Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Prinsip Dasar Hukuman dan Diskriminasi Modifikasi Perilaku

Prinsip Dasar Hukuman dan Diskriminasi Modifikasi Perilaku - Dalam artikel ini akan didiskusikan tentang basic principles: punishment, stimulus control (diskriminasi dan generalisasi), respondent conditioning (higher order conditioning). Mampu Memahami dan Menjelaskan basic principles: punishment, stimulus control (diskriminasi dan generalisasi), respondent conditioning (higher order conditioning).

Basic Principles of Behavior Modification-II

1.   Punishment

·         Adanya perilaku
·         Konsekuensi langsung terjadi setelah perilaku
·  Sebagai hasilnya, perilaku tersebut mungkin tidak akan dilakukan lagi di masa mendatang.
Punisher (Aversive stimulus): Merupakan konsekuensi yang membuat perilaku tertentu tidak akan terulang lagi atau kemungkinan untuk diulang menjadi kecil
Contoh kasus: Anak laki-laki sering mengganggu adiknya dan membuatnya menangis, kemudian ibunya memarahi dan memukulnya. Anak laki-laki tersebut berhenti menganggu adiknya ketika di marahi, namun keesokan harinya ia mengulangi perilaku yang sama.(silahkan di analisa).


       Dimarahi dan dipukul merupakan bentuk reinforcement positif.
       Lalu apa itu punishment?
   Punishment itu bukan konsekuensi yang tidak mengenakkan ataupun menyenangkan saja. Sebuah konsekuensi dikatakan negatif jika ia mengurangi munculnya perilaku yang tidak diinginkan di masa yang akan datang

Contoh kasus
       Perilaku anak yang dimarahi oleh orang tuanya merupakan reinforcement positif (penguatan positif)
       Perilaku orangtua yang memarahi dan memukul anak merupakan reinforcement negatif (penguatan negatif) karena anak tadi berhenti mneganggu adiknya

Miskonsepsi yang sering terjadi
Punishment segala sesuatu yang dapat menurukan munculnya perilaku tersebut di masa yang akan datang. Punishment dalam modifikasi perilaku berbeda dengan apa yang ada dalam ranah hukum. Penggunaan term yang benar adalah:
1. Benar: yang di punish adalah perilakunya, contoh: guru menghukum perilaku A yang mengaggu proses belajar mengajar dengan time out
2. Salah: yang di punish adalah orangnya. Yang kita lemahkan bukan orangnya tapi perilakunya. Contoh: guru menghukum sarah karena perilakunya yang mengganggu.

Punishment
a.    Positif punishment:
  1. Perilaku terjadi
  2. Diikuti oleh kehadiran aversive stimulus
  3. Hasilnya perilaku tidak akan terjadi di masa yang akan datang
b.    Negatif punishment:
  1. Perilaku terjadi
  2. Diikuti oleh penghilangkan stimulus yang menguatkan/ menyenangkan
  3. Hasilnya perilaku tidak akan terjadi di masa yang akan datang

Hasil penelitian Sajwaj, Libet, dan Agras (1974)- positive punishment
       Bayi usia 6 bulan
       Mengurangi perilaku perenungan (rumination)
       Rumination: memuntahkan makanan di  dalam mulut kemudian menelannya lagi---dehidrasi, malnutrisi dan kematian
       Setiap si bayi melakukan rumination maka dilakukan positive punishment (menyemprotkan lemon juice ke dalam mulutnya)----perilaku rumination berkurang

Diskusi: Apa beda antara ekstingsi dengan negatif punishment?
       Ekstingsi: menahan penguatan yang dapat mempertahankan perilaku yang diinginkan
       Negative punishment: menghilangkan atau menarik penguatan positif dari individu. Penguatan positifnya bisa sesuatu yang sudah biasanya diperoleh ataupun  sesuatu yang lainnya yang dapat memperkuat perilaku.
       Contoh: Negatif punishment: semua hak istimewa di ambil baik yang biasa diberikan ataupun tidak.
Negative punishment
       Time-out dari penguatan positive: Penguatan di hilangkan dalam waktu beberapa saat. Contoh: Peneletian Clark, Rowbury, Baer, dan Baer (1973) mengurangi perilaku agresif anak down syndrome, dengna menyuruhnya untuk duduk dengan dirinya sendiri selama 3 menit.
       Response cost: kebalikan dari token ekonomi.

