Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pengertian dan Teori Motivasi Dalam Kelas Menurut Para Ahli

Pengertian dan Teori Motivasi Dalam Kelas Menurut Para Ahli - Motivasi di dalam kelas akan membantu pengajar untuk dapat memahami bagaimana menciptakan kelas yang penuh dengan motivasi. Untuk kemudian memperjelas cara untuk dapat membangun motivasi intrinsik.

1. Struktur Kelas: Menciptakan suatu Lingkungan yang Terfokus pada Belajar

Tujuan belajar penekanannya pada peningkatan pemahaman dan penguasaan tugas-tugas, dan tujuan prestasi, terfokus pada menunjukkan kemampuan yang tinggi terutama kemampuan dibandingkan dengan yang lain. Siswa mengadopsi satu tipe tujuan atau tergantung pada beberapa faktor, tetapi satu hal yang pengaruh penting adalah lingkungan kelas. Lingkungan yang terfokus pada belajar penekanannya tujuan belajar. Sedangkan lingkungan yang terfokus pada prestasi berkonsentrasi pada tujuan prestasi.

Pengertian dan Teori Motivasi Dalam Kelas Menurut Para Ahli_
image source: performance.ca
baca juga: Pengertian Dan Teori Motivasi Belajar Menurut Para Ahli

Tabel Perbandingan ruang kelas yang terfokus pada belajar dan prestasi

Terfokus pada Belajar Terfokus pada Prestasi
Sukses didefinisikan sebagai.... Penguasaan, kemajuan Nilai yang tinggi, melakukan lebih baik dari yang lain
Nilai ditempatkan pada ..... Usaha, dan kemajuan Nilai yang tinggi, menunjukkan kemampuan yang tinggi
Alasan kepuasan .... Menghadapi tantangan, bekerja keras Melakukan lebih baik dari yang lain, sukses dengan usaha yang minim
Orientasi guru ke arah.... Belajar siswa Prestasi siswa
Pandangan mengenai kesalahan.... Suatu bagian yang normal di dalam belajar Suatu dasar untuk perhatian dan kecemasan
Alasan usaha.... Meningkatkan pemahaman Nilai tinggi, melakukan sesuatu lebih baik dari yang lain
Kemampuan dipandang sebagai.... Kenaikan, dapat berubah Suatu kesatuan, pasti
Alasan pengukuran.... Mengukur kemajuan sebelum ditetapkan kriteria, menyediakan uman balik Menentukan nilai, membandingkan siswa dengan siswa lainnya

Di dalam rangka orientasi belajar, terdapat suatu model yang dapat mengembangkan motivasi siswa hasil dari gabungan beberapa teori motivasi dan hasil penelitian sebelumnya (pada teori motivasi), yaitu memiliki empat komponen:
  1. Regulasi-diri siswa: mengembangkan tanggung jawab siswa
  2. Karakteristik guru: kualitas personal yang dapat meningkatkan motivasi siswa
  3. Variabel suasana: menciptakan suatu lingkungan motivasi
  4. Variabel pengajaran: mengembangkan ketertarikan di dalam aktivitas belajar

Variabel-variabel ini saling terkait; satu variabel tidak dapat secara efektif diterapkan jika yang lainnya kurang.

Pengertian dan Teori Motivasi Dalam Kelas Menurut Para Ahli 2_
Gambar-1. Suatu model bagi Pengembangan Motivasi Siswa

A. Regulasi Diri Siswa: Mengembangkan Tanggung Jawab Siswa

Regulasi diri, merupakan suatu proses menerima tangggung jawab dan kontrol untuk belajarnya sendiri, dimulai dengan tujuan. Penetapan dan monitoring tujuan, metacognition, dan penggunaan strategi seluruhnya dibutuhkan jika tujuan digunakan secara efektif. Meskipun siswa lebih dimungkinkan untuk menjalankan tujuan yang ditentukan oleh diri mereka sendiri, beberapa siswa cenderung tidak menetapkan tujuan, umumnya mereka tidak mengetahui tujuan apakah yang mesti ditetapkan dan bagaimana menetapkannya. Berikut kita akan lihat cara guru untuk membantu siswa selama regulasi diri.

Mengembangkan Regulasi Diri: Menerapkan Teori Determinasi-Diri.

