Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Teori dan Sejarah Psikoanalisa Menurut Sigmund Freud

Teori dan Sejarah Psikoanalisa Menurut Sigmund Freud - Sigmund Freud adalah anak tertua dari 7 bersaudara, kendatipun demikian, ia merupakan favorit ibunya yang bangga akan kelahiran diri Freud. Ayahnya yang berwatak keras dan otoriter menyebabkan masa kecil Freud kurang menyenangkan, kebalikan dari ibunya yang pelindung dan penyayang. Sehingga menyebabkan Freud bernafsu dan tertarik pada ibunya. Ketertarikan itu menjadi dasar dari konsep Oedipus complex, bagian yang penting dari sistem Freud dan pencerminan dari masa kanak-kanaknya.

Kisah Sigmund Freud (1856 – 1939)

Aku adalah anak sulung dari pasangan Jacob dan Amalie Nathanson. Aku memiliki dua saudara tiri dan tujuh saudara kandung. Namun aku tahu bahwa aku adalah anak kesayangan ibu. Ibu yang masih muda belia itu selalu memanjakan diriku. Hal ini secara tidak langsung membuat diriku berkembang menjadi pribadi yang percaya diri sepanjang hidup.

Aku adalah tipe anak yang serius, khususnya dalam belajar. Hal ini membuatku tidak memiliki hubungan yang erat dengan saudara kandungku. Namun, aku sangat dekat dengan ibuku. Itu sebabnya, aku selalu berpikir bahwa hubungan ibu dengan anak adalah hubungan yang paling sempurna dan paling nyata dari semua hubungan antarmanusia.

Saat aku berusia 1,5 tahun, ibu melahirkan adikku bernama Julius. Kelahiran adikku ini berpengaruh terhadap perkembangan jiwaku. Hatiku sangat benci dan marah dengan kelahiran adikku tersebut. Aku berharap adikku meninggal dunia saja. Ketika Julius meninggal pada usia enam bulan, aku merasa sangat bersalah dan menganggap diriku yang menyebabkan Julius meninggal. Namun, ketika aku semakin dewasa, aku paham bahwa keinginan itu sebenarnya tidak dapat membuat Julius meninggal. Hal ini membebaskanku dari perasaan bersalah tersebut.

Aku masuk University of Vienna Medical School sebenarnya bukan karena ingin melakukan praktik kedokteran. Aku lebih tertarik untuk mengetahui sifat manusia, mengajar, dan melakukan penelitian fisiologi di laboratorium. Namun, kegiatan itu tidak dapat terlaksana karena aku meyakini bahwa sebagai orang Yahudi, kesempatanku untuk maju di bidang akademis sebagai pengajar itu terbatas. Selain itu, adanya keterbatasan keuangan ayahku untuk membiayai sekolah kedokteranku. Oleh karena itu, akhirnya aku meninggalkan dunia laboratorium dan praktik di General Hospital of Vienna, untuk praktik berbagai cabang ilmu kedokteran, termasuk psikiatri dan penyakit syaraf.

Pada tahun 1885, aku memutuskan belajar di Paris pada seorang neurolog Perancis terkemuka, Jean Martin Charcot. Aku belajar teknik hipnotis untuk menangani histeria, yaitu sebuah kelainan yang ditandai dengan kelumpuhan atau kelainan fungsi organ tubuh tertentu. Oya, waktu aku masih menjadi mahasiswa, aku membangun hubungan profesional dengan Josef Breuer, dokter asal Wina yang memiliki reputasi keilmuan yang baik. Breuer mengajarkan katarsis, yaitu proses menghilangkan gejala histeria dengan cara mengungkapkan. Selain itu, aku juga menemukan free association technique.

Sejak masa awal remaja, aku bermimpi menghasilkan sebuah penemuan yang akan membuat diriku tenar. Eksperimen dengan kokain adalah kesempatan pertamaku untuk tenar. Kesempatan kedua adalah pengetahuan ku mengenai histeria laki-laki yang akan kupublikasikan di Wina, sekembalinya aku dari Perancis. Aku berpikir bahwa pengetahuan ini akan membuat diriku dihargai dan dihormati oleh Imperial Society of Physicians of Vienna. Namun, pada saat menyampaikan makalahku mengenai histeria laki-laki di depan komunitas itu, kebanyakan dokter yang hadir sudah tahu mengenal pengetahuan tersebut, sehingga respon para dokter tersebut tidak seperti yang aku harapkan.

