Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pengertian, Objek, dan Metode Filsafat Manusia dalam Psikologi

Pengertian, Objek, dan Metode Filsafat Manusia dalam Psikologi - Kini pengetahuan manusia semakin luas, semakin spesifik, juga termasuk pengetahuan mengenai manusia sendiri. Keluasan dan spesifiknya ilmu pengetahuan yang berkembang saat ini tak bisa lepas dari sejarah perkembangannya. Karakter ilmu pengetahuan yang positif bermula dari pembagian bidang-bidang ilmu dengan membagi-bagi dan memisahkan objek formal (sudut pandang) untuk setiap ilmu dalam menangkap materi yang sama atau berbeda yang kemudian berkembang sendiri-sendiri secara spesifik. Karakter ilmu pengetahuan yang positif itu ditandai dengan ilmu pengetahuan yang harus dapat teruji, terukur yang didasarkan pada gejala-gejala dan fenomena yang bisa diurut-urutkan melalui metode-metode yang dikembangkan secara spesifik untuk masing-masing ilmu. Ilmu pengetahuan ini sering dikatakan sebagai ilmu pengetahuan positif.

Perkembangan ilmu-ilmu positif (dalam bidang sosial; memahami manusia) bermula dari Auguste Comte seorang pemikir awal abad 18-an. Ia melihat bahwa untuk kedalaman dan keluasan jangkauan pengetahuan yang bisa terukur dan teruji, ilmu pengetahuan harus memiliki metode dan sudut pandang yang fokus terhadap sebuah pokok permasalahan yang juga dapat berkembang sendiri dan lebih dekat dengan realitasnya. Hal ini dibutuhkan agar ilmu pengetahuan dapat menjawab kebutuhan-kebutuhan praktis manusia, kemudian ilmu pengetahuan menjadi bersifat pragmatis yang diupayakan untuk memenuhi kebutuhan praktis manusia.

Pengertian, Objek, dan Metode Filsafat Manusia dalam Psikologi_
image source: nearpictures.com
baca juga: Teori Psikoanalisis Menurut Sigmund Freud dan Carl Gustav Jung

Titik tolak perkembangan ilmu pengetahuan sebagaimana diatas berbeda dengan filsafat. Filsafat sudah hadir jauh sebelum mulai berdirinya ilmu-ilmu positif. Filsafat bahkan melatari lahir dan berkembangnya ilmu-ilmu positif dikemudian hari. Filsafat itu dikatakan sebagai ‘mother of knowledge’ (ibu pertiwi pengetahuan) karena kelahirannya ditandai lewat spirit rasionalitas dalam upaya memahami realitas alam sekeliling yang sebelumnya hanya dimengerti sebagai mitos (Khayalan) yang sulit untuk diterima oleh rasio. Rasionalitas filsafat itu berasal dari rasa heran dan kemudian menyangsikan setiap fenomena dalam hikmat kesadaran akan keterbatasan.

Filsafat dalam pencariannya bukan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan praktis sebagaimana ilmu pengetahuan positif, melainkan untuk memenuhi hasrat primordial manusia untuk mengetahui. Makin banyak manusia tahu, makin banyak pertanyaan yang timbul. Pertanyaan-pertanyaan itu terus bergulir sampai pada batas pengetahuan yang paling dalam dan paling jauh dari kemungkinan-kemungkinan hasrat untuk mengetahui, pertanyaan mengenai asal-usul, hakikat, makna hidup dll yang bahkan tidak terjawab oleh ilmu pengetahuan.

Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin juga tidak pernah akan terjawab oleh filsafat. Namun, filsafat adalah tempat dimana pertanyaan-pertanyaan itu dikumpulkan, diterangkan dan diteruskan. Filsafat adalah suatu ilmu tanpa batas. Filsafat tidak menyelidiki salah satu segi dari kenyataan saja, melainkan apa-apa saja yang menarik perhatian manusia. Oleh sebab itu, fisafat objek formalnya (sudut pandangnya) terhadap segala yang ada tak terbatas oleh sekat-sekat dengan cara-cara tertentu yang diarahkan pada kebutuhan praktis. Hal itu dikarenakan upaya filsafat yang menempuh jalan yang radikal dalam memenuhi hasrat untuk mengetahui, secara radix (radikal=mengakar, mendalam) melihat segala gejala dan fenomena sejauh dan sedalam mungkin.

Sementara itu, filsafat juga menyadari sepenuhnya keterbatasan manusia. Pun sebebas-bebasnya pemikiran juga tetap ada batasnya. Filsafat tetap harus dimulai dari sebuah titik dalam satu sudut pandang (objek formal) atau satu pandangan terhadap realitas tertentu (objek material) untuk sampai pada keseluruhan dalam kedalaman makna dan keluasan cakrawala pengetahuan. Itu sebabnya dalam pemikiran filsafati objek formal (pisau analisa) menjadi poin penting, tak heran muncul banyak sekali metode dalam filsafat untuk menangkap setiap gejala dan fenomena, yang bisa jadi memberikan insight kepada ilmu pengetahuan positif dalam rangka memperluas cakrawala dalam batas-batasnya.

Filsafat itu datang sebelum dan sesudah ilmu pengetahuan. Sebelumnya, karena semua ilmu khusus telah dimulai sebagai bagian dari filsafat yang kemudian menjadi dewasa. Sesudahnya, karena semua ilmu menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang mengatasi batas-batas spesialisasi mereka. Oleh sebab itu banyak ilmuwan sekaligus juga filsuf-filsuf kenamaan, seperti Aristoteles, Descartes, Foucoult, Sigmund Freud, Karl Marx dll.

Secara singkat pada paparan diatas kiranya dapat kita bedakan antara ilmu pengetahuan dan filsafat. Jika ilmu pengetahuan didefinisikan sebagai pengetahuan metodis, sistematis dan koheren (bertalian) tentang suatu bidang tertentu dari kenyataan. Dan menjadi bersifat positif jika suatu bidang tertentu dari kenyataan itu juga dilihat dari satu sudut pandang tertentu. Maka filsafat didefinisikan sebagai pengetahuan metodis, sistematis, koheren tentang seluruh kenyataan dalam seluruh sudut pandang seluas dan sejauh yang dapat diterima oleh rasio (akal pikiran).

