Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Budaya Komunikasi Dalam Pendekatan Kultural Menurut Ahli

Budaya Komunikasi Dalam Pendekatan Kultural Menurut Ahli - Artikel ini akan menjelaskan berbagai teori budaya organisasi dalam bidang Ilmu Komunikasi. Melalui artikel ini diharapkan mampu memahami Teori Budaya Organisasi, Konsep-konsep penting Teori Budaya Organisasi, fenomena yang dapat dipahami dengan Teori Budaya Organisasi.

Budaya
    Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh.Budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas.
    Pada dasarnya manusia-manusia menciptakan budaya atau lingkungan sosial mereka sebagai suatu adaptasi terhadap lingkungan fisik dan biologis mereka.Kebiasaan-kebiasaan, praktik-praktik, dan tradisi-tradisi untuk terus hidup dan berkembang diwarisikan oleh suatu generasi ke generasi lainnya dalam suatu masyarakat tertentu.Pada gilirannya kelompok atau ras tersebut tidak menyadari dari mana asal warisan kebijaksanaan tersebut.

    Budaya juga merupakan pengetahuan yang dapat dikomunikasikan, sifat-sifat prilaku dipelajari yang juga ada pada anggota-anggota dalam suatu kelompok  sosial dan berwujud dalam lembaga-lembaga dan artefak-artefak mereka. E. B. Taylor, Bapak Antropologi budaya, mendefinisikan budaya sebagai “keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan atau kebiasaan-kebiasaan lain yang diperoleh anggota-anggota suatu masyarakat.

    Budaya Komunikasi Dalam Pendekatan Kultural Menurut Ahli_
    image source: networkingtimes.com
    baca juga: Aliran Informasi dan Teori Komunikasi Organisasi Menurut Para Ahli

    Budaya membuat kita memahami wilayah planet atau ruang yang kita tempati.Suatu tempat hanya asing bagi orang-orang asing, tidak bagi orang-orang yang menempatinya.Budaya memberikan kehidupan dengan memberikan solusi-solusi yang telah disiapkan untuk memecahkan masalah-masalah, dengan menetapkan pola-pola hubungan, dan cara-cara memelihara kohesi dan consensus kelompok. Banyak cara atau pendekatan yang berlainan untuk menganalisis dan mengkategorikan suatu budaya agar budaya tersebut lebih mudah dipahami.

    1.1 Budaya Komunikasi Dalam Pendekatan Kultural
      Dalam budaya komunikasi pendekatan kontemporer mengenai organisasi menganggap bahwa perusahaan harus dipandang sebagai satu kesatuan sosial atau kultur. Pandangan kultur melihatorganisasi dan para perkerjanya memiliki seperangkat nilai-nilai dan tujuan yang sama. Bagaimana pun juga, para perkerja akan menikmati pertumbuhan dan kemakmuran ini. Moral dan produktivitas pekerja oleh karenanya berkaitan erat satu sama lain. Keduannya tidak merupakan tujuan yang terpisah tetapi secara intergral berkaitan.

      Dalam pandangan cultural, komunikasi tidak hanya sekedar pesan yang dikirim dari satu anggota ke anggota lain melalui satu atau lebih saluran. Akan tetapi, komunikasi harus dilihat secara integral di dalam organisasi. (Devito, 1997:340-342)

      1.1.1 Dimensi Budaya Dalam Komunikasi Organisasi
        Dalam kenyataan masalah komunikasi senantiasa muncul dalam proses organisasi. Komunikasi memungkinkan orang untuk mengkoordinir kegiatan mereka untuk mencapai kegiatan bersama, tetapi komunikasi itu tidak hanya menyampaikan informasi atau mentransfer makna saja. Tetapi orang atau individu membentuk makna dan mengembangkan harapan  mengenai apa yang sedang terjadi di sekitar mereka dan antara mereka satu sama lain melalui pertukaran symbol.

        Dalam budaya komunikasi, komunikasi merupakan unsur pengingat berbagai bagian yang saling bergantung dari system budaya komunikasi itu. Tanpa komunikasi tidak akan ada aktivitas yang terorganisasi. Budaya komunikasi memungkinkan struktur organisasi berkembang dengan memberikan symbol-simbol kepada individu-individu yang terpisah untuk mengkoordinir aktivitas mereka sehingga tercapai satu budaya yang sama.

