Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pengertian, Pola, dan Teori Modern Perubahan Sosial Menurut Para Ahli

Pengertian, Pola, dan Teori Modern Perubahan Sosial Menurut Para Ahli - Berbicara tentang perubahan sosial, kita membayangkan sesuatu yang terjadi setelah jangka waktu tertentu. Kita berurusan dengan perbedaan keadaan yang diamati antara sebelum dan sesudah jangka waktu tertentu. Jadi konsep dasar perubahan sosial mencakup tiga gagasan; yaitu (1) Perbedaan, (2) pada waktu berbeda dan (3) diantara keadaan system sosial yang sama. Sztompka mengutip pendapat Harley (1978) mendefinisikan perubahan sosial sebagai,” Perubahan sosial adalah setiap perubahan yang tidak terulang dari system sosial sebagai suatu kesatuan”.

Beberapa ahli lain berusaha mendefinisikan perubahan sosial, misalnya :

Mac Iver
Perubahan sosial adalah terjadinya perubahan dalam hubungan sosial (sosial relationships) atau sebagai perubahan terhadap keseimbangan (equilibrium)

Kingsley Davis
Perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat

Selo Soemardjan
Merumuskan segala perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi system sosialnya, termasuk didalamnya nilai-nilai sikap dan polsa prilaku diantara kelompok-kelompok dalam masyarakat.


Pengertian, Pola, dan Teori Modern Perubahan Sosial Menurut Para Ahli_
image source: www.socialchangecentral.com
baca juga: Pengertian Perubahan Sosial dan Ketidaksetaraan Sosial dalam Masyarakat

Pola Perubahan Sosial

Pola Linier
Menurut Etzioni-Halevy dan Etzioni (dalam Sunarto, 2000) perkembangan masyarakat mengikuti suatu pola yang pasti. Contoh yang diberikan Etzioni-Halevy dan Etzioni adalah karya Comte dan Spencer yang menyatakan bahwa kemajuan progresif peradaban manusia mengikuti suatu jalan yang alami, pasti, sama, dan tak terelakkan.

Teori ”Hukum Tiga Tahap” yang dikemukakan Comte menyatakan bahwa sejarah memperlihatkan adanya tiga tahap yang dilalui peradaban. Pada tahap pertama yang diberinya nama tahap Teologis dan Militer, Comte melihat bahwa semua hubungan sosial bersifat militer; masyarakat senantiasa bertujuan menundukkan masyarakat lain. Semua konsepsi teoritis dilandaskan pada pemikiran mengenai kekuatan-kekuatan adikodrati. Pengamatan dituntun oleh imajinasi; penelitian tidak dibenarkan.

Tahap ke dua, tahap Metafisik dan Yuridis, merupakan tahap antara yang menjembatani masyarakat militer dengan masyarakat industri. Pengamatan masih dikuasai imajinasi tetapi lambat laun semakin merubahnya dan menjadi dasar bagi penelitian.

Pada tahap ke tiga dan terakhir, tahap Ilmu Pengetahuan dan Industri, industri mendominasi hubungan sosial dan produksi menjadi tujuan utama masyarakat. Imajinasi telah digeser oleh pengamatan dan konsepsi-konsepsi teoritis telah bersifat positif.

Dari apa yang telah dikemukakan Comte tersebut—perubahan yang pasti, serupa, tak terelakkan, dapat kita lihat bahwa pandangannya mengenai perubahan sosial bersifat unilinear.

Pemikiran uniliniear kita jumpai pula dalam karya Spencer. Spencer mengemukakan bahwa struktur sosial berkembang secara evolusioner dari struktur yang homogen menjadi heterogen. Perubahan struktur berlangsung dengan diikuti perubahan fungsi. Suku yang sederhana bergerak maju secara evolusioner ke arah ukuran lebih besar, keterpaduan, kemajemukan, dan kepastian sehingga terjelma suatu bangsa yang beradab.


Pola Siklus
Pola Siklus menekankan bahwa masyarakat berkembang bagai roda: kadang di atas, kadang di bawah. Pandangan Etzioni-Halevy dan Etzioni memandang bahwa kebudayaan tumbuh, berkembang dan kemudian lenyap; ataupun laksana tahap perkembangan seorang manusia – melewati masa muda, masa dewasa, masa tua, dan akhirnya punah.

