Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pengertian dan Contoh Komunikasi Non Verbal dan Verbal

Pengertian dan Contoh Komunikasi Non Verbal dan Verbal - Public Speaking merupakah suatu ketrampilan berkomunikasi yang harus dimiliki oleh setiap orang, khususnya yang bekarya pada profesi Public Relations. Diharapkan dengan adanya artikel ini dapat  memahami dan bisa menerapkan ketrampilan public speaking dalam menjalankan profesinya.

1. Komunikasi NonVerbal

I. Pentingnya Komunikasi NonVerbal
Komunikasi nonverbal digunakan untuk mengekspresikan mengkomunikasikan pemikiran, perasaan dan emosi, untuk menciptakan dan mempertahankan hubungan  dan juga untuk memengaruhi orang lain.

II. Saluran-saluran Komunikasi
            Jenis saluran dasar komunikasi meliputi ekspresi wajah, tatapan mata, gerakan badan, bahasa tubuh, dan bentuk vokal, seperti, tinggi rendah suara, kecepatan berbicara dan intonasi.
  1. Wajah
Wajah merupakan saluran komunikasi yang paling ekspresif, khususnya untuk mengekspresikan emosi. Ekspresi emosi terjadi secara umum melalui perubahan pada mulut, alis, pipi, kerutan mata, pelebaran pupil mata, dan sejumlah serta arah tatapan.
  1. Badan
Ekspresi badan terjadi melaui gerakan lengan dan tangan, posisi berdiri (bersandar), posisi dari lengan dan kaki, dan posisi tubuh. Studi orientasi dan posisi badan dalam hubungannya dengan orang lain atau lingkungan fisik disebut proksemiks.
  1. Bahasa Tubuh
Bahasa tubuh yang memperjelas atau menggantikan pidato disebut ilustrator. Illustrator ini membantu mengkomunikasikan pesan dengan memberikan penjelasan visual-sebagai contoh, menunjuk sebuah objek.bahasa tubuh yang bisa menggantikan pidato dan mempunya makna verbal secara langsung disebut emblems.
  1. Suara
Suara, juga disebut saluran paralinguistik, mengekspreikan perasaan dan emosi melalui tinggi rendahnya suara, intonasi, kecepatan, ritme, jarak, dan volume.

Walaupun saluran-saluran ini dijabarkan secara terpisah, informasi dari saluran-saluran ini sangat menyeluruh untuk membentuk dan membuat kesan yang berbeda. Sebagai contoh, senyuman, tatapan langsung, badan yang condong ke depan, dan bunyi suara yang hangat, semuanya akan membuat orang tertarik dan suka. Tetapi tatapan langsung, dan badan yang condong ke depan tanpa sebuah senyuman dan suara yang hangat, keduanyan akan memperlihatkan dominasi dan intimidasi.

Pengertian dan Contoh Komunikasi NonVerbal dan Verbal_
tradeready.ca
baca juga:

III. Kemampuan Nonverbal

Kemampuan nonverbal merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan kemampuan individu untuk menggunakan komunikasi nonverbal secara efektif dan akurat. Kemampuan nonverbal sering diasosiasikan dengan karakteristik yang terdapat pada orang-orang seperti gender, kepribadian dan budaya. Secara umum, kemampuan nonverbal terkonseptualisasi dengan dua istilah turunan lainnya, yaitu : kemampuan encoding dan kemampuan decoding.
  1. Kemampuan penyandi (Encoding)
            Kemampuan penyandi (disebut juga ekspresivitas atau legibilitas) mengacu pada kemampuan untuk mengkomunikasikan emosi, perilaku dan pesan-pesan melalui tanda nonverbal sehingga pengamat dapat mengintepretasikan makna dari pesan seperti yang diinginkan oleh encoder. Sebagai contoh, seseorang yang mempunyai nilai tinggi dalam ketrampilan  ini  akan dapat  menyampaikan emosi , seperti empati, secara tepat  hanya dari nonverbal. Juga, semakin terampil si penyandi dinilai seperti dia berempati, dan dinilai hanya dari saluran nonverbalnya seperti wajah dan suara. Semakin tinggi ketrampilan penyandi, maka akan semakin popular dan dominan daripada penyandi yang kurang ketrampilannya.
  1. Kemampuan menyandi (Decoding)
Kemampuan menyandi mengacu pada kemampuan individu untuk menginterpretasikan komunikasi nonverbal dari orang lain. Orang yang mempunyai kemampuan menyandi lebih akurat menilai perilaku nonverbal. Mereka lebih pandai beradaptasi, demokratis secara interpersonal, lebih popular, dan dinilai oleh orang lain secara interpersonal lebih sensitif daripada orang yang ketrampilan menyandinya buruk. Kedua kemampuan penyandi dan menyandi sangat sangat berbeda-beda setiap orang. Kemampuan penyandi dan menyandi sangat tidak berhubungan; contoh, seseorang bisa sangat bagus pada satu hal tapi bukan lainnya. Secara umum, wanita merupakan penyandi yang sangat akurat dan sekaligus dalam menyandi komunikasi nonverbal daripada laki-laki.

