Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Teori, Tokoh, Metode dan Corak Aliran dalam Filsafat Manusia

Teori, Tokoh, Metode dan Corak Aliran dalam Filsafat Manusia - Diawal kemunculannya, filsafat sebagai ilmu sama sekali tidak menyinggung persoalan tentang manusia. Filsafat sebagai jalan akal budi di awal kemunculannya, baru saja merasakan ‘euphoria’ dari ketertindasannya selama itu dalam situasi nasib buta dari penjelasan mitos atas setiap fenomena sebagaimana yang terjadi pada pemikiran filsafat masa klasik. Filsafat pada waktu itu melulu diarahkan untuk mencari hakikat kosmos dalam persoalan ultim atas fenomena alam semesta.

Filsafat mulai mendarat dalam kancah pemikiran tentang manusia dimulai sejak jaman Socrates dalam upayanya mencari kebenaran melalui akal budi. Kemudian Plato sebagai muridnya menuliskan dan meneruskan pemikiran-pemikiran Socrates dan mulai menelisik hakikat manusia melalui struktur-strukturnya. Kemudian pemikiran Plato dilanjutkan oleh muridnya Aristoteles sebagai pemikir filsafat termasyur baik di barat maupun di timur. Dengan menambahi dan menutupi celah pemikiran gurunya, Aristoteles berhasil meneguhkan tonggak pemikiran filsafat tentang manusia. Hingga kini ketiga filsuf abad sebelum masehi ini, Socrates, Plato dan Aristoteles yang terkenal sebagai The Big Three in Greek Philosophy masih mengilhami, menjadi catatan kaki dan tidak bisa diabaikan begitu saja dalam perkembangan pemikiran filsafat khususnya tentang manusia. Dalam pemikiran filsafat manusia saat ini kiranya tidak bisa diabaikan pertanyaan dan problem yang telah disusun oleh ketiga filsuf ini, itu tidak hanya mengenai sejarah pemikiran filsafatnya tentang manusia, akan tetapi pertanyaan-pertanyaan yang disusun mereka pada masanya tentang manusia itu bahkan masih relevan untuk dirumuskan kembali saat ini.

Teori, Tokoh, Metode dan Corak Aliran dalam Filsafat Manusia_
image source: www.mptelecom.com.vn
baca juga: Pengertian, Objek, dan Metode Filsafat Manusia dalam Psikologi

Menurut Socrates kita tak dapat menyingkapkan kodrat manusia dengan cara yang sama seperti mendeteksi alam. Benda-benda fisik dapat diterangkan berdasarkan sifat-sifat obyektifnya, tetapi manusia hanya dapat dijelaskan dan ditentukan berdasarkan kesadarannya. Pandangan ini menggarisbawahi bahwa observasi empiris dan analisis logis yang dilakukan para filsuf pra-Socrates tidak mampu untuk menjelaskan tentang manusia. Artinya kita hanya dapat memperoleh gambaran tentang sifat manusia hanya dengan bergaul secara langsung dengan manusia, menghadapi manusia, berhadap-hadapan dengan diri sendiri, baru dapat memahami manusia.

Ciri khas filsafat Socrates bukan pada kebaruan isi objektif, tetapi pada kebaruan aktivitas dan fungsi pemikiran. Filsafat yang hingga saat itu dipahami sebagai monolog intelektual diubah menjadi sebuah dialog. Hanya dengan berpikir dialogis atau dialektis menurut Socrates kita dapat mendekati pengetahuan tentang kodrat manusia. Singkatnya, menurut Socrates, manusia adalah makhluk yang bila disodori pertanyaan yang rasional, dapat menjawab secara rasional pula. Baik moralitas maupun pengetahuannya terangkum dalam lingkaran ini. Oleh kemampuan dasariah inilah, oleh kemampuan untuk memberi tanggapan terhadap diri dan terhadap orang lain, manusia menjadi makhluk ‘bertanggungjawab’, menjadi subjek moral kata Socrates.

Plato (428-348 SM) adalah filsuf pertama yang mengemukakan struktur dan unsur manusia bahwa manusia terdiri dari tubuh dan jiwa. Hubungan tubuh dan jiwa bersifat dualistik. Jiwa menurut Plato bisa ada tanpa tubuh. Jiwa telah ada pada dunia ‘ide’ sebelum turun bersatu dengan tubuh. Pada saat kematian, ketika tubuh hancur, jiwa kembali ke dunia ide.