        1). Budaya Komunikasi Lisan dan Tulisan

        Banyak bentuk komunikasi dalam organisasi yang disampaikan secara lisan maupun tulisan. Karena sebagian besar interaksi manusia terjadi dalam bentuk ini, maka berbagai studi telah dilakukan untuk menilai manfaat dan effisiensi dari pesan yang disampaikan dengan cara ini. Analisa semacam ini biasanya berkisar pada keuntungan dan kerugian dari dua bentuk komunikasi ini.
        Banyak faktor yang menentukan pemilihan di antara kedua bentuk komunikasi lisan dan tulisan ini untuk digunakan dalam situasi tertentu. Pertimbangan waktu, biaya, ketepatan, preferensi pribadi, ketrampilan berkomunikasi individual, sumber-sumber daya yang tersedia, dan pertimbangan lain menjadi kriteria pengambilan keputusan dalam memilih apakah pesan-pesan akan disampaikan dalam bentuk lisan atau tertulis.

        2). Budaya Komunikasi Verbal dan Non Verbal

        Komunikasi verbal adalah komunikasi yang menggunakan simbol-simbol atau kata-kata, baik yang dinyatakan secara lisan maupun tulisan, komunikasi ini paling umum digunakan dalam organisasi. Komunikasi verbal merupakan karakteristik khusus dari manusia.
        Kemampuan menggunakan komunikasi verbal secara efektif adalah penting bagi administrator dan manajer. Dengan adanya komunikasi verbal memungkinkan pengidentifikasian tujuan, pengembangan strategi dan tingkah laku untuk mencapai tujuan. Komunikasi verbal dapat dibedakan atas komunikasi lisan dan komunikasi tulisan.

        Sedangkan komunikasi nonverbal adalah penciptaan dan pertukaran pesan dengan tidak menggunakan kata-kata seperti komunikasi yang menggunakan gerakan tubuh, sikap tubuh, vokal yang bukan kata-kata, kontak mata, ekspresi muka, kedekatan jarak dan sentuhan. Atau dapat juga dikatakan bahwa semua kejadian disekeliling situasi komunikasi yang tidak berhubungan dengan kata-kata yang diucapkan atau dituliskan. Dengan komunikasi nonverbal orang dapat mengekspresikan perasaannya melalui ekspresi wajah dan nada atau kecepatan bicara.

        Dalam organisasi jika dua orang berintreraksi, maka informasi mengenai perasaan dan gagasan-gagasan dan ide-ide yang timbul akan dikomunikasikan secara bersam-sama. Informasi mengenai perasaan seseorang, gagasan-gagasan dan ide-ide yang didapat akan di organisasikan secara bersama-sama sehingga tercapai satu tujuan yang sama.

        3). Budaya Komunikasi Satu Arah dan Dua Arah

        Sampai sejauh ini kita hanya membicarakan penggolongan komunikasi satu arah, yaitu dari pimpinan ke bawahan. Padahal setiap komunikasi dapat digolongkan menjadi komunikasi satu arah dan komunikasi dua arah baik dalam proses komunikasi lisan-tulisan, verbal-nonverbal.

        Komunikasi satu arah adalah komunikasi yang sangat cepat penyampaiannya, dan menghemat waktu juga biaya.Komunikasi satu arah ini menghilangkan kesempatan untuk memperoleh penjelasan dan konfirmasi. Jenis komunikasi ini hanya menekankan penyampaian pesan.

        Sedangkan komunikasi dua arah adalah komunikasi yang  sangat lambat dalam penyampaiannya, memakan banyak waktu, dan ada kemungkinan kurang effisien karena dapat memberikan kepuasan yang berlebihan kepada penerima pesan yang mempunyai kesempatan untuk memahami pesan yang dikirimkan sepenuhnya.

        Dalam suatu organisasi kedua jenis komunikasi ini berbeda dalam hal ada tidaknya kesempatan bagi atasan untuk memberi reaksi atau tanggapan terhadap ide-ide, gagasan, pesan-pesan atau informasi yang didapat dari  satu organisasi tersebut.
        1.1.2 Pendekatan Budaya Komunikasi
          Untuk dapat melihat budaya komunikasi yang terjadi dalam suatu organisasi akan dipaparkan beberapa pendekatan yaitu pendekatan makro, pendekatan mikro, pendekatan individual,  pendekatan ilmiah, pendekatan hubungan antarmanusia, dan pendekatan system. Masing-masing dari pendekatan ini akan dijelaskan sebagai berikut :

          1). Pendekatan Makro
          Dalam pendekatan makro organisasi dipandang sebagai suatu struktur global yang berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Dalam berinteraksi organisasi melakukan aktivitas tertentu seperti memproses informasi dari dalam organisasinya itu sendiri dan menentukan tujuan dari organisasi itu sendiri.