  1. Faktor Nonkebahasaan sebagai Penunjang Keefektifan Berbicara
            Faktor-faktor yang termasuk faktor nonkebahasaan tersebut adalah: (1) sikap yang wajar, tenang, dan tidak kaku, (2) kontak mata atau pandangan harus diarahkan kepada lawan bicara, (3) kesediaan menghargai pendapat orang lain,  (4) gerak-gerik dan mimik yang tepat, (5) kenyaringan suara, (6) kelancaran, (7) relevansi atau penalaran, dan (8) penguasaan topik.

  1. Sikap yang wajar, tenang, dan tidak kaku
            Kesan pertama dalam berbicara dengan orang lain itu sangat menentukan keberhasilan dalam proses pembicaraan berikutnya. Untuk itu, dalam berbicara seorang pembicara dituntut untuk dapat bersikap yang wajar, tenang, dan tidak kaku.
Sikap dalam berbicara ini juga sangat bergantung pada situasi dan kondisi yang ada pada saat seseorang melakukan pembicaraan atau menyampaikan pesan dalam pidato. Dengan sikap yang wajar, tenang, dan tidak kaku dapat menambah kepercayaan pendengar kepada pembicara.
            Sikap wajar, tenang, dan tidak kaku akan timbul dalam praktik berbicara salah satunya disebabkan oleh penguasaan materi berbicara oleh pembicara. Kalau seorang pembicara tidak atau kurang siap dengan materi pembicaraan yang akan disampaikan maka akan timbul sikap-sikap yang kurang wajar dalam dirinya pada saat berbicara. Selain penguasaan terhadap materi pembicaraan, faktor lain yang perlu diperhatikan adalah kesiapan dan latihan yang cukup.

  1. Kontak mata atau pandangan harus diarahkan kepada lawan bicara
            Agar pembicaraan yang dilakukan dapat berhasil maka seorang pembicara harus selalu menjalin kontak pandang dengan audiensnya. Dengan kontak mata yang dilakukan, para pendengar akan merasa diperhatikan dan betul-betul diajak berkomunikasi.
            Pandangan mata atau kontak mata ini bagi pembicara pemula memang sangat menentukan. Apabila kontak mata yang dilakukan kurang berhasil atau pembicara kalah dalam kontak mata dengan pendengarnya, maka akan terjadi gangguan dalam proses bicara selanjutnya.
            Kontak mata dalam berbicara dimanfaatkan untuk  menjalin hubungan batin dengan lawan bicara atau audiens. Dalam berbicara, seorang pembicara dianjurkan untuk menatap orang yang diajak berbicara, sehingga terjadi kontak mata yang menimbulkan keakraban dan kehangatan dalam berbicara.
            Untuk itu, ketika memandang seseorang atau pendengar, kalau masih ragu dan khawatir, jangan memandang langsung matanya, tetapi pandanglah di atas matanya. Pandangan mata ini juga harus dilakukan secara menyeluruh, jangan hanya pada bagian pendengar tertentu saja. Akan lebih baik apabila sebelum berbicara khususnya di muka umum untuk menyapu pendengar dengan pandangan mata yang sejuk dan bersahabat.

