Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Memahami Ragam Teknik-Teknik Dalam Konseling

Memahami Ragam Teknik-Teknik Dalam Konseling - Kali ini kita akan membahas tentang teknik-teknik yang biasa digunakan oleh konselor dengan kliennya. Dalam artikel ini kamu akan diperkenalkan ragam teknik konseling. Semoga melalui artikel ini, Anda mampu memahami teknik-teknik dalam konseling.

Macam-Macam Teknik Dalam Konseling

1. Melayani (Attending)
Carkhuff (1983) menyatakan bahwa melayani klien secara pribadi merupakan upaya yang dilakukan konselor dalam memberikan perhatian secara total kepada klien. Hal ini ditampilkan melalui sikap tubuh dan ekspresi wajah.

2. Empati
Empati sangat erat kaitannya dengan attending. Empati dapat diartikan sebagai kemampuan konselor untuk dapat merasakan dan menempatkan dirinya di posisi klien. Ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh konselor sebelum merespon pernyataan klien. Pertama konselor harus memerhatikan postur klien dan ekspresi wajahnya. Konselor harus mendengarkan hati-hati apa yang dikatakan oleh klien . dan yang lebih penting adalah konselor harus dapat memahami perasaan yang dieksprsikan oleh klien.

Contoh:

Klien : saya merasa sedih sekali karena setiap pria yang menikahi saya selalu memutuskan untuk menceraikan saya
Konselor : ehmmm…saya dapat memahami perasaan anda saat ini…

3. Refleksi
Refleksi merupakan upaya konselor untuk memperoleh informasi lebih mendalam tentang apa yang dirasakan oleh klien dengan cara memantulkan kembali perasaan, pikiran dan pengalaman klien.

Ciri-ciri respons refleksi adalah:
  • Tidak menilai (nonjudgemental)
  • Reflesi akurat dari apa yang dialami oleh pihak yang lain
  • Ringkas 
  • 3 Jenis refleksi:
    a. Refleksi perasaan: mencerminkan kembali perasaan yang disampaikan oleh klien
    Contoh:
    Klien : saya begitu yakin akan menamatkan sekolah pada usia sekrang. Tetapi saya gagal menyelesaikannya. Saya merasa bodoh.
    Konselor : Jadi, kegagalan itulah yang menyebabkan anda merasa bodoh? 
  • b. Refleksi Arti: apabila perasaan dan fakta dicampurkan dalam suatu respons yang akurat, hal ini disebut sebagai refleksi makna.
    Contoh:
    Klien: Ibu saya terus menerus bertanya tentang kehidupan saya. Saya tidak ingin dia melakukan hal itu.
    Konselor: anda merasa jengkel karena dia tidak merespek privasi anda.
  • c. Refleksi Sumatif: Diungkapkan kembali secara asingkat tema dan perasaan utama yang diekpresikan klien selama durasi percakapan yang lebih lama dari pada yang terliput oleh bentuk refleksi yang lain.
    Contoh:
    “tema yang selalu anda ulangi seperti adalah…”
    “Marilah kita melakukan rekapitulasi dari apa yang sudah kita bicarakan sejauh ini…”
    “ Saya memikirkan apa yang anda katakan. Saya melihat suatu pola dan saya ingin mengeceknya. Anda…” 
4. Eksplorasi
Eksplorasi: keterampilan konselor untuk menggali perasana, pengalaman, dan pikiran klien. Teknik eksplorasi memungkinkan klien untuk bebas berbicara tanpa rasa takut, tertekan dan terancam.

Ada 3 jenis eksplorasi:

a. Eksplorasi perasaan: keterampilan untuk menggali perasaan klien yang tersimpan. Konselor dapat menggunakan kalimat-kalimat berikut untuk memulai keterampilan eksplorasi perasaan.
Contoh:
Bisakah saudara menjelaskan bagaimana perasaan bingung yang anda maksudkan?
Saya kira, rasa sedih anda begitu dalam pada peristiwa tersebut. Dapatkan anda kemukakan perasaan anda lebih jauh?

b. Eksplorasi pengalaman: keterampilan konselor untuk menggali pengalaman yang dialami klien

Contoh:

“saya terkesan dengan penglaman yang anda lalui. Namun saya ingin memahami lebih jauh tentang pengalaman tersebut dan pengaruhnya terhadap pendidikan anda”

c. Eksplorasi pikiran: keterampilan konselor untuk menggali ide, pikiran, dan pendapat klien.

