Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Perkembangan Individu dan Pengaruhnya Dalam Proses Belajar

Perkembangan Individu dan Pengaruhnya Dalam Proses Belajar - Perkembangan adalah bagaimana manusia tumbuh, beradaptasi dan berubah sepanjang hidup baik secara fisik, keperibadian, sosial- emosional, kognisi, ataupun bahasa. Dalam pertemuan ini akan dibahas tentang teori perkembang kognisi menurut Piaget, Lev Vygotsky.

Aspek-Aspek Perkembangan

Anak bukan miniatur orang dewasa. Mereka berfikir, melihat dunia secara berbeda, dan mereka hidup dengan prinsip moral dan etik yang berbeda dengan orang dewasa. Berdasarkan sekanrio di atas kita bisa melihat contoh bahwa: guru A mengangkat tangan kanan, dan secara langsung seluruh anak kelas 1 ikut mengangkat tangan juga, mereka tidak faham dan hanya mengikut saja gerakan gurunya. Pada kasus guru B mengilustrasikan perkembangan moral pada anak: peraturan adalah peraturan (akan dibahas pada pertemuan 3). Pada kasus guru C, ia mengapresiasi hasil kinerja murid kelas 2 SMP yang berefek penolakan siswa A untuk menulis puisi lebih lanjut, guru C tidak tahu kalau karena menjadi “peliharan guru” adalah hal yang sangat tidak diinginkan oleh siswa SMP.

Syarat untuk menjadi seorang guru yang efektif adalah memahami kondisi murid mereka bagaimana mereka berpikir dan melihat dunia ini. Strategi efektif dalam mengajar harus memperhitungkan usia dan tahap perkembangan siswa. Contoh: Siswa kelas 4 SD mungkin bisa belajar tentang matematika dasar tapi belum bisa belajar tentang “algebra” karena hal itu terkait dengan kematangan kognisi. Sama halnya denga kasus Guru C, apresiasi yang diberikan untuk remaja di depan teman-temannya adalah hal yang kurang tepat, apresisasi lebih tepat diberikan untuk siswa yang lebih muda atau tua 3 tahun dari siswa A.


Perkembangan Individu dan Pengaruhnya Dalam Proses Belajar_
image by: www.edb.utexas.edu

Bagaimana Perkembangan Bisa Terjadi

Ada dua perdebatan di dalam dunia psikologi selama beberapa dekade terakhir ada perdebatan apakah perkembangan dipengaruhi oleh “nature- bawaan/keturunan” atau “nurture-lingkungan/ pengalaman”. Psikolog perkembangan percaya bahwa kedua hal ini sama-sama berkontribusi dalam perkembangan manusia. Misalnya faktor keturunan berperan dalam perkembangan fisik manusia, dan lingkungan berperan dalam perkembangan moral.

Teori lainnya dalah Teori Continuous dan Discontinuous. Teori Continuous mengatakan bahwa perkembangan terajadi dalam proses yang sangat halus/smooth seiring dengan perkembangan skill dan pengalaman yang disediakan oleh orang tua dan lingkungan. Teori ini menekankan pentingnya lingkungan dibandingkan dengan faktor bawaan dalam mempengaruhi perkembangan manusia.

Pendapat kedua berasumsi bahwa perkembangan manusia melalui satu tahapan yang bisa diprediksi. Dalam kasus tertentu, perubahan bisa terjdi dengan tiba-tiba ketika anak mau memasuki tahap perkembangan berikutnya. Setiap anak harus memiliki keahlian tertentu pada tahap perkembangan tertentu, meskipun kecepatan perekembangan antara satu anak dengan anak lainnya berbeda. Kemampuan yang diperoleh anak pada tiap tahapannya tidak sama, anak secara kualitatif mengembangkan aspek pemahaman, kemampuan, dan kepercayaan (belief) yang berbeda. Melompati tahapan tertentu adalah tidak mungkin meskipun terkadang dalam satu tahapan anak bisa menunjukkan berbagai karakteristik perilaku lebih dari satu tahap perkembangan. Teori ini lebih berfokus pada faktor bawaan daripada faktor lingkungan dalam memahami bagaimana perkembangan terjadi selama rentang kehidupan. Lingkungan memiliki pengaruh dalam perkembangan, akan tetapi tahapan dalam perkembangan adalah sesuatu yang fix.

