Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pengertian Teori Konvergensi Dalam Psikologi Menurut Ahli + Contoh

Pengertian Teori Konvergensi dalam Psikologi Menurut Ahli Beserta Contoh - William Louis Stren (1871-1938): Stren adalah salah satu pelopor dari psikologi modern dan peranan utamanya terletak dalam kemampuannya untuk menyatukan teori-teori yang saling bertentangan untuk menerangkan tingkah laku. Ia melihat bahwa tiap teori mempunyai kekuatanya sendiri dan masing-masing mengandung kebenaran untuk menerangkan tingkah laku. Ia melihat bahwa tiap teori mempunyai kekuatannya sendiri dan masing-masing mengandung kebenaran untuk menerangkan gejala-gejala tertentu. Suatu gejala mungkin dapat dijelaskan oleh teori lainnya dan demikian pula sebaliknya. Dengan demikian maka teori-teori yang nampaknya saling bertentangan itu sesungguhnya saling melengkapi.

Pengertian Teori Konvergensi Dalam Psikologi Menurut Ahli + Contoh_
image source: idisrupted.com
baca juga : Cabang Psikologi Sebagai Perkembangan dari Fungsionalisme

Stren adalah kelahiran Jerman. Ia lahir di Berlin pada tanggal 29 April 1871, tetapi meninggal di Amerika Serikat, yaitu di Durham, North California, pada tanggal 27 Maret 1938. Hal ini disebabkan karena pada 1933 ia terpaksa melarikan diri ke Amerika Serikat karena alas an rasial. Sebelum ia melarikan diri ke Amerika Serikat ia menjadi mahasiswa di Berlin dan kemudian menjadi dosen di Breslau sampai tahun 1916. Setelah itu ia bekerja di Hamburg dalam riset psikologi dalam riset psikologi dan dalam kesempatan ini ia ikut mendirikan Universitas Hamburg berikut laboratorium psikologinya dan kemudian menjadi direktur lembaga psikologi di Universitas Hamburg tersebut sampai tahun 1933. Di Amerika serikat ia mengajar di Harvard dan Duke University.
Ada 3 pendapat besar tentang manusia, yaitu:
  1. Nativisime: berasal dari kata natus (lahir); nativisme (pembawaan) memandang manusia sejak lahir sudah membawa potensinyam misalnya: kalau ayah pintar, maka kemungkinan anaknya pintar.
  2. Empirisme: tidak mengakui adanya pembawaan atau potensi. Teori “tabula rasa” John Locke (1704-1932). Pengalaman empirik yang diperoleh dari lingkungan akan berpengaruh besar dalam menentukan perkembangan anak.
  3. Konvergensi: faktor bawan dan factor pengalaman memainkan peranan penting dalam perkembangan manusia.

William Stren mendefinisikan psikologi sebagai berikut:
“psikologi adalah ilmu tentang individu yang mengalami/ menghayati dan individu yang mampu mengalami/menghayati”
Dengan definisi ini ia menjembaatani teori-teori dari aliran nativisme dan empirisme. Individu yang mengalami atau menghayati adalah objek dari empirisme, sedangkan individu yang berkemampuan untuk mengalami atau menghayati adalah pandangan dari nativisme. Kedua paham ini dianut sekaligus oleh Stren. Di samping itu, dengan definisinya di atas, Stren juga mencoba memecahkan persoalan hubungan antara badan dan jiwa. Hubungan itu dikatakan oleh Stern, terletak dalam penghayatan, karena jiwa mengalami atau menghayati sesuatu selalu melalui badan dan sebaliknya bila jiwa hendak mengekspresikan sesuatu juga harus melalui badan. Kemudian Stren juga mencoba menyatukan antara teori elemtisme dan teori totalitas. Paham Stren yang selalu mencoba menyatukan paham-paham yang berlawanan disebut sebagai paham konvergensi atau teori konvergensi.

