Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pengertian, Perkembangan dan Tantangan dalam Human Relations

Terdapat konflik yang terjadi dalam suatu organisasi, baik yang menyangkut individu dengan individu (karyawan), individu dengan manajemen, individu dengan organisasi, yang tentu saja akan menghambat roda kehidupan dalam organisasi tersebut.


Pengertian Human Relations

Human Relations dirasakan sangat penting dilakukan untuk menghilangkan kesalahan-kesalahan akibat: salah komunikasi (miss-communication) dan salah intepretasi (miss-interpretation) yang terjadi antara manusia yang yang satu dengan manusia lainnya, untuk organisasi tentunya untuk menghindari kesalahan yang sama antara manajemen dengan publik internal dan eksternal organisasi tersebut.

Terminologi Human Relations
Mencari sebuah terminologi dalam bahasa Indonesia yang benar-benar tepat sebagai terjemahan dari istilah "human relations" membutuhkan sebuah pemikiran yang tepat.

Ada yang menerjemahkan menjadi "hubungan manusia"; dan adapula yang mengistilahkan sebagai "hubungan antar manusia".

Secara harfiah, terjemahan tersebut mungkin tidak salah, tetapi kedua-duanya tidak mengandung makna yang sesungguhnya dari "human relations" tersebut.

Baik pada istilah "Hubungan Manusia" maupun "Hubungan Antar Manusia" tidak terdapat ciri hakiki human relations. Ciri hakiki human relations bukan lah "Human" dalam pengertian wujud manusia (human being), melainkan dalam makna proses rohaniah yang tertuju kepada kebahagian berdasarkan watak, sifat, perangai, kepribadian, sikap, tingkah laku dan lain-lain aspek kejiwaan yang terdapat pada diri manusia.

Sehingga terjemahan dan terminologi dalam bahasa Indonesia yang paling mendekati makna dan maksud human relations adalah hubungan manusiawi atau hubungan insani.

Contoh Human Relations dan Contoh yang Bukan Human Relations
Seorang Ibu berkata kepada anaknya: "tolong ambilkan tas Ibu kemari, Nak." Si anak mengambilnya lalu menyerahkannya. Antara Ibu dan Anak terdapat hubungan dan hubungan itu adalah hubungan manusia atau hubungan antar manusia, bukan human relations.

Coba kita telaah contoh berikutnya:
Seorang suami menyerahkan uang rapel kenaikan pangkat kepada istrinya Si istri berkata "Kita belikan perhiasan emas saja ya, Pak. Aku ingin sekali, sejak menikah hingga sekarang, perhiasan yang kupakai merupakan perhiasan emas imitasi." dengan raut muka yang memelas.

Suaminya terdiam. Termenung sejenak. Lalu berkata: " Bagaimana ya … bukan aku tidak sayang kamu, bukannya aku tidak cinta, tetapi rasanya ada kebutuhan yang lebih penting dari itu. Sofa ruang tamu kita sudah jelek sekali apa gak malu kalau ada tamu yang datang? Begitu juga lemari pakaian kita yang ada sudah kurang memadai, selama ini kita tumpukan saja pakaian kita di tempat tidur. Jadi menurutku sebaiknya kita belikan saja uang rapel ini untuk beli Sofa dan Lemari. Nanti saat ada rezeki lagi baru kita belikan perhiasan yang Ibu mau".

"Iya juga yah. Bener perkataanmu, Pak. Aku setuju sekali dengan usulanmu itu", jawab istrinya dengan tulus dan tersenyum.

Contoh Dialog tersebut merupakan human relations.

Pengertian Human Relations
Human Relations adalah satu kegiatan komunikatif-persuasif-sugestif dan kedua pihak merasa hatinya puas, yang merupakan aspek-aspek manusiawi dari human relations.

Atas dasar itu, maka human relations akan lebih mendekati ketepatan, apabila diterjemahkan menjadi "hubungan manusiawi" daripada "hubungan manusia" atau "hubungan antar manusia".

Dari penjelasan tersebut di atas jelas bahwa human relations bersifat "action oriented", bukan hanya hubungan yang pasif, dan yang dituju adalah kepuasan batin bagi kedua belah pihak.