Contoh:

“ Saya yakin anda dapat menjelaskan lebih jauh tentang apa pendapat anda tentang hadirnya ibu tiri dalam rumah anda”

“Saya kira, pendapat anda mengenai hal itu sangat baik sekail, dapatkah anda menguraikannya lebih lanjur.”

Ragam Teknik-Teknik Dalam Konseling_
image source: goodsamaritanministries.org

5. Menangkap Pesan Utama (Paraphrasing)
Adakalanya klien mengalami kesulitan untuk menyampaikan permasalahannya secara jelas dan terus terang kepada konselor. Untuk itulah diperlukan kemampuan konselor untuk dapat menangkap pesan utama yang disampaikan oleh klien. Hal ini sangat penting dan diperlukan karena terkadang klien mengemukakan perasaan, pikiran dan pengalamannya secara berbelit-belit, berputar-putar, atau terlalu panjang. Intinya adalah konselor dapat menyampaikan kembali inti pernyataan klien secara lebih sederhana. Pada dasarnya, ada empat tujuan utama dari teknik paraphrasing yaitu:
  • Untuk mengatakan kembali kepada klien bahwa konselor bersama dia, dan berusaha untuk memahami apa yang dikatakan klien
  • Mengendapkan apa yang dikemukakan klien secara lebih ringkas
  • Memberikan arah wawancara konseling
  • Pengecekan kembali persepsi konselor tentang apa yang dikemukakan klien
Contoh:

“adakah yang anda maksudkan adalah…”

“nampaknya yang anda katakan adalah…”

6. Bertanya untuk membuka percakapan (open question)
Pertanyaan –pertanyaan terbuka (open question) sangat diperlukan untuk memunculkan pernyataan-pernyataan baru dari klien. Untuk memulai bertanya sebaiknya jangan menggunakan kata “mengapa” dan “apa sebabnya”. Sebaiknya gunakanlah kata-kata berikut untuk mengalami pertanyaan: apakah, bagaimanakah, adakah, bolehkah, atau dapatkah.
Contoh:

bagaimana perasaan ibu ketika melihat dia benar-benar kecanduan obat terlarang itu?

“usaha apa yang telah ibu lakukan untuk mengatasi ketergantungan pada obat terlarang itu?”

7. Bertanya Tertutup (close question)
Pertanyaan tertutup adalah bentuk-bentuk pertanyaan yang sering dijawab dengan singkat oleh klien, seperti “ya” atau “tidak”. Adapun tujuannya adalah: (1). Untuk mengumpulkan informasi (2) untuk menjernihkan atau memperjelas sesuatu, dan (3) menghentikan omongan klien yang melantur atau menyimpang jauh.

8. Dorongan Minimal (Minimal Encouragement)
Upaya utama seorang konselor adalah agar kliennya selalu terlibat dalam pembicaraan dan membuka dirinya (self-disclosing) pada konselor. Dorongan ini diucapkan dengan kata-kata singkat seperti oh…ya..terus…lalu…dan… tujuannya adalah membuat klien semakin semangat untuk menyampaikan masalahnya dan mengarahkan pembicaraan agar mencapai sasaran dan tujuan konseling. Contoh:

Klien : “saya kehilangan segalanya. Orangtuaku…huhuhu…”

Konselor : “terus…”

9. Interpretasi
Dalam interpretasi, seorang konselor harus menggunakan teori-teori konseling dan menyesuaikannya dengan permasalahan klien. Hal ini dilakukan untuk menghindari adanya subjektivitas dalam hubungna konseling. Adapun tujuan utama teknik ini adalah untuk memberikan rujukan dan pandangan atas perilaku klien agar klien mengerti dan berubah melalui pemahaman dan hasil rujukan baru tersebut.