Ada dugaan, karena keluasan dan jauhnya jangkauannya menunjukkan bahwa filsafat sebagaimana diatas hanya merupakan spekulasi terhadap sesuatu yang tidak berakar pada realitas, dan karenanya tidak mempunyai nilai apapun untuk kenyataan dalam kehidupan. Dengan kata lain, filsafat dalam hal ini dipandang sebagai sekedar idealisasi semata karena sifatnya yang universal. Selain itu ada juga yang menduga, bahwa filsafat adalah suatu kegiatan kontemplasi yang bertujuan mencapai pengetahuan tentang hakikat daripada segala yang nyata, dimana filsafat dalam hal ini dimengerti sebagai sebuah ikhtiar untuk sampai pada pengertian-pengertian yang lebih dari sekedar hasil persepsi belaka. Dalam hubungan ini, maka filsafat merupakan kegiatan mental yang ciri khasnya adalah konseptualisasi, yakni aktivitas akal budi untuk memperoleh pengertian-pengertian dengan kejelasan-kejelasan. Konseptual dalam hal ini juga berarti kejelasan, disajikan dengan jelas struktur-strukturnya. Demikian itu menunjukkan bahwa filsafat seringnya menggeluti abstraksi terakhir dari abstraksi-abstraksi yang yang telah dilakukan oleh ilmu pengetahuan lewat pengamatan dan abstraksi matematis terhadap kesatuan dan perubahan setiap fenomena (peristiwa).

Tanggapan yang keliru adalah yang menganggap filsafat identik dengan logika, atau etika, terkadang juga estetika, meskipun yang disebut ini ketiganya merupakan cabang-cabang filsafat juga. Lebih keliru lagi menyamakan filsafat dengan religi, meskipun dalam perkembangannya suatu filsafat bisa saja mengambil corak relijius. Hal ini terutama karena kesadaran akan keterbatasan, maka untuk lebih dekat dan meresapi kenyataan terkadang filsafat juga diharuskan mengambil tempat subordinatif pada setiap bidang kenyataan, termasuk juga pada religi.

Apapun ragamnya sebuah jalan filsafat, yang pasti bahwa filsafat adalah upaya berpikir radikal, dari radix-nya suatu gejala, berpikir dari dan hingga akarnya pada suatu hal yang hendak dipermasalahkan. Upaya radikal sedemikian menuntut juga penyelidikan-penyelidikan yang spesifik sifatnya dalam dinamikanya pada upaya menemukan hakikat, yang dengan kata lain filsafat juga harus bersentuhan dan dekat dengan kenyataan. Dan dengan jalan penjajagan yang radikal ini, filsafat berusaha untuk sampai pada kesimpulan-kesimpulan yang bersifat universal. Bagaimana cara ataupun metode yang ditempuh seorang filsuf untuk mencapai sasaran pemikirannya bisa berbeda-beda, akan tetapi tetap yang dituju merupakan keumuman universal dari realitas yang terpecah-pecah dalam kenyataan. Oleh sebab itu, maka kebebasan berpikir harus menjadi tonggak dalam filsafat. Kebebasan berpikir yang ditandai oleh hasrat keakraban dengan kebenaran yang dikandung dalam penampilan setiap realitas. Hasrat mencari hakikat terdalam dan kebenaran membuat filsafat berupaya untuk membuka selubung-selubung misteri yang menyelimuti realitas, dalam upaya ini filsafat dituntun oleh tata fikiran yang didasari pada kebebasan tanpa harus dibatas-batasi oleh kekangan objek formal apalagi dogma.

Deskripsi diatas menunjukkan letak perbedaan antara ilmu pengetahuan yang berkembang sampai saat ini dengan filsafat, yakni berupa proses dari tujuan dan cara memperolehnya. Untuk sebuah pengertian agar ‘tahu’, akal adalah alat bagi ilmu pengetahuan, sedang filsafat lebih dari itu, termasuk juga rasa, intuisi dan feeling. Akan tetapi, bagi orang-orang yang berkecimpung didalamnya, sebagaimana juga ilmu pengetahuan, maka filsafat juga harus memiliki keterbukaan, maksudnya sejauh sesuatu hal itu terbuka bagi mereka yang berminat. Dengan demikian, bagaimanapun kesulitan-kesulitan yang harus dihadapi pemikir filsafat untuk merumuskan pikirannya, akan tetapi mengumumkan alam pikirannya merupakan bagian yang integral dari filsafat itu sendiri. Filsafat bukan berarti pikiran yang mengawang-awang ataupun kebatinan yang tak terjelaskan, tapi harus mendarat pada bahasa untuk dapat dikomunikasikan. Sebagaimana juga ilmu pengetahuan, dinamisme berpikir dalam filsafat tidak mengenal titik henti, karena filsafat tidak memiliki pretensi untuk tiba pada kebenaran-kebenaran yang absolut, persis karena alam kesadaran filsafat selalu menyadari adanya keterbatasan. Jika religi atau keyakinan batin hadir dengan menyadari keterbatasan itu dan untuk keluar dari batas itu lalu meloncat ke dalam iman yang dogmatis dan statis, maka filsafat sebagaimana cita-cita diawal kemunculannya yaitu mendobrak/ mendorong batas-batas itu sejauh mungkin. Maka kiranya tepat, posisi filsafat sebagaimana yang dikatakan oleh Bertrand Russell salah seorang pemikir abad ini bahwa antara religiusitas dan ilmu pengetahuan terletak suatu daerah tak bertuan. Daerah ini diserang baik oleh religi maupun oleh ilmu pengetahuan. Daerah tak bertuan ini adalah filsafat.

Filsafat bagi ilmu pengetahuan dan juga religi dengan demikian berfungsi sebagai ‘forum’ dan juga wadah bagi keduanya. Bagi ilmu pengetahuan, filsafat dibutuhkan sebagai suatu ‘forum’, suatu ‘tempat’ dimana dibicarakan soal-soal yang datang sebelum dan sesudah semua ilmu lain. Sedang bagi religi, filsafat dibutuhkan sebagai suatu ‘forum’, suatu ‘tempat’ dimana religi dapat dibicarakan secara terbuka untuk dikritisi dan dirasionalisasi untuk mendapatkan jalan bagi hikmat kesadaran. Lalu bagi keduanya, antara ilmu pengetahuan yang materialistis yang tanpa batas dan religiusitas yang idealistis dengan batas-batas keyakinan (dogma), filsafat menjadi jalan tengah yang mempertemukan keduanya sebagai sikap dan jalan hidup yang dihayati.