Pengertian,  Perkembangan dan Tantangan dalam Human Relations Menurut Para Ahli
image source: miscw.com

Perkembangan Human Relations

Dalam lingkungan kerja, banyak konflik-konflik yang terjadi karena miss-communication ataupun miss-interpretations, untuk itu perlu sekali penerapan human relations dalam manajemen untuk meminimalisasi konflik-konflik tersebut.

Tahun 1850
Jack Hallowan dalam buku "Applied Human relations, An Organizational Approach", menyebutkan pada sekitar tahun ini, dimana perhatian tertuju kepada kebutuhan para pekerja, dan kebutuhan tersebut dirasakan mempengaruhi keseluruhan produktivitas.

Awalnya manager menganggap para pekerja sebagai komoditi untuk dibeli dan dijual sama dengan komoditas lain, bahkan pada waktu itu para pekerja dipekerjakan dengan waktu yang lama dan upah yang rendah,

Frederick Taylor dengan teori "Scientific Management" menyatakan bahwa produktivitas yang lebih besar dapat diperoleh dengan memperinci tugas-tugas secara khusus.

Tujuan utama dari scientific management adalah untuk menghilangkan antagonisme antara majikan dan bawahannya.

Para pengusaha dan pekerja bersama-sama mengkonsentrasikan dirinya pda metode untuk meningkatkan produksi dan bersama-sama menumpahkan perhatian terhadap peningkatan , bukannya mempersoalkan pembagian surplus.

Teori ini mendapat kecaman karena manajemen ilmiah tersebut cenderung untuk mengeksploitasi para pekerja daripada memberikan keuntungan. Scientific management tidak menaruh perhatian terhadap jaringan sosial yang kompleks yang diciptakan oleh para pekerja di dalam lingkungan kerjanya.

Tahun 1897 dan 1904
Di Amerika Serikat keanggotaan serikat buruh meningkat dari 400.000 menjadi 2.000.000.

Terjadi perubahan citra pekerja yang menyebutkan bahwa semua pekerja. Pekerja adalah manusia-manusia yang kompleks dan unik yaitu memiliki kemampuan dan keterampilan secara individual dapat diukur, diuji, dilatih.

Tahun 1920
Serikat buruh mendapat pengakuan dari para industriawan dan para manajer. Terjadi kemajuan pada teknik-teknik manajemen ilmiah, perjuangan pemimpin-pemimpin serika buruh, dan teknologi berubah cepat. Keseamuanya itu menuju kepada pengakuan bahwa seorang pekerja adalah manusia dengan segala kebutuhannya.

Pada pertengahan 1920 terjadi titik vocal dari pendekatan humanistic dalam bisnis dan industri adalah Studi Hawthorne yang dilakukan oleh Elton Mayo et.al. pada National research Council yang bekerja sama dengan Massachusetts Institute of technology. Penelitian berupa efek penerangan lampu, ventilasi dan kepenatan para pekerja Hawthorne Plant of Western Electric. Hasil studi ini menunjukkan bahwa dengan pengukuran secara kuantitatif, interaksi normal dari para pekerja yang sedang melakukan tugasnya selamanya menciptkan suatu jaringan sosial yang dinamakan organisasi informal yang amat besar pengaruhnya terhadap pola tingkah laku para pekerja.

Pada masa ini pekerja dilihat sebagai manusia yang kompleks yang interaksinya berpengaruh terhadap hasil produksi secara keseluruhan tanpa mempersoalkan proses teknologi yang kompleks.

Tahun 1930
Perhatian dan minat human relations menurun karena Amerika Serikat mengalami depresi. Tapi pada masa Perang Dunia II dan sesudahnya para industriawan dan usahawan telah menunjukkan pengertian yang mendalam terhadap hubungan antara produktivitas dan kepuasan.

Tahun 1940-an dan 1950-an
Pada masa ini, berbagai studi dilakukan oleh para psikolog seperti Carl Rogers dan Kurtr Lewin; Para sosiolog Daniell Bell dan C.Wright Mills dan para manajer organisasi besar antara lain Chester I. Barnard.

Tahun 1960-an dan 1970-an
Pada 1960-an dan 1970-an para usahawan di berbagai Negara maju telah menunjukkan penilaiannya tentang bagaiamana pentingnya ontribusi secara teoretis dan eksperimental tentang Human relations. Akhirnya Human Relatuons berkembang menjadi Ilmu Pengetahuan ang tidak bias diabaikan oleh mereka yang bergerak dalam bidang bisnis.