Regulasi-diri siswa adalah suatu proses perkembangan bahwa, di mana dukungan guru secara gradual dapat meningkatkannya. Regulasi diri dimulai dengan menerima tanggung jawab personal, kadang-kadang digambarkan dalam istilah penetapan tujuan tanggung jawab sosial.

Meskipun fokus pada motivasi intrinsik, teori mengakui bahwa secara inisial tidak seluruh perilaku dimotivasi secara instrinsik. Siswa-siswa melewati tahap-tahap dari motivasi ekstrinsik seperti meningkatnya determinasi-diri (kebulatan tekad).

Pada tahap pertama, dikatakan regulasi eksternal, siswa berusaha untuk menggapai tujuan untuk menerima reward dan menghindari hukuman. Selama regulasi-diri mereka berkembang, siswa secara gradual belajar untuk memenuhi tanggung jawab dan tujuan belajar karena contohnya, mereka meyakini bahwa mencapai tujuan adalah penting untuk membantu mereka mendapatkan angka yang lebih baik. Meskipun perilaku ini masih dikatakan motivasi ekstrinsik, perilaku ini menggambarkan peningkatan regulasi diri. Ketika siswa berkembang lebih jauh, mereka berusaha untuk mencapai tujuan ini karena konsisten dengan skema diri. Contohnya, jika seorang siswa memonitor tujuan prestasi karena dia mulai memandang dirinya sebagai satu tanggung jawab personal, dia membuat kemajuan lebih jauh ke arah determinasi-diri (kebulatan tekad). Akhirnya (dan secara ideal) siswa menetapkan dan memonitor tujuan untuk kepentingan mereka sendiri perilaku yang dimotivasi secara instrinsik dengan kebulatan tekad.

B. Karakteristik Guru: Kualitas Personal yang Meningkatkan Motivasi dan Belajar Siswa

Keyakinan (Efikasi) Pengajaran Personal: Keyakinan mengenai Belajar dan Mengajar.

Keyakinan pengajaran personal (personal teaching efficacy), keyakinan seorang guru bahwa dia mampu membawa seluruh siswa untuk belajar dan sukses tanpa memperhatikan latarbelakang pengetahuan atau kemampuan (Bruning dalam Eggen & Kauchack, 2004). Guru yang memiliki efikasi pengajaran personal bertanggung jawab untuk kesuksesan atau kegagalan pengajaran mereka sendiri.

Ketika siswa tidak belajar sebanyak yang mereka bisa, guru yang memiliki efikasi diri tinggi tidak menyalahkan kekurangan intelegensi, lingkungan rumah yang kurang, administrasi yang tidak terkoordinir, atau beberapa sebab eksternal lainnya. Malahan mereka melakukan usaha dua kali lipat, mereka yakin bahwa mereka dapat meningkatkan belajar siswa. Mereka bekerja keras dan mempertahankan harapan yang tinggi terhadap siswa. Mereka menciptakan suasana ruang kelas di mana siswa merasa aman dan bebas untuk mengekspresikan pemikiran mereka tanpa takut malu atau ditertawakan. Mereka menghargai siswa di dalam peningkatan kompetensi siswa, menghindari penggunaan reward untuk mengontrol perilaku, bertahan dengan siswa yang berprestasi rendah, dan memaksimalkan waktu yang tersedia untuk mengajar. Efikasi guru yang rendah sebaliknya, harapannya lebih rendah, kurang fokus pada siswa, kurang meluangkan waktu di dalam aktivitas belajar, ”menyerah” terhadap siswa yang berprestasi rendah, dan lebih kritis ketika siswa gagal.

Efikasi guru yang tinggi mengadopsi materi kurikulum yang baru dan merubah strategi menjadi lebih mudah daripada yang dilakukan guru yang memiliki efikasi diri yang rendah. Efikasi diri guru yang tinggi juga menilai dan mengembangkan kontrol dan autonomy siswa lebih daripada yang dilakukan guru yang memiliki efikasi diri yang rendah. Efikasi pengajaran personal yang rendah memberi kontribusi terhadap emosi negatif, stres, melelahkan guru. Berfikir siswa dengan guru yang memiliki efikasi diri yang tinggi lebih termotivasi daripada berfikir dengan guru yang memiliki efikasi diri yang rendah.

