Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hakikat Manusia Dalam Mengkaji Kehidupan Menurut Para Ahli

Hakikat Manusia Dalam Mengkaji Kehidupan Menurut Para Ahli - Kehidupan manusia sangat erat kaitanya dengan bagaimana manusia merefleksikan diri mereka sendiri yang terbahas dalam “aku” manusia, apakah dia terdiri dari badan-jiwa atau parsial terpisah antar keduanya.
modul ini disadur dari modul Juneman dan Ahmad Sabir
Hakikat Manusia Dalam Mengkaji Kehidupan Menurut Para Ahli_
image source: exponent.com
baca juga: Memahami Hakikat Manusia Dilihat Dari Segi Bahasa

A. Pendahuluan

Ketika manusia membahas tentang manusia menjadi daya tarik tersendiri. Hal ini tentu hanya dapat dibahas oleh manusia, berbeda kita dengan hewan, dimana hewan tidak dapat membahas tentang hewan. Manusia membahas tentang bagaimana hakikat manusia tentu akan menghadapai berbagai macam kesulitan. Manusia sering ‘melihat’ atau ‘berdialog’ atau ‘menganalisa’ diri mereka sendiri sehingga dapat dikatakan bahwa manusia berhadapan dengan dirinya sendiri.

Manusia bersatu dengan dunia dan berinteraksi dengan manusia yang lainnya. Ia terlibat dalam berbagai macam interaksi yang melibatkan pandangan, perasaan dan pengetahuan mereka tentang kehidupan dan manusia itu sendiri. manusia adalah makhluk yang berhadapan dengan dirinya sendiri. Tidak hanya berhadapan, tetapi juga menghadapi dalam arti yang mirip dengan menghadapi soal, menghadapi kesukaran, dan lain sebagainya. Jadi, dia melakukan, dia mengolah diri sendiri, mengangkat dan merendahkan diri sendiri, dan lain sebagainya. Dia bersatu dan berjarak terhadap dirinya sendiri (Juneman , 2008).

Ketika manusia berhadapan dengan diri sendiri, manusia yang lainnya dan dengan dunia maka manusia dapat membuat sejarah dalam kehidupannya. Sejarah ini tentu terlihat dalam pengelolaan dan perubahan yang telah dilakukan oleh manusia. Tentu sangat berbeda dengan hewan yang hanya menggunakan dunia/alam ini tetapi tidak mengubahnya.

Perubahan yang dialami alam akibat dari ‘ulah’ manusia tentu dapat terlihat dari ‘sisa-sisa’ perubahan dan efak/dampak sehingga terlihat situasi yang muncul dari efek tersebut. manusia dapat merubah dan juga dapat berubah dari situasi yang mereka ciptakan sendiri. Perubahan dari kedua belah pihak menjadi penting jika manusia melihat dirinya dengan lebih hakiki.

