdikurangi dan dihentikan (fading) dan diberikan reinforcer
           
            Langkah II
SD2  + prompt       R2              Reinforcer
SD3       R3                    Reinforcer

Karena respon ketiga menjadi stimulus  kedua (SD2) artinya klien sudah mampu mengangkat sendok dan meletakkan makanan ke dalam mulut. Maka langkah berikutnya adalah mengajarkan cara menyendok makanan ke dalam sendok dengan menggunkan physical prompt (R2). Setelah klien mampu melakukannya maka  klien akan mendapatkan reinforcement. Setelah klien mampu menyendokkan makanannya dan secara otomatis ia akan mengangkat sendok dan memasukkan makanan ke dalam mulutnya setelah itu ia akan mendapatkan reinforce.  Kalau klien sudah menguasai dua tugas sekaligus maka  berangsur-angsur pemberian promptdikurangi dan dihentikan (fading).

Langkah III:
SD1 + prompt                R1                     Reinforcer
SD2         R2                Reinforcer
SD3                     R3               Reinforcer


Karena respon kedua menjadi stimulus  kedua (SD1) artinya klien sudah mampu menyendokkan makanan dan mengangkat sendok dan meletakkan makanan ke dalam mulut. Langkah berikutnya, dengan menggunakan physical prompt mengangkat sendok kemudian meletakkan di dalam mangkuk (R1). Setelah klien mampu melakukannya maka  klien akan mendapatkan reinforcement. Setelah klien mampu mengangkat sendok, kemudian menyendokkan makanannya dan secara otomatis ia akan mengangkat sendok dan memasukkan makanan ke dalam mulutnya setelah itu ia akan mendapatkan reinforce.  Kalau klien sudah menguasai dua tugas sekaligus maka  berangsur-angsur pemberian promptdikurangi dan dihentikan (fading).

Persamaan antara Forward Chaining dan Backward Chaining
·         Keduanya berusaha mengajarkan cara melakukan chaining (merantaikan komponen perilaku)
·         Untuk melakukan prosedur tersebut, maka kamu harus melakukan analisa tugas (task analysis) dan memecahnya kedalam komponen-komponen stimulus-response yang lebih detail.
·         Masing-masing prosedur mengajarkan satu komponen perilaku dalam satu waktu.
·         Kedua prosedur menggunakan teknik prompting dan fading.

Perbedaan antara Forward Chaining dan Backward Chaining
·         Forward chaining mengajarkan langkah I dari komponen perilaku terlebih dahulu dan backward chaining mengajarkan langkah III dari komponen perilaku terlebih dahulu.
·         Forward chaining, klien tidak bisa langsung mencapai langkah III dari komponen perilaku pada setiap proses percobaan dalam belajar (learning trial), maka reinforcer buatan digunakan sampai langkah III komponen perilaku yang terakhir diajarkan. Backward chaining, klien selalu mampu melakukan secara komplit akhir dari perilaku yang diharapkan dan mendapatkan reinforcer secara natural dalam setiap langkah.

3.    Total task presentation
Total task presentation adalah merangkaikan komponen perilaku secara keseluruhan/ sekaligus. Dengan menggunakan teknik prompt untuk membuat klien terlibat dengan rangkaian pembentukan perilaku, sekalinya klien mampu menguasai perilaku tersebut maka diberikan reinforcement dan pemberian prompt berkurang dan berkurang atau yang lebih dikenal dengan graduated guidance. Selama fase tersebut terapis/ konselor menyediakan “tangan bayangan” ketika klien berusaha menyelesaikan tugasnya. “Tangan bayangan” adalah tangan terapis yang selalu siaga di dekat klien dan siap membantu klien ketika gagal melakukan salah satu komponen dari perilaku dari rangkaian perilaku yang harus ia penuhi.
Contoh: ketika klien A belajar makan, maka terapis mengajarkan 3 komponen task analysis dalam satu waktu (dari awal- akhir). Pemberian reinforcement dalam setiap percobaan dan usaha yang dilaku oleh klien A adalah makanan yang dimakannya (natural reinforce). Setelah berapa kali percobaan, biasanya klien akan mulai belajar dan membuat gerakan. Ketika kamu sebagai terapis mulai merasakan ia akan mulai melakukannya sendiri, maka secara perlahan kamu melepaskan tangannya. Jika ia benar melakukan komponen perilakunya, maka kamu cukup menjadi “Tangan bayangan”, jika ia gagal maka kamu akan memberikan bimbingan langsung secara fisik (dengan memegangi tangannya). Untuk menggunakan graduated guidance secara tepat maka kamu harus mengikuti gerakan klien A secara hati-hati dan memberikan lebih atau mengurangi bantuan jika dibutuhkan.  Kalau terlalu lama memberikan bantuan dan tidak melakukan fadingmaka klien A bisa menjadi tergantung pada terapis.


