Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Teori dan Model-Model Dasar Komunikasi Massa

Teori dan Model-Model Dasar Komunikasi Massa Menurut Para Ahli - Artikel ini akan membahas mengenai pengertian dan menyebutkan teori-teori komunikasi massa. Melalui artikel ini diharapkan mampu menjelaskan tren perkembangan ilmu komunikasi dan berbagai model atau pola dalam berkomunikasi.

Teori dan Model Komunikasi

Pada dasarnya, model adalah alat konseptual yang menghilangkan detail yang berlebihan dalam struktur atau proses yang ada. Mungkin digambarkan sebagai metode untuk menghilangkan benda atau kekuatan dari dunia nyata dan restrukturisasi mereka dengan cara simbolis yang cocok dengan dunia nyata. Sebuah model adalah representasi dari beberapa subjek penyelidikan.

Model yang dihasilkan kemudian digunakan untuk menggambarkan lebih jauh dampak dari peristiwa luar pada sistem tersebut dan tanggapan yang setiap sistem yang membuat mereka. Dengan cara ini kita menggunakan model-model dalam menggambarkan perilaku kelompok sosial, atau negara, atau bangsa, atau kenangan dan preferensi yang membentuk kepribadian individu. Dalam cara yang sama, kita menggunakan model dalam menggambarkan sistem logika, atau dalam menyatakan teori permainan, atau dalam menggambarkan perilaku susunan unsur – unsur  komunikasi.

Komponen dasar pembangun model komunikasi yang paling sering digunakan dalam desain  adalah pengirim atau sumber pesan, dan penerima atau tujuan pesan itu. Unsur-unsur lain sering dianggap adalah metode pengiriman pesan - media atau saluran, interferensi dengan transmisi yang tepat atau penerimaan pesan suara, efek pesan pada penerima - reaksi atau umpan balik, isyarat verbal dan / atau nonverbal mempengaruhi pesan, dan semesta yang terus berubah, peristiwa, dan orang-orang yang mengelilingi seluruh proses.

Teori dan Model-Model Dasar Komunikasi Massa Menurut Para Ahli_
image source: communicationtheory.org
baca juga: Budaya Komunikasi Dalam Pendekatan Kultural Menurut Ahli

Fokus biasanya ditempatkan pada apa penerima memandang dalam pesan dan bagaimana mereka bereaksi terhadap pesan itu, bukan dari apa yang benar-benar berpikir, berbicara, atau menulis untuk membantu pemahaman seorang manajer, model komunikasi juga harus menekankan kekuatan komunikasi, arus, pola , atau saluran, tujuan dari manajemen tingkat atas, dalam hal ini yaitu proses perubahan, selalu berinovasi, dan pertumbuhan dalam suatu organisasi.

1.2 Pengertian Komunikasi Massa

Yang dimaksud dengan komuniksi massa (Mass Communication) ialah komunikasi yang melalui media massa modern, yang meliputi surat kabar yang mempunyai sirkulasi yang luas, siaran radio dan televisi yang ditujukan kepada umum, dan film yang dipertunjukkan di gedung-gedung bioskop.Hal tersebut perlu dijelaskan oleh karena ada sementara  pakar diantaranya Everett M. Rogert, yang mengatakan bahwa selain media massa modern terdapat media massa tradisional yang meliputi teater rakyat, juru dongeng keliling, juru pantun dan lain-lain.

Lazimnya media massa modern menunjukkan seluruh sistem dimana pesan-pesan diproduksikan, dipilih, disiarkan diterima dan ditanggapi. Komunikasi massa menyiarkan informasi, gagasan dan sikap kepada komunikan yang beragam dalam jumlah yang banyak dengan menggunakan media.
Pelaksanaan komunikasi massa jauh lebih sukar dari pada komunikasi antarpribadi. Seorang komunikator yang menyampaikan pesan kepada ribuan pribadi yang berbeda pada saat yang sama, tidak akan bisa menyesuaikan harapannya untuk memperoleh tanggapan mereka secara pribadi.