Pareto mengemukakan bahwa dalam tiap masyarakat terdapat dua lapisan. Lapisan bawah atau non-elite dan lapisan atas atau elite, yang terdiri atas kaum aristokrasi dan terbagi lagi dalam dua kelas: elite yang berkuasa dan elite yang tidak berkuasa. Menurut Pareto aristokrasi senantiasa akan mengalami transformasi; sejarah menunjukkan bahwa aristokrasi hanya dapat bertahan untuk jangka waktu tertentu saja dan akhirnya akan pudar untuk selanjutnya diganti oleh suatu aristokrasi baru yang berasal dari lapisan bawah. Sejarah, menurut Pareto, merupakan tempat pemakaman bagi aristokrasi. Aristokrasi yang menempuh segala upaya untuk mempertahankan kekuasaan akhirnya akan digulingkan melalui gerakan dengan disertai kekerasan atau revolusi. Pareto mengacu pada pengalaman kaum aristokrasi di Yunani, Romawi dan sebagainya.

Gabungan dari beberapa pola
Beberapa ahli melakukan penggabungan pola yang ada. Etzioni-Halevy dan Etzioni memberikan contoh tentang teori konflik Karl Marx. Pandangan Karl Marx menyatakan bahwa sejarah manusia merupakan sejarah perjuangan terus- menerus antara kelas-kelas dalam masyarakat sebenarnya mengandung benih pandangan siklus karena setelah suatu kelas berhasil menguasai kelas lain menurutnya siklus serupa akan berulang lagi. Ramalannya mengenai masyarakat komunis pun mengandung pemikiran siklis, karena masyarakat komunis yang didambakan Marx merupakan masyarakat yang menurut Marx pernah ada sebelum adanya feodalisme dan kapitalisme – masyarakat yang tidak mengenal pembagian kerja, yang di dalamnya konflik diganti dengan kerjasama. Namun dalam pemikiran Marx kita pun menjumpai pemikiran linear: menurutnya perkembangan pesat kapitalisme akan memicu konflik antara kaum buruh dengan kaum borjuis yang akan dimenangkan kaum buruh yang kemudian akan membentuk masyarakat komunis. Pandangan Marx mengenai perkembangan linear pun tercermin dari pandangannya bahwa negara jajahan Barat pun akan melalui proses yang telah dialami masyarakat Barat.

Etzioni-Halevy dan Etzioni memberi contoh lain pemikiran Max Weber yang dinilai mengandung pemikiran siklus yaitu pembedaannya antara tiga jenis wewenang: karismatis, rasional-legal dan tradisional. Weber melihat bahwa wewenang yang ada dalam masyarakat akan beralih-alih: wewenang kharismatis akan mengalami rutinitas sehingga beralih menjadi wewenang tradisional atau rasio-legal; kemudian akan muncul lagi wewenang kharismatis, yang diikuti dengan rutinisasi; dan seterusnya. Di lain pihak, Weber pun melihat adanya perkembangan linear dalam masyarakat, yaitu semakin meningkatnya rasionalitas.

Teori-teori modern Mengenai Perubahan Sosial

Teori-teori modern yang terkenal ialah, antara lain, teori-teori modernisasi para penganut pendekatan fugsionalisme seperti Neil J. Smelser dan Alex Inkeles, teori ketergantungan Andre Gunder Frank yang merupakan pendekatan konflik, dan teori mengenai sistem dunia dari Wallerstein.

Di antara teori-teori klasik dan teori-teori modern kita dapat menjumpai benang merah. Sebagaimana halnya dengan pandangan mengenai perkembangan masyarakat secara linear yang dikemukakan oleh tokoh klasik seperi Comte dan Spencer, maka teori-teori modernisasi pun cenderung melihat bahwa perkembangan masyarakat Dunia Ketiga berlangsung secara evolusioner dan linear dan bahwa masyarakat bergerak ke arah kemajuan--dari tradisi ke modernitas. Para penganut teori kontlik, di pihak lain, melihat bahwa perkembangan yang terjadi di Dunia Ketiga justru menuju ke keterbelakangan dan pada ketergantungan pada negara¬negara industri maju di Barat.

