Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pengertian dan Karakteristik Kepemimpinan dalam Manajemen

Pengertian dan Karakteristik Kepemimpinan dalam Manajemen - Dalam sebuah manajemen, kepemimpinan memegang peranan penting untuk menggerakkan roda perusahaan. Kepemimpinan yang efektif akan melahirkan perusahaan yang mampu berkompetisi dengan perusahaan lain. Oleh karena itu, pemahaman yang mendalam tentang kepemimpinan menjadi keharusan yang tak terelakan. 

Melalui artikel ini diharapkan mampu memahami tentang pengertian kepemimpinan, karakteristik personal dan - karakteristik kepemimpinan yang berkaitan dengan efektifitas manajerial termasuk superior intelligence, kematangan emosi, dorongan motivasi, keterampilan problem-solving, keterampilan manajerial dan kepemimpinan, dll. 

KEPEMIMPINAN (LEADERSHIP)
  1. Pengantar
Alkisah, seorang raja yang sudah memasuki usia senja sedang mempersiapkan putranya agar suatu ketika kelak dapat menggantikan dirinya. Ia mengirim putranya kepada seorang bijak untuk belajar mengenai kepemimpinan. Setelah menempuh perjalanan panjang, bertemulah putra mahkota ini dengan si orang bijak. “Aku ingin belajar padamu cara memimpin bangsaku” katanya. Orang bijak menjawab “ masuklah engkau ke dalam hutan dan tinggalah disana selama setahun. Engkau akan belajar mengenai kepemimpinan.”

Setahun berlalu. Kembalilah putra mahkota ini menemui si orang bijak. “ Apa yang sudah engkau pelajari ?” tanya orang bijak. “ Saya sudah belajar bahwa inti kepemimpinan adalah mendengarkan, “jawabnya.” Lantas, apa saja yang sudah engkau dengarkan ?”  “Saya sudah mendengarkan bagaimana burung-burung berkicau, air mengalir, angin berhembus, dan srigala melolong di malam hari,” jawabnya.  “Kalau hanya itu yang engkau dengarkan berarti engkau belum memahami arti kepemimpinan. Kembalilah ke hutan dan tinggalah di sana setahun lagi,  “kata si orang bijak itu.

Walaupun penuh keheranan, putra mahkota ini kembali mengikuti saran tersebut.  Setahun berlalu dan kembalilah ia pada si orang bijak. “Apa yang sudah kau pelajari”  kata orang bijak. “Saya sudah mendengarkan suara matahari memanasi bumi, suara bunga-bunga yang mekar merekah, serta suara rumput yang menyerap air. “Kalau begitu engkau sekarang sudah siap menggantikan ayahmu. Engkau telah memahami hakekat kepemimpinan,” kata si orang bijak sambil memeluk sang putra mahkota.

Dari cerita ini terdapat beberapa yang perlu direnungkan bagi siapa pun yang akan menjadi seorang pemimpin, yaitu:
  1. Syarat utama kepemimpinan adalah kemampuan mendengarkan. Manusia diciptakan dengan dua telinga dan satu mulut. Ini adalah isyarat bahwa kita perlu mendengar dua kali sebelum berbicara satu kali. Mulut juga didesain tertutup sementara telinga kita dibuat terbuka. Ini juga pertanda bahwa kita harus sering memutup mulut dan membuka telinga.
  2. Seorang pemimpin bahkan dituntut untuk dapat mendengarkan hal-hal yang tak bisa didengarkan, menangkap hal-hal yang tak dapat ditangkap, serta merasakan hal-hal yang tak dapat dirasakan oleh orang kebanyakan.
  3. Seorang pemimpin perlu mendengarkan dengan mata. Inilah tingkat kedua mendengarkan. Karena jika hanya mendengarkan dengan telinga itu adlah hal yang bisa.
  4. Seorang pemimpin perlu mendengarkan dengan hati. Inilah tingkat mendengarkan yang tertinggi. Artinya, seorang pemimpin harus peka terhadap hal-hal sekecil apapun dan dapat menangkap apa yang menjadi perasaan bawahannya.
Kepemimpinan adalah bagian vital dalam sebuah organisasi atau perusahaan, di mana di dalamnya melibatkan banyak orang, bersentuhan dengan pembagian kerja, pembagian wewenang, tugas dan tanggung jawab, serta pembagian hak dan kewajiban. Apabila seluruh ruang lingkup pekerjaan diatur di atur tanpa memperhatikan pembagian kerja yang logis dan rasional, maka cepat atau lambat perusahaan tersebut akan segera bermasalah. Di sinilah letak vitalnya kepemimpinan.
Pada dasarnya, kepemimpinan bukan saja persoalan kecakapan dengan basis intelektualitas yang tinggi. Tetapi kepmimpinan pun merupakan seni atau “gaya” yang khas dari seseorang dalam mempengaruhi orang lain, sehingga orang yang dipengaruhi mau dan sukarela menurut apa yang diinginkan oleh pimpinan. Namun demikian, kepemimpinan akan memiliki nilai yang tinggi apabila di dalamnya menggabungkan antara intelektualitas dan seni (art).