Aku kecewa karena gagal meraih ketenaran dalam pengetahuan tersebut, sehingga aku mendekatkan diri pada Breuer. Breuer menangani gadis penderita histeria, yang bernama Anna O. Karena penolakan oleh komunitas dokter dan karena ingin menjadi terkenal, maka aku mendesak Breuer untuk berkolaborasi mempublikasikan kasus Anna O tersebut. Breuer sendiri sebenarnya tidak terlalu antusias dengan ideku. Selain itu, ia juga tidak setuju dengan asumsiku mengenai pengalaman seksual di masa kanak-kanak sebagai penyebab histeria pada orang dewasa. Akhirnya dengan berat hati, Breuer setuju untuk mempublikasikan Studies on Hysteria bersama aku. Dalam kajian tersebut, aku memperkenalkan istilah analisis psikis, yang kemudian aku sebut dengan psikoanalisis. Pada saat Studies on Hysteria itu terbit, aku bertikai secara profesional dengan Breuer. Hal ini membuatku hubunganku dengannya menjadi renggang. Pada saat itu, aku mendekatkan diri pada Wilhelm Fliess, dokter asal Berlin, yang memperkuat gagasanku.

Pada akhir 1890-an, aku dikucilkan oleh kalangan profesional, sehingga mengalami krisis pribadi. Ketika ayah meninggal dunia pada tahun 1896, aku mulai menganalisis diri setiap hari. Namun, analisis inilah yang melumpuhkan kekuatan psikis ku sendiri. Krisis pribadi selanjutnya adalah ketika masa dewasa, aku sadar bahwa aku belum mencapai ketenaran. Beberapa orang mengatakan bahwa aku mengalami gangguan psikoneurosis. Dokterku memandang penyakit tersebut disebabkan oleh penyakit jantung yang diperkuat dengan ketergantunganku terhadap nikotin. Beberapa orang juga mengatakan bahwa aku mengalami periode depresi, neurosis, keluhan psikosomatis, yang disebabkan karena aku meragukan diri sendiri.

Walaupun dalam masa depresi itu, aku berhasil menyelesaikan Interpretation of Dreams, buku yang berisi semua analisis dari mimpi-mimpi Freud. Ketika buku itu terbit, aku bertikai juga dengan Fliess. Selain itu, terbitnya buku ini juga menjadi penanda perpecahanku dengan Adler, Jung, dan lain-lain. Ya, benar sekali, aku banyak bertikai dengan rekan-rekanku. Namun, secara jujur aku menegaskan bahwa pertikaianku dengan rekan-rekan tersebut bukan karena perbedaan keilmuan atau sudut pandang kami. Aku bertikai karena adanya rasa dengki, iri, atau balas dendam dalam diriku.

Interpretation of Dreams inilah yang membawaku ke puncak ketenaran dan pengakuan, yang selama ini aku cari. Hal ini membuatku kembali percaya diri. Lima tahun sejak buku itu terbit, aku kembali menulis buku On Dreams, Three Essays on the Theory of Sexuality, Jokes and Their Relation to the Unconscious. Buku-buku ini menjelaskan asumsi Freud yang meyakini bahwa lelucon, mimpi, dan salah ucap, memiliki makna tidak sadar.

Secara pribadi, aku adalah orang yang sensitif, bersemangat, memiliki emosi yang dominan antara senang dan benci, berbakat sebagai penulis, rasa ingin tahu yang besar, keberanian moral yang tinggi dengan cara menganalisis diri sendiri, kecenderungan untuk menyimpan perasaan benci yang berlebihan kepada orang yang aku anggap melawan diriku, ambisi tinggi.

Tingkat Kehidupan Mental

Sumbangan besar teori Freud adalah penelusurannya mengenai alam tidak sadar. Selain itu, Freud meyakini bahwa manusia akan termotivasi oleh dorongan utama yang belum atau tidak disadari. Freud menyatakan bahwa kehidupan mental terbagi menjadi dua tingkat, yaitu : Alam Sadar dan Alam Tidak Sadar, yang terbagi menjadi Alam Tidak Sadar dan Alam Bawah Sadar.

