Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Konsep Bakat dan Perkembangan Pengukuran Tes Bakat

Konsep Bakat dan Perkembangan Pengukuran Tes Bakat - Bakat didefinisikan oleh Frank S Freeman sebagai suatu kombinasi indikasi karakteristik, suatu kapasitas individu akan penguasaan beberapa pengetahuan, keterampilan atau sekumpulan respon terorganisir tertentu. Dengan kata lain, Bakat merupakan komponen bawaan yang merupakan suatu kompetensi untuk melakukan perkerjaan tertentu dengan level tertentu. Bakat dapat merupakan fisik maupun mental. Guilford (1959) mengungkapkan dimensi bakat meliputi dimensi persepsi, dimensi psikomotor, dimensi intelektual.

Inteligensi, menurut Wechsler adalah agregat atau kapasitas global yang dimiliki individu untuk bertindak secara bertujuan, berpikir secara rasional dan menghadapi lingkungannya secara efektif.

Bakat merupakan suatu kemampuan atau potensi khusus yang berkembang secara istimewa atau menonjol dibandingkan dengan kemampuan yang lain, sedangkan kecerdasan merupakan dasar untuk berkembangnya bakat. Bakat dan inteligensi memiliki keterkaitan yang tinggi, dan di beberapa hal saling berlawanan. Pengukuran inteligensi (IQ) tradisional melihat inteligensi sebagai karakteristik tunggal yang terukur yang mempengaruhi kemampuan mental, bakat mengacu pada banyak karakteristik yang berbeda-beda yang dapat menjadi independen satu sama lain, seperti bakat pemrograman computer atau menerbangkan pesawat militer. Bakat paling baik diaplikasikan secara intra-individual untuk menentukan dalam tugas apa seorang individu lebih unggul.

Konsep Bakat dan Perkembangan Pengukuran Tes Bakat_
image source: www.beyondtheofficedoor.com
baca juga: Pengertian Tes Bakat, Minat, dan Prestasi dalam Psikologi

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

Faktor-faktor yang mempengaruhi bakat dapat dikelompokkan seperti di bawah ini:
  1. Faktor internal, factor ini meliputi kematangan fisik atau kematangan biologis. Kematangan juga terjadi dari segi mentalnya.
  2. Faktor eksternal, yang mencakup lingkungan dan pengalaman. Lingkungan yang baik akan memfasilitasi perkembangan bakat yang dimiliki individu yang bersangkutan.

CIRI KEBERBAKATAN:

Renzulli, et al (1981) dari hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa yang mencirikan keberbakatan pada diri seseorang antara lain:
  • Kemampuan di atas rata-rata yaitu kemampuan itu harus cukup diimbangi dengan tugas dan tanggung jawab terhadap tugas
  • Kreativitas untuk memberikan gagasan baru dan menerapkannya dalam pemecahan masalah
  • Tanggung jawab atau mengikat diri terhadap tugas yaitu menampilkan semangat dan motivasi untuk mengerjakan dan menyelesaikan tugas

TES BAKAT

Anastasi (1997) mengemukakan bahwa esensi dari tes merupakan penentuan yang objektif dan distandarisasi terhadap sample tingkah laku.

Tes bakat dirancang untuk mengukur kemampuan potensial seseorang dalam suatu aktivitas tertentu dan dalam rentang waktu tertentu. Dalam istilah lain tes bakat sering dikenal sebagai:

  • Tes kemampuan khusus
  • Tes kekuatan kemampuan (power ability test)
  • Tes perbedaan individual


Blog Psikologi - Tujuan mengetahui bakat adalah untuk dapat melakukan diagnose dan prediksi. Tujuan diagnosa adalah dengan mengetahui bakat seseorang maka akan dipahami potensi yang dimilikinya. Dengan demikian dapat membantu menganalisis permasalahan yang dimiliki individu di masa kini secara lebih cermat. Permasalahan tersebut baik dalam bidang pendidikan, klinis maupun industry. Dengan bantuan tes bakat ini maka diharapkan psikolog dapat memberikan treatment yang tepat bagi individu yang bersangkutan.

Sedangkan tujuan prediksi adalah untuk memperkirakan kemungkinan kesuksesan atau kegagalan seseorang dalam bidang tertentu di masa depan. Prediksi meliputi seleksi, penempatan dan klasifikasi.