Contoh:

Klien : saya pikir lebih baik saya mati saja, tidak ada gunanya lagi saya hidup, semua orang mengucilkan saya.

Konselor : hidup ini membutuhkan keberanian kita untuk menjalaninya. Kalau anda berpikir anda telah dikucilkan oleh semua orang, itu tidak benar. Anda sendirilah yang membuat anda terkucil melalui pemikiran anda yang seperti itu. Jika saja anda berani menghadapi kenyataan bahwa anda menyesal atas perbutan anda, dan anda yakin anda ingin berubah lebih baik, inilah saatnya anda membuktikannya pada semua orang. Bukankah begitu?

10. Mengarahkan (Directing)
Konselor harus memiliki kemampuan ini agar dapat mengajak klien berpartisipasi secara penuh dalam proses konseling. Inti dari tujuan tersebut adalah agar klien bersedia melakukan sesuatu, misalnya menyuruh klien untuk bermain peran dengan konselor, atau mengkhayalkan sesuatu. Contoh:

Klien : “suami saya sering mengucapkan kata-kata kasar dan kotor pada saya. Itu membuat saya tersakiti”

Konselor : “bisakah anda memperagakannya di hadapan saya bagaimana cara suami anda ketika dia memarahi anda”

11. Menyimpulkan sementara (Summarizing)
Hasil percakapan antara konselor dank lien hendaknya disimpulkan sementara oleh konselor untuk memberikan gambaran kilas balik (feedback) atas hal-hal yang telah dibicarakan sehingga klien dapat menyimpulkan kemajuan hasil pembicaraan secara bertahap, meningkatkan kualitas diskusi, dan mempertajam atau memperjelas focus pada wawancara konseling. Contoh:

Konselor: “setelah kita berdiskusi beberapa waktu, alangkah baiknya jika kita simpulkan dahulu agar jelas hasil pembicaraannya yang telah kita lalui. Dari materi pembicaraan yang kita diskusikan, kita sudah sampai kepada dua hal: pertama, tekad anda untuk bekerja sambil kuliah makin jelas; kedua, namun hambtan yang akan anda hadapi, seperti yang anda kemukakan tadi, ada beberapa yaitu:sikap orangtua yang menginginkan anda segera menyelesaikan studi, dan waktu bekerja yang penuh sebagaimana dituntut oleh perusahaan yang akan anda masuki. Benarkah demikian?

12. Memimpin (Leading)
— Memimpin adalah keterampilan konselor dalam memimpin percakapan agar tidak menyimpang dari permasalahan sehingga tujuan konseling yang utama dapat tercapai sesuai sasarannya.

Contoh:

Klien: “saya memang tidak lagi menyukainya. Itu mungkin salah…tapi bagaiman bila saya bekerja di tempat yang jauh? Yah…walaupun sebenarnya saya jugai ngin menikah dalam waktu dekat”

Konselor: “bagaiman kalau kita membicarakannya satu persatu dahulu. Tadi anda katakan bahwa anda tidak lagi mencintainya. Mengapa anda tidak menyintainya lagi?

13. Konfrontasi
Konfrontasi adalah teknik konseling yang menantang klien untuk melihat adanya diskrepansi atau inkonsistensi antara perkataan dan bahasa tubuh, ide awal dengan ide berikutnya, senyum dengan kepedihan dan sebagainya.

Tujuan dari teknik adalah:
  • Mendorong klien mengadakan penelitian diri secara jujur 
  • Meningkatkan potensi klien 
  • Membawa klien kepada kesadaran adanya diskrepansi, konflik atau kontradiksi dalam diri 
Pemberian komentar harus konsisten dan tepat waktu, tidak menyalahkan atau menghakimi, dilakukan dengan attending dan empati

—Contoh:

Klien: sebenarnya dia tidak menyakiti saya (wajah murung, tangan digenggam, ekspresi sedih)

Konselor: anda mengatakan bahwa dia tidak menyakiti anda, tapi mengapa saya melihat wajah anda begitu sedih ketika mengatakan itu?

