Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pengertian dan Sejarah Psikologi Pendidikan Menurut Para Ahli

Pengertian dan Sejarah Psikologi Pendidikan Menurut Para Ahli - Psikologi pendidikan terbentuk dan berkembang berdasarkaan ide dari para ahli psikologi yang membahas tentang pendidikan berdasarkan perspektif psikologi dan bagaimana mereka melakukan riset.

Psikologi pendidikan merupakan salah satu bagian Blog Psikologi yang menerapkan prinsip dan teknik psikologi dalam dunia pendidikan guna memperoleh arahan dan solusi atas permasalahan yang dihadapi dalam dunia pendidikan.

Pada materi ini dibahas tentang psikologi pendidikan, baik dari definisi maupun peran psikologi dalam dunia pendidikan. Terlebih dahulu kita akan membahas tentang psikologi dari padanan kata.

Psikologi pendidikan berasal dari dua padanan kata yaitu psikologi dan pendidikan. Psikologi adalah studi ilmiah tentang perilaku dan proses mental. Psikologi pendidikan adalah cabang Blog Psikologi yang mengkhususkan diri pada cara memahami pelajaran dan pembelajaran dalam lingkungan pendidikan (Santrock, 2007). Psikologi Pendidikan salah satu disiplin ilmu yang berkembang sangat pesat yang berkaitan dengan deskripsi, penjelasan dan pengendalian proses pendidikan yang timbul dari interaksi antara guru dan peserta didik dalam konteks tertentu (Patil, 2009). Konsep psikologi pendidikan berubah sebagai akibat dari dampak umum berbagai disiplin ilmu seperti sosiologi, antropologi, ekonomi, ilmu politik, dan sebagainya. Penekanannya lebih meniitikberatkan pada proses pendidikan, lingkungan, peserta didik dan guru.

Pengertian dan Sejarah Psikologi Pendidikan Menurut Para Ahli_
image source: www.edb.utexas.edu
baca juga: Pengertian dan Teori Motivasi Dalam Kelas

A. Definisi Psikologi Pendidikan

Henry Clay Lindgren (1976, dalam Patil, 2009) menjelaskan bahwa psikologi pendidikan memiliki tiga “eleman” atau “daerah focal” yatitu peserta didik, proses pembelajaran dan situasi belajar (There are three elements of focal areas in educational psychologist and teachers, the learner, the learning process and the learning situation). Pelajar atau peserta didik yang dimaksud dalam definisi ini adalah siswa atau murid yang secara individual dan kolektif menjadi bagian dari kelompok ruang kelas. Proses pembelajaran merupakan daerah lain yang signifikan untuk studi oleh psikolog pendidikan. Elemen yang ketiga, situasi belajar merupakan proses pendidikan yang mewujudkan lingkungan di mana pelajar menemukan jati dirinya dan di mana terjadi proses pembelajaran (Patil, 2009).

Psikologi pendidikan merupakan cabang Blog Psikologi yang mengkhususkan diri pada cara memahami pengajaran dan pembelajaran dalam lingkungan pendidikan (Santrock, 2007). Definisi yang gagas oleh Santrock (2007,2009) menenitikberatkan pada proses belajar mengajar di lingkungan pendididkan. Proses belajar mengajar tidak akan terlepas dari peserta didik, proses pembelajaran dan situasi belajar yang juga dikemukakan oleh Henry Clay Lindgren (1976, dalam Patil, 2009).

B. Latar Belakang Sejarah

Kajian tentang psikologi pendidikan bermula dari beberapa tokoh-tokoh psikologi sebelum awal abad 20. Ada beberapa perintis yang membahas pendidikan dalam kajian mereka tentang psikologi (Santrock, 2007):

1. Willam James (1842-1910). Tokoh psikologi ini berperan besar munculnya pembahasan psikologi yang berkaitan dengan pendidikan anak. Dalam kuliahnya yang bertajuk “Talks to Teacher”, William james menegaskan pentingnya mengetahui cara pembelajaran yang efektif di kelas, bukan hanya memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada siswa, akan tetapi berupaya meningkatkan atau memperluas cakrawala dan wawasan pemikiran anak.