Dalam kehidupan manusia, terlihat bagaiamana mereka berinteraksi dengan sesama manusia dan dalam diri manusia. Interakasi dalam diri manusia tidak terlepas dari pembahasan antara tubuh dan jiwa. Sebelum kita membahas tentang badan dan jiwa, terlebih dahulu bagaimana pandangan para filosof terdahulu melihat badan dan jiwa yang telah kita bahas pada pertemuan pertama Juneman (2008) yang tercakup sebagai berikut :
  1. Pythagoras mengajarkan keabadian jiwa manusia dan perpindahannya ke dalam jasad hewan apabila manusia telah mati, dan jika hewan itu mati akan berpindah lagi ke jasad lainnya, demikian seterusnya. Perpindahan jiwa yang demikian itu merupakan suatu proses penyucian jiwa. Jiwa itu akan kembali ke tempat asalnya di langit apabila proses penyuciannya telah selesai. Untuk membebaskan jiwa dari perpindahan itu, manusia harus berpantang terhadap jenis makanan tertentu, taat terhadap peraturan-peraturan yang berlaku dalam lingkungan persekutuan Pythagorean, bermusik, dan berfilsafat. 
  2. Demokritos (460-370 SM) mengajarkan bahwa manusia adalah materi. Jiwa pun adalah materi yang terdiri dari atom-atom khusus yang bundar, halus dan licin, oleh sebab itu tidak saling mengait satu sama lain. Demikian juga atom-atom yang berbentuk lain. Dengan demikian, atom-atom jiwa gampang menempatkan diri di antara atom-atom lainnya dan menyebar ke seluruh tubuh manusia. 
  3. Plato (428-348 SM) mengajarkan bahwa manusia terdiri dari tubuh dan jiwa. Tubuh adalah musuh jiwa. Karena tubuh penuh dengan berbagai kejahatan dan jiwa berada di dalam tubuh yang demikian itu, maka tubuh merupakan penjara jiwa. Jiwa manusia terdiri dari tiga bagian, yaitu nous (akal), thumos (semangat), dan epithumia (nafsu). Karena pengaruh nafsu, jiwa manusia terpenjara dalam tubuh. 
  4. Aristoteles (384-322 SM) menyatakan bahwa manusia merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Tubuh dan jiwa hanya merupakan dua segi dari manusia yang satu. Tubuh adalah materi, dan jiwa adalah bentuk. Manusia merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan, maka konsekuensinya ialah pada saat manusia mati, baik tubuh maupun jiwa, kedua-duanya mati. Itu berarti jiwa manusia tidak abadi. Dengan kata lain, sama sekali tidak ada kehidupan sesudah kematian. Kematian adalah akhir dari segala-galanya.
  5. Descartes (1596-1650) menegaskan bahwa tubuh dan jiwa adalah dua hal yang sangat berbeda dan harus dipisahkan. Tubuh adalah suatu mesin yang terdiri dari bagian-bagiannya yang begitu kompleks. Adapun jiwa adalah sesuatu yang tidak terbagi, tidak terbatasi oleh ruang dan waktu, ditandai oleh kegiatan rohani, seperti berpikir, berkehendak, dan sebagainya. Kendati berbeda dan terpisah, tubuh dan jiwa itu memiliki pertautan yang erat satu sama lainnya, bagaikan kapal dan juru mudinya. 
  6. George Berkeley (1685-1753) berpendapat bahwa jiwa manusia adalah pusat segala realitas yang tampak. Penolakannya terhadap materi menunjukkan bahwa Berkeley adalah seorang spiritualis. Akan tetapi, idealisme subjektif spiritualis Berkeley tidak berpangkal pada yang abstrak, melainkan pada yang konkret, yang diperoleh lewat pengamatan indrawi. Sesuatu itu dikatakan ada karena dapat dilihat dan dirasakan. Jadi, kebenaran sesuatu itu tergantung pada yang melihat dan yang merasa. Yang melihat dan yang merasa itu adalah yang hadir dalam tubuh manusia, yaitu roh. Tubuh tidak lebih dari tanda kehadiran roh.
  7. Feuerbach mengajarkan bahwa di balik alam tidak ada Allah. Demikian pula di balik tubuh tidak ada jiwa. Jelas terlihat bahwa Feuerbach adalah seorang materialis karena ia menyangkal segi rohani manusia. Feuerbach sendiri tidak mau menyebut ajarannya sebagai materialisme, melainkan organisme. Ia menyatakan bahwa manusia bukan mesin seperti yang diajarkan oleh penganut materialisme. Feuerbach menunjukkan bahwa ia menolak materialisme dengan mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk hidup yang organis. Selaku makhluk hidup yang organis manusia senantiasa berhubungan secara konkret dengan sesamanya. Ungkapan itu sekaligus menunjukkan status manusia. Feuerbach menandaskan bahwa tubuh menunjukkan manusia sebagai makhluk yang tidak tertutup dalam dirinya sendiri dan yang dengan akal budinya menyadari bahwa ia senantiasa berada dalam relasi aku-engkau.

Patut kita lihat juga bagaimana antropogi memandang tubuh dan jiwa. Ada empat alasan yang bisa menjelaskan kenapa tubuh menempati posisi penting dalam antropologi (Juneman, 2008) :
  • Pembahasan antropologi filsafat tentang tema ontologi manusia. Tema ini otomatis menempatkan perwujudan bentuk manusia dalam posisi sentral. 
  • Asal-usul manusia yang berasal dari spesies mamalia adalah pertanyaan penting dalam antropologi. Apakah yang kemudian membatasi alam dan kebudayaan? 
  • Sejak masa Victoria telah berkembang telaah evolusi dalam antropologi (darwinisme sosial), yang memberi kontribusi pada studi tubuh; 
  • Peran sebagai penanda penting bagi status sosial, posisi keluarga, umur, gender, dan hal-hal yang bersifat religious.