Ruang Lingkup Human Relations

Human relations adalah masalah rohaniah yatu proses rohaniah yang menyangkut watak, sifat, perangai, kepribadian, sikap, dan tingkah laku menuju suatu kebahagiaan atau kepuasan hati.

Proses rohaniah dengan perasaan bahagia ini berlangsung pada dua atau tiga orang yang terlibat dalam hubungan komunikatif, yaitu komunikasi antarpersona yang sifatnya dialogis, maka masing-masing tahu, sadar, dan merasakan efeknya. Jika semuanya merasa bahagia, maka orang yang melakukan kegiatan human relations itu berhasil.

Human Relations dalam Arti Luas
komunikasi persuasif yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain secara tatap muka dalam segala situasi dan dalam semua bidang kehidupan, sehingga menimbulkan kebahagiaan dan kepuasan hati pada kedua belah pihak.

Human Relations dalam Arti Sempit
komunikasi persuasif yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain secara tatap muka dalam situasi kerja (work situation) dan dalam organisasi kerja (work organization) dengan tujuan untuk menggugah kegairahan dan kegiatan bekerja dengan semangat kerjasama yang produktif dengan perasaan bahagia dan puas hati.

Norman R.F menjelaskan Human Relations adalah upaya yang dilakukan untuk menghilangkan rintangan-rintangan komunikasi, mencegah salah pengertian, dan mengembangkan segi kosntruktif sifat dan tingkah laku manusia. Jadi Human Relations dalam dunia kerja adalah komunikasi persuasif antara orang-orang yang berada dalam struktur formal untuk mencapai suatu tujuan.

Human Relations adalah seni dan ilmu pengetahuan terapan dengan menggunakan komunnikasi persuasif bukan sekedar relasi atau hubungan saja, melainkan suatu aktivitas yang berbentuk suatu kegiatan "action oriented" untuk mengembangkan hasil yang lebih produktif dan memuaskan. Dimana terdapat sudut pandang seorang pemimpin yang bertanggung jawab untuk memimpin sebuah kelompok. Human Relations sebagai pengitegrasian orang-orang ke dalam suatu situasi kerja yang menggugahkan para pekerja untuk bekerja sama dengan rasa puas, baik kepuasan ekonomis, psikologis maupun kepuasan sosial.

Human Relations secara singkat adalah pengembangan usaha kelompok karyawan secara produktif dan memuaskan baik pekerja maupun manajemen.

Pengertian,  Perkembangan dan Tantangan dalam Human Relations

Human relations is the development of productive, satisfying group effort (Keith Davis, 1962:4)

Pengaruh Ilmu Perilaku dalam Human Relations

Kunci Aktivitas Human Relations adalah motivasi, adanya faktor manusia dan perlunya berinteraksi dengan manusia lain.

Sifat Manusia ditentukan oleh dua faktor yaitu:
  1. Pembawaan lahir (heredity)
  2. Lingkungan kehidupan (environment)

Manusia hidup selalu mengalami perkembangan, perkembangan tersebut dipengaruhi oleh kehidupan orang tua dan nenek moyang juga lingkungan. Selama masa perjalanan hidupnya akan mengalami perkembangan jiwa atau yang sering disebut dengan pengalaman aktivitas psikis.

Fungsi aktivitas Psikis adalah:
  1. Pikir (ukuran penilaian logis benar-salah)
  2. Rasa (ukuran penilaian senang-tidak senang)
  3. Intuisi (menangkap segala hal dalam lingkungan berdasarkan penglihatan batin, tidak melihat secara mendetail melainkan makna secara keseluruhan)
  4. Penginderaan (menangkap segala hal dalam lingkungna dengan menggunakan inderanya).

Tantangan dalam Human Relations

Adapun tantangan yang dihadapi dalam Human Relations ada sebagai berikut:

1. Managing Diversity (Keanekaragaman)
Perusahaan tidak punya preferensi terhadap orang dengan latar belakang tertentu, dan memang tidak mendukung praktik diskriminasi. Dalam skala global, stereotype dan diskriminasi masih banyak terjadi, terutama bagi kaum-kaum tertentu, seperti wanita, kulit berwarna, lanjut usia, orang berpenampilan fisik tertentu, dan lainnya. Orang-orang yang termasuk dalam kaum ini sering memperoleh penilaian hanya berdasarkan kesan pertama, bukannya berdasarkan kemampuan dan karakternya yang asli.