2. John Dewey (1859-1952). Tokoh ini berperan besar terbentuknya psikologi pendidikan. John Dewey menjadi motor penggerak bagimana mengaplikasikan psikologi dalam tingkat praktis. Karya-karya beliau yang mengisnpirasi tokoh lainnya dalam memandang pendidikan pada perspektif psikologi. Karya beliau yang pertama, bahwa anak dipandang sebagai pembelajar yang aktif (active learner). Anak dapat belajar lebih baik jika mereka aktif dibandingkan dengan mereka duduk diam di kursi mereka dan memperhatikan pelajaran secara pasif. Kedua, pendidikan meski berfokus pada anak secara keseluruhan dan memperkuat kemampuan anak untuk beradaptasi dengan lingkungan. Anak bukan hanya diberikan pelajaran akademik, akan tetapi juga diajarkan bagaimana memecahkan masalah secara reflektif. Ketiga, semua anak berhak mendapatkan pendidikan yang selayaknya.

3. E.L Thorndike (1874-1949). Perintis ketiga ini berpendapat bahwa salah satu tugas yang paling penting diterapkan dalam dunia pendididkan adalah menanamkan keahlian penalaran anak. Thorndike mengajukan gagasan bahwa psikologi pendidikan bukan hanya berbasis pada metodologi ilmiah tetapi juga berfokus pada pengukuran.

4. B.F. Skinner (1938). Dalam perkembangan psikologi di Amerika, pandangan Skinner yang disadarkan pada ide-ide Throndike. Pandangan Skinner tentang sangat mempengaruhi psikilogi pendidikan pada abad ke-20. Skinner berpendapat bahwa proses mental yang dikemukakan oleh James dan Dewey merupakan proses yang tidak dapat diamati. Beliau mengembangkan konsep programmed learning (pembelajaran terprogram) yang menekankan penguatan atau dorongan (reinforced) agar siswa mencapai tujuan pembalajaran yang telah direncanakan.

5. Benjamin Bloom (1950) berkeberatan atas pendekatan behavioral yang dianggap tidak memperdulikan berbagai tujuan dan kebutuhan guru atau pendidik di kelas. Sebagai reaksi atas keberatan tersebut, beliau menciptakan taksonomi keahlian kognitif yang mencakup pengingatan, pemahama, sintesis, dan pengevaluasian (yang dikenal dengan Taksonomi Bloom). Taksonomi keahlian kognitif ini perlu digunakan dan dikembangkan oleh guru untuk membantu murid mencapai tujuan pembelajaran.

Pada akhir abad 20 terjadi revolusi kognitif dalam psikologi yang berimplikasi pada pengaplikasian konsep psikologi kognitif, seperti memori, pemikiran, dan penalaran, untuk membantu murid dalam proses belajar mengajar dan upaya pencapaian tujuan pembelajaran. Para ahli psikologi pendidikan juga menekankan aspek sosioemosional dalam kehidupan murid. Mereka menganalisis sekolah sebagai konteks social dan mengkaji peran kultur dalam pendidikan.

Psikologi pendidikan mempelajari aspek-aspek penting dalam pendidikan yaitu pelajar atau siswa, belajar dan mengajar. Aspek-aspek tersebut diteliti, dikaji dan dikembangkan dengan pendekatan ilmiah. Para ahli psikologi pendidikan menyelidiki proses belajar mengajar di berbagai tempat yang representatif bagi pengambangan motede belajar dan mengajar yang efektif, baik di laboratorium, di sekolah, akademi militer, perguruan tinggi, industri dan lain sebagainya.

Psikologi pendidikan memiliki peranan yang penting dalam mengembangkan pengetahuan dalam proses pendidikan. Peran psikologi pendidikan tersebut meliputi (Djiwandono, 2006) :

1. Metode pengajaran dan pemecahan masalah berdasarkan pada pendekatan ilmiah.
Para ahli psikologi pendidikan mencoba mencari pemecahan masalah yang dihadapai oleh guru dan murid dalam proses belajar mengajar. Sebagai contoh, Becker, Thomas, dan Koser (1989 dalam Djiwandono, 2006) menemukan bahwa fokus dan perhatian yang pada siswa yang tertib akan menurunkan tingkat perilaku tidak tertib di kelas.