Time Out



Unconditioned dan Conditioned Punisher
       Unconditioned Punisher: secara alamiah kejadian/ hal tersebut mengadung unsur aversive (sesuatu yang tidak menyenangkan). Contoh: dingin atau panas yang berlebihan, stimulus yang menyakitkan seperti benda tajam, electric schock,
       Conditioned Punisher: stimulus atau kejadian yang berfungsi sebagai aversive stimulus setelah dipasangkan dengan unconditioned stimulus
       Conditioned Punisher: stimulus atau kejadian yang berfungsi sebagai aversive stimulus setelah dipasangkan dengan unconditioned stimulus
       Contoh:     Kata jangan, ekspresi wajah, tiket denda.

Diskusikan
Apakah tatapan kemarahan dari ibu merupakan punishment? Kalau iya kenapa, kalau tidak kenapa?

       Tatapan kemarahan bukanlah punishment karena perilaku yang tidak diharapkan tidak berkurang.
       Tatapan kemarahan ibu merupakan reinforcer (penguat ) positif.
       Kemungkinan lainnya, bersendawa merupakan hal yang secara natural mengandung unsur penguat (reinforcer) karena mengeluarkan gas yang ada di dalam perut.

Persamaan dan Perbedaan
Outcome
Menghadirkan
Mencabut
Memperkuat perilaku yang diinginkan
Positive Reinforcement (stimulus yang menyenangkan)
Negative Reinforcement: (Hal-hal yang tidak menyenangkan)
Memperlemah perilaku yang tidak diinginkan
Positive punishment (stimulus yang tidak menyenangkan)
Negative Punishment (Hal-hal yang menyenangkan)

Yang mempengaruhi efektifitas punishment
       Cepat (Immediacy)
       Konsisten (Contingency)
       Antesedent (motivating event)
            EO: tidak boleh makan lebih efektif sebagai  punishment kalau anak kondisi lapar (memperkuat)
            AO: tidak boleh makan kurang efektif kalau anak baru saja makan snack (memperlemah).
       Perbedaan individu

Problem Punishment
       Membuat seseorang agresif
       Membuat seseorang melakukan escape dan avoidance.
       Penggunaan yang berlebihan dari pemberi hukuman
       Perilaku tersebut akan menjadi model bagi yang dihukum, kemungkinan ia akan menghukum dirinya sendiri di masa yang akan datang.
       Terkait dengan kode etik

2.   Stimulus control: discrimination and generalization

Reinforcement, ekstingsi, dan punishment adalah bentuk konsekuensi untuk mengontrol perilaku (bisa membuat perilaku terus dilakukan atau berhenti sama sekali). Membahas penyebab (Antecedent) munculnya perilaku sama pentingnya dengan membahas konsekuensi dari perilaku. Penyebab (Antecedent) adalah stimulus, situasi, kejadian, atau keadaan yang hadir ketika atau sebelum perilaku itu muncul. Pentingnya untuk membahas penyebab (Antecedent)dari sebuah perilaku karena kita akan mendapatkan informasi tentang perilaku mana yang mendapat penguatan/ hukuman pada saat tertentu. Perilaku akan terus dilakukan pada situasi yang mendatang jika ia mendapat penguatan dan akan berhenti jika tidak mendapat penguatan pada kejadian sebelumnya.
Contohnya: Tono akan meminta uang kepada ibunya ketika ia membutuhkannya, namun ia tidak meminta uang kepada ayahnya karena sebelumnya ketika tono berusaha meminta uang kepada ayahnya ia dimarahi. Sehingga kehadiran ibunya menjadi penyebab (Antecedent) Tono meminta uang kepada ibunya. Penting untuk diingat bahwa Tono hanya meminta uang ketika ia membutuhkan, sehingga kondisi tersebut menjadi EO (Establishing Operation)- yang menguatkan.
Contoh di atas adalah sebagai contoh stimulus control, yaitu sebuah perilaku cenderung dilakukan ketika penyebab (Antecedent) hadir. Sebuah perilaku dikatakan dibawah stimulus control (stimulus control)apabila ada kemungkinan bahwa perilaku tersebut akan terjadi ketika penyebab (Antecedent) yang spesifik hadir/ada. Tingkah laku tidak terjadi secara random akan tetapi terjadi pada situasi tertentu dimana perilaku ini mendapat penguatan sebelumnya.