  1. Kesediaan menghargai pendapat orang lain
            Dalam berbicara, seorang pembicara harus terbuka dan mau menerima pendapat orang lain. Apabila pendapat yang dikemukakan itu ada kekurangan atau kesalahannya, maka sebagai pembicara harus mau menerima pendapat dan koreksian dari pihak lain.
Tentu saja pendapat yang kita sampaikan tersebut harus disertai data dan argumentasi yang akurat dan dapat dipercaya. Dalam menerima pendapat orang lain, harus senantiasa dipertimbangkan dari berbagai hal terlebih dahulu, tidak semua saran dan pendapat harus diterima secara mutlak.

  1. Gerak-gerik dan mimik yang tepat
            Gerak gerik dan mimik yang tepat dalam sebuah pembicaraan dapat mendukung dan memperjelas isi pesan yang akan disampaikan. Akan tetapi gerak-gerik dan mimik ini akan menjadi gangguan dalam berbicara apabila dilakukan secara berlebihan.
Gerak-gerik dan mimik ini harus disesuaikan dengan pokok pembicaraan yang disampaikan. Mimik juga harus disesuai­kan dengan perasaan hati yang terkandung dalam isi pesan pembicaraan yang dilakukan.
            Gerak-gerik berkaitan dengan penggunaan anggota badan untuk memperjelas pesan yang akan disampaikan. Gerak-gerik dalam berbicara atau berkomunikasi antara lain adalah: anggukan dan gelengan kepala, mengangkat tangan, mengangkat bahu, menuding, mengangkat ibu jari, menuding, sikap berdiri, daan sebagainya.
            Mimik adalah ekspresi wajah yang berhubungan dengan perasaan yang terkandung dalam hati. Agar pembicaraan dapat menyenangkan usahakan mimik yang menarik dan memikat, salah satunya dengan banyak tersenyum.

  1. Kenyaringan suara
            Tingkat kenyaringan suara ini tentunya juga disesuaikan dengan situasi, jumlah pendengar, tempat, dan akustik. Yang penting, ketika berbicara, pendengar dapat menerima suara pembicara dengan jelas dan enak didengar di telinga. Suara yang digunakan tidak terlalu keras atau terlalu pelan. Ketika berbicara dengan mikrofon, maka jangan sampai mikrofon tersebut terlalu dekat dengan mulut, karena suara yang dihasilkannya akan kurang baik dan tidak nyaman didengarkan.



  1. Kelancaran
            Kelancaran dalam berbicara akan memudahkan pendengar dalam menerima atau menagkap isi pembicaraan. Apabila pembicara menguasai materi pembicaraan, maka dia akan dapat berbicara dengan lancar tanpa adanya gangguan dalam proses pembicaraannya.
Gangguan atau ketidaklancaran dalam pembicaraan biasanya diakibatkan oleh ketidakmampuan pembicara dalam menguasai materi pembicaraan yang akhirnya berakibat pada ketidakmampuan dalam menguasai pendengar.  Kalau orang tidak lancar dalam berbicara, maka yang akan dikeluarkan adalah suara-suara ee, oo, aa, dan sebagainya. Suara-suara seperti ini akan sangat mengganggu proses berbicara dan mempersulit pendengar untuk menangkap pokok pembicaraan, apalagi kalau frekuensi kemunculannya cukup banyak.

  1. Relevansi/Penalaran
            Gagasan demi gagasan haruslah berhubungan dengan logis. Proses berpikir untuk sampai pada suatu kesimpulan haruslah logis. Hal ini berarti hubungan bagian-bagian dalam kalimat, hubungan kalimat dengan kalimat harus logis dan berhubungan dengan pokok pembicaraan. Kalau   dalam pembicaraan seorang pembicara dapat memperhatikan relevansi atau penalaran dalam proses bicaranya maka akan diperoleh pembicaraan yang efektif.

