Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Definisi, Skema, dan Aspek-Aspek Kognisi Sosial

Definisi, Skema, dan Aspek-Aspek Kognisi Sosial - Membuat penilaian sosial adalah lebih sulit daripada yang kita bayangkan. Seringkali informasi-informasi yang tersedia tidak lengkap, bersifat ambigu atau bertentangan satu sama lain. Kita berusaha membentuk penilaian atas kehidupan social secara nonbias dan jernih, namun kenyataannya menunjukkan bahwa kognisi social sering memuat kekeliruan dan bias.

DEFINISI KOGNISI SOSIAL

Menurut Baron and Byrne (2003) kognisi social adalah adalah cara kita menginterpretasi, menganalisis, mengingat dan menggunakan informasi tentang dunia sosial. Sedangkan Taylor dkk (2009) mengemukakakn bahwa kognisi social merupakaan studi tentang bagaimana orang menarik kesimpulan dan memberi penilaian dari informasi social.

Sehingga bisa disimpulkan bahwa kognisi social berkaitan dengan bagaimana cara kita berpikir tentang dunia sosial, bagaimana cara kita mencoba untuk memahaminya dan bagaimana cara kita memahami diri kita dan tempat kita di dalam dunia itu.

Kognisi sosial kita berfungsi secara “otomatis”: cepat, tanpa usaha dan tanpa penalaran yang cermat atau logis, karena telah ada skema yang membimbing kita.

Definisi, Skema, dan Aspek-Aspek Kognisi Sosial_
image source: www.ruhr-uni-bochum.de

SKEMA

Dalam kognisi social ada istilah skema yaitu kerangka mental yg berpusat pada tema-tema spesifik yg membantu kita utk mengorganisasikan dan menggunakan informasi social. Menurut Taylor (2009) skema merupakan seperangkat tatanan struktur pengetahuan atau pemahaman mengenai beberapa konsep atau stimulus. Skema berisi pengetahuan tentang konsep atau stimulus, relasi antar berbagai pemahaman tentang konsep dan contoh-contoh spesifiknya. Skema dapat berupa skema tentang orang tertentu, peran social atau diri sendiri, sikap terhadap obyek tertentu, stereotype tentang kelompok tertentu, atau persepsi tentang kejadian umum.

Pengaruh Skema Terhadap Kognisi Sosial

Hasil penelitian mengungkapkan bahwa skema menimbulkan efek yang kuat pada tiga proses dasar yaitu atensi, encoding dan retrieval.

a.perhatian atau atensi (attention)
Skema berperan sbg penyaring: informasi yg konsisten dengan skema lebih diperhatikan dan lebih mungkin masuk ke kesadaran

b.pengkodean (encoding),
Informasi yg menjadi fokus atensi lebih mungkin disimpan dalam memori jangka panjang, jadi informasi yg konsisten dg skema yg dikodekan

c.mengingat kembali (retrieval).
Orang cenderung mengingat dan menggunakan informasi yg konsisten dengan skema lebih banyak daripada informasi yg tidak sesuai dg skema.

Skema terbukti berpengaruh terhadap semua aspek dasar kognisi social. Dalam hubungannya dengan atensi, skema seringkali berperan sebagai penyaring: informasi yang konsisten dengan skema lebih diperhatikan dan lebih mungkin untuk masuk ke dalam kesadaran kita. Informasi yang tidak cocok dengan skema kita seringkali diabaikan kecuali iinformasi itu sangat ekstrem. Pengkodean—informasi apa yang dimasukkan ke dalam ingatan—informasi yang menjadi focus atensi lebih mungkin untuk disimoan dalam ingatan jangka panjang. Mengingat kembali informasi (retrieval)—informasi apa yang paling siap untuuk diingat—secara umum, orang melaporkan informasi yang konsisten dengan skema mereka, namun kenyataannya, informasi yang tidak konsisten dengan skema juga dapat secara kuat muncul dalam ingatan.