Tubuh bagi plato merupakan kubur dari jiwa (soma sema). Karena tubuh penuh dengan berbagai kejahatan dan jiwa berada di dalam tubuh yang demikian itu, maka tubuh merupakan penjara jiwa. Jiwa manusia yang terpenjara dalam tubuhnya itu menurut Plato terbagi atas tiga fungsi. Dalam jiwa kita terdapat suatu keinginan (epithymia), suatu bagian energik atau semangat (thymos), dan suatu bagian rasional (logos) sebagai puncaknya. Jika keinginan serta energi –dibawah pimpinan rasio- dapat berkembang dengan semestinya, maka akan timbul manusia yang harmonis dan adil.

Aristoteles (384-322 SM) seperti halnya Socrates dan Plato menjadikan manusia sebagai proyek filsafatnya. Menurut Aristoteles manusia unsur-unsurnya merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Dalam pandangan Aritoteles yang terkenal sebagai hylemorfisme, Tubuh dan jiwa hanya merupakan dua segi dari manusia yang satu. Tubuh adalah materi, dan jiwa adalah bentuk. Manu­sia merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan, maka konsekuensinya ialah pada saat manusia mati, baik tubuh maupun jiwa, kedua-duanya mati. Itu berarti jiwa manusia tidak abadi. Dengan kata lain, sama sekali tidak ada apa-apa sesudah kematian. Namun, Aristoteles juga mengakui bahwa ada bagian dari jiwa itu yang tidak dapat mati yakni nus atau roh yang datang dari luar dan berkembang diluar konsep hylemorfism.

Dalam periode sejarah pemikiran filsafati tentang manusia dalam upaya mencari hakikat atau kemungkinan ulltim manusia sampai saat ini, filsafat manusia tidak dapat keluar dari pemikiran tentang dikotomi struktur manusia diantara tubuh dan jiwa. Sehingga penjelasan tentang hakikat manusia melulu penuh dan sarat dengan nuansa dikotomi itu, antara Homo sebagai tubuh yang merupakan benda yang sama diluar manusia dengan jiwa sebagai isi dari tubuhnya.

Rene Descartes adalah filosof modern yang dipengaruhi kuat oleh mental klasik dari lintasan sejarah pemikiran tentang manusia yang diwariskan oleh ketiga filsuf catatan kaki diatas. Descartes dalam filsafatnya tentang manusia menekankan bahwa kemungkinan ultim dari segala yang ada adalah kesadaran manusia. Dengan jalan meragukan secara metodis (skeptis), Descartes menemukan hakikat sebagai fakta yang tak terbantantahkan dengan teorinya yang terkenal ‘cogito ergo sum’ (aku berpikir maka aku ada). Pernyataan itu menunjukkan bahwa keberadaan manusia spenuhnya ditentukan oleh kesadarannya. Sejauh itu jiwa hanya berarti sebagai atribut dari hakikat manusia sebagai Homo. Teori-teori tentang manusia kemudian muncul dari sejarah pemikiran filsafat tentang manusia sebagaimana dibawah ini, bahwa;
  • Manusia adalah Homo Sapiens, artinya makhluk yang mempunyai budi,
  • Manusia adalah Homo Socialis, artinya makhluk yang bekerjasama, 
  • Manusia adalah Animal Rational, artinya binatang yang berpikir, 
  • Manusia adalah Homo Laquen, artinya makhluk yang pandai menciptakan bahasa dan menjelmakan pikiran manusia dan perasaan dalam kata-kata yang tersusun, 
  • Manusia adalah Homo Faber, artinya makhluk yang terampil. Dia pandai membuat perkakas atau disebut juga Toolmaking Animal yaitu binatang yang pandai membuat alat,
  • Manusia adalah Zoon Politicon, yaitu makhluk yang pandai bekerjasama, bergaul dengan orang lain dan mengorganisasi diri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya 
  • Manusia adalah Homo Economicus, artinya makhluk yang tunduk pada prinsip-prinsip ekonomi dan bersifat ekonomis, 
  • Manusia adalah Homo Religious, yaitu makhluk yang beragama, 
  • Manusia sebagai Animal Educadum dan Animal Educable, yaitu manusia adalah makhluk yang harus dididik dan dapat dididik, 
  • Manusia adalah juga Homo Luden yakni makhluk yang bermain. Dll.