Kapan harus menggunakan Total task presentation
1.    Ketika tugas tidak terlalu panjang dan kompleks. Jika tugas terlalu panjang dan kompleks , maka forward chaining dan backward chaininglebih baik karena pada prosedur ini hanya berfokus pada hal simple dalam satu waktu/ bertahap.
2.    Kemampuan dari klien harus diperhatikan.  forward chaining dan backward chaining akan lebih baik bagi klien dengan kemampuan intelektual yang terbatas.
3.    Kemampuan tenaga pengajar juga harus diperhatikan. Untuk Total task presentation yang sering melibatkan graduated guidance, dimana guru harus tahu kapan waktu yang tepat untuk memberikan bantuan (guidance) atau bayangan  (shadowing) saja. Kalau kurang tepat, maka klien akan belajar perilaku namun tidak belajar untuk menjadi independent.

Persamaan antara forward chaining, backward chaining dan Total task presentation
1.    Berguna untuk melakukan tugas yang kompleks atau rangkaian perilaku
2.    Task Analysisharus dilakukan sebelum perlakuan dilakukan
3.    Prosedur promptingdan  fading selalu dilakukan.

Perbedaan antara forward chaining, backward chaining dan Total task presentation
1.    Di dalam Total task presentation, klien mendapatkan prompt dari awal sampai akhir. Dalam prosedur forward chaining dan backward chaining,  trainer mengajarkan satu komponen perilaku dalam satu waktu dan kemudian merangkai komponen perilaku.

4.    Written task analysis: menggunakan deskripsi/ tulisan dalam setiap langkah Task Analysis sebagai Prompt.
5.    Picture prompts: menggunakan gambar dalam setiap langkah Task Analysis sebagai Prompt
6.    Video modeling: menggunakan video dalam setiap langkah Task Analysis sebagai Prompt
7.    Self instruction: memberikan instruksi verbal kepada diri sendiri dalam setiap komponen perilaku yang akan dirangkaikan. Contoh: setiap kali berusaha untuk memencet no telpon, maka kita akan selalu mengulangi nomor yang berusaha kita tuju.
Bagaimana menggunakan prosedur Chaining:
1.    Menentukan apakah chaining behavior adalah prosedur yang tepat untuk memodifikasi perilaku seseorang. Jika seseorang tidak mampu menyelesaikan tugas karena ia tidak mampu maka chainingadalah prosedur yang tepat.
2.    Mengembangkan analisa tugas (task analysis).
3.    Lakukan pemetan awal tentang kemampuan dari klien.
4.    Pilih metode merangkaikan (chaining) perilaku yang akan kamu gunakan.
5.    Implementasi prosedur merangkaikan (chaining).
6.    Memberikan reinforcement setelah klien mampu menguasai perilaku yang baru saja dipelajari.