Alam Tidak Sadar. Alam tidak sadar menjadi tempat bagi segala dorongan, desakan, maupun insting yang tidak kita sadari, tetapi menjadi pendorong perkataan, perasaan, dan tindakan manusia. Keberadaan alam tidak sadar ini dapat diketahui melalui mimpi, kesalahan ucap, berbagai jenis lupa yang dikenal sebagai represi. Semua proses tidak sadar ini biasanya muncul dari represi pengalaman masa kanak-kanak dan peninggalan filogenetis. Alam tidak sadar bukan bersifat tidak aktif, namun berusaha terus menerus agar dapat disadari, walaupun muncul dalam alam sadar sebagai wujud yang berbeda. Misalnya, X memiliki dorongan seksual dalam alam tidak sadarnya, maka dapat muncul ke alam sadar dengan cara menggoda wanita tertentu.

Alam Bawah Sadar. Alam Bawah Sadar ini berisi semua elemen yang tidak disadari, tetapi dapat muncul dalam kesadaran dengan cepat. Alam Bawah Sadar ini berasal dari dua hal yaitu : (1) Persepsi Sadar, sesuatu yang dipersepsikan orang secara sadar dalam waktu singkat, namun masuk ke alam bawah sadar ketika fokus perhatian beralih ke hal lain. Pikiran yang dapat masuk dengan bebas antara alam sadar dan alam bawah sadar merupakan pikiran yang bebas dari kecemasan ; (2) Alam Tidak Sadar, dorongan yang ada dalam alam tidak sadar dapat masuk ke alam bawah sadar dalam bentuk yang berbeda.

Alam Sadar. Alam sadar merupakan elemen mental yang setiap saat berada dalam kesadaran. Alam Sadar ini tidak memainkan peran penting dalam teori psikoanalisis. Berbagai pikiran dapat masuk ke alam sadar melalui dua hal, yaitu : (1) sistem kesadaran perseptual, yaitu sebuah sistem yang berfungsi sebagai perantara bagi persepsi kita tentang stimulus luar. Dalam sistem ini, stimulus yang diterima melalui indera, namun tidak mengancam, akan dapat masuk ke alam sadar ; (2) Gagasan yang tidak mengancam dari alam bawah sadar dan gagasan yang membuat cemas dari alam tidak sadar.
Teori dan Sejarah Psikoanalisa Menurut Sigmund Freud_
image source: www.technocrates.org
baca juga: Sejarah Psikoanalisa Dasar & Teori Sigmund Freud

Wilayah Pikiran / Struktur Kepribadian

Selama periode 1920an, Freud memperkenalkan model struktural yang terdiri dari tiga bagian. Pembagian pikiran ke dalam tiga bagian ini membantu Freud menjelaskan gambaran mental berdasarkan fungsi atau tujuannya. Ketiga bagian tersebut adalah :

1. das Es atau Id, adalah inti kepribadian yang sepenuhnya tidak disadari. Id tidak memiliki hubungan dengan dunia nyata, tetapi selalu berusaha meredakan ketegangan dengan memuaskan keinginan dasar. Hal ini disebabkan karena fungsi id adalah memperoleh kepuasan (PLEASURE PRINCIPLE). Bayi yang baru lahir adalah perwujudan id yang bebas dari hambatan ego atau superego. Bayi akan memuaskan kebutuhannya, tanpa peduli apakah hal itu mungkin untuk dilakukan (ego) atau tepat untuk dilakukan (superego). Sifat dari id ini adalah tidak realistis, tidak logis, tidak mampu membedakan baik-buruk.

2. das Ich atau Ego, adalah wilayah pikiran yang memiliki hubungan dengan realita. Ego berkembang dari id masa bayi. Ego memampukan seseorang berkomunikasi dengan dunia luar, sehingga ego merupakan pengambil keputusan dari kepribadian. Ego dikendalikan oleh REALITY PRINCIPLE. Ego dapat bersifat sadar, bawah sadar, maupun tidak sadar, sehingga ego mampu membuat keputusan di tiga wilayah tersebut. Misalnya, keputusan B untuk selalu berpakaian rapi dalam setiap keadaan adalah karena B nyaman berpakaian seperti itu (sadar). Hal itu dapat disebabkan karena B ingat, beberapa hari yang lalu ia dipuji karena menggunakan pakaian yang selalu rapi (bawah sadar). Selain itu, mungkin juga disebabkan karena sejak kecil, orangtua B selalu mengajarkan dirinya untuk melakukan segala sesuatu dengan rapi (tidak sadar). Dalam menjalankan fungsi kognitif dan intelektualnya, ego seringkali mengalami desakan antara dorongan id dan superego yang saling berlawanan. Kondisi ini menyebabkan ego akan mengalami kecemasan. Pada saat cemas, maka ego akan melindungi dirinya dengan menggunakan mekanisme pertahanan.

