Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Memahami Penilaian Fungsional dalam Modifikasi Perilaku

Memahami Penilaian Fungsional dalam Modifikasi Perilaku - Dalam artikel ini akan didiskusikan tentang assessment dalam modifikasi perilaku. Melalui artikel ini diharapkan mampu memahami dan menjelaskan tentang assessment dalam modifikasi perilaku.

Functional Assessment (Penilaian Fungsional)

Definisi Functional Assessment

·         Prinsip dasar dari analisa perilaku adalah bahwa semua perilaku ada sebab-akibatnya (lawful). Terlepas dari perilaku tersebut diinginkan atau tidak, respon perilaku timbul karena ada stimulus dari lingkungan.
·         Respondent behavior tejadi karena ada stimulus sebagai penyebab, sementara operant behavior terjadi karena adanya antecedent(penyebab) dan konsekuensi yang menyebabkan rangkaian A-B-C (reinforcement dan punishment).
·         Functional Assessment adalah proses mengumpulkan informasi tentang penyebab dan konsekuensi yang saling terkait (menjadi sebab dan akibat) dari perilaku yang muncul.
·         Kategori informasi yang digali pada saat Functional Assessment:
1.       Problem behavior: deskripsi objektif dari perilaku yang bermasalah.
2.       Antecedent: deskripsi objektif dari lingkungan sebelum perilaku tersebut muncul.
3.       Consequence: deskripsi objektif dari lingkungan setelaha munculnya perilaku.
4.       Alternative behavior: informasi mengenai perilaku seseorang yang mungkin bisa diberikan reinforcement sebagai pengganti dari perilaku yang bermasalah.
5.       Motivational variable: informasi mengenai event yang berfungsi sebagai establishing operation atau abolishing operation yang dapat mempengaruhi efektivitas dari reinforcedan punisher pada perilaku yang bermasalah ataupun perilaki alternative.
6.       Potential reinforcer: informasi tentang lingkungan-termasuk stimulus fisik dan perilaku dari orang lainnya- yang berfungsi sebagai reinforcer yang dapat digunakan dalam program treatment.
7.       Previous intervention: informasi tentang intervensi terdahulu yang pernah digunakan dalam mengatasi perilaku yang bermasalah.

image source: dschool.com.ua
baca juga: Membentuk Perilaku: Chaining, Training Keterampilan Perilaku

Function of Problems Behavior

Fungsi utama dari Functional Assessment adalah mengidentifikasikan fungsi dari perilaku yang bermasalah tersebut. Ada 4 kategori besar dari konsekuensi reinforcing (reinforcing consequence) atau fungsi dari perilaku yang bermasalah (function of problems behavior), yaitu:
1.     Social positive reinforcement
Tipe konsekuensi reinforcing yang positif yang dimediasi oleh orang lain. Ketika konsekuensi positf diberikan oleh orang lain setelah perilaku yang diinginkan muncul. Hal ini disebut social positive reinforcement. Social positive reinforcement meliputi: perhatian, akses untuk melakukan sesuatu/ aktivitas, atau  tangiable  yang disediakan orang lain.

2.     Social negative reinforcement
Social negative reinforcement adalah negatife reinforcement yang diperantarai oleh orang lain. Ketika orang lain memutuskan interaksi aversif (interaction aversive), tugas, atau kegiatan yang menyenangkan ketika perilaku yang diinginkan tersebut tidak muncul.

3.     Automatic positive reinforcement
Automatic positive reinforcement adalah memberikan reinforcement terhadap perilaku yang diinginkan tanpa ada perantara akan tetapi bersifat otomatis. Contoh: ketika anak autis memutar suatu objek, atau batu atau menepuk tangannya didepan wajahnya yang bisa menghasilkan reinforcement yang memberikan penguatan stimulasi sensori.

4.     Automatic negative reinforcement
Automatic negative reinforcement terjadi ketika sasaran perilaku secara otomatis mengurangi atau mengeliminasi aversive stimulus sebagai konsekuensi dari perilaku dan perilaku tersebut menguat. Escape ( lari dari…) aversive stimulus tidak dimediasi oleh orang lain akan tetapi bersifat otomatis. Contoh: perilaku “binge eating” bisa dikontrol dengan cara mengurangi respon emosional yang tidak menyenangkan yang hadir sebelum binge eating. Contoh lainnya adalah menutup jendela untuk menghindari cuaca yang dingin.