Pengertian dan Karakteristik Kepemimpinan dalam Manajemen_
image source: research.mbs.ac.uk
baca juga: Memahami Ruang Lingkup Job Redesign dan Job Enrichment

PENGERTIAN PEMIMPIN DAN KEPEMIMPINAN
    Perkataan pemimpin/leader mempunyai beberapa pengertian, di antaramya adalah:
    • Pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan, khususnya kecakapan-kecakapan di satu bidang, sehingga dia mmpu menpengaruhi orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu untuk pencapaian satu atau beberapa tujuan.
    • Pemimpin dalam pengertian yang lebih luas ialah seorang yang memimpin dengan jalan memprakarsai tingkah laku sosial dengan mengatur, menunjukan, mengorganisir atau mengontrol usaha/upaya orang lain, atau melalui prestise, kekuasaan ataui posisi.
    • Pemimpin adalah pemandu, penujuk, penuntun, dan komandan.
    Sedangkan kepemimpinan didefinisikan antara lain sebagai berikut:
    • Kepemimpinan atau leadership adalah proses mempengaruhi kegiatan-kegiatan kelompok yang terorganisir dalam usaha-usaha menentukan tujuan dan mencapainya.
    • Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi orang untuk mengarahkan usaha-usaha mereka untuk memperoleh kemajuan dalam mengejar tujuan-tujuan yang telah ditetapkan.
    • Kepemimpinan adalah proses dengan mana seorang agen menyebabkan seorang bawahan bertingkah laku menurut satu cara tertentu.
    • Kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi orang agar mereka mau bekerjasama untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
    Apabila diringkaskan terdapat lima faktor yang tercakup dalam definisi kepemimpinan, yaitu:
    1. Seorang agen, yaitu pendukung kekuasaan dan pelaksana dari kepemimpinan/leadership.
    2. Suatu proses (cara berlangsungnya suatu pristiwa) di mana pemimpin tengah menggerakan suatu kegiatan.
    3. Bawahan yang melakukan tugas-tugas dan peranan, sesuai dengan ketentuan konvensi (permufakatan, penjanjian, persetujuan) yang diterimanya.
    4. Bertingkah lakunya bawahan seperti yang diharapkan oleh pimpinan dan konvensi yang ada.
    5. Cara atau sistem tertentu, dibantu dengan tata kerja, norma-norma, aturan, sanksi-sanksi dan insentif kerja.
    Selanjutnya, konsep kepemimpinan tidak dapat dilepaskan dari tiga hal penting, yaitu:
    1. Kemampuan, yaitu segenap daya, kesanggupan, kecakapan dan kekuatan yang terdapat pada individu untuk bertingkah laku; khususnya dalam hal ini untuk bertingkah laku sebagai pemimpin perusahaan, usaha, bisnis dan industri.
    2. Kewibawaan, yaitu kelebihan, keunggulan, keutamaan, sehingga seseorang mampu mengatur, membawa, memimpin dan memerintah orang lain.
    3. Kekuasaan, yaitu kekuatan, otoritas, legalitas, pengaruh mengatur dan mengarahkan pengikutnya. Kekuasaan pemimpin bisa berasal dari:
      1. kemampuan untuk mempengaruhi orang lain
      2. Sifak dan sikapnya yang unggul sehingga mempunyai kewibawaan dan kekuasaan terhadap penganut-penganutnya
      3. Memiliki informasi, pengetahuan dan penmgalaman yang luas dan lebih banyak
      4. Pandai bergaul dan berkomunikasi; human relation yang baik.
                Seorang pemimpin yang baik mempunyai visi kemana mereka akan pergi dan mempunyai kemampuan untuk menciptakan antusiasme di antara pengikutnya untuk mendapatkan tujuan. Beberapa manajer sangat efektif sekali dalam memimpin, tetapi tidak sedikit di antara mereka tidak efektif. Banyak orang percaya ini tergantung pada karakteristik pemimpin seperti dorongan (motivasi), toleransi ketika menghadapi tekanan (stressing), akomodatif terhadap bawahan, responsif tehadap perbahan, serta memiliki visi yang original dalam memajukan perusahaan atau oranias.