3. das Uber-Ich atau Superego, adalah aspek moral dan ideal dari kepribadian, yang dikendalikan oleh MORALISTIC AND IDEALISTIC PRINCIPLE. Sama seperti ego, superego tidak memiliki energi nya sendiri. Namun, berbeda dengan ego, superego tidak memiliki hubungan dengan dunia luar. Superego memiliki dua subsistem, yaitu : (a) suara hati, yang muncul dari pengalaman mendapat hukuman atas perilaku yang tidak pantas dan mengajarkan kita tentang hal-hal yang sebaiknya tidak dilakukan ; (b) ego ideal, yang muncul dari pengalaman mendapat penguatan atas perilaku yang tepat dan mengarahkan kita pada hal yang sebaiknya dilakukan.

Jika id dominan, sedangkan ego dan supergo lemah, maka akibatnya adalah seseorang hanya akan terus menerus menjadi orang yang selalu memuaskan keinginannya, tanpa mempertimbangkan apa yang mungkin dan tepat bagi orang tersebut. Jika superego dominan, sedangkan id dan ego lemah, maka seseorang akan menjadi pribadi yang mudah merasa bersalah dan inferior. Jika ego dominan dan kuat, sedangkan id dan superego mampu terintegrasi ke dalam ego yang berfungsi dengan baik, maka seseorang akan sehat secara psikologis dan mampu memegang kendali atas prinsip kesenangan dan moralitas.

Dinamika Kepribadian

Tingkat kehidupan mental dan wilayah pikiran menjelaskan struktur kepribadian. Namun, kepribadian itu sendiri juga tidak tinggal diam, namun melakukan tindakan. Oleh karena itu, Freud mengenalkan konsep dinamika kepribadian, yaitu prinsip motivasional yang menjelaskan kekuatan yang mendorong tindakan manusia. Freud berasumsi bahwa manusia termotivasi untuk mencari kesenangan, menurunkan ketegangan, dan kecemasan. Motivasi ini berasal dari energi fisik, psikis, dan dorongan dasar yang manusia miliki.

Dorongan ini berfungsi sebagai stimulus internal dalam diri seseorang, yang bersifat konstan. Freud menyatakan bahwa berbagai dorongan yang ada itu dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu dorongan seks dan agresi. Kedua dorongan ini berasal dari id, namun ada di bawah kendali ego. Setiap dorongan memiliki : (1) Desakan, besarnya kekuatan dari dorongan yang keluar ; (2) Sumber, bagian tubuh yang mengalami ketegangan atau rangsangan ; (3) Tujuan dorongan adalah memperoleh kepuasan ; (4) Objek dorongan adalah orang atau benda yang dijadikan alat untuk memperoleh tujuan.

Dorongan Seks atau Eros. Tujuan dorongan seksual adalah kesenangan, yang mencakup pemuasan genital, mulut, dan anus. Dorongan seksual dapat muncul dalam berbagai bentuk, misalnya : (1) Narsisisme. Narsisisme muncul diawali dengan pemusatan libido pada ego pribadi mereka. Hal ini disebut dengan Narsisme Primer, yang biasa terjadi pada anak-anak. Sejalan dengan berkembangnya ego, maka anak melepaskan narsisme primernya dan mengembangkan ketertarikan pada orang lain. Namun, pada masa puber, remaja akan kembali mengarahkan libido ke ego dan memusatkan perhatian kepada penampilan pribadi. Ini yang disebut dengan Narsisme Sekunder ; (2) Cinta. Manisfestasi eros ini berkembang pada saat orang mengarahkan libido mereka pada objek atau orang lain ; (3) Sadisme, adalah kebutuhan kepuasan seksual dengan cara menyakiti orang lain ; (4) Masokisme adalah kebutuhan kepuasan seksual yang diperoleh dengan cara menyakiti diri sendiri, atau dipermalukan orang lain.