  1. Penguasaan Topik atau Materi Pembicaraan
            Pembicaraan formal selalu menuntut persiapan. Tujuannyua supaya topik yang dipilih betul-betul dikuasai. Penguasaan topik pembica­raan ini sangat menentukan keberha­silan seseorang dalam berbicara. Penguasaan topik yang tidak sempurna akan sangat mempengaruhi kelancaran dalam berbicara, dan ketidaklan­caran berbicara akan sangat berpengaruh terhadap sikap dan mimik dalam berbicara.
Penguasaan topik yang baik akan menumbuhkan keberanian dan kelancaran dalam menyampaikan pembicaraan atau pesan. Jadi, penguasaan topik ini sangat penting, bahkan merupakan faktor utama dalam berbicara, tanpa adanya penguasaan topik yang baik, maka akan terjadi berbagai hambatan dan kesulitan dalam proses pembicaraan di depan audiens.
            Apabila seorang pembicara dapat menguasai topik pembicaraan dengan baik maka dia sudah memiliki modal untuk berbicara. Dengan penguasaan topik yang baik dan latihan yang cukup serta persiapan mental yang memadai akan dapat menentukan keberhasilan sebuah praaktik berbicara.

2. Komunikasi Verbal

            Komunikasi verbal adalah komunikasi yang menggunakan symbol-simbol verbal, baik secara lisan maupun tertulis. Symbol atau pesan verbal adalah semua jenis symbol yang menggunakan satu kata atau lebih. Hampir semua rangsangan bicara yang kita sadari termasuk kedalam kategori pesan verbal disengaja, yaitu usaha-usaha yang dilakukan secara sadaruntuk berhubungan dengan orang lain secara verbal.
            Komunikasi verbal ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut:
  1. Disampaikan secara lisan/bicara atau tulisan.
  2. Proses komunikasi eksplisit dan cenderung dua arah.
  3. Kualitas proses komunikasi seringkali ditentukan oleh komunikasi nonverbal.
Faktor-faktor yang memengaruhi kelancaran komunikasi verbal:
  1. Faktor Intelegensi
Orang yang intelegensinya rendah, biasanya kurang lancar dalam berbicara, karena kurang memiliki kekayaan perbendaharaan kata dan Bahasa yang baik. Cara berbicaranya terputus-putus, bahkan antara kata yang satu dengan lainnya, tidak/kurang memiliki relevansi. Sebaliknya dengan yang memiliki intelegensi tinggi
            Masalah komunikasi akan muncul apabila orang yang berintelegensi tinggi tidak mampu beradaptasi dengan orang yang berintelegensi rendah, misalnya dalam pemilihan penggunaan kata-kata.
  1. Faktor Budaya
Setiap budaya memiliki Bahasa yang berbeda-beda. Apabila orang yang berkomunikasi tetap mempertahankan bahasa daerahnya masing-masing, maka pembicaraan mereka tidak akan efektif. Akibatnya timbul kesalahpahaman atau komunikasi menjadi terhambat.
  1. Faktor Pengetahuan
Makin luas pengetahuan yang dimiliki seseorang makan akan semakin banyak perbendaharaan kata yang mendorong yang bersangkutan untuk berbicara lebih lancar. Apabila orang-orang yang berbeda pengetahuan saling berkomunikasi tanpa mengindahkan perbedaan pengetahuan di antara mereka, maka tidak akan terjadi komunikasi yang mengenakkan bagi mereka.
  1. Faktor Kepribadian
Orang yang memiliki sifat pemalu dan kurang pandai bergaul, biasanya kurang lancar dalam berbicara. Hal ini disebabkan ia tidak terbiasa berkomunikasi dengan orang lain. Ia tidak memiliki pengetahuan yang luas karena kurangnya pergaulan tersebut.
  1. Faktor Biologis
Kelumpuhan organ berbicara dapat menimbulkan kelainan-kelainan, seperti:
  • Sulit mengatakan kata desis (lipsing), karena ada kelainan pada rahang, bibir dan gigi.
  1. Berbicara tidak jelas (sluring), yang disebabkan bibir (sumbing), rahang, lidah tidak aktif.
  2. Faktor Pengalaman
Makin banyak pengalaman yang dimiliki seseorang, makin terbiasa ia menghadapi sesuatu. Orang yang sering menghadapi massa, berbicara di depan umum, akan lancar berbicara dalam keadaan apa pun dan dengan siapa pun.

