Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pengertian Komunikasi Sebagai ilmu, Manfaat dan Kaitannya

Pengertian Komunikasi Sebagai ilmu, Manfaat dan Kaitannya - Artikel ini akan membahas tentang apakah komunikasi sebuah ilmu, manfaat dan kaitannya dalam kehidupan sehari-hari. Melalui artikel ini diharapkan mampu menerangkan konsep komunikasi sebagai ilmu, manfaat dan kaitannya dalam kehidupan sehari-hari.

KOMUNIKASI SEBAGAI ILMU

Apakah ilmu komunikasi benar-benar adalah suatu ilmu? Pertanyaan ini penting sekali karena kalau ternyata bahwa ilmu komunikasi tidak memenuhi syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh suatu ilmu, maka ilmu komunikasi tidak layak disebut sebagai suatu ilmu, dan karena itu tidak boleh diadakan fakultas ilmu komunikasi. Satu fakultas mengkaji satu ilmu. Dengan demikian maka tidak boleh seseorang mendapat gelar ilmiah sarjana ilmu komunikasi.

Namun sebaliknya, kalau dapat kita buktikan, bahwa ilmu komunikasi benar-benar adalah suatu ilmu maka keberadaan fakultas ilmu komunikasi memenuhi persyaratan ilmiah dan lulusannya berhak menggunakan gelar ilmiah sarjana ilmu komunikasi.

Seorang sarjana hendaklah dapat menjelaskan bahwa kesarjanaannya itu benar-benar meiputi pengkajian suatu ilmu. Seorang sarjana hukum dapat rnenjelaskan bahwa ilmu hukum benar-benar adalah suatu ilmu. Kalau ia tidak dapat menjelaskannya, maka hakekatnya ia tidak berhak memakai gelar ilmiah sarjana hukum. Demikian juga mahasiswa fakultas ilmu komunikasi, kalau sudah lulus harus dapat memberi jawaban: “Benar ilmu komunikasi adalah suatu ilmu, karena ilmu komunikasi memenuhi syarat-syarat suatu ilmu”.

Untuk itu pada uraian berikut ini akan dijelaskan bahwa ilmu komunikasi benar merupakan suatu ilmu. Penilikan awal perlu diketahui syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh suatu ilmu.

Pengertian Komunikasi Sebagai ilmu, Manfaat dan Kaitannya_
image source: www.ask.com
baca juga: Memahami Pentingnya Belajar Filsafat Menurut Para Ahli

A. LAHIRNYA ILMU PENGETAHUAN

Pada awalnya, manusia yang ada di bumi ini belum berilmu. Manusia memandang alam ini sebagai satu tampaknya, satu kesatuan, barang yang ajaib. Manusia memandang alam ini dengan rasa takut dan hormat. Keheranannya akan kebesaran alam menimbulkan fantasi, tahayul dan cerita­cerita ganjil yang lambat laut menjadi pusaka hidup manusia. Fantasi dan angan-angan menimbulkan harang yang bagus yang tidak ada dalam dunia yang lahir. Dari fantasi ini timbul keinginan akan kebenaran. Manusia ingin mengctahui apa yang dilihatnya dan apa yang dialaminya. Timbullah keinginan untuk mcngetahui rahasia alam. Berpikirlah ia tentang asal alam ini dan bagaimana kemajuannya. Di sebelah alam besar ini timbul pula dalam pikiran manusia soal alam kecil. Manusia bertanya pada dirinya, apa wujud hidupku, apa yang hams kuperbuat, dan apa kewajibanku dalam dunia ini.

Jadi, dari semula pikiran manusia dihadapi oleh dua soal yaitu alam luaran atau kosmos dan soal sikap hidup atau etik. Dari pokok yang dua ini timbul berangsur-angsur berbagai cabang pengetahuan ilmu. Di dalam masa belum berilmu ini, sudah terdapat susunan pengertian. Benda-benda yang dilihat atau masalah yang dialami, kita beri nama dan kita bagi dalam beberapa golongan menurut keperluan hidup kita. Pemberian nama dan penggolongan ini tujuannya untuk mengenal tanda satu-satunya untuk membedakan yang satu dengan yang lain. Makin banyak manusia berpikir tentang alam dan penghidupan, makin banyak masalah yang dilihatnya. Alam yang merupakan satu kesatuan ini tidak mudah memahaminya. Sebab itu manusia di dalam pikirannya memecah-mecahnya. Ilmu memecah alam yang satu itu supaya dapat diterangkannya kedudukan satu-satu masalah itu.

Tiap-tiap ilmu hanya menyelidiki (meneliti ) satu golongan masalah saja yang sama sifatnya. Satu atau segolongan masalah yang diteliti disebut objek ilmu tersebut. Jadi kita katakan, bahwa alam itu satu kesatuan. Untuk mempelajarinya manusia di dalam pikirannya memecah-mecahnya. Janganlah lupa, bahwa pecahan-pecahan ini saling pengaruh mempengaruhi, tetapi waktu kita meneliti satu pecahan (masalah) kita mengumpamakan bahwa pecahan-­pecahan (masalah-masalah) lain tidak berpengaruh pada pecahan masalah yang sedang diteliti. Pecahan (masalah) lain itu adalah objek ilmu yang lain. Ilmu senantiasa memandang alam ini dari satu pihak, dari satu jurusan. Kalau kita hendak mengetahui alam dengan jalan ilmu kita harus membawa ukuran, membawa perkakas bekerja dengan mengambil peninjauan yang tertentu. Ukuran ini disebut metode ilmu.