                Sebagian orang berargumentasi bahwa karakteristik personal menentukan keberhasilan kepemimpinan seseorang. Karakteristik personal seperti kompetensi mental yang superior (berkemampuan tinggi), kematangan emosi, dan keterampilan mengatasi masalah. Mereka mengklaim bahwa tidak ada karakteristik kepemimpinan yang ada adalah l karakteristik personal yang berorientasi satu dengan yang lainnya untuk menghasilkan dampak yang diharapkan.

    PENDEKATAN DALAM KEPEMIMPINAN

    1. Pendekatan Sifat-Sifat (Traits Approach)
    Dalam sejarah dan perkembangannya, studi tentang karakteristik kepemimpinan, dikenal dengan “Traits Theory” (teori sifat). Teori atau pendekatan ini memfokuskan pembahasannya kepada faktor-faktor yang menyumbangkan kepada efektifitas kepemimpinan. Pendekatan ini mengasumsikan attribut-atribut seperti inisiatif, dominasi sosial dan ketabahan (persistence) merupakan faktor utama dalam keberhasilan dan kegagalan kepemimpinan.

    Ralp stogdill, salah satu ahli kepemimpinan, membedakan pemimpin dan pengikut, yang efektif dan tidak efektif. Pemimpin dicirikan oleh dorongan kuat untuk tanggung jawab, dan penyelesaian pekerjaan, semangat, pantang mundur dalam mendapatkan tujuan, suka “beresiko”, dan mempunyai keaslian (originalitas) dalam penyelesaian masalah, dorongan untuk mendorong inisiatif dalam situasi sosial, percaya diri, identitas diri (jati diri), kemauan untuk menerima akibat dari keputusan dan aksi, kesiapan untuk menghadapi tekanan (stress), kemauan untuk mentoleransi frustasi dan kelambatan, kemampuan untuk mempengaruhi perilaku seseorang dan kapasitas untuk menstruktur (membuat) sistem interaksi sosial dalam mencapai.

    2. Pendekatan keperilakuan (Behavioral Approach)

    Dalam pendekatan ini dapat dilihat pola tingkah laku pemimpin untuk mempenmgaruhi karyawannya. Perilaku pemimpin ini dapat berorientasi kepada tugas atau kepada hubungan antar karyawan. Menurut pendekatan ini, kepemimpinan terdiri atas empat sistem, yaitu:
    1. Exploitative authoritative, yaitu bercirikan tidak ada kepercayaan kepada bawahan. Pemimpin ini selalu menggunakan ancaman dan hukuman kepada karyawan.
    2. Benevolent authoritative, yaitu sedikit kepercayaan kepada bawahan tetapi hubungan seperti seorang tuan dengan budaknya dan masih mengguakan ancaman dan hukuman dalam pelaksnaan tugas. Komunikasi terjalin sedikit teapi tetap berdasarkan ketidakpercayaan.
    3. Consultative, yaitu berdasarkan kepercayaan kepada bawahan tetapi tidak penuh. Proses pengambilan keputusan untuk hal yang penting tetap berada ditangan pemimpin, tetap kepercayaan yang dibangun sudah merupakan dasar komunikasi.
    4. Partisipative, yaitu sistem yang ideal ada kepercayaan yang penuh dari atasan. Percaya diri dan kreativitas karyawan merupakan unsur penting. Komunikasi sangat terbuka, hubungan antar karyawan lancar dan suasana perusahaan sehat dan segar.