B. Badan dan jiwa

Dalam modul yang telah dibahas oleh (Juneman, 2008), ada beberapa pandangan tentang manusia yang berkaiatan dengan tubuh atau badan. Ketika kita melihat diri kita bahwa kita adalah manusia maka perkataan yang tepat untuk diri kita dengan perkataa AKU. Kita tida membedakan antara badan dan jiwa. Sering kita bertanya bahwa aku berbeda dengan jiwa, miusalnya badanku sakit kita tidak sadar bahwa ada jiwa dan badan, kita tidak pernah mengatakan bhawa badan jiwa sedang sakit. Hal ini kadang membedakan kita dengan hewan, dimana hewan tidak menggambarkan jiwa ketika kita melihat matanya, akan tetapi mata manusia bila diperhatikan akan mengandung jiwa. Padangan ini menggambarkana bahwa manusia sebagai suatu keutuhan dan tak terpisahkan.

Pandangan tentang kesatuan manusia yang terdiri dari jiwa dan tubuh juga sesuai dengan konsep Gestalt yang melihat segala keseluruhan. Pendangan menekankan pada Seluruh manusia adalah rohani; seluruh manusia adalah jasmani. Kesatuan itu bisa disebut: kesatuan rohani-jasmani. Rohani-jasmani bukanlah dua bagian karena keduanya menyeluruh. Kita bisa katakan: ada aspek rohani, ada aspek jasmani. Dalam berpikir dua aspek ini bisa kita pandang tersendiri sebagai dua barang yang tersendiri. Maka, kita katakan badan dan jiwa. Jiwa adalah prinsip rohani tadi, badan adalah prinsip jasmani. Pandangan jiwa-badan bisa salah karena memandang dua prinsip secara tersendiri. Jika kita berbicara tentang badan tersendiri, maka di situ pandangan kita memecah belah kesatuan, dengan hanya memandang dan menganggap seolah-olah badan itu ada tersendiri. Dalam realitas, yang ada bukan badan, tetapi manusia, dan ini mempunyai aspek rohani dan jasmani (Juneman, 2008).

Padangan tersebut mengarah pada kekeliruan kita dalam memandang badan manusia (Juneman, 2008) yang tecakup sebagai berikut :
  • Ada pandangan idealistis tentang badan. Menurut pandangan ini badan hanyalah sinar dari roh. Roh adalah listrik, badan cahayanya. Badan dan roh tidak pernah bertentangan. Tetapi, badan seolah-olah tidak ada, yang ada hanya roh.
  • Pandangan materialistis berpendapat bahwa orang tidak perlu berpikir lebih lanjut. Yang ada hanya badan, habis perkara. Pendapat ini pun tidak riil. Sebab pada manusia ada hal yang tidak bisa hanya diterangkan atas dasar materi, misalnya cinta, sedih, kemampuannya untuk memandang diri (dan realistis).
  • Pendapat yang ketiga memandang badan sebagai musuh yang jahat semata-mata dari roh. Dalam pandangan ini antara roh dan badan hanya ada pertentangan dan perlawanan melulu. Badan dianggap penarik ke bawah, ke kejahatan. Pandangan ini biasanya juga dualistis, artinya tidak melihat badan dan jiwa sebagai satu hal yang ada, melainkan sebagai dua.

Beragam Pandangan tentang Jiwa dan Badan dalam Kesadaran Filosofis

Pandangan Tradisional; Referensi kesadaran tentang jiwa dan badan

Menurut Plato manusia memiliki tiga elemen dalam jiwa, pertama adalah kemampuan menggunakan bahasa dan berpikir; kedua, elemen raga/tubuh dalam bentuk nafsu badaniah, hasrat, dan kebutuhan; ketiga, elemen rohaniah/kehendak bisa dilihat dengan adanya emosi seperti kemarahan, sindiran, ambisi, kebanggaan, dan kehormatan. Elemen paling tinggi menurut Plato adalah berpikir (akal) dan terendah nafsu badaniah.