Teori modernisasi.
Teori modernisasi menganggap bahwa negara-negara terbelakang akan menempuh jalan sama dengan negara industri maju di Barat sehingga kemudian akan menjadi negara berkembang pula melalui proses modernisasi (lihat Light, Keller and Calhoun, 1989). Teori ini berpandangan bahwa masyarakat-masyarakat yang belum berkembang perlu mengatasi berbagai kekurangan dan masalahnya sehingga dapat mencapai tahap "tinggal landas" (take-offl ke arah perkembangan ekonomi. Menurut Etzioni-Halevy dan Etzioni transisi dari keadaan tradisional ke modernitas melibatkan revolusi demografi yang ditandai menurunnya angka kematian dan angka kelahiran; menurunnya ukuran dan pengaruh keluarga; terbukanya sisem stratifikasi; peralihan dari struktur feodal atau kesukuan ke suatu birokrasi; menurunnya pengaruh agama; beralihnya fungsi pendidikan dari keluarga dan komunitas ke sistem pendidikan formal; munculnya kebudayaan massa; dan munculnya perekonomian pasar dan industrialisasi (lihat Etzioni-Halevy dan Etzioni, 1973:177).

Teori ketergantungan.
Menurut teori ketergantungan (dependencia) yang didasarkan pada pengalaman negara-negara Amerika Latin ini (lihat antara lain, Giddens, 1989, dan Light, Keller and Calhoun, 1989) perkembangan dunia tidak merata; negara-negara industri menduduki posisi dominan sedangkan negara-negara Dunia Ketiga secara ekonomis tergantung padanya. Perkembangan negara-negara industri dan keterbelakangan negara-negara Dunia Ketiga, menurut teori ini, berjalan bersamaan: di kala negara-negara industri mengalami perkembangan, maka negara-negara Dunia Ketiga yang mengalami kolonialisme dan nco¬kolonialisme, khususnya di Amerika Latin, tidak mengalami "tinggal landas" tetapi justru menjadi semakin terkebelakang.

Teori sistem dunia.
Menurut teori yang dirumuskan Immanuel Wallerstein ini (lihat Giddens, 1989 dan Light, Keller dan Calhoun, 1989) perekonomian kapitalis dunia kini tersusun atas tiga jenjang: negara-negara inti, negara-negara semi-periferi, dan negara-negara periferi. Negara-negara inti terdiri atas negara-negara Eropa Barat yang sejak abad 16 mengawali proses industrialisasi dan berkembang pesat, sedangkan negara-negara semi-periferi merupakan negara-negara di Eropa Selatan yang menjalin hubungan dagang negara-negara inti dan secara ekonomis tidak berkembang. Negara-negara periferi merupakan kawasan Asia dan Afrika yang semula merupakan kawasan ekstern karena berada di luar jaringan perdagangan negata-negara inti tetapi kemudian melalui kolonisasi ditarik ke dalam sistem dunia. Kini negara-negara inti (yang kemudian mencakup pula Amerika Serikat dan Jepang) mendominasi sistem dunia sehingga mampu memanfaatkan sumber daya negara lain untuk kepentingan mereka sendiri, sedangkan kesenjangan yang berkembang antara negara-negara inti dengan negara-negara lain sudah sedemikian lebarnya sehingga tidak mungkin tersusul lagi.

Perubahan Sosial di Indonesia

Kontra antara masyarakat Barat dengan masyarakat pribumi yang telah mengakibatkan perubahan sosial pada masyarakat Asia Tenggara pun telah menarik pertahatian pada ilmuwan sosial. Kemajemukan masyarakat-masyarakat di Asia Tenggara telah memungkinkan munculnya berbagai konsep dan teori yang dilandaskan pada pengalaman khas berbagai masyarakat Asia Tenggara. Dalam bukunya Sosiology of South Change and Development, Hans-Dieter Event menyunting sejumlah tulisan ilmuwan sosial yang mencakup beberapa konsep dan teori diangkat dan pengalaman masyarakat Indonesia seperti konsep dual societies, plurral societies, dan involution (lihat Evenrs, 1980).

Dual societies.
Pada awal abad ini J. H. Boeke, seorang ahli ekonomi Belanda yang pernah bekerja di Indonesia mempertanyakan mengapa dalam masyarakat Barat kekuatan kapitalisme telah membawa peningkatan taraf hidup dan persatuan masyarakat, sedangkan dalam masyarakat Timur kapitalisme justru bersifat merusak. Dengan datangnya kapitalisme di masyarakat Timur ikatan-ikatan komunitas melemah, dan taraf hidup masyarakat menurun. Di Asia Tenggara sendiri lapisan atas masyarakat mengalami Westernisasi dan urbanisasi sedangkan sedangkan lapisan bwah menjadi semakin miskin (Sunarto).