Training Keterampilan Perilaku (Behavioral Skills Training- BST)

Training Keterampilan Perilaku (Behavioral Skills Training- BST) terdiri dari 4 komponen: modeling, instruksi, rehearsal(latihan), dan feedback (masukan). Training ini sudah banyak digunakan untuk membantu mengajarkan keterampilan tertentu pada anak dan orang dewasa. Langkah-langkah dalam Training Keterampilan Perilaku (Behavioral Skills Training- BST) adalah:
1.     Trainer memberikan modeling langsung (live) atau tidak (contoh: melalui video) sehingga orang yang sedang belajar tersebut bisa melihat dna menirunya.
2.     Trainer memberikan instruksi atau arahan kepada orang yang sedang belajar tentang hal-hal apa saja yang harus dilakukan dan dikuasai.
3.     Kesempatan untuk mempraktikkan kembali apa yang sudah dilihat dan dilakukan simulasi yang hampir sama dengan kondisi dalam kehidupan nyatanya.
4.     Setelah melakukan latihan maka trainer memberikan masukan kepada orang yang sedang belajar, hal-hal apa saja yang masih perlu diperbaiki dan ditingkatkan dalam mempelajari keterampilan/perilaku bar.

Hasil riset menunjukkan bahwa anak yang menerima modeling, instruksi, rehearsaldan feedback tentang keterampilan menghindari penculikan pada anak lebih baik dalam menguasai keterampilan dibandingkan dengan anak yang hanya mendapatkan instruksi dan modeling melalu video rekaman tanpa ada kesempatan untuk rehearsaldan feedback.




Modeling
Ada beberapa hal yang mempengaruhi efektivitas dari modeling, yaitu:
1.     Model yang menjadi panutan harus memiliki status yang tinggi, contoh: status guru yang lebih tinggi akan lebih mungkin untuk ditiru oleh anak. Contoh lainnya adalah ketika iklan di tv menggunakan para selebritis (yang memiliki status yang lebih tinggi) diiklankan sedang menggunakan produk, maka kemungkinan besar orang akan melakukan hal yang sama.
2.     Tingkat kompleksitas peirlaku dari model harus disesuaikan dnegan kemampuan dari orang yang sedang belajar.
3.     Orang yang sedang belajar harus memfokuskan perhatiannya.
4.     Perilaku model harus terjadi dalam konteks yang tepat (dengan kehadiran stimulus), yang hampir sama seperti aslinya. Sebagai contoh: pada contoh ketika anak melihat cara guru memberikan contoh  menghindarkan diri dari penculikan pada situasi yang hampir sama dengan yang aslinya.
5.     Perilaku harus sering diulang sehingga orang yang sedang belajar tersebut dapat mengimitasinya secara tepat.
6.     Pemberian contoh harus dilakukan dengan cara yang beragam dan situasi yang beragam pula sehingga terjadi generalisasi pada perilaku.
7.     Orang yang sedang belajar harus memiliki kesempatan untuk mempraktekkan apa yang sudah dipelajarinya.

Instruksi
Beberapa faktor yang mempengaruhi efektifitas dari pemberian instruksi:
1.     Instruksi yang diberikan harus bisa difahami oleh orang yang sedang belajar.
2.     Instruksi harus disampaikan oleh orang yang memiliki kredibilitas (seperti: orangtua, guru, psikolog, atasan).
3.     Harus memiliki kesempatan untuk mempraktekkan perilaku yang sudah dipelajari.
4.     Diberikan ketika orang yang belajar sedang focus
5.     Orang yang sedang belajar harus mengulangi instruksi yang sudah diajarkan, sehingga instruktur/terapis/psikolog tahu kalau instruksi yang didengarnya sudah tepat.

Rehearsal
Beberapa factor yang mempengaruhi efektifitas dari rehearsal:
1.     Latihan dilakukan pada konteks yang pas/tepat atau bisa juga mensimulasikan perilaku dalam kondisi yang hampir menyerupai.
2.     Rehearsal di program untuk membuat seseorang itu sukses, sehingga dalam praktiknya harus dimulai dari perilaku yang gampang---kompleks.
3.     Rehearsal harus diikuti oleh reinforcement.
4.     Rehearsal yang dilakukan bisa jadi benar ataupun salah, namun demikian hasilnya harus tetap mendapatkan feedback.
5.     Rehearsal harus dilakukan sampai perilaku yang tepat dihasilkan dalam selama beberapa kali.