Stren adalah seorang yang sangat produktif dan karya-karyanya tidak ter batas dalam salah satu cabang psikologi saja, melainkan sangat luas sehingga ia sering dianggap sebagai tokoh psikologi yang diamalkan (applied psychology).Salah satu penemuannya yang sangat penting adalah tentang konsep IQ, yaitu singkatan dari Intelligence Quotient atau taraf kecerdasan. Dasar teori dari konsep IQ adalah adanya perbedaan pada tiap-tiap orang dalam hal tingkat kecerdasannya. Dengan demikian, maka Stren adalah penganut paham psikologi diferensial. Untuk mengukur tingkat kecerdasan pada tiap orang, Stren mengemukakan istilah IQ. Ia adalah orang pertama yang mengemukakan isitilah yang sampai sekarang masih sangat banyak dipakai, baik dalam dunia psikologi, pendidikan maupun dalam masyarakat umum. Stren merumuskan IQ sebagai perbandingna umur mental (mental age) seseorang terhadap umur kalendernya (calendar age atau chronological age). Hasil perbandingan itu dikalikan 100 untuk menghilangkan angka-angka di belakang koma.
IQ= MA/CA X 100
Dimana MA= Mental Age (Usia Mental)
CA= Calender/ Chronological Age (Usia sesungguhnya)
(Rumus IQ ini kemudian dianut oleh L.M. terman)
Seorang yang bertaraf kecerdasan rata-rata atau normal, mempunya usia mental yang sama atau mendekati usia kalender. Jadi seorang yang berusia mental 10 tahun, sedangkan usia kalendernya juga 10, maka IQ nya adalah: 10/10 X 100= 100

Kalu usia mental orang itu adalah 12 tahun sedangkan umur kalendernya masih 10 tahun, maka IQ- nya 120. Sebaliknya, kalau usia mentalnya baru setaraf dengan naak umur 8 tahun, sedangkan umur kalendernya sudah 10 tahun, maka orang itu mempunyai IQ 80, yang berarti bahwa taraf kecerdasannya tidak setinggi anak normal. Adapun usia mental seseorang dapat dilihat melalui perbuatan-perbuatan anak itu sehari-hari atau pun dari prestasi sekolahnya, tetapi bias juga menggunakan alat tes khusus. Tetapi teknik pengukuran IQ secara ini hanya dapat dilakukan sampai batas umur tertentu, karena usia mental seseorang tidak berkembang atau bertambah untuk selamanya, melainkan akan terhenti sampai batas usia tertentu (antara 15-20 tahun). Untuk mengukur IW orang yang berusia di atas 20 tahun, maka perlu digunakan tes khusus yang bias langsung mengukur IQ tanpa harus membagi atau menghitung perbandingan tersebut di atas. Sekalipun demikian, arti dari IQ itu tetap sama, yaitu di atas 100 adalah lebih pandai dari rata-rata, sekitar 100 adalah rata-rata atau normal, sedangkan kurang dari itu disebut di bawah norma.

Karya lain dari Stren adalah dalam bidang psikologi perkembangan dan psikologi kejuruan dan perusahaan. Bahkan dalam salah satu karyanya berjudul “sumbangan psikologi kesaksian (1903), Stren telahmengemukakan tentang psikologi pengadilan dan psikologi forensic, suatu cabang psikologi yang sampai sekarang belum berkembang dengan baik.

Teori Nativisme

Para ahli biologi evolusi kerap kali mengawali kegiatannya dengan melakukan observasi terhadap sejumlah karakteristik, kemudian mencoba menjelaskannya dengan pendekatan evolusi. Sebagai contoh, mengapa burung merak jantan memiliki bulu yang demikian menakjubkan, sementara burung betinanya terlihat sangat tidak menarik dan membosankan? Menurut pendekatan evolusi, dalam sejarah spesies, merak jantan dapat menarik perhatian merak betina dengan memamerkan bulunya yang mencolok, dan para jantan semacam ini akan memiliki peluang lebih baik untuk bereproduksi. Sebaliknya, yang harus dilakukan betina adalah menunggu dan memilih pejantan yang memiliki bulu paling I ndah; mereka bahkan tidak perlu berias.

Ahli psikologi evolusi bekerja dengan cara yang sama seperti yang dilakukan oleh para ahli biologi. Meskipun demikian, ada perbedaan kecil: mereka mengawali dengan bertanya mengenai tantangan-tantangan seperti apa yang mungkin dihadapi manusia di masa prasejarah-misalnya, menentukan makanan yang aman untuk dimakan atau memperkirakan niat musuh dengan cepat. Kemudian, mereka mengambil kesimpulan mengenai kecenderungan perilaku yang mungkin telah terseleksi karena kecenderungna tersebut membantu nenek moyang memecahkan masalah persoalan yang terkait dengan kelangsungan hidup dan dapat meningkatkan kemampuan reproduksi (mereka tidak membuat asumsi mengenai apakah perilaku tersebut dinilai cerdas dan adaptif di lingkungan masa kini). Akhirnya, mereka melakukan penelitian untuk melihat apakah kecenderungan tersebut sebenarnya ada di seluruh dunia.