Suatu pendekatan yang bisa merenggangkan kelompok lainnya. Seorang komunikator melalui media massa yang mahir adalah seorang yang berhasil menemukan metode yang tepat untuk menyiarkan pesannya guna membina empathy dengan jumlah terbanyak diantara komunikannya. Meskipun jumlah komunikan bisa mencapai jutaan, kontak yang fundamental adalah antara dua orang ; benak komunikator harus mengenai benak setiap komunikan. Komunikasi massa yang berhasil ialah kontak pribadi dengan pribadi yang di ulang ribuan kali secara serentak.

Seorang politikus dapat mecapai jauh lebih banyak komunikan dengan sekali uraian melalui televisi dari pada dengan jalan perlawatan mendatangi mereka seorang demi seorang; akan tetapi penggunaan komunikasi massa bisa menjadi gagal, jika komunikator tidak bisa memproyeksikan perasaan yang sama melalui media, yakni perasaan yang ia nyatakan melalui keramah-tamahan dan senyum menyenangkan.

Jadi ada dua tugas komunikator dalam komunikasi massa : mengetahui apa yang ia ingin komunikasikan, dan mengetahui bagaimana ia harus menyampaikan pesannya dalam rangka melancarkan penetrasi kepada benak komunikan. Sebuah pesan yang isinya lemah dan dengan lemah pula disampaikan kepada jutaan orang, bisa menimbulkan pengaruh yang kurang efektif sama sekali dibandingkan dengan pesan yang disampaikan dengan baik kepada komunikan yang jumlahnya kecil.

Komunikasi massa biasanya menghendaki organisasi resmi dan rumit untuk melakukan operasinya. Produksi surat kabar atau siaran televisi meliputi sumber pembiayaan dan karenanya juga pengawasan keuangan; ini memerlukan pekerjaan yang benar-benar mempunyai keahlian; jadi memerlukan manajemen yang baik; memerlukan juga pengawasan yang normatif yang erat hubungannya dengan orang luar yang mempunyai wewenang dan erat hubungannya dengan masyarakat. Dengan demikian maka harus ada orang yang bergerak dalam struktur yang menjamin kontinuitas dan kerja sama.

Syarat tersebut dipenuhi oleh organisasi yang resmi. Berhubung dengan itu, maka komunikasi massa harus di bedakan dengan komunikasi antarpribadi yang tidak resmi dan yang tidak berstruktur.
  • Karakteristik Komunikasi Massa
    • Komunikasi Massa bersifat Umum
Meskipun pesan komunikasi massa bersifat umum dan terbuka, sama sekali terbuka juga jarang diperoleh, disebabkan faktor yang bersifat paksaan yang timbul karena struktur sosial. Pengawasan terhadap faktor tersebut dapat dilakukan secara resmi sejauh bersangkutan dengan larangan dalam bentuk hukum.Terutama yang berhubungan dengan penyiaran ke luar negeri.
  • Komunikasi bersifat heterogen
Massa dalam komunikasi massa terjadi dari orang-orang yang heterogen yang meliputi penduduk yang bertempat tinggal dalam kondisi yang sangat berbeda, dengan kebudayaan yang beragam, berasal dari berbagai lapisan masyarakat mempunyai pekerjaan yang berjenis-jenis maka oleh karena itu mereka berbeda pula dalam kepentingan, standar hidup dan derajat kehormatan, kekuasaan, dan pengaruh.
  • Media massa menimbulkan keserempakan
Ada dua segi penting mengenai kontak yang langsung itu; pertama kecepatan yang lebih tinggi dari penyebaran dan kelangsungan tanggapan; kedua : keserempakan adalah penting untuk keseragaman dalam seleksi dan interpretasi pesan-pesan. Tanpa komunikasi massa, hanya pesan-pesan yang sangat sederhana saja yang disiarkan tanpa perubahan dari orang yang satu ke orang yang lain.
  • Hubungan Komunikator-komunikan bersifat non-pribadi
Komunikasi dengan menggunakan media massa berlaku daam satu arah (One way Communication), dan ratio output input komunikan sangat besar. Tetapi dalam hubungan komunikator komunikan itu terdapat mekanisme resmi yang dapat mengurangi ketidakpastian, terutama penelitian terhadap komunikan, korespondensi, dan bukti keuntungan dari penjualan (Siaran Komersial).
  • Model Dasar Komunikasi Massa
    • Model jarum hipodermik (hypodermic needle model)
Secara harfiah “hypodermic” berarti “dibawah kulit”. Dalam hubungannya dengan komunikasi massa istilah hypodermic needle model mengandung anggapan dasar bahwa media massa menimbulkan efek yang kuat, terarah, segera dan langsung itu adalah sejalan dengan pengertian “perangsang tanggapan (stimulus-response)” yang mulai dikenal sejak penelitian ilmujiwa pada tahun 1930-an.
Elihu katz mengatakan, bahwa model tersebut terdiri dari ;
  1. Media yang sangat ampuh yang mampu memasukkan idea pada benak yang tidak berdaya.
  2. Massa komunikan yang terpecah-pecah, yang terhubungkan dengan media massa, tetapi sebaiknya komunikan tidak terhubungkan satu sama lain.