Jiwa, menurut pandangan Plato, tidak dapat mati karena merupakan sesuatu yang adikodrati berasal dari dunia ide. Meski kelihatan bahwa jiwa dan tubuh saling bersatu, tetapi jiwa dan tubuh adalah kenyataan yang harus dibedakan. Tubuh memenjarakan jiwa, oleh karenanya jiwa harus dilepaskan dari tubuh dengan dua macam cara yaitu pertama dengan kematian dan kedua dengan pengetahuan. Jiwa yang terlepas dari ikatan tubuh bisa menikmati kebahagiaan melihat ide karena selama ini ide tersebut diikat oleh tubuh dengan keinginan atau nafsu badaniah sehingga menutup penglihatan terhadap ide.

Aristoteles sebagai murid Plato meninggalkan ajaran gurunya ini tentang jiwa dan tubuh. Jika, Plato berpendapat bahwa jiwa itu bersifat kekal, tetapi Aristoteles tidak. Menurut Aristoteles, jiwa dan tubuh ibarat bentuk dan materi (Hylemorfisme). Jiwa adalah bentuk dan tubuh adalah materi. Jiwa merupakan asas hidup yang menjadikan tubuh memiliki kehidupan. Jiwa adalah penggerak tubuh, kehendak jiwa menentukan perbuatan dan tujuan yang akan dicapai. Pandangan tentang tubuh dan jiwa sedemikian ini dalam tradisi filsafat dikatakan juga, dualisme aristoteles/ Secara spesifik, jiwa adalah pengendali atas reproduksi, pergerakan, dan persepsi. Aristoteles mengibaratkan jiwa dan tubuh bagaikan kampak. Jika kampak adalah benda hidup, maka tubuhnya adalah kayu atau metal, sedangkan jiwanya adalah kemampuan untuk membelah dan segala kemampuan yang membuat tubuh tersebut disebut kampak. Sebuah kampak tidak bisa disebut kampak apabila tidak bisa memotong, melainkan hanya seonggok kayu atau metal.

Disadari oleh Aristoteles bahwa tubuh bisa mati dan oleh sebab itu, maka jiwanya juga ikut mati. Seperti kampak tadi yang kehilangan kemampuannya, manusia juga demikian ketika mati ia akan kehilangan kemampuan berpikir dan berkehendak. Disatu sisi, Plato memandang bahwa keseluruhan manusia adalah ‘ide’ atau jiwa, sedang Aristoteles muridnya mencoba mengemukakan kedua unsur penting manusia diantara jiwa dan badan dalam kesadaran tentang manusia.

Pandangan masa aufklarung (jaman Pencerahan Jerman): mengkerucut pada spiritualistis

Pandangan tentang jiwa dan badan yang dipahami oleh Hegel, Schopenhauer, Fichte, Schelling, Berkeley, Hartman dll, bahwa pada pokoknya manusia itu adalah subjektifitas atau kesadaran (spiritual). Pada pemahaman tentang badan, aspek-aspeknya yang materiil memang tidak dapat disangkal, tetapi dikembalikan kepada subjektifitas; bahwa badan hanya merupakan ’epifenomena’ (hasil ikutan atau akibat) pada realitas spiritual itu. Hanya mempunyai fungsi menyediakan objek (yang-lain) kepada kesadaran itu supaya melalui dialektika dengan objek itu, roh (sebagai jiwa absolut) dapat menemukan dirinya sendiri, dan bahwa kerohanian manusia ini sebenarnya bertipe ilahi.

Pandangan Jiwa dan Badan dalam Kesadaran Modern

Pandangan ini mengikuti gaya kesadaran klasik tentang jiwa dan badan yang telah ditorehkan oleh Plato dalam ideanya dan Aristoteles dalam Hylemorfisme yakni memperlawankan kedua aspek antara jiwa dan badan dalam manusia. Gagasan pemikiran modern mengedepankan jiwa dalam unsur manusia, gagasan ini dipelopori oleh Rene Descartes sebagai bapak filsuf modern.

Pertama – tama Descartes berasumsi bahwa segala – galanya bisa diragukan, termasuk kesan – kesan inderawi yang sangat jelas dan terpilah – pilah, serta semua sifat dasar dunia fisis yang dulu dianggap sudah jelas dan pasti. Misalnya, ia membayangkan kesan – kesan tersebut hanya ilusi belaka, bahwa ia telah bermimpi tentang kesan – kesan tersebut dan bukan sungguh – sungguh mengalaminya. Namun, setelah terus menerus ragu akhirnya ia sampai pada satu ide yang tampak sangat pasti, yang tidak dapat diragukan.