Sementara, pada masa abad pertengahan seluruhnya pemikiran filsafat tentang manusia dilatari dan dipengaruhi oleh pemikiran filsafat manusia klasik dari ketiga tokoh filsuf klasik terutama Aristoteles. Tokoh-tokoh filsuf besar tentang manusia pada abad pertengahan sepenuhnya merupakan komentator dari pemikiran-pemikiran filsafat klasik. Tokoh yang bisa disebut yakni Thomas Aquinas yang terkenal dengan penganut Aristoteles dan Averos (Ibnu Rusyd) yang dikenal sebagai komentator Aristoteles.

Namun, pencarian tentang hakikat manusia di abad pertengahan sejalan dengan corak filsafat yang mewarnai pemikiran filsafat saat itu yakni teosentris. Pusat perenungan refleksi filosofis pada masa itu ditujukan pada Tuhan dan Agama. Maka, walaupun sepenuhnya diwarnai oleh pemikiran filsafat klasik tentang manusia, tetap saja pada kurun masa itu manusia didefenisikan bersifat religius. Manusia dilihat sebagai makhluk ciptaan Tuhan sebagai animal religius. Inilah yang diketengahkan dan diajarkan oleh para filsuf abad pertengahan dari kalangan agamawan baik dari Kristen, Islam maupun Yahudi.

Kemudian sejak kemunculan antroposentrisme, yang ditandai dengan sikap pemikiran bahwa manusia sebagai pusat sumber kosmos alam semesta di abad pencerahan, maka pemikiran filsafati tentang manusia dalam upaya mencari hakikat atau kemungkinan ulltimnya juga bergeser ke arah yang humanis, bahwa manusia tidak lagi bisa disamakan dengan yang lainnya di luar manusia, baik segi tubuhnya sekalipun sebagai materi. Masa ini menandai kemunculan filsafat modern dengan pemikiran tentang manusia yang juga baru dan berbeda dengan masa-masa sebelumnya, walaupun masih tetap dipengaruhi oleh filsafat manusia sebelumnya, terutama pemikiran filsafat manusia pada masa klasik. Jika pada masa abad pertengahan, pemikiran filsafat diwarnai oleh spirit teosentrisme maka pada abad modern pemikiran filsafat berbalik dari itu dan sepenuhnya diwarnai oleh spirit antroposentrisme. Tokoh-tokoh filsuf tentang manusia pada masa ini dimotori oleh Galileo galilei, Rene Descartes, Kant, Blaise Pascal, Leibniz, Baruch Spinoza dll tokoh filsuf abad ke-17.

Namun agaknya, pemikiran filsafat manusia yang modern masih saja dianggap belum cukup dalam memberikan jawaban atas kemungkinan ultim manusia. Pemikiran filsafat manusia modern masih memberi jarak atas penjelasan-penjelasannya tentang manusia dalam upaya menemukan kemungkinan ultim atau hakikat manusia itu dengan mengedepankan logika. Padahal, manusia itu tidak berjarak dengan dirinya. Manusia merasakan segala macam kemungkinan-kemungkinannya sendiri dengan beragam dimensi yang tak bisa diabaikan begitu saja.

Dewasa ini, dimulai pada abad ke-18 pemikiran filsafat manusia tidak lagi dipenuhi spirit antroposentrisme melainkan lebih jauh sebagai eksistensialisme. Perang dan segala perubahan dari kemajuan manusia memaksa manusia berpikir ulang tentang makna hidupnya. Eksistensialisme ini hadir pada masa-masa kritis itu ketika esensi (hakikat) manusia sebagai jawab yang dikemukakan para pemikir modern tidak lagi bisa menjawab kamungkinan ultim manusia yang merasakan, mencandra dan memaknai hidupnya di dunia. Eksistensialisme memandang segala gejala manusia berpangkal pada eksistensi, sebagai cara berada di dunia. Cara berada manusia di dunia yang berbeda dengan cara berada yang lain. Manusia sadar bahwa ia bereksistensi. Mampu keluar dari dirinya untuk mempertanyakan dirinya, dan memilih segala kemungkinan-kemungkinannya dimana eksistensinya mendahului esensi (hakikat) manusia. Tokoh-tokoh filsuf eksistensialisme itu diantaranya Kiekegard, Jasper, Heidegger, Camus, Sartre, Nietzche dll.