Metode ilmu adalah tidak lain dari pada satu skema, satu rancangan bekerja untuk menyusun masalah yang satu macam itu menjadi satu sistem pengetahuan. Di atas tertulis antara lain : “masalah yang satu macam” itu yang disebut dengan objek ilmu yaitu satu atau segolongan masalah yang sama sifatnya. Apa yang tersusun dalam sistem pengetahuan itu menurut perhubungan sebab dan akibatnya adalah soal-soal yang serupa sifatnya. Kalau tidak serupa sifatnya sudah tentu tidak ada perhubungan sebab akibat. Sebab itu ilmu disebut juga sebagai suatu disiplin, yaitu suatu golongan pengetahuan yang berikatan.

Dan keterangan-keterangan di atas dapatlah kita susun definisi mengenai tiap-tiap ilmu, sebagai berikut : Suatu pengetahuan yang teratur mengenai pekerjaan hukum kausal dalam satu golongan masalah yang sama tabiatnya maupun menurut kedudukannya tampak dan luar maupun menurut bangunnya dari dalam (Hatta, 1987: 17). Definisi “ ilmu “ini adalah definisi ilmu pada umumnya.

Definisi tersebut dapat kita uraikan sebagai berikut:
  1. Tiap-tiap ilmu adalah pengetahuan yang teratur.
  2. Pengetahuan yang teratur itu mengenai pekerjaan hukum kausal.
  3. Pekerjaan hukum kausal itu tenjadi di dalam satu golongan masalah yang sama tabiatnya.
  4. Tabiat yang sama ini adalah tabiat (sifat) dan objek ilmu baik dilihat dari dalam maupun dan luar.
Dan keterangan-keterangan di atas dapatlah kita tetapkan syarat-syarat ilmu sebagai berikut: Satu ilmu harus mempunyai objek kajian. Objek kajian ini harus terdin dan satu golongan masalah, bukan dari dua atau lebih golongan masalah. Satu golongan masalah ini harus sama tabiatnya baik dilihat dari dalam maupun dani luar. Keterangan mengenai objek ilmu ini hams dapat disusun dalam hubungan kausal, hubungan sebab akibat. Dengan demikian, ilmu apa pun juga, ia harus memenuhi syarat-syarat ilmu, barulah dapat disebut ilmu.

B. MANUSIA MENCARI KEBAHAGIAN

Sebagai mahluk hidup, manusia tidak terlepas dan serangkaian nilai-nilai yang terkait dengan hubungannya dengan alam sekitar. Di sisi lain, karena pada hakekatnya satu manusia tidaklah sama dengan manusia lainnya, maka bagi seseorang terdapat pula landasan yang menjadi ukuran baginya dalam huhungannya dengan alam sekitar. Manusia secara individual memiliki filsafat hidup. Filsafat hidup manusia adalah kesatuan nilai-nilai yang menurut manusia pemiliknya mempunyai derajat yang paling agung dan kalau diwujudkan ia yakin akan memperoleh kebahagiaan.

Fungsi Filsafat Hidup bagi seseorang adalah sebagai pedoman hidup untuk memperoleh kebahagiaan di semua bidang kehidupan, seperti keluarga, pcncarian nafkah, kemasyarakatan, karena pada hakekatnya semua manusia yang hidup senantiasa berusaha untuk memperoleh kebahagiaan. Dalam kaitan ini maka terdapat tiga sumber kebahagiaan yaitu:
  • Tuhan
  • Manusia
  • Ciptaan Tuhan lainnya, seperti binatang, tumbuh-tumbuhan.

Naluri kebahagiaan yang terdapat dalam dirinya mendorong manusia mencari dan menikmati kebahagiaan dari tiga sumber kebahagiaan. Hati nurani, akal, budi, dan naluri-naluri yang ada pada din manusia menyusun konsepsi kebahagiaannya dari sumber kebahagiaan (SK). Jadi, ada tiga konsepsi kebahagiaan, yaitu konsepsi kebahagiaan mengenai hubungannya dengan sumber kebahagiaan Tuhan, konsepsi kebahagiaan yang bersumber dari manusia, konsepsi kebahagiaan yang bersumber dari sumber ciptaan Tuhan lainnya. Untuk memperoleh kebahagiaan dan manusia, konsepsi kebahagiaan dan sumber kebahagiaan manusia harus diwujudkan pada manusia tersebut dengan menyampaikan isi pemyataan (IP) kepadanya.

Telah dikemukakan sebelumnya sejak manusia ada di dunia, manusia berusaha mencari dan menikmati kebahagiaan. Pengalaman orang tua dalam mencari kebahagiaan dikomunikasikan kepada anak turun temurun, generasi demi generasi supaya keturunannya lebih mudah memperoleh kebahagiaan. Pengalaman generasi yang lalu digabung dengan pengalaman generasi kini akan menjadi pengetahuan generasi kini.