Berbicara pada hakikatnya adalah sebuah proses komunikasi secara lisan antara pembicara dan lawan bicara. Menurut Tarigan (1990:15) berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan. Selanjutnya dijelaskan bahwa berbicara merupakan suatu sistem tanda-tanda yang dapat didengar (audible) dan yang kelihatan (visible) yang memanfaatkan sejumlah otot dan jaringan tubuh manusia demi maksud dan tujuan gagasan-gagasan atau ide-ide yang dikombinasi­kan. Berbicara juga merupakan suatu bentuk perilaku manusia yang me­man­fa­atkan faktor-faktor fisik, psikologis, neurologis, semantik, dan linguis­tik sedemikian ekstensif, secara luas sehingga dapat dianggap sebagai alat manusia yang paling penting bagi kontrol social.
Dalam berbicara atau berkomunikasi dengan pihak lain, diperlukan adanya beberapa hal atau unsur.  Beberapa unsur dalam proses berbicara atau proses berkomunikasi  tersebut adalah:
  1. pembicara
  2. lawan bicara (penyimak)
  3. lambang (bahasa lisan)
  4. pesan, maksud, gagasan, atau ide

Brook (dalam Tarigan, 1990:12) menggambarkan proses komunikasi tersebut dalam peristiwa bahasa sebagai berikut:
Gambar 1: Peristiwa Bahasa (Proses Komunikasi/Berbicara) (Brooks dalam Tarigan, 1990)
Gambar 1: Peristiwa Bahasa (Proses Komunikasi/Berbicara) (Brooks dalam Tarigan, 1990)

Menurut Tarigan (1990), tujuan utama dari berbicara adalah untuk berkomunikasi. Agar dapat menyampaikan pikiran secara efektif, maka seharusnya sang pembicara memahami makna segala sesuatu yang ingin dikomunikasikan, dia juga harus mampu mengevaluasi efek komunikasinya terhadap para pendengarnya, dan dia juga harus mengetahui prinsip-prinsip yang mendasari segala situasi pembicaraan, baik secara umum maupun perseorangan. Pada dasarnya, berbicara itu memiliki tiga maksud utama, yaitu:
  1. memberitahukan, melaporkan (to inform)
  2. menjamu, menghibur (to intertain)
  3. membujuk, mengajak, mendesak, meyakinkan (to persuade)
            Menurut Brooks (dalam Tarigan, 1990) ada beberapa prinsip umum dalam berbicara yang perlu mendapat perhatian dari orang yang akan melakukan pembicaraan. Beberapa prinsip umum yang mendasari kegiatan berbicara tersebut, antara lain adalah:
  1. Membutuhkan paling sedikit dua orang. Tentu saja pembicaraan dapat pula dilakukan oleh satu orang, dan hal ini juga sering terjadi di masyarakat.
  2. Mempergunakan suatu sandi linguistik yang dipahami bersama. Meskipun dalam praktik berbicara dipergunakan dua bahasa, namun saling pengertian, pemahaman bersama itu juga sangat penting.
  3. Menerima atau mengakui suatu daerah referensi umum.
  4. Merupakan suatu pertukaran antarpartisipan. Kedua belah pihak partisipan yang memberi dan menerima dalam pembicaraan saling bertukar sebagai pembicara dan penyimak.
  5. Menghubungkan setiap pembicara dengan yang lainnya dan kepada lingkungannya dengan segera. Perilaku lisan sang pembicara selalu berhubungan dengan responsi yang nyata atau yang diharapkan dari sang penyimak dan sebaliknya. Jadi, hubungan itu bersifat timbal balik atau dua arah.
  6. Berhubungan atau berkaitan dengan masa kini.
  7. Hanya melibatkan aparat atau perlengkapan yang berhubungan dengan suara atau bunyi bahasa dan pendengaran.
  8. Secara tidak pandang bulu menghadapi serta memperlakukan apa yang nyata dan apa yang diterima sebagai dalil. Keseluruhan lingkungan yang dapat dilambangkan oleh pembicaraan mencakup bukan hanya dunia nyata yang mengelilingi para pembicara tetapi juga secara tidak terbatas dunia gagasan yang lebih luas yang harus mereka masuki.