Skema juga memiliki kelemahan (segi negative). Skema mempengaruhi apa yang kita perhatikan, apa yang masuk dalam ingatan kita, dan apa yang kita ingat, sehingga terjadi distorsi pada pemahaman kita terhadap dunia social. Skema memainkan peran penting dalam pembentukan prasangka, dalam pembentukan satu komponen dasar pada stereotip tentang kelompok-kelompok social tertentu.

Yang menarik juga, skema juga dapat memberikan efek seperti efek bertahan (perseverance effect), tidak berubah nahkan ketika menghadapi informasi yang kontradiktif. Kadangkala skema bisa memberikan efek pemenuhan harapan diri (self-fulfilling) yaitu skema membuat dunia social yang kita alami menjadi konsisten dengan skema yang kita miliki. Contoh efek bertahan, ketika kita gagal kita berusaha menghibur diri sendiri dengan berkata, “kamu hebat kok, ini karena pertandingan yang tidak adil”, dsb. contoh ramalan yang mewujudkan dirinya sendiri (self-fulfilling prophecy) ramalan yang membuat ramalan itu sendiri benar-benar terjadi, skema guru untuk siswa yang minoritas yang menyebabkan guru memperlakukan siswa minoritas itu secara berbeda (kurang positif) sehingga menyebabkan prestasi siswa minoritas ini menurun. Stereotip tidak hanya memiliki pengaruh nsmun bisa melalui efek pemaastian dirinya, stereotip juga membentuk realitas social.

JALAN PINTAS MENTAL

Tekanan efisiensi sering menyebabkan orang mengandalkan skema yang mereka punya untuk menangani aliran informasi yang kompleks dan cepat dalam dunia social. Akibatnya individu sering melakukan kesalahan-kesalahan.Kesalahan yang dilkukan individu antara lain:

1. Berpikir jalan pintas (heuristic)

Individu cenderung malas untuk berpikir kompleks sehingga cenderung menyederhanakan suatu peristiwa yang dialami. Penyederhanaan itu dilakukan dengan cara:

a.representasi
Individu mengambil kesimpulan mengenai suatu gejala sosial hanya berdasarkan pada ciri-ciri tertentu

b. priming
Pengambilan kesimpulan berdasarkan pengalaman yang baru saja terjadi atau yang paling dialami

c.base rate fallacy
Pengambilan kesimpulan dengan cara melakukan generalisasi pada sekelompok individu berdasarkan perilaku individu lain

d. keterbatasan informasi yang tersedia
Pengambilan kesimpulan berdasarkan informasi yang minim

2.Berpikir Ilusi (Illusory Thinking)

Ilusi dalam konsep psikologi adalah kesalahan dalam mempersepsi sesuatu. Dalam psikologi sosial, individu sering mengalami kesalahan dalam mempersepsi sesuatu yang mengakibatkan terjadinya kesalahan pula dalam kognisi sosial.

Berpikir ilusi dapat dibedakan menjadi:

a. Ilusi tentang korelasi (illusory correlation)
Ilusi ini terjadi apabila individu menghubungkan dua hal yang tampaknya berhubungan padahal sebenarnya tidak

b. ilusi kontrol (illusory control)
Individu menganggap seakan-akan dirinya dapat mengendalikan lingkungan

c. penilaian terlalu percaya diri (overconfidence judgement)
Individu salah memberikan penilaian atau menarik kesimpulan akibat terlalu percaya pada dirinya sendiri

3.Hallo Effect

Biasanya terjadi pada saat pertemuan pertama kali dengan individu lain, individu dikaburkan dengan penampilan individu lain sehingga membentuk kesan yang salah mengenai individu lain tersebut. Terjadinya hallo effect juga dikarenakan cara berpikir individu yang cenderung membuat kategorisasi-kategorisasi mengenai sifat manusia, yaitu kategorisasi sifat-sifat baik dan sifat-sifat buruk