  • Model Komunikasi satu tahap (One Step Flow Model)
Model komunikasi satu tahap ini menyatakan bahwa saluran media massa berkomunikasi langsung dengan assa komunikan tanpa berlalunya suatu pesan melalui orang lain, tetapi pesan tersebut tidak mencapai semua komuikan dan tidak menimbulkan efek yang sama pada setiap komunikan.Tetapi model satu tahap mengakui bahwa :
  1. Media tidak mempunyai kekuatan yang hebat.
  2. Aspek pilihan dari penampilan, penerimaan, dan penahanan dalam ingatan yang selektif mempengaruhi suatu pesan.
  3. untuk setiap komunikan terjadi efek yang berbeda


Model Komunikasi dua Tahap (two step flow model)
    Konsep komunikasi dua tahap ini berasal dari lazarsfeld, Berelson, dan Gaudet (1948) yang berdasarkan penelitiannya manyatakan bahwa idea-idea sering kali datang dari radio dan surat kabar yang ditangkap oleh pemuka pendapat (opinion leaders) dan dari mereka ini berlaku menuju penduduk yang kurang giat. Tahap pertama adalah dari sumbernya, yakni komunikator dari pemuka pendapat kepada pengikut-pengikutnya, yang juga menyangkut penyebaran pengaruh.
    Berlainan dengan model jarum hipodermik yang beranggapan, bahwa massa merupakan tubuh besar yang terdiri dari orang-orang yang tak berhubungan tetapi berkaitan kepada media, maka model dua tahap meliat massa sebagai perorangan yang berinteraksi. Ini menyebabkan penduduk terbawa kembali ke komunikasi massa.

    Model Komunikasi Tahap Ganda (Multi Step Flow Model)
      Model banyak tahap ini didasarkan pada fungsi penyebaran yang berurutan yang terjadi pada kebanyakan situasi komunikasi. Ini tidak mencakup jumlah tahap secara khusus, juga tidak khusus bahwa suatu pesan harus berlangsung dari komunikator melalui saluran media massa. Model ini menyatakan bahwa bagi lajunya komunikasi dari komunikaator kepada komunikan terdapat jumlah “relay” yang berganti-ganti. Beberapa komunikan menerima pesan langsung melalui saluran dari komuikator yang lainnya terpindahkan dari sumbernya beberapa kali. Jumlah tahap yang pasti dalam proses ini bergantung pada maksud tujuan komunikator, tersedianya media massa dengan kemampuannya untukk menyebarkannya, sifat dari pesan, dan nilai pentingnya pesan bagi komunikan.
      • FORMULA LASSWELL
      Seorang ahli ilmu politik Amerika Serikat pada tahun 1948 mengemukakansuatu ungkapan yang sangat terkenal dalam teori dan penelitian komunikasimassa. Ungkapan yang merupakan cara sederhana untuk memahami proseskomunikasi massa adalah dengan menjawab pertanyaan sebagai berikut :
      1. Siapa (Who),
      2. Berkata Apa (Says What),
      3. Melalui Saluran Apa (In Which Channel),
      4. Kepada Siapa (To Whom),
      5. Dengan Efek Apa? (With What Effect?).

