Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Teori Etika dan Penjelasan Meta Etika dalam Psikologi

Teori Etika dan Penjelasan Meta Etika dalam Psikologi - Etika sering disebut dengan istilah etik atau ethics (bahasa ingris),bmengandung banyak penegrtian. Dari segi etimologi (asal kata), istilah etika berasal dari kata latin (ethicus) dan dalam bahasa yunani disebut ethicos yang berarti kebiasaan. Dengan demikian menurut pengerian yang asli, yang dikatakan baik itu apabila sesuia dengan masyarakat. Kemudian lambat laun pengertian ini berubah,bahwa etika adalah suatu ilmu yang membicarakan masalah perbuatan atau tingkah laku manusia. Mana yang dapat dinilai baik dan mana yang dapat dinilai tidak baik.

Etika juga disebut ilmu normative yang dengan sendirinya berisi ketentuan ketentuan (norma-norma) dan nilai nilai yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari hari.

Teori Etika dan Penjelasan Meta Etika dalam Psikologi_
image source: icfheadquarters.blogspot.com
baca juga: Kode Etik, dan Ruang Lingkup Kode Etik Psikologi Indonesia

Etika merupakan cabang filsafat,yang mempelajari pandangan-pandangan dan persoalan-persoalan yang berhubungan dengan masalah kesusilaan, dan kadang-kadang orang memakai istilah filsafat etika, filsafat moral atau filsafat susila. Dengan demikian dapat dikatan etika adalah penyelidikan filosofis menegenai kewajiban-kewajiban manusia dan hal hal yang baik dan buruk. Etika adalah penyelidikan filsafat bidang moral. Etika tidak membahas keadaan manusia,melainkan membahas bagaimana manusia itu seharusnya bertingkah laku benar. Etika juga merupakan filsafat praktis manusia. Etika adalah cabang dari aksiologi yaitu ilmu tentang nilai yang menitikberatkan pada pencarian salah dan benar atau dalam pengertian lain tentang moral dan immoral.

Etika dapat berfungsi sebagai:
Sarana untuk memperoleh orientasi kritis berhadapan dengan perbagai moralitas yang membingungkan.
Etika ingin menampilkan ketrampilan intelektual yaitu ketrampilan untuk berargumentasi secara rasional dan kritis.
Orientasi etis ini diperlukan dalam mengabil sikap yang wajar dalam suasana pluralisme

Sistematika Etika

Secara umum, menurut Keraf dalam buku yang ditulis oleh Rismawaty (2008), etika dapat dibagi dua bagian, yaitu:

1. Etika umum:
Membahas kondisi dasar bagaimana manusia bertindak eti, dalam mengambil keputusan etis dan teori etika serta mengacu pada prinip moral dasar yang menjadi pegangan dalam bertindak dan tolak ukur atau pedoman untuk menilai baik atau buruknya suatu tindakan yang dilakukan seseorang atau kelompok.

2. Etika khusus:
Penerapan prinsip-prinsip moral dalam bidang khusu, yaitui bagaimana mengambil keputusan dan bertindak dalam kehidupan sehari hari pada proses dan fungsional dari suatu organisasi, atau dapat juga sebagai seorang professional untuk bertindak etis yang berlandaskan teori teori etika dan prinsip prinsip moral dasar.

Etika khusus dibagi menjadi dua bagian, yaitu antara lain:
  • Etika individual menyangkut kewajiban dan perilaku manusia terhadap dirinya sendiri untuk mencapai kesusian kehidupan pribadi,kebersihan hati nurani dan berakhlak luhur.
  • Etika sosial berbicara mengenai kewajiba, sikap dan perilaku sebagai anggota masyarakat yang berkaitan dengan nilai-nilai sopan santun, tata karma dan salaing menghormati, yaitu bagaimana saling berinteraksi yang menyangkut hubungan manusia dengan manusia, baik secara perorangan dan langsung maupun secara bersama sam atau kelompok dalam bentuk kelembagaan masyarakt dan organisasi formal lainnya.