Dorongan Agresi atau Thanatos. Tujuan dari dorongan agresi yang merusak adalah menghancurkan diri. Dorongan agresi ini dapat berubah bentuk menjadi menggoda, bergosip, sarkasme, mempermalukan orang lain, humor, dan menikmati penderitaan orang lain. Kecenderungan dorongan agresi ini ada pada semua orang.

Kecemasan. Kecemasan adalah situasi afektif yang tidak menyenangkan dan diikuti oleh sensasi fisik yang memperingatkan seseorang akan bahaya yang mengancam. Diantara tiga wilayah pikiran, hanya ego yang dapat merasakan adanya kecemasan ini. Ada tiga jenis kecemasan, yaitu (1) KECEMASAN NEUROSIS, adalah rasa cemas karena adanya bahaya yang tidak diketahui. Rasa ini ada pada ego, tetapi muncul karena dorongan id ; (2) KECEMASAN MORAL, disebabkan karena konflik ego dan superego. Misalnya, C tidak mampu mengurus orangtuanya, namun superego mengatakan bahwa mengurus orangtua adalah sebuah kewajiban ; (3) KECEMASAN REALISTIS, ini terkait erat dengan rasa TAKUT, yaitu perasaan tidak menyenangkan dan tidak spesifik, yang mencakup kemungkinan bahaya itu sendiri. Namun, ada hal yang membedakan antara kecemasan realistis dan rasa takut, yaitu terletak pada objek ketakutan yang spesifik. Contoh kecemasan realistis, G merasa takut akan menabrak orang pada saat mengendarai mobilnya. Contoh rasa takut, G merasa takut ketika mobilnya ditabrak oleh truk dari arah belakang. Fungsi dari kecemasan adalah memberi tahu ego akan bahaya yang mengintai, sehingga ego dapat melakukan persiapan untuk waspada dan melindungi dirinya. Ego akan melakukan pertahanan diri supaya ego bebas dari rasa sakit yang akan ditimbulkan oleh kecemasan tersebut.



Mekanisme Pertahanan Diri

Freud mengembangkan mekanisme pertahanan diri pada tahun 1926. Banyak orang yang menganggap bahwa mekanisme pertahanan diri ini adalah sesuatu yang buruk. Namun sesungguhnya, mekanisme pertahanan diri ini adalah hal yang normal dilakukan oleh semua orang. Mekanisme pertahanan diri menjadi sesuatu yang buruk, jika digunakan secara berlebihan. Akibat buruk yang mungkin muncul adalah adanya perilaku kompulsif, repetitif, dan neurosis. Ada delapan mekanisme pertahanan diri yang dikemukakan Freud, yaitu :

1. Represi, adalah mekanisme pertahanan yang paling dasar. Ketika ego terancam oleh dorongan id yang tidak diinginkan, maka ego akan memaksa dorongan atau perasaan mengancam itu ke alam tidak sadar. Tidak ada satu masyarakat manapun yang mengijinkan dorongan seksual dan agresi diekspresikan secara total tanpa batas. Pada umumnya, ekspresi yang tanpa batas itu akan memunculkan hukuman atau tekanan dari masyarakat. Oleh karena itu, jika seseorang merasakan kedua dorongan tersebut, maka mereka akan merasakan kecemasan. Kedua dorongan tersebut jika ditekan, maka akan mungkin muncul melalui mimpi, salah ucap, atau bentuk mekanisme pertahanan lainnya.

2. Pembentukan Reaksi, adalah mekanisme pertahanan yang berbentuk menyembunyikan diri dalam bentuk yang bertentangan dengan bentuk asalnya. Ciri perilaku ini adalah sifatnya berlebihan, obsesif, dan kompulsif. Misalnya, Y sangat marah pada ibunya. Namun, Y tahu bahwa norma agama dan sosial mengajarkan bahwa manusia harus menghormati dan menyayangi orangtuanya. Norma ini menyebabkan Y merasa cemas karena sadar telah marah pada ibunya. Oleh karena itu, Y akhirnya justru melakukan hal yang sebaliknya. Y menunjukkan cinta dan perhatian yang berlebih kepada ibunya, walaupun rasa cintanya tidak tulus. Dapat dikatakan, bahwa pembentukkan reaksi ini terbatas hanya pada satu objek tunggal.