14. Menjernihkan
Ketika klien kurang jelas atau samar-samar dalam menyampaikan permasalahannya, maka tugas konselor melakukanklarifikasi untuk memperjelas apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh klien
Contoh:

Klien: “saya tidak mengerti siapa sebenarnya yang harus saya ikuti? Ayah atau ibu saya?”

Konselor: “ Bisakah anda sampaikan kepada saya, siapakah di antara mereka berdua yang selalu mengambil kepututsan dalam keluarga anda”

Contoh:

Klien : ” Perubahan yang terjadi dalam kehidupan dari lajang ke menikah terkadang membuat saya bingung. Saya tidak mengerti siapa yang menjadi pemimpin di rumah itu.” (klien wanita pencari nafkah tunggal)

— Konselor : ”Bisakah Anda menjelaskan persoalan pokoknya ? Misalnya pembagian tugas antara anda dan suami anda?.”

15. Memudahkan (Facilitating)
Suatu keterampilan membuka komunikasi agar klien dengan mudah berbicara dengan konselor danm enyatakan perasaan, pikiran, dan pengalamannya secara bebas. Sehingga komunikasi dan pertisipasi meningkat dan proses konseling berjalan efektif.

Klien: “saya yakin anda akan berbicara apa adanya, karena saya akan mendengarkan dengan sebaik-baiknya.”

16. Diam
Alasan konselor melakukan ini dapat dikarenakan konselor yang menunggu klien berpikir, perilaku attending dan empati.

Diam itu bukan berarti tidak ada komunikasi akan tetapi komunikasi non-verbal. Yang ideal, diam lebih kurang 5-10 detik dan selebihnya dapat diganti dengan dorongan minima

17. Mengambil inisiatif
Konselor juga harus dapat mengambil inisiatif apabila klien kurang bersemangat untuk berbicara, sering diam, dan kurang pertisipatif. Konselor mengucapkan kata-kata yang mengajak klien untuk berinisiatif dalam menuntaskan diskusi. Selain itu, inisiatif juga diperlukan apabila klien kehilangan arah pembicaraannya.

Contoh:

Bukankah sebelumnya anda mengatakan ingin segera menyelesaikan masalah anda. Tetapi mengapa sekarang anda lebih banyak diam…apa yang menjadi…?

18. Memberi Nasehat
Pemberian nasehat sebaiknya diberikan jika klien memintanya. Walau demikian, konselor tetap harus mempertimbangkannya, apakah pantas untuk member nasihat atau tidak.

Contoh: seperti yang kita ketahui, anda adalah orang yang paling mengetahui bagaimana bersikap lebih baik kepada suami anda sendiri. Apakah anda merasa saya pantas untuk memberikan pandangan kepada anda?”

19. Memberikan Informasi
Dalam hal informasi yang diminta klien, sama halnya dengan pemberian nasihat. Jika konselor tidak memiliki informasi sebaiknya dengan jujur katakan bahwa konselor tidak mengetahui hal itu. Akan tetapi, jika konselor mengetahui informasi, sebaiknya upayakan agar klien tetap mengusahakannya.

Contoh:

Konselor: “sebelumnya saya mohon maaf, kalau anda menanyakan tentang cara pengobatan diabete, saya sama sekali tidak mengetahui obatnya. Bagaimana bila anda menanyakannya langsung kepada dokter anda”

20. Merencanakan
Tahap perencanaan di sini maksudnya adalah membicarakan kepada klien hal-hal apa yang akan menjadi program atau aksi nyata dari hasil konseling. Tujuannya adalah menjadikan klien produktif setelah mengikuti konseling.

Contoh:

“Proses konseling ini telah berakhir, lalu renana apakah yang akan anda lakukan setelah ini…”

20. Menyimpulkan
Bersamaan dengna berakhirnya sesi konseling, maka sebaiknya konselor menyimpulkan hasil pembicaraan secara keseluruhan yang menyangkut tentang pikiran, perasaan klien sebelum dan setelah mengikuti proses konseling. Selain itu bantulah klien untuk memantapkan rencana-rencana yang telah disusunnya.

Posting Komentar untuk "Memahami Ragam Teknik-Teknik Dalam Konseling"

Klik gambar berikut untuk mengunduh artikel ini:

Berlangganan via Email