Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Memahami Faktor Manusia dalam Human Relations (Learning how to learn)

Pokok bahasan dalam artikel kali adalah tentang model pembelajaran; dimensi pembelajaran; gaya pembelajaran perorangan; gaya pembelajaran dan pemecahan masalah. Melalui artikel ini diharapkan mampu memahami akan pemecahan masalah dari pembelajaran dari bagian Human Relations.

Model Pembelajaran

Peter Senge (1990) mengatakan bahwa Organizational Learning terjadi apabila suatu organisasi menjadi tempat dimana anggotanya secara terus-menerus meningkatkan kapasitasnya untuk menghasilkan sesuatu yang mereka inginkan, dimana pola pikir mereka semakin berkembang, dan inspirasi kolektif bebas diungkapkan, dan orang-orang terus berusaha belajar.

Karena itu faktor manusia sebagai manusia pembelajar dalam organisasi sangat berpengaruh. Senge dalam teorinya mengungkapkan "system thinking", suatu cara untuk merubah cara pandang individu untuk menjadi manusia pembelajar. Dalam teorinya juga system thinking dilanjutkan dengan mental models, dimana peranan model mental individu dalam organisasi memperngaruhi tiap individu menjadi manusia pembelajar, dan secara garis besar berkaitan dengan kondisi psikologi seseorang.

Pembelajaran adalah proses, cara, menjadikan orang atau mahluk hidup belajar. Sedangkan belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. (KBBI, 1996: 14).

Sependapat dengan pernyataan tersebut Sutomo (1993: 68) mengemukakan bahwa pembelajaran adalah proses pengelolaan lingkungan seseorang yang dengan sengaja dilakukan, sehingga memungkinkan dia belajar untuk melakukan atau mempertunjukkan tingkah laku tertentu pula. Sedangkan belajar adalah suatu proses yang menyebabkan perubahan tingkah laku yang bukan disebabkan oleh proses pertumbuhan yang bersifat fisik, tetapi perubahan dalam kebisaaan, kecakapan, bertambah, berkembang daya pikir, sikap dan lain-lain. (Soetomo, 1993: 120).

Bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar (Pasal 1 Undang-undang No.20 tahun 2003 tentang pendidikan nasional). Jadi pembelajaran adalah proses yang disengaja yang menyebabkan siswa belajar pada suatu lingkungan belajar untuk melakukan kegiatan pada situasi tertentu.

Memahami Faktor Manusia dalam Human Relations (Learning how to learn)
image source: markey.id
   
Model Pembelajaran
Model pembelajaran membantu memahami bagaimana proses pembelajaran seseorang untuk menghasilkan konsep, peraturan, dan prinsip-prinsp dari pengalamannya sebagai pedoman perilakunya dikemudian hari dan bagaimana mereka merubah konsep-konsep tersebut untuk meningkatkan efektivitas di dalam situasi yang baru. Menurut Kolb ada dua aspek dalam proses pembelajaran yaitu aspek aktif dan aspek pasif yang dibagi dalam 4 (empat) tahapan siklus:
  1. Pengalaman kongkret (Concrete Experience);
  2. Observasi dan refleksi (Observation and Reflection);
  3. Pembentukan konsep dan generalisasi yang abstrak (Formation of abstract Concepts and Generalization); dan
  4. Hipotesa yang harus diuji (Testing Implications Observation and Reflection of Concepts in New situations).

Memahami Faktor Manusia dalam Human Relations (Learning how to learn) 2

Pembelajaran yang efektif harus terbuka kepada pembelajaran pengalaman baru (CE), ini terefleksi dari apa yang mereka amati dalam pengalaman tersebut (OR), kemudian mengintegrasikan kesimpulan-kesimpulan tersebut dalam teori-teori yang masuk akal (AC), dan menerapkan teori-teori tersebut dalam situasi-situasi baru (AE). Proses pembelajaran tersebut berlangsung secara terus menerus. Manusia secara berulang-ulang akan mengetes konsep dalam pengalamannya yang baru dan memodifikasi konsep tersebut sebagai akibat observasi dan analisis dampaknya.