Di daIam usahanya mencari kebahagiaan, manusia menemukan banyak hambatan, banyak masalah. Karena itu, akal budinya berusaha mencari jawaban dengan menggunakan pengetahuan yang ada. Kalau ia berhasil menyusun pengetahuan ini dalam hubungan rangkaian sebab akibat dalam menjawab satu golongan masalah, lahirlah suatu ilmu. Semua ilmu lahir di dalam diri manusia sebagai hasil penggunaan akal budinya dalam usahanya menjawab berbagai masalah yang dihadapinya untuk memperoleh kebahagiaan. Karena itu semua ilmu mempunyai hubungan satu sama lain. Pemahaman satu ilmu terpisah dari ilmu-ilmu lain menimbulkan kejanggalan. Ilmu adalah alat manusia untuk mencari dan menikmati kebahagiaan. Pemahaman ilmu dalam hubungan dengan ilmu-ilmu lain secara keseluruhan akan memudahkan manusia memperoleh kebahagiaan dari tiga sumber kebahagiaan pada waktu yang sama. Dengan demikian tiga sumber kebahagiaan yaitu Tuhan, manusia, ciptaan Tuhan lainnya, sangat erat kaitannya dengan ilmu.

Modul Makalah - Dalam usaha manusia mencari kebahagiaan dan sumber kebahagiaan Tuhan, manusia menemukan berbagai macam masalah. Dengan akal budinya manusia berusaha mencari jawaban dengan menggunakan pengetahuan yang ada mcngenai masalah tersebut. Kalau ia berhasil menyusun pengetahuan dalam hubungan sebab akibat dalam menjawab masalah keTuhanan, lahirlah ilmu ke Tuhanan. Begitu pula halnya dan sumber kebahagiaan manusia lahirlah ilmu sosial, dari sumber kebahagiaan ciptaan Tuhan lainnya lahirlah Imu alam. Ilmu sosial mengandung lagi beberapa persoalan. Jawaban terhadap persoalan-persoalan itu melahirkan ilmu komunikasi, ilmu ekonomi, ilmu hukum, ilmu politik.

C. LAHIRNYA ILMU KOMUNIKASI

Manusia di mana pun, kapan pun menyampaikan isi pemyataan kepada manusia lain. Kenapa? Apa sebab yang sedalam-dalamnya atau yang paling mendasar sehingga manusia menyampaikan isi pernyataan kepada manusia lain ? Untuk memperoleh kebahagiaan dan manusia, konsepsi kebahagiaan (KK) dan sumber kebahagiaan manusia harus diwujudkan pada manusia tersebut dengan menyampaikan isi pernyataan kepadanya.

Di dalam usahanya menyampaikan isi pernyataan (IP) itu, manusia menemukan masalah : bagaimana usaha menyampaikan isi pernyataan kepada manusia lain dilakukan supaya motif komunikasi (MK) dapat diwujudkan? Dalam rangkaian itu akal budinya berusaha mencari jawaban dengan menggunakan pengetahuan yang ada mengenai penyampaian isi pernyataan. Kalau ia berhasil menyusun pengetahuan ini dalam hubungan rangkaian sebab akibat, lahirlah ilmu komunikasi.

Kembali ke persoalan di awal bab ini, satu pertanyaan yang berbunyi: apakah ilmu komunikasi benar suatu ilmu? Hal ini nampaknya sangat perlu dibahas secara sistematis. Sebab, di negara kita sendiri, juga termasuk di kalangan dunia pendidikan masih terjadi silang pendapat mengenai hal tersebut. Ada yang berpendapat bahwa komunikasi belumlah layak merupakan suatu ilmu, tetapi baru sebagai suatu seni. Di sisi lain ada pendapat yang menolak anggapan itu. Kedua kubu mengemukakan argumentasi yang rasional.

Yang jelas, di negara kita terlepas dari sejarah perkembangannya, komunikasi kini telah diakui eksistensinya sebagai fakultas di jenjang pendidikan tinggi. Secara formal, hal ini pun menunjukkan bahwa ilmu komumkasi secara resmi telah diakui. Namun, untuk kembali menjawab permasalahan tadi maka perlu uraian yang sistematis dan skematis. Kemampuan untuk membahas masalah ini sangat perlu dikuasai terutama oleh setiap sarjana komunikasi, karena ilmu pokok yang dipelajari di fakultas komunikasi adalah ilmu komunikasi. Seorang sarjana wajib dapat menjelaskan bahwa ilmunya itu adalah benar-benar suatu ilmu, karena gelar kesarjanaan hanya diberikan kepada orang yang benar-benar menguasai ilmunya. Sarjana komunikasi pun wajib dapat menjelaskan bahwa benar ilmu komunikasi adalah suatu ilmu.

Untuk membahas masalah tersebut di atas, perlu diberikan penjelasan dalam tiga tahap. Tahap pertama akan dijelaskan mengenai:
  • Apa yang dimaksud dengan ilmu, dan
  • Apa syarat-syarat suatu ilmu.

Pada tahap kedua diuraikan tentang apa yang dimaksud dengan ilmu komunikasi. Selanjutnya, pada tahap ketiga merupakan penyesuaian keterangan-keteranganpada tahap pertama dengan tahap kedua, yaitu apakah ilmu komunikasi memenuhi syarat-syarat suatu ilmu. Kalau syarat-syarat itu ilmu dapat dipenuhi oleh ilmu komunikasi maka ilmu komunikasi telah benar suatu ilmu.

