Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Metode Penelitian yang Digunakan Dalam Psikologi Sosial

Metode Penelitian yang Digunakan Dalam Psikologi Sosial - Riset atau penelitian adalah upaya terstruktur dalam pengumpulan data-data informasi yang akan diolah dan dianalisis dan disintesakan melalui suatu metodologi ilmiah sehingga mendapatkan kesimpulan, dimana kesimpulan tersebut merupakan jawaban atas berbagai pertanyaan.

Mengapa Riset Diperlukan Di Dalam Psikologi Sosial
  1. Banyak mitos dan common sense yang dipercaya masyarakat berkaitan dengan topik-topik yang menjadi subyek penelitian Psikologi Sosial.
  2. Riset dapat memberikan dasar yang jelas dan terukur untuk melawan mitos-mitos yang sudah berakar di masyarakat.
  3. Pemanfaatan riset menjamin keilmiahan Psikologi Sosial sebagai salah satu ilmu pengetahuan dalam Psikologi.

Dalam penelitian sosial, khususnya penelitian psikologi terjadi perdebatan tentang pendekatan yang dianggap paling sesuai untuk menjelaskan gejala-gejala perilaku manusia. Perdebatan yang terjadi adalah perdebatan antara kelompok positivistik-empiris dan kelompok interpretif-fenomenologis. Perdebatan ini melahirkan term-term yang menggambarkan posisi ekstrim dengan kualifikasi dikotomik pendekatan penelitian kuantitaif versus pendekatan penelitian kualitatif.

Pada satu sisi, kaum positivistik kuantitatif mengemukakan bahwa penelitian sosial maupun pendidikan harus mengikuti prinsip-prinsip ilmu alam yang bersifat empiris. Para filsuf beranggapan bahwa segenap fenomena penelitian sosial dapat dirumuskan dalam prinsip-prinsip obyektif empiris dan dapat dijelaskan menurut hukum-hukum kausalitas deterministik seperti fakta-fakta dalam gejala-gejala alam.

Pada ekstrim lain, kubu interpretif menentang asumsi-asumsi dasar penelitian yang diajukan oleh kaum positivistik. Kelompok interpretif berpendapat bahwa dasar utama penelitian sebenarnya tidak bertolak dari sudut pandang peneliti ataupun obyektifitas tapi lebih jauh adalah pada cara-cara “subyek penelitian” atau partisipan penelitian memberi makna secara subyektif pada suatu fenomena sosialm termasuk fenomena perilaku dalam kajian psikologi.

Metode Penelitian yang Digunakan Dalam Psikologi Sosial_
image source: virgo.unive.it

Pendekatan Positivistik-Kuantitatif

Tujuan penelitian yang menggunakan pendekatan positivistik adalah untuk mencapai obyektifitas gejala penelitian dalam kerangka pengamatan empiris indrawi. Dengan demikin penelitian harus berlangsung menurut prinsip-prinsip filosofis dan metodologis ilmiah empiris atau melalui pemecahan masalah yang bersifat hipotesis deduktif.

Terdapat beberapa tahap umum, tahap pertama dimulai dengan pengajuan masalah umum penelitian berasarkan rasional ilmiah tertentu. Tahap kedua adalah spesifikasi masalah pada lingkup yang lebih khusus, yang diikuti dengan pengembangan hipotesis berdasar pada suatu kerangka teoritis tertentu. Selanjutnya untuk menguji kebenaran hipotesis penelitian dipilih jenis rancangan pendekatan yang relevan. Dalam pemilihan jenis rancangan penelitian psikologi sosial terdapat banyak rancangan penelitian yang ditawarkan misalnya deskriptif, korelasional lapangan, eksperimen laboratorium dan eksperimen lapangan.

Setelah pengumpulan data selesai maka dilakukan atahp analisis data. Seperti dalam ilmu alam, teknik analisi yang digunakan bersifat statistikal matematik seperti analisis faktor, analisis jalur dan sebagainya. Tahap diakhiri dengan pengambilan kesimpulan dan diskusi atau pembahasan.

Pendekatan Interpretif-Kualitatif

Dalam rancangan interpretatif, untuk menarik suatu kesimpulan berdasarkan data yang telah dikumpulkan dan dianlisis tanpa menetapkan suatu hipotesis yang telah ditetapkan lebih dahulu.Terdapat tiga model utama penelitian interpretatif yang secara khusus berhubungan dengan aspek-aspek perilaku manusia. Model itu adalah fenomenologi, etnometodologi dan interaksionisme simbolik.