Bagaimana konsep-konsep tersebut dimodifikasi dan pengalaman-pengalaman apa yang dipilih oleh seseorang merupakan fungsi tujuan dan sasaran personal individual. Konsekuensi, tiap orang akan tertarik pada pengalaman yang berbeda, akan menggunakan konsep yang berbeda untuk menganalisisnnya, dan sebagai akibatnya akan menarik kesimpulan yang berbeda pula. Pembelajaran berbeda, bervariasi untuk manusia yang berbeda tujuan. 

Implikasinya sebagai seorang manajer adalah meyakinkan tujuan pembelajaran adalah jelas dan konsisten. Jika tidak, maka proses pembelajaran pegawai menjadi tidak efisien.

Dimensi Pembelajaran

1. Lingkungan Belajar yang Kompleks dan Tugas-tugas Otentik
Pekerja tidak boleh diberikan bagian-bagian yang terpisah, penyederhanaan masalah, dan pengulangan keterampilan dasar, tetapi sebaliknya: pekerja dihadapkan pada lingkungan belajar yang kompleks, terlihat samar-samar, dan masalah yang tidak beraturan. Masalah-masalah yang kompleks itu harus dihubungkan pada aktivitas dan tugas yang otentik, karena keberagaman situasi yang dihadapi tersebut, seperti juga aplikasi yang mereka hadapi tentang dunia nyata.

2. Negosiasi Sosial
Tujuan utama pembelajaran adalah untuk mengembangkan kemampuan pekerja dalam membangun serta mempertahankan posisi mereka, dan disaat bersamaan menghormati posisi orang lain dan bekerjasama untuk berdiskusi atau membangun pengertian bersama-sama. Guna menyelesaikan perpaduan ini, haruslah berbicara dan mendengarkan satu sama lain.Dengan kata lain, proses mental ini melalui negosiasi sosial dan interaksi,sehingga kolaborasi dalam pembelajaran dapat dimungkinkan, yakni melahirkan sebuah sikap intersubyektif – sebuah komitmen untuk membangun keragaman pengertian danmenemukan kesamaan umum serta perpaduan penafsiran.

3. Keragaman Pandangan dan Representasi Bahasan
Acuan-acuan untuk pembelajaran harus sudah dapat memfasilitasi representasi beragam bahasan dengan menggunakan analogi contoh dan metafora yang berbeda. Peninjauan materi yang sama, pada waktu yang berbeda-beda dalam penyusunan kembali konteks untuk tujuan yang berbeda, dan dari pandangan konseptual yang berbeda adalah penting untuk mencapai tujuan kemampuan pengetahuan yang lebih maju.

4. Proses Konstruksi Pengetahuan
Pendekatan konstruktivisme mengedepankan untuk membuat pekerja peduli pada peran mereka dalam membangun pengetahuan. Asumsinya adalah keyakinan dan pengalaman individu, membentuk apa yang dikenal sebagai dunia. Asumsi dan pengalaman berbeda,mengarahkan kepada pengetahuan yang berbeda pula. Apabila pekerja peduli terhadap pengaruh-pengaruh yang membentuk pola pikir mereka, maka mereka akan lebih mampu untuk memilih, mengembangkan, dan memanfaatkan posisi dengan cara introspeksi diri, pada saat yang bersamaan menghormati posisi orang lain.

5. Pembelajaran Pekerja Terhadap Kesadaran Dalam Belajar
Fokus dalam proses ini adalah menempatkan berbagai usaha pekerja untuk memahami pembentukan pembelajaran dalam pendidikan. Kesadaran yang timbul pada diri pekerja, bukan berarti manajer melonggarkan tanggung jawabnya untuk memberikan pengarahan atau bimbingan

Gaya Pembelajaran Individual

Setiap individu adalah unik. Artinya setiap individu memiliki perbedaan antara yang satu dengan yang lain. Perbedaan tersebut bermacam-macam, mulai dari perbedaan fisik, pola berpikir dan cara-cara merespon atau mempelajari hal-hal baru. Dalam hal belajar, masing-masing individu memiliki kelebihan dan kekurangan dalam menyerap pelajaran yang diberikan. Oleh karena itu dalam dunia pendidikan dikenal berbagai metode untuk dapat memenuhi tuntutan perbedaan individu tersebut. Di negara-negara maju sistem pendidikan bahkan dibuat sedemikian rupa sehingga individu dapat dengan bebas memilih pola pendidikan yang sesuai dengan karakteristik dirinya.