SEJARAH TES MULTI-BAKAT

Baterai multilevel pertama dirancang sebagai sebuah versi kelompok dari tes inteligensi individual, walaupun baterai itu biasanya memiliki tujuan yang telah ditetapkan secara lebih sempit, yakni untuk menilai bakat bersekolah atau kesiapan untuk level pendidikan berikut. Perlahan menjadi jelas bahwa skor tunggal keseluruhan dapat dibandingkan dengan skor-skor yang lebih sempit

Tes inteligensi pada umumnya, baik yang diadmnistrasikan secara individual maupun kelompok, dirancang terutama untuk menghasilkan ukuran global tunggal dari level umum individual dari perkembangan kognitif, seperti IQ. Akan tetapi, baik perkembangan praktis maupun teoretis menjadi tertuju pada bakat khusus. Perkembangan ini mengarah ke penyusunan tes-tes terpisah untuk pengukuran beberapa bakat yang dapat diaplikasikan secara luas.

Sejumlah peristiwa telah membantu meningkatkan pertumbuhan minat akan pengukuran bakat yang berbeda. Pertama, semakin meningkatnya pengenalan akan variasi intraindividual dalam kinerja pada tes-tes inteligensi. Upaya membandingkan perbedaan relative individu atas subtes-subtes yang berbeda atau kelompok-kelompok soal mendahului pengembangan baterai multi bakat. Akan tetapi tes inteligensi tidak dirancang untuk tujuan ini.

Perkembangan dari baterai multibakat yang dipicu lebih lanjut oleh realisasi bertahap dari tes inteligensi umum sesungguhnya tidak seperti yang diharapkan. Banyak tes tersebut yang merupakan ukuran komprehensi verbal. Bidang tertentu, seperti kemampuan mekanikal biasanya tidak tersentuh, kecuali dalam beberapa skala kinerja non verbal. Ketika keterbatasan tes inteligensi menjadi jelas para psikolog mulai mengkualifikasi istilah ‘inteligensi’. Analisis selanjutnya memperlihatkan bahwa tes inteligensi itu sendiri dapat dikatakan mengukur sebuah kombinasi tertentu dari bakat khusus, seperti kemampuan verbal dan numeric. Telaah melalui analisis factor memberikan dasar teoretis bagi penyusunan baterai multibakat.

Salah satu dari baterai multi bakat yang paling luas digunakan adalah Differential Aptitude Test (DAT). Baterai ini dirancang terutama untuk digunakan dalam bimbingan karir siswa. DAT terdiri dari delapan subtes: penalaran verbal, penalaran numeric, penalaran abstrak, kecepatan dan kecermatan persepsi, penalaran mekanik, hubungan ruang (spatial), ejaan dan penggunaan bahasa.

PENGGUNAAN ALAT TES

Kompetensi penggunaan alat tes berkaitan erat dengan tingkatan atau level kompetensi pada alat tes itu sendiri. American Psychological Association telah mengkategorikan alat tes psikologi ke dalam tiga level sebagai berikut:

- Level A
Level ini mencakup alat tes yang dapat diadministrasikan, diskor dan diinterpretasikan dengan bantuan manual. Tes jenis ini dapat dipergunakan dan diinterpretasikan oleh non-psikolog yang memiliki rasa tanggung jawab dan kompetensi relevan.

Penggunaan tes-tes level A memerlukan kursus atau pelatihan di bawah pengarahan supervisor atau konsultan yang memiliki kualifikasi dan kredibilitas.

Contoh dari alat tes level ini adalah tes vokasional dan pencapaian akademis, sebagian besar inventori minat, dan tes-tes multiple choice yang menggunakan pengukuran sederhana dalam penginterpretasiannya, baik individual maupun kelompok

- Level B
Penggunaan alat tes level ini memerlukan latar belakang training khusus dalam pengadministrasian, scoring, dan interpretasi. Alat tes pada jenis ini lebih kompleks daripada level A dan memerlukan pemahaman tentang prinsip-prinsip psikometri, sifat-sifat yang diukur dan bidang keilmuan dimana alat tes tersebut digunakan (misalnya, pendidikan, klinis, dll)

Alat tes ini dapat dipergunakan oleh mereka yang telah menyelesaikan pendidikan tingkat lanjut dari universitas atau institusi yang terakreditasi, atau telah memperoleh training yang setara dibawah pengawasan psikolog.