Pengertian Filsafat Manusia Secara Umum

Gambaran tentang filsafat dalam ilmu pengetahuan dan religiusitas sebagaimana diatas sedikit banyak menghantarkan kita pada perbedaan antara ilmu pengetahuan tentang manusia dengan filsafat manusia, dan pemahaman religiusitas tentang manusia dengan filsafat manusia. Jika ilmu pengetahuan tentang manusia berkembang secara positif yang karena luasnya kemudian memecahnya dan secara spesifik masuk kedalam bagian-bagiannya, yang melahirkan ilmu-ilmu spesifik dalam menjawab permasalahan manusia sebagaimana, Antropologi, Psikologi, Sosiologi dll, maka filsafat manusia memasukkan ilmu pengetahuan itu ke dalam ‘forum’ untuk berupaya mengabstraksikan ilmu-ilmu itu dalam mencapai segala keumuman tentang manusia disamping juga memberikan insight bagi perkembangan ilmu-ilmu pengetahuan tentang manusia pada tataran metode-metode yang muncul sebagai buah dari spekulasi pemikiran filsafati.

Sementara, pada pemahaman religiusitas tentang manusia berkembang dalam penghayatan hidup untuk menjalankan kehidupan manusia dari batas kesadaran tentang manusia, baik sebagai harmonisasi dengan alam, maupun pengabdian kepada pemberi hidup. Maka, filsafat manusia memasukkan religiusitas ke dalam ‘forum’ untuk dikritisi dan dirasionalisasi dalam laku kehidupan sebagai jalan hidup (way of life) dari kesadaran akan batas-batas yang penuh hikmat.

Di dalam kehidupan sehari-hari, manusia tahu tentang pekerjaannya, tentang rumahnya dan keluarganya, dan tentang kepandaian dan kekurangan-kekurangannya. Ia membawa serta pengalaman dan macam-macam warisan; ia menyusun rencana dan proyek-proyek baru. Aneka unsur dan aspek keadaan manusia diselidiki secara metodis-sistematis di dalam pelbagai ilmu pengetahuan; dan kemudian pengetahuan itu dipergunakan secara terarah di dalam kehidupan masyarakat. Misalnya, ilmu-ilmu eksakta meneliti manusia menurut unsur-unsur yang menyerupakannya dengan hal-hal bukan manusiawi. Unsur-unsur yang lebih khas manusiawi dipelajari oleh ilmu-ilmu sosial, seperti ilmu sejarah, sosiologi, ilmu hukum, psikologi, dan antropologi budaya. Namun, semua ilmu pengetahuan itu, dan pada umumnya seluruh hidup sehari-hari, tidak sampai mempersoalkan taraf dan bidang pengetahuan mengenai yang paling dasariah. Pengetahuan itu selalu diandaikan saja sebab dianggap jelas dan eviden. Pengetahuan itu ialah pemahaman apa dan siapa sebenarnya manusia.

Sebetulnya dasar itulah yang paling dikenal manusia, sebab tidak ada yang lebih intim dan karib bagi kita daripada berada-manusia kita sendiri. Pemahaman fundamental itu mendasari segala kegiatan dan pengetahuan kita, dan dengan tetap meresapinya seanteronya pula. Namun, di dalam pengetahuan sehari-hari, dan yang ilmiah pun, dasar manusia ini hanya dipahami secara implisit saja, dan dengan tersembunyi di dalam gejala-gejala lain. Pengertian yang terpendam itu disebut pra ilmiah atau pra refleksif. Pengertian ini melulu merupakan suatu conscientia, yakni pengetahuan sambilan saja. Kesadaran ini menyertai dan mengiringi segala pengertian dan kegiatan manusia; tidak merumuskan inti itu dengan jelas, melainkan hanya diketahui dengan ”intuisi” atau pengalaman konkret.

Sejak dahulu kala, orang berusaha menyelami dan menjelaskan inti manusia itu. Filsafat ialah ilmu yang menyelidiki dan mentematisasi kesadaran mengenai inti itu. Filsafat berusaha menguraikannya sebagai objek langsung dan eksplisit (objek formal). Filsafat bermaksud mengeksplisitkan, membeberkan, dan menjelaskan hakikat manusia itu. Filsafat berikhtiar agar pengertian akan inti itu, yang hanya ”tersirat” saja, menjadi ”tersurat”.

Dalam sistematika pemikiran filsafat, filsafat manusia berada dalam kajian metafisika tentang manusia, sebagai abstraksi terakhir dari pengetahuan manusia tentang manusia. Metafisika yang tidak seperti pengertian awam tentangnya semacam ‘klenik’ misalnya, akan tetapi pembicaraan mengenai esensi dan hakikat manusia dari keseluruhan data yang telah terhimpun tentang manusia. Menurut Aristoteles, ada 3 jenis tahapan pengetahuan manusia dari abstraksi (kata latin ‘abstrahere’ berarti ‘menjauhkan diri’, ‘mengambil dari’). Setiap jenis abstraksi menghasilkan salah satu jenis pengetahuan. Tahap pertama, ketika kita mulai berpikir kalau kita mengamati sesuatu, akal kita mengabstrahir (melepaskan) dari pengamatan inderawi segi-segi tertentu, yakni ‘materi yang dapat dirasakan. Akal kita menghasilkan, bersama materi yang ‘abstrak’ ini, pengetahuan yang disebut ‘fisika’ (yang dalam bahasa Yunani berarti ‘alam’).

Tahap kedua: yakni matesis (matematika). Kita masih dapat melepaskan, ‘mengabstrahir’ lebih banyak lagi. Kita dapat melepaskan materi yang kelihatan dari semua perubahan. Itu terjadi kalau akal budi melepaskan dari materi hanya segi yang dapat dimengerti. Berkat abstraksi ini kita dapat menghitung dan mengukur, karena menghitung dan mengukur itu mungkin lepas dari semua gejala dan semua perubahan, dengan mata tertutup. Pengetahuan dari abstraksi jenis ini biasa disebut ‘matesis’ yang dalam bahasa Yunani ‘mathesis’ berarti ‘pengetahuan’ atau ‘ilmu’.

Sedang tahap ketiga, menurut Aristoteles adalah filsafat pertama. Akhirnya kita juga dapat mengbstrahir dari semua materi, baik materi yang dapat diamati, maupun materi yang dapat diketahui. Kalau kita berpikir tentang keseluruhan kenyataan, tentang asal dan tujuannya, tentang jiwa manusia, tentang kenyataan yang paling luhur, tentang Tuhan, lalu tidak hanya bidang fisika, melainkan juga bidang matesis yang ditinggalkan. Semua jenis pengamatan tidak lagi berguna disini, inilah jenis penbgetahuan yang disebut Aristoteles sebagai ‘filsafat pertama’.