Berdasarkan definisi ilmu seperti dikemukakan Dr. Mohammad Hatta yang telah dikutip pada halaman terdahulu, maka syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh suatu ilmu adalah sebagai berikut: Satu ilmu harus mempunyai objek kajian, objek kajian tersebut terdiri dan satu golongan masalah yang sama tabiatnya baik dilihat dan dalam maupun dari luar, keterangan mengenai objek kajian tersebut dapat disusun dalam rangkaian hubungan sebab akibat.

Sejalan dengan pengertian atau definisi komunikasi yang dikemukakan para pakar maka mengenai ilmu komunikasi juga terdapat beragam definisi. Definisi Drs. A.M. Hoeta Soehoet mengenai ilmu komunikasi adalah suatu ilmu yang mempelajari usaha manusia dalam menyampaikan isi pernyataannya kepada manusia lain. Dan definisi ini terlihat bahwa objek kajian ilmu komunikasi adalah usaha manusia dalam menyampaikan isi pernyataannya kepada manusia lain.

Apakah objek kajian ini memenuhi syarat-syarat yang harus dipenuhi suatu ilmu, yaitu terdiri dan satu golongan masalah. Bukan dan dua atau lebih golongan masalah. Dan definisi di atas, jelas bahwa objek kajian ilmu komunikasi terdiri dan satu golongan masalah, bukan dua, bukan tiga, dan seterusnya golongan masalah, yaitu bagaimana usaha manusia menyampaikan isi pernyataannya kepada manusia lain, bukan usaha manusia mencari nafkah, bukan usaha manusia mencari keadilan, bukan usaha manusia memperoleh keamanan.

Apakah golongan masalah tersebut sama tabiatnya, balk dilihat dari dalam maupun menurut bangunnya tampak dari luar? Dan definisi di atas, jelas bahwa objek kajian ilmu komunikasi terdiri dari satu golongan masalah yang sama tabiatnya maupun menurut kedudukannya tampak dan luar maupun menurut bangunnya balk dilihat dari dalam. Sebab dalam hal ini adanya usaha manusia untuk menyampaikan isi pernyataannya kepada manusia lain, bukan usaha binatang, bukan usaha angin, bukan usaha pohon beringin, tetapi usaha manusia yang dapat menggunakan akal dan budinya, bukan usaha manusia yang tidak dapat menggunakan akal budinya. Usaha manusia dalam menyampaikan isi pernyataannya kepada manusia lain, bukan usaha manusia dalam menyampaikan isi pernyataan kepada Tuhan, bukan menyampaikan isi pernyataan kepada binatang, bukan usaha menyampaikan isi pernyataan kepada angin lalu, bukan usaha menyampaikan isi pernyataan kepada manusia yang sakit jiwa, tetapi usaha manusia dalam menyampaikan isi pernyataan kepada manusia yang dapat menggunakan akal budinya, bukan manusia yang tidak dapat menggunakan akal dan budinya.

Apakah keterangan mengenai objek ilmu ini dapat disusun dalam hubungan kausal, hubungan sebab akibat?

Rangkaian penjelasan berikut ini akan membuktikannya.

a. Di dalam usaha manusia mencapai kebahagiaan dan sumber kebahagiaan manusia, manusia harus menyampaikan isi pernyataannya kepada manusia lain. Hal ini merupakan sebab utama terjadinya proses penyampaian isi pernyataan (IP) atau proses komunikasi dan komunikator kepada komunikan.

b. sebab utama ini mengakibatkan peralatan rohaniah (PR) yaitu hati nurani (HN) akal, budi, dan naluri-naluri bekerja.Jadi a adalah sebab terjadinya b, b adalah akibat dari a.

c Hasil kerja dari peralatan rohaniah (HPR) adalah konsepsi kebahagiaan (KK) dan motif komunikasi (MK). Jadi b adalah sebab terjadinya c, c adalah akibat dari b.

d. Untuk mewujudkan konsepsi kebahagiaan (KK) dan motif komunikasi (MK), akal dan budi menyusun isi pemyataan (IP) atau berbagai macam isi pernyataan. Jadi c adalah sebab dari d, d adalah akibat dan c,

e. Sesudah isi pernyataan (IP-IP) tersusun, naluri komunikasi mendorong supaya isi pernyataan (IP) disampaikan kepada manusia lain. Penyampaian isi pemyataan (IP) ini disebut tindak komunikasi (TK). Seterusnya isi pernyataan meninggalkan komunikator menuju komunikan. Jadi d adalah sebab dari e, e adalah akibat dari d.

f. Peralatan jasmaniah komunikan (PJ) menerima isi pemyataan dan komunikator dan diteruskan ke peralatan rohaniah komunikan (penerimaan IP komunikator). Jadi e adalah sebab dari f atau f adalah akibat dari e.