Berbagai Aliran Corak pemikiran Filsafat Manusia

Ada beragam aliran dalam filsafat dalam manusia manusia. Hal ini tentu saja disebabkan oleh penghayatan yang sangat subjektif dari para pemikir tentang manusia, disamping beragamnya metode yang digunakan dalam mencari akar ’manusia’. Berbagai aliran dalam flsafat manusia muncul dari titik yang mendasar dalam pengertian hakikat manusia itu. Refleksi filsafat untuk sampai pada hakikat manusia sampai menyentuh pada pengertian ‘esensi’ tentang manusia, tepat dititik inilah letak perbedaan berbagai aliran dalam filsafat manusia. Dalam pembicaraan mengenai ‘sesensi’, sumber perbedaan yang paling utama dan mencolok karena saling bertentangan adalah mengenai hal-hal apakah hakikat ‘manusia’ itu bersifat materi atau pada tataran ide, yang memunculkan dua poros utama aliran filsafat manusia, materialisme disatu sisi dan idealisme disisi yang lain.
Materialisme

Materialisme adalah paham filsafat yang meyakini bahwa esensi kenyataan, termasuk esensi manusia bersifat material atau fisik. Ciri utama dari kenyataan fisik atau material adalah bahwa ia menempati ruang dan waktu, memiliki keluasan (res extensa), dan bersifat objektif.karena memiliki ruang dan waktu dan karena bersifat objektif, maka ia bisa di ukur, di hitung dan di observasi.

Jenis lain dari materialisme adalah naturalisme. Disebut naturalisme karena mempunyai istilah alam (nature) atau organisme. Kaum materialisme umumnya bersifat sangat deterministik. Mereka tidak mengakui adanya kebebasan atau indepedensi manusia.

Ilmu alam seperti, fisika, kimia, biologi, kedokteran adalah suatu bentuk dari materialisme dan naturualisme,dan ilmu tentang manusia seperti psikologi dan sosiologi adalah materialisme. perspektif psikologi yang di maksud adalah psikobiologi dan psikologi dan behavioristik.
Idealisme

Idealisme adalah kebalikan dari materialisme. Menurut aliran ini kenyataan sejati adalah bersifat spiritual. Para idealis percaya bahwa ada kekuatan atau kenyataan spiritual di belakang setiap penampakan atau kejadian. Esensi dari kenyataan spiritual adalah berpikir (res cogitans) jika prilaku manusia di arahkan pada nilai-nilai atau norma-norma maka hidup manusia adalah bertujuan yakni hendak menggapai dan sekaligus mengaktualisasi nilai, norma, atau hukum. Kebudayaan adalah ciri-ciri manusia mengaktualisasi dirinya dan nilai-niali yang diyakininya. Sejumlah besar penganut paham idealisme mempunyai pandangan deterministik mengenai manusia. Mereka menyatakan bahwa roh Absolut (Tuhan) adalah bebas tidak terhingga, tetapi manusia sebagai bagian dari Roh Absolut tidak bebas.

Aliran-Aliran Lain dalam Filsafat Manusia

Di samping kedua aliran tersebut diatas terdapat beberapa aliran lain. Dimana aliran-aliran ini bisa dikatakan merupakan reaksi atas kedua aliran diatas; materialisme dan idealisme. Aliran tersebut diantaranya adalah:
Dualisme

Menurut aliran dualisme kenyataan sejati pada dasarnya adalah baik bersifat fisik maupun spiritual, akar dari Kenyataan merupakan perpaduan antara materi dan roh. Dalam aliran ini manusia terdiri dari substansi yakni materi dan roh, atau tubuh dan jiwa, sebagaimana di kemukakan oleh Descartes (1596-1650) tubuh adalah substansi yang ciri atau karakteristiknya adalah berkeluasan menempati ruang dan waktu. Maka siapapun bisa mengamati, menyentuh, mengukur, keberadaan jiwa meski tidak bisa di amati secara indrawi, tetapi bisa dibuktikan melalui rasio (pikiran). Menurut Descartes keberadaan jiwa karakteristiknya adalah berpikir.
Vitalisme