Pada model fenomenologi, penelitian ditekankan pada cara manusia sebagai subyek berinteraksi dengan dua gejala baik obyek empirik maupun peristiwa. Dalam hal ini model fenomelogi berarti mempelajari makna suatu gejala bagi manusia secara individual.

Dalam etnometodologi mencoba untuk mendiskripsikan dan menjelaskan hukum-hukum struktur dan proses yang melingkupi suatu kehidupan sosial kebudayaan setiap kelompok etnis tertentu. Model ini terutama membahas cara berpikir antar individu berkenaan dengan aturan-aturan etnik kultural yang melatarbelakangi interaksi sosial kelompok budayanya. Perbedaan mendasar antara fenomenologi dengan etnometodologi adalah bahwa yang pertama lebih menekankan pada proses psikologis individu sedangkan yang kedua lebih pada proses kesosialan.

Model ketiga adalah interaksionisme simbolik yang menekanakna pada makna yang tercakup dalam cara-cara manusia menggunakan dan menginterpretasikan pola=pola simbolik pada saat melakukan interaksi sosial. Pola-pola simbolik meliputi bahasa oral, tulis maupun bahasa non verbal seperti bahasa tubuh dan cara berbusana.

Selain ketiga model utama diatas, terdapat model lain seperti penelitian lapangan (grounded research) dan penelitian studi kasus. Penelitian lapangan adalah suatu usaha penelitian yang bertujuan menghasilkan teori berdasar pada hasil observasi data secara labgsung di lapangan. Sedangkan penelitian studi kasus adalah penelitian yang menhkaji satu gejala dalam konteks kehidupan nyata melalui pemahamn secara mendalam.

Metode pengumpulan data yang bisa dilakukan dalam penelitian interpretatif ini antara lain etnografi, observasi, wawancara, sejarah lisan dan dokumen sejarah. Setelah data selesai dikumpulkan maka prosedur analisis data dilakukan berdasar pada prinsip kategori dan pemberian kode. Corak teknik yang diguakan bervariasi misalnya analisis semantikm analisi semiotik, naratif dan analisis isi. Sebelum sampai pada kesimpulan, seorang peneliti harus melakukan verifikasi atau validasi sebagai sarana untuk mengukuhkan atau memperbaiki kesimpulan yang ditarik, beradasarkan komunikasi dan konfirmasi balik dengan partisipan penelitian. Terdapat banyak teknik untuk validasi kesimpulan seperti triangulasi, cek keterwakilan data, cek pengaruh peneliti selama pengumpulan data, membuat perbandingan dan umpan balik partisipan penelitian.

Metode-MetodeUtama Dalam Penelitian Sosial

Psikologi sosial adalah ilmu empiris. Ini berarti bahwa para psikologi sosial menggunakan metode sistematis untuk mengumpulkan informasi tentang kehidupan sosial dan menguji kegunaan teori. Untuk itulah penelitian psikologi sosial mempunyai empat tujuan umum :
  • Deskripsi yaitu memberi deskripsi yang cermat dan sistematis tentang perilaku sosial agar bisa membuat generalisasi bagaimana orang bertindak di berbagai setting sosial. Apakah pria lebih agresif daripada wanita ?
  • Analisis kausal yaitu untuk mengetahui hubungan sebab akibat. Apakah iklan TV mempengaruhi sikap pemilih dalam pemilu ?
  • Penyusunan teori yaitu menyusun teori perilaku sosial yang membantu psikolog sosial dalam memahami alasan dari perilaku seseorang.
  • Aplikasi yaitu pengetahuan psikologi sosial dapat diaplikasikan untuk memecahkan problem sosial sehari-hari.

1. Metode Korelasional

Merupakan desain dengan mengamati hubngan antara dua faktor atau lebih yang disebut variabel. Tujuannya adalah mencari tahu apakah ada asosiasi atau hubungan antar variabel. Misalnya studi tentang apakah menonton kekerasan di televisi berkorelasi dengan perilaku agresif?. Studi korelasional akan meneliti asosiasi antara seberapa banyak waktu yang dihabiskan anak menonton acara kekerasan dengan jumlah perilaku agresif yang dilakukan anak. Sebuah studi menemukan hasil bahwa menonton televisi yang menampilkan kekerasan berkorelasi positif dengan perilaku agresif anak.

Secara spesifik saat nilai variabel A tinggi, apakah variabel B juga tingggi ? (korelasi postitif) atau variabel B rendah ? (korelasi negatif), atau apakah nilai variabel B tidak ada kaitannya dengan variabel A (tidak ada korelasi).