g. Peralatan rohaniah komunikan berusaha memahami isi pernyataan dari komunikator sebagaimana diterimanya melalui peralatan jasmaniah (pemahaman IP komunikator). Dalam hal ini f adalah sebab dari g, atau g adalah akibat dari f

h. Peralatan rohaniah komunikan berusaha menemukan motif komunikasi dan konsepsi kebahagiaan komunikator mengenai persoalan yang dikandung motif komunikasi (Penemuan MK Komunikator). Jadi g adalah sebab dari h, atau h merupakan akibat dari g.

i. Peralatan rohaniah komunikan membandingkan konsepsi kebahagiaan komunikator dengan konsepsi kebahagiaannya apakah sesuai atau tidak (penyesuaian KK komunikator). Ini menunjukkan bahwa h adalah sebab dari j, atau j adalah akibat dari h.

j. Penentuan sikap komunikan. Jadi i adalah sebab dari j, atau merupakan akibat dari i.

k. Penentuan feedback. Peralatan rohaniah komunikan menimbang apakah menyampaikan feedback atau tidak. Dengan demikian j merupakan sebab dari k, atau k sebagai akibat dari j.

l. Kalau ia menentukan untuk menyampaikan feedback maka ia menyusun motif komunikasi (usaha mewujudkan MK). Jadi k merupakan sebab dan l, atau l adalah akibat dari k.

m. Melakukan tindak komunikasi. Sesudah tersusun rencana untuk mewujudkan motif komunikasi komunikan menyampaikan umpan balik (feedback) kepada komunikator. Dengan demikian I sebagai sebab dan m, atau m merupakan akibat dari l.

Untuk lebih jelasnya, rangkaian sebab akibat di atas dapat digambarkan dalam bagan proses komunikasi sebagai berikut:

Pengertian Komunikasi Sebagai ilmu, Manfaat dan Kaitannya 2_

Berdasarkan rangkaian uraian di atas dapatlah dibuktikan, bahwa ilmu komunikasi memenuhi syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh suatu ilmu. karena itu ilmu komunikasi benar adalah suatu ilmu.

D. TUJUAN MANUSIA MENCARI ILMU

Tujuan manusia mencari ilmu adalah menjadi sumber penggolang ilmu yaitu ilmu teoritis dan ilmu praktis. Ilmu teoritis disebut juga sebagai ilmu murni (pur science) dan ilmu praktis atau terapan yang disebut sebagai applied science.

Pada tahap pertama manusia mencari ilmu semata – mata hanyalah untuk meperoleh kepuasan batin, untuk menjawab pertanyaan – pertanyaan yang muncul dari dirinya. Pada tahap ini ilmu yang diperolehnya hanyalah untuk ilmu saja. Manusia pada tahap ini mencoba mencari tahu mengenai sifat – sifat benda dan kodrat alam. Ilmu dalam tahap ini disebut sebagai ilmu teoritis.

Ilmu dalam tingkat ini masih mempunyai sifat murni, mencari tahu kebenaran semata – mata hanya untuk kebenaran saja. Contoh ilmu pada tingkatan ini adalah imu fisika, kimia, biologi, komunikasi, hukum, ekonomi, dll

Pada tahap berikutnya manusia berpikir bagaimana menggunakan ilmu teoritis yang diketahuinya untuk menyempurnakan hidupnya. Pada saat manusia mencari ilmu untuk memenuhi tujuan – tujuan hidupnya maka muncullah ilmu sebagai ilmu praktis atau terapan. Contohnya adalah ilmu teknik, pertanian, kedokteran, jurnalistik, dll.

Persamaan dan perbedaan antar kedua imu tersebut adalah keduanya harus memiliki dan memenuhi syarat sebuah ilmu sedangkan bedanya adalah ilmu teoritis adalah kajian yang memandang ke belakang, memikirkan keadaan dan masalah – masalah yang sudah berlaku dengan menyatakan hubungan sebab akibatnya. Ilmu praktis memandang ke depan dengan menggunakan ilmu yang ada untuk menemukan jalan baru yang harus dilakoninya untuk mencapai suatu perbaikan bagi sebuah keadaan dan syarat hidup yang lebih baik/sempurna. Dari satu ilmu teoritis dapat disusun beberapa ilmu praktis.

Ilmu komunikasi sebagai ilmu teoritis yang bertujuan untuk mempelajari usaha manusia dalam menyampaikan isi pernyataannya kepada manusia lain sedangkan ilmu komunikasi sebagai ilmu praktis mempelajari penggunaan ilmu komunikasi teoritis untuk mencapai beberapa tujuan hidup. Atau dapat pula dikatakan ilmu komunikasi teoritis digunakan untuk mencari kebenaran sedangkan ilmu komunikasi praktis digunakan untuk mencari beberapa tujuan hidup.

Dari satu ilmu komunikasi sebagai ilmu teoritis dapat disusun beberapa ilmu komunikasi praktis seperti jurnalistik, penyiaran, hubungan masyarakat, retorika, propaganda, periklanan, dll

Sebagai contoh di sini adalah ilmu ke humasan adalah ilmu praktis/praktika yang diturunkan dari ilmu teoritis. Ilmu teoritis di sini digunakan untuk mencapai kebahagiaan dan kebenaran di dalam bidang organisasi. Objek kajiannya adalah bagaimana caranya menyampaikan isi pernyataan agar publik eksternal dan internal minimal tidak dirugikan dan maksimalnya adalah memberikan keuntungan langgeng bagi kedua belah pihak.