Macam-Macam Etika

Etika dapat dibedakan menjadi tiga macam:
  • Etika sebagai ilmu, yang merupakan kumpulan tentang kebajikan tentang penilaian dari perbuatan seseorang
  • Etika dalam arti perbuatan, yaitu perbuatan kebajikan. Misalnya seseorang dikatan etis ababila orang tersebut telah berbuat kebajikan.
  • Etika sebagai filsafat, yang mempelajari pandangan-pandangan persoalan-persoalana yang berhubungan dengan masalah kesusilaan.

Ragam lain dari etika ialah:
  • Deskriptive ethics: Gambaran atau lukisan tentang etika 
  • Normative ethics: Norma-norma tertentu tentang etika agar seseorang dapat dikatakan bermoral 
  • Philosophy ethics: Etika ebagai filsafat yang menyelidiki kebenaran.

Menurut Louis O. Katt Soff dalam bukunya berjudul Elements of Philosophy diterbitkan tahun 1953, bahwa etika merupakan cabang aksiologi yang pada pokoknya mempersoalkan tentang predikat baik dan buruk. Definisi etika ditinjau berdasarkan pengertian terbagi menjadi tiga bagian yaitu:

1. Etika Deskriptif
Etika yang menelaah secara kritis dan rasional tentang sikap dan perilaku manusia serta apa yang dikejar oleh setiap orang dalam hidupnya sebagai sesuatu yang bernilai. Artinya etika deskriptif tersebut berbicara mengenai fakta secara apa adanya, yakni mengenai nilai dan perilaku manusia sebagai suatu fakta yang terkait dengan situasi dan realitas yang membudaya. Dapat disimpulkan bahwa tentang kenyataan dalam penghayatan nilai atau tanpa nilai dalam suatu masyarakat yang dikaitkan dengan kondisi tertentu memungkinkan manusia dapat bertindak secara etis.

Etika deskriptif menurut pendapat Katt Soff bahwa etika bersangkutan dengan nilai dan ilmu pengetahuan yang membicarakan masalah baik dan buruknya tingkah laku manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Etika bersangkutan dengan pencatatan terhadap corak-corak predikat serta tanggapan-tanggapan kesusilaan yang dapat ditemukan dalam masyarakat. Sehingga ilmu ini hanya bersifat pemaparan atau penggambaran saja.

Etika deskriptif dapat disimpulkan sebagai bentuk implementasi perbuatan serta perilaku yang diterapkan setiap manusia merupakan landasan pergaulan kehidupan antar manusia dalam ruang lingkup lingkungan masyarakat.

2. Etika normatif

Etika sering dipandang sebagai suatu ilmu yang mengadakan ukuran-ukuran atau norma-norma yang dapat dipakai untuk menanggapi atau menilai perbuatan dan tingkah laku seseorang dalam bermasyarakat. Etika normatif ini berusaha mencari ukuran umum bagi baik dan buruknya tingkah laku.

Untuk dapat memahami pengertian etika dan mengerti mana perbuatan yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan menurut etika, sebagaimana diutarakan Franz Magnis Suseno (1997:19) dalam buku etika dasar yang menyebutkan terdapat beberapa jenis norma.

Norma adalah peraturan atau pedoman hidup tentang bagaiaman seyogyanya manusia harus bertingkah laku dan berbuat dalam masyarakat.

Norma dalam masyarakat dapat dibedakan sebagai berikut :

1. Norma teknis dan norma permainan hanya berlaku untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu atau untuk kegiatan-kegiatan sementara dan terbatas. Contoh :
  • Peraturan dalam olahraga
  • Peraturan dalam perusahaan yang hanya berlaku terbatas bagi mereka yang bekerja di perusahaan tersebut.

2. Norma berlaku umum dalam masyarakat dapat dibedakan

1. Norma kepercayaan / keagamaan
Dasar norma ini adalah kitab suci. Tujuannya yaitu agar manusia mempunyai keimanan, yang akan mendapatkan sanksi baik di dunia maupun diakhirat :
  • Jangan berbuat kejahatan
  • Berbuatlah kebaikan

2. Norma moral
Norma moral berhubungan dengan manusia sebagai pribadi. Pendukung dari norma yang dimaksud adalah hati nurani manusia. Hati nurani sangat berperan dalam perilaku lahiriah manusia. Pelanggaran terhadap norma ini adalah penyesalan, karena tidak ada kekuasaan dari luar diri manusia yang mengancam. Tujuannya adalah penyempurnaan manusia sebagai manusia. Contoh : setiap manusia harus menegakan kejujuran.