Metode – metode Functional Assessment

Tiga kategori dalam metode assessment:
1.     Metode assessment yang tidak langsung (indirect): informasi dikumpulkan melakui kuesioner. Metode tidak langsung ini dilakukan melalui interview dan kuesioner dalam memetakan permasalahan perilaku dari orang yang bersangkutan ataupun dari orang terdekatnya. Asesment tidak langsung ini disebut juga metode informant assessment karena sumber pemberi informasi (orang ybs dan orang lain) menyediakan informasi sebagai respon dari pertanyaan assessment. Keuntungan dari metode ini adalah mudah dilaksanakan dan tidak memakan waktu yang banyak serta format interview dan kuesioner banyak tersedia. Kekurangan dari metode ini adalah bergantung pada memori informant sehingga informasi yang diberikan ketika interview dan pengisiankuesioner bisa saja salah akibat lupa ataupun bias.
Karena sangat praktisinya metode ini sehingga metode ini banyak digunakan. Interview yang baik dalam melakukan assessment adalah interview yang terstruktur dan tanpa adanya interpretasi terhadap kejadian tersebut, akan tetapi hanya menggambarkan peristiwa tersebut secara objektif. Sebagai contoh: ada dua jawaban berbeda dari satu pertanyaan yang sama, yaitu: “kapan anak kamu menjadi tantrum?” (diasumsikan bahwa perilaku tantrum sudah dijelaskan oleh orang tua pada pernyataan sebelumnya). Jika orang tua berkata “ Johnyy menjadi tantrum ketika saya memintanya untuk mematikan tv dan datang ke meja makan untuk makan malam”, disini orang tua memberikan jawaban yang objektif. Jika orang tua mengatakan “Jony menjadi tantrum ketika dia tidak mendapatkan hal yang ia inginkan”, pada jawaban yang kedua ini orang tua sudah memberikan interpretasi terhadap apa yang terjadi.
Tujuan dari interview ini adalah memperoleh informasi tentang hal-hal yang terkait dengan perasalahan perilaku yang ingin diubah (penyebab dan konsekuensi) dan hal-hal terait lainnya, yang bisa membantu terapis/ konselor/psikolog dalam membuat hipotesa hal-hal apa saja yang menjadi variable pengontrol terhadap perilaku yang ingin diubah/bermasalah tadi. Dalam waktu yang bersamaan melalui metode ini kita juga mengajarkan kepada informan tentang assessment tersebut: bahwa perilaku dan event harus diidentifikasikan secara spesifik, bahwa penafsiran harus diminimalisasi. Berikut contoh pertanyaan:


2.     Metode assessment langsung (direct): assessment melalui observasi dengan mencatat penyebab perilaku (antecedent), perilakunya, dan konsekuensi setelah perilaku tersebut muncul. Kesemua hal tersebut direkam/dicatat dalam situasi yang natural dimana perilaku yang ingin dimodifikasi tersebut muncul. Observasi langsung ini disebut juga ABC observation. Keuntungan menggunakan metode ini adalah mencatat atau merekam secara langsung penyebab dan akibat dari perilaku tersebut langsung saat kejadian yang menyebabkan informasi yang disediakan lebih akurat. Kekurangan dari metode ini adalah membutuhkan usaha lebih dalam melakukan metode ini dibandingkan metode sebelumya, lebih lanjut metode ini hanya bisa menggambarkan korelasi antara penyebab dan konsekuensi dari perilaku namun tidak bisa menetapkan secara pasti apakah ada pengaruh antara penyebab- konsekuensi. 
Untuk membuat ABC observation semakin efektif maka harus diketahui kapan perilaku tersebut muncul, hal ini bisa diperoleh dari interview yang telah dilakukan sebelumnya. Observer yang melakuan ABC observation adalah orang yang terlatih untuk melakukan observasi dan merekam hasil observasi tersebut. ABC observation bisa dilakukan dengan 3 cara: metode deskripsi, metode ceklist, dan metode record interval
a.  Metode deskriptif, observer mencatat secara singkat gambaran dinamikan three term contingency, biasanya teknik ini digunakan sebelum dilakukan metode assessment tidak langsung (indirect assessment), berikut contohnya:

  

b.     Metode Cek list melibatkan cek list pada kolom penyebab, perilaku dan konsekuensi (three term contingency). Biasanya dikembangkan setelah  dilakukan proses identifikasi penyebab, perilaku dan konsekuensi (three term contingency) melalui interview atau melalui observasi. Berikut contohnya:


c.     Metode interval atau (real-time), dengan metoed ini kamu membagi waktu observasi ke dalam bentuk interval yang singkat dan memberikan tanda pada lembaran pengisian metode interval muncul atau tidaknya perilaku tersebut dalam interval yang sudah ditentukan, ataupun mencatatnya secara tepat berdasarkan waktu terjadinya.  Kamu juga bisa mengidentifikasikan dan mendefinisikan secara spesifik event mana yang menjadi penyebab dan apa akibatnya.