Modeling dan Antusiasme: Komunikasi yang Menarik

Guru mengkomunikasikan keyakinan mengenai pengajaran dan belajar melalui model perilaku. Memotivasi siswa sebenarnya tidak mungkin terjadi jika model guru tidak suka atau kurang tertarik di dalam topik yang mereka ajarkan. Statement berikut ini dapat merusak motivasi siswa:
”Saya tahu bahan-bahan ini membosankan, tetapi kita harus mempelajarinya.”
” Topik ini tidak menarik bagi saya, daripada topik yang lain.”

Selayaknya guru memberikan statement yang antusias karena komunikasi guru akan berpengaruh untuk menjadikan topik menarik. Komunikasi yang menarik dan antusias akan menyebabkan belajar menjadi bernilai dan berharga. Kenyataannya siswa dengan guru yang antusias memiliki autonomi, efikasi diri, dan prestasi yang lebih besar daripada dengan guru yang memiliki antusiasme lebih kecil (R. Perry, dkk dalam Eggen & Kauchack, 2004)

Guru dapat mempengaruhi motivasi siswa dengan modeling lain berupa karakteristik belajar yang positif. Guru mengatakan, ”Semakin saya bekerja keras semakin saya memahami apa yang saya baca dan saya saya berusaha untuk lebih pintar”. Dengan melakukan hal ini kemungkinan siswa akan mengimitasi keyakinan tersebut di dalam proses berfikir. Dengan demikian modeling adalah faktor yang sangat kuat di dalam mempengaruhi efikasi diri siswa

Perhatian

Guru mengembangkan hubungan kebutuhan dasar manusia sesuai dengan teori self-determination. Siswa dapat dimotivasi untuk belajar dengan ”aman, penuh kepercayaan, dan dukungan lingkungan yang dikarakteristikkan dengan kualitas hubungan dari perhatian orang dewasa yang terlihat memiliki potensi unik” . Perhatian guru ditekankan di dalam pandangan humanistik dari motivasi mengingatkan kita bahwa kita tidak mengajarkan matematika, ilmu pengetahaun, atau seni kita mengajarkan individu. Kita harus terfokus pada siswa sebagai individu yang utuh, meliputi kebutuhan emosional dan sosial sebagai seorang intelektual.

Perhatian berhubungan dengan kemampuan guru untuk empati dengan memberikan perlindungan dan perkembangan dari anak muda. Perhatian lebih dari sekedar kehangatan, interaksi yang penuh kasih sayang dengan siswa. Di tambah lagi untuk memahami bagaimana perasaan siswa, perhatian guru dilakukan dengan pertumbuhan dan kompetensi siswa (Nodding; Wentzel dalam Eggen & Kauchack, 2004).

Harapan Guru

Harapan guru mengenai belajar siswa dapat memiliki implikasi besar bagi belajar siswa secara aktual. Harapan mempengaruhi isi dan sisi kurikulum, susunan pengajaran, evaluasi, interaksi pengajaran dengan siswa, dan beberapa perilaku yang nampak atau tidak nampak yang mempengaruhi harapan siswa sendiri di dalam belajar dan demikian perilaku mereka.

Beberapa guru kompeten atau tidak kompeten berkomunikasi ke seluruh kelas melalui cara bertindak atau pendekatan umum akan management ruang kelas sebagai berikut:

”Ini pemikiran yang baru yang akan kita pelajari, dan pemikiran baru ini akan menjadi tantangan, tetapi jika kamu bekerja keras saya tahu kamu pasti mendapatkannya. Saya ingin kamu memulai dengan benar ketika pemikiran mulai fresh di dalam otak kamu. Saya akan berkeliling, jadi jika kamu memiliki pertanyaan kamu tinggal aangkat tangan”.

”Materi ini susah, tetapi kita harus mempelajarinya. Saya ingin setiap orang mengawali dengan cara yang benar, dan tidak boleh ada goblog. Jesse apakah kamu mendengarkan saya? Beberapa orang dari kamu akan memiliki masalah dengan ini, dan saya akan keleliling secepatnya saya bisa untuk meluruskan pemikiran kamu. Tidak ada yang boleh berisik sampai saya datang kembali”.

Guru pertama menyatakan bahwa tugas sulit, tetapi dia memiliki harapan kepada siswa secara sukses meyelesaikannya. Dia berkomunikasi secara percaya diri dalam kompetensinya (siswa). Kedua mengatakan, ”beberapa dari kamu kemungkinan akan memiliki masalah dengan ini,”menyatakan secara tidak langsung bahwa siswa tidak mampu dan dia tidak memiliki harapan kepada mereka untuk mampu menyelesaikan tugas secara sempurna.