Organisasi yang terdiri dari orang dengan latar belakang berbeda, dapat menghasilkan ide-ide yang lebih kreatif dan inovatif. Hal ini merupakan buah dari kekayaan pemikiran yang muncul dari orang-orang tersebut. Mereka bisa jadi punya perspektif berbeda dalam memandang sesuatu, dan ini merupakan hal yang positif dalam memecahkan suatu masalah. Sehingga, keputusan yang diambil sudah dipikirkan dari berbagai segi, dan merupakan yang terbaik.

Apalagi, jika organisasi Anda sebuah perusahaan multinasional, workforce diversity akan sangat memberikan manfaat. Anda dapat memperoleh insight dari karyawan yang punya latar belakang berbeda-beda, memberikan Anda pemahaman mengenai berbagai macam budaya, sehingga dapat memperoleh gambaran mengenai pendekatan bisnis yang cocok untuk lokal.

Robinson dan Dechant (1997): workforce diversity dapat menyebabkan tingkat absensi lebih rendah, menurunkan biaya turnover karyawan dan menurunkan tuntutan hukum atas diskriminasi. Masalah-masalah tersebut dapat membebankan biaya yang sangat besar bagi perusahaan.

European Commission: workforce diversity juga dapat memperkuat value driver dalam jangka panjang, baik aset berwujud maupun tidak berwujud yang memungkinkan perusahaan untuk menjadi kompetitif, menghasilkan arus kas yang stabil, dan memuaskan pemegang sahamnya. Adanya workforce diversity dapat memperkuat human and organizational capital. Kemudian, bisa menghasilkan pula peluang jangka pendek dan medium untuk meningkatkan arus kas, misalnya dengan menekan biaya, mengatasi kekurangan SDM, membuka pasar baru, dan meningkatkan kinerja di pasar yang sekarang. Intinya adalah meningkatkan ROI.

Keanekaragaman dalam lingkungan kerja. Contoh : wanita vs pria, kulit putih vs kulit hitam. Workforce diversity` yakni kebijakan yang merekrut dan mengembangkan karyawan yang berasal dari latar belakang sosial dan budaya berbeda-beda.

2. Addressing Ethics (Etika)
Perusahaan menjunjung tinggi etika Salah satunya adalah bagaimana individu berperilaku. Perusahaan ingin karyawan mereka untuk berbicara, bertindak, dan berpakaian dengan profesional Perusahaan juga menghadapi tantangan dengan kejujuran karyawan.

Ethics is the study of standards and moral judgement (Etika adalah studi tentang standar dan penilaian moral).

3. Social Responsibility Concerns (Perhatian terhadapTanggung Jawab Sosial)
Bahwa dalam membina human relations, perhatian terhadap pekerja sebagai makhluk sosial harus menjadi salah satu aspek penting.

Terkadang aspek ini lah yang kurang diperhatikan oleh manajemen dalam membina hubungan manusiawi yang konstruktif dengan pekerjanya.

4. Adapting to International/Cultural Challenges (Adaptasi Budaya)
Bila dalam sebuah lingkungan kerja terdapat berbagai macam orang dari berbagai macam Negara dan suku bangsa, maka sebuah tantangan yang cukup besar adalah bagaimana caranya bisa membina human relations yang baik dengan kondisi yang harus menyesuaikan dengan berbagai budaya dari masing-masing orang tersebut, yang tentunya masing-masing budaya memiliki tata cara, pola pikir masing-masing yang unik.

Sekian artikel tentang Pengertian,  Perkembangan dan Tantangan dalam Human Relations.

Daftar Pustaka
Effendy, Onong Uchjana, Human Relations & Public Relations, Penerbit Mandar Maju, Bandung, 1993.
Hodgetts & Richard M., Modern Human Relations At Work, The Dryden Press Harcourt Brace Jovanovich, Fort Worth, TX, 1993
Hunsaker, Philip L. & Alessandra, Anthony J., The art of Managing People, Simon & Schuster Inc., New York, 1980
Ronald B. Adler and George Rodman, Understanding Human Communications, Ninth Edition, OXFORD UNIVERSITY PRESS, New York, 2006

Posting Komentar untuk "Pengertian, Perkembangan dan Tantangan dalam Human Relations"

Klik gambar berikut untuk mengunduh artikel ini:

Berlangganan via Email