Metode observasi langsung ataupun tidak termasuk dalam assessment yang deskriptif karena three term contingency dideskripsikan, baik dari memori seseorang ataupun dari observasi terhadap kejadian tersebut secara langsung. Dengan menggunakan metod eini memberikan kesempatan kepada konselor/terapis untuk membuat hipotesa terhadap perilaku yang ingin dimodifikasi. Namun, dengan metode ini hanya berfungsi untuk melihat korelasi antara penyebab dan konsekuensi dari perilaku, tidak melihat pengaruh antara penyebab terhadap konsekuensi dari perilaku. Untuk membuktikan pengaruh antara penyebab dan konsekuensi perilaku maka dibutuhkan uji coba dalam bentuk memanipulasi penyebab dan konsekuensi dari perilaku tersebut atau yang lebih dikenal dengan Metode experiment (functional analysis).

3. Metode experiment (functional analysis): dilakukan manipulasi penyebab perilaku (antecedent), dan konsekuensi setelah perilaku tersebut muncul untuk mengobservasi efeknya pada perilaku. Dalam teknik Metode experiment (functional analysis), kamu memanipulasi  penguat (reinforce) yang potensial kemudian melihat reinforcer yang mana yang meningkatkan perilaku tersebut, atau kamu melakukan eksperimen dengan menghadirkan event pencetus/penyebab yang berbeda sehingga bisa melihat perilaku yang manakah yang menyebabkan perilaku tersebut muncul.
Sebagai contoh riset yang dilakukan oleh Iwata, Dorsey, Slifer, Bauman dan Richman (1982) melakukan eksperimen terhadap perilaku menyakiti diri sendiri atau self-injuurious behavior (SIB) yang dilakukan oleh orang dengan disfungsi intelektual. Pada kondisi eksperimen Iwata dkk membuat satu kondisi dimana penyebab dan konsekuensi dari perilaku SIB meningkat. Untuk mengevaluasi apakah perhatian dapat meningkatkan SIB maka Iwata dkk membuat satu kondisi dimana anak-anak tersebut tidak mendapat perhatian dari orang dewasa yang ada disekitarnya (EO), dan ketika SIB terjadi, maka kemudian orang dewas disekitarnya memberikan perhatian dalam bentuk ketidaksetujuan social (contoh: jangan melakukan hal tersebut). Untuk mengevaluasi apakah melarikan diri (escape) dari tugas yang harus dilakukannya adalah salah satu kemungkinan dari reinforce, kemudian Iwata menghadirkan “mengerjakan tugas” (EO), dan ketika SIB terjadi, Iwata membiarkan anak tersebut bebas dari tugasnya. Iwata dkk melakukan evaluasi terhadap 4 kondisi eksperimen dan menemukan bahwa SIB di maintained oleh perhatian dari orang lain dan lari dari tugas sebagai bentuk reinforcement.

Ada dua jenis functional analysis:
a.     Exploratory functional analysis: digunakan ketika terapis/konselor belum tahu apa yang menjadi penyebab munculnya perilaku tersebut , ataupun konsekuensi apa yang menguatkan munculnya perilaku tersebut dengan kata lain terapis/konselor belum mempunyai hipotesa. Sehingga pada kondisi eksperimen EO dihadirkan  dan juga kemungkinan reinforcernya, dan di situasi control maka terapis/konselor menghadirkan AO namun menahan konsekuensinya.
b.     Hypothesis-testing functional analysis: dalam metode ini terapis/konselor sudah memiliki hipotesa hanya saja perlu meng-confirm benar tidaknya hipotesa yang sudah dibuat. Dalam situasi eksperimen mengahdirkan EO sesuai dengan yang dihipotesakan, dan ketika perilaku tersebut terjadi, maka hipotesa terbukti. Dalam situasi control menghadirkan AO yang sudah dihipotesakan, dank etika perilaku tersebut muncul, sehingga hipotesa tentang reinforce tersebut tidak didukung. Sebagai contoh: pada perilaku Jacob yang suka menghantam kepalanya (head-banging), menangis, dan melemparkan mainan ke anak lain adalah ketika anak lain bermain dengan permainanya ataupun menyentuh permainannya. Untuk menganalisa apakah penyebab (antecedent) ini berkaitan dengan munculnya perilaku, maka Rich mengadakan eksperimen dimana penyeba dihadirkan dalam situasi tes, dan anteseden tidak dihadirkan dalam situasi control. Kemudian Rich membuat hipotesa bahwa perilaku yang menjadi reinforcenya adalah temannya mengembalikan permainan kepada dirinya. Untuk menganalisa, apakah konsekuensi ini dipengaruhi oleh penyebab (antecedent) maka Rich mengatur suatu kondisi dimana konsekuensi hadir (pada kondisi test) dan konsekuensi tidak hadir (pada situasi control). Hasil menunjukkan bahwa dalam situasi tes ketika penyebab dan konsekuensi hadir (kondisi test), perilaku mengantukkan kepala menjadi tinggi. Namun ketika penyebab dan konsekuensi tidak hadir (situasi control) maka Jacob sangat jarang melakukan perilaku “mengantukkan kepala”, menangis ataupun membanting mainnya. Begitupun untuk kasus Anna, dimana perhatian orang tua yang besar menyebabkan perilaku memukul, memendang dan menjerit pada anak. Lihat grafik di bawah ini:


Treatment menggunakan Functional communication training (FCT)

Keterangan:
LA: low attention
HA: High attention
UC: Uninterrupted-play condition
IP: Interrupted- play condition

Functional Analysis Research

Ada keuntungan dalam melakukan metode eksperimen dalam melakukan assessment yaitu: satu, dapat melihat pengaruh dari variable control terhadap perilaku. Dua, dapat memberikan bukti empiris tentang tipe penyebab (antecedent) tertentu yang dapat membangkitkan perilaku tertentu dan tipe reinforcement mana yang dapat mempertahankan perilaku untuk tetap muncul. Kekurangan dari functional analysis adalah besarnya waktu, usaha, dan keahlian yang harus dimiliki oleh eksperimenter untuk memanipulasi penyebab dan konsekuensi yang bisa menghasilkan perubahan perilaku.

Langkah-langkah dalam Melakukan Functional Assessment

1.     Lakukan interview dengan memperoleh data dari informan (dari orang yang bersangkutan atau orang terdekatnya).
2.     Kembangkan hipotesa dengan mempertimbangkan ABC.
3.     Lakukan assessment observasi secara langsung.
4.     Konfirmasi hipotesa yang sudah dibuat sebelumya dengan data dari berbagai sumber assessment.
5.     Lakukan assessment lebih lanjut jika dibutuhkan, misalnya lakukan interview untuk mengklarifikasi inkonsistensi data yang ditemukan.
6.     Lakukan analisa fungsional. Hal ini penting dilakukan terutama ketika dari data sebelumnya kita tidak bisa memformulasikan penyebab (antecedent) dan konsekuensi dari perilaku tersebut.

Contoh kasus:
Clyde seorang pria dengan Down Syndrome, bekerja sebagai orang yang membersihkan hotel, dengan mendapat supervise dan pelatihan dari atasnya. Setiap kali ia diminta untuk membersihak debu diatas meja,ia tidak mau melakukannya dengna menjatuhkan diri kelantai, dan menundukkan kepalanya. Atasannya berusaha untuk berbicara dengannya untuk tetap mengerjakannya. Kemudian mengulangi instruksinya, menjelaskan kenapa ia harus melakukan pekerjaan tersebut, dan menjanjikan reward, namun begitu ia tetap tidak mau bekerja. Setelah seminggu berselang dan kejadian tetap berlangsung, maka manager tersebut memanggil konsultan.

Pertanyaan:
1.     Berdasarkan informasi di atas, silahkan membuat hipotesa penyebab perilaku tersebut muncul.
2.     Bagaimana kamu melakukan functional analysis dari perilaku Clyde dan silahkan diidentifikasikan reinforcement yang membuat ia mempertahankan perilakunya?

Functional Intervention

Intervensi yang diberikan harus berdasarkan penyebab dan konsekuensi dari perilaku yang bermasalah tadi. Functional intervention seperti: extinction, reinforcement yang berbeda, dan manipulasi penyebab (antecedent).  Metode intervensi ini dianggap bersifat fungsional karena metode-metode ini memperhitungkan penyebab dan konsekuensi melalui assment fungsional.


Daftar Pustaka
  • Miltenberger, G.R. (2012). Behavior modification: principles and procedures. 5th edition. USA: Wadsworth Cengage Learning. 
  • Martin, G. (2007). Behavior Modification 8th edition: what it is and how to do it. USA: Pearson Prentice Hall
  • Sarafino. P. E. (2012). Applied behavior analysis , principles and procedures for modifying behavior. USA: John Wiley & Sons, inc.

Posting Komentar untuk "Memahami Penilaian Fungsional dalam Modifikasi Perilaku"

Klik gambar berikut untuk mengunduh artikel ini:

Berlangganan via Email