Menurut Boeke, gejala ini disebabkan karena kapitalisme telah mengekibatkan terjadinya apa yang dinamakannya ekonomi dualistis (dua economy). Dalam suatu masyarakat dualistis, menurut Boeke, kita menjumpai sejumlah antitesis, yaitu pertentangan antara (1) faktor produksi pada masyarakat Barat yang bersifat dinamis dan pada masyarakat pribumi di pedesaan yang bersifat statis, (2) masyarakat perkotaan (yang terdiri atas masyarakat Barat) dengan masyarakat pedesaan (orang Timur), (3) ekonomi mesin (pada masyarakat Barat) dan didominasi kekuatan alam (pada masyarakat Timor), dan perekonomian produsen dan perekonomian konsumen.

Menurut Evenrs ciri dualistis pada perekonomian masyarakat kolonial maupun pasca-kolonial yang disebutkan Boeke, yaitu adanya masyarakat yang terbelakang yang hidup berdampingan dengan masyarakat yang maju memperoleh berbagai tanggapan. Sejumlah ilmuwan sosial mencoba mengembangkan pemikiran Boeke ini, sedangkan ilmuwan lain menolaknya. Evens sendiri mengecam Boeke karena cenderung mempersilahkan pribumi sendiri atas keterbelakangan mereka.

Plural societies.
Konsep masyarakat majemuk (plural societies) dipopulerkan oleh J. S Furnivall. Menurut Furnival,Indonesia (Hindia-Belanda) merupakan contoh suatu masyarakat majemuk. Dalam gambarannya masyarakat Indoensia terdiri atas sejumlah tatanan sosial yang hidup berdampingan tetapi tidak berbaur; namun menurutnya kelompok Eropa, Cina dan pribumi saling melekat laksana kembar siam dan akan hancur bilamana dipisahkan.

Menurut Evers konsep ini pun telah mendorong sejumlah ilmuwan sosial untuk menggunakannya, mengembangkannya, dan mengujinya pada masyarakat lain. Evers sendiri menilai bahwa baik Boeke maupun Furnivell menganut gambaran yang terlalu sederhana mengenai masyarakat Asia Tenggara.

Involution.
Dampak kapitalisme terhadap masyarakat pribumi dibahas Clifford Geertz dalam bukunya Agrcultural Involution (Involusi Pertanian; lihat Geertz, 1966). menurut Geertz kontak dengan kapitalisme Barat tidak menghasilkan perubahan secara evolusioner pada masyarakat pedesaan di Jawa, melainkan suatu proses yang dinamakannya involusi. Menurut Geertz penetrasi kapitalisme Barat terhadap sistem sawah di Jawa membawa kemakmuran di Barat tetapi mengakibatkan involusi terhadap sistem sawah di Jawa pedesaan. Ternyata kelebihan penduduk ini dapat diserap sawah melalui proses involusi, yaitu suatu kerumitan berlebihan yang semakin rinci yang memungkinkan tiap orang tetap menerima bagian dari panen meskipun bagiannya memang menjadi semakin mengecil.

Konsep Geertz ini pun digunakan sejumlah ilmuwan sosial lain—antara lain di bidang perkotaan sehingga kita mengenal pula konsep urban involution yang dipopulerkan oleh W. R. Amstrong dan Terry McGee (lihat Armmstrong dan McGee dalam Evers, 1980:220-234). Armstrong dan McGee mengaitkan konsep involusi dengan sistem pasar di daerah perkotaan Dunia ketiga, yang senantiasa mampu menyerap tenaga kerja. Evers (1974) lebih mengaitkan konsep involusi dengan perubahan struktural di daerah perkotaan; meskipun penduduk bertambah, namun kurang terjadi diferensiasi sosial.

Sekian artikel tentang Pengertian, Pola, dan Teori Modern Perubahan Sosial Menurut Para Ahli. Semoga bermanfaat.

Daftar Pustaka

  • Soekanto, Soerjono. 2012. Sosiologi: Suatu Pengantar: Jakarta: Rajawali Pers
  • Sunarto, Kamanto, 2000, Pengantar Sosiologi, Jakarta, Lembaga Penerbit, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
  • Sztompka, Piotr, 2004, Sosiologi Perubahan Sosial, Jakarta, Prenada, Terjemahan Alimandan
  • Lauer,H, Robert, 1989, Perspektif tentang perubahan Sosial, Jakarta, Bina Aksara, Terjemahan Alimandan
Sigmund Freud
Sigmund Freud Stimulate your passion!
Klik gambar berikut untuk mengunduh artikel ini:

Berlangganan via Email