Faktor Kebahasaan sebagai Penunjang Keefektifan Berbicara
            Keefektifan berbicara seseorang sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor kebahasaan yang dikuasai olehnya. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah: ketepatan ucapan (tata bunyi), penempatan tekanan, nada, sendi, dan durasi yang sesuai, pilihan kata (diksi), dan kalimat efektif.

  1. Ketepatan Ucapan (Tata Bunyi)
            Seorang pembicara harus membiasakan diri mengucapkan bunyi-bunyi bahasa secara tepat. Pengucapan bunyi bahasa yang kurang tepat, dapat mengalihkan perhatian pendengar. Pengucapan bunyi bahasa yang kurang tepat atau cacat tersebut juga dapat menimbulkan kebosanan, kurang menyenangkan, atau kurang menarik. Pengucapan bunyi-bunyi bahasa dianggap cacat kalau menyimpang terlalu jauh dari ragam lisan biasa, sehingga terlalu menarik perhatian, mengganggu komunikasi, atau pemakainya (pembicara) dianggap aneh.
Sampai saat ini, bahasa Indonesia belum memiliki ucapan yang baku. Namun demikian, ucapan atau tata bunyi bahasa Indonesia yang dianggap baku adalah tata bunyi yang tidak terpengaruh oleh logat daerah atau dialek daerah tertentu. Seorang pembicara yang baik dituntut untuk dapat menciptakan efek emosional yang diinginkan dengan suaranya.  
            Pengucapan kata-kata harus jelas terdengar. Untuk itu, gerakan alat-alat ucap terutama lidah, bibir, dan gigi harus leluasa. Gerakan yang tertahan akan mengakibatkan suara yang keluar tidak normal, sehingga kurang jelas terdengar. Demikian juga, volume suara harus pas, jangan terlalu lemah dan jangan terlalu keras. Kalau menggunakan pengeras suara, volumenya harus diatur sesuai dengan luasnya ruang dan banyaknya peserta.
Dalam hubungannya dengan olah suara atau tata bunyi ini, Pringgawidagda (2003: 9) menyampaikan hal-hal yang harus diperhatikan, berikut :
  1. Logat baku tidak bercampur dengan dialek tak baku.
  2. Lafal harus jelas dan tegas
  3. Nafas yang kuat agar dapat menguraikan kalimat yang cukup panjang atau tidak terputus dalam wicara.
  4. Tempo (cepat lambat suara) dan dinamik (intonasi, tekanan, aksen) suara.
  5. Penghayatan, berbicara memerlukan penjiwaan agar sesuai dengan tuntutan situasi dan kondisi.
Pengucapan bunyi-bunyi bahasa yang tidak tepat akan menimbul­kan kebosanan, kurang menyenangkan atau kurang menarik atau sedikitnya dapat mengalihkan perhatian pendengar.

  1. Penempatan Tekanan, Nada, Sendi, dan Durasi yang Sesuai
Kesesuaian penempatan atau penggunaan tekanan, nada, sendi, atau tempo dan durasi akan menjadi daya tarik tersendiri bagi pendengar. Bahkan kadang-kadang merupakan faktor penentu. Kesalahan dalam penempatan hal-hal tersebut berakibat pada kurang jelasnya isi dan pesan pembicaraan yang ingin disampaikan kepada lawan bicara. Jika penyampaian materi pembicaraan datar saja, hampir dapat dipastikan akan menimbulkan kejenuhan dan keefektifan berbicara tentu berkurang.
Sebaliknya, kalau dalam berbicara seorang pembicara dapat menggu­nakan hal-hal tersebut secara benar, maka pembicaraan yang dilakukannya akan berhasil dalam menarik perhatian pendengar dan akhirnya pendengar menjadi senang, tertarik dan akan terus mengikuti pembicaraan yang disampaikannya.
 Tekanan berhubungan dengan keras lemahnya suara, nada berhubungan dengan tinggi-rendahnya suara, sendi atau tempo berhubungan dengan cepat-lambatnya berbicara, dan durasi atau jeda menyangkut perhentian. Keempat hal itu harus dapat dipadukan secara serasi untuk memperoleh intonasi yang baik dan menarik.