Karakteristik Cara Belajar
Berdasarkan kemampuan yang dimiliki otak dalam menyerap, mengelola dan menyampaikan informasi, maka cara belajar individu dapat dibagi dalam 3 (tiga) kategori.

Ketiga kategori tersebut, yang ditandai dengan ciri-ciri perilaku tertentu, adalah:
  1. cara belajar visual,
  2. cara belajar auditorial dan
  3. cara belajar kinestetik.

Pengkategorian ini tidak berarti bahwa individu hanya yang memiliki salah satu karakteristik cara belajar tertentu sehingga tidak memiliki karakteristik cara belajar yang lain. Pengkategorian ini hanya merupakan pedoman bahwa individu memiliki salah satu karakteristik yang paling menonjol sehingga jika ia mendapatkan rangsangan yang sesuai dalam belajar maka akan memudahkannya untuk menyerap pelajaran.

Dengan kata lain jika sang individu menemukan metode belajar yang sesuai dengan karakteristik cara belajar dirinya maka akan cepat ia menjadi "pintar" sehingga kursus-kursus secara intensif mungkin tidak diperlukan lagi.

Adapun ciri-ciri perilaku individu dengan karakteristik cara belajar seperti disebutkan diatas, menurut DePorter & Hernacki (2001), adalah sebagai berikut:

1. Karakteristik Perilaku Individu dengan Cara Belajar Visual
Individu yang memiliki kemampuan belajar visual yang baik ditandai dengan ciri-ciri perilaku sebagai berikut:
  1. rapi dan teratur;
  2. berbicara dengan cepat;
  3. mampu membuat rencana jangka pendek dengan baik;
  4. teliti dan rinci;
  5. mementingkan penampilan;
  6. lebih mudah mengingat apa yang dilihat daripada apa yang didengar;
  7. mengingat sesuatu berdasarkan asosiasi visual;
  8. memiliki kemampuan mengeja huruf dengan sangat baik;
  9. biasanya tidak mudah terganggu oleh keributan atau suara berisik ketika sedang belajar;
  10. sulit menerima instruksi verbal (oleh karena itu seringkali ia minta instruksi secara tertulis);
  11. merupakan pembaca yang cepat dan tekun;
  12. lebih suka membaca daripada dibacakan;
  13. dalam memberikan respon terhadap segala sesuatu, ia selalu bersikap waspada, membutuhkan penjelasan menyeluruh tentang tujuan dan berbagai hal lain yang berkaitan;
  14. jika sedang berbicara di telepon ia suka membuat coretan-coretan tanpa arti selama berbicara;
  15. lupa menyampaikan pesan verbal kepada orang lain;
  16. sering menjawab pertanyaan dengan jawaban singkat "ya" atau "tidak’;
  17. lebih suka mendemonstrasikan sesuatu daripada berpidato/berceramah;
  18. lebih tertarik pada bidang seni (lukis, pahat, gambar) daripada musik;
  19. seringkali tahu apa yang harus dikatakan, tetapi tidak pandai menuliskan dalam kata-kata.