Ilmu periklanan adalah salah satu ilmu komunikasi praktis yang ilmu teoritisnya adalah upaya kebahagiaan dan kebenaran yang ingin dicapai dalam bidang perdagangan/bisnis yang objek kajiannya adalah bagaimana caranya menyampaikan isi pernyataan di bidang bisnis supaya banyak orang mmbeli barang/jasa yang ditawarkan.

E. ILMU DAN MORAL

Perkembangan ilmu dewasa ini sudah semakin maju. Ilmu tidak lagi hanya semata – mata diarahkan untuk mencari kepuasan atas ketidaktahuan atau upaya mencari tahu tentang mosteri – misteri alam dan isinya sebagai ciptaan Tuhan, manusia dan Tuhan tetapi lebih jauh lagi definisi dari mencari kebahagiaan diinterpretasikan secara bebas, kebahagiaan bagi siapa yang berbicara, bagi siapa yang menemukan dan ingin menggunakan ilmu tersebut. Lebih jauh lagi tergambar jelas bahwa dewasa ini ilmu tidak lagi hanya digunakan untuk tujuan yang positif tetapi sudah merambah kepada tujuan untuk saling memerangi, saling menjatuhkan dan bahkan saling membunuh. Jadi kondisi sudah berbalik arah, bukan lagi ilmu pengetahuan dan teknologi membantu manusia untuk mencapai kebahagiaan hidup tetapi beberapa manusia menjadi budak bagi teknologi. Sebagai contoh dalam kehidupan sehari – hari kita merasa seolah – olah tidak dapat hidup tanpa hand phone, tidak dapat hidup tanpa televisi, tidak dapat hidup tanpa listrik, tidak berdaya tanpa mobil, dll. Tanpa disadari keberadaan manusia sedikit demi sedikit mulai terampas dengan kehadiran teknologi.

Pada taraf tertentu ilmu tidak lagi hanya menjadi sumber dehumanisasi bahkan mungkin mengubah hakikat kemanusiaan seorang manusia. Seperti misalnya hasil teknologi akhir – akhir ini merambah pada reproduksi dan rekayasa genetika. Pada tahap ini segala macam bentuk penciptaan diuji coba mulai dari mencipta serta merekayasa tumbuhan hingga manusia. Bisa dibayangkan bagaimana jadinya manusia hasil cloning apakah ia akan tetap eksis dengan segala kemanusiaannya atau menjadi manusia yang hilang hakekat kemanusiaannya.

Hakekat manusia adalah kemanusiaannya yaitu mansuia dengan segala segi yang menjadikan dia adalah manusia. Jika manusia diciptakan untuk melakukan efisiensi dan efektifitas kerja yang akhirnya dicipta robot berdaging tetapi tidak berjiwa karena mereka dicipta untuk kebahagiaan diri dalam arti uang, apakah manusia yang seperti ini dapat disebut sebagai manusia?

Yang menjadi keprihatinan penulis adalah jika mengamati pendidikan sebagai lahan pengembangan ilmu pengetahuan yang diarahkan semata – mata untuk bisnis atau sekedar untuk pencapaian ilmu dan kepandaian sebagai satu – satunya tolok ukur keberhasilan sebuah proses pendidikan, pendidikan yang menafikkan sisi etika, akan menjadi apakah manusia – manusia ciptaannya nanti?

Wacana ini seharusnya menjadi bahan refleksi kritis mengenai ilmu. Akan dibawa kemanakan manusia dengan ilmunya, untuk apa sebenarnya ilmu itu, sejauhmana batas – batas kewenangan penjelajahan sebuah ilmu. Jawaban atas pertanyaan ini erat kaitannya dengan pembahasan moral. Jika moral menjadi patokan perkembangan ilmu harapannya ilmu tidak lagi berkembang secara anarkis atau ilmu mati karena ketakutan yang berlebihan dari manusia atas perkembangan ilmu.

Penjelasan ini erat kaitannya dengan asumsi pengembangan ilmu yang bebas nilai. Yang dimaksud ilmu adalah bebas nilai adalah pengembangan ilmu pengetahuan seharusnya tidak terkait dengan pertimbangan nilai di luar pengembangan ilmu tersebut. Ilmu dikembangkan untuk tujuan ilmu semata dan tidak perlu mempertimbangkan nilai – nilai lain di luar imu itu. Tujuannya adalah supaya ilmu tidak menglami distorsi. Mengingat perkembangan ilmu sejarak sebelum abad pertengahan dan pencerahan/ Aufklarung era atau renaissance, kasus Galileo, Copernicus atau ilmuwan yang dipancung karena dianggap bertentangan dengan dogma yang mengakibatkan ilmu mengalami pembelengguan dan ada pada era kegelapan.