Bagaimanapun harapan guru secara langsung akan mempengaruhi dan merusak baik prestasi dan motivasi siswa. Harapan guru bagi belajar secara kuat mempengaruhi sejumlah siswa yang secara aktual melakukan pendidikan.

C. Variabel Suasana: Menciptakan Suatu Lingkungan yang Bermotivasi

Perasaan yang ditumbuhkan oleh lingkungan kelas menciptakan suasana ruang kelas. Di dalam suasana yang sehat, karakteristik guru dan ruang kelas mengembangkan perasaan siswa akan rasa aman dan kenyamanan, secara bersamaan dengan perasaan kesuksesan, tantangan, dan pemahaman. Dengan kata lain, siswa diperlakukan sebagai seorang yang kompeten. Mereka memahami persyaratan dari tugas-tugas belajar, menerimanya sebagai suatu tantangan, dan meyakini mereka akan sukses jika mereka membuat usaha yang masuk akal

Tertib dan Aman: Ruang Kelas sebagai Tempat yang Nyaman untuk Belajar

Kebutuhan akan rasa aman dapat dijelaskan dengan teori humanistik dan teori kognitif dari motivasi. Contohnya, rasa aman menjadi suatu kekurangan akan kebutuhan dasar (didahului dengan kelangsungan hidup) di dalam teori hirarki Maslow. Peneliti-peneliti yang membenarkan teori Maslow menggambarkan sekolah efektif sebagai tempat yang aman dimana kejujuran, tata tertib, kerjasama, dan moral yang tinggi lebih dominan (Rutter, dkk dalam Eggen & Kauchack, 2004).

Kebutuhan untuk tertib dapat dijelaskan di dalam sedikitnya dua cara. Pertama, lingkungan tertib, jadi lingkungan tertib membantu keutuhan untuk keseimbangan (equilibrium). Kedua, kompetensi. Kompetensi didefinisikan sebagai kemampuan untuk memfungsikan secara efektif lingkungan seseorang. Siswa bisa diatur secara efektif ketika lingkungan tertib. Jadi, tata tertib memberi kontribusi ke persepsi siswa akan kompetensinya.

Sukses: Mengembangkan Self-Efikasi Siswa

Kesusksesan siswa menjadi suatu hal yang sangat penting di dalam variabel suasana. Guru-guru dapat meningkatkan kemungkinan kesuksesan bagi banyak siswa dalam beberapa cara. Di tambah lagi untuk membuat siswa merasa kompeten untuk meningkatkan self-efikasi mereka. Strategi-strategi yang perlu diperhatikan sebagai berikut:
  • Memulai pelajaran dengan membuka pertanyaan yang dapat digunakan untuk menilai pemahaman siswa
  • Menggunakan contoh-contoh dan representasi yang bervariasi dan berkualitas tinggi yang menyediakan latarbelakang pengetahuan dan mengembangkan pemahaman
  • Mengembangkan pelajaran dengan pertanyaan dan mendorong siswa ketika mereka kesulitan di dalam menjawab. 
  • Menyediakan praktek penyangga sebelum diberikan kepada siswa
  • Melakukan penilaian tanpa berhenti dan menyediakan umpan balik mengenai kemajuan belajar.

Sukses, meliputi banyak aspek dari pengajaran dan pembelajaran, dan kesuksesan bagaimanapun juga tidak sesederhana yang nampak.

Tantangan: Meningkatkan Persepsi akan Kompetensi dan Determinasi-Diri (Kebulatan Tekad)

Sepanjang teori dan penelitian mengkonfirmasi kita tidak hanya membutuhkan kesuksesan tetapi juga membutuhkan tantangan. Tantangan adalah salah satu karakteristik dari aktivitas motivasi intrinsik. Tantangan membuat siswa ingin berpartisipasi. Selain itu, siswa lebih dimungkinkan untuk menilai kesuksesan pada suatu tugas jika mereka menerima tugas sebagai suatu tantangan (J.Atkinson: Brehm & Self; Clifford dalam Eggen & Kauchack, 2004), suatu pemikiran yang konsisten dengan expectancy x value theory.