Dengan demikian, secara paradoksal tindakan meragukan tersebut justru memberikan bukti adanya kepastian yang diinginkan oleh descartes. Ia dapat meragukan segenap kenyataan inderawinya, bahkan keberadaan tubuh dan dunia fisiknya. Tetapi ia tidak dapat meragukan kenyataan subjektif dari jiwanya sendiri yang meragukan. Pengalaman meragukan tersebut sungguh – sungguh nyata. Maka, aktivitas jiwa atau roh rasional itulah satu – satunya kenyataan yang tidak dapat diragukan oleh siapapun dan kapanpun.

Konsekuensi yang bisa ditarik dari hal diatas adalah bahwa jiwa pastilah merupakan sesuatu yang berbeda dengan tubuh. Jiwa adalah satu hal, dan tubuh adalah hal yang lain. Tubuh seperti benda – benda fisik lainnya, terdiri dari partikel – partikel yang bergerak dan memiliki keluasan. Jiwa yang esensinya adalah kesadaran dan berpikir, keberadaannya tidak bergantung pada ruang dan waktu karena ia merupakan “ substansi “ yang immaterial atau non fisik.

Pengetahuan yang berasal dari indera – indera dapat dijamin atau dipercaya, bukan karena indera – indera itu dengan sendirinya sudah pasti, tetapi karena integritas jiwa yang mempersepsinya yang sudah pasti. Kesimpulannya bahwa sesuatu atau substansi, yang seluruh esensi atau hakikat manusia hanyalah berpikir, dan yang untuk beradanya tidak memerlukan ruang atau benda material atau tubuh. Ini berarti bahwa energi ini, roh ini, jiwa ini, yang dengannya ”Aku” ada, seluruhnya bebeda dengan tubuh dan lebih mudah untuk mengetahui daripada tubuh, dan bahwa seandainya tubuh mengalami aus, jiwa tidak pernah berhenti untuk berada seperti sekarang ini.

Berbeda dengan pandangan evolusionism sebagaimana filsuf yang juga scientist yakni Teilhard de Chardin, dimana menurutnya kesadarannya terhadap jiwa dan badan menjadi sebuah konvergensi. Dibedakannya dua macam energi atau tenaga di dalam evolusi kehidupan: energi ’tangensial’, yaitu organisasi ’lahiriah’ (pada permukaan), dan energi ’radial’ yang dari dalam, yang tercapai dengan energi itu ialah ’complexite’ dan ’conscience’ atau ’interiote’. Kedua macam energi itu berevolusi dengan hasil yang sejajar dan mencapai puncak di dalam manusia.

Pandangan Materialistis; Mengedepankan badan sebagai kesadaran pokok

Menurut pandangan ini, pada pokoknya manusia itu adalah materi walaupun aspek-aspek yang lazimnya disebut spiritual itu tidak disangkal, tetapi dikembalikan kepada materi itu sebagai awal dari kesadaran. Tokoh-tokoh pemikir yang mengedepankan kesadaran seperti ini adalah Demokritos (tokoh filsuf Yunani klasik), tokoh yang lebih modern yakni, Karl Max, Engels, Feuerbach, Lamettrie dll. Menurut mereka, Jiwa merupakan salah satu jenis fenomena materiil yang khusus atau pula merupakan ’epifenomen’ (hasil ikutan atau akibat) pada fenomen materi yakni fisiko-kimis. Dalam kerangka ini telah pula memberi insight kepada psikologi dalam paham behaviorisme yang mengutamakan materialitas badan secara berlebih-lebihan. Dimana menurut Behaviourisme, penyelidikan tentang manusia harus tertuju semata-mata pada tingkah laku manusia sebagaimana dapat dipersepsi secara objektif. Suatu kesadaran sebagai bagian intern kelakuan yakni suatu hidup psikis batiniah, sama sekali tidak diakui. Kelakuan dipandang sebagai serangkaian refleks yang digabungkan satu sama lain dengan jalan asosiasi yang bersifat mekanis. Oleh sebab itu dalam paham psikologi aliaran Behaviourisme tidak ada perbedaan lagi antara penyelidikan tentang kelakuan manusia dengan penyelidikan tentang kelakuan binatang, kalau manusia sulit dipakai untuk macam-macam eksperimen, maka digunakan binatang saja.