Piaget, Vygotsky, Erikson, dan Kohlberg berfokus pada berbagai aspek perkembangan yang berbeda. Semua pakar memiliki fokus yang berebeda tentang tahap perkembang namun mereka memiliki kepercayaan yang sama tentang perbedaan dalam tahap perkembangan dapat diidentifikasikan dan digambarkan.

Sekarang, semua ahli perkembangan mengakui peran dari faktor bawaan dan faktor lingkungan dalam mejelaskan tahapan perkembangan pada anak. Terutama teori Vygotsky yang mengatakan bahwa perkembangan kognisi pada anak sangat tergantung dengan interaksi sosial dengan orang dewasa yang ada disekitar mereka.

Perkembangan Kognitif Individu Menurut Ahli

I. Piaget
Jean Piaget seorang psikolog perekmbangan yang lahir di Switzerland tahun 1896. Setelah selai studi doctor di bidang biologi, ia semakin tertarik dengan bidang psikologi. Piaget mengaplikasikan prinisip-prinsip biologi dalam mempelajari manusia, dan mengaplikasikannya secara langsung melalui observasi terhadap anaknya sendiri. Piaget mengeksplorasi bagaiamana dan mengapa kemampuan mental seseorang bisa berubah seiring dengan waktu. Piaget berpandangan bahwa perkembangan sangat tergantung manipulasi dan interaksi dengan lingkungan yang dilakukan oleh anak. Piaget mengembangkan teori perkembangan kognisi, bahwa: perkembangan intelektual dan kognisi berkembang melalui 4 tahapan. Setiap tahapan bercirikan dengan kemampuan yang baru dan cara baru dalam memproses informasi. Belakangan ini banyak ide Piaget yang mendapat sorotan, terutama perubahan fungsi kognitif.

Perkembangan kognisi menurut Piaget

Perkembangan Individu dan Pengaruhnya Dalam Proses Belajar 1_

Piaget percaya bahwa anak lahir dengan kecenderungan untuk berinteraksi dengan lingkungannya. Ia mengatakan kemampuan anak untuk mengorganisasi dan memproses informasi disebut sebagai sturktur kognisi. Mental proses/ pikiran pada anak yang mengarahkan perilau anak malalui pola tertentu disebut skema.

Proses penyesuaian skema sebagai respon terhadap lingkungan di sekitar dengan cara asimilasi dan akomodasi disebut Adaptasi. Asimilasi adalah memahami pengalaman baru yang disesuaikan dengan skema yang sudah ada. Sebagai contoh: kalau seorang anak diberikan benda yang mirip dengan sesuatu yang sudah dikenalnya maka ia cenderung untuk mengambil, menggigit dan memukul-mukulkan benda tersebut. Dengan kata lain ia mencoba menggunakan skema untuk mempelajari hal baru. Akomodasi memodifikasi/merevisi skema yang sudah ada supaya cocok dengan situasi yang baru, sebagai contoh: ketika anak yang memiliki skema untuk memukulkan benda apa saja, kemudia ia diberikan sebuah telur maka hasilnya dapat ditebak bahwa ia akan melihat konsekuensi yang tidak diprediksi sebelumnya yaitu telurnya menjadi pecah, anak tersebut kemungkinan besar akan memukulkan benda yang keras namun tidak dengan benda lembut lainnya. Contoh lainnya adalah: seorang anak yang menggunakan metode menghapal dalam mengahadapi quiz dan gagal,kedepannya ia akan mengubah cara belajarnya.

Kondisi penyesuaian dalam proses akomodasi tidak serta merta bisa dilakukan, menurut Piaget ada satu kondisi dimana apa yang dipahami berbeda dari kenyataan yang menyebabkan kondisi “disekuilibrium”. Maka seseorang berfokus pada cara untuk mengurangi kondisi ketidakseimbangan ini dengan cara mengembangkan skema baru atau mengadaptasikan skema yang lama sehingga tercapai kondisi “ekuilibrium”. Menurut Piaget, proses belajar sangat tergantung dengan proses ini, karena proses ini member kesempatan untuk anak tumbuh. Pada akhirnya, cara berpikir yang baru terbentuk dan anak melaju pada tahapan perkembangan berikutnya. Piaget percaya bahwa manipulasi terhadap lingkungan dan pengalaman yang bersifat fisik adalah hal penting dalam perkembangan. Di sisi yang lain, ia juga percaya bahwa interaksi sosial berpengaruh terhadap perkembanan kognisi anak. Pandangan Piage merepresentasikan teori “konstruktivism”, melihat perkembangan kognisi adalah proses dimana anak secara aktif membangun pemahaman dan pemaknaan realitas melalui pengalaman mereka dan interaksi. Melalui pandangan ini, anak mengembangkan secara aktif pengetahuannya melalui asimilasi dan akomodasi informasi baru secara terus menerus.