Aspek-Aspek Lain dalam Kognisi Sosial

Dalam menganalisa dan membuat kesimpulan, kadang-kadang individu tidak melakukan dengan cara memasukkan semua informasi yang ditangkap, hanya informasi-informasi tertentu yang ditangkap oleh individu, yaitu:

a. memperhatikan yang inkonsisten
Individu lebih cenderung memperhatikan yang inkonsisten untuk membuat suatu kesimpulan mengenai suatu gejala sosial

b. memperhatikan yang negative
Individu cenderung memperhatikan hal-hal yang negatif saja dari seseorang dan tidak menghiraukan sisi baik orang lain

c. keraguan karena motivasi

d. berpikir kontrafaktual
Individu mengabaikan informasi terbaru yang ia terima dan menyimpulkan sesuatu berdasarkan informasi yang sudah lebih dahulu ada

e. pribadi dan benda milik
Individu sering kali juga memberikan atribusi tertentu kepada orang lain berdasarkan benda-benda yang ia miliki. Hal ini terjadi karena adanya anggapan bahwa kepribadian seseorang tercermin dari benda-benda yang dimiliki.

KOGNISI DAN AFEKSI

Apakah ada kaitan antara kognisi dengan afeksi? Ternyata, walaupun berbeda tapi berhubungan erat. Berdasarkan penelitian : kognisi mempengaruhi afeksi, dan sebaliknya. Afeksi merupakan perasaan seseorang terhadap suatu stimulus sedangkan kognisi adalah cara berpikir seseorang terhadap suatu stimulus. Dalam menilai dan memahami suatu gejala sosial, tanpa kita sadari ternyata dipengaruhi oleh perasaan kita pada saat itu. Ini berarti afeksi mempengaruhi kognisi. Sedangkan apabila kita berpikir hal-hal buruk maka kita akan menjadi cemas dan takut, namun apabila kita menanggapi sebaliknya maka kita akan tenang.Ini berarti kognisi mempengaruhi afeksi.

Perasaan kita dan suasana hati memiliki pengaruh yang kuat terhadap beberapa aspek kognisi, dan kognisi juga berperan kuat pada perasaan dan suasana hati kita. Suasana hati saat ini dapat secara kuat mempengaruhi reaksi kita terhadap rangsang yang baru pertama kali kita temui. Contoh: ketika kiota sedang bergembira dan berkenalan dengan orang baru, penilaian kita terhadap orang tersebut pastinya lebih baik dibanding saat kita berkenalan dengannya ketika kita bersedih.

Pengaruh afek lainnya adalah pengaruh pada ingatan. Ingatan yang bergantung pada suasana hati (mood-dependent memory) yaitu apa yang kita ingat saat berada dalam suasana hati tertentu, sebagian besar ditentukan oleh apa yang kita pelajari sebelumnya ketika kita berada dalam suasana hati tersebut.

Pengaruh kedua dikenal dengan efek kesesuaian suasana hati (mood-congruence effects) yaitu kecenderungan untuk menyimpan atau mengingat informasi positif ketika berada dalam suasana hati positif dan informasi negatif ketika berada dalam suasana hati yang negatif. Suasana hati saat ini juga berpengaruh pada komponen kognisi lain yaitu kreativitas. Informasi yang emosional (emotional contamination) yaitu suatu proses di mana penilaian, emosi atau perilaku kita dipengaruhi oleh pemrosesan mental yang tidak disadari dan tidak terkontrol .

Ingatan yang bergantung pada suasana hati (mood-dependent memory) :

Definisi, Skema, dan Aspek-Aspek Kognisi Sosial 2_

Efek kesesuaian hati (mood congruent judgement effect) :

Definisi, Skema, dan Aspek-Aspek Kognisi Sosial 3_

Posting Komentar untuk "Definisi, Skema, dan Aspek-Aspek Kognisi Sosial"

Klik gambar berikut untuk mengunduh artikel ini:

Berlangganan via Email