Vitalisme adalah paham di dalam filsafat yang beranggapan bahwa kenyataan sejati pada dasarnya adalah energi, daya, kekuatan, atau nafsu yg bersifat irrasional atau sebaliknya. Vitalisme percaya bahwa seluruh aktivitas atau prilaku manusia pada dasarnya merupakan perwujudan dari energi-energi atau kekuatan-kekuatan yang tidak rasional dan instingtif (liar). Setiap keputusan atau perilaku manusia yang dianggap ‘rasional’ pada dasarnya adalah rasionalisasi dari keputusan-keputusan yang tidak rasional. Manusia merasa bahwa perilakunya seolah-olah dilandasi oleh keputusan-keputusan yang rasional, namun sebenarnya didasari oleh energi, naluri atau nafsu yang tidak rasional. Oleh karena itu, rasio hanyalah alat yang berfungsi untuk merasionalisasikan hal-hal atau keputusan-keputusan yang tidak rasional.
Eksistensialisme

Eksistensialisme tidak membahas esensi manusia secara abstrak, melainkan secara spesifik meneliti kenyataan kongret manusia sebagaimana manusia itu sendiri berada dalam dunianya. Esensi atau substansi mengacu pada suatu yang kongret, individual, dan dinamis. Istilah eksistensi berasal dari kata exitere (eks=keluar, sitere =ada atau berada), dengan demikian eksistensi memiliki arti sesuatu yg sanggup keluar dari keberadaanya, atau sesuatu yg melampui diri sendiri. Tonggak dari eksistensialisme adalah kebebasan manusia.
Strukturalisme

Strukturalisme adalah suatu metode analisis yang dikembangkan oleh banyak semiotisian berbasis model linguistik Saussure. Strukturalis bertujuan untuk mendeskripsikan keseluruhan pengorganisasian sistem sebagai tanda ‘bahasa’- seperti yang dilakukan Lévi-Strauss dan mitos, keteraturan hubungan dan tetomisme, Lacan dan alam bawah sadar; serta Barthes dan Greimas dengan ‘grammar’ pada narasi.

Strukturalisme diartikan sebagai aliran dalam filsafat manusia yang menempatkan struktur atau sistem bahasa dan kebudayaan sebagai kekuatan-kekuatan yang menentukan perilaku dan bahkan kesadaran manusia. Sangat berbeda dengan pandangan eksistensialisme, para strukturalisme meyakini bahwa manusia pada dasarnya merupakan makhluk yang tidak bebas, yang terstruktur oleh bahasa dan budaya. Tidak ada perilaku, pola berpikir, dan kesadaran manusia yang bersifat individual dan unik, yang bebas dari sistem bahasa dan budaya yang menghukumnya. Makna dan keberadaan manusia pada dasarnya tidak tetrgantung pada diri manusia itu sendiri melainkan pada kedudukan dan fungsinya dalam sistem, persis sama makna dan keberadaan huruf atau kata (istilah) dalam sistem bahasa tertentu.
Postmodernisme

Awalan “post” pada istilah itu banyak menimbulkan perbedaan arti. Lyotard mengartikan “post” berarti pemutusan hubungan pemikiran total dari segala kemodernan. David Griffin mengartikannya sekadar koreksi atas aspek-aspek tertentu saja dari kemodernan. Anthoniy Giddens, mengartikannya sebagai wajah arif kemodernan yang telah sadar diri. Sementara Habermas, satu tahap dari modernisme yang memang belum selesai. Sementara menurut Tony Cliff, postmodernisme berarti suatu teori yang menolak teori. Akhiran “isme” berarti aliran atau sistem pemikiran yang menunjuk pada kritik-kritik filosofis atau gambaran dunia, epistimologi, dan ideologi modern.

Filsafat postmodernisme tentang manusia sebetulnya hampir sama dengan filsafat strukturalisme. Kedua aliran ini boleh disebut anti humanisme, jika humanisme dipahami pengakuan atas keberadaan dan dominasi “aku” yang terlepas atau independen dari sistem atau situasi dan kondisi yang mengitari hidupnya. Faktanya tidak ada dan tidak mungkin ada “aku” atau “ego” yang unik dan mandiri, karena itu ia selalu hidup dalam, dan ditentukan oleh sejarah dan situasi sosial budaya yang mengukungnya. Akan tetapi berbeda dari strukturalisme, diskusi-diskusi postmodernisme masuk ke dalam aspek-aspek kehidupan manusia yang lebih beragam dan aktual. Para postmodernisme menentang hukan hanya dominasi “aku” yang seolah-olah mampu melepaskan diri dari sistem sosial budayanya, tetapi juga menafikan dominasi sistem sosial, budaya, politik, kesenian, ekonomi, arsitektur, dan bahkan gender yang bersifat timpang dan menyeragamkan umat manusia.