Diasumsikan tuntutan ilmu adalah bebas nilai adalah ilmu bebas dari campur tangan agama, politis, maupun moral. Harapannya ilmu adalah otonom atau merdeka, Jika ilmu muncul dilandasi dengan pertimbangan – pertimbangan itu maka ilmu tidak menjadi murni lagi. Sebagai contoh misalnya ilmu muncul di bawah pertimbangan kekuasaan pemerintah atas suatu masyarakat maka dikhawatirkan ilmu yang akan dibangun akan hilang dari kebenaran yang sesungguhnya yang akibatnya kita tidak akan sampai pada kebenaran ilmiah yang objektif dan rasional. Ilmu pengetahuan akan berubah menjadi ideologi bagi kepentingan tertentu yang hanya berfungsi untuk melayani kepentingan pihak tertentu dan untuk itu ia rela mengorbankan sisi kebenarannya dan ilmu pengetahuan berhenti menjadi dirinya sendiri.

Pertentangan pemikiran ini apakah ilmu bebas atau terikat oleh nilai dapat dipahami, memang di satu sisi ilmu haruslah otonom tetapi seberapa jauh ukuran otonomi itu. Untuk menjawab hal ini maka tampaknya perlu dikemukakan mengenai dua kecenderungan dasar manusia memandang ilmu. Di satu sisi ada yang memilki kecenderungan sebagai puritan elitis dan satu sisi lain sebagai seorang yang pragmatis (Keraf; 2001, 151-152)

Kecenderungan puritan elitis beranggapan bahwa tujuan akhir dari ilmu adalah demi ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan memang bertujuan untuk mencari dan menemukan penjelasan yaitu penjelasan yang benar tentang segala sesuatu. Bagi kaum puritan elitis, kebenaran yang dimaksud di sini hanya dipahami sebagai kebenaran murni, sebagai pemuas rasa ingin tahu manusia.

Kepuasan seorang ilmuwan di sini adalah apabila ia mampu menjawab teka – tekai besar dengan sebuah teori yang diciptakannya terlepas apakah ilmu itu berguna atau tidak bagi kehidupan. Menurut mereka ilmu tersebut tidak perlu mempersoalkan apakah ilmu tersebut berguna tidak bagi kehidupan praktis manusia sehari – hari. Dapat dikatakan bahwa aplikasi konkret sebuah ilmu bukan urusan mereka. Konsekuensinya ilmu menjadi bagian elitis. Ilmu pengetahuan hanya dapat digeluti dan dimaknai untuk segelintir orang saja. Ilmu pengetahuan menjadi mewah dan jauh dari kehidupan manusia pada umumnya. Jelas sudah bahwa bagi kaum ini ilmu pengetahuan adalah bebas nilai. Ilmu tidak boleh tunduk pada otoritas lain di luar ilmu pengetahuan.

Kecenderungan yang kedua adalah kecenderungan pragmatis. Pada dasarnya kaum pragmatis juga bertujuan mengembangkan ilmu sebagai untuk mencapai dan memperoleh penjelasan tentang berbagai hal dalam alam semesta ini. Ilmu pengetahuan memang juga ditujukan untuk kebenaran. Ukuran kebenaran bagi kelompok ini adalah jika ilmu pengetahuan berguna bagi manusia untuk memecahkan berbagai persoalan dalam hidupnya. Jadi ilmu dikembangkan bukan semata – mata untuk ilmu tetapi juga untuk menjawab berbagai persoalan hidup manusia dan tanpa ini, ilmu menjadi tidak berguna. Kebenaran ilmiah bagi kaum ini adalah bukan hanya bersifat logis-rasional dan empiris melainkan juga pragmatis.

Hal inilah yang mendorong minat dan ketertarikan manusia akan ilmu. Ketertarikan terhadap ilmu bukan lagi hanya karena kebenaran empirisnya tetapi karena nilai pragmatisnya. Manusia berlomba – lomba menemukan ilmu baru untuk menjawab persoalan manusia dan yang mampu mempermudah hidupnya. Jadi di sini ilmu bukan semata – mata sebagai ilmu tetapi melayani hidup manusia. Berdasarkan hal ini dapat dipastikan bagi kelompok ini ilmu tidak dapat bebas nilai.

Pertanyaan lanjutan dari pertentangan dua kubu ini adalah, dimana letak kebenarannya. Mana yang benar ? Jawaban atas pertanyaan ini dapat mengacu pada kemampuan membedakan konteks ilmu yaitu context of discovery and context of justification. Context of discovery, menyangkut konteks ilmu pengetahuan ditemukan. Ilmu pengetahuan tidak muncul tiba – tiba, ia muncul dalam konteks ruang dan waktu dan dalam konteks sosial tertentu. Ini sebagai bukti dari argumen bahwa ilmu muncul karena tujuannya untuk memecahkan persoalan – persoalan yang dohadapi oleh manusia. Dalam melakukan kegiatan ilmiahnya manusia dimotivasi oleh keinginan baik itu individual atau kolektif untuk mencapai sasaran dan tujuan yang lebih luas dari sekedar kebenaran ilmiah murni. Atau dapat dikatakan banyak faktor pendorong keinginan berkegiatan ilmiah selain faktor murni ilmiah.

Motif yang biasanya mendorong ilmuwan untuk mengembangkan kegiatan ilmiahnya selain motif /perasaan/keinginan pribadi, sosial, budaya, politik, juga ada nilai yang masuk di situ misalnya religi, tradisi, moral, dll.