      Meskipun sangat sederhana atau terlalu menyederhanakan suatufenomena komunikasi massa, telah membantu mengorganisasikan danmemberikan struktur pada kajian terhadap komunikasi massa. Selain dapatmenggambarkan komponen-komponen dalam proses komunikasi massa,Lasswell sendiri menggunakan formula ini untuk membedakan berbagai jenispenelitian komunikasi.

      Pendekatan Transmisional
        Teori tentang transmisi pesan ini pertama kali dikemukakan oleh seorang ahli matematika, Claude Shannon pada akhir tahun 40-an. Shannon yang bekerjapada biro penelitian perusahaan telepon Bell menerapkan pemikirannyaterutama untuk kepentingan telekomunikasi. Dia berangkat dari sejumlahpertanyaan yang menyangkut jenis saluran komunikasi apa yang dapatmengangkut muatan sinyal secara maksimum? Berapa banyak muatan sinyalyang ditransmisikan akan rusak oleh gangguan yang mungkin muncul, dalamperjalanannya menuju penerima sinyal?Pertanyaan ini pada dasarnya menyangkut bidang teori informasi.Meskipun demikian, teori yang dikembangkan Shannon bersama rekankerjanya Warren Weaver, dalam suatu bentuk model, telah digunakansebagai analogi oleh berbagai ilmuwan sosial.


        DeFleur menambahkan beberapa komponen dalam bagan ShannonWeaver untuk menggambarkan bagaimana sumber/komunikator mendapatkanumpan balik atau feedback, yang memberikan kemungkinan kepadakomunikator untuk dapat lebih efektif mengadaptasikan komunikasinya.Dengan demikian, kemungkinan untuk mencapai korespondensi/kesamaanmakna akan meningkat. Untuk menjelaskan teorinya, DeFleurmengungkapkannya dalam bagan diatas.

        Pendekatan Psikologi Sosial
          Fokus dari teori ini adalahkomunikasi antarkelompok dalam masyarakat yang berlangsung secarainteraktif dan dua arah.Pendekatan ini memandang sumber informasi, komunikator, dan penerima dalam suatu situasi komunikasi yang dinamis.Hubungan antara elemen-elemen tersebut dituangkan dalam bagan yang menyerupai layang-layang.


          Bagan tersebut menggambarkan bahwa 'elite' biasanya diartikan sebagaikekuatan politik yang ada dalam masyarakat. 'Peristiwa' atau topik/isu adalahperbincangan/ perdebatan mengenai suatu kejadian yang terjadi dalammasyarakat, di mana dari sini akan muncul berbagai informasi (sepertidigambarkan dengan deretan X). 'Publik' adalah kelompok/komunitas dalammasyarakat yang berkompeten dengan peristiwa yang diinformasikan dansekaligus sebagai audience dari media.Sementara itu 'media' mengacu padaunsur-unsur yang ada di dalam media, seperti wartawan, editor, reporter, dansebagainya.Garis yang menghubungkan berbagai elemen tersebut memilikisejumlah interpretasi.Dapat berupa hubungan, sikap, ataupun persepsi. Demikian pula arah dari garis tersebut dapat dianggap sebagai komunikasisearah ataupun dua arah.

          Stimulus Respons
            Prinsip stimulus-respons pada dasarnya merupakan suatu prinsip belajaryang sederhana, di mana efek merupakan reaksi terhadap stimuli tertentu.Dengan demikian seseorang dapat mengharapkan atau memperkirakan suatukaitan erat antara pesan-pesan media dan reaksi audience. Elemen-elemenutama dari teori ini adalah: (a) pesan (stimulus); (b) seorang penerima/receiver (organisme); dan (c) efek (respons).