2. Karakteristik Perilaku Individu dengan Cara Belajar Auditorial
Individu yang memiliki kemampuan belajar auditorial yang baik ditandai dengan ciri-ciri perilaku sebagai berikut:
  1. sering berbicara sendiri ketika sedang bekerja;
  2. mudah terganggu oleh keributan atau suara berisik;
  3. lebih senang mendengarkan (dibacakan) daripada membaca;
  4. jika membaca maka lebih senang membaca dengan suara keras;
  5. dapat mengulangi atau menirukan nada, irama dan warna suara;
  6. mengalami kesulitan untuk menuliskan sesuatu, tetapi sangat pandai dalam bercerita;
  7. berbicara dalam irama yang terpola dengan baik;
  8. berbicara dengan sangat fasih;
  9. lebih menyukai seni musik dibandingkan seni yang lainnya;
  10. belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan daripada apa yang dilihat;
  11. senang berbicara, berdiskusi dan menjelaskan sesuatu secara panjang lebar;
  12. mengalami kesulitan jika harus dihadapkan pada tugas-tugas yang berhubungan dengan visualisasi;
  13. lebih pandai mengeja atau mengucapkan kata-kata dengan keras daripada menuliskannya;
  14. lebih suka humor atau gurauan lisan daripada membaca buku humor/komik;

3. Karakteristik Perilaku Individu dengan Cara Belajar Kinestetik
Individu yang memiliki kemampuan belajar kinestetik yang baik ditandai dengan ciri-ciri perilaku sebagai berikut:
  1. berbicara dengan perlahan;
  2. menanggapi perhatian fisik;
  3. menyentuh orang lain untuk mendapatkan perhatian mereka;
  4. berdiri dekat ketika sedang berbicara dengan orang lain;
  5. banyak gerak fisik;
  6. memiliki perkembangan otot yang baik;
  7. belajar melalui praktek langsung atau manipulasi;
  8. menghafalkan sesuatu dengan cara berjalan atau melihat langsung;
  9. menggunakan jari untuk menunjuk kata yang dibaca ketika sedang membaca;
  10. banyak menggunakan bahasa tubuh (non verbal);
  11. tidak dapat duduk diam di suatu tempat untuk waktu yang lama;
  12. sulit membaca peta kecuali ia memang pernah ke tempat tersebut;
  13. menggunakan kata-kata yang mengandung aksi;
  14. pada umumnya tulisannya jelek;
  15. menyukai kegiatan atau permainan yang menyibukkan (secara fisik);
  16. ingin melakukan segala sesuatu;

Dengan mempertimbangkan dan melihat cara belajar apa yang paling menonjol dari diri seseorang individu yang bersangkutan (yang sudah memiliki pemahaman yang cukup tentang karakter cara belajar dirinya) diharapkan dapat bertindak secara arif dan bijaksana dalam memilih metode belajar yang sesuai.

Pemecahan Masalah

Memecahkan Masalah dan Membuat Keputusan
Tiga jenis usaha pendekatan sistematis untuk pecahan masalah:

1. Persiapan
Manajer memandang perusahaan sebagai suatu sistem dengan memahami lingkungan perusahaan dan mengidentifikasi subsistem-subsistem dalam perusahaan. 

2. Definisi
Manajer bergerak dari tingkat sistem ke subsistem dan menganalisis bagian sistem menurut suatu urutan tertentu.

3. Solusi
Manajer mengidentifikasi berbagai solusi altenatif, mengevaluasi, memilih yang terbaik, menerapkannya dan membuat tindak lanjut utk memastikan bahwa solusi itu berjalan sebagaimana mestinya.

Masalah adalah suatu kondisi yg memiliki potensi utk menimbulkan kerugian luar biasa atau menghasilkan keuntungan luar bisa.


Jadi pemecahan masalah berarti tindakan memberi respon terhadap masalah untuk menekan akibat buruknya atau memanfaatkan peluang keuntungannya.

Pentingnya pemecahan masalah bukan didasarkan pada jumlah waktu yang dihabiskan tetapi pada konsekuensinya.

Keputusan adalah pemilihan suatu strategi atau tindakan.

Pengambilan keputusan adl tindakan memilih strategi atau aksi yg manajer yakini akan memberikan solusi terbaik atas masalah tsb.

Salah satu kunci pemecahan masalah adalah identifikasi berbagai alternatif keputusan.

Setelah berbagai alternatif diidentifikasi, sistem informasi dapat digunakan untuk mengevaluasi tiap alternatif.