          2). Pendekatan Mikro
          Pendekatan ini terutama memfokuskan kepada komunikasi dalam unit dan subunit pada suatu organisasi.Di dalam komunikasi biasanya terdapat bermacam-macam kelompok sosial.Agar masing-masing kelompok ini dapat menyongsong pencapaian tujuan organisasi, pimpinan organisasi memberikan informasi mengenai tujuan organisasi dan penjelasan kaitannya dengan tujuan masing-masing kelompok sehingga masing-masing kelompok merasakan bahwa tujuan organisasi adalah tujuan mereka bersama.

          3). Pendekatan Individual (Perilaku)
          Pendekatan individual berpusat pada tingkah laku komunikasi individual dalam organisasi. Dalam pendekatan individual ini semua yang ada dalam masing-masing pendekatan sebelunya diselesaikan oleh komunikasi individual satu sama lainnya. Beberapa bentuk dari komunikasi individual ini diantaranya berbicara dalam kelompok kerja, berinteraksi dalam rapat, dan memperdebatkan suatu usulan.

          Terbentuknya perilaku dapat terjadi karena proses kematangan dan dari proses interaksi dengan lingkungan. Terbentuknya dan perubahan perilaku karena proses interaksi antara individu dengan lingkungan ini melalui suatu proses yakni proses belajar. Oleh sebab itu, perubahan perilaku dan proses belajar sangat erat kaitannya. Perubahan perilaku merupakan hasil dari proses belajar.

          Di dalam proses pembentukan dan atau perubahan perilaku dipengaruhi oleh beberapa faktor yang berasal dari dalam diri itu sendiri. Factor-faktor tersebut antara lain: susunan syaraf pusat, persepsi, motivasi, emosi, dan belajar.

          Persepsi adalah pengalaman yang dihasilkan melalui indera penglihatan, pendengaran, penciuman dan lain sebagainya.Sedangkan motivasi diartikan sebagai dorongan untuk bertindak untuk mencapai suatu tujuan tertentu.Hasil dari dorongan dan gerakan inilah yang diwujudkan dalam bentuk perilaku.
          Perilaku yang berlaku pada individu atau organisme tidak timbul dengan sendirinya. Tetapi sebagai akibat dari stimulus yang diterima oleh organisme yang bersangkutan. Baik itu stimulus eksternal maupun stimulus internal (Walgito, 1991).

          Perilaku dapat dioservasi, baik langsung seperti tertawa, minum dan lain sebagainya maupun secara tidak langsung seperti pikiran dan perasaan.

          Perilaku masyarakat terbentuk dari lingkungan dimana ia hidup. Perilaku ini berlangsung cukup lama dan mungkin pula hingga saat ini. Bahkan bisa saja perilaku yang sama turun temurun dari generasi ke generasi di masyarakat. Hal ini bisa menjadi kebudayaan suatu masyarakat suatu daerah.
          Dari sudut biologis, perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme yang bersangkutan, yang dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung. Perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme (makhluk hidup) yang bersangkutan. Oleh sebab itu, dari sudut pandang biologis semua makhluk hidup mulai dari tumbuh – tumbuhan, binatang sampai dengan manusia itu berperilaku, karena mereka mempunyai aktifitas masing – masing.

          Secara operasional, perilaku dapat diartikan sebagai suatu respons organisme atau seseorang terhadap rangsangan dari luar subjek tersebut (Soekidjo,1993).

          Skinner (1938) seorang ahli psikologi, merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut merespon, maka teori Skinner disebut teori “S-O-R”atau Stimulus – Organisme – Respon.

          Perilaku adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain : berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca, dan sebagainya. Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud perilaku manusia adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar (Notoatmodjo, 2003).     