2. Pengembangan teori pengajaran.
Selain pendekatan ilmiah atau riset, psikologi pendididkan juga dapat mengembangkan strategi pengajaran dan pembelajaran yang efektif. Pengembangan teori pengajaran yang menggunakan pendekatan ilmiah juga dapat mengembangkan prinsip-prinsip pengajaran dan pembelajaran. Dengan pengambangan inilah, tujuan dan impian pembelajaran yang efektif dapat segera terwujud.

Psikologi pendidikan juga menggembarkan dan mendeskripsikan prinsip-prinsip yang diterapkan pada pendidikan. Banyak kajian-kajian psikologi pendidikan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. Kajian-kajian tersebut mungkin menjadi relevan jika memiliki tujuan dan kegunaan dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan. Beberapa kajian yang relevan yang digeluti oleh psikologi pendidikan tercakup sebagai berikut (Djiwandono, 2006):
  1. Teori dan model pengajaran dan belajr di kelas.
  2. Dinamika interaksi antara guru dan siswa.
  3. Prinsip-prinsip belajar yang efektif dan perkembangan kepribadian.
  4. Prinsip-prinsip motivasi dan pengelolaan kelas.
  5. Strategi pengembangan siswa yang memiliki kecerdasan tinggi, rndah atau cacat mental.
  6. Strategi penggunaan tujuan instruksional dalam pengajaran dan tes.
  7. Pengkoordinasian metode pengajaran pada individu yang memiliki kemampuan, kepribadian dan gaya berfikir yang berbeda dengan individu lainnya.

C. Cara mengajar yang efektif.

Seorang guru yang mengajar perlu memiliki kemampuan untuk mengembangkan persepktif dan strategi yang dapat diaplikasikan secara flesksibel. Oleh karena itu, guru membutuhkan dua hal pokok dalam prinsip pengajaran yaitu (1) pengetahuan dan keahlian, (2) komitmen dan motivasi (Santrock, 2007).

Prinsip pertama, pengetahuan dan keahlian professional. Santrock (2007) menekankan akan profesionalisme guru dalam mengajar. Guru merupakan aktor penting dalam pembelajaran di kelas. Pada prisnsip pengetahuan dan kehlian professional, Santrock menjelaskan dalam beberapa hal sebagai berikut :

1. Penguasaan materi pelajaran. Pada prinsip ini guru dituntut untuk menguasai mata pelajaran yang mencakup fakta, istilah, konsep umum, kemampuan dasar pengorganisasian materi, mengkaitkan berbagai gagasan, bagaimana penggunaan cara berfikir dan berargumen.

2. Strategi pengajaran. Salah satu pendekatan yang digunakan dalam strategi pembelajaran yang efektif adalah prinsip konstruktivisme. Prinsip ini menekankan agar individu secara aktif menyusun dan membangun pengetahuan dan pemahaman. Menurut pandangan konstruktivisme, guru bukan hanya sekedar memberikan informasi kepada anak didik, akan tetapi mendorong anak untuk mengeksplorasi dunia, menemukan pengetahuan, mencermati dan berfikir secara kritis (Brooks & Brooks, dalam Santrock, 2007).

3. Penepatan tujuan dan keahlian perencanaan instruksional. Setiap pengajaran yang diberikan kepada peserta didik harus memiliki tujuan pengajaran dengan menyusun rencana untuk mencapai tujuan tersebut (Pintrich & Schunk, dalam Santrock, 2007). Dalam penyusunan perencanaan, guru dituntut untuk membuat strategi pembelajaran yang menanatang, menarik dan menyenangkan.