Ada dua kelebihan desain korelasional ini yaitu pertama, peneliti tidak mempunyai kesempatan untuk intervensi sehingga desain korelasional merupakan metode terbaik untuk memahami hubungan antar berbagai faktor kehidupan manusia. Kelebihan kedua adalah efisiensi. Studi korelasional lebih memungkinkan penelitia mengumpulkan lebih banyak informasi dan menguji lebih banyak hubungan.

Kelemahan utama metode korelasional adalah riset ini tidak dapat memberikan bukti yang jelas tentang hubungan sebab akibat. Reverse-causality problem (problem kausalitas terbalik) terjadi ketika dua variabel saaling berkorelasi, namun kedua variabel bisa sama-sama menjadi penyebab dan menjadi akibat. Dalam contoh diatas permasalahan bisa terjadi pakah benar menoton kekerasan di televisi menyebabkan agresi anak. Hal sebaliknya mungkin terjadi bahwa anak yang pada dasarnya sudah sangat agresif akan sangat tertarik untuk menyaksikan acara kekerasan.

2. Metode Eksperimental

Merupakan desain dengan ciri adanya intervensi dari peneliti. Peneliti meletakkan orang dalam situasi yang terkontrol dan menilai bagaimana mereka beraksi. Dalam hal ini akan diciptakan dua atau lebih kondisi yang berbeda secara jelas. Individu secara acak dimasukkan ke dalam salah satu dari kondisi yang berbeda-beda itu kemudian reaksi mereka diukur.

Dalam bentuk dasarnya, metode eksperimen mencakup dua tahap utama. Yang pertama dimunculkannya sebuah variabel yang secara sistematis diubah-ubah, dimana kehadiran atau kekuatannya diperacaya berpengaruh pada satu aspek dari perilaku. Yang kedua, apabila memang muncul perubahan maka efek dari perubahan tersebut diuukur secara hati-hati. Faktor yang secara sistematis diubah-ubah oleh penelitia disebut dengan variabel bebas, sedangkan aspek perilaku yang diteliti disebut variabel terikat.

Jadi dalam sebuah eksperimen sederhana, beberapa kelompok partisipan dihadapkan pada variabel bebas dengan tingkatan yang secara kontras berbeda (misalnya rendah, sedang, tinggi ). Peneliti kemudian secara teliti mengukur perilaku partisipan untuk menetukan apakah perilaku mereka berubah atau bervariasi sejalan dengan perubahan pada variabel bebas. Apabila perilaku juga berubah dan apabila dua kondisi lainnya juga terpenuhi, maka peneliti mengambil kesimpulan sementara bahwa variabel bebas tersebut memeang menyebabkan perubahan aspek perilaku yang diteliti. Misalnya dalam eksperimen kekerasan media, satu kelompok anak diajak menonton film beradegan kekerasan dan kelompok anak lainnya menonton film tanpa kekerasan. Selanjutnya semua anak mungkin akan ditempatkan dalam situasi pengujian dimana perilaku agresif mereka dapat diukur. Jika anak yang menonton film kekeraaan berperilaku lebih agresif kita dapat mengatakan bahwa film kekerasan dapat menyebabkan perilaku agresif

Ciri penting dari desain eksperimen adalah bahwa subyek eksperimen harus diletakkan dalam kondisi secara acak. Random assignment subyek ke kondisi tertentu adalah penting sebab hal ini berarti bahwa perbedaan antar subyek dalam semua kondisi adalah karena kebetulan. Jika subyek dalam setiap kelompok berbeda dalam beberapa hal secara sistematis sebelum penelitian eksperimen, maka peneliti tidak dapat menginterpretasikan perbedaan yang muncul sebagai perbedaan karena kondisi eksperimental. Perbedaan perilaku dapat disebabkan oleh faktor yang sudah ada.

Perbandingan Metode Korelasional dengan Metode Ekperimental

Korelasional Eksperimental
Variabel bebas Bervariasi scr natural Dikontrol peneliti
Penetapan acak Tidak Ya
Kausalitastak ambigu Biasanya tidak Ya
Menjelaskan Sering Biasanya tidak
Pengujian teori Sering Biasanya ya
Menguji banyak hal Biasanya ya Biasanya tidak

Posting Komentar untuk "Metode Penelitian yang Digunakan Dalam Psikologi Sosial"

Klik gambar berikut untuk mengunduh artikel ini:

Berlangganan via Email