Tahap perkembangan kognisi Piaget

Piaget membagi tahap perkembangan pada anak dan remaja dalam empat tahap: sensori-motorik, pra-operasional, operasional konkrit dan operasional formal.

Perkembangan Individu dan Pengaruhnya Dalam Proses Belajar 2_

Perkembangan Individu dan Pengaruhnya Dalam Proses Belajar 3_
Sensori-motorik adalah tahapan ketika masih bayi dimana ia belajar tentang lingkungannya dengan cara menggunakan indra dan kemampuan motoriknya. Bermula dari perilaku reflex (seperti: bayi akan mengemut sesuatu ketika bibirnya disentuh, mengenggam tangan seseorang). Seiring berjalannya waktu perilaku bayi tidak hanya reflex, tapi mulai memiliki arahan. Menurut Piaget, di akhir proses sensori motorik ini, proses belajar yang tadinya kebetulan dan melalui trial and error berubah ke arah untuk menyelesaikan masalah. Untuk pertama kalinya anak secara mental memahmi objek dan kejadian disekitarnya, hal ini disebut “thinking- berpikir”- Objek adalah permanent. Contoh: anak usia usia di bawah 2 tahun disembunyikan botol di bawah handuk maka ia akan percaya bahwa botol tersebut hilang, namun di akhir usia sensorik-motorik ini anak telah mengerti bahwa meskipun objek tidak kelihatan tapi objek tersebut masih ada.


Perkembangan Individu dan Pengaruhnya Dalam Proses Belajar 4_
Pra-Operasional: usia dimana anak belajar untuk merepresentasikan apa yang ada di dalam pikirannya. Dalam usia ini perkembangan bahasa sangat cepat akan tetapi perkembang kognitifnya terhadap pemahaman sebuah prinsip konservasi tidak begitu pesat. Anak-anak di bawah usia 2 tahun kurang paham tentang Conservation adalah konsep bahwa objek atau property (contoh: berat) tertentu tidak berubah karena perubahan bentuknya. Sebagai contoh seliter air dituangkan ke dalam segelas botol yang panjang dan 1 liter air di tuangkan ke dalam mangkok, anak meyakini bahwa air yang ada di dalam botol lebih banyak daripada air yang di dalam mangkok.

Ciri berpikir pada tahap ini adalah Centration hanya memperhatikan 1 aspek dari objek/ benda dan situasi. Tidak mampu berpikir dibalik reverse (7 + 5 = 12, maka 12 - 5 = 7).

Perkembangan Individu dan Pengaruhnya Dalam Proses Belajar 5_

Anak pada usia ini juga berpikir egosentris, pada tahapan ini anak percaya bahwa orang melihat dunia ini sama seperti cara ia melihat dunia ini, ia tidak dapat melihat dari perspektif orang lain. Contoh: Ketika dua orang kakak beradik ditanya “kenapa petani memelihara sapi?” anak usia 2 tahun berkata: “supaya aku bisa melihatnya”, sementara si kakak yang berusia 4 tahun menjawab : “karena petani senang bermain dengan sapi”. Si kakak menyadari bahwa petani ada kebutuhannya sendiri, dan dia mengasumsikan bahwa kebutuhan petani sama dengan kebutuhannya, yaitu bermain.

Operasional Konkrit: tahapan dimana anak mulai mengembangkan kapasitas berpikir secara logis dan conservation dalam menghadapi situasi yang familiar. Pada tahap ini ada tahapan berpikir yang disebut inferred reality arti dari stimulus itu tergantung konteks, contoh: ketika anak diberikan mobil warna merah, kemudian mobil tersebut di cover dengan warna hitam, maka anak dalam usia ini bisa mengatakan kalau warna aslinya adalah merah. Seriation dimana anak sudah mampu menyusun secara beraturan sebuah objek berdasarkan bentuk, berat dan ukurannya. Transitivity kemampuan untuk menyusun dan membandingkan objek.