3. Pengalihan, adalah pengalihan dorongan yang tidak sesuai ini pada sejumlah orang atau objek, sehingga dorongan aslinya tersembunyi. Misalnya, S marah kepada atasannya yang telah menegur dengan tidak sopan, namun S tidak mengekspresikan rasa marah kepada atasan, melainkan kepada istri, anak, atau supirnya.

4. Fiksasi. Pada umumnya, psikis bertumbuh secara berkelanjutan melalui serangkaian tahap perkembangan. Namun, proses pendewasaan untuk mencapai pertumbuhan psikis tersebut tidak lepas begitu saja dari peristiwa yang penuh stres dan kecemasan. Jika ego akan melangkah ke tahap perkembangan selanjutnya, namun tahap tersebut menyebabkan kecemasan, maka ego akan tetap bertahan di tahap perkembangan saat ini yang lebih nyaman. Kondisi ini yang disebut dengan fiksasi. Misalnya, orang yang terus menerus mendapatkan kepuasan lewat makanan, rokok, dan bicara dapat dikatakan memiliki fiksasi oral. Tahap oral merupakan tahap yang penuh dengan perjuangan untuk meredakan ketegangan. Sedangkan orang yang sangat terobsesi pada kerapihan dan keteraturan, maka dapat dikatakan memiliki fiksasi anal. Tahap anal merupakan tahap dimana anak sangat patuh kepada orangtuanya.

5. Regresi, adalah suatu langkah mundur ke tahap sebelumnya, ketika dorongan yang muncul pada masa kini menyebabkan ego mengalami kecemasan. Misalnya, pada saat T mengalami kondisi stres, maka T akan melakukan banyak cara untuk berada dalam kondisi nyaman, seperti berbaring dalam posisi meringkuk seperti bayi dalam kandungan, pulang ke rumah orangtuanya, berbaring di tempat tidur sepanjang hari, bersembunyi di balik selimut dari lingkungan yang penuh ancaman.

6. Proyeksi, adalah suatu usaha mengarahkan dorongan yang tidak diinginkan kepada objek eksternal, yaitu orang lain. Misalnya, Reta benci kepada Reti. Perasaan benci ini sebenarnya membuat Reta merasa cemas dan tidak nyaman. Oleh karena itu, Reta akan membangun pikiran bahwa Reti yang membenci dirinya. Reta meyakini bahwa membenci orang lain merupakan tindakan yang tidak baik dan menyebabkan perasaan bersalah. Dengan melakukan proyeksi, Reta terbebas dari perasaan bersalah karena telah membenci orang lain.

7. Introyeksi, adalah suatu usaha pertahanan dimana seseorang memasukkan sifat-sifat positif orang lain ke dalam dirinya sendiri. Pada umumnya, orang melakukan introyeksi agar dapat menghargai diri sendiri secara berlebihan dan meminimalkan perasaan inferiornya. Misalnya, Cello dendam terhadap Viona yang sudah berlaku curang dalam sebuah pertandingan. Namun, orangtua Cello adalah orangtua yang selalu mengajarkan nilai-nilai kebajikan dalam hidupnya. Oleh karena itu, Cello memasukkan nilai-nilai kebajikan yang dimiliki orangtuanya menjadi nilai-nilai kebajikan dirinya. Dengan demikian, secara otomatis keinginan dendam tersebut hilang dengan sendirinya.

8. Sublimasi, adalah usaha merepresi dorongan yang tidak diinginkan, dan menggantinya menjadi hal-hal yang dapat diterima oleh lingkungan sosial. Misalnya, seorang pematung yang memiliki dorongan seksual yang ingin diekspresikan kepada orang lain. Pematung tersebut akan memilih mengekspresikan dorongan seksual tersebut dengan cara yang dapat diterima masyarakat, yaitu dengan membuat patung tubuh manusia yang tidak mengenakan pakaian. Di sisi lain, masyarakat tidak melihat ekspresi itu sebagai sesuatu yang tidak bermoral, melainkan pencapaian sebuah karya seni dari si pematung tersebut. Kondisi ini merupakan gabungan antara kepuasan dorongan, pencapaian karya seni, dan pengakuan dari masyarakat.

Tahap Perkembangan

Freud meyakini bahwa usia empat atau lima tahun pertama kehidupan adalah masa yang sangat penting bagi perkembangan kepribadian. Masa ini disebut dengan masa infantil, yang kemudian diikuti dengan masa laten, pada usia lima hingga 11 atau 12 tahun. Pada masa laten ini, pertumbuhan seksual sedikit terjadi pada anak-anak. Kemudian dilanjutkan dengan masa genital pada usia puber, dan yang terakhir adalah masa dewasa.