3. Norma sopan santun
Norma sopan santun didasarkan atas kebiasaan, kesopanan, kepantasan atau kepatutan yang berlaku dalam masyarakat. Tujuannya untuk kesempurnaan manusia sebagai masyarakat yaitu :
  • Kedamaian
  • Ketertiban
  • Keamanan

Dalam kehidupan bersama antar manusia, ancaman dari pelanggaran kaidah yang dimaksud tersebut berupa penghinaan, pencemoohan dari masyarakat. Seringkali sangsi tidak dalam bentuk lisan atau diucapkan, melainkan hanya dengan perbuatan. Contoh :
  • Menghormati orang yang lebih tua
  • Menghormati pimpinan

4. Norma hukum
Norma hukum pelaksanaannya dapat dituntut dan dipaksakan. Sedangkan pelanggarannya ditindak dengan pasti oleh penguasa yang sah dalam masyarakat, landasan dasarnya adalah peraturan perundang-undangan, yang dapat dipastikan mulai kapan berlakunya. Contoh : penyebaran paham tertentu yang dilarang berdasarkan peraturan pemerintah.

Etika normatif ditinjau berdasarkan dari teori terdiri dari dua yaitu :

a. Teori deontologis
Deontologis berasal dari bahasa Yunani Deon artinya kewajiban. Artinya etika deontologi menekankan kewajiban manusia untuk bertindak secara baik, suatu tindakan itu baik bukan dinilai dari tindakan tersebut, melainkan berdasarkan tindakan itu sendiri sebagai baik pada dirinya, motivasi, kemauan dengan niat baik dan dilaksanakan berdasarkan kewajiban dan bernilai moral.

b. Teori teleologis
Teleologis bahasa Yunani dengan kata Telos berarti tujuan yaitu menjelaskan bahwa benar salahnya tindakan tersebut justru tergantung dari tujuan yang hendak dicapai atau berdasarkan akibat yang ditimbulkan oleh tindakan tersebut. Suatu tindakan dinilai baik kalau berakibat atau bertujuan mencapai sesuatu yang baik pula (Sony, 1993 : 29-30).

Etika teleologis terdapat 2 aliran teleologisme yaitu sebagai berikut :

1. Egoisme
Artinya pandangan bahwa tindakan setiap orang bertujuan untuk mengejar kepentingan atau memajukan dirinya sendiri atau menekankan kepentingan dan kebahagiaan untuk pribadi berdasarkan hal yang menyenangkan dan atau hal yang mendatangkan kebahagiaan bagi dirinya sendiri.

2. Utilitarianisme
Menilai perbuatan baik buruknya suatu tindakan atau kegiatan berdasarkan tujuan atau akibat dari tindak tersebut bagi kepentingan orang banyak atau dinilai baik karena dapat memberikan kegunaan atau manfaat perorangan bagi banyak orang.



Etika Kefilsafatan

Analisis tentang apa yang orang maksudkan bilamana mempergunakan predikat-predikat kesusilaan. Apa yang disebut perbuatan etis, tidak etis dan sebagainya. Analisis ini diperoleh dengan mengadakan penyelidikan tentang penggunaan yang sesungguhnya dari predikat-predikat yang terdapat dalam pernyataan. Secara lebih jelas kefilsafatan mempersoalkan tentang arti-arti yang dikandung oleh istilah-istilah kesusilaan yang dipergunakan oleh orang dalam membuat tanggapan-tanggapan kesusilaan.

