Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jenis-Jenis Pengujian Validitas dalam Penggunaan Tes

Jenis-Jenis Pengujian Validitas dalam Penggunaan Tes - Kali ini Blog Psikologi membahas mengenai pengujian validitas dengan teknik criterion related validity dan pengujian validitas dengan teknik construct validity. 

Melalui artikel ini diharapkan dapat memahami dan mampu melakukan pengujian validitas dengan teknik criterion related validity dan construct validity.
Jenis-Jenis Pengujian Validitas dalam Penggunaan Tes_
image source: richardstep.com
baca juga: Pengertian Konsep Validitas dan Jenis Pengujian Validitas

Sesuai dengan tujuan penggunaan tes, ada tiga macam validitas:

1. Content Validity (Validitas Isi)

Ukuran sejauh mana  suatu tes valid jika digunakan untuk mengukur tingkahlaku tertentu.

Jenis-Jenis Pengujian Validitas dalam Penggunaan Tes_

Diambil dari: Cohen & Swerdlik, 2009, hlm: 2010

2. Criterion Related Validity (Validitas Kriteria)

Menunjukkan efektivitas suatu tes dalam memprediksi performa individu pada aktivitas tertentu. Ada 2:
a. Predictive Validity (validitas peramalan):
Ukuran sejauh mana suatu test valid dalam  meramalkan hal-tertentu.
b. Concurent Validity (validitas diagnostik/validitas konkuren):
Ukuran sejauh mana suatu test valid dalam mendiagnosa keadaan seseorang (dalam hal tertentu)

3. Construct Validity (Validitas Konstruk)

Ukuran sejauh mana sebuah tes mengukur suatu konstruk teoritis atau trait tertentu.
  • Konstruk adalah dimensi psikologis yang telah dirumuskan secara jelas,  rinci dan operasional
  • Tes yang valid untuk mengukur konstruk X belum tentu valid mengukur konstruk Y
  • Construct Validity digunakan jika:
  • Tes homogenous, mengukur konstruk tunggal
  • Skor tes ditentukan usia partisipan, atau waktu pelakasaan, atau tes yang digunakan mengukur proses mental dalam eksperimen sesuai dengan teori tertentu

Validitas Kriteria (Criterion Validity) 

Validitas Kriteria menunjukkan efektivitas suatu tes dalam memprediksi performa individu pada aktivitas tertentu (Anastasi & Urbina, 1997).

Pada validitas kriteria, terdapat criteria eksternal yang dapat dijadikan dasar pengujian skor tes.

7 kriteria umum:
  • Prestasi akademik (academic achievement)
  • Hasil evaluasi belajar pada kursus keterampilan (performance in specialized training)
  • Penilaian terhadap ‘actual performance’ di pekerjaan tertentu (job performance)
  • Hasil tes pada 2 kelompok kontras (contrasted group)
  • Diagnosis psikiatri (psychiatric diagnosis)
  • Rating’
  • Tes yang sudah ada yang sering digunakan dan dinilai baik (previously available test)

Validitas peramalan (Predictive Validity)

Ukuran ketepatan fungsi suatu tes untuk meramalkan suatu ‘non-test behavior’ di masa mendatang
    hasil tes -------------------------- perilaku di masa datang
    (skor tes inteligensi)            (keberhasilan studi PT)

    Validitas konkuren (Concurrent Validity)

    Ukuran ketepatan fungsi suatu tes dalam menggambarkan keadaan saat ini
                              hasil tes ---------------------- perilaku saat ini
                              (skor tes agresivitas)        (perilaku agresif)

      Predictive Validity VS Concurrent Validity

      Tergantung tujuannya:
      • meramalkan → predictive validity
      • mendiagnosa → concurrent validity
      • Waktu tersedianya kriteria/evidence
      • kriteria/evidence di waktu yad → predictive validity
      • kriteria/evidence saat ini → concurrent validity
      • Teknik concurrent validation dianggap lebih praktis karena jangka waktu antara tes dan pengukuran kriteria/evidence adalah pendek