  1. Pilihan Kata (Diksi)
            Variasi  pemakaian bahasa dipengaruhi oleh situasi pembicaraan. Bentuk variasi itu dapat dilihat lewat perwujudan lafal, ejaan, pilihan kata, dan tata kalimat.  Faktor penting yang berpengaruh terhadap pilihan kata adalah sikap pembicara, yakni sikap yang berkenaan dengan umur dan kedudukan lawan bicara yang dituju, permasalahan yang disampaikan, dan tujuan informasinya.
Dalam berbicara, pilihan kata yang dilakukan hendaknya yang tepat, jelas, dan bervariasi. Jelas maksudnya mudah dimengerti oleh pendengar yang menjadi sasaran. Pilihan kata dalam sebuah pembica­raan juga harus disesuaikan dengan pokok pembicaraan dan dengan siapa kita berbicara atau berkomunikasi. Komunikasi akan berjalan lancar dan baik apabila  kata-kata yang digunakan oleh pembicara dapat dipahami oleh pendengar dengan baik.
            Dalam hal pemilihan kata ini, Glenn R. Capp dan Richard Capp, Jr. (dalam Rachmat, 1999: 47-52) menyatakan bahwa bahasa lisan (termasuk pidato) harus menggunakan kata-kata yang jelas, tepat, dan menarik.
            Menggunakan kata-kata yang jelas maksudnya bahwa kata-kata yang digunakan dalam menyampaikan pesan kepada para pendengar tidak boleh menimbulkan arti ganda dan tetap dapat mengungkapkan gagasan secara cermat. Untuk mencapai kejelasan tersebut, pembicara harus memperhatikan hal-hal berikut:
  1. Gunakan istilah yang spesifik (tertentu)
  2. Gunakan kata-kata yang sederhana
  3. Hindari istilah-istilah teknis
  4. Berhemat dalam penggunaan kata-kata
  5. Gunakan perulangan atau pernyataan kembali gagasan yang sama dengan pernyataan yang berbeda.

Penggunaan kata-kata yang tepat berarti bahwa kata-kata yang digunakan harus sesuai dengan kepribadian komuniukator, jenis pesan, keadaan khalayak, dan situasi komunikasi. Penggunaan kata-kata dalam pidato pertemuan resmi akan berbeda dengan kata-kata yang digunakan dalam pidato pertemuan tidak resmi atau informal. Untuk memperoleh ketepatan dalam penggunaan kata-kata, pembicara perlu memperhatikan prinsip-prinsip berikut:
  1. Hindari kata-kata klise
  2. Gunakan bahasa pasaran secara hati-hati
  3. Hati-hati dalam penggunaan kata-kata pungut
  4. Hindari vulgarisme dan kata-kata yang tidak sopan
  5. Jangan menggunakan penjulukan
  6. Jangan menggunakan eufemisme yang berlebih-lebihan.
 Selain harus tepat dan jelas, kata-kata yang digunakan oleh seorang pembicara juga harus menarik, harus menimbulkan kesan yang kuat, hidup, menarik perhatian para pendengarnya. Untuk dapat menggunakan kata-kata yang menarik, pembicara harus memperhatikan hal-hal berikut:
  1. Pilihlah kata-kata yang menyentuh langsung diri khalayak. Bahasa lisan sebaiknya bergaya percakapan, langsung, dan komunikatif.
  2. Gunakan kata berona, yaitu kata-kata yang dapat melukiskan sikap dan perasaan, atau keadaan. Warna kata biasanya dipengaruhi oleh asosiasi dengan pengalaman tertentu.
  3. Gunakan bahasa yang figuratif, yaitu bahasa yang dibentuk sedemikian rupa sehingga menimbulkan kesan yang indah. Untuk itu biasanya digunakan gaya bahasa. Gaya bahasa yang paling sering dipergunakan adalah asosiasi, metafora, personifikasi, dan antitesis.
  4. Gunakan kata-kata tindak (action words), dengan cara menggunakan kata-kata aktif.