Tahap Operasional formal: tahapan dimana anak sudah mampu berpikir secara abstrak.

Perkembangan Individu dan Pengaruhnya Dalam Proses Belajar 6_

Implikasi Teori Piaget terhadap Dunia Pendidikan
  1. Penekanan kemampuan berpikir anak tidak sama dengan orang dewasa
  2. Penerimaan perbedaan individu yang menyatakan bahwa semua anak melewati tahapan yang sama akan tetapi kecepatannya berbeda antara satu dengan yang lainnya.
  3. Fokus pada proses berfikir anak dalam memperoleh jawaban, bukan hanya jawaban yang benarnya saja.
  4. Menyediakan lingkungan yang mampu membuat anak mengeksplore dan berinteraksi dengan lingkungan dalam mencari pemecahan dalam proses belajar.

Kritik Terhadap Teori Piaget

Piaget menyakini bahwa proses perkembangan adalah sesuatu yang sudah fix dan konsep-konsep tersebut tidak bisa diajarkan kepada anak-anak. Akan tetapi riset membuktikan bahwa tugas-tugas dalam perkembangan kognitif pada anak bisa diajarkan dalam tahapan awal perkembangan. Contoh: dalam tugas susunan blok anak mampu mampu menyelesaikan tugas ketika instruksi yang diberikan dalam bahasa yang sederhana (Gelman, 1979). Boden (1980) menemukan bahwa anak pada usia pra-operasional mampu melawati tugas yang diberikan antara 19-98% tergantung dari kompleksitas instruksi yang diberikan. Sama hal nya dengan egosentrisme pada anak, dalam kontek praktis dengan bahasa yang simple anak mampu memahami sudut pandang orang lain.

Orang yang belajar ilmu baru yang sebelumnya belum diketahui juga akan melewati tahap operasional konkrit tidak bisa langsung ke tahap operasional formal. Lebih lanjut, kemampuan anak berkembang dengan cara yang berbeda dengan tugas yang berbeda. Pengalaman mereka mempengaruhi tahap perkembangan mereka.

Neo-Piaget dan Proses Inforamasi dalam Perkembangan

Teori Neo-Piaget memodifikasi dari teori Piaget itu sendiri. Menurut Teori Neo Piaget menunjukkan bahwa anak mampu mengoperasikan tugas tertentu dalam tahap perkembangan sangat tergantung dengan tugas itu sendiri, pelatihan dan pengalaman, termasuk interaksi sosial yang dapat mempercepat proses perkembangan termasuk juga budaya. Contoh dari Neo- Piage adalah Case (1998) anak berkembang melalui tahapan perkembangan. Tahap perkembangan merefleksikan bagaimana perkembangan mental anak dalam memproses informasi. Tahapan perkembagan yang diajukan oleh Case berbeda dengan yang diajukan oleh Piaget, Case percaya bahwa perkembangan mental anak didasarkan pada kapasitas anak dalam memproses dan mengingat informasi, jadi ingatan jangka pendek tidak hanya berkembang dengan kematangan fisik akan tetapi juga peranan dalam latihan dan instruksi. Riset di bidang ini mengarahkan pada konsepsi/pemahaman baru tentang tahapan perkembangan yang mempertimbangkan bahwa perkembangan kognitif terjadi pada tingkatan dan tugas yang berbeda.

Alternatif pandangan mengenai perkembangan kognisi dari Piaget adalah pendekatan prose pengolahan infomasi. Diibaratkan bahwa orang seperti computer, dimana kemampuan berpikir bisa diajarkan secara langsung. Seperti observasi yang dilakukan oleh Siegler (1998) bahwa anak-anak mengerti tentang pola/ aturan dan cara mengaplikasikannya, dalam hal ini anak mengembangkan kemampuan berpikir abstraknya. Jadi peranannya adalah pendekatan assessment tentang peran dalam dunia pendidikan adalah memberikan stimulasi dengan metode atau instruksi baru yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir anak.

II. Vygotsky

Lev Semionovich Vygotsky adalah seorang psikolog berkebangsaan Rusia. Pengaruhnay di Inggris baru berjalan pada tahun 1970-an dan setelah itu baru berkembang di Amerika Utara. Teori Vygotsky berpengaruh besar pada psikologi perkembangan, banyak sekali kritiknya terhadap teori Piaget.