Persepsi mengenai meningkatnya kompetensi adalah kepuasan bagi diri mereka sendiri karena memunculkan perasaan bahwa mereka mampu untuk memfungsikan secara efektif lingkungan mereka, di mana pada gilirannya memberikan kontribusi pada kontrol akan perasaan (autonomy). Perasaan kompetensi dan kontrol mengarah pada peningkatan motivasi dan ketekunan. Ini membantu kita memahami kenapa, contohnya anak tetap bertahan di dalam belajar sepeda, meskipun mereka seringkali jatuh, dan kenapa mereka kurang tertarik di dalam keterampilan setelah sepeda dikuasai.

Guru perlu menekankan tantangan motivasi kedepan dengan menganjurkan siswa untuk mengidentifikasi hubungan topik yang mereka pelajari dan implikasi hubungan dengan pembelajaran yang baru. Ketika siswa komplain mengenai tugas-tugas yang sulit, guru yang efektif tidak mengurangi tantangan mereka memberikan penyangga untuk menjamin bahwa siswa mampu menghadapinya.

Pemahaman Tugas

Pemahaman tugas memberi kontribusi terhadap motivasi lingkungan kelas dalam beberapa cara. Pertama, pemahaman yang secara jelas apakah mereka belajar dan kenapa mereka belajar meningkatkan pengendalian perasaan siswa di mana sesuai dengan teori determinasi diri, adalah essensial bagi motivasi intrinsik. Kedua, motivasi tergantung pada keyakinan siswa bahwa apakah mereka mendapatkan manfaat dari belajar?. Memahami kenapa mereka belajar suatu topik memberi kontribusi bagi persepsi siswa pada kegunaan nilai topik, persepsi dari suatu topik atau aktivitas berguna untuk menghadapi tujuan yang akan datang, meliputi tujuan karir. Ketiga, pemahaman tugas mengarahkan kepada regulasi diri yang lebih besar. Memahami apakah mereka belajar dan kenapa membantu siswa mengidentifikasi tujuan yang tepat, menyeleksi strategi-strateg yang efektif, dan mempertahankan usaha mereka ketika mengalami kesulitan.

Sebagaimana karakteristik guru, variabel suasana saling bergantung. Suatu tantangan tugas dapat memotivasi, contohnya, jika siswa aman.



D. Variabel Pengajaran: Mengembangkan Minat di dalam Aktivitas Belajar

Dalam suatu perspektif pengajaran, motivasi siswa dapat dipandang sebagai ”seseorang yang secara aktif di dalam proses belajar”. Tetapi bagaimana kita akan mengembangkan dan mempertahankan aktivitas ini? Kemampuan untuk mengetahui merupakan salah satu karakterisik dari aktivitas motivasi secara instrinsik, sehingga keingintahuan meningkatkan minat. Juga, minat siswa meningkat ketika mereka terlibat di dalam aktivitas belajar dan guru mereka menggunakan personalized dan contoh konkret yang diterapkan di dalam lingkungan nyata. Minat juga meningkat tidak terlepas dari perkembangan latarbelakang pengetahuan.

Fokus Pengantar: Menarik Perhatian Siswa

Fokus pengantar diarahkan untuk suatu pelajaran yang dibangun dengan menggunakan suatu teknik mendapatkan perhatian atau alat yang juga menyediakan suatu kerangka untuk pelajaran. Contohnya, jika guru ingin menjelaskan pelajaran mengenai antrophoda; dia membawa Lobster untuk dilihat dan dipegang. Jeritan dan oohs (O! Wah! Duh!) mengindikasikan bahwa dia secara jelas telah dapat menarik perhatian.

Contoh lain, guru dapat meningkatkan keingintahuan siswa dengan masalah yang unik, seperti khayalan Marissa mengenai masalah pulai; dengan membuat pertanyaan yang berlawanan (”jika Roma kuat dan memiliki peradaban yang maju, kenapa roma runtuh?”).

Sayangnya, sedikit guru merencanakan pengantar pelajaran mereka; di dalam membuat pengantar sesuai dengan kebutuhan tidak sulit. Semua butuh kesadaran usaha untuk menghubungkan isi pelajaran dengan ketertarikan dan latarbelakang siswa.