Tes level B umumnya mencakup sebagian besar tes prestasi, inventori dan tes personal, seperti tes bakat dan inventori kepribadian untuk populasi normal.

- Level C
Level ini merupakan kategori yang paling ketat dan mencakup tes dan alat bantu yang membutuhkan pelatihan dan pengalaman dalam pengadministrasian, scoring dan interpretasi.

Alat tes kategori ini memerlukan pemahaman yang mendasar mengenai tes psikologis. Secara khusus, tes kategori ini hanya dapat dipergunakan oleh mereka yang memperoleh pendidikan minimum master di bidang psikologi atau bidang yang berkaitan. Juga diperlukan verifikasi tentang ijin atau sertifikat sebagai psikolog.

Tes level C umumnya mencakup beberapa tes diagnostic klinis, kepribadian, bahasa atau bakat, baik kelompok maupun individual. Sebagai contoh, tes neuropsikologi, tes inteligensi individual, tes proyektif

Hal yang penting dipahami oleh pemeriksa adalah sebagai berikut. Secara umum hubungan yang terjalin antara pemeriksa dengan subjek yang diperiksa haruslah tetap hubungan antar manusia yang saling menghormati, saling menjaga dan menghargai. Dengan kata lain dapat ditarik suatu sikap seperti di bawah ini:

  1. Tidak menganggap subjek sebagai pasien atau penderita yang membutuhkan pertolongan, melainkan sebagai individu yang mempunyai harga diri, keinginan tertentu dengan menghargai latar belakang pribadinya
  2. Menjaga rahasia pribadi subjek
  3. Menciptakan rasa aman bagi subjek yang diperiksa, selama pemeriksaan berlangsung


PEDOMAN UMUM PELAKSANAAN TES (KLASIKAL)

I. PERSIAPAN DIRI PEMERIKSA DAN PENGAWAS

  1. Pemeriksa dan pengawas harus menguasai materi tes yang disajikan
  2. Penampilan baik (cara berpakaian rapi, formal dan sopan)
  3. Menyiapkan diri untuk tampil sebagai seorang professional: kompeten dalam tugas dan bersikap objektif khususnya terhadap peserta
  4. Tugas utama pengawas adalah membantu pemeriksa tes sejak tahap persiapan tes, pelaksanaan tes sampai pemeriksaan berakhir
  5. Pemeriksa dan pengawas berperan sebagai tim dimana diperlukan kerjasama yang baik


II. PERSIAPAN PELAKSANAAN TES

  1. Ruangan tes harus bebas dari suara bising atau yang mengganggu lainnya
  2. Cahaya harus memadai
  3. Temperature atau kelembaban yang sesuai
  4. Tempat duduk peserta yang tidak terlalu dekat
  5. Memastikan materi sesuai dengan peserta tes


III. PELAKSANAAN TES

  1. Memeriksa dan memastikan semua peserta telah menerima buku tes, lembar jawab dan alat tulis
  2. Menjelaskan identitas yang harus dilengkapi pada lembar jawab
  3. Memberikan contoh untuk setiap tes
  4. Menjelaskan cara merevisi jawaban
  5. Memberikan kesempatan untuk pertanyaan bagi peserta yang belum jelas


IV. PENUTUP

  1. Pemeriksa dan pengawas harus memeriksa kelengkapan seluruh alat serta materi sesuai dengan jumlah sebelumnya
  2. Mengucapkan salam penutup


Sekian artikel tentang Konsep Bakat dan Perkembangan Pengukuran Tes Bakat.

DAFTAR PUSTAKA

  • Anastasi, Anne & Urbina, Susana .2007. Tes Psikologi, Edisi Ketujuh (Terjemahan). Jakarta : PT Indeks.
  • Gregory, Robert J. 2000. Psychological Testing: History, Principles and Aplication, 3rd edition. Allyn and Bacon.
  • Nur’aeni. 2012. Tes Psikologi: Tes Inteligensi dan Tes Bakat. Yogyakarta: Universitas Muhammadiyah Purwokerto Press

Posting Komentar untuk "Konsep Bakat dan Perkembangan Pengukuran Tes Bakat"

Klik gambar berikut untuk mengunduh artikel ini:

Berlangganan via Email