          4). Pendekatan Ilmiah
          Pendekatan ilmiah ini hanya menganggap bahwa didalam organisasi hanya menggunakan metode-metode ilmiah untuk meningkatkan produktivitas. Pendekatan ini komunikasi dianggap sebagai pemberian perintah dan menjelaskan peosedur dan operasi.
          Teori manajemen ilmiah adalah bagian ketiga dari tiga bagian dasar dari teori klasik organisasi (Hick dan Gullett, 1975).Manajemen ilmiah berbagi dengan teori administrasi dan teori birokrasi yang menekankan pada sisi logika, perintah dan hirarki dalam organisasi. Seperti halnya dalam teori administrasi, di dalam manajemen ilmiah terdapat bias perbedaan pada praktek manajemennya. Fokus manajemen ilmiah lebih mikroskopis ketimbang fokus teori administrasi.Ketika teori administrasi menjelaskan cara-cara organisasi yang harus dibangun, manajemen ilmiah menjelaskan cara-cara spesifik dari tugas organisasi yang harus dibangun guna meningkatkan efisiensi pencapaian hasilnya.

          Pendukung yang paling berpengaruh dari teori manajemen ilmiah ini adalah Frederick Winslow Taylor.Insinyur mekanik Amerika yang menyatakan bahwa pengamatan ilmiah, analisis dan intervensi harus digunakan untuk meningkatkan cara-cara di mana tugas harus diselesaikan dalam organisasi industri.ia menaruh perhatian pada operasi yang tidak sistematis dari organisasi dalam dua dekade pertama abad dua puluh.

          Pengujian secara ilmiah bentuk pekerjaan organisasi yang spesifik menurut Taylor harus dirancang mulai dari tugasnya sehingga mampu meningkatkan efisiensi dan produktivitas.ketika langkah penyelesaian tugas telah ditentukan dengan benar, maka studi waktu dan gerak dapat dipakai untuk mengetahui tingkat optimal penyelesaian tugasnya. Dengan menentukan tingkat kinerjanya, Taylor mengatakan, bahwa insentif yang diterima bisa diberikan kepada para pekerja yang menunjukkan peningkatan. Ia memberikan penilaian penting bahwa “Waktu adalah uang.,” sehingga membangun semangat manajemen ilmiah (Cummings, Long, dan Lewis, 1983:74). Taylor berusaha mempengaruhi semua anggota organisasi untuk menerima keyakinan manajemen ilmiah untuk mempromosikan implementasinya. Dalam arti, Taylor telah mendukung “revolusi mental” menurut cara di mana aktivitas organisasi dapat dirumuskan dan dipraktekkan dengan benar.

          Demikian pula halnya dalam studi yang sekarang ini dilakukan di pabrik mesin Bethlehem Steel Corporation, Taylor kembali memperlihatkan kegunaan dari teknik manajemen ilmiah dalam meningkatkan produktivitas pekerja dan meningkatkan efisiensinya.

          Konsep manajemen ilmiah Taylor menekankan pentingnya struktur dan desain dalam penyelesaian tugas organisasi. Penelitiannya memberi andil bagi pengembangan tehnik manajemen dalam standarisasi kerja, perencanaan tugas, studi waktu dan gerak, piece rate, dan penghematan biaya dan terbentuknya bidang studi seperti pengawasan, tehnik industri, manajemen industri, dan manajemen personal.

          5). Pendekatan Hubungan Antarmanusia
          Pendekatan hubungan antarmanusia berkembang sebagai reaksi terhadap perhatian yang lebih terhadap faktor-faktor phisik dalam mengukur keberhasilan organisasi. Salah satu asumsi prinsip dari pendekatan hubungan antarmanusia adalah bahwa kenaikan kepuasan kerja akan mengakibatkan kenaikan produktivitas seorang karyawan yang bahagia adalah karyawan yang produktif.

          Teori organisasi human relation disebut juga teori hubungan kemanusiaan, teori hubungan antar manusia, teori hubungan kerja kemanusiaan, atau the human relation theory.Hubungan antar manusia dan hubungan kemanusiaan kedua-duanya merupakan terjemahan dari istilah bahasa inggris human relation. Hubungan antar manusia dengan hubungan kemanusiaan sesungguhnya mempunyai pengertian yang tak sama. Hubungan antar manusia merupakan antar pesonayang bersifat lahiriah saja, kurang memperhatikan aspek kejiwaan.Sehingga tidak memberikan kepuasan psikologis.