Secara implementatif berlangsungnya sebuah penelitian merupakan kaitan antara peneliti, lembaga penelitian, penyandang dana, dan kebijakan umum yang berlaku dan tidak menutup kemungkinan masing – masing itu memiliki kepentingan tertentu di luar kepentingan murni ilmiah. Berdasarkan penjelasan ini dapat dipastikan bahwa ilmu berkembang dalam konteks tertentu yang ikut mempengaruhinya dan sulit dibayangkan bahwa ilmu akan bebas nilai.

Context of justification merupakan konteks kedua yang menjadi pertimbangan, yaitu konteks pengujian ilmiah terhadap hasil penelitian dan kegiatan ilmiah. Kebenaran yang berbicara di sini adalah hasl uji bukan pertimbangan lain di luar yang ilmiah. Dalam konteks ini ilmu memang harus bebas nilai.

Tujuan dari pembedaan ini adalah menghindari hilangnya makna objektif dari ilmu Konsekuensi dari konteks ini adalah
  1. Tujuan ilmiah harus dibedakan dengan motif pribadi atau sosial
  2. Kemajuan ilmiah harus dibedakan dari kemajuan sosial meskipun keduanya timbal balik. Kemajuan ilmiah mempengaruhi kemajuan sosial dan sebaliknya kemajuan sosial mempengaruhi kemajuan ilmiah tetapi kemajuan ilmiah harus secara objektif terlepas dari faktor persoalan sosial yang menjadi konteks penemuan dan perkembangan ilmiah tersebut
  3. Rasionalitas, kriteria dan kaidah ilmiah hanya berkaitan dengan bukti - bukti empiris. Tidak ada sangkutpautnya dengan moral, sosial, personal, dll. Bukan berarti aspek tersebut tidak penting, penting tetapi tidak relevan untuk menilai kebenaran ilmiah. 
  4. Dalam kaitan dengan ilmu empiris, penilaian berhasil atau gagalnya kegiatan ilmiah hanya didasari oleh pembuktian empiris, ada atau tidaknya fakta empiris yang mendukung kesimpulan. Satu – satunya pertimbangan bagi diterima atau ditolaknya hasil kegiatan ilmiah hanyalah cukup atau tidaknya data yang bisa disajikan dan bukan soal apakah teori atau hipotesa itu berguna atau tidak bagi manusia. 
  5. Ilmuwanlah yang berhak menjustifikasi dan menilai apakah data, fakta dam kegiatan ilmiahnya benar atau tidak. Di luar itu tidak ada yang berwewenang melakukannya meskipun dalam seluruh proses kegiatannya banyak orang yang terlibat. 

Kedua konteks ini ternyata di satu sisi mampu menjembatani mengenai kriteria kebenaran pengembangan sebuah pengetahuan, tetapi di satu sisi pemahaman atas kedua konteks itu tidak jarang menimbulkan perdebatan yang tiada henti.

Intinya adalah, ilmu merupakan karya perorangan yang dikomunikasikan dan dikaji secara terbuka kepada dan oleh masyarakat. Jika karya ilmiah itu memenuhi syarat keilmuan maka ia dapat diterima sebagai bagian dari kumpulan ilmu pengetahuan yang dapat digunakan untuk kemudaratan manusia. Oleh karena itu pada bahu seorang ilmu terpanggul tanggung jawab sosial.

Fungsinya sebagai ilmuwan tidak berhenti hanya pada penelaahan keilmuwanannya secara individual namun juga turut bertanggung jawab atas hasil kegiatan ilmiah yang dibuatnya hingga dapat diterima dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Untuk itu maka ilmuwan tidak hanya mengandalkan pengetahuan dan daya analisinya saja tetapi juga integritas pribadinya.

Pikiran manusia bukan hanya dapat digunakan untuk menemukan dan mempertahankan kebenaran tetapi sekaligus dapat dipergunakan untuk menemukan dan mempertahankan ketidakbenaran. Seorang ilmuwan bukan lagi hanya mampu memberikan informasi tetapi juga contoh. Di satu sisi ia memiliki kebebasan tetapi kebebasan yang bertanggungjawab.

Sekian artikel Modul Makalah tentang Pengertian Komunikasi Sebagai ilmu, Manfaat dan Kaitannya

Daftar Pustaka
  • Bertens,K, Etika, Gramedia, Jakarta, 2011
  • Katsoff, Louis O, Pengantar Filsafat, Tiara Wacana, Yogyakarta, 2007
  • Mangunhardjana, Isme-Isme Dalam Etika dari A-Z, Kanisius, Yogyakarta, 2004.
  • Suseno, Franz Magnis, Etika Dasar Masalah-Masalah Pokok Filsafat Moral, Kanisius, Yogyakarta, 1989
  • Soehoet, AM.Hoeta, Teori Komunikasi I, IISIP, Jakarta, 2002
  • Suriasumantri, Jujun S, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar populer, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 2001
  • Sutarno, Alfonsus. Etiket Kiat Serasi Berelasi. Yogyakarta: Kanisius. 2008
  • Titus, Harold H,Smith, Nolan (alih bahasa) Rasjidi, Persoalan – Persoalan Filsafat, Bulan Bintang, Jakarta, 2007.

Posting Komentar untuk "Pengertian Komunikasi Sebagai ilmu, Manfaat dan Kaitannya"