Evaluasi ini harus mempertimbangkan berbagai kendala:
  1. Kendala intern dapat berupa SD yg terbatas, seperti kurangnya bahan baku, modal kerja, SDM yg kurang memenuhi syarat, dll.
  2. Kendala lingkungan dapat berupa tekanan dari berbagai elemen lingkungan, seperti pemerintah atau pesaing untuk bertindak menurut cara tertentu.

Struktur Masalah
  1. Masalah terstruktur terdiri elemen-elemen dan hubungan-hubungan antar elemen yang semuanya dipahami oleh pemecah masalah.
  2. Masalah tak terstruktur berisikan elemen-elemen atau hubungan-hubungan antar elemen yang tidak dipahami oleh pemecah masalah.
  3. Masalah semi-terstruktur adalah masalah yang berisi sebagian elemen–elemen atau hubungan yang dimengerti oleh pemecah masalah.

Faktor Manusia yang Mempengaruhi Pemecahan Masalah
Tiap manajer memiliki gaya pemecahan masalah yang unik. Gaya mereka mempengaruhi bagaimana mereka terlibat dalam merasakan masalah, mengumpulkan informasi, dan menggunakan informasi.

Gaya Merasakan Masalah (Problem Solving Styles)
Manajer dapat dibagi dalam 3 kategori dasar dalam hal gaya merasakan masalah mereka, yaitu bagaimana mereka menghadapi masalah:
  1. Penghindar masalah (problem avoider), manajer mengambil sikap positif & menganggap semua baik-baik saja. Ia berusaha menghalangi kemungkinan masalah dengan mengabaikan informasi atau menghindarinya sepanjang perencanaan.
  2. Pemecah masalah (problem solver), manajer ini tidak mencari masalah juga tidak menghalanginya. Jika timbul suatu masalah, masalah tersebut dipecahkan.
  3. Pencari masalah (problem seeker), manajer ini menikmati pemecahan masalah dan mencarinya.

Gaya Mengumpulkan Informasi (Information-Gathering Styles)
  1. Manajer dapat menunjukkan salah satu dari 2 gaya mengumpulkan informasi atau sikap terhadap total volume informasi yg tersedia:
  2. Gaya teratur (preceptive style), manajer jenis ini mengikuti management by exception dan menyaring segala sesuatu yang tidak berhubungan dengan area minatnya.
  3. Gaya menerima (receptive style), manajer jenis ini ingin melihat semuanya, kemudian menentukan apakah informasi tersebut bernilai baginya atau orang lain dalam organisasi.

Gaya Menggunakan Informasi (Information-Using Styles)
  1. Manajer juga cenderung lebih menyukai salah satu dari dua gaya menggunakan informasi, yaitu cara-cara menggunakan informasi untuk memecahkan suatu masalah.
  2. Gaya sistematik (systematic style), manajer memberi perhatian khusus untuk mengikuti suatu metode yang telah ditetapkan, misalnya pendekatan sistem.
  3. Gaya intuitif (intuitive style), manajer tidak lebih menyukai suatu metode tertentu tetapi menyesuaikan pendekatan dengan situasi.

Manajer terlibat dalam pemecahan masalah untuk pengambilan keputusan yang efektif dan efisien.

Sekian artikel tentang Faktor Manusia dalam Human Relations (Learning how to learn).

Daftar Pustaka
Effendy, Onong Uchjana, Human Relations & Public Relations, Penerbit Mandar Maju, Bandung, 1993.
Hodgetts & Richard M., Modern Human Relations At Work, The Dryden Press Harcourt Brace Jovanovich, Fort Worth, TX, 1993
Hunsaker, Philip L. & Alessandra, Anthony J., The art of Managing People, Simon & Schuster Inc., New York, 1980
Ronald B. Adler and George Rodman, Understanding Human Communications, Ninth Edition, OXFORD UNIVERSITY PRESS, New York, 2006

Posting Komentar untuk "Memahami Faktor Manusia dalam Human Relations (Learning how to learn)"

Klik gambar berikut untuk mengunduh artikel ini:

Berlangganan via Email