  1. Kalimat Efektif
            Berbicara pada hakikatnya adalah menyampaikan kalimat-kalimat. Kalimat terdiri dari kata-kata yang mengandung pengertian. Setiap gagasan, pikiran, konsep, ataupun perasaan seseorang pada dasarnya akan disampaikan kepada orang lain dalam bentuk kalimat-kalimat.  Segala pesan yang ingin disampaikan oleh seorang pembicara akan dapat diterima dengan baik oleh pendengarnya apabila disampaikan dengan kalimat-kalimat yang benar, baik, dan tepat.
            Kalimat yang benar adalah kalimat yang memenuhi persyaratan gramatikal, yaitu harus disusun berdasarkan kaidah yang berlaku. Kalimat yang baik adalah kalimat yang sesuai dengan konteks dan situasi yang berlaku. Kalimat yang tepat adalah kalimat yang dibangun dari pilihan kata yang tepat, disusun menurut kaidah yang benar, dan digunakan dalam situasi yang tepat pula. Kalimat yang benar dan jelas yang dapat dengan mudah dipahami pendengar sesuai dengan maksud pembicara disebut kalimat efektif.
Pesan yang disampaikan dalam sebuah pembicaraan akan dapat dengan segera dipahami maksudnya apabila digunakan kalimat efektif dalam pembicaraan itu. Kalimat efektif memiliki ciri-ciri keutuhan, perpaut­an, pemusatan perhatian, dan kehematan.
            Ciri keutuhan dalam kalimat efektif akan terlihat jika setiap kata yang dipergunakan memang betul-betul merupakan bagian yang padu dalam  suatu kalimat. Keutuhan kalimat juga ditunjukkan dengan adanya subjek dan predikat dalam kalimat tersebut. Perpautan, berhubungan dengan hubungan antara unsur-unsur kalimat. Pemusatan perhatian pada bagian ter­pen­ting dalam kalimat dapat dicapai dengan menempatkan bagian pen­ting tersebut pada awal atau akhir kalimat, sehingga bagian ini mendapat tekanan sewaktu berbicara. Selain itu, kalimat efektif juga harus hemat dalam pemakaian kata-kata ataupun frase .
            Kalimat bisa menarik kalau ada variasi. Variasi kalimat dapat dibentuk melalui perpaduan panjang-pendek, letak SPOK, aktif-pasif, berita-tanya-perintah, dan pilihan kata.  Oleh karena itu, seorang pembi­cara perlu melengkapi dirinya dengan pengetahuan tentang pola kalimat dasar dan jenis kalimat. Dengan bekal itu seorang pembicara dapat menyusun kalimat-kalimat efektif yang menarik dan mempesona.

Sekian artikel tentang Pengertian dan Contoh Komunikasi Non Verbal dan Verbal. Semoga bermanfaat.

Daftar Pustaka
  • De Vito, Joseph A. (1994), The Public Speaking Guide. New York: Harper College.
  • Helena Olli, Public speaking , PT Indeks, Jakarta, 2007
  • Herlina, Ilmu Pernyataan, Psikologi UPI
  • Lini ambady dan Robert Rosenthal, Nonverbal Communication, Harvard University
  • Susanto, Astrid (1975), Pendapat Umum, Bandung, Binacipta
  • Tarigan, Henry Guntur. 1990. Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa.            Cetakan ke-6.
  • Rakhmat, Jalaluddin (2000, cetakan ke 6) Retorika Modern,Pendekatan Praktis. Bandung. Remaja Rosdakarya.
  • Prochnow, Herbert V (1987), Penuntun menuju sukses dam berpidato, Bandung, CV Pionir
Sigmund Freud
Sigmund Freud Stimulate your passion!
Klik gambar berikut untuk mengunduh artikel ini:

Berlangganan via Email