Sebagai contoh, kebutuhan nenek moyang kita untuk menghindari makanan beracun atau makanan busuk mungkin menyebabkan ketidaksukaan dasar kita akan rasa pahit dan bau busuk. INdividu yang kebetulan dilahirkan dengan ketidaksukaan tersebut akan memiliki peluang bertahan hidup lebih lama untuk bereproduksi. Demikian pula, untuk bias bertahan hidup dengan baik, nenek moyang kita mengembangkan kapasitas alami untuk berbahasa dan mengenali wajah serta ekspresi emosi. Mereka tidak terlalu membutuhkan kemampuan untuk membaca atau mengendari mobil, mengingat buku dan mobil juga belum ditemukan pada zaman itu.

Akibat oleh cara berevolusi spesies kita, ada banyak kemampuan, kecenderungan, dan sifat yang sudah ada sejak lahir atau berkembang secara cepat seiring dengan kematangan. Sifat-sifat ini tidak hanya mencakup sifat yang tampak jelas seperti kemampuan berdiri di atas kedua kaki, atau memegang benda dengan telunjuk dan ibu jari, namun juga mencakup sifat yang tidak begitu tampak jelas. Berikut beberapa contohnya:
  • Releks bayi. Bayi yang lahir dibekali dengna sejumlah reflex-respons yang sederhana dan otomatis terhadap suatu rangsangan khusus. Sebagai contoh, semua bayi akan menghisap sesuatu yang diletakkan di bibirnya. Dibantu dengna aktivitas menyusui, reflex ini akan meningkatkan peluang untuk bertahan hidup.
  • Minat terhadap hal-hal baru. Manusia serta berbagai spesies lainnya cenderung berminat pada sesuatu yang baru. Setelah makan malam, seekor tikus yang diletakkan di dalam labirin akan memilih menjelajahi daerah yang belum dikenalnya daripada berkerliaran di daerah yang sudah dikenalnya. Bayi manusia memperlihatkan minat yang luar biasa besar dlama mengamati dan medengarkan berbagai hal yang tidak dikenalnya-yang tentu saja mencakup hamper semua aspek di dunia ini. Seorang bayi bahkan akan berhenti menyusu ketika ia melihat seseorang yang asing.
  • Hasrat untuk menjelajah dan memanipulasi objek. Primata, khususnya, gemar memainkan benda-benda, memisah-misahkannya, dan memeriksanya, hanya sekadar untuk memperoleh kesenangan belaka. Bayi mengguncang-guncangkan mainan, memukul-mukulkan botol susu, dan menangkap apa pun yang diletakkan di tangan kecilnya. Pada manusia, dorongan alami untuk memegang benda-benca yang menarik ini dapat sedemikian besar, sehingga perintah “jangan sentuh” sering diabaikan oleh anak-anak, pengunjung museum, dan orang-orang yang berbelanja.
  • Impuls untuk bermain. Bermain dan bertualang mungkin merupakan suatu bentuk adaptasi biologis karena hal ini membantu anggota spesies menemukan makanan dan hal-hal lain yang diperlukannya untuk hidup. Melalui bermain dan bertualang, mereka juga belajar mengelola lingkungannya. Pada manusia, bermain mengajarkan kepada anak cara bergaul dengan orang lain dan memberi mereka kesempatan untuk mempraktekkan keterampilan motorik dan bahasa.
  • Keterampilan kognitif dasar. Banyak ahli psikologi evolusi yakin bahwa ketika lahir, manusia juga dibekali dengna modul-modul metnal yang dapat memudahkannya mempelajari menginterpretasikan ekspresi dan bahasa tubuh manusia lain, mengenali wajah, memahami hal yang dipikirkan atau dirasakan orang lain, membedakan tumbuhan dair hewan, membedakan benda hidup dari benda mati, serta memahmi bahasa.