            Asumsi yang mendasarinya:
            1. Gambaran mengenai suatu masyarakat modern yang merupakanagregasi dari  individu-individu yang relative  terisolasi (atomized) yang bertindak berdasarkan kepentingan pribadinya, yang tidak terlalu terpengaruh oleh kendala dan ikatan sosial.
            2. Suatu pandangan yangdominan mengenai media massa yang seolah-olah sedang melakukan kampanye untuk memobilisasi perilaku sesuaidengan tujuan dari berbagai kekuatan yang ada dalam masyarakat (biroiklan, pemerintah, parpol dan sebagainya).


            Komunikasi Dua Tahap dan Pengaruh Antarpribadi
              Teori ini berawal dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Paul Lazarsfelddan kawan-kawannya mengenai efek media massa dalam suatu kampanyepemilihan Presiden Amerika Serikat pada tahun 1940. Studi lersebut dilakukandengan asumsi bahwa proses stimulus respons bekerja dalam menghasilkan efek media massa. Namun hasil penelitian menunjukkan sebaliknya. Efekmedia massa ternyata rendah.


              Lazarsfeld kemudianmengajukan gagasan mengenai `komunikasi dua tahap' (two step flow) dankonsep `pemuka pendapat'. Temuan mereka mengenai kegagalan mediamassa dibandingkan dengan pengaruh kontak antarpribadi telah membawakepada gagasan bahwa `sering kali informasi mengalir dari radio dan suratkabar kepada para pemuka pendapat, dan dari mereka kepada orang-oranglain yang kurang aktif dalam masyarakat'.

              Teori dan penelitian-penelitian komunikasi dua tahap memiliki asumsi-asumsi sebagai berikut :
              1. Individu tidakterisolasi dari kehidupan sosial, tetapi merupakan anggotadari kelompok-kelompok sosial dalam berinteraksi dengan orang lain.
              2. Respons danreaksi terhadap pesan dari media tidak akan terjadi secaralangsung dan segera, tetapi melalui perantaraan dan dipengaruhi olehhubungan-hubungan sosial tersebut.
              3. Ada duaproses yang berlangsung, yang pertama mengenai penerimaandan perhatian, dan yang kedua berkaitan dengan respons dalam bentukpersetujuan atau penolakan terhadap upaya mempengaruhi ataupenyampaian informasi.
              4. Individu tidak bersikap sama terhadap pesan/kampanye media, melainkanmemiliki berbagai peran yang berbeda dalam proses komunikasi, dankhususnya, dapat dibagi atas mereka yang secara aktif menerima danmeneruskan/menyebarkan gagasan dari media, dan mereka yang semata-mata hanya mengandalkan hubungan personal dengan orang lain sebagaipanutannya.5.Individu-individu yang berperan lebih aktif (pemuka pendapat) ditandaioleh penggunaan media massa yang lebih besar, tingkat pergaulan yanglebih tinggi.

              1.5.0 Difusi Inovasi
              Teori ini berkaitan dengan komunikasimassa karena dalam berbagai situasi di mana efektivitas potensi perubahanyang berawal dari penelitian ilmiah dan kebijakan publik, harus diterapkan olehmasyarakat yang pada dasarnya berada di luar jangkauan langsung pusat-pusat inovasi atau kebijakan publik.