Pengertian Teori Etika

Teori etika adalah disiplin ilmu berhubungan dengan kajian secara kritis tentang adat kebiasaan, nilai-nilai, dan norma perilaku manusia yang dianggap baik atau tidak baik. Dalam etika masih dijumpai banyak teori yang mencoba untuk menjelaskan suatu tindakan, sifat, atau objek perilaku yang sama dari sudut pandang atau perspektif yang berlainan. Berikut ini beberapa teori etika:

1. Egoisme Rachels (2004) memperkenalkan dua konsep yang berhubungan dengan egoisme. Pertama, egoisme psikologis, adalah suatu teori yang menjelaskan bahwa semua tindakan manusia dimotivasi oleh kepentingan berkutat diri (self servis). Menurut teori ini, orang bolah saja yakin ada tindakan mereka yang bersifat luhur dan suka berkorban, namun semua tindakan yang terkesan luhur dan/ atau tindakan yang suka berkorban tersebut hanyalah sebuah ilusi. Pada kenyataannya, setiap orang hanya peduli pada dirinya sendiri. Menurut teori ini, tidak ada tindakan yang sesungguhnya bersifat altruisme, yaitu suatu tindakan yang peduli pada orang lain atau mengutamakan kepentingan orang lain dengan mengorbankan kepentingan pribadi.

Kedua, egoisme etis, adalah tindakan yang dilandasi oleh kepentingan diri sendiri (self-interest). Tindakan berkutat diri ditandai dengan ciri mengabaikan atau merugikan kepentingan orang lain, sedangkan tindakan mementingkan diri sendiri tidak selalu merugikan kepentingan orang lain.

Berikut adalah pokok-pokok pandangan egoisme etis:
  • Egoisme etis tidak mengatakan bahwa orang harus membela kepentingannya sendiri maupun kepentingan orang lain. 
  • Egoisme etis hanya berkeyakinan bahwa satu-satunya tuga adalah kepentingan diri. 
  • Meski egois etis berkeyakinan bahwa satu-satunya tugas adalah membela kepentingan diri, tetapi egoisme etis juga tidak mengatakan bahwa anda harus menghindari tindakan menolong orang lain 
  • Menurut paham egoisme etis, tindakan menolong orang lain dianggap sebagai tindakan untuk menolong diri sendiri karena mungkin saja kepentingan orang lain tersebut bertautan dengan kepentingan diri sehingga dalam menolong orang lain sebenarnya juga dalam rangka memenuhi kepentingan diri. 

Inti dari paham egoisme etis adalah apabila ada tindakan yang menguntungkan orang lain, maka keuntungan bagi orang lain ini bukanlah alasan yang membuat tindakan itu benar. Yang membuat tindakan itu benar adalah kenyataan bahwa tindakan itu menguntungkan diri sendiri.

2. Utilitarianisme

Menurut teori ini, suatu tindakan dikatakan baik jika membawa manfaat bagi sebanyak mungkin anggota masyarakat (the greatest happiness of the greatest number). Paham utilitarianisme sebagai berikut:
  1. Ukuran baik tidaknya suatu tindakan dilihat dari akibat, konsekuensi, atau tujuan dari tindakan itu, apakah memberi manfaat atau tidak.
  2. Dalam mengukur akibat dari suatu tindakan, satu-satunya parameter yang penting adalah jumlah kebahagiaan atau jumlah ketidakbahagiaan, 
  3. Kesejahteraan setiap orang sama pentingnya. 

Perbedaan paham utilitarianisme dengan paham egoisme etis terletak pada siapa yang memperoleh manfaat. Egoisme etis melihat dari sudut pandang kepentingan individu, sedangkan paham utilitarianisme melihat dari sudut pandang kepentingan orang banyak (kepentingan orang banyak).

Kritik terhadap teori utilitarianisme:
  • Utilitarianisme hanya menekankan tujuan/mnfaat pada pencapaian kebahagiaan duniawi dan mengabaikan aspek rohani.
  • Utilitarianisme mengorbankan prinsip keadilan dan hak individu /minoritas demi keuntungan mayoritas orang banyak. 