Ketiga jenis pengetahuan diatas dalam tradisi pemikiran Aristoteles maupun setelahnya dalam keseluruhannya dikatakan sebagai ‘Metafisika’ disebut untuk bidang ilmu yang datang setelah (meta) fisika (penampakan). Meta ta physica, meta artinya ‘dibalik’ dan physica berati yang menampak, maksudnya dalam mencari esensi dan hakikat fenomen yang menampak secara mendalam dari segala seginya tanpa meninggalkan setiap jenis abstraksi terhadap fenomen itu sendiri. Disinilah maksud dari penyataan diatas bahwa filsafat manusia merupakan kajian ‘metafisik’ tentang manusia dalam membicarakan manusia seluruhnya dalam kesadaran semua jenis abstraksi tentang manusia.

Untuk menjelaskan bahwa filsafat manusia membicarakan manusia seluruhnya, dengan segala sudutnya, maka zaman sekarang makin terpakai nama ”antropologi”. Nama itu berasal dari kata Yunani anthropos yang berarti ”manusia”. Akan tetapi, nama ini juga dipakai untuk menunjukkan ilmu-ilmu yang menyelidiki manusia secara positif, misalnya menurut aspek budaya, turunan, dan sebagainya; terutama dalam bahasa Inggris: anthropology. Maka perlu diberi penjelasan tambahan, dan disebut entah ”antropologi filsafati” (philosophical anthropology) / “filsafat antropologi” untuk menunjukkan orientasi umum agar dengan khusus dipentingkan metode filosofis yang dipergunakan.

Dalam buku ‘Antropologi Metafisik’ Anton Bakker juga dinyatakan bahwa, Filsafat manusia adalah bagian integral dari sistem filsafat yang secara spesifik menyoroti hakikat atau esensi manusia. Objek material filsafat manusia adalah gejala atau ekspresi manusia, sama seperti ilmu-ilmu tentang manusia yang lain. Menyoroti hakikat atau esensi manusia dari segala segi ini sama artinya dengan metafisika manusia atau yang disebut Anton Bakker dengan ”Antropologi Metafisik”.

Titik Tolak Filsafat Manusia

Kemajuan yang begitu pesat akhir-akhir ini, membuat kehidupan terasa sangat mengasyikkan, penuh harapan, memuat sejuta janji dan sekaligus tantangan. Kemajuan tersebut terjadi di segala bidang kehidupan, dan di dalam masing-masing bidang muncul cabang-cabang yang begitu subur menggairahkan. Bahkan kemajuan tersebut tidak hanya terjadi di dalam masing-masing bidang, namun terjadi saling terkait dan terlibat antar satu bidang dengan bidang yang lain, sehingga kemajuan yang satu akan memacu dan memicu kemajuan yang lain.

Terjadinya kemajuan yang semakin laju ini bukanlah tanpa sejarah. Pesatnya kemajuan ini boleh dikatakan baru terjadi setelah umat manusia menjalani kehidupan di bawah tekanan alam dan kodrat yang selama itu tidak bisa dihindari dan diatasi. Sudah sekian lama manusia berbongkok-bongkok hidup dalam lembah kepasrahan di bawah belas kasihan sang nasib. Namun, manusia yang seolah tunduk pada tindihan sang nasib itu ternyata sedang menghimpun kekuatan dan memperkokoh sayapnya. Pada titik ini filsafat lahir sebagai garda penegak akal budi manusia. Setelah kekuatan akal budi tidak bisa dikerangkeng lagi, penindih yang semula dirasa begitu menghimpit mampu dilemparkannya jauh-jauh. Sejak saat itu terasa tidak ada batas alagi yang mampu membentengi arena terbang akal budi manusia. Dia mulai menjelajah ke segenap penjuru dengan kecepatan yang berlipat ganda dibandingkan kecepatan cahaya. Bukan hanya itu tapi kecepatan menjadi percepatan, sehingga manusia tak sempat menoleh ke belakang lagi.

Kemajuan yang dahsyat akhir-akhir ini merupakan hasil kerja manusia selama berabad-abad. Terjadinya perkembangan yang begitu dasyat sebenarnya merupakan akibat dari kerja keras daya akal budi manusia yang telah tertanam di dalam jiwanya untuk mencari terobosan dan pembaruan. Manusialah yang menciptakan sistem-sistem sehingga terjadi gerak laju yang tak terbendung lagi. Namun, keadaan kemajuan yang demikian tidak semuanya membawa dampak yang serba enak dan menteramkan. Hingar-bingar kehidupan semakin terasa menjadi tantangan, kalau bukan kegaduhan. Manusialah yang mencipta situasi, namun sekarang ciptaannya itu telah menjadi begitu perkasa, seolah menjadi monster yang mengancam penciptanya. Begitu hebatnya hasil kerja keras dan segala usaha manusia itu, bahkan sesuatu yang mengancam kehidupan manusia, ternyata juga merupakan hasil ciptaan manusia sendiri.

Akibat yang sangat nyata ialah bahwa manusia dewasa ini, baik secara individu maupun sebagai umat manusia secara keseluruhan, ditantang untuk menentukan tempatnya di dalam gerak maju roda kehidupan yang semakin laju tak kenal henti, apatah lagi mundur. Arus yang begitu deras telah menjadi banjir yang melebihi banjir tahunan Jakarta dengan menyeret kehidupan manusia, sehingga dia tidak sempat lagi berhenti untuk mengenali diri. Seolah-olah manusia digelandang dan harus mengikuti gerak dunia jika ia ‘ogah’ terlindas dan menjadi kerangka nestapa yang tertinggal di museum purbakala.

Keadaan demikian itu justeru semakin keras meneriakkan pertanyaan; Apa dan Siapakah sebenarnya manusia itu? Begitu hebatkah manusia sehingga mampu menciptakan sesuatu yang justeru memangsanya? Kalau dulu manusia begitu nestapa di bawah tindihan sang nasib dalam alam kayangan (mitos) yang berhasil dia dobrak melalui akal budi (filsafat), namun bukankah kini manusia justeru menjadi korban dari akal budinya sendiri dalam rekayasa dan tingkahnya sendiri? Darimanakah sebenarnya manusia berasal dan berkembang sehingga dia menjadi begitu kuasa menciptakan kekuatan yang tak bisa dikontrolnya lagi? Kemanakah manusia mau menuju dengan segala geraknya itu? Dan akhirnya, sampai kepada pertanyaan; apa sebenarnya esensi atau hakikat manusia itu?.