Kebanyakan psikolog setuju bahwa, paling tidak, ada beberapa aspek perilaku manusia yang secara alamiah terseleksi. Lebih lanjut, hal yang diwariskan ada beberapa

1. Bahasa
Bagi seorang bayi yang sedang belajar bahasa, setiap kalimat mula-mula tidak mempunyai arti apa-apa. Lalu bagaimana seorang bayi bias memilih suku-suku kata maupun kata-kata di antara sejumlah bunyi di lingkungan sekitarnya, apalagi membayangkan arti dari kata-kata itu, kemudian menghubungkan kata-kata tersebut? Adakah sesuatu yang istimewa mengenai otak manusia yang memungkinkan bayi menemukan bagaimana cara kerja suatu bahasa? Darwin berpendapat demikian: Bahasa, menurut Darwin (1874), adalah kemampuan naluriah yang khas terdapat pada manusia.

Mengingat tidak ada orang yang mengajari kita tentang tata bahasa ketika kita masih balita, otak manusia pastilah mengandung alat pemerolehan bahasa (language acquisition device), yaitu suatu modul mental yang diperoleh sejak lahir. Modul itulah yang memungkinkan anak-anak mengembangkan bahasa jika mereka mendapat kesempatan yang memadai untuk berbincang-bincang. Jika burung dirancang untuk terbang, maka manusia dilahirkan untuk berbahasa. Dengan perkataan lain Chomsky mengatakan bahwa anak-anak sejak lahir dibekali tata bahasa universal- yaitu kepekaan otak terhadap ciri-ciri mendasar yang berlaku umum untuk segala macam bahasa, seperti kata bendan dan kata kerja, subjek dan objek, dll.

Bertahun-tahun kemudian, para ahli bahasa dan pra psikolinguistik berhasil mengumpulkan bukti yang mendukung pendapat Chomsky di atas yaitu:
  • Anak-anak dari berbagai budaya mengalami tahap perkembangan bahasa serupa. 
  • Anak-anak menggunakan kata-kata dalam susunan yang tak akan digunakan
  • Orang tua tidak secara konsisten memprbaiki kekeliruan tata bahasa anak, meskipun demikian anak-anak tetap belajar berbicara dan memberi isyarat dengna benar.
  • Anak-anak yang tidak terbiasa dengan bahasa orang dewasa, akan menemukan bahasa mereka sendiri
  • Bayi berusia 7 bulan dapat menyimpulkan tata bahasa sederhana melalui serangkaian bunyi.

2. Berpasangan dan berhubungan seksual
Kebanyakan psikolog mengakui bahwa perilaku tertentu seperti senyum atau menyukai rasa manis, menyerupai naluri. Perilaku seperti itu relatif tidak dipengaruhi oleh proses belajar dan berlaku bagi semua anggota spesies. Kebanyakan psikolog juga setuju bahwa umat manusia mewarisi kemampuan kognitif, persepsi, emosional, dan linguistik.

Dalam pandangan evolusi bahwa spesies pria dan wanita kebanyakan menghadapi masalah yang berbeda dalam hal pertahanan hidup dan perkawinan. Dengan demikian, mereka mengembangkan beraneka ragam cara dalam hal agresivitas, dominasi, dan strategi seksual. Para ahli sosiobiologi berpendapat bahwa pada banyak spesies, persaingan antara pejantan dalam mendapatkan betina yang masih muda dan subur serta memenangkan persaingan untuk membuahi sebanyak mungkin betina, adalah hal yang adaptif. Semakin banyak betina yang dibuahi, semakin banyak pula gen-gen yang diturunkan. Penelitian berdekade-berdekade menemukan bahwa pria lebih mungkin untuk memiliki lebih banyak pasangna hubungna seksual di luar nikah dibandingkan dengan wanita.

3. Intelegensi dan Gen
Dengan cara bagaimanakah gen mempengaruhi intelignesi? Salah satu kemungkinannya adalah melalui jumlah sel saraf otak atau jumlah hubungan di antara sel saraf tersebut, sebagaimana yang tercermin dalam volume total dari zat kelabu di otak (grey matter). Dua penelitian mengenai pemindaian otak, sebagaimana yang dilakukan oleh Holland dan Finland, melaporkan korelasi yang relative tinggi antara intelignesi umum dan volume zat kelabu. Penelitian ini juga memperlihatkan bahwa volume zat kelabu memiliki korelasi tinggi pada kembar identic-korelasinya di atas 80 persen, dibandingkan dengan kembar fraternal yang hanya 50 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa volume zat kelabu sungguh merupakan hal yang sangat dipengaruhi oleh factor keturunan.