3. Deontologi Paradigma

Teori deontologi berbeda dengan paham egoisme dan utilitarianisme, yang keduanya sama-sama menilai baik buruknya suatu tindakan memberikan manfaat entah untuk individu (egoisme) atau untuk banyak orang/kelompok masyarakat (utilitarianisme), maka tindakan itu dikatakan etis. Sebaliknya, jika akibat suatu tindakan merugikan individu atau sebagian besar kelompok masyarakat, maka tindakan tersebut dikatakan tidak etis. Teori yang menilai suatu tindakan berdasarkan hasil, konsekuensi, atau tujuan dari tindakan tersebut disebut teori teleologi Sangat berbeda dengan paham teleologi yang menilai etis atau tidaknya suatu tindakan berdasarkan hasil, tujuan, atau konsekuensi dari tindakan tersebut, paham deontologi justru mengatakan bahwa etis tidaknya suatu tindakan tidak ada kaitannya sama sekali dengan tujuan, konsekuensi, atau akibat dari tindakan tersebut. Konsekuensi suatu tindakan tidak boleh menjadi pertimbangan untuk menilai etis atau tidaknya suatu tindakan.

Imanuel Kant berpendapat bahwa kewajiban moral harus dilaksanakan demi kewajiban itu sendiri, bukan karena keinginan untuk memperoleh tujuan kebahagiaan, bukan juga karena kewajiban moral iu diperintahkan oleh Tuhan. Moralitas hendaknya bersifat otonom dan harus berpusat pada pengertian manusia berdasarkan akal sehat yang dimiliki manusia itu sendiri, yang berarti kewajiban moral mutlak itu bersifat rasional. Walaupun teori deontologi tidak lagi mengkaitkan kriteria kebaikan moral dengan tujuan tindakan sebagaimana teori egoisme dan tlitarianisme, namun teori ini juga mendapat kritikan tajam terutama dari kaum agamawan. Kant mencoba membangun teorinya hanya berlandaskan pemikiran rasional dengan berangkat dari asumsi bahwa karena manusia bermartabat, maka setiap perlakuan manusia terhadap manusia lainnya harus dilandasi oleh kewajiban moral universal. Tidak ada tujuan lain selain mematuhi kewajiban moral demi kewajiban itu sendiri.

4. Teori Hak

Suatu tindakan atau perbuatan dianggap baik bila perbuatan atau tindakan tersebut sesuai dengan HAM. Menurut Bentens (2000), teori hak merupakan suatu aspek dari deontologi (teori kewajiban) karena hak tidak dapat dipisahkan dengan kewajiban. Bila suatu tindakan merupakan hak bagi seseorang, maka sebenarnya tindakan yang sama merupakan kewajiban bagi orang lain. Teori hak sebenarnya didsarkan atas asumsi bahwa manusia mempunyai martabat dan semua manusia mempunyai martabat yang sama. Hak asasi manusia didasarkan atas beberapa sumber otoritas, yaitu a. Hak hukum (legal right), adalah hak yang didasarkan atas sistem/yurisdiksi hukum suatu negara, di mana sumber hukum tertinggi suatu negara adalah Undang-Undang Dasar negara yang bersangkutan. b. Hak moral atau kemanusiaan (moral, human right), dihubungkan dengan pribadi manusia secara individu, atau dalam beberapa kasus dihubungkan dengan kelompok bukan dengan masyarakat dalam arti luas. Hak moral berkaitan dengan kepentingan individu sepanjang kepentingan individu itu tidak melanggar hak-hak orang lain c. Hak kontraktual (contractual right), mengikat individu-individu yang membuat kesepakatan/kontrak bersama dalam wujud hak dan kewajiban masing-masing kontrak. Teori hak atau yang lebih dikenal dengan prinsip-prinsip HAM mulai banyak mendapat dukungan masyarakat dunia termasuk dari PBB. Piagam PBB sendiri merupakan salah satu ETIKA BISNIS Page 5 sumber hukum penting untuk penegakan HAM. Dalam Piagam PBB disebutkan ketentuan umum tentang hak dan kemerdekaan setiap orang. PBB telah mendeklarasikan prinsip-prinsip HAM universal pada tahun 1948, yang lebih dikenal dengan nama Universal Declaration of Human Rights. (UdoHR). Diaharapkan semua negara di dunia dapat menggunakan UdoHR sebagai dasar bagi penegakan HAM dan pembuatan berbagai undang-undang/peraturan yang berkaitan dengan penegakan HAM. Pada intinya dalam UdoHR diatur hak-hak kemanusiaan, antara lain mengenai kehidupan, kebebasan dan keamanan, kebebasan dari penahanan, peangkapan dan pengasingan sewenang-wenang, hak memperoleh memperoleh peradilan umum yang bebas, independen dan tidak memihak, kebebasan dalam mengeluarkan pendapat, menganut agama, menentukan sesuatu yang baik atau buruk menurut nuraninya, serta kebebasan untuk berkelompok secara damai.