Manusia yang bertanya, tahu tentang keberadaannya dan ia menyadari juga dirinya sebagai yang bertanya. Manusia mencari dan dalam pencariannya, ia mengandaikan bahwa ada sesuatu yang bisa ditemukan, yaitu segala kemungkinan-kemungkinannya. Apakah saya ini? Apakah manusia? Apakah kemungkinan-kemungkinan saya dan manusia pada umumnya? Apakah makna kehidupan saya? Benar-benar pertanyaan yang mendasar dan menawan hati. Bahkan dapat ditanyakan lebih mendasar lagi: Apakah kehidupan saya masih mempunyai makna?

Tak salah kiranya kalau kita memandang sebentar kata ‘makna’ itu. Kata ini memiliki berbagai arti. ‘makna’ terutama menunjukkan: arti, nilai, pengertian, rasionalitas juga kesesuaian dengan tujuan. Dalam bahasa Inggris kata makna berarti juga sense dan kata ini sebaiknya dimengerti sebagai kebalikannya yakni nonsense. Karenanya, ‘makna’ dapat kita mengerti sebagai kebalikan dari ‘omong kosong’ atau ‘absurditas’ yang tidak mempunyai arti sama sekali, tidak dapat dimengerti dan bertentangan dengan rasionalitas, tidak bernilai dan sama sekali tidak sesuai dengan suatu tujuan. Yang omong kosong atau absurd itu tidak memiliki hak untuk berada dan tidak memiliki hubungan dengan akal budi dan rasio.

Jika kita berbicara tentang ‘makna kehidupan kita’, maka kita bertanya: Apakah arti kehidupan itu, apa nilainya, bagaimana kita dapat mengerti dan menangkapnya? Kemudian yang terutama kita maksudkan bila kita menanyakan kehidupan kita ialah; Di mana kehidupan itu akan berakhir, apakah tujuannya, dan apakah peruntukannya? Justeru dengan pertanyaan terakhir ini, dapat tampak lebih baik menurut totalitasnya, karena akhir suatu hal biasanya paling baik menunjukkan ‘makna’nya. Dan dalam filsafat manusia, inilah yang disebut dengan ‘kemungkinan ultim’ kehidupan kita sebagai manusia, sebagai cahaya yang menyampaikan pengertian dan arti kepada seluruh kehidupan kita.

Namun, bagaimana saya dapat mengetahui apakah saya ini, terutama kemampuan saya dan makna kehidupan saya? Inilah pertanyaan yang menjadi poin dari pokok bahasan filsafat manusia. Pertanyaan yang selalu menimbulkan pertanyaan selanjutnya dan kemudian hanya menyisakan sikap mental tentang manusia dan laku manusia dalam memaknai hidupnya sebagai sesuatu yang sangat subjektif sifatnya bagi individu manusia yang merasakannya. Dan pertanyaan-pertanyaan itu tentu saja menuntut pemahaman tentang manusia yang serba konkrit dari yang selama ini tertutup dan misterius.

Untuk membuka selubung misteri manusia, maka pemahaman tentang manusia itu di candra dengan filsafat melalui metafisis yang beranjak mulai dari kondisi dan situasinya, struktur-strukturnya, sosialitasnya, kesejarahan dalam kemewaktuannya, kemungkinannya, juga segala dimensi-dimensinya, bahkan batas kematiannya sendiri. Jika kita hendak berbicara mengenai esensi atau hakikat manusia sebagai manusia yang utuh. Kita selalu menjumpai pengertian yang yang ganda atau tak pernah penuh. Hal ini karena manusia menyadari dirinya yang ganda diantara tubuh dan jiwa dalam segala dimensi-dimensi yang melekat padanya. Lebih dari itu semua, manusia dalam kesadaran sedemikian juga mampu berhadapan dengan dirinya sendiri (dengan kesadarannya sendiri) disamping hanyut dalam kesadaran lingkungannya. Manusia mampu mempertanyakan dirinya, keluar dari dirinya untuk berhadap-hadapan dengan diri sendiri. Inilah yang dikatakan bahwa manusia itu bersifat eksistensial. Eksistensial yang berasal dari ex sistensi (keluar memahami diri) tidak seperti benda atau makhluk hidup lain yang in sistensi (paham dalam dirinya sendiri). Namun kesadaran mengenai esensi atau hakikat manusia tetap mengandaikan adanya kesatuan yang utuh di dalam diri manusia.

Kesatuan yang utuh dalam segala dimensi manusia begitu mutlak sehingga terasa jelas ketunggalan di dalam dirinya sendiri tanpa bisa dibagi-bagi lagi, yang mengkerucut pada manusia sebagai ‘Aku’. Aku adalah aku, baik pada waktu bekerja, berdo’a, belajar, jalan-jalan, bercinta dll. Keutuhan manusia sebagai dirinya, sebagai individu yang unik tak pernah bisa ditawar, ditambah atau dikurangi. Aku yang dulu sama dengan aku yang sekarang, dan tetap sama sampai kapanpun sebagai aku. Demikian pun lingkungan berubah, pergaulan sosial berganti, aku tetaplah aku. Oleh sebab itu, maka titik tolak filsafat manusia dalam upaya mencari esensi atau hakikat manusia itu adalah ‘Aku’ dalam segala struktur dan dimensi-dimensinya.

Objek filsafat manusia itu terdiri dari manusia seluruhnya menurut semua sudutnya. Maka objek itu bukan manusia umum saja sebab lalu diabaikan corak paling khusus di dalam manusia, yaitu keunikan dan kesendiriannya. Setiap manusia adalah seorang ”aku” yang sangat konkret. Jadi, juga istilah ”manusia” harus diungkapkan dengan sangat konkret, sebagai ”aku”. Seorang pemikir filsafat manusia terutama memikirkan kenyataannya sendiri. ”Aku”-nya sendiri merupakan persoalan pokok, dan persoalan itu perlu pertama-tama aku jelaskan sendiri. Memang, masing-masing pemikir filsafat manusia juga harus sedia mendengarkan apa yang telah dikatakan oleh ahli-ahli filsafat lain, tetapi tidak dapat puas dengan hanya mengulang-ulang saja pernyataan orang lain itu. Masing-masing harus mencapai pemahaman dan keyakinan pribadi yang mendalam.

Objek Filsafat Manusia

Bagi filsafat manusia, semua gejala maupun fenomena manusiawi merupakan objek materil. Mereka dianggap sebagai bahan atau materi untuk penyelidikan. Phainomenon berasal dari bahasa Yunani phainoman yang berarti ‘menampak’. Filsafat manusia tidak berhenti pada fenomena saja melainkan bermaksud menerobos sampai ke dasarnya. Objek formal bagi filsafat manusia ialah struktur – struktur hakiki manusia yang sedalam-dalamnya, yang berlaku selalu dan dimana-mana dan untuk sembarangan orang.

