Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kerjasama dan Kompetisi dalam Organisasi Menurut Para Ahli

Kerjasama dan Kompetisi dalam Organisasi Menurut Para Ahli - Terkadang orang dalam berkelompok berinteraksi secara kooperatif. Mereka saling membantu, berbagi informasi dan bekerjasama demi keuntungan bersama. Diwaktu lain, anggota kelompok mungkin bersaing. Mereka mendahulukan tujuan individualnya dan berusaha mengalahkan anggota lain.

Kerja sama adalah perilaku dimana kelompok bekerja secara bersama-sama untuk mendapatkan tujuan yang sama. Kerjasama dapat menjadi sangat menguntungkan bahkan melalui proses tersebut kelompok dapat memperoleh hasil yang tidak pernah mereka harap dapat dicapai sendirian, namun mengejutkan kerja sama tidak selalu Seringkali anggota dari suatu kelompok mencoba untuk menkoordinasikan usaha-usaha mereka tetapi gagal.

Pertanyaan kunci yang muncul adalah:
Mengapa anggota kelompok tidak selalu mengkoordinasikan aktifitas mereka dalam cara ini?
Satu jawaban langsung, mereka tidak berkerja sama karena beberapa tujuan yang ingin mereka raih terkadang tidak dapat dibagi dalam sebuah kelompok. Dalam kasus seperti itu, kerjasama tidak memungkinkan dan konflik dapat berkemabang cepat selagi setiap orang (atau kelompok) berusaha memaksimalkan hasil mereka masing-masing (Tjosvold, 1993).

Pola kerja sama (cooperation) menekankan bahwa individu sering terlibat dalam perilaku prososial-tindakan yang menguntungkan orang lain tetapi tidak memiliki keuntungan nyata atau segera bagi orang yang melakukannya. Sementara perilaku seperti itu sangat sering terjadi, pola yang lain dimana pertolongan bersifat timbal balik dan menguntungkan kedua belah pihak bahkan lebih umum lagi. Kerjasama melibatkan situasi dimana kelompok bekerja secara bersama-sama untuk mendapatkan tujuan yang sama.

Kerjasama dan Kompetisi dalam Organisasi Menurut Para Ahli_
image source: blog.datis.com
baca juga: Pengertian Norma Kelompok, Jenis dan Proses Pembentukan

Faktor-faktor yang mempengaruhi kerjasama

Meskipun terdapat banyak faktor yang menentukan apakah individu akan memilih untuk bekerja sama dengan orang lain dalam situasi yang mengandung motif campuran yang dimunculkan oleh dilema sosial, terdapat tiga faktor tampak menjadi utama:

1. Kecenderungan pada timbal balik
    Timbal balik (reciprocity) adalah faktor yang paling pasti diantara ketiga faktor. Sepanjang hidup kita cenderung mengikuti prinsip ini, memperlakukan orang lain sebagaimana mereka telah memperlakukan kita (Pruitt dan Carnevale, 1993). Dalam memilih apakah akan kerjasama atau berkompetisi, kita tampaknya mempertimbangkan prinsip timbal balik ini. Ketika orang lain bekerjasama dengan kita dan mengesampingkan kepentingan pribadinya, biasanya kita akan melakukan hal yang sama sebagai balasannya. Sebaliknya jika mereka tidak bersikap baik dan memaksakan kepentingan pribadi, kita juga akan melakukan hal yang sama (Kerr dan Kaufman-Gilliland, 1994).

    Psikolog evolusioner  menekankan bahwa kecenderungan untuk menerapkan prinsip timbal balik dalam kerjasama tidak terbatas pada manusia; hal ini juga telah diobservasi pada binatang (misalnya pada kelelawar dan simpanse, Buss, 1999). Hal ini kemudian memunculkan pertanyaan yang menarik; karena “orang-orang yang curang” (mereka yang tidak bekerja sama setelah menerima perlakuan yang baik) sering mendapatkan keuntungan, bagaimana kecenderungan kuat pada prinsip timbal balik dapat berevolusi?