Tinjauan Filsafat Manusia Menurut Pola Pemikiran Psikologis dan Sosial Budaya

Menurut Notonagoro, manusia adalah makhluk monopluralis, maksudnya bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki banyak unsur kodrat (plural), tetapi merupakan satu kesatuan yang utuh (mono). Jadi, manusia terdiri dari banyak unsur kodrat yang merupakan satu kesatuan yang utuh. Tetapi dilihat dari segi kedudukannya, susunannya, dan sifatnya masing-masing bersifat monodualis. Riciannya sebagai berikut: dilihat dari kedudukan kodratnya manusia adalah makhluk monodualis: terdiri dari dua unsur (dualis), tetapi merupakan satu kesatuan (mono), yakni sebagai makhluk pribadi berdiri sendiri sekaligus sebagai makhluk Tuhan Dilihat dari susunan kodratnya, manusia sebagai makhluk monodualis, maksudnya terdiri dari dua unsur yakni unsur raga dan unsur jiwa (dualis), tetapi merupakan satu kesatuan yang utuh (mono). Dilihat dari sifat kodratnya, manusia juga sebagai makhluk monodualis, yakni terdiri dari unsur individual dan unsur sosial (dualis), tetapi merupakan satu kesatuan yang utuh (mono). Secara keseluruhan, manusia adalah makhluk multidimensi yang masing-masing dimensi memiliki pemahaman sendiri tentang manusia. Dan sejurus dengan itu, pemahaman tentang manusia menjadi memiliki beragam makna, tergantung pada sudut pandang mana pemahaman itu berpijak disamping pada dimensi mana dalam kehidupan manusia yang monopluralis itu.

Dari gambaran diatas kiranya ada banyak defenisi pengertian manusia menurut waktu dan tokoh filsafatnya, bahkan jika Banyaknya definisi tentang manusia, membuktikan bahwa manusia adalah memang makhluk multi dimensional, yang memiliki banyak wajah. Berdasarkan fakta tersebut, maka ada juga yang mencoba membuat pola pemikiran tentang manusia sebagaimana yang akan terlihat pada uraian berikut ini, yakni pola pemikiran psikologis dan pola pemikiran sosial-budaya.

Manusia Menurut Pola Pemikiran Psikologis

Kekhasan pola ini adalah perpaduan antara metode-metode psikologi eksperimental dan suatu pendekatan filosofis tertentu, misalnya fenomenologi. Tokoh-tokoh yang berpengaruh besar pada pola ini antara lain Ludwig Binswanger, Erwin Straus dan Erich Fromm. Binswanger mengembangkan suatu analisis eksistensial yang bertitik tolak dari psikoanalisisnya Freud. Namun pendirian Binswanger bertolak belakang dengan pendirian Freud tentang kawasan bawah sadar manusia yang terungkap dalam mimpi, nafsu dan dorongan seksual. Menurut Binswanger, analisis Freud sangat berat sebelah karena dia mengabaikan aspek-aspek budaya dari eksistensi manusia seperti agama, seni, etika dan mitos. Freud menurut Binswanger, memahami kebudayaan secara negatif, yakni lebih sebagai penjinakan dorongan-dorongan alamiah daripada sebagai ungkapan potensi manusia untuk memberi arah pada hidupnya. Penelitian psikologis harus diarahkan pada kemampuan manusia untuk mengatasi dirinya sendiri dalam penggunaan kebebasannya yang menghasilkan keputusan-keputusan dasar.

Freud dengan psikoanalisisnya berpendapat bahwa manusia pada dasarnya digerakkan oleh dorongan-dorongan dari dalam dirinya yang bersifat instinktif. Tingkah laku individu ditentukan dan dikontrol oleh kekuatan psikhis yang sejak semula memang sudah ada pada diri individu itu. Individu dalam hal ini tidak memegang kendali atas “nasibnya” sendiri, tetapi tingkah lakunya semata-mata diarahkan untuk memuaskan kebutuhan dan instink biologisnya.

Pandangan Freud tersebut ditentang oleh pandangan humanistik tentang manusia. Pandangan humanistik menolak pandangan Freud yang mengatakan bahwa manusia pada dasarnya tidak rasional, tidak tersosialisasikan dan tidak memiliki kontrol terhadap “nasib” dirinya sendiri. Sebaliknya, pandangan humanistik yang salah satu tokohnya adalah Rogers mengatakan bahwa manusia itu rasional, tersosialisasikan dan untuk berbagai hal dapat menentukan “nasibnya” sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk mengarahkan, mengatur, dan mengontrol diri sendiri.