Hakikat manusia sebagai objek formal filsafat manusia meliputi dua aspek:
  • Manusia mau dipahami seekstensif atau seluas mungkin. Bukan berupa sifat atau gejala saja, seperti misalnya berjalan, bekerja, malu, rasa takut, cinta kasih. Pemahaman manusia harus meliputi semua sifat, serta semua kegiatan manusia yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia dalam segala bidang yang seluruhnya dipandang sebagai satu kesatuan utuh.
  • Manusia dipahami secara intensif atau sepadat mungkin. Tidak cukup diselidiki fungsi atau kegiatan manusia pada taraf tertentu saja, yaitu sejauh manusia hanya serupa dengan sesamanya ataupun dengan makhluk yang bukan-manusia lainnya, misalnya pada taraf biokimia, maupun biologis saja. Penyelidikan demikian hanya bersifat ‘regional’ atau sebagian saja. Seluruh manusia harus dipahami secara manusia dan manusiawi. Keseluruhan aspek manusia perlu dilihat di dalam keseluruhan manusia, sejauh berhubungan dengan intisari manusia, dan sekedar diresapi dengan keberadaannya dengan manusia lain.

Metode Filsafat Manusia

Fisafat selalu tergantung dari konteks kebudayaan dimana dia berkembang, namun dia tetap merupakan sesuatu yang sama sekali berlainan dengan jumlah atau perpaduan segala pengetahuan dari suatu zaman. Filsafat tidak dituntut untuk mempergunakan kesimpulan-kesimpulan sebagai titik tolak yang wajib bagi pemikirannya. Maka filsafat manusia seharusnya bertolak dari pengetahuan dan pengalaman manusia, serta dunia yang secara wajar ada pada setiap individu yang dimiliki oleh semua orang secara bersama-sama.

Filsafat manusia pada dasarnya tidak menemukan fakta-fakta baru, tidak memberikan informasi baru mengenai manusia. Cuma filsafat manusia berusaha memberikan ‘insight’ radikal mengenai fenomen-fenomen yang telah diketahui dengan cukup pasti. Oleh karena itu, filsafat selalu bersifat refleksi (Gabriel Marcel: reflexion seconde). Refleksi ialah pengetahuan manusia jika melengkungkan diri kembali kepada diri sendiri dan merenungkan kesadaran mengenai diri, mengenai kegiatannya, dan mengenai objeknya.

Berhubungan dengan sifat refleksif itu, sesaat pun filsafat manusia tidak boleh dan tidak lepas dari fenomen-fenomen. Selalu berefleksi mengenai kenyataan manusiawi dan mengenai manusia seluruhnya. Satu gejala pun tidak boleh diabaikan. Tidak ada jalan lain untuk menemukan kembali inti realitas dan pengalaman dasar daripada melalui la perception (M.Ponty), yaitu melalui pengamatan; dan tidak ada hal lain yang mau dijelaskan kecuali realitas kehidupan manusia yang konkret.

Di dalam filsafat manusia, refleksi itu dilaksanakan menurut bermacam-macam metode. Masing-masing metode sebenarnya juga memiliki latar belakang filosofis. Sekurang-kurangnya menghasilkan suatu filsafat pengetahuan atau epistemologi sendiri; bahkan biasanya memperkembangkan suatu filsafat sistematis yang lengkap. Itu karena metode dan objek dalam ilmu pengetahuan mana saja tidak dapat dipisahkan dan saling ditentukan. Menurut Anton Bakker hanya diajukan beberapa metode pokok, tanpa menyinggung filsafat yang melatarbelakanginya. Beberapa metode itu adalah;

1. Metode Kritis (Negatif)
Metode kritis bertitik tolak dari pendapat filsuf-filsuf lain, atau juga dari teori-teori ilmu-ilmu lain, atau pula dari keyakinan-keyakinan sehari-hari yang agak sentral. Diselidiki konsistensi teori-teori atau keyakinan-keyakinan itu, yaitu apakah unsur-unsurnya dapat disesuaikan satu sama lain atau tidak. Jikalau mungkin, ditunjukkan kontradiksi-kontradiksi di dalamnya. Atau diperlihatkan bahwa jikalau jalan pikiran demikian dilangsungkan dengan konsekuen, akan tercapai suatu kesimpulan yang terang-terangan absurd. Atau dibuktikan bahwa pandangan tersebut tidak dapat dicocokkan dengan data-data lain. Dengan jalan demikian, disusun suatu pemahaman sendiri yang lebih memuaskan.

Pada umumnya, metode ini tidak membawa orang ke arah pemahaman yang benar-benar positif. Kesimpulan-kesimpulan hanya tercapai karena pemecahan-pemecahan lain disingkirkan satu per satu, dengan metode asimilasi.

2. Metode Analitika Bahasa (Linguistic Analysis)
Metode analitika bahasa bertitik tolak dari bahasa sehari-hari (the ordinary language), menyelidiki hubungan antara bahasa dan pikiran, dan guna bahasa bagi ilmu pengetahuan dan filsafat. Sebagai metode, analitika bahasa terutama meneliti bermacam-macam ”permainan bahasa” (language games) yang de facto dipergunakan orang di berbagai bidang. Lalu berusaha membahas cara pemakaian bahasa itu; dan membersihkan darinya kekaburan, unsur dwiarti dan metaforis, dan semua corak bukan-logis. Sampai akhirnya berusaha pula menyusun ”bahasa” buatan yang bersih dan serba logis, yaitu ”logika terformalisasi” atau ”logistik” (mathematical atau symbolic logic).

Bahaya metode ini ialah membekukan bahasa yang sudah ada, dengan tidak mengizinkan atau mengakui perkembangan pengungkapan dan pemahaman yang baru dan kreatif. Apalagi, pengertian apakah yang ”logis” itu pada umumnya terlalu ditentukan oleh gaya ilmu eksakta. Padahal, setiap ilmu mempunyai dan memperkembangkan logikanya sendiri-sendiri.

3. Metode Fenomenologis
Metode fenomenologis dirintis oleh Husserl (1859-1938) dengan semboyan: zuruck zu den Scahen selbst, artinya: kembali kepada hal-hal sendiri, atau kepada apa adanya, tanpa mulai dengan salah satu interpretasi apriori. Perincian metode ini berlain-lainan dan tergantung pada filsuf yang mempergunakannya. Bentuk yang paling berpengaruh ialah yang seperti sekarang dipakai dalam mazhab fenomenologi eksistensial (Heidegger, M. Ponty, Sartre, dan lain-lain).