4. Keahlian manajemen kelas. Pembelajaran dapat dikatakan efektif jika guru dapat membangun dan mempertahankan lingkungan belajar yang kondusif. Untuk itu, guru perlu mencermati strategi penataan, prosedur pengajaran, pengorganisasian kelompok, monitoring, dan keaktifan kelas serta strategi menangani murid yang menggangu suasana kondusif di dalam kelas (Algozzine & Kay, Emmer, Stough, Lindberg, Swick, Martella, Nelson, Marchand-Mertella, dalam Santrock 2007).

5. Keahlian motivasional. Kegiatan belajar mengajar akan lebih efektif jika guru dapat meningkatkan motivasi murid untuk mempelajari pengetahuan. Guru dapat memotivasi murid dengan memberikan kesempatan murid untuk belajar di dunia nyata agar murid dapat menemukan sesuatu yang baru dan menantang (Brophy, dalam Santrock, 2007).

6. Keahlian kemunikasi. Keahlian ini bukan hanya digunkan untuk kegiatan belajar mengajar, akan tetapi dapat digunkan dalam proses interaksi dengan orang tua murid, administrator dan masyarakat. Kemampuan komunukasi efektif dapat menunjukkan guru tersebut memiliki gaya komunikasi asertif, bukan agresif, manipulatif, atau pasif (Alberti, Emmons, Everson, Emmer, Worsham, dalam Santrock, 2007).

7. Kemampuan Bekerja secara efektif dengan murid dari latar belakang cultural yang berlainan. Era globaliasi menuntut masyarakat untuk berinteraksi dengan berbagai keomunitas, agama, suku dan bangsa. Guru yang efektif mengetahui dan memahamai anak didiknya dengan latar belakang kultur yang berbeda-beda dan sensitif terhadap kebutuhan mereka (Cushner, Johnson & Jhonson, Spring, dalam Santrock 2007). Guru mendorong murid untuk menjalin hubungan positif dengan murid yang memiliki latar belakang yang berbeda. Hal ini bertujuan untuk membangun nilai toleransi dan saling memahami sesuai dengan konteks cultural.

8. Keahlian teknologi. Semakin tingginya kebutuhan masyarakat akan teknologi menggiring anak mengetahui dan terbiasa dengan teknologi tersebut. Kondisi ini perlu dicermati oleh guru dalam melihat peluang dan hambatan dalam proses belajar. Peluang ini harus dimanfaatkan guru untuk membangun pengatahuan dan pemahaman murid, misalnya menerapkan program pengayaan dengam memberikan tugas yang bersinggungan dengan internet. Program ini pula yang dapat memberikan pemahaman kepada murid bahwa teknologi sangat berguna bagi perkembangan pemahaman mereka tentang pelajaran. Untuk menunjang tujuan tersebut, guru dituntut untuk menguasai penggunaan teknologi, seperti computer dan Gaget, sehingga dapat mengevaluasi pengunaan game dan aplikasi-aplikasi software dalam komputer.

D. Riset Psikologi Pendidikan

Guru yang menggandalkan pengalaman mengajar sebagai pedoman mereka dalam mengajar dapat menjadikan mereka guru yang efektif. Memang dapat dikatakan bahwa pengalaman adalah penting bagi guru untuk meningkatkan kompetensi mereka. Akan tetapi, berapa waktu yang dibutuhkan oleh guru untuk mendokumentasikan pengalaman mereka dan bagaimana pengalaman mengandung ‘ilmiah’ sehingga dapat dijadikan rujukan dalam mengajar dan dapat dipertanggungjawabakan. Disinilah guru membutuhkan hasil riset yang dapat memberikan informasi yang valid tentang cara terbaik dapat mengajar. Informasi hasil riset yang diterapkan dalam proses belajar mengajar di kelas dapat meningktakan kemampuan guru menjadi lebih baik (Fraenkel & Wallen dalam Santrock, 2007).

Riset ilmiah adalah riset objektif, sistematis, dan dapat diuji sehingga dapat mereduksi kemungkinan adanya informasi yang didasarkan pada keyakinan, opini dan perasaan personal. Riset berdasarkan pada metode ilmiah yang mencakup langkah-langkah yaitu perumusan masalah, pengumpulan data, penarikan kesimpulan dan merevisi kesimpulan dan teori riset (Santrock, 2007).