    KARAKTERISTIK PERSONAL DALAM KEPEMIMPNAN
    Banyak karakteristik personal muncul berhubungan dengan efektifitas manajerial. Kita akan melihat beberapa karakteristik personal yang utama yang secara signifikan menyumbangkan efektifitas kepemiminan. Karakteristik personal tersebut adalah kepandaian yang superior, kematangan emosi, dorongan motivasi, keterampilam mengatasi masalah, ekterampilan manajerial, keterampilan kepemimpinan dan keinginan untuk memimpin.
    • Kepandaian yang superior
                Menurut penelitian manajer yang efektif cenderung mempunyai kepandaian yang superior. Beberapa peneliti melaporkan intelligence quotient (IQ) pemimpin yang berhasi berada diantara 115-130. Namun demikian, harus  diingat, bahwa kecerdasan merupakan hal yang relatif.  Artinya, tidak setiap memimpin memiliki IQ tinggi, kepemimpinan bukan hanya persoalan kepandaian tetapi juga ditentukan oleh kemampuan di dalam membangun hubungan dan seni mempengaruhi orang ain.
    • Kematangan emosi
                Pemimpin yang berhasil adalah mereka yang mempunyai kematangan emosi. Mereka percaya diri dan mampu mengarahkan bawahannya dengan tenang dan menampilkan perilaku yang mendukung. Jika bawahan membuat kesalahan, pemimpin yang efektif mencoba mengunakan pengalaman untuk mengajari dan membimbing orang tersebut agar tidak terjadi kesalahan yang sama.
    • Dorongan motivasi
                Pemimpin yang efektif mempunyai dorongan (motivasi) yang tinggi. Motivasi bisa dipicu oleh beberapa hal, yaitu: Pertama, mereka tampaknya termotivasi oleh kesempatan untuk memperoleh kesempatan untuk memperoleh kekuasaan dan mengaktualisasikan dirinya. Kedua, mereka termotivasi karena meningkatnya pendapatan pribadi (penghasilan). Misalnya, dengan menjadi pemimpinan atau pimpinan maka akan menerima gaji lebih tinggi.
                 Pemimpin yang efektif seringkali mengukur kemajuannya dalam bentuk kuantitatif: berapa banyak uang dia hasilkan, berapa banyak promosi dia peroleh dan berapa banyak bawahan yang dia punya. Dalam banyak hal, pemimpin yang mempunyai motivasi tinggi akan mengembangkan bawahannya untuk mempunyai motivasi yang tinggi pula.
    • Keterampilan mengatasi masalah
                Pemimpin yang efektif mempunyai keterampilan menyelesaikan masalah yang sangat baik. Mereka melihat masalah sebagai sebuah tantangan dan kesempatan untuk menunjukan kemampuan manajerial mereka. Keterampilan ini berkaitan erat dengan dorongan (motivasi) yang tinggi dan bersedia menanggung resiko. Berani memimpin berarti berani menanggung resiko dan konsekuensi-konsekuensi lainnya.
    • Keterampilan manajerial
                Pemimpin yang efektif mempunyai keterampilan manajerial. Ada tiga tipe keterampilan manajerial: keterampilan teknis, keterampilan behubungan dengan manusia, dan keterampilan konseptual.
    1. Keterampilan teknis (technical skill) adalah pengetahuan tentang bagaimana sesuatu itu bekerja. Ini sangat penting untuk manajer tingkat terendah seperti penyelia (supervisor). Misalnya, seorang supervisor tidak hanya memiliki kemampuan mempengaruhi bawahanya, tetapi ia pun mempunyai kemampuan teknik seperti mengoperasikan mesin atau peralatan lainnya.
    2. Keterampilan berhubungan dengan manusia (Human skill) adalah pengetahuan tentang bagaimana berhubungan dengan manusia. Ini sangat penting untuk manajer tingkat menengah yang harus memimpin manajer lainnya. Tanpa pemahaman yang solid tentang area perilaku ini seperti komunikasi antar pribadi, motivasi, konseling, dan mengarahkan, manajer menengah tidak akan efektif dalam memimpin bawahannya.
    3. Keterampilan konseptual (conceptual skill) adalah pengetahuan tentang bagaimana semua bagian-bagian organisasi dan departemen cocok antara satu dengan yang lainnya (fit togrther). Keterampilan ini meliputi banyak kegiatan, dari memformulasikan tujuan-tujuan organisasi, kebijakan dan prosedur, mengembangkan teknik-teknik untuk menangani tata alir kerja (work flow), mengkoordinasikan yang tampaknya tidak terkait tetapi dapat membantu organissi beroperasi sebagai unti yang terintegrasi.
    • Keterampilan kepemimpinan
                Walaupun kepemimpinan yang efektif tergantung situasi, beberapa karakteristik personal tampaknya menyumbangkan keterampilan kepemimpinan terhadap manajer. Beberapa di antaranya berhubungan dengan tugas, sedangkan yang lain berhubungan dengan aspek sosial.
                Karakteristik yang berkaitan dengan tugas untuk pemimpin yang efektif sebagaimana diutarakan oleh Stogdill, di dalamnya berupa inisiatif, keinginan untuk berhasil, orientasi tugas, dorongan untuk tanggung jawab dan tanggung jawab dalam mengejar tujuam.
                Sedangkan beberapa karakteristik sosial dari pemimpin yang efektif adalah kemampuan administrasi, keterampilan interpersonal (menjalin hubungan aau komnikasi), fleksibilitas (tact) dan diplomasi, kemampuan untuk bekerjasama (cooperativeness) dan ketertarikan (attractiveness).
    • Keinginan untuk memimpin
                Supaya menjadi pemimpin yang efektif, seseorang harus berkeingan untuk memimpin, dan harus mau bertanggungjawab atas kedudukannya.