Personalization: Menghubungkan Kehidupan Siswa

Personalization adalah proses yang secara intelektual atau secara emosional menggunakan contoh yang relevan dengan suatu ilustrasi topik. Suatu konsep seperti nasionalisme,dimungkinkan tidak menarik secara instrinsik. Di sisi lain, siswa seringkali memiliki perasaan yang kuat akan loyalitas terhadap sekolah, sehingga guru menekankan pada perasaan untuk menciptakan suatu analogi antara sekolah dan perasaan orang-orang Eropa mengenai negaranya sebelum perang dunia. Guru sejarah seringkali efektif menggunakan personalization untuk membantu siswa melihat bagaimana peristiwa terjadi sepanjang tahun atau peristiwa yang jauh sekali hubungannya dengan kehidupan mereka.

Sebagaimana kita menciptakan fokus pengantar, isi personalizing tidak membutuhkan banyak persyaratan kerja keras. Contohnya, kita dapat membuat gambar vignett hanya untuk mengenalkan topik. Yang terpenting di sini adalah berfikir mengenai cara memperkenalkan topiknya.

Personalization bernilai dengan alasan: Pertama, dapat menerapkan pemikiran yang tepat dan mendalam. Kedua, siswa dapat melakukan kontrol ketika topik pelajaran menarik bagi mereka. Ketiga isi personalize adalah bermakna karena menyebabkan siswa menghubungkan informasi baru ke dalam struktur yang sudah ada di dalam long-term memory. Terakhir, dalam diskusi expectancy x value theory, personalization adalah suatu cara yang efektif untuk meningkatkan instrinsik siswa.

2. Keterlibatan: Meningkatkan Motivasi Instrinsik

Kunci untuk mempertahankan motivasi adalah meningkatkan keterlibatan, tingkat di mana siswa secara aktif berpartsisipasi di dalam suatu aktivitas belajar.

Usaha guru secara sengaja untuk mengembangkan keterlibatan memberikan hasil di dalam meningkatkan minat dan belajar.

Ketika siswa secara aktif terlibat di dalam aktivitas belajar, kebutuhan bawaan untuk kontrol dapat dipuaskan. Juga peran aktif adalah essensial untuk belajar penuh dengan arti. Selama siswa belajar lebih, persepsi mereka mengenai kompetensi meningkat, dan ini juga meningkatkan persepsi mengenai kontrol. Beberapa pemimpin pendidikan menyatakan bahwa meletakkan siswa di dalam peran aktif adalah satu cara untuk pengajaran personalize. Ada dua rategi spesifik untuk meningkatkan keterlibatan siswa: pertanyaan terbuka dan aktivitas.

3. Umpan Balik: Mencapai Kebutuhan untuk Memahami

Kebutuhan umpan balik bagi siswa adalah prinsip dasar dari pembelajaran terbaik yang dijelaskan oleh konstruktivisme. Karena pelajar membangun pemahaman, mereka membutuhkan umpan balik untuk menentukan tingkat kontruktivisme mereka apakah valid.

Pentingnya umpan balik bagi motivasi adalah didukung oleh teori kognitif dari motivasi. Contohnya, seperti meningkatnya belajar, persepsi dari kompetensi dan kontrol juga meningkat, dan umpan balik mengindikasikan bahwa kompetensi adalah memberi kontribusi meningkatnya efikasi diri. Di tambah lagi, umpan balik membantu kita mempertemukan keinginan bawaan kita untuk memahami kenapa kita melakukan cara yang kita lakukan.

Umpan balik juga memberi kontribusi bagi regulasi diri. Umpan balik memberikan pelajr informasi mengenai kemajuan ke arah tujuan, dan ketika mereka bertemu, efikasi diri meningkat.

Peneliti mengkonfkirmasi penjelasan teoritis, mengindikasikan bahwa umpan balik memiliki kekuatan nilai motivasi ketika secara spesifik diniatkan untuk belajar.

Umpan balik dapat melibatkan perbandingan sosial atau memiliki orientasi prestasi. Lebih daripada orientasi belajar, dapat merusak motivasi. Umpan balik orientasi prestasi memiliki suatu efek merusak pada kekurangmampuan siswa, dan ini menggangu motivasi intrinsik bagi siswa yang berprestasi tinggi dan rendah.


Sekian artikel tentang Pengertian dan Teori Motivasi Dalam Kelas Menurut Para Ahli.

1 komentar untuk "Pengertian dan Teori Motivasi Dalam Kelas Menurut Para Ahli"

  1. hai kak,artikel nya sangat membantu,kalo boleh tau authornya siapa ya kak?agar saya bisa mencantumkan namanya pada referensi saya

    BalasHapus
Klik gambar berikut untuk mengunduh artikel ini:

Berlangganan via Email