Dalam pandangan materialisme, badan manusia tidak bertaraf lebih tinggi dari materi alam dunia, hanya lebih kompleks saja. Dengan demikan badan manusia melulu ’badan-objek’ (le corps-objet); menjadi benda diantara barang-barang benda lainnya, tanpa diakui ciri subjektif apapun di dalamnya. Pandangan materialistis tentang jiwa-badan ini juga menjadi pakon dalam paham empirisme dan juga positivisme dalam memandang jiw dan badan, bahwa manusia pada pokoknya adalah badan saja, dan sebagai badan maka manusia disamaratakan dengan objek-objek ilmu-ilmu eksakta (scientisme).

Pandangan Seimbang tentang Jiwa dan Badan; Fenomenologi dan Eksistensialisme

Pandangan tentang jiwa dan badan dalam pemahaman kesadaran aliran ini menitikberatkan badan sebagai ’le corps-sujet’ atau ’le corps vecu’, yaitu ’badan-subjek’ atau ’badan yang dihidupi’. Badan dalam kesadaran ini lain daripada sembarang objek. ’Aku’ tidak dapat menjauhkan diri dari badanku, atau megelilinginya sebagaimana para kaum empiris positivistik. Perspektif pandangan terhadap yang-lain dapat diubah, akan tetapi terhadap badanku sendiri itu mustahil. Justeru karena sudah dihidupi sendiri, maka badanku saya alami sebagai yang lain daripada yang-lain. ’tanganku tidak sama dengan dunia yang ditangani; kakiku tidak sama dengan dunia yang saya injak; mataku tidak sama dengan dunia yang kelihatan; telingaku tidak sama dengan dunia yang terdengar; kulitku dengan perasaannya tidak sama dengan dunia yang rasanya kasar, atau lembut, bersegi, lengket, panas, dingin dll. Pada pokoknya badan dipahami dalam kerangka exsistence humanis (rasa kemanusiaan dalam kesadaran akan keberadaannya), adapun tokoh-tokoh filsuf dalam pemahaman ini adalah Heidegger, Sartre, Marcel, Merleau Ponty dll.

AKU = Rohani juga jasmani

Kesatuan ini juga dapat kita lihat dari cara kita mengutarakan sesuatu, misalanya badanku. Ketika kita berbicara badanku maka badan dianggap sebagai unsur aku, bukan sesuatu yang hanya melekat, seperti sepatu, sedal dan pakaian. Lalu pertanyaanya Samakah badan dengan aku? Jawabannya adalah Tidak. Sebab aku bisa berkata: badan-ku. Tetapi badan sebagai milik, juga tidak sama dengan sepatu, cermin, dan lain sebagainya. Sekali lagi, badan termuat dalam aku. Aku sebagai makhluk jasmani berupa badan. Dalam arti ini ada sedikit kesamaan antara aku dan badan. Badan adalah aku sendiri sepanjang aku ini makhluk jasmani yang konkret. Lihatlah sepanjang itu. Badan tidak sama dengan aku. Hanya sama sepanjang aku ini berwujud jasmani, sepanjang aku ini terlihat, tampak dalam alam jasmani. Tetapi jangan lupa bahwa yang tampak itu tetap aku, tetapi melalui badanku atau bentuk jasmaniku (Juneman, 2008).

Badan juga dijadikan sebagai penampakan dari wujud jiwa atau penampakan dari aku yang berarti bahwa badan merupakan ekspresi jiwa atau ekspresi aku. Hal ini dapat kita katakana bahwa badan merupakan sesuatu yang menampakan jiwa yang diekspresikan dengan dalam bentuk tersebut.

Badan kita mempunyai misère dan grandeur, artinya "kenistaan" dan "keagungan" (Juneman, 2008). ‘kenistaaan’ manusia kadang dilhat fioslogi semata, akan tetapi kita lebih melihat bahwa fisik menipu dan jauh dari hakiki. Banyaknya kotoran, penyakit dan kekumuhan lainnya berdampak pada pandangan kita akan kenistaan tersebut. sedangkan kita juga melihat sesuatu berdasarkan pada keindahan fisik dengan mengedapankan kecantikan, keindahan sehingga lahirnya ‘keagungan’.