    PERILAKU KEPEMIMPINAN
    Sejauh ini paling tidak ada  4 (empat) gaya perilaku kepemimpinan, yaitu: otoritarian, paternalistik, partisipatif, dan laissez-faire.

    1. Kepemimpinan otoritarian

      Pemimpin yang menganut kepemimpinan otoritarian cenderung menekankan pada pekerjaan, dengan penekanan pada penyelesaian pekerjaan dan sedikit pada aspek manusia. Pemimpin seperti ini cocok dalam manajemen klasik dimana pekerja dipandang sebagai faktor produksi semata.

      2. Kepemimpinan paternalistik

        Pemimpin yang mempraktekan  kepemimpinan paternalistik adalah mereka yang menekankan pada pekerjaan, tetapi tidak seperti otoritarian, mereka mempunyai pertimbangan untuk pegawai.  Mereka cenderung menjaga pegawainya seperti “seorang ayah menjaga keluarganya”. Filosofi dasarnya adalah “kerja keras dan saya akan menjagamu”. Banyak manajer adalah manajer paternalistik yang percaya bahwa bawahan menginginkan seseorang menjaga mereka dan menyediakan keamanan kerja, program asuransi, program pensiun dan lain-lain.

        3. Kepemimpinan partisipatif

          Pemimpin yang mempunyai perhatian untuk manusia dan pekerjaan adalah kepemimpinan partisipatif. Mereka mendorong bawahan, mereka memainkan peran aktif dalam mengoperasikan perusahaan, tetapi mereka menahan diri untuk membuat keputusan final pada hal-hal yang penting. Singkatnya, mereka mendelegasikan wewenang tetapi tidak memberikan menurut keinginan bawahan. Ahli manajemen meyakini tidak seorang manajerpun  dapat melaksanakan secara efektif dalam batas waktu tertentu tanpa dukungan partisipasi pegawai.