              Teori ini sangat menekankan pada sumber-sumber non-media (sumber personal, misalnya tetangga, teman, ahli, dansebagainya.), dan biasanya mengenai gagasan-gagasan baru yangdikampanyekan untuk mengubah perilaku melalui penyebaran informasi danupaya mempengaruhi motivasi dan sikap. Everett A Rogers dan Floyd G.Shoemaker (1973) merumuskan kembali teori ini dengan memberikan asumsibahwa sedikitnya ada 4 tahap dalam suatu proses difusi inovasi, yaitu:
              • Pengetahuan :  kesadaran individu akan adanya inovasi dan adanya pemahaman tertentu tentang bagaimana inovasi tersebut berfungsi.
              • Persuasi :  individu membentuk/memiliki sikap yang menyetujui atau tidak menyetujui inovasi tersebut.
              • Keputusan :  individu terlibat dalam aktivitas yang membawa pada suatu pilihan untuk mengadopsi atau menolak inovasi.
              • Konfirmasi :  individu akan mencari pendapat yang menguatkan keputusan yang telah diambilnya, namun dia dapat berubahdari keputusan yang telah diambil sebelumnya jika pesan mengenai inovasi yang diterimanya berlawanan satu dengan lainnya.

              1.5.1 Teori Agenda Setting

              Asumsi ini berhasil lolos dari keraguan yang ditujukan pada penelitian komunikasi massa yang menganggap media massa memiliki efek yang sangatkuat, terutama karena asumsi ini berkaitan dengan proses belajar dan bukan  dengan perubahan sikap atau pendapat. Studi empiris terhadap komunikasi massa telah mengonfirmasikan bahwa efek yang cenderung terjadi adalah dalam hal informasi.

              Teori Agenda-setting menawarkan suatu cara untuk menghubungkan temuan ini dengan kemungkinan terjadinya efek terhadap pendapat, karena pada dasarnya yang ditawarkan adalah suatu fungsi belajardari media massa. Orang belajar mengenai isu-isu apa, dan bagaimana isu-isutersebut disusun berdasarkan tingkat kepentingannya.Teoritisi utama agenda-setting adalah Maxwell McCombs dan DonaldShaw. Mereka menuliskan bahwa audience tidak hanya mempelajari berita-berita dan hal-hal lainnya melalui media massa, tetapi juga mempelajariseberapa besar arti penting diberikan pada suatu isu atau topik dari caramedia massa memberikan penekanan terhadap topik tersebut.

              Dasar pemikirannya adalah di antara berbagaitopik yang dimuat media massa, topik yang mendapat lebih banyak perhatiandari media akan menjadi lebih akrab bagi pembacanya dan akan dianggappenting dalam suatu periode waktu tertentu, dan akan terjadi sebaliknya bagitopik yang kurang mendapat perhatian media.

              Sekian artikel Modul Makalah tentang Teori dan Model-Model Dasar Komunikasi Massa Menurut Para Ahli. Semoga bermanfaat.

              Daftar Pustaka
              • Deddy Mulyana, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, Remaja Rosdakarya, Bandung 2000
              • Devito, Joseph A, 1977, Komunikasi Antar Manusia : Kuliah Dasar, Edisi V, Penterj, Agus Maulana, Profesional Books, Jakarta.
              • Effendy, Onong Uchjana, 2003,  Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi,  Citra Aditya Bakti, Bandung
              • ------, 1981, Dimensi - Dimensi Komunikasi,  Alumni, Bandung
              • Fisher, B. Aubrey, 1986, Teori-Teori Komunikasi, Penterj, Soejono Trimo, Remaja Karya, Bandung
              • Horton, Paul, B. dan Chester L. Hunt, 1989. Sosiologi, Alih Bahasa Aminudin Ram dan Tita Sobari, Erlangga, Bandung.
              • Kincaid, D. Lawrence & Wilbur Scramm. 1987. Asas-Asas Komunikasi Antar Manusia, Penterj Agus Stiadi, LP3ES-East west Communication Institute, Jakarta
              • Little, John. Stephen W. 1983, Theories of Human Communication. Second Edition. Wadworth Publishing Company. California.
              • Stephen W. Littlejohn Karen A. Foss, (Editors) Encyclopedia of Communication Theory, university of New Mexico SAGE Publications, Inc.2455 Teller Road Thousand Oaks, California 91320

              Posting Komentar untuk "Teori dan Model-Model Dasar Komunikasi Massa"