          Suatu hubungan dikatakan hubungan kemanusiaan, apabila hubungan tersebut dapat memberikan kesadaran dan pengertian. Sehingga pihak lain (yang menerima informasi) merasa puas. Pengertian hubungan kemanusiaan dapat dibedakan menjadi dua macam.Yaitu hubungan kemanusiaan dalam arti luas dan hubungan kemanusiaan dalam arti sempit. Dalam arti luas, hubungan kemanusiaan adalah hubungan antara seseorang dengan orang lain yang terjadi dalam segala situasi dan dalam semua bidang kegiatan atau kehidupan untuk mendapatkan kepuasan hati.

          Dalam arti sempit, hubungan kemanusiaan adalah hubungan antara seseorang dengan orang (orang-orang) lain dalam suatu organisasi atau kantor, yang bertujuan memberikan kepuasan hati para pegawai. Sehingga para pegawai mempunyai semangat kerja yang tinggi, kerjasama yang tinggi serta disiplin yang tinggi.

          Jadi, inti dari hubungan antar-manusia adalah hubungan yang bersifat lahiriah.Sedang hubungan kemanusiaan lebih bersifat psikologis.Teori organisasi hubungan kemanusiaan berangkat dari suatu anggapan bahwa dalam kenyataan sehari-hari organisasi merupakan hasil dari hubungan kemanusiaan (human relation).Teori ini beranggapan bahwa organisasi dapat diurus dengan baik dan dapat mencapai sasaran yang ditetapkan apabila didalam organisasi itu terdapat hubungan antar-pribadi yang serasi.Hubungan itu dapat berlangsung antara pimpinan dengan pimpinan yang setingkat, antara pimpinan dengan bawahan, antara bawahan dengan pimpinan, antara bawahan dengan bawahan.

          Tujuan dilaksanakannya human relation adalah untuk mendapatkan:1. Kepuasan psikologis para karyawan,2. Moral yang tinggi,3. Disiplin yang tinggi,4. Loyalitas yang tinggi,5. Motivasi yang tinggi. Apabila didalam organisasi ada kepuasan psikologis pada diri para anggota, ada moral, disiplin

          dan motivasi yang tinggi, maka organisasi akan dapat diurus dengan mudah dan dapat berjalan lancer menuju sasaran yang ditetapkan. Dari uraian tersebut diatas selanjutnya dapat diketahui bahwa teori organisasi human relations mengakui pentingnya hubungan antar pribadi yang harmonis,yakni hubungan yang didasarkan atas kerukunan, kekeluargaan, hormat-menghormati dan saling menghargai. Hanya dalam suasana yang demikian organisasi dapat diurus dengan baik dan dapat mencapai sasaran. Disamping itu, dalam teori organisasi human relation juga dikemukakan cara-cara yang harus ditempuh oleh pimpinan untuk meningkatkan kepuasan anggota organisasi.

          Untuk memberikan kepuasan kepada para anggota organisasi, pimpinan dapat menaruh perhatian terhadap berbagai macam kebutuhan mereka. Dengan memenuhi berbagai macam kebutuhan para anggota, baik kebutuhan ekonomi, non-ekonomi, kebutuhan sosial maupun kultural, maka kepuasan anggota organisasi pasti akan meningkat.

          6). Pendekatan Sistem
          Pendekatan sistem ini mengkombinasikan unsur-unsur terbaik dari pendekatan ilmiah dengan pendekatan antarmanusia. Pendekatan ini lebih memandang organisasi sebagai suatu system di mana semua bagian berinteraksi dan setiap bagian mempengaruhi bagian lainnya. Dalam pendekatan ini, komunikasi membuat sistem tersebut vital dan tetap hidup.

          Sudut pandang yang melihat suatu organisasi sebagai satu kesatuan unit yang memiliki suatu tujuan, seperti yang dianut oleh para ahli teori klasik dan neo-klasik, sering juga disebut dengan pendekatan goalistic.Pendekatan ini memusatkan perhatian pada pembagian kerja dalam pencapaian tujuan organisasi, pada prosedur kerja yang ditetapkan untuk mencapai tujuan itu, dsb.Analisisnya sangat ditandai oleh analisis alat-tujuan, serta penempatan rasionalitas yang mendasari bekerjanya berbagai aktivitas dalam organisasi. Pendekatan ini  mempunyai kelemahan  yang berkaitan dengan hubungan saling pengaruh antar elemen dalam organisasi, hubungan antara organisasi dengan lingkungan sekitarnya.