Metode riset yang telah dijelaskan oleh santrok dapat diaplikasi dalam berbagai tujuan dalam menemukan atau menjelaskan suatu gejala atau metode pengajaran.

Penjelasan langkah-langkah metode penelitian dapat dilihat dari bagan sebagai berikut (Santrock, 2007) :

Langkah 1. Perumuasan masalah
Peneliti mengidentifikasi masalah yang ditemukan dengan mengosilasi problem tersebut dari problem lainnya, menganalisis, mempersempit, dan memfokuskan pada aspek-aspek yang akan diteliti. Setelah peneliti mengidentifikasi problem maka langkah selanjutnya adalah menyusun teori dan mengembangkan satu atau lebih hipotesis. Teori adalah seperangkat ide yang saling berkaitan dan koheren yang berfungsi untuk menjelaskan dan membuat prediksi. Sedangkan hipotesis adalah asumsi dan prediktif spesifik yang dapat diuji untuk mengetahui apakah teori itu benar atau tidak (Santrock, 2007).

Langkah 2. Mengumpulkan informasi (data)
Pengumpulan data adalah cara fundamental untuk menguji hipotesis. Ada tiga metode dasar yang dipakai untuk mengumpulkan informasi dalam psikologi pendididkan yaitu deskriptif, korelasional dan eksperimen. Santrock (2007) menjelaskan tiga metode dasar sebagai berikut :

a. Riset deskriptif.
Riset ini bertujuan untuk mengamati dan mencatat perilaku. Riset ini tidak dapat membutuktikan apa penyebab dari suatu fenomena, tetapi bisa mengungkapkan informasi penting tentang perilaku dan sikap individu. Riset deskriptif dapat menggunakan teknik-teknik yang tercakup sebagai berikut :

1.a. Observasi
Teknik ini membutuhkan pengetahuan tentang apa yang diamati, mencatat dan mengelompokkan apa yang dilihat secara akurat serta menyempaikan hasil observasi secara efektif. (Cone, dalam santrock, 2007). Observasi terbagi menjadi dua yaitu :

  • Observasi alammiah (naturalistic) adalah perilaku yang diamati dalam luar laboratorium atau dunia nyata.
  • Obeservasi partisipan adalah observasi di mana peneliti terlibat aktif sebagai partisipan (peserta) dalam suatu aktivitas atau tempat tertentu (McMillan, dalam Santrock, 2007). Peneliti yang menggunakan teknik ini biasanya membuat catatan selama periode tertentu.


2. a. Wawancara dan kuesioner
Peneliti menggunakan teknik ini bertujuan untuk mengetahui tentang pengalaman, keyakinan dan perasaan individu. Wawancara dilakukan secara tatatp muka, meskipun dapat juga dilakukan dengan cara lain, seperti melalui telepon atau internet. Sedangkan kuesioner diberikan kepada individu dalam bentuk tertulis.

3.a Tes standar (standardizet tes)
Tes ini memiliki prosedur administrasi dan penilaan yang seragam. Tes ini menilai sikap dan keahlian murid dalam domain yang berbeda-beda. Banyak tes standar yang dapat membandingkan kinerja seorang murid yang berusia dan level yang sama. Tes standar yang diberikan kepada murid dalam bentuk tugas-tugas yang meski mereka selesaikan, seperti tes kecerdasan, tes prestasi, tes kepribadian dan tes minat bakat.

4.a. Studi kasus
Teknik ini seing digunkan oleh peneliti untuk mendeskripsikan situasi unik dalam kehidupan seseorang. Oleh karena itu, studi kasus sering diartikan sebagai kajian mendalam terhadap individu. Kendati studi kasus dapat memberikan gambaran yang mendalam tentang kehidupan sesorang, namun perlu kehati-hatian dalam menginterpretasikannya. Hal ini disebabkan susunan genetic dan pengalaman yang tidak dapat ditemukan di individu lain. Temuan dalam studi kasus seringkali tidak bisa dianalisi secara statistik dan mungkin tidak bisa digeneralisir secara lebih luas.