Pandangan behavioristik pada dasarnya menganggap bahwa manusia sepenuhnya adalah makhluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol atau dikendalikan oleh faktor-faktor yang datang dari luar. Penentu tunggal dari tingkah laku manusia adalah lingkungan. Dengan demikian, kepribadian individu dapat dikembalikan semata-mata kepada hubungan antara individu dan lingkungannya. Hubungan itu diatur oleh hukum-hukum belajar seperti teori pembiasaan (conditioning) dan peniruan. Salah satu tokoh dari pandangan ini adalah Skinner.

Dari ketiga pandangan yang disebut terakhir, dapat disimpulkan bahwa Freud dengan psikoanalisisnya lebih menekankan faktor internal manusia, sementara pandangan behaviorisme lebih menekankan faktor eksternal. Sedangkan pandangan psikologi humanistik lebih menekankan kemampuaan manusia untuk mengarahkan dirinya, baik karena pengaruh faktor internal maupun eksternal. Hal ini menunjukkan bahwa manusia tidak serta merta atau otomatis melakukan suatu tindakan berdasarkan desakan faktor internal, karena desakan faktor internal bisa saja ditangguhkan pelaksanaannya. Buktinya orang berpuasa, meskipun dorongan rasa laparnya kuat, tetapi manusia bisa mengarahkan dirinya dalam arti bisa menangguhkan desakan atau dorongan itu, yakni pada saatnya berbuka di sore hari. Begitu juga, manusia tidak serta merta atau otomatis melakukan tidakan karena mendapat rangsangan dari luar (eksternal). Dia dapat mengabaikannnya, bahkan dia dapat memutuskan sesuatu yang berbeda dengan desakan faktor eksternal. Buktinya, manusia dapat menolak iming-iming sesuatu yang menggiurkan dari pihak lain.

Manusia Menurut Pola Pemikiran Sosial Budaya.

Manusia menurut pola pemikiran ini tampil dalam dimensi sosial dan kebudayaannya, dalam hubungannya dengan kemampuannya untuk membentuk sejarah. Menurut pola ini, kodrat manusia tidak hanya mengenal satu bentuk yang uniform melainkan berbagai bentuk. Salah satu tokoh yang termasuk dalam pola ini adalah Erich Rothacker. Dia berupaya memahami kebudayaan setiap bangsa melalui suatu proses yang dinamakan reduksi pada jiwa-jiwa nasional dan melalui mitos-mitos. Yang dimaksud reduksi pada jiwa-jiwa nasional adalah proses mempelajari suatu kebudayaan tertentu dengan mengembalikannya pada sikap-sikap dasar serta watak etnis yang melahirkan pandangan bangsa yang bersangkutan tentang dunia, atau weltanschauung. Pengalaman purba itu dapat direduksi lagi. Dengan demikian, meskipun orang menciptakan dan mengembangkan lingkup kebudayaan nasionalnya, kemungkinan-kemungkinan pelaksanaan dan pengembangannya sudah ditentukan, karena semuanya itu sudah terkandung dalam warisan ras.

Tokoh lain yang dapat dimasukkan dalam pola ini adalah Ernst Cassirer seorang filsuf kebudayaan abad 20. Dia merumuskan manusia sebagai animal symbolicum, makhluk yang pandai menggunakan symbol. Menurut Cassirer, definisi manusia dari Aristoteles, yakni zoon politicon, manusia adalah makhluk sosial memang memberi pengertian umum tetapi bukan ciri khasnya. Begitu pula definisi manusia sebagai animal rationale dianggap tidak memadai, karena rasio tidak memadai untuk memahami bentuk-bentuk kehidupan budaya manusia alam seluruh kekayaan dan bermacam-macamnya. Itulah mengapa dia menawarkan definisi manusia sebagai animal symbolicum yakni makhluk yang pandai membuat, memahami dan menggunakan symbol. Pada bagian lain Cassirer juga berpendapat bahwa ciri utama atau ciri khas manusia bukanlah kodrat fisik atau kodrat metafisiknya, melainkan karyanya. Karyanyalah, sistem-sistem kegiatan manusiawilah yang menentukan dan membatasi dunia.


Posting Komentar untuk "Teori, Tokoh, Metode dan Corak Aliran dalam Filsafat Manusia"

Klik gambar berikut untuk mengunduh artikel ini:

Berlangganan via Email