Setiap pengungkapan jelas, entah sehari-hari entah ilmiah, yang semua disebut Ponty suatu expression seconde, akhirnya berakar di dalam suatu pengalaman langsung yang bersifat prailmiah dan pra-refleksif. Pengalaman yang asli itu berisi utuh dan kaya, tetapi dalam pengungkapan biasa atau ilmiah pun hanya muncul secara sempit dan cacat. Metode fenomenologis berusaha menemukan kembali pengalaman asli dan fundamental itu melalui beberapa langkah atau ”penjabaran” (reduction) tertentu:
  • Gejala atau fenomen hanya diselidiki sejauh disadari secara langsung dan spontan sebagai yang lain dari kesadaran sendiri.
  • Apalagi fenomen itu hanya diselidiki sejauh merupakan bagian dunia yang dihidupi sebagai keseluruhan (lebenswelt atau lived-world), dan bukan menjadi objek bidang ilmiah yang terbatas.

Maka segala gejala dan pengungkapannya, entah ilmiah entah sehari-hari, dianalisis menurut prinsip-prinsip tadi. Lalu dibersihkan dari segala penyempitan atau interpretasi yang berat sebelah dan terlalu dangkal; sampai akhirnya ditemukan dasar asali untuk gejala-gejala itu. Dengan proses penyelidikan itu, lama-kelamaan tampaklah kembali susunan dunia manusiawi yang benar, yang selalu telah dialami.

Pada Heidegger dan Sartre, metode fenomenologis itu diperluas dan dikembangkan menjadi metode yang sungguh-sungguh metafisis.

4. Metode (Metafisik-) Transendental
Metode transendental dirintis oleh Joseph Marechal (1878-1944) dengan melangsungkan pola pemikiran Kant; dna kemudian dipergunakan antara lain oleh K. Rahner, A. Marck, B. Lonergan, Coreth, Lotz. Kadang-kadang juga disebut metode kritis, tetapi menurut arti yang berlainan dengan hal yang diurai di atas tadi.

Metode ini bertitik tolak dari fakta kegiatan berbicara dan berpikir di dalam manusia. Di dalam setiap pernyataan termuat pengandaian-pengandaian yang ikut menentukannya secara operatif (dengan aktif bekerja); dan walaupun hanya hadir secara implisit saja, pengandaian-pengandaian itu di-ia-kan saja dalam setiap pengungkapan. Maka, analisis transendental menyelidiki pengandaian-pengandaian operatif yang implisit itu, dan mencari syarat-syarat apriori (the a priori conditions) yang mutlak perlu untuk memungkinkan kegiatan atau pernyataan seperti itu, baik pada pihak manusia sendiri yang berbicara, maupun pada pihak objek yang dinyatakan. Dengan demikian, ditemukan dan dieksplisitasikan struktur-struktur hakiki di dalam manusia dan dunianya yang merupakan akar mutlak-konstitutif untuk kegiatan manusia itu. Tahap ini disebut ”reduksi transendental”.

Tahap kedua ialah ”pemutarbalikan” (retortion), sebagai pembuktian keharusan mutlak yang berlaku untuk syarat-syarat apriori tadi. Setiap pengingkaran atau kesangsian eksplisit mengenai syarat-syarat itu telah dibohongkan secara implisit. Sebab, justru kegiatan pengingkaran atau kesangsian tadi sudah mengandaikan pula hal-hal yang diingkarkan atau disangsikan. Jadi, diperlihatkan bahwa ada ketidaksesuaian fundamental antara adanya pernyataan sendiri dan isi pernyataan.

Tahap ketiga ialah ”deduksi transendental”. Pegangan yang telah terdapat di atas diterapkan kembali pada fenomena dan sifat-sifat manusia; dibicarakan semua gejala sentral yang secara tradisional di dalam filsafat. Jikalau rupanya ada pertentangan antara beberapa pernyataan mengenai manusia itu, maka isi pernyataan dibandingkan (dikonfrontasikan) dengan pengandaian-pengandaian yang dinyatakan secara implisit di dalam kegiatan itu sendiri (retortion). Lalu entah pengandaian-pengandaian sendiri mungkin perlu dibetulkan; atau, kalau pengandaian-pengandaian fundamental itu betul, cukup saja merumuskan kembali si pernyataan sesuai dengan dasar lebih dalam yang telah ditemukan.

Pada umumnya, metode yang dipergunakan di dalam filsafat manusia tergantung pada gaya dan tabiat masing-masing filsuf. Seorang filsuf, misalnya, dapat menggunakan suatu metode metafisik yang sangat serupa dengan metode transendental. Berpangkal dari fenomena konkret diupayakan mencapai satu pemahaman fundamental dan sentral yang telah mengandung seluruh struktur pokok seperti dihayati manusia. Kemudian, semua aspek yang termuat di dalam inti itu dieksplisitasikan tahap demi tahap, menurut susunan sistematis.

Refleksi itu terus-menerus berusaha bersentuhan dengan fenomena jangan-jangan kehilangan hubungan dengan realitas konkret yang justru ingin dijelaskan. Akhirnya, semua fenomen seharusnya dapat disesuaikan dengan pemahaman yang dihasilkan penyelidikan ini. Dengan demikian, juga metode fenomenolois tidak diabaikan, melainkan diintegrasikan sedapat mungkin.

Refleksi metafisis ini berusaha menerangkan gejala-gejala kenyataan manusia. Proses penyelidikan ini lalu tidak akan menerima dengan percuma dan tanpa ujian semua pengartian istilah-istilah tradisional. Filsafat bersifat vorauszunglos; artinya filsafat tidak mengandaikan sesuatu apapun, tidak dari pengertian sehari-hari, tidak dari ilmu-ilmu lain, bahkan tidak dari filsuf siapa pun. Data-data, keterangan-keterangan, teori-teori itu semua melulu dipandang sebagai pernyataan, tantangan, persoalan, bahan penyelidikan saja; dan secara metodis dan teratur dicurigai semua. Pertangguhan atau suspension peng-ia-an ini disebut juga e poche, yaitu hal menghindarkan diri dari keputusan dahulu. Sifat berusaha menemukan arti dasariah dan radikal dari semua istilah yang dipergunakan itu. Dengan jalan ini, kenyataan yang ditemukan kerap cukup berbeda dengan pengertian sehari-hari, sebab itu terbukti cukup dangkal dan berat sebelah. Dengan demikian, metode metafisis ini juga berdekatan dengan metode analitika bahasa.