Proses perkembangan otak juga mungkin ikut berpengaruh. Penelitian longitudinal belum lama ini menggunakan pindai MRI untuk meneliti otak 307 subjek yang membentang dari usia masa kanak-kanak awal sampai remaja akhir. Pda anak-anak tercerdas (yang diukur dari tes IQ), otak bagian luar, korteks serebral, yang berhubungna dengan proses berpikir, pada awalnya lebih tipis dibandingkan dengan anak-anak yang lain, dengan lebih sedikit zat kelabu. Akan tetapi korteks anak-anak tersebut berkembang lebih cepat dan lebih lama dibandingkan dengan anak-anak lain. Pada anak yang memiliki IQ rata-rata, puncaknya terjadi pada usia 7 atau 8, akan tetapi pada anak-anak yang memiliki IQ tertinggi, puncak perkembangannya baru akan terjadi pad usia 11 dan 12. Anak-anak yang mana memiliki IQ di antara rata-rata dan tertinggi mengalami puncak perkembangan di antaranya. Gen mungkin bertanggung jawab atas perbedaan laju perkembangan ini. Akan tetapi hasilnya harus diinterpretasikan dengna hati-hati, karena pengalaman, stimulasi, inteligensi, dan bahkan diet dapat mempengaruhi jumlah koneksi antar sel saraf dalam otak, dan oleh Karen aitu perkembangan zat kelabu otak. Seperti yang selalu terjadi pada peneliti korelasional, sangatlah sulit untuk menentukan yang mana sebab, yang mana akibat.

Para peneliti sekarang mencari gen yang mungkin mempengaruhi kinerja dalam tes IQ dan tes mental lainnya. Mereka telah mengidentifikasi beberapa kandidiat yang mungkin akan tetapi perkembangnanya jauh lebih lambat daripada yang direncanakan. Jauh lebih banyak gen yang mungkin juga terlibat dibnadingkan dengan pada awalnya dipikikrkan, dan tiap gen ini mungkin hanya merupakan bagian kecil dari teka-teki terjadinya variasi genetis dalam intelegensi.

4. Inteligensi dan Lingkungan
  • Kurangnya perawatan dlaam kandungan. Jika seorang wanita yang sedang mengandung kekurangan gizi, terserang infeksi, mengkonsumsi obat-obatan tertentu, merokok, sering minum alcohol, atau kerap terpapar pada polusi, maka anaknya memiliki risiko mengalami ketidakmampuan belajar dan ber- IQ rendah
  • Kurang gizi. Kesenjangan rata-rata IQ antara anak-anak kurang memperoleh gizi dengan yang cikup gizi dapat mencapai 20 poin
  • Kontak dengan bahan beracun. Secara khusu, timah dapat membahayakan sitem saraf, menyebabkan masalah atensi, menurun skor IQ, dan menurun prestasi sekolah.
  • Lingkungna keluarga yang memancing munculnya stress. Faktor-faktor yang dapat meramalkan berkurangnya kompetensi intelektual antara lain adalah: ayah yang tidak tinggal serumah dengan keluarga, ibu yang memiliki sejarah gagguan mental, orang tua dengan keterampilan bekerja yang rendah, dan sejarah kejadian yang memicu stress, seperti kekerasan dalam keluarga di awal kehidupan.

Kesimpulan

Ada sebuah asumsi yang tidak terungkap dalam banyak debat mengenai nature dan nurture, yakni dunia akan enjadi tempat yang lebih baik jika jenis-jenis gen tertentu dominan. Asumsi ini mengabaikan kenyataan bahwa alam mencintai variasi genetis, bukan kesaamaan genetis. Kemampuan spesies apa pun untuk bertahan hidup tergantung pada variasi itu. Variasi psikologis juga bersifat adaptif. Masing-masing di antara kita memiliki sesuatu yang berharga untuk disumbangkan, baik yang bersifat artistic, bakat, kemampuan akademis, kreativitas, keterampilan social dll. Dalam dunia kita yang rumit dan bergerak cepat, semua kualitas baik secara genetis dan lingkungan dibutuhkan.


Posting Komentar untuk "Pengertian Teori Konvergensi Dalam Psikologi Menurut Ahli + Contoh"

Klik gambar berikut untuk mengunduh artikel ini:

Berlangganan via Email