          4. Kepemimpinan laissez-faire

            Laissez-faire adalah terminologi dalam bahasa Perancis yang artinya tanpa campur tangan (noninterference).  Model kepemimpinan ini, bawahan memainkan peran yang lebih besar. Jika seorang pemimpin terus dalam transisi ini, dia dekat sekali dalam posisi meberikan  posisi kepemimpinannya.  Dalam kepemimpinan ini, seorang pemimpin hanya mengecek sekali-kali untuk melihat bagaimana pekerjaan tersebut selesai dilakukan.

            PERILAKU KEPEMIMPINAN YANG UMUM
                          Untuk memahami kepemimpinan yang efektif penting bagi kita untuk menyadari beberapa hal yang dilakukan pemimpin yang efektif dalam mempengaruhi dan mengarahkan bawahannya, diantaranya adalah:
              1. Memotivasi bawahan untuk menjadi “self-leaders” dan memotivasi dan mengarahkan diri sendiri.
              2. Mendukung pegawai dan memberi bantuan dan pedoman yang diperlukan.
              3. Dapat mengambil keputusan.
              4. Tidak menjanjikan yang tidak dapat dipenuhi.
              5. Memuji orang di depan orang lain jika melakukan pekerjaan dengan baik dan memberi peringatan secara pribadi jika mereka membuat kesalahan.
              6. Jika memungkinkan, mempromosikan orang dalam.
              1. MODEL KEPEMIMPINAN KONTINGENSI
                          Gaya pemimpin apakah yang cocok dengan tiap situasi?  Jawabanya adalah kita perlu mencocokan gaya kepeimimpinan dengan tuntutan lingkungan. Untuk itu, mari kita melihat tiga pendekatan kontingensi: (1) Fiedler’s Contingency model, (2) Managerial Grid, dan (3) the Path-goal theory of leadership.
              1. Fiedler’s Contingency Model
                          Fiedler berpendapat bahwa kinerja kelompok ditentukan oleh sistem motivasi kepemimpinan  tetapi juga derajat dimana pemimpin dapat mengontrol dan mempengaruhi situasi. Untuk lebih mudah melakukan klasifikasi Fiedler dan kawan-kawan mengembangkan “the least preferred coworker scale” (skala teman sekerja yang paling sedikit disukai) / LPC.
                          Dengan menggunakan kuesioner yang meminta responden untuk mendiskripsikan dengan siapa dia bekerja sedikit lebih baik.  Manajer yang mempunyai LPC yang tinggi:
              1. Perseorangan cenderung berorientasi pada hubungan.
              2. Mendapatkan kepuasan yang tinggi dengan membangunhubungan personal yang dekat dengan anggota kelompok.
              Sedangkan manajer dengan LPC yang rendah mempunyai:
              1. Cenderung berorientasi kepada tugas, dan
              2. Mendapatkan banyak kepuasan dari penyelesaian pekerjaan, walaupun harus menghadapi resiko buruknya hubungan interpersonal dengan pegawai.
                          Sebagai tambahan dari LPC test, Fiedler juga mencari variable-variabel situasional yang dapat digunakan untuk menjelaskan situasi-situasi kelompok dan dia menemukan tiga:
              1. Hubungan pemimpin dan anggota sangat penting. Pemimpin yang dipercayai oleh bawahan dapat mempengaruhi kinerja kelompok apapun kedudukannya. Sebaliknya, pemimpin yang tidak dipercaya harus tergantung dari posisi power (kekuasaannya) untuk menyelesaikan pekerjaannya.
              2. Struktur tugas adalah tingkatan di mana tugas kepemimpinan diprogramkan sedemikian rupa dalam bentuk “step-by-step fashion”. Jika tugas terstruktur dengan baik, pemimpin tahu apa yang harus dilakukan, jika ada masalah organisasi akan membantu. Tetapi jika pekerjaan tidak terstruktur, tidak ada solusi yang tepat, dan pemimpin sangat tergantung pada hubungan personal untuk memaksa kelompok melakukan dengan caranya.