Feedback
Beberapa factor yang mempengaruhi efektifitas dari feedback:
1.     Feedback harus diberikan setelah perilaku muncul
2.     Feedback harus mencakup pujian dan yang bisa memperkuat perilaku yang sudah tepat tersebut muncul. Kalaupun salah, maka trainer harus memuji usaha yang sudah dilakukan orang yang sedang belajar tersebut.
3.     Feedback harus bersifat deskriptif, focus pada hal-hal yang bersifat verbal ataupun non-verbal.
4.     Ketika memberikan Feedbackmaka tidak boleh dalam bentuk yang negative
5.     Hargailah usaha yang sudah dilakukan baru memberikan Feedback untuk membenarkan perilaku yang salah.
6.     Focus pada satu hal yang ingin diperbaik dalam satu waktu, sehingga orang yang sedang belajar tersebut tidak demotivasi.

Asesment In Situ  adalah: assessment terhadap keterampilan yang sudah dipelajari dalam situasi yang natural, dimana individu yang sedang di assessment tidak mengetahui kalau ia sedang dievaluasi. Hal ini didasarkan pada ketika seseorang sedang belajar TL yang baru maka ia akan melakukannya ketika terapis ada dihadapan atau disekitar mereka, namun hal tersebut gagal dilakukan/di generalisasikan ketika trainer/terapis tidak ada. Seingga kehadiran terapis adalah sebagai stimulus control.

In Situ Training adalah usaha untuk membuat keterampilan yang dipelajari untuk digeneralisasikan, dan memberikan reinforcement dalam lingkungan yang normal meskipun trainer/terapis tidak hadir.  Adapun langkah-langkah dalam In Situ Training adalah:
1.     Trainer melakukan assessment dalam situasi yang natural tanpa diketahui oleh orang yang sudah belajar keterampilan tersebut.
2.     Jika orang yang sedang belajar tersebut tidak mempraktekkan apa yang sudah dipelajarinya, maka secara langsung trainer akan datang ke lokasi tersebut dan menunjukkan cara yang benar. Sehingga situasi yang tadinya assessment berubah menjadi situasi training.
3.     Kemudian trainer meminta orang tersebut untuk mempraktekkan keterampilan tersebut dalam situasi assessment yang natural sehingga ketika berhadapan dengan hal yang sama kedepannya, ia bisa mempraktekkannya secara langsung.

Penggunaan Training Keterampilan Perilaku (Behavioral Skills Training- BST) yang tepat adalah ketika orang yang sedang belajar tersebut mendapatkan manfaat dari program tersebut dan tidak membutuhkan prosedur training/modifikasi perilaku yang intensif seperti: prosedur chaining. Training Keterampilan Perilaku (Behavioral Skills Training- BST) juga bisa dilakukan dalam kelompok kecil dimana masing-masing anggota kelompok harus mengikuti keempat langkah yang sudah disebutkan di atas, dan tambahan feedback (masukan) tidak hanya berasal dari trainer tapi juga dari anggota kelompok.
            Training Keterampilan Perilaku (Behavioral Skills Training- BST) melibatkan three-term contingency untuk keterampilan yang akan dipelajari. Modeling dan instruksi adalah antecedents untuk mendapatkan perilaku yang diinginkan, perilaku yang tepat terjadi pada waktu latihan (rehearsal), dan feedback diberikan sebagai bentuk reinforcement sebagai bagian dari konsekuensi pada saat latihan. Feedback (latihan) melibatkan instruksi yang berfungsi sebagai prompt untuk terjadinya perilaku yang diinginkan pada latihan berikutnya.

Sekian artikel tentang Membentuk Perilaku: Chaining, Training Keterampilan Perilaku.

Daftar Pustaka
  • Miltenberger, G.R. (2012). Behavior modification: principles and procedures. 5th edition. USA: Wadsworth Cengage Learning. 
  • Martin, G. (2007). Behavior Modification 8th edition: what it is and how to do it. USA: Pearson Prentice Hall
  • Sarafino. P. E. (2012). Applied behavior analysis , principles and procedures for modifying behavior. USA: John Wiley & Sons, inc.

Posting Komentar untuk "Membentuk Perilaku: Chaining, Training Keterampilan Perilaku"

Klik gambar berikut untuk mengunduh artikel ini:

Berlangganan via Email