    Sebuah kemungkinan jawaban disediakan oleh teori Altruisme Timbal Balik (Reciprocal Altruism), Cosmides dan Tooby (1992), teori ini menyatakan bahwa dengan berbagi sumberdaya (resources) seperti makanan, organisme, meningkatkan kemungkinan mereka untuk bertahan dan kemungkinan bahwa mereka akan mewariskan gen pada generasi berikutnya. Lebih jauh, mereka cenderung berbagi dalam cara tertentu sehingga penerima memperoleh keuntungan cukup besar sedangkan usaha yang dikeluarkan oleh penyedia cukup minimal.

    2. Orientasi pribadi menyangkut kerjasama
      Secara spesifik, temuan penelitian memperlihatkan bahwa individu dapat memiliki satu dari tiga orientasi yang berbeda terhadap situasi yang meliputi dilema sosial, diantaranya (DeDreu dan McCusker, 1997 Van Lange dan Kuhlman, 1994):
      • Orientasi kooperatif, Dimana  mereka memilih untuk memaksimalkan hasil akhir bersama yang diterima oleh semua orang yang terlibat.
      • Orientasi individualistik, Dimana fokus utamanya adalah untuk memaksimalkan hasil mereka sendiri.
      • Orientasi kompetitif, Fokus utamanya adalah untuk mengalahkan orang lain

      Orientasi diatas memiliki dampak besar pada bagaimana orang bertindak pada banyak situasi, jadi hal tersebut merupakan faktor penting sehubungan dengan tercipta atau tidak terciptanya kerjasama.

      3. Komunikasi
        Penalaran umum menunjukkan bahwa jika individu dapat mendiskusikan situasi dengan orang lain, mereka mungkin akan segera menyimpulkan bahwa pilihan yang terbaik untuk setiap orang adalah bekerja sama; bagaimanapun hal ini akan bermanfaat bagi semua yang terlibat. Namun sangat mengejutkan, penelitian awal pada kemungkinan ini menghasilkan fakta campuran.

        Dalam berbagai situasi, kesempatan bagi anggota kelompok untuk berkomunikasi satu sama lain mengenai apa yang seharusnya mereka lakukan tidaklah meningkatkan kerjasama. Sebaliknya, anggota kelompok tampaknya menggunakan kesempatan ini terutama untuk mengancam satu sama lain sehingga hasilnya kerjasama tidak terjadi (Deutsch dan Krauss, 1960, Stech dan Mc Clintock, 1981).

        Terdapat penemuan penelitian mengarah pada kesimpulan yang lebih optimis, tampaknya komunikasi antara anggota kelompok dapat menghasilkan peningkatan kerjasama jika terdapat beberapa kondisi tertentu (Kerr dan Kaufman-Gilliland, 1994; Sally, 1998).

        Secara spesifik dampak yang menguntungkan dapat dan memang terjadi jika anggota kelompok membuat komitmen pribadi untuk bekerjasama satu sama lain dan jika komitmen ini didukung oleh norma pribadi yang kuat untuk menghargainya (Kerr dkk, 1997).

        Sekian artikel tentang Kerjasama dan Kompetisi dalam Organisasi Menurut Para Ahli. Semoga bermanfaat.

        Daftar Pustaka
        • Baron, A. R. & Byrne, D. 2003. Psikologi Sosial. Penerbit Erlangga. Jakarta. Edisi kesepuluh.
        • Faturochman, Ancok, D. 2001. DINAMIKA PSIKOLOGIS PENILAIAN KEADILAN. JURNAL PSIKOLOGI. No. 1, 41-60. Universitas Gadjah Mada. 
        • Faturochman. 2007. PSIKOLOGI KEADILAN UNTUK KESEJAHTERAAN DAN KOHESIVITAS SOSIAL. Pidato Pengukuhan Guru Besar Universitas Gadjah Mada.
        • Taylor, E. S., Peplau, A. L., & Sears, O. D. 2009. Psikologi Sosial. Prenada Media Group. Jakarta.

        Posting Komentar untuk "Kerjasama dan Kompetisi dalam Organisasi Menurut Para Ahli"

        Klik gambar berikut untuk mengunduh artikel ini:

        Berlangganan via Email