              3. Posisi power pemimpin adalah otoritas yang diberikan pada posisi pemimpin. Sebagai contoh, presiden mempunyai power yang lebih dari wakil presiden, dan kepala divisi mempunyai power lebih dari kepala unit.
                          Teori Fiedler menawarkan alternatif yang penting untuk memperbaiki hubungan manusia (human relations). Pertama, organisasi dan juga pemimpin bertanggungjawab untuk kesuksesan karena pemimpin bisa efektif dan tidak efektif tergantung pada situasi. Kedua, rekayasa pekerjaan agar cocok dengan pemimpin.  Rekomendasi ini didasarkan atas kenyataan bahwa lebih mudah lingkungan kerja seorang pemimpin daripada personalitas seorang pemimpin.
              1. The Managerial Grid
                          Pendekatan “grid” dikembangkan oleh Robert Blake dan Jane Mouton. Grid mempunyai dua dimensi yaitu kepedulian pada produksi dan kepedulian terhadap manusia:
              1. gaya manajerial adalah manajer dengan perhatian yang rendah untuk manusia dan pekerjaan.
              2. gaya manajerial dimana sorang pemimpin dengan perhatian yang tinggi untuk pekerjaan dan rendah untuk manusia.
              3. gaya manajerial adalah pemimpin dengan perhatian tinggi untuk manusia dan rendah untuk pekerjaan.
              4. gaya manajerial dimana pemimpin mempunyai kepedulian yang moderat baik untuk manusia dan pekerjaan.
              5. gaya manajerial adalah pemimpin dengan perhatian tinggi untuk manusia dan pekerjaan.
              1. Path-Goal Theory
                          Teori kepemimpin Path-Goal didasarkan atas teori pengharapan-motivasi dan kepedulian yang tinggi baik untuk manusia dan pekerjaan. Teori ini dikemukakan oleh Robert House, di dalamnya dapat disimpulkan sebagai berikut:
              1. Pemimpin dapat memperbaiki motivasi bawahan dengan membuat ganjaran (reward) untuk kinerjanya lebih menarik. Dengan memberikan kenaikan gaji, promosi, dan pengenalan, pemimpin dapat meningkatkan preferensi pegawai dengan kemajuan yang harus diraih.
              2. Jika tugas pegawai didefinisikan dengan buruk, pemimpin dapat meningkatkan motivasi dengan menyediakan pegawasan yang membantu , pelatihan, dan kejelasan tujuan.
              3. Jika pekerjaan bawahan sudah terstruktur dengan baik, misalnya dalam kasus pekerja assembling atatu masinis, pemimpin harus menahan diri untuk memperkenalkan struktur yang baru. Daripada mencemaskan pekerjaan, pemimpin harus lebih meluangkan waktu dengan memperhatikan kebutuhan pribadi dengan memberikan perhatian, pujian dan dukungan.
                          Dalam konteks human relations, teori ini mempunyai tiga manfaat utama yaitu: Pertama, ini membantu mengintegrasikan teori pengharapan dan kepemimpinan kontingensi. Kedua, ini menekankan ulang pentingnya pemimpin peduli akan pekerjaan dan manusia. Ketiga, ini mendorong pemimpin untuk menganalisa situasi untuk menentukan tingkatan yang tepat untuk – kepedeluian terhadap manusia dan pekerjaan.

              Sekian artikel tentang Pengertian dan Karakteristik Kepemimpinan dalam Manajemen. Semoga bermanfaat.

              Daftar Pustaka
              1. Hunsaker, Philip L. & Alessandra, Anthony J., The art of Managing People, Simon & Schuster Inc., New York, 1980.
              2. Hodgetts, Richard M., Modern Human Relations At Work, The Dryden Press Harcourt Brace Jovanovich, Fort Worth, TX, 1993.
              3. Effendy, Onong Uchjana. Human Relations & Public Relations dalam Manajemen. Alumni Bandung, 1993.

              Posting Komentar untuk "Pengertian dan Karakteristik Kepemimpinan dalam Manajemen"

              Klik gambar berikut untuk mengunduh artikel ini:

              Berlangganan via Email