Metode kritis yang telah bersifat negatif hanya dipergunakan dengan sangat terbatas. Berkali-kali akan dilaporkan pandangan-pandangan dan pemecahan-pemecahan yang telah diberikan oleh ahli-ahli filsafat lain; dan kemudian juga kerap diberikan bahasan yang pendek. Namun, dianggap lebih perlu memberikan uraian positif menurut metode tersebut di atas ini, untuk mencapai insight yang lebih mendalam.

Manfaat Mempelajari Filsafat Manusia
  • Mencari jawab siapa sesunguhnya manusia 
  • Mengetahui lebih jauh apa dan siapa manusia secara menyeluruh 
  • Memahami kompleksitas manusia 
  • Memahami diri dalam konsep menyeluruh yang pada gilirannya memudahkan menjalani kehidupan, mengambil makna dari setiap peristiwa 

Perbedaan Filsafat Dengan Ilmu-Ilmu Tentang Manusia Lainnya

Ilmu-ilmu manusia yang lain, seperti misalnya antropologi, sosiologi, psikologi, juga menyelidiki manusia. Berdasarkan gejala-gejala dan data-data yang dapat disimpulkan dengan metode-metode positif, dirumuskan hukum-hukum tetap dan disusun teori-teori umum yang sungguh-sungguh memberikan pemahaman mengenai manusia pula. Namun, ilmu-ilmu itu tidak mengajukan pertanyaan sedalam seperti diselidiki di dalam filsafat: apakah manusia, apakah cinta kasih, apakah kebebasan. Ilmu-ilmu yang lain itu tidak mempunyai maksud menyelidiki aci-acian yang paling fundamental melainkan diandaikan saja. Mereka menyelidiki gejala-gejala itu dengan lebih dangkal, hal ini terutama karena upayanya untuk memenuhi kebutuhan praktis manusia, itulah sebabnya ilmu-ilmu positif dikatakan bersifat pragmatis.

Ilmu tentang manusia membatasi penyelidikan pada gejala empiris, yang besifat observasional maupun eksperimental, sebaliknya filsafat manusia tidak membatasi diri. sejauh masih bahan kajian pemikiran tentang manusia. Ilmu tentang manusia, cara kerjanya fragmentaris, hanya aspek atau bagian tertentu dari manusia yang disentuh. Bebeda dengan filsafat manusia, filsafat manusia berusaha melihat gejala manusia secara utuh dan menyeluruh dari setiap sudut dan celah-celah yang mungkin untuk dijangkau.

Kemudian yang terakhir, jika ilmu-ilmu tentang manusia lain karena sifatnya adalah netral dan bebas nilai, sedang pada filsafat manusia, nilai-nilai, apakah itu personal, moral, sosial, religius, atau kemanusiaan, diperbolehkan sepanjang dapat sajikan dan dikomunikasikan berdasarkan atas otoritas rasio.

Hubungan Filsafat Manusia dan Psikologi

Menurut Anton Bakker, sampai saat ini, filsafat manusia lazimnya disebut ”psikologi”. Agar dibedakan dengan ilmu jiwa positif, maka diberi tambahan menjadi ”psikologi rasional” atau ”psikologi spekulatif”, atau ”psikologi metafisis”. Nama ini menimbulkan keberatan, karena tampak terlalu menekankan satu sudut manusia saja, yaitu kehidupan sadar sebab psyche berarti ”jiwa”. Padahal filsafat manusia dalam kerangka metafisik tentang manusia berupaya untuk mencari esensi dan hakikat manusia, dengan demikian filsafat manusia juga tidak boleh mengabaikan sudut lainnya tentang manusia.

Psikologi sebagai imu tentang manusia hanya membicarakan manusia dalam satu sudut saja dalam bentuk yang terfragmentaris (bagian-bagian) baik sudut pandang maupun materinya tentang manusia. Hal itu menjadi dangkal jika dikatakan sebagai filsafat manusia yang berupaya mencari esensi dan hakikat manusia dalam keseluruhannya, yang tentu saja tidak cukup sampai disana. Misalnya, psikologi eksperimental menelaah reaksi mata, daya ingatan, kemampuan belajar; dalam ilmu hayat, senyuman diterangkan sebagai gerak otot; psikologi klinis mempelajari proses-proses dan bidang-bidang kesadaran manusia. Oleh sebab itu, konsep-konsep dan istilah-istilah yang dipakainya juga tidak diteliti sampai pada akarnya tetapi diartikan sesuai dengan pemahaman pada taraf ilmu itu sendiri.

Filsafat manusia karena upayanya yang radikal dan komprehensip dalam memahami manusia dengan demikian dapat memberi insight kepada perkembangan ilmu-ilmu positif tentang manusia termasuk psikologi untuk mengambil spirit-spirit baru dari spekulasi filsafat yang menembus berbagai celah dan sudut yang kabur pada batas-batas ilmu-ilmu positif tentang manusia. Sebaliknya, upaya filsafat manusia untuk mencari kedalaman hakikat manusia juga sulit untuk mencapai keumuman universal tentang manusia jika mengabaikan fakta-fakta empiri tentang manusia dari hasil observasi dan pengamatan ilmu-ilmu positif tentang manusia.

Data-data positif dari psikologi tentang manusia dapat dipakai oleh filsafat sebagai contoh-contoh dan ilustrasi-ilustrasi untuk uraiannya sendiri; sebab, jika memang benar, mereka akan cocok dengan struktur-struktur yang ditemukan filsafat. Ilmu-ilmu itu juga dapat memberikan rangsangan psikologis untuk mempelajari soal-soal tertentu, ataupun untuk mencari jalan-jalan ke jurusan tertentu. Namun, pengaruh ini tetap bersifat ekstrinsik saja; dan ilmu filsafat wajib menemukan simpul-simpulnya sendiri dengan memakai metodenya sendiri. Sebaliknya, filsafat dapat memberikan petunjuk-petunjuk atau peringatan kepada Blog Psikologi tentang hal-hal atau pola-pola yang dialpakannya sebagai pengaruh psikologis-ekstrinsik. Namun, Blog Psikologi berkewajiban menyelidiki soal-soal menurut metodenya sendiri, tanpa dipengaruhi secara logis, dengan mengambil alih hasil-hasil filsafat manusia.

Oleh sebab itu, hubungan antara filsafat manusia dan psikologi adalah hubungan yang saling topang menopang, dimana filsafat memberikan wawasan dan spirit untuk berkembangnya psikologi sementara psikologi memberikan data-data untuk direfleksikan oleh pemikiran filsafat tentang manusia.


Posting Komentar untuk "Pengertian, Objek, dan Metode Filsafat Manusia dalam Psikologi"

Klik gambar berikut untuk mengunduh artikel ini:

Berlangganan via Email