Periode Infantil. Freud berasumsi bahwa pada masa ini, anak-anak memiliki kehidupan seksual. Namun, seksualitas anak-anak berbeda dengan seksualitas orang dewasa. Hal ini disebabkan karena anak-anak tidak memiliki kemampuan reproduksi dan sepenuhnya autoerotis. Anak-anak menerima rangsangan seksual dan bereaksi terhadap stimulasi seksual yang bersifat erogen. Pada masa ini, anak-anak memiliki tiga zona erogen, sehingga Freud membagi tahap infantil ini ke dalam tiga fase, yaitu :

1. FASE ORAL. Mulut merupakan zona erogen pertama yang memberikan kesenangan dan kepuasan kepada bayi. Hal ini disebabkan karena bayi mendapat nutrisi untuk bertahan hidup melalui aktivitas oral, dan memperoleh kesenangan dari perilaku mengisap. Namun, seiring waktu, bayi akan mengalami perasaan frustrasi dan cemas karena jeda waktu menyusui yang panjang, dan adanya penyapihan secara bertahap. Kondisi ini menyebabkan bayi mengalami perasan ambivalen terhadap ibu. Jika anak tidak mampu menyikapi proses penyapihan dengan baik, maka pada masa itu anak mengalami kecemasan. Kecemasan itu akan berlanjut pada masa dewasa, dimana orang akan mengalami fiksasi oral, berbentuk mengunyah permen karet, mengisap permen, merokok, menggigit pensil, makan berlebihan, atau mengeluarkan pernyataan sarkastik.

2. FASE ANAL. Anus merupakan zona erogen yang kedua. Ciri dari fase ini adalah kepuasan melalui perilaku agresif dan melakukan ekskresi atau pembuangan. Oleh karena ini, pada masa ini, orangtua sering melakukan toilet training kepada anak. Proses pembuangan ini, akan menimbulkan kepuasan seksual dan rasa sakit, yaitu ketika mereka menahan untuk tidak mengeluarkan feses mereka. Kondisi ini sering disebut kesenangan narsistik dan masokis. Kedua kondisi inilah yang menjadi pondasi dasar dari karakter anal, yaitu kepuasan erotis dengan menyimpan dan memiliki berbagai objek, serta menatanya dengan rapi dan teratur.

3. FASE FALIK. Wilayah genital adalah zona erogen yang ketiga. Fase ini dimulai ketika anak berusia 3 atau 4 tahun. Pada masa ini sering terjadi Oedipus complex, baik pada laki-laki maupun pada perempuan.

Periode Laten. Periode yang terjadi pada usia 4 atau 5 tahun ini merupakan periode perkembangan seksual yang nonaktif. Hal ini disebabkan karena orangtua mencegah aktivitas seksual anak, sehingga anak akan merepresi dorongan seksualnya dan mengarahkan energi psikisnya ke sekolah, teman, hobi, atau aktivitas nonseksual lainnya.

Periode Genital. Periode ini terjadi ketika seseorang mengalami pubertas, yang ditandai dengan penyadaran kembali akan dorongan seksual yang terhambat selama periode laten.

Periode Dewasa. Pada periode ini, seseorang memiliki struktur pikiran seimbang, yaitu ego mampu mengendalikan id, sedangkan superego membuka diri terhadap dorongan id yang masuk akal.

Refleksi dari materi Freud :

Freud termasuk pribadi yang memiliki rasa iri, dengki, dan dendam dalam hatinya. Sehingga, tidak heran jika Freud banyak mengalami pertikaian dengan rekan-rekannya. Hal ini jelas tidak perlu ditiru, jika kita ingin menjadi pribadi yang sehat.

Di samping kelemahan pribadinya, ada satu hal yang menjadi kekuatan Freud. Ia meyakini bahwa pribadi yang sehat secara psikologis, akan mampu menguatkan ego, dimana dorongan id dan superego terintegrasi ke dalam ego yang berfungsi dengan baik.


Posting Komentar untuk "Teori dan Sejarah Psikoanalisa Menurut Sigmund Freud"

Klik gambar berikut untuk mengunduh artikel ini:

Berlangganan via Email