Pandangan akan keluhuran manusia terlihat jelas dari tubuh manusia. Mata manusia tidak sama dengan mata hewan, darah manusia tidak akan sama dengan darah hewan dan organ tubuh lainnya tidak sama dengan organ hewan. Hal ini membuktikan bahwa kita memiliki keluhuran yang tinggi dalam kehidupan manusia. Ketika kita mendengar, hewanpun mendengar, akan tetapi pendengaran kita berbeda dengan hewan.

Ada peribahasa yang mengatakan bahwa di setiap jiwa yang sehat terdapat badan yang sehat atau sakah satu lirik lagu Indonesia Raya “bangunlah jiwa, bangunlah badanya”. Hal ini harus dilihat dari kesatuan manusia. Jiwa tidak berdiam di badan seperti kura-kura yang menmpati tempurungnya. Kita melihat kesehatan melalui badan. Si A sehat berarti bahwa keadaan badannya baik, tidak sakit. Kata "sakit" biasanya dikatakan tentang keadaan badan, tetapi juga tentang jiwa (lihatlah istilah mental health, mental hygiene); sekarang orang juga berbicara tentang dokter jiwa, rumah sakit jiwa, sakit jiwa, dan lain sebagainya. Dalam sastra Indonesia kita juga bisa membaca bahwa misalnya jatuh cinta disebut "sakit". Tetapi tentu saja tidak sama dengan sakit jiwa! Dalam pandangan ilmu pengetahuan sekarang, sakit itu tidak hanya dipandang sebagai keadaan badan. Jika kita mengingat psikoanalisis, maka tampak bahwa dalam menghadapi manusia sakit, yang dilihat bukan badannya saja, juga bukan hanya berbagai macam fungsinya. Kejiwaan manusia diminati juga. Jadi, pokoknya kata "sehat" dan "sakit" digunakan juga mengenai keadaan jiwa atau lebih tepat kejiwaan, yang artinya seluruh manusia, tetapi dilihat dari sudut psikis (Juneman, 2008).

Ada tiga pandangan tentang tubuh manusia yang berlaku di yunani kuno yang tercakup sebagai berikut (Juneman, 2008):
  • pertama, aliran yang didirikan oleh Cyrenaic, percaya bahwa "kebahagiaan tubuh itu jauh lebih baik daripada kebahagiaan mental". 
  • kedua, didirikan oleh Epicurus, percaya bahwa "kebahagiaan tubuh memang bagus, tapi masih lebih bagus lagi kebahagiaan mental". 
  • ketiga, sekaligus yang paling tidak populer, didirikan oleh Orpheus, mengatakan bahwa "tubuh adalah kuburan bagi jiwa" (the body is the tomb of the soul). Meskipun tak populer, aliran ini sangat mempengaruhi filsuf-filsuf utama seperti Phytagoras, Socrates, dan Plato.