      Validitas Konstruk (Construct Validity)
      • Ukuran seberapa tepat tes mengukur suatu theoretical construct tertentu (trait maupun abilities)
      • Dasar pemikiran:
      • Dalam pengujian valditas dituntut informasi dari berbagai macam sumber yang memberikan gambaran tentang hakikat dari trait atau ability yang ingin diukur → informasi yang berasal dari teori
      • Tes yang valid untuk mengukur konstruk X belum tentu valid mengukur konstruk Y
      • Kriteria Validitas Konstruk
      • Nilai dalam test lain yang valid untuk mengukur konstruk yang sama (convergent factors)
      • Nilai dalam test lain yang independen terhadap konstruk yang diukur (discriminant factors)
      • Tahap perkembangan (jika menurut teori nilai pada test tergantung pada tahap perkembangan)
      • Faktor yang dihasilkan melalui perhitungan analisis faktor
      • Kinerja dalam hal-hal khusus (jika menurut teori kinerja itu berkaitan dengan konstruk yang diukur

      Prosedur umum pengujian:
        1. Pelajari teori seputar konstruk yang akan diukur (mis: inteligensi, mechanical compr, verbal fluency, anxiety, dsb)
        2. Kembangkan hipotesis berdasarkan teori (catatan: kaitkan dengan teknik khusus)
        3. Analisis kesesuaian hasil pengujian empirik

        Developmental Changes
        • Menguji validitas tes yang akan digunakan untuk mengukur konstruk, yang menurut teori perubahannya mengikuti tahapan perkembangan (mis: inteligensi)

        Correlation With Other Test
        • Menguji validitas tes yang digunakan untuk mengukur konstruk yang terbukti sudah diukur oleh tes lain

        Factor analysis
        • Memvalidasi sekaligus sejumlah tes dengan menganalisis pola inter-korelasi nya (faktor yang dihasilkan melalui analisis faktor)

        Internal Consistency
        • Menguji validitas tes untuk mengukur konstruk yang bersifat uni-dimensi (bukan gabungan beberapa sub-konstruk)

        Dasar pemikiran:
        • Jika suatu tes sangat homogen, besar kemungkinan tes itu hanya mengukur satu konstruk dan tidak terpengaruh oleh konstruk lain

        Catatan:
        Pengujian dengan teknik internal consistency kadang-kadang digunakan (secara terpaksa) ketika tidak ada/sulit menemukan ‘kriteria luar’ lainnya

        Convergent & Discriminant Validation

        • Dasar pemikiran:
        • Tes yang mengukur O seharusnya secara jelas berkorelasi dengan tes lain yang memang mengukur O (convergent factors) dan sekaligus tidak tidak berkorelasi dengan tes yang tidak mengukur O (discriminant factors)

        Prosedur pengujian:
        • Menentukan satu atau lebih tes yang seharusnya berkorelasi dengan tes yang diuji
        • Menentukan satu atau lebih tes yang seharusnya tidak berkorelasi dgn tes yang diuji validitasnya
        • Memeriksa apakah hasil perhitungan korelasi sesuai dengan teori

        Convergent & Discriminant Validation

        • Menguji validitas tes dengan cara membandingkan skor sebelum & sesudah dilakukannya intervensi eksperimental (pretest dan post-test).
        • Intervensi bisa berupa pelatihan atau pemberian perlakuan tertentu kepada subjek.
        Contoh: konstruk agresivitas, sociability, leadership, motivasi, problem solving.

        Kriteria Pengukuran Validitas

        Jenis-Jenis Pengujian Validitas dalam Penggunaan Tes 1_

        Sekian artikel tentang Jenis-Jenis Pengujian Validitas dalam Penggunaan Tes. Semoga bermanfaat.

        Daftar Pustaka
        • Cohen, R. J., & Swerdlik, M. E. (2010). Psychological testing and assessment: An introduction to test and measurement. (7th ed.). Boston: McGraw Hill.
        • Field, A. (2009). Discovering statistics using SPSS. (3rd ed.). New York: SAGE Publications, Ltd.
        • Kaplan, R.M. & Saccuzzp, D.P. (2009). Psychological testing: Principles, applications, and issues. California: Wadsworth Cengage Learning
        • Urbina, S. (2004). Essentials of psychological testing. New York: John Wiley &  Sons, Inc.

        Posting Komentar untuk "Jenis-Jenis Pengujian Validitas dalam Penggunaan Tes"

        Klik gambar berikut untuk mengunduh artikel ini:

        Berlangganan via Email