5. Teori Keutamaan (Virtue Theory)

Teori keutamaan berangkat dari manusianya (Bertens, 2000). Teori keutamaan tidak menanyakan tindakan mana yang etis dan tindakan mana yang tidak etis. Teori ini tidak lagi mempertanyakan suatu tindakan, tetapi berangkat dari pertanyaan mengenai sifat-sifat atau karakter yang harus dimiliki oleh seseorang agar bisa disebut sebagai manusia utama, dan sifat-sifat atau karakter yang mencerminkan manusia hina. Karakter/sifat utama dapat didefinisikan sebagai disposisi sifat/watak yang telah melekat/dimiliki oleh seseorang dan memungkinkan dia untuk selalu bertingkah laku yang secara moral dinilai baik. Mereka yang selalu melakukan tingkah laku buruk secar amoral disebut manusia hina. Bertens (200) memberikan contoh sifat keutamaan, antara lain: kebijaksanaan, keadilan, dan kerendahan hati. Sedangkan untuk pelaku bisnis, sifat utama yang perlu dimiliki antara lain: kejujuran, kewajaran (fairness), kepercayaan dan keuletan. 6. Teori Etika Teonom Sebagaimana dianut oleh semua penganut agama di dunia bahwa ada tujuan akhir yang ingin dicapai umat manusia selain tujuan yang bersifat duniawi, yaitu untuk memperoleh kebahagiaan surgawi. Teori etika teonom dilandasi oleh filsafat kristen, yang mengatakan bahwa karakter moral manusia ditentukan secara hakiki oleh kesesuaian hubungannya dengan kehendak Allah. Perilaku manusia secara moral dianggap baik jika sepadan dengan kehendak Allah, dan perilaku manusia dianggap tidak baik bila tidak mengikuti aturan/perintah Allah sebagaiman dituangkan dalam kitab suci.

Sebagaimana teori etika yang memperkenalkan konsep kewajiban tak bersyarat diperlukan untuk mencapai tujuan tertinggi yang bersifat mutlak. Kelemahan teori etika Kant teletak pada pengabaian adanya tujuan mutlak, tujuan tertinggi yang harus dicapai umat manusia, walaupun ia memperkenalkan etika kewajiban mutlak. Moralitas dikatakan bersifat mutlak hanya bila moralitas itu dikatakan dengan tujuan tertinggi umat manusia. Segala sesuatu yang bersifat mutlak tidak dapat diperdebatkan dengan pendekatan rasional karena semua yang bersifat mutlak melampaui tingkat kecerdasan rasional yang dimiliki manusia.

Kesimpulan

Etika adalah disiplin ilmu yang mempelajari kebiasaan untuk menentukan hal yang baik dan buruk. Etika dapat berupa perilaku, ilmu pengetahuan dan juga filosofi. Oleh karena itu etika dapat dibagi menajadi etika deskriptif dan normative. Etika deskriptif hanya pemaparan hal yang baik dan buruk sedangkan etika normative adalah etika yang berdasarkan norma norma yang berlaku. Teori etika secara umum dapat dibagi menjaid dua konsenkuensialist dan deontology. Konsenkwensialis ada lah teori yang mendasarkan perbuatan baik dan buruk berdasarkan konsekwensi dari sebuah perilaku dan juga tujuan untuk melakukan perilaku. Sedangkan deontology adalah teoti yang tidak melihat perilaku baik dan buruk berdasarkan konsekwensinya namun perilaku yang baik dan buruk adalah karena nilai moral dan otoritas agama.


Posting Komentar untuk "Teori Etika dan Penjelasan Meta Etika dalam Psikologi"

Klik gambar berikut untuk mengunduh artikel ini:

Berlangganan via Email