          Pendekatan yang lebih melihat hubungan antar elemen, baik yang ada di dalam organisasi, maupun dengan lingkungan sekitarnya yang tersusun dari elemen-elemen yang saling berhubungan.Oleh karena itu pendekatan ini sering dikatakan sebagai pendekatan yang sistematik. Pendekatan sistemik menaruh perhatian pada organisasi yang mempunyai tujuan, sebagai suatu sistem yang komplek, bahkan sistem kehidupan (living system), yang terdiri dari elemen-elemen yang saling terjadi hubungan dan proses yang terjadi dalam hubungan tersebut.

          Pendekatan ini memungkinkan para ahli melihat organisasi secara menyeluruh, baik hubungan antar elemen dalam organisasi maupun hubungan antara organisasi dengan lingkungan sekitarnya. Apabila ada yang hilang atau tidak berfungsi akan mengganggu sistem   itu sebagai keseluruhan.
          Sistem pada dasarnya memiliki beberapa karakteristik umum sebagai berikut
          1. Bagian dari sistem bersifat dinamis, berinteraksi satu sama lain, saling berhubungan, dan saling tergantung satu sama lain.
          2.  Suatu sistem dapat tersusun dari beberapa sub sistem, sub sistem dapat tersusun dari beberapa sub-sub sistem yang secara keseluruhan harus dilihat sebagai bagian dari sistem.
          3. Setiap sistem memiliki tujuan proses, norma, perangkat peran, struktur sendiri, dan pola-pola tertentu.
          4. Sistem pada dasarnya bersifat terbuka (open system) dengan ciri adanya masukan energi, keluaran, proses di dalam sistem, masukan informasi, umpan balik negatif.

          Melihat organisasi sebagai suatu sistem, di dalamnya terdapat minimal 3 sub sistem, yaitu:
          1. Sub sistem teknis yang menunjuk pada aspek formal. Sistem teknis terdiri dari aturan diberlakukan, distribusi wewenang dan tanggung jawab dilakukan, jenjang hirarki atas tugas-tugas disusun.
          2. Sub sistem sosial menunjuk pada aspek non formal. Sistem sosial terjadi karena terjadinya saling berinteraksi para karyawan, baik sejajar atau lintas hirarki, membentuk kelompok sosial yang sifatnya spontan.Kelompok sosial ini memiliki tujuan, peran, struktur maupun normanya sendiri.
          3. Sub sistem kekuasaan  menunjuk pada aspek non formal. Sub sistem kekuasaan terjadi karena tingkah laku orang dalam organisasi yang sangat bervariasi, ada yang lebih kuasa dari yang lain, ada yang mempunyai pengaruh lebih luas sehingga terjadi deferensiasi kekuasaan yang berdasar pada besar kecilnya kekuasaan yang dimiliki dalam organisasi dan menciptakan struktur kekuasaan dalam organsiasi.

          Menurut teori sistem, suatu sistem dapat dibagi 2 yaitu
          1. Sistem tertutup (closed system), merupakan suatu sistem yang beroperasi tanpa pengaruh lingkungan, contohnya pandangan para ahli teori klasik yang  memusatkan perhatiannya pada struktur formal dan peranan dari struktur formal.
          2. Sistem terbuka (open system), melihat adanya pengaruh timbal balik antara organisasi dengan lingkungannya dan menempatkan lingkungan sebagai faktor yang berpengaruh dan dipengaruhi oleh organisasi.

          Sekian artikel tentang Budaya Komunikasi Dalam Pendekatan Kultural Menurut Ahli. Semoga bermanfaat.

          Daftar Pustaka
          • Abddurachman Oemi, Dasar-dasar Publik Relations, Jakarta, 1999
          • Arni Muhammad, Komunikasi Organisasi, Bumi Aksara, Jakarta, 2002
          • Keith Davis dan John W. Newstrom, Perilaku Dalam Organisasi (7th Edition), Erlangga, Jakarta, 1993 
          • Wayne Pace and Don F. Faules, editor Deddy Mulyana, Komunikasi Organisasi, Rosda Karya, Bandung, 2006.
          • Smircich, Linda, Is the Concept of Culture a Paradigm for Understanding Organizations and Ourselves, dalam Organizational Culture, Peter J. Frost et al.ed. Beverly Hills, Calif: Sage, 1985.

          Posting Komentar untuk "Budaya Komunikasi Dalam Pendekatan Kultural Menurut Ahli"