5. a Studi etnogarif 
Studi ini menekankan pada deskripsi mendalam dan interpretasi terhadap perilaku dalam satu etnis atau kelompok cultural yang menekankan keterlibatan langsung dengan partisipan. Tipe penelitian ini menggunakan observasi langsung dalan setting alam dan wawancara.

b. Riset kolerasional
Tujuan dari riset ini adalah mendeskripsikan kekuatan hubungan anatara dua atau lebih kejadian atau karakteristik. Kolerasi tidak mencerminkan ada hubungan sebab akibat, akan tapi lebih melihat ada atau tidaknya hubungan antar dua peristiwa atau variabel tertentu. Riset ini juga dapat memprediksikan suatu kejadian secara lebih erektif.

c. Riset eksperimen
Riset eksperimen adalah prosedur yang diatur secara hati-hati di mana satu atau lebih faktor yang dianggap mempengaruhi perilaku yang sedang diteliti. Perilaku yang diteliti merupakan hasil dari faktor yang dimanipulasi dan semua faktornya dianggap konstan. Riset ini ingin menentukan sebab-akibar perilaku manusia. Sebab adalah suatu kejian yang dimanipulasi, sedangkan akibat adalah perilaku yang berubah karena manipulasi.

Riset ekperimen merupakan satu-satunya metode yang handal dalam menentukan hubungan sebab akibat. Jika perilaku yang diteliti berubah karena satu faktor dimanipulasi maka kita dapat mengatakan bahwa faktor yang dimaniupulasi itulah yang menyebabkan perilaku berubah. Hal inilah yang menyebabkan riset ekperimen berbeda dengan riset kolerasional. Riset kolerasional tidak menggunakan manipulasi faktor yang tentu menunjukan bahwa riset kolerasional tidak bertujuan untk mengatahui sebab akibat.

Berikut perbedaaan riset keolerasional dengan riset eksperimen :
Korelasi Ekperimen
Tujuan Menentukan apakah dua (atau lebih) faktor berkolerasi satu sama lain. Menentukan apakah ada hubungan sebab akibat diantara dua faktor atau lebih.
Metode pengumpulan data Mencatat kejadian dua faktor yang berbeda dalam satu kelompok partisipan. Membagi responden menjadi dua yaitu kelompok ekspreiman dan kelompok control. Berikan kelompk eksperimen beberapa jenis perlakuan tertentu yang tidak diberikan kepada kelompok control.
Analisis Menganalisis secara statistic faktor-faktor yang cenderung berkolerasi (terjadi secar spasial atau temporal) Menganalisis secara statistic apakah kelompok eksperimen berbeda dengan kelompok control setelah mendapatkan perlakuan tersebut
Interpretasi Menentukan apakah faktor tersebut berkolerasi atau tidak. Sebuah kaitan mungkin berupa sebab akibat, tetepi tidak bisa dibuktikan dengan asosiasi ini. Menentukan perilaku tersebut mumcul disebabkan karena faktor yang dimanipulasi.

Bagan.1 Perbedaan riset kolerasi dengan eksperimen. (Santrock, 2007).

Rentang waktu riset
Hal yang perlu diperhatikan oleh peneliti psikologi pendidikan dalam melakukan sebuah riset adalah rentang waktu yang dibutuhkan dalam penyelsaian riset dan tujuan yang hendak dicapai. Rentang waktu riset terbagi menjadi dua yaitu riset cross-sectional dan riset longitudinal. Riset cross-sectional digunakan untuk mempelajari kelompok responden penelitian dalam satu waktu. sedangkan riset longitudinal bertujuan untuk mempejajari individu yang sama selama periode waktu tertentu, biasanya beberapa tahun atau lebih.


Sekian artikel tentang Pengertian dan Sejarah Psikologi Pendidikan Menurut Para Ahli.

Posting Komentar untuk "Pengertian dan Sejarah Psikologi Pendidikan Menurut Para Ahli"

Klik gambar berikut untuk mengunduh artikel ini:

Berlangganan via Email