Banyak yang telah membahas atau melakukan studi tentang badan. Juneman mencoba membahas studi tentang tubuh yang tercakup sebagai berikut :
  • Pemikiran Romawi tidak memandang tubuh dengan negatif. Sebagian besar orang Romawi sangat percaya dengan astrologi dan memandang tubuh dan jiwa adalah bagian dari kosmis. 
  • Zaman Renaissance yang mengakhiri ide dasar bahwa "tubuh adalah musuh", dan mulailah bergulir gagasan bahwa tubuh adalah sesuatu yang indah, bagus, personal, privat, dan sekuler. 
  • Pada abad ke-20, dengan berkembangnya ilmu kedokteran, antropologi, dan psikologi, tubuh tidak lagi menjadi sesuatu yang menakutkan atau yang dianggap secara potensial berbahaya dan perlu selalu diawasi, tetapi tubuh dianggap sebagai sesuatu untuk dinikmati, sesekali memang dapat "rusak", tapi dengan cepat bisa segera disembuhkan atau diperbaiki. 
  • Margaret Mead misalnya mengatakan bahwa pembedaan kepribadian dan aturan-aturan dari dua jenis seks yang berbeda itu diproduksi secara sosial. 
  • Robert Hertz percaya bahwa pola pikiran masyarakat terefleksikan dalam tubuh. Persoalan-persoalan kosmologi, gender, dan moralitas mewujud menjadi persoalan-persoalan yang dialami tubuh. Tubuh fisik adalah juga tubuh sosial (the physical body is also social). 
  • Menurut Marcel Mauss cara untuk mengetahui peradaban manusia lain adalah dengan mengetahui bagaimana masyarakat itu menggunakan tubuhnya. Tubuh adalah instrumen yang paling natural dari manusia, yang dapat dipelajari dengan cara yang berbeda sesuai dengan kultur masing-masing. 
  • Mary Douglas melihat tubuh sebagai suatu sistem simbol. Dalam Natural Symbols (1970) ia membagi tubuh menjadi dua: the self (individual body) dan the society (the body politics). The body politics membentuk bagaimana tubuh itu secara fisik dirasakan. Pengalaman fisik dari dari tubuh selalu dimodifikasi oleh kategori-kategori sosial yang sudah diketahui, yang terdiri dari pandangan tertentu dari masyarakat. 
  • Nancy Scheper-Hughes dan Margaret Lock membedakan tubuh menjadi tiga: tubuh sebagai suatu pengalaman pribadi, tubuh sebagai suatu simbol natural yang melambangkan hubungan dengan alam masyarakat dan kebudayaan, dan tubuh sebagai artefak kontrol sosial dan politik. 
  • Bryan S. Turner membuat skema permasalahan tubuh yang disebutnya sebagai "geometri tubuh" (The Body and Society, 1984) yang memiliki empat dimensi: 1) Kesinambungan dalam waktu, 2) Kesinambungan dalam ruang, 3) Kemampuan untuk menahan hasrat dan 4) Kemampuan merepresentasikan tubuh kepada sesama, ini adalah masalah eksternal tubuh. 
  • Pemikiran Arthur W. Frank berpendapat ada empat masalah yang berkaitan dengan tubuh yaitu: kontrol, hasrat, hubungan dengan sesama, dan hubungan dengan diri sendiri, yang pada gilirannya membagi tubuh menjadi empat: the disciplined body, the mirroring body, the dominating body, dan communicative body.
  • Michel Foucault, tubuh selalu berarti tubuh yang patuh. Dia melihat tubuh menunjukkan adanya kekuatan mekanis dalam semua sektor masyarakat. Tubuh, waktu, kegiatan, tingkah laku, seksualitas; semua sektor dan arena dari kehidupan sosial telah dimekanisasikan. Ia mengatakan: jiwa (psyche, kesadaran, subyektivitas, personalitas) adalah efek dan instrumen dari anatomi politik; jiwa adalah penjara bagi tubuh; tapi pada akhirnya tubuh adalah instrumen negara. Semua kegiatan fisik adalah ideologis: bagaimana seorang tentara berdiri, gerak tubuh anak sekolah, bahkan model hubungan seksual.
  •  Foucault membuat tiga kategori analisis: 1) Force relations: kekuasaan dalam formasinya yang lokal dan global dalam hukum, negara dan ideologi. 2) The body: anatomi dan perwujudan kekuasaan dalam tingkah laku. 3) The social body: perwujudan kolektif target kekuasaan, tubuh sebagai "spesies". Politik tubuh (bio-politics) dijalankan untuk mempertahankan bio-power. Bio-power dipertahankan dengan dua metode: pendisiplinan dan kontrol regulatif. Dalam pendisiplinan tubuh dianggap sebagai mesin yang harus dioptimalkan kapabilitasnya, dibuat berguna dan patuh. Kontrol regulatif meliputi politik populasi, kelahiran dan kematian, dan tingkat kesehatan. Bio-power bertujuan untuk kesehatan, kesejahteraan, dan produktivitas. Dan ia didukung dengan normalisasi (penciptaan kategori normal–tidak normal, praktek kekuasaan dalam pengetahuan) oleh wacana ilmu pengetahuan modern, terutama kedokteran, psikiatri, psikologi, dan kriminologi.

Daftar pustaka
  1. Juneman, (2008). Manusia Dalam Wacana Filosofis, Filsafat Manusia
  2. Baker, Anton, 2000, Antropologi Metafisik, Yogyakarta: Kanisius 
  3. Sabir, A. 2014. Filsafat manusia.

Posting Komentar untuk "Hakikat Manusia Dalam Mengkaji Kehidupan Menurut Para Ahli"

Klik gambar berikut untuk mengunduh artikel ini:

Berlangganan via Email