Mengembangkan Stimulus Control: Training Stimulus Discrimination
Stimulus Control berkembang dikarenakan perilaku mendapat penguatan ketika stimulus penyebab (antecedent) hadir. Kehadiran stimulus penyebab (antecedent) disebut sebagai  Discriminative Stimulus (SD). Proses penguatan (reinforcing) perilaku ketika Discriminative Stimulus (SD) hadir disebut sebagai  Stimulus Discrimination Training. Ada dua langkah dalam Stimulus Discrimination Training:
1.    Ketika (SD) hadir, maka perilaku mendapat penguatan.
2.       Ketika penyebab lain selain (SD) hadir maka ia tidak mendapat penguatan. Penyebab (antecedent) yang tidak mendapat penguatan disebut S- Delta (SΔ).

Konsekuensi dari training diskriminasi ini adalah: perilaku akan cenderung untuk dilakukan ketika SD hadir  dan perilaku tidak akan dilakukan ketika SΔ hadir. Inilah yang dimaksud dengan stimulus control. Penting untuk dicatat bahwa kehadiran SD tidak menyebabkan perilaku terjadi akan tetapi kehadiran SD memungkinkan untuk terjadinya perilaku karena adanya asosiasi dengan penguatan (reinforcement)yang didapatkan sebelumnya. Penguatan (reinforcement)yang menyebabkan perilaku terjadi ketika SD hadir/ada.
Riset yang dilakukan oleh Skinner terhadap burung merpati :

Contoh lainnya pada belajar membaca dengan menggunakan Discrimination Training:

Contoh Discrimination Trainingdan punishment (hukuman):



Three- Terim Contingency
Isitlah lain dari three-term contingency adalah ABC (Antecedent- Behavior- Consequence).

SD -- R-- SR
SD        = Discriminate Stimulus
R         = Respon
SR          = Reinforcer
SD -- R—Sp
SD        = Discriminate Stimulus
R         = Respon
Sp           = Punisher

Generalisasi
Generalisasi terjadi ketika perilaku dilakukan dengan  kehadiran stimulus yang hampir sama dengan SD atau generalization gradient.
Contoh:

3.   Respondent Conditioning

Respondent= Pavlovian Conditioning
Operant conditioning= Skinner Conditioning



Faktor-faktor yang mempengaruhi Respondent Conditioning
1.     Frekuensi memasangkan CS dengan US, maka CS menjadi trigger CR.
2.     Timing memasangkan harus berdekatan
3.     1 stimulus netral yang dihadirkan secara konsisten ---paling kuat  menjadi CS
4.     CR berkembang kalau CS atau US bersifat intensdaripada lemah

Higher Order Conditioning



Respondent Extinction


Respondent Extinction
       Pada kasus higher order conditioning ketika CS1 kehilangan kemampuan untuk menghasilkan CR maka hal yang membangkitkan CR (ketakutan) kembali ke hal yang pertama.

Counter Conditioning
       Satu kondisi dimana perilaku yang tidak diinginkan ---cara memasangkan dengan tindakan positif
       Contoh:


Aplikasi dari Respondent Conditioning
       Terapi Aversive: Dasar berfikir adalah counterconditioning: hal-hal yang menjadi reinforcer harus dikurangi kemampuan memberikan dorongannya.

Respondent Conditioning VS Operant Conditioning
       Respondent Conditioning: UR  dan CR disebabkan oleh stimulus dan sifatnya lebih biologis
       Operant Conditioning perilaku dikontrol oleh konsekuensi
       Ekstingsi pada perilaku respondent terjadi ketika tidak adan pemasangan antara CS  dengan US, sehingga CS  tidak bisa lagi menghasilkan CR
       Ekstingsi pada perilaku operant terjadi kalau konsekuensi tidak terjadi

Conditioned Emotional Response
       Little albert
       Phobia VS Cemas

Diskriminasi dan Generalisasi pada Respondent Behavior
       Diskriminasi CR terjadi disebabkan oleh satu CS  yang spesifik
       Generalisasiterjadi ketika CS yang hampir mirip dapat membangkitkan CR


Daftar Pustaka
  • Miltenberger, G.R. (2012). Behavior modification: principles and procedures. 5th edition. USA: Wadsworth Cengage Learning. 
  • Martin, G. (2007). Behavior Modification 8th edition: what it is and how to do it. USA: Pearson Prentice Hall
  • Sarafino. P. E. (2012). Applied behavior analysis , principles and procedures for modifying behavior. USA: John Wiley & Sons, inc.

Posting Komentar untuk "Prinsip Dasar Hukuman dan Diskriminasi Modifikasi Perilaku"

Klik gambar berikut untuk mengunduh artikel ini:

Berlangganan via Email