Teori Vygotsky ada dua:
  1. Perkembangan intelektual hanya bisa dipahami dalam konteks sejarah dan budaya dari pengalaman si anak.
  2. Perkembangan tergantung pada sign system dimana individu tumbuh; symbol dimana budaya membentuk cara seseorang berpikir, berkomunikasi, dan memecahkan masalah. Sebagai contoh: bahasa dari budaya, cara penulisan dan penghitungan.

Berbeda dengan Piaget, Vygotsky mengatakan bahwa perkembangan kognisi anak sangat tergantung dari input yang diberikan orang dewasa di sekitarnya.

Bagaimana perkembangan terjadi

Menurut teori Piaget bahwa perkembangan menentukan belajar. Dengan kata lain, struktur kognisi harus berkembang sebelum proses belajar terjadi. Sementara menurut Vygotsky, proses belajar menentukan perkembangan kognisi seseorang. Menurutnya belajar melibatkan akuisisi dari symbol yang diberikan oleh orang lain. Perkembangan pada anak termasuk didalamnya adalah internalisasi tanda sehingga mereka mampu berpikir dan menyelesaikan masalah tanpa bantuan orang lain, kemampuan ini di sebut self-regulation.

Langkah pertama dalam perkembangan self- regulation dan berpikir mandiri adalah: 
  1. Belajar bahwa aksi/perilaku dan suara mempunya arti, sebagi contoh: bayi belajar menggapai objek tertentu. Dalam hal perkembangan bahasa, maka anak akan belajar mengasosiasikan suara tertentu dengan artinya.
  2. Praktek, dimana bayi mempraktekkan postur/ bahasa tubuh tertentu untuk mendapatkan perhatian.
  3. Menggunakan tanda untuk berpikir dan menyelesaikan masalah tanpa bantuan dari orang lain. Pada tahapan ini, anak sudah memiliki self-regulating, dan sign system (symbol yang diciptkan oleh budaya yang membantu orang untuk berpikir, komunikasi, dan menyelesaikan permasalahan) sudah terinternalisasi.

Private speech: self-talk pada anak-anak, yang menuntun mereka untuk berpikir dan bertindak, dan pada akhirnya terinternalisasi sebagai silent inner speech. Private speech ini merupakan sebuah mekanisme dalam diri anak yang menekankan pada pengetahuan orang lain yang dijadikan pengetahuan pribadi. Vygotsky mengatakan bahwa anak-anak menggunakan perkatan orang lain dalam hal menyelesaikan permasalahan mereka sendiri terutama pada saat mengerjakan tugas yang sulit.

The zone of proximal development-teachable moment: level perkembangan secara cepat berada di atas usia anak tersebut sekarang ini. Vygotsky percaya bahwa belajar terjadi ketika anak-anak berkerja di area zone of proximal development adalah saat dimana anak siap untuk menerima konsep baru sehingga dibutuhkan bantuan orang dewasa yang ada di sekitar anak.

Scaffolding memberikan anak dukungan yang banyak dalam fase awal proses belajar dan secara berangsur-angsur dilepaskan ketika ia sudah mampu melakukannya. Konsep lainnya yang terkait adalah cognitive apprenticeship dimana ada proses modeling, coaching, scaffolding dan evaluasi.

Cooperative Learning teori vygotsky adalah strategi belajar bersama dengan teman akan membantu anak untuk berkembang satu dengan yang lainnya. Karena biasanya mereka memiliki kesiapan yang sama. Lebih lanjut, belajar bersama membuat anak mampu mengkomunikasikan “inner speech” nya sehingga satu sama lainnya bisa saling belajar mengenai proses reasoning.

Perkembangan Individu dan Pengaruhnya Dalam Proses Belajar 7_

Aplikasi dari teori Vygotski dalam Mengajar
  1. Setting belajar mengajar yang melibatkan siswa dengan berbagai level kemampuan. Proses tutoring oleh lebih kelompok sebaya dapat mengembangkan perkembangan zone of proximalnya.
  2. Pendekatan scaffolding membuat anak lebih banyak lagi bertanggung jawab terhadap proses belajar mereka sendiri.

Posting Komentar untuk "Perkembangan Individu dan Pengaruhnya Dalam Proses Belajar"

Klik gambar berikut